Sunday, March 10, 2024

Sebuah Kepausan Yang Sangat Cocok Untuk Masa Akhir Zaman…

These Last Days News - 14 Februari 2024




 

SEBUAH KEPAUSAN YANG SANGAT COCOK UNTUK MASA AKHIR ZAMAN…

https://www.tldm.org/news60/a-papacy-fit-for-the-end-times.htm

 

 

AmericanThinker.com reported on February 14, 2024:

by Rick Fuentes

 

 

Takhta Suci kini telah menjadi arena bermain untuk tujuan-tujuan sekuler dan kegiatan-kegiatan duniawi, sehingga membuat agama Katolik berada dalam kemunduran besar yang dimulai dengan penerapan reformasi liturgi Konsili Vatikan II pada tahun 1969 dan menciptakan tatanan baru Misa (Novus Ordo). Banyak bunyi dentangan lonceng dan aroma Misa Latin tradisional menghilang di hadapan pengunjung gereja, digantikan oleh liturgi dan arsitektur Protestan yang mengurangi keindahan fisik dan keagungan gereja. Bahasa Latin digantikan oleh bahasa sehari-hari. Para imam berpaling dari Kristus yang disalib dan mengangkat piala dan patena di hadapan jemaat. Pembuangan rel tempat berlutut membuat para imam meninggalkan altar dan para komunikan berdiri untuk menerima dan menganiaya Komuni Kudus dengan tangan yang tidak bersih. Kekhidmatan dan kesucian nyanyian Gregorian digantikan oleh paduan suara gereja dengan himne modernis serta ansambel drum dan gitar yang sering mengubah perayaan Kristus menjadi hootenanny evangelis. (Pertunjukan informal oleh penyanyi rakyat, biasanya dengan partisipasi penonton.)

 

Paus saat ini, Jorge Mario Bergoglio, yang memakai nama Fransiskus, telah mengubah liturgi dan tradisi untuk membawa perjuangan reformasi Vatikan II mencapai garis akhir. Dia mempercepat penghapusan Misa Latin dan mencaci-maki para praktisi Misa Latin di Amerika Serikat sebagai “elemen reaksioner yang kuat.” Retorika tersebut tidak tepat bagi mereka yang bermaksud menargetkan dan membidik konservativisme agama, dimana FBI (agen polisi rahasia Amerika Serikat) melaporkan bahwa beberapa kelompok liturgi kuno itu menampung anggota “gerakan nasionalis sayap kanan” yang anti-Semit.

 

Menyelaraskan masa kepausannya dengan doktrin kaum globalis, paus Francis telah mendirikan Gereja Sinode yang baru, memberikannya bentuk ekumenis yang sesuai dengan fiksasi duniawi terhadap aktivisme iklim, gerakan LGBTQ, migrasi penduduk, dan Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi. Penyembahan berhala sekuler ini telah mengejek pekerjaan dan karya Tuhan dan memutarbalikkan ajaran gereja mengenai moralitas. Mereka yang duduk di bangku gereja akan menerima khotbah yang berlebihan tentang dampak buruk bahan bakar fosil, konsumsi daging yang berlebihan, dan permohonan sedekah untuk mendukung kebijakan imigrasi perbatasan yang menghilangkan budaya nasional.

 

Di sepanjang masa kepausannya, paus Francis telah membimbing kemajuan sesama ulama Argentina, penulis hantu cabul dan teolog Victor Manuel Fernandez. Saat menjadi uskup agung, Fernandez menulis bab kontroversial dalam Amoris Laetitia (The Joy of Love, 2016), sebuah nasihat kepausan yang mengabaikan kesucian pernikahan dengan mengizinkan Komuni bagi pasangan yang bercerai dan menikah lagi tanpa pembatalan. Di bawah bimbingan paus Francis, Fernandez menjalani jalur cepat selama sepuluh tahun dari imam, uskup, hingga menjadi kardinal.

 

Pada tahun 2023, Fernandez (si klerus jago porno) menerima topi merahnya meskipun paus Francis telah mengetahui sebelumnya mengenai beberapa buku dan artikel busuk yang menghujat agama sehingga menyebabkan dilakukannya penyelidikan internal Vatikan, dan mengulangi siasat paus Francis yang mendukung liberalisme dan kesetiaan pada atasan dibandingkan kepatuhan pada tradisi gereja dalam meningkatkan hierarki Vatikan. Diangkat sebagai Prefek Dikasteri Ajaran Iman, Fernandez memegang posisi tertinggi di Vatikan dalam hal kekuatan dan pengaruh teologis yang dipandang sebagai batu loncatan bagi para paus di masa depan.

 

Francis dan Fernandez adalah kaum sofis dari kepausan Bergoglian, yang mengeluarkan deklarasi doktrinal yang dibaca seperti anagram. Rilisan Fiduccia Supplecans (Supplicating Trust) pada Natal tahun 2023, yang ditulis oleh Fernandez atas nama Francis, membuka pintu bagi konsekrasi dan pemberian berkat pada pasangan sesama jenis dengan mendandani pemberkatan liturgi sebagai tindakan pastoral dan mengabaikan tindakan terlarang yang dilakukan dalam hubungan seperti itu. 

 

Ketangkasan magisterial ini, yang menciptakan ambiguitas moral melalui pembedaan dengan perbedaan, telah memicu reaksi yang hampir memecah belah para kardinal terkemuka dan konferensi uskup di seluruh dunia. Wartawan Vatikan yang penasaran mulai menarik benang merah pada seragam merah Fernandez, mengekspos kecenderungannya pada teologi pornografi yang lembut (silakan membaca di sini dan di sini dan di sini) dan meningkatkan kekhawatiran akan pengaruhnya terhadap naskah dan nasihat kepausan lainnya, seperti Evangelii Gaudium (Joy of the Gospel, 2013), membayangkan sebuah gereja berwawasan ke luar yang lebih berpegang pada realitas zaman sekarang dibandingkan ortodoksi dengan mengambil “bau domba,” Laudato Si (Praised Be, 2015), memaksakan aktivisme iklim kepada umat Katolik dengan menyelaraskannya dengan gereja moralitas, dan Traditionis Custodes (Penjaga Tradisi, 2021), membuka kampanye menentang Misa Latin yang berusia 1500 tahun dengan membalikkan kebijakan lembut dari pendahulunya, Santo Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI. Pengaruh Fernandez ini dapat dilihat melalui semua proklamasi ini dalam niatnya untuk membuka jendela gereja kepada dunia.

 

Aliansi-aliansi busuk dan tidak suci dengan organisasi atheis dan gerakan anti-Katolik menjadi ciri khas merek Francis. Dalam persiapan untuk satu-satunya kunjungannya ke Amerika Serikat pada tahun 2015, para ideolog yang dibiayai oleh Open Society Foundation milik George Soros berangkat ke Vatikan, bertemu dengan sekretaris kepausan untuk menyusun rencana perjalanan Francis. Niat Machiavellian mereka adalah untuk mengobarkan revolusi melawan para uskup Amerika yang menentang LBGTQ dan gerakan pro-aborsi.

 

Paus Francis tak henti-hentinya melontarkan argumen ad hominem yang mencaci-maki kaum fundamentalis Katolik Amerika karena keterbelakangan mereka, dan menunjukkan kepada mereka kelalaiannya dalam menjaga iman. Dia perlahan-lahan menantang dominasi konservatif dalam Konferensi Waligereja Katolik Amerika Serikat dengan menunjuk sejumlah kelompok modernis dan apologis ke dalam Dewan Kardinal, yang terdiri dari orang-orang yang terkenal kebusukan dan kelicikan mereka: Blasé Cupich dari Chicago, Wilton Gregory dari Washington, Joseph Tobin dari Newark, Robert McElroy dari San Diego, dan Kevin Farrell, diangkat menjadi kepala Dikasteri Iman, Keluarga, dan Awam di Vatikan.


Mengacungkan identitasnya sebagai Paus Peronis (Peron adalah mantan pemimpin Argentina yang komunis), paus Francis memandang umat Katolik Amerika dengan penuh kecurigaan, sembari meremehkan rezim lalim yang menganiaya umat beriman. Melalui kebijakan luar negerinya yang sesat, Francis menyiapkan berbagai cara untuk mengembalikan agama Katolik ke dunia bawah dengan mempromosikan détente terhadap orang-orang murtad yang menyiksa ratusan juta umat Katolik karena menjalankan agama mereka.

 

Pada tahun 2018, paus Francis menandatangani perjanjian rahasia dengan Xi Jinping yang menjamin konsultasi dengan pemerintah Cina sebelum penunjukan uskup Tiongkok oleh Paus. Dua bulan setelah perjanjian tersebut dicapai, Jinping melakukan pengkhianatan terhadap paus Francis dengan menangkap para klerus yang ditunjuk oleh Vatikan dan melantik uskup versi mereka sendiri tanpa persetujuan Paus, sehingga merampas wewenang ilahi Paus untuk menunjuk penerus para rasul gereja. Para pastor dan uskup di China kini terpaksa membagi kesetiaan mereka antara antikristus dan Yang Mahakuasa. Karena keengganan Vatikan, gereja-gereja ditutup dan Alkitab ditulis ulang. Para imam dikirim ke kamp-kamp indoktrinasi dan rumah-rumah ibadah Katolik yang dilucuti dari dewa-dewanya untuk memberi ruang bagi foto-foto Jinping dan Mao Zedong.

 

Tuhan bukanlah pengamat yang pasif terhadap kepausan saat ini.

 

Pada tanggal 13 Februari 2013, dua sambaran petir terpisah menyambar puncak kubah Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan. Hal ini menyusul peristiwa luar biasa yaitu pengunduran diri Paus Benediktus yang tidak terduga dan mengejutkan dari kepausan, yang mengakibatkan diadakannya konvensi para kardinal dan terpilihnya paus Francis.

 

Pada tanggal 18 September 2018, paus Francis menyampaikan konstitusi apostolik yang mengungkapkan rencananya untuk menggantikan gereja lama dengan versi Sinode yang baru. Keesokan harinya terlihat lingkaran cahaya yang mengelilingi kepala pada patung Santo Petrus, rasul Yesus Kristus dan paus pertama gereja, yang terletak di bagian depan Tempat Suci Bunda Maria Rosario di San Nicolas, Argentina yang menghilang secara misterius. Tempat suci ini terkenal dengan penampakan Maria baru-baru ini pada tahun 1980-an kepada visioner Gladys Quiroga de Motta, yang berisi lebih dari 800 pesan yang mengulangi nubuatan Akhir Zaman oleh Perawan Maria yang diberikan di Lourdes, Prancis, Fatima, Portugal, Garabandal, Spanyol, dan Akita, Jepang.

 

Pada tanggal 17 Desember 2023, tepat pada hari ulang tahun paus Francis yang ke-87 dan hari dimana dia meminta Fernandez untuk mengeluarkan pernyataannya tentang pemberkatan terhadap pasangan sesama jenis, petir menyambar patung Santo Petrus yang sama. Baut pada patung tersebut yang bertujuan untuk melindungi tiga penangkal petir yang tersebar di atap tempat suci, malah mengarah ke patung yang terletak di ceruk dekat pintu masuk tempat suci. Serangan tersebut menghancurkan dua kunci yang melambangkan otoritas spiritual Paus dan tangan yang memegangnya, sehingga sisa patung tidak terluka. 

 

Dari peristiwa-peristiwa ini, seseorang mungkin berargumentasi bahwa peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang kebetulan atau supranatural, namun terdapat pesan spiritual dari Tuhan yang rewel yang memperingatkan seorang Paus yang tertarik pada politik, bukan pada kesalehan, dan terpaku pada kemanusiaan dibandingkan dengan keilahian, seorang Wakil Kristus yang meremehkan ajaran-ajaran gereja dengan menghapuskan dari ajaran-ajaran Gereja tentang perbedaan moral antara kepausan apostolik dan kemurtadan.


* * * * * * *

“Para uskup dan kardinal di dalam Gereja Putraku, kamu telah tertidur. Kamu berjalan dengan kepalamu di atas awan, awan berdebu, awan gelap yang membutakan kamu. Bangunlah dari tidurmu selagi masih ada waktu. Waktunya semakin singkat. Berapa banyak tahun-tahun dunia ini, haruskah aku datang kepadamu untuk memperingatkan kamu? Kamu tidak bisa menyembunyikan kebenaran sekarang, anak-anakku dan para pastorku. Ini sudah terlambat. Saat Kiamat sudah tiba di depanmu; hari-harimu sudah tinggal menghitung hari. Kamu harus menyelamatkan jiwamu sekarang dan jiwa-jiwa semua orang yang berada di bawah pengawasanmu. Pertobatkan orang-orang berdosa selagi masih ada waktu." - Pesan Bunda Maria, di Bayside, 30 Mei 1978


TIDAK ADA ALASAN

“Saat ini tidak ada alasan yang diterima oleh Bapa Yang Kekal di antara para pastor, yang sekarang sangat menyinggung Bapa Yang Kekal dengan menyesatkan anak-anak Allah di dunia. Eksperimen dan perubahan harus dihentikan dan dibalik! Tidak ada jalan lain.” – Pesan Bunda Maria, di Bayside, 4 Agustus 1979

-------------------------------------

 

Silakan membaca artikel lainnya di sini:


7 Fakta Tentang Neraka 

Misa Latin, Eksorsisme Latin, Sakramen-sakramen Latin, Menghancurkan Iblis… 

Penipuan di dalam Gereja… 

Ned Dougherty, 23 Februari 2024 

LDM, 29 Februari 2024 

Penampakan Garabandal 

LDM, 7 Maret 2024