Misa Baru
(Novus Ordo): Nuansa Protestantisme
https://traditioninaction.org/religious/m002rpMisunderstandingMass.htm
by Marian T. Horvat
“Apa masalahnya dengan Misa Baru (Novus Ordo / NO)? Saya menyukai Misa Lama dan saya tahu bahwa Misa itu lebih baik, namun saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada anak-anak saya, yang lebih memilih *Novus Ordo* karena mereka merasa lebih memahaminya.”
Ini adalah pertanyaan yang diajukan Jan, anak saya, kepada saya.
Izinkan saya mengawali tanggapan ini dengan sebuah statistik yang mengungkap fakta bahwa Misa Baru tidak lebih mudah dipahami.
Dalam sebuah artikel baru-baru ini di *Our Sunday Visitor*, Russell Shaw menyoroti suatu masalah serius: tingkat kehadiran umat dalam Misa telah berkurang hingga separuhnya dalam empat dekade terakhir sejak Konsili Vatikan II. (1) Ia mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi, padahal semua perubahan di dalam Gereja dilakukan demi membuat Misa lebih menarik bagi umat—mulai dari peralihan bahasa dari Latin ke Inggris, pembalikan posisi altar, pelibatan kaum awam dalam dialog dan berbagai kegiatan, hingga diperbolehkannya penggunaan lagu-lagu populer dan gitar.
Jawabannya adalah bahwa orang-orang tidak menghadiri Misa karena mereka tidak memahami hakikat Misa yang sebenarnya. Ia benar mengenai hal itu. Sebuah jajak pendapat Gallup tahun 1992 menunjukkan bahwa 70% umat Katolik yang menghadiri Misa *Novus Ordo* tidak percaya bahwa mereka menerima Tubuh dan Darah, Jiwa dan Keilahian Tuhan kita Yesus Kristus—dalam rupa roti dan anggur—saat menerima Komuni Kudus. Dengan kata lain, hanya 30% yang percaya akan Kehadiran Nyata (*Real Presence*).
Angka-angka yang mengejutkan ini—yang tidak pernah dibantah ataupun dipatahkan—mengungkapkan apa yang enggan diakui oleh kaum konservatif seperti Shaw: kegagalan mendasar dari Misa Baru serta dampak buruk dari penyesuaian pasca-Konsili terhadap dunia modern.
Konon, segala perubahan yang dilakukan atas nama Konsili Vatikan II dimaksudkan agar Misa lebih mudah dipahami. Namun kenyataannya, saat ini semakin sedikit orang yang benar-benar memahami hakikat Kurban Suci Misa, atau mereka memiliki pemahaman yang sangat berbeda mengenai makna Misa itu sendiri. Dan menurut saya, inilah masalah yang sesungguhnya: Misa telah mengalami perubahan signifikan yang membuatnya tampak berbeda dari hakikatnya yang sebenarnya.
Perbedaan antara Misa Tradisional dan
Misa Baru
Umat Katolik senantiasa meyakini bahwa Kurban Kalvari dihadirkan kembali di atas altar dalam Misa Kudus. Melalui imam yang mempersembahkan kurban, roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Tuhan kita yang sesungguhnya pada saat Konsekrasinya. Kata-kata yang diucapkan imam pada saat ini merupakan Transubstansiasi, yakni perubahan hakikat.
Foto atas, Katedral St. Louis sangat selaras dengan Kurban agung yang diperbarui dalam Misa.
Foto bawah, di Biara St. Anne (Kergonan, Prancis), suasana ibadat yang terasa hampa, hambar dan dingin merupakan akibat dari niat para reformator Konsili untuk menyenangkan pihak Protestan.
Sangat berbeda dari pemahaman luhur mengenai Misa
tersebut, Misa Baru merupakan revolusi liturgis yang mengejutkan, serupa dengan
Pseudo-Reformasi yang dilakukan oleh Luther dan tokoh-tokoh Protestan lainnya.
Berikut adalah beberapa ciri utama Misa Baru yang memberikan nuansa Protestan padanya:
• Penghapusan sifat kurban Kalvari Kristus dalam Misa – Kita mempunyai liturgi buatan manusia yang terus-menerus menghilangkan penyebutan Kurban Kalvari, begitu juga nada kurban apa pun, dan hanya makna pujian dan ucapan syukur yang dipertahankan. Bahkan altar, yang menghadap Yerusalem mengingatkan kita akan pengorbanan Kristus kepada Tuhan, digantikan dengan sebuah meja untuk menekankan gagasan baru bahwa Misa pada dasarnya adalah sebuah perjamuan, dan bukan pengorbanan.
• Penekanan pada perjamuan peringatan – Menurut gagasan baru ini, Misa pada dasarnya merupakan ibadat Komuni—sebuah peringatan akan Perjamuan Tuhan—suatu tesis Protestan yang ditekankan oleh Luther pada abad ke-16. Sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh Luther, "Misa bukanlah sebuah kurban, melainkan ucapan syukur kepada Allah dan persekutuan dengan orang-orang beriman." (2)
• Imamat kaum beriman – Apa yang disebut sebagai imamat kaum beriman telah ditekankan secara berlebihan dan menimbulkan kerancuan dengan imamat sakramental. Ajaran Katolik menyatakan bahwa imam—dan hanya imam—yang mutlak diperlukan agar Misa menjadi efektif. Sebaliknya, Misa Baru justru mengusung gagasan bahwa imam hanyalah wakil dari jemaat, dan umat merupakan bagian tak terpisahkan dari "perayaan" tersebut.
Faktanya, Pedoman Umum *Novus Ordo* menyatakan bahwa "umat Allah" merayakan ritus tersebut bersama dengan "imam yang memimpin". Kesetaraan antara imam dan umat beriman inilah yang diajarkan oleh para pemimpin Protestan ketika mereka mempertahankan pandangan bahwa perayaan "Perjamuan Tuhan" dilaksanakan secara bersama-sama oleh imam dan umat.
Lantas, apa perbedaan utama antara Misa Tradisional dan Misa Baru? Misa Latin tradisional merupakan ungkapan yang jelas dari ajaran Katolik, yang memandang Misa sebagai penghadiran kembali Kurban Kalvari. Sedangkan Misa Baru dibuat untuk menyenangkan pihak Protestan, dan dengan tujuan berikut:
1. Menghilangkan aspek kurban dalam Misa, karena aspek
kurban ini ditolak oleh kaum Protestan,
2. Menekankan Misa hanya sebagai peringatan dan
perjamuan, sebagaimana diajarkan oleh kaum Protestan,
3. Menegaskan peran umat sebagai unsur penting dalam “perayaan Ekaristi,” yang juga didukung oleh kaum Protestan.
Para perancang Misa Baru secara tegas ingin memihak kepada Protestantisme.
Terdapat anggapan keliru di kalangan banyak umat Katolik bahwa Misa *Novus Ordo* hanyalah terjemahan sederhana dari ritus Latin tradisional, dengan beberapa perubahan kecil di sana-sini. Anggapan ini tidak benar. Misa ini merupakan sebuah penulisan ulang—dan penulisan ulang yang cukup substansial—yang dilakukan oleh sebuah komisi yang dibentuk oleh Paus Paulus VI untuk melaksanakan ajaran Konsili mengenai liturgi. (3)
Komisi tersebut dipimpin oleh seorang tokoh progresif, Romo Anibale Bugnini, dan beranggotakan enam orang Protestan. Dengan demikian, komisi yang menyingkirkan ritus Latin kuno serta tradisi Katolik yang telah terakumulasi selama berabad-abad—lalu menciptakan ritus yang benar-benar baru—itu dipimpin oleh seorang tokoh progresif dan melibatkan pihak Protestan.
Pastor Bugnini adalah perancang utama Misa Baru.
Apa tujuan mereka? Dr. Smith, salah satu perwakilan Lutheran dalam komisi ini, kemudian dengan bangga menyatakan di hadapan publik, "Kami telah menyelesaikan pekerjaan yang dimulai oleh Martin Luther." Sementara itu, Pastor Bugnini menyatakan bahwa tujuannya dalam merancang Misa Baru adalah "untuk menanggalkan segala sesuatu dari doa-doa dan liturgi Katolik yang dapat menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara kita yang terpisah—yakni kaum Protestan." (4)
Sebuah rancangan yang jelas untuk menghancurkan Misa yang benar.
Para perancang Misa Baru telah berulang kali membanggakan kebaruan dan sifat revolusioner dari ciptaan mereka, dan Anda dapat menemukan banyak contohnya. Saya hanya akan mengutip satu contoh: Romo Joseph Gelineau, SJ, salah satu ahli Katolik yang terlibat dalam perumusannya, menyatakan: “Hal ini perlu dikatakan tanpa ambiguitas: Ritus Romawi sebagaimana yang kita kenal tidak ada lagi. Ritus itu telah dihancurkan.” (5)
Para kritikus pada dasarnya mengatakan hal yang sama. Sekali lagi, saya hanya akan mengutip satu contoh. Kardinal Alfredo Ottaviani, yang menjabat sebagai kepala Kantor Suci di bawah tiga Paus, menulis bahwa "*Novus Ordo Missae*... merupakan penyimpangan yang mencolok dari teologi Katolik mengenai Misa Kudus sebagaimana dirumuskan dalam Konsili Trente,” dan bahwa terdapat “penyangkalan tersirat terhadap Kehadiran Nyata Kristus dan doktrin Transubstansiasi.” (6)
Berdasarkan kesaksian-kesaksian ini, serta fakta bahwa
otoritas keagamaan telah mewajibkan Misa Baru ini dirayakan di mana-mana,
apakah mengherankan jika begitu banyak umat Katolik saat ini tidak percaya pada
Kehadiran Nyata?
No comments:
Post a Comment