Thursday, May 6, 2021

Seorang Paus Yang Layak Menjadi Contoh

 

MAY 5, 2021 AT 11:10 PM

 

 


SEORANG PAUS YANG LAYAK MENJADI CONTOH 

https://www.patreon.com/posts/50898788?utm_source=ActiveCampaign&utm_medium=email&utm_content=A+Model+Pope&utm_campaign=A+Model+Pope

 

by Prof. Roberto de Mattei 

 

 

Kita telah memasuki era "pasca-Francis." Sinode pasca-Amazon telah gagal total, Seruan Querida Amazonia tanggal 2 Februari 2020 tidak didengar, dan Seruan Amoris Laetitia tanggal 8 April 2016 telah masuk ke dalam catatan sejarah lebih dikarenakan kritik yang diterimanya, bukannya jalan baru yang dirintisnya.

 

Inisiatif terbaru paus Francis telah ditandai dengan meningkatnya kontradiksi dan semakin meningkatnya kebingungan, dengan kawanan umat berayun-ayun di antara perasaan marah dan depresi. Magisterium paus Francis, dalam semuanya itu, kekurangan koherensi dan keseimbangan yang seharusnya menjadi kualitas utama dari orang yang memegang tanggung jawab tertinggi untuk mengatur Gereja.

 

Yang paling dibutuhkan oleh Gereja saat ini adalah keteraturan dalam bidang teologi, praksis pastoral, liturgi, dan disiplin. Ketertiban hanya muncul dari kejelasan intelektual, tetapi kejelasan intelektual ini hanya dapat mendasarkan dirinya pada Kebenaran Tuhan, secara utuh dan tanpa kompromi. Untuk alasan ini, para kardinal yang memilih paus berikutnya (lihat buku bagus oleh Edward Pentin, The Next Pope: The Leading Cardinal Candidates) membutuhkan model untuk bisa dilihat dan ditiru, dan untuk menemukan sosok seperti itu, perlu untuk melihat kepada arah yang lain — tidak dari paus Francis saja, tetapi dari semua paus baru belakangan ini, yang semuanya terlibat dalam bencana sejarah Konsili Vatikan II.

 

Contoh terbesar diberikan oleh hanya dua Paus yang telah dikanonisasi di era modern sebelum Konsili Vatikan II: Santo Pius X, dan di atas semua itu, Santo Pius V, seorang Paus yang membuat pembelaan Kebenaran dan Gereja sebagai poros kepausannya. Dia menyebut dirinya "penjaga Gereja," karena dia sadar bahwa tugas pertama Wakil Kristus adalah menjaga dan membela kawanan yang dipercayakan kepadanya dari serangan serigala.

 

Ketika konklaf untuk memilih penerus Pius IV dibuka di Istana Para Paus di Bukit Quirinal pada tanggal 20 Desember 1565, Kolese Suci pada dasarnya dibagi menjadi dua pihak yang telah saling bertentangan di tahun-tahun sebelumnya dan yang terkait dengan dua kelompok yang berbeda cara dalam menghadapi Reformasi Protestan. Pihak pertama menyatakan bahwa tidak mungkin ada kompromi dengan bidaah, sedangkan pihak kedua adalah penganjur untuk menawarkan "uluran tangan" kepada Protestantisme.

 

Dalam konklaf saat itu tidak ada yang lebih keras dari Kardinal Michele Ghislieri, yang pernah menjadi Penyelidik Tertinggi Kristianitas. Dialah yang, dengan dukungan tegas dari kardinal suci lainnya, Charles Borromeo, naik tahta kepausan pada tanggal 7 Januari 1566, dengan mengambil nama Pius V.

 

Michele Ghislieri lahir pada 1504 di Bosco Marengo, di Piedmont. Pada usia 14 tahun dia masuk Ordo Pengkhotbah. Dia dikirim ke Universitas Bologna untuk belajar teologi, yang kemudian dia ajarkan selama enam belas tahun. Karena kemurnian imannya, dia diangkat sebagai Penyelidik atau jaksa (1542), Komisioner Umum Tahta Suci (1551), dan Summus ac perpetuus inkuisitor (1558), Penyelidik Jenderal seumur hidup dari seluruh Kekristenan. Paus Paulus IV mengangkatnya menjadi Uskup di Nepi dan Sutri dan kemudian mengangkatnya menjadi Kardinal.

 

Penghargaan semacam itu, bagaimanapun, tidak mengubah dengan cara apa pun kesederhanaan hidupnya, bahkan setelah terpilih sebagai Paus Roma. Dia pertama kali menerapkan pada dirinya sendiri reformasi moral yang ingin dia sampaikan ke seluruh Gereja. Santo Pius V mencoba dengan segala cara untuk membendung penyebaran ajaran sesat di Eropa, dan untuk tujuan ini dia membuat aliansi dengan para penguasa Katolik saat itu, terutama dengan Philip II dari Spanyol, sementara dia bahkan melangkah lebih jauh dengan meng-exkom Ratu Inggris yang sesat, Elizabeth I, dengan sikap keberanian supernatural yang luar biasa.

 

Kepausannya ditandai oleh beberapa keputusan fundamental: penerbitan Katekismus pada tahun 1566, yang mengajarkan dengan sangat jelas seluruh karya doktrinal Konsili Trente; berlakunya Brevir Roma pada tahun 1568, buku liturgi yang berisi Divine Office Gereja Katolik; dan pada tahun 1570 institusi Misa yang ditakdirkan untuk memasuki sejarah sebagai "Misa Tridentin" atau "Misa Santo Pius V," yang tidak lain adalah pemulihan Misa tradisional, yang kemudian dihancurkan oleh Protestan.

 

Pilihan dari tiga tindakan ini bukanlah kebetulan: maksud dari Konsili Trente adalah untuk melaksanakan reformasi yang benar, dimulai dengan apa yang diajarkan, didoakan, dan dirayakan oleh para pastor. Untuk tindakan ini ditambahkan pula pengesahan Santo Thomas Aquinas sebagai Doktor Gereja dan publikasi definitif Summa Theologica sebagai karya referensi untuk mengajar.

 

Sementara ajaran sesat mengancam agama Kristen dari dalam, dan kelompok-kelompok lain mengancamnya dari luar. Pius V mempromosikan pembentukan Persekutuan Suci untuk melawan Turki melalui aliansi militer antara Kepausan, Spanyol, dan Republik Venesia. Kemenangan Lepanto pada tahun 1571, salah satu pertempuran laut terbesar dalam sejarah, adalah salah satu hasil paling terkenal dari pemerintahannya. Paus sedang mempersiapkan ekspedisi baru ketika dia meninggal pada tanggal 1 Mei 1572. Hari ini tubuhnya dihormati di Basilika Santo Maria Mayor di Roma.

 

Pius V bukanlah Paus "politik." Sebaliknya, dia menjalani misi luhurnya dengan cara supernatural, dengan pandangannya hanya tertuju hanya pada kemuliaan Tuhan dan kebaikan jiwa. Dom Guéranger, dalam karyanya The Liturgical Year, menyatakan bahwa "Seluruh kehidupan Pius V adalah pertempuran." Michele Ghislieri adalah seorang Paus yang tegas dan agresif, yang bahkan secara pribadi memperhatikan masalah militer, tetapi rahasia pertempuran dan kemenangannya terletak pada senjata spiritual yang dia gunakan, dimulai dengan Rosario Suci. Pengesahan Pesta Bunda Kemenangan, juga dikenal sebagai Bunda Rosario, dan memasukkan gelar Maria Auxilium Christianorum ke dalam Litani Loreto adalah tindakan relevan terakhir dari kepausannya.

 

Saat ini Saint Pius V terus membantu, dari Surga, sisa Gereja Militan, yang nasibnya dipercayakan ke tangannya selama enam tahun. Teladannya harus diketahui dan disebarluaskan.

 

 

Catatan Editor: Mulai hari ini, 5 Mei, pesta tradisional St. Pius V, dan berlanjut hingga 7 Oktober, Pesta Bunda Rosario — dan peringatan 450 tahun kemenangan bersejarah Paus Pius V di Lepanto — Sophia Institute Press akan berdoa rosario setiap hari untuk intensi khusus agar Amerika kembali kepada Kristus, memohon Bunda Maria untuk mengalahkan musuh yang dihadapi Gereja kita dan negara kita.

 

Source: https://www.crisismagazine.com/2021/a-model-pope?mc_cid=b09fb54beb&mc_eid=ec5ba4eed6 

 

-----------------------------------

 

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 1

Chrislam, Francis Dan Sebuah Agama Tunggal Dunia

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 2

Lihatlah Mesias Baru Dari Vatikan...

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kritikan Terhadap Amoris Laetitia

Enoch, 1 Mei 2021

Pedro Regis 5116 - 5120

 

 

Monday, May 3, 2021

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kritikan Terhadap Amoris Laetitia

 

MAY 2, 2021 AT 1:24 AM

 

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kritikan Terhadap Amoris Laetitia, Yang TIdak Dijawab Hingga Kini? 

https://www.patreon.com/posts/50730156?utm_source=ActiveCampaign&utm_medium=email&utm_content=What+do+the+unanswered+criticisms+of+Amoris+Laetitia+teach+us+today%3F&utm_campaign=What+do+the+unanswered+criticisms+of%C2%A0Amoris+Laetitia%C2%A0teach+us+today%3F

 

 


by Prof. Roberto de Mattei 

 

 

(Roberto de Mattei) Lima tahun lalu, pada 8 April 2016, Seruan Apostolik pasca-sinode Amoris Laetitia, dokumen kepausan dari paus Francis yang paling kontroversial, diterbitkan. Dokumen ini adalah hasil dari proses yang diprakarsai oleh intervensi Walter Cardinal Kasper pada konsistori Februari 2014. Tesis Kardinal Kasper tentang bagaimana Gereja harus memperbarui ajarannya tentang pernikahan, membentuk motif utama dari dua sinode tentang keluarga pada tahun 2014 dan 2015.

 

Sayangnya, nasihat terakhir Amoris Laetitia ternyata lebih buruk daripada laporan Kardinal Kasper sendiri. Sementara kardinal Jerman itu baru mengajukan beberapa pertanyaan, Amoris Laetitia malahan telah menawarkan jawabannya: membuka pintu bagi orang yang bercerai yang kemudian menikah lagi (dengan orang lain, meski belum memperoleh anulasi dari Gereja atas pernikahan sebelumnya) dan secara implisit ajaran itu mengizinkan lebih banyak pasangan kumpul kebo. Inilah mengapa, pada tahun 2017, filsuf Prof. Josef Seifert melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa Amoris Laetitia “memiliki konsekuensi logis yang menghancurkan seluruh ajaran moral Katolik.”

 

Namun, kritik yang tak terhitung banyaknya terhadap Amoris Laetitia - dalam bentuk buku, artikel, wawancara - telah membentuk sejarah Gereja lebih dari sekadar dokumen itu sendiri. Di antara kritik ini, ada dua yang menonjol, dengan cara tertentu. Yang pertama adalah Dubia. yang berupa beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada paus dan Kongregasi untuk Ajaran Iman pada 19 September 2016, yang diajukan oleh Kardinal Walter Brandmüller, Raymond Burke, Carlo Caffarra, Joachim Meisner; yang kedua adalah Correctio filialis de haeresibus propagatis, yang ditujukan kepada paus Francis pada tanggal 11 Agustus 2017 oleh lebih dari 60 cendekiawan Katolik dan pastor, yang dalam sebulan setelah penerbitan dokumen Amoris Laetitia, kemudian jumlah mereka menjadi sebanyak 216 orang teolog, profesor, cendekiawan dari berbagai negara.

 

Baik Dubia maupun Correctio filialis memiliki pengaruh di seluruh dunia, tetapi tidak satu pun dari dokumen-dokumen ini yang mendapat tanggapan dari paus Francis. Terlepas dari kenyataan bahwa permintaan audiensi telah disampaikan kepada paus Francis pada 25 April 2017 oleh empat penulis "Dubia", dua di antaranya (Caffarra dan Meisner) sekarang telah meninggal. Penolakan Penerus Petrus itu (paus Francis) untuk menerima para kardinal yang menjadi penasihatnya, tampaknya tidak dapat dijelaskan, terlebih lagi karena Francis ingin menerapkan ‘merek dagang’ kepausannya, yang dinyatakan dalam salah satu homili pertamanya (25 Mei 2013), bahwa “Umat Kristen yang bertanya… seharusnya tidak pernah menemukan pintu tertutup.” Di sisi lain, pada tanggal 15 Maret 2021, Luis Cardinal Ladaria, Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman, menanggapi sebuah dubium mengenai pertanyaan “Apakah Gereja memiliki kuasa untuk memberikan berkat kepada perkawinan orang-orang dari sesama jenis?,” dia mengatakan bahwa berkat atas perkawinan homoseksual sebagai “hal yang terlarang,” mengingat bahwa “sama sekali tidak ada alasan untuk menganggap relasi homoseksual sama atau bahkan analog dengan rencana Tuhan bagi pernikahan dan keluarga.” Pernyataan ini, yang menegaskan kembali kebenaran doktrin Katolik, telah menimbulkan ledakan perbedaan pendapat, khususnya di Jerman. Tidak adanya tanggapan atas isu-isu yang diangkat oleh Dubia dan Correctio filialis, di sisi lain, telah menyebabkan kekecewaan besar dalam dunia Katolik tradisional.

 

Ajaran yang kontradiktif ini berisiko menuntun Gereja menuju perpecahan yang parah, atau lebih tepatnya menuju proses fragmentasi agama yang dapat menimbulkan konsekuensi bencana. Tanggung jawab utama dalam situasi ini terletak pada gembala tertinggi, bukan pada kawanan yang sedang kebingungan. Jumlah domba yang gila pasti akan meningkat sampai Roma membuat suaranya terdengar dengan jelas dan pasti. Dalam kebingungan ini, penerbitan dua buku yang bagus dan terdokumentasi dengan baik yang menawarkan gambaran suram tentang tragedi agama Katolik saat ini, menjadikan dua buku ini lebih tepat waktu.

 

Yang pertama, disusun oleh Voice of the Family, adalah publikasi elektronik berjudul The Unanswered Concerns about Amoris Laetitia: Why the Apostolic Exhortation Remains a Danger to Souls. Sebuah tim dari Voice of the Family hadir di Roma pada Sinode Luar Biasa pada bulan Oktober 2014 dan Sinode Biasa pada bulan Oktober 2015. Voice of the Family menghasilkan analisis mendalam tentang dokumen sinode terpenting dari perspektif para pendukung pro-kehidupan dan pro-keluarga, dan mereka mendistribusikan tulisan mereka kepada para kardinal dan uskup di seluruh dunia. Sebagai pendahuluan catatan volume, ditulis: “...ada pernyataan dalam Amoris Laetitia yang secara langsung bertentangan dengan ajaran otoritatif Gereja Katolik, dan ada pernyataan lebih lanjut yang melemahkannya tanpa secara langsung membantahnya.”

 

Jilid kedua, Defending the Faith against Present Heresies (Membela Iman terhadap Ajaran Sesat Saat Ini), diedit oleh Profesor John R.T. Lamont dan Claudio Pierantoni dan memiliki kata pengantar oleh Uskup Agung Carlo Maria Viganò. Kedua karya tersebut berisi teks Dubia dan Correcio filialis. Buku terbitan The Voice of the Family ini juga berisi “Kecaman Teologis terhadap Amoris Laetitia” oleh empat puluh lima teolog dan “Deklarasi Kebenaran yang Berhubungan dengan Beberapa Kesalahan Paling Umum dalam Kehidupan Gereja Zaman Kita” yang diterbitkan pada Mei 2019. Buku Lamont dan Pierantoni juga memuat “Surat Terbuka kepada Uskup-uskup Gereja Katolik,” “Seruan untuk Para Kardinal Gereja Katolik”, dan surat protes “Contra recentia sacrilegia.” Dalam pengantarnya, John Lamont menjelaskan bagaimana dokumen-dokumen ini muncul; buku ini juga berisi kontribusi oleh Anna M. Silvas, Pastor John Hunwicke, Claudio Pierantoni, Claire Chretien, Prof. Roberto de Mattei, Robert Fastiggi dan Dawn Eden Goldstein, Joseph Shaw, Michael Sirilla, Edward Peters, Edward Feser, Pastor Brian Harrison, John Rist , Prof.Peter A. Kwasniewski, Maike Hickson, pastor Thomas G. Weinandy, OFM Cap, Pauper Peregrinus, dan Profesor Lamont sendiri.

 

Membaca ulang teks-teks ini, saat ini, hal itu bersifat instruktif, baik dari segi bentuk maupun substansinya. Pada tahun-tahun belakangan ini, substansi teologis dari isu-isu tersebut telah hilang dan bahasanya sering menjadi kasar dan agresif. Kedua kumpulan dokumen ini, sebaliknya, membantu kita memahami bagaimana umat Katolik berbicara di dalam Gereja. Sangat disayangkan melihat hilangnya substansi teologis ini dan gaya seimbang dalam kontroversi yang bermunculan terkait vaksinasi Covid-19. Dalam debat ini, beberapa kritikus Amoris Laetitia dituding tidak konsisten, karena menerima pernyataan Kongregasi Doktrin Iman tentang vaksin yang dikeluarkan tahun 2008 dan 2015. Jawaban atas keberatan ini sederhana. Para penandatangan Correctio filialis tidak pernah mengkritik otoritas Paus atau pun Kongregasi Ajaran Iman, karena Gereja adalah masyarakat hierarkis dan tidak dapat berjalan tanpa otoritas tertinggi. Sebaliknya, mereka mengkritik dokumen yang diumumkan oleh otoritas tertinggi, menganggapnya bertentangan dengan Magisterium Gereja sebelumnya. Dalam kepatuhan pada kebenaran teologis dan moral, pengadilan tertinggi adalah hati nurani seseorang; tetapi prinsip atau norma obyektif eksternal dibutuhkan di mana hati nurani dapat didirikan. Hukum eksternal ini dinyatakan oleh Gereja melalui Magisteriumnya yang, dalam pengertian ini, merupakan norma terdekat dari iman kita. Jika hal ini diungkapkan dengan cara yang samar-samar atau ambigu, menyangkal bahkan secara implisit pada tingkat praktis kebenaran iman, mengenai, misalnya, persatuan suami-istri, umat Katolik berkewajiban untuk mengingat bahwa doktrin tentang pernikahan sakramental tidak dapat dimodifikasi oleh otoritas gerejawi mana pun, bahkan tidak oleh Paus sekali pun. Mereka yang mengkritik Amoris Laetitia tidak menggunakan hati nuraninya sendiri sebagai rujukan, tetapi menggunakan ajaran Magisterium Gereja yang abadi.

 

Saat menjelang ‘kemungkinan terjadinya perpecahan’ sekarang ini bukanlah waktu untuk memecah-belah dunia Katolik, tetapi waktu untuk menyatukannya atas dasar Tradisi Gereja. Claudio Pierantoni dalam karyanya “Reflections on a New Dialogue between Traditionalist and Conservative Catholics,” menjelaskan betapa banyak dokumen yang disajikan dalam buku ini, yang dieditnya bersama John Lamont, adalah hasil dari pertemuan menyenangkan antara perwakilan “Catholic Traditionalism” dan “Conservative Catholicism” dari jajaran mana dia berasal. “Semoga buku ini menjadi kesaksian dan contoh upaya bersama yang telah dilakukan selama empat tahun terakhir, dan menjadi penyemangat untuk tahun-tahun mendatang,” tulisnya. Saya membuat keinginan Profesor Pierantoni menjadi keinginan saya sendiri: untuk membentuk, di masa-masa sulit ini, "sebuah front ortodoksi baru yang lebih kompak." Yang dibutuhkan adalah konvergensi dan aliansi dari berbagai inisiatif klerus dan umat awam, masing-masing pada level mereka sendiri dan sesuai dengan kemungkinan yang tersedia bagi mereka, untuk menghadapi kekacauan yang mengancam kita, mempercayakan diri kita sendiri dan keberhasilan pertempuran kita untuk membantu Tuhan, dimana jika tanpa Dia maka keberhasilan tidak mungkin terjadi. Kedua buku yang baru saja diterbitkan ini menunjukkan jalannya.

 

English translation: Voice of the Family

-----------------------------------

 

Para Gembala Bukanlah Orang Upahan

Enoch, 24 April 2021

LDM, 27 April 2021

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 1

Chrislam, Francis Dan Sebuah Agama Tunggal Dunia

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 2

Lihatlah Mesias Baru Dari Vatikan...

 

 

Lihatlah Mesias Baru Dari Vatikan...

These Last Days News - April 30, 2021


 

Fauci

 

 

Lihatlah Mesias Baru Dari Vatikan Dan Semua Orang Tunduk Di Hadapan Kakinya

Yang Terbuat Dari Tanah Liat

https://www.tldm.org/news49/behold-the-vaticans-new-messiah-and-all-bow-down-at-his-clay-feet.htm

 

 

CanadaFreePress.com reported on April 29, 2021:

by Judi McLeod

 

 

Terlepas dari segala hiruk pikuk, dunia lockdown tidak akan menunggu dengan terengah-engah bagi debut seorang ‘Mesias Baru’ pada 6 Mei 2021, di sebuah tempat yang paling tidak mungkin — Vatikan — melalui Dewan Kepausan untuk Kebudayaan, Yayasan Cura, Yayasan Sains dan Iman ( TTOQ) dan Stem For Life (SFLF). (Yang dimaksud disini adalah Konperensi kepausan tentang kesehatan yang akan diadakan di Vatikan pada 6-8 Mei 2021. Disitu Fauci, tokoh pendukung Great Reset dan aborsi diundang untuk berbicara).

 

Dengan sedikit atau tanpa keriuhan, Vatikan memberi Dr. Anthony Fauci posisi pembicara utamanya di sebuah acara yang disebut-sebut sebagai "Menjelajahi Pikiran, Tubuh & Jiwa". “Bagaimana Inovasi dan Sistem Penyampaian Pembaruan Meningkatkan Kesehatan Manusia.”

 

 

'Mesias Vatikan yang Baru Telah Dicetak'

 

Lebih dari sekadar aneh bahwa MSM yang menyukai Fauci dengan memberinya banyak publisitas, seperti yang dilakukannya terhadap Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), yang kurang memperhatikan Fauci, sebagai 'Mesias Vatikan yang Baru Telah Dicetak'

 

Hal itu berarti: Memberi jalan bagi Mesias Baru Vatikan dan semua orang tunduk kepada maskernya sama seperti tunduk kepada ‘kaki dari tanah liat’ yang kelihatan.

 

(Disini kata ‘tanah liat’ mengacu pada Kitab Daniel 2:33-35):

...sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat.

Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk. Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.)

 

Fauci, yang telah mengubah segalanya tentang apa yang harus dilakukan orang untuk menghindari pandemi Covid-19, dia sudah menguasai aspek kesehatan manusia, dan sekarang, berkat konferensi "Kesehatan" Vatikan, dia juga akan menyerang jiwa Anda yang bersifat kekal.

 

Semua Mesias, selain Yang Asli, akan datang dengan cara duniawi kita, di atas kaki tanah liat yang kaku.

 

Mengapa semua berita yang diproduksi media beralih kepada jalur agama dalam upayanya menipu massa?

 

Contoh: Guru Pemanasan Global, Al Gore, yang merupakan mesias yang memberikan homili di Gereja St. John Divine di New York City. (CANADA FREE PRESS, 19 Mei 2010)

 

'Bapak Lingkungan', Bocah Poster PBB dari Kanada, Maurice Strong, yang terkait erat dengan Komunis Mikhail Gorbachev, berusaha untuk  mengganti Sepuluh Perintah Allah dengan Piagam Bumi. (CANADA FREE PRESS, Jan. 3, 2006).

 

Beginilah cara Uskup Agung Carlo Maria Viganò menggambarkan Konferensi "Kesehatan" Vatikan: (LIFESITENEWS, 20 April 2021)

 

“Pada pengamatan yang lebih dekat, sikap sektarianisme dan keberpihakan Konferensi Vatikan ini dibuktikan dengan topik yang dibicarakannya, kesimpulan yang ingin ditariknya, para partisipannya, dan para sponsornya. Bahkan gambar yang dipilih untuk mempromosikan Konferensi itu sangat fasih: close-up lukisan Michelangelo tentang Penciptaan yang ada di langit-langit Kapel Sistina, di mana tangan Allah Bapa menjangkau ke tangan Adam, tetapi dengan kedua tangan ditutupi oleh sarung tangan sekali pakai, dengan mengingat peraturan dari "liturgi kesehatan" yang baru dimana banner itu menyiratkan bahwa bahkan Tuhan Sendiri dapat menyebarkan virus."

 

 


 

Para peserta konferensi tersebut termasuk: Bintang-bintang kecil yang dibawa ke panggung dunia oleh Pasukan anti-Tuhan Vatikan, termasuk para pengembang vaksin, para tetua Mormon, sosok pro-aborsi Chelsea Clinton, pendukung pengendalian populasi, Jane Goodall, seorang aktivis New Age, seorang sarjana Muslim Inggris terkemuka, dan seorang aktris Amerika pro-aborsi yang dikenal karena berpose telanjang. (CANADA FREE PRESS, 16 April 2021)

 

Apa yang disebut 'Tawaran Faucian' adalah PALSU. (EPOCH TIMES, 26 April 2021)

 

“Orang Amerika tidak diberi akses kepada informasi penting tentang COVID19 oleh para birokrat yang tidak terpilih oleh rakyat, yang berusaha memperluas kekuasaan dan kendali pemerintah,” kata Steve Deace memperingatkan.

 

Steve Deace berkata tentang 'Faucian Bargain': Second Opinions Tentang COVID-19 telah disembunyikan bagi Orang Amerika.

 

"Misalnya, bahwa rata-rata orang Amerika tahu bahwa hampir setengah dari kematian di Amerika yang terkait dengan COVID terjadi di panti-panti jompo, di mana kurang dari satu persen orang Amerika tinggal, kita tidak akan pernah mengikuti tindakan penaklukan ini," kata Deace kepada pembawa acara Jan. Jekielek. Ini adalah jenis data yang telah disembunyikan dari orang-orang Amerika, jadi mereka belum diberi hak untuk memperoleh informasi."

 

"Deace berkata lebih lanjut dengan mengutip berbagai "ahli tandingan" dari lembaga bergengsi seperti Universitas Stanford dan Oxford, yang "ditendang ke tepi jalan" karena skeptisisme mereka terhadap satu model COVID-19 tertentu yang digunakan untuk membenarkan penguncian wilayah yang sangat mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

 

“Kami disuruh mempercayai omongan para ahli,” katanya. “Mengapa kami tidak diizinkan untuk mendapatkan second opinions dari para ahli lainnya, sebelum kami memutuskan untuk mengambil risiko penurunan besar dalam upaya screening kanker, 40 juta pengangguran, 20 persen dari bisnis kecil Amerika yang tidak akan pernah kembali pulih, secara rata-rata di seluruh negeri?”

 

 

Al Gore, Maurice Strong atau Mikhail Gorbachev. Mereka semua adalah Mesias Palsu

 

Sementara itu, Vatikan, yang seolah-olah berada di sana untuk menyelamatkan jiwa, namun justru melakukan ketidakadilan kepada dunia dengan menghadirkan Fauci sebagai ‘Mesias.’

 

Meskipun pada zamannya, DNC mencoba menampilkan Barack Hussein Obama sebagai seorang ‘Mesias’, dia bukanlah Mesias sejati, tetapi hanya seorang politisi yang terlalu ambisius dan egois.

 

Begitu pula dengan Al Gore yang selalu cerewet, Maurice Strong, atau Mikhail Gorbachev. Mereka semua adalah Mesias Palsu.

 

Hanya ada dan akan selalu ada satu Mesias sejati — Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus.

 

Sementara itu, kita semua harus berlutut dan berdoa agar Vatikan terhalang dalam menjadikan Fauci sebagai Mesias Baru — bahkan jika kita harus melakukannya di rumah, karena ketakutan akan Covid-19 dari Fauci telah berhasil menutup semua tempat ibadah.

 

------------------------------------

 

PERANG DI ANTARA KLERUSMU

Kota Roma yang Abadi akan mengalami sakit persalinan. Pertengkaran akan menumpahkan darah di jalan-jalan. Akan ada perang di antara para klerusmu. Itu akan berupa uskup melawan uskup dan kardinal melawan kardinal, karena 666 telah memasuki Roma. Aku mengulangi, anak-anakku: bangunlah dari tidurmu! 666, kekuatan dan agen setan, telah memasuki Roma!" - Our Lady, Bayside, 24 Juli 1976

 

 

"AKU MEMPERINGATKAN KAMU"

"Seperti yang kuperingatkan kepadamu di masa lalu, namun kamu tidak mau mendengarkan: kecuali kamu mau lebih banyak berdoa, melakukan lebih banyak penebusan dosa, pengorbanan, maka komunisme akan pergi ke seluruh duniamu, merampok bangsa-bangsa, menghancurkan Imanmu, masuk ke tempat-tempat tertinggi di Rumah Putraku. Bisakah kamu menyangkal apa yang terjadi sekarang di duniamu? Singkirkan kebutaan dari matamu dan lihatlah! Keluarlah dari kegelapan sebelum terlambat, karena sebuah Rumah yang berada dalam kegelapan memakai pita kematian atas dirinya! Aku mengulangi: Gereja yang berada dalam kegelapan akan menutup pintu-pintunya." - Our Lady, Bayside, 18 Maret 1977 

 

Roma akan kehilangan iman dan akan menjadi tahta Antikristus. - Our Lady of La Salette, 19 September 1846 

------------------------------------ 

Gisella Cardia 17, 21, 24 April 2021

Para Gembala Bukanlah Orang Upahan

Enoch, 24 April 2021

LDM, 27 April 2021

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 1

Chrislam, Francis Dan Sebuah Agama Tunggal Dunia

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 2

 

 

Sunday, May 2, 2021

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 2

  


 

Pertempuran Terakhir Setan 

 

Pastor Paul Kramer, B.Ph., M.Div., S.T.L. (Cand.) 

 

 

Bab 2

 

Penentangan Berkepanjangan Dimulai 

 

 

Bahkan pembacaan sepintas dua bagian pertama dari Rahasia Besar dalam Pesan Fatima mengungkapkan bahwa itu adalah tantangan Surgawi terhadap kekuatan-kekuatan dunia, yang bahkan dialami oleh umat Katolik Portugal, yang dirasakan semakin meningkat sejak awal abad ke-20. 

Mengingat teks Rahasia yang diuraikan di bab pertama, jelaslah apa yang diusulkan oleh Surga di dalamnya, akan menjadi kutukan bagi rezim Masonik di Portugal, dan termasuk kepada semua kekuatan terorganisir melawan Gereja yang, pada awal abad terakhir, sedang merencanakan (atas pengakuan mereka sendiri, seperti yang akan kita lihat) serangan terakhir atas benteng Katolik. Elemen dasar dari Pesan itu benar-benar merupakan piagam oposisi terhadap kekuatan-kekuatan ini: menyelamatkan jiwa-jiwa dari neraka; pembentukan devosi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda di seluruh dunia; konsekrasi Rusia kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda, dan pertobatan Rusia kepada agama Katolik; serta perdamaian dunia, yang kesemuanya lahir dari kemenangan Hati Maria Yang Tak Bernoda. 

Pesan Fatima sangatlah penting bagi keselamatan jiwa; itu sangat jelas. Tetapi yang agak kurang jelas — dan inilah yang akan membuat marah para musuh Gereja, baik yang berasal dari eksternal maupun internal Gereja sendiri — Pesan dan penampakan Bunda Maria juga sangat penting bagi tata tertib yang benar dari masyarakat. Seperti yang dikatakan Tuhan kita: “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu." (Lukas 12:31) 

Jika umat manusia mengindahkan pesan dari Sang Perawan, maka perdamaian di antara individu, keluarga, kota dan negara, dan seluruh dunia, bisa dicapai dalam bentuk tatanan sosial Katolik. (Kita akan lihat di Bab selanjutnya bahwa tatanan sosial ini bukanlah impian utopis, melainkan sesuatu yang telah tercapai bahkan di abad ke-20 — di Portugal, melalui Konsekrasi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda pada tahun 1931). Yang pasti, Dosa Asal akan tetap ada, tetapi kita akan melihat periode dalam sejarah manusia seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya, yang, di bawah bimbingan Ilahi, membayangkan suatu saat ketika manusia tidak akan berperang lagi, tidak akan mempelajari seni berperang lagi, tetapi manusia akan menempa pedang mereka menjadi mata bajak. 

Kecenderungan manusia terhadap dosa akan sangat dikurangi dan dikendalikan oleh pengaruh besar dari Gereja dan sakramen-sakramennya. Dan seseorang, dengan mengamati dunia saat ini, dapat dengan serius berkata bahwa bahkan perbuatan terburuk dari manusia dalam tatanan sosial Katolik yang pernah ada di Eropa sebelum Reformasi, sama sekali tidak berarti jika dibandingkan dengan kejahatan dan kekerasan yang terjadi saat ini, yang secara virtual dilembagakan di setiap negara di zaman kita — pertama dan terutama dengan bencana tak berujung dari aborsi yang dilegalkan. 

Akibat yang mengalir dari teks sederhana Rahasia Besar Fatima cukup jelas bagi siapa pun meski dia memiliki kecerdasan minimal: Rencana perdamaian di dunia seperti itu hanya dapat dicapai jika ada cukup banyak individu, di segala tingkatan masyarakat, mau bekerja sama secara bebas. (Di sini kami tidak berbicara tentang beberapa orang atau kelompok yang memaksakan kediktatoran agama, seperti yang ada di negara-negara tertentu, tetapi yang kita bicarakan adalah tatanan sosial yang muncul secara alami dari iman Katolik masyarakat umum.) Rencana itu bisa berhasil, bahkan jika itu berhasil berdasarkan rancangan Sang Pencipta umat manusia, Yang telah mengurapi Yesus Kristus, Penebus umat manusia, sebagai Raja segala raja dan Tuan segala tuan (Apoc. 19:16). Yesus adalah Raja, bukan hanya atas individu, tetapi juga atas masyarakat dan atas seluruh dunia. Karena itu, agar rencana Bunda Maria Yang Terberkati, yang adalah Ratu Surga dan bumi, bisa terlaksana, maka umat manusia harus mengakui kedaulatan Kerajaan Kristus atas seluruh umat manusia seperti yang dilakukan melalui Gereja Katolik-Nya. Bahwa manusia, pada kenyataannya, akan tergerak untuk melakukan rencana Bunda Maria itu dalam jumlah yang cukup — pertama di Rusia dan kemudian di tempat-tempat lain — ini adalah keajaiban yang dijanjikan oleh Sang Perawan jika permintaannya dilaksanakan. 

“Dan Ia akan menghakimi orang bukan Yahudi, dan menghardik banyak orang: dan mereka akan mengubah pedang mereka menjadi mata bajak, dan tombak mereka menjadi sabit: bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa, ia juga tidak akan digunakan lagi untuk berperang.” (Yes. 2: 4) Juga disini "...dan mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombak mereka menjadi sekop: bangsa tidak akan mencabut pedang terhadap bangsa: mereka juga tidak akan lagi belajar perang." (Micheas 4: 3) 

Seseorang dapat memahami bahwa pangeran dunia ini, sebagaimana Yesus Kristus mengacu sebutan pangeran dunia ini pada iblis, tidak akan mau menerima dengan mudah segala usulan yang akan menghancurkan kerajaannya yang sedang berkembang di sini, di bumi. Begitu pula jika rencana damai dari Surga ini diterima oleh orang-orang, maka asosiasi dan perkumpulan rahasia yang kekuasaan dan kejayaannya yang sesat akan hangus jika rencana itu diberlakukan dan pertobatan Rusia dan kemenangan Hati Yang Tak Bernoda — dan dengan demikian Iman Katolik — akan terjadi. 

Dengan latar belakang seperti ini kita dapat lebih memahami mengapa perlawanan sengit terhadap Pesan Fatima muncul bahkan ketika penampakan itu masih berlangsung, dan mengapa perlawanan itu berlanjut hingga hari ini, bahkan melibatkan orang-orang di dalam Gereja sebagai penentang dari permintaan Sang Perawan. 

Pada saat penampakan Fatima, Walikota Ourem, wilayah di mana Fatima dan Aljustrel (desa tempat anak-anak visiuner melihat Bunda Maria) berada, adalah Arturo de Oliveira Santos, yang bisa kita baca di Bab 1. Dia adalah seorang Freemason yang mengaku tidak percaya pada Tuhan, dan juga sebagai tukang pandai besi. Dia populer disebut sebagai "Tinsmith." Pendidikan formalnya rendah, tetapi ambisinya besar. Arturo Santos adalah seorang pemuda pemberani dan penuh semangat, yang menjadi editor Ouriense, sebuah surat kabar lokal yang di dalamnya berisi tulisan-tulisan anti-monarki dan anti-agama yang diungkapkan dengan semangat yang penuh dendam dan dengan beberapa kepandaian bersilat lidah. Pada usia dua puluh enam dia bergabung dengan Grand Orient Masonik Lodge di Leiria. 

Seperti yang ditunjukkan oleh sejarawan Katolik yang terkenal, William Thomas Walsh, Santos, sang walikota, memperoleh indoktrinasi dengan pengetahuan esoteris dari agama sinkretistik dan naturalistik yang telah menjadi lawan utama Gereja Katolik di zaman modern, dan yang telah membual bahwa dengan perencanaan dan pelaksanaan revolusi Portugis tahun 1910, hal itu telah mengambil langkah panjang menuju penghapusan total Agama Kristen di Semenanjung Iberia. Sejarawwan Walsh lebih lanjut memberi tahu kita bahwa pada tahun 1911, kepala Grand Orient, Magalhães Lima, meramalkan bahwa dalam beberapa tahun lagi tidak ada remaja putra yang ingin belajar untuk menjadi imam di Portugal, sementara anggota Mason terkemuka dari Portugis, Alfonso Costa, meyakinkan semua saudaranya, dan beberapa delegasi dari lodge Mason Prancis, bahwa satu generasi lagi kita akan melihat akhir dari Katolikisme, dan menuduh bahwa agama Katolik adalah “penyebab utama dari kondisi menyedihkan di mana negara kita telah jatuh.” Memang ada banyak bukti untuk mendukung prediksi itu, tetapi itu bukan kesalahan agama Katolik. 

Profesor Walsh melanjutkan dengan mencatat bahwa pada tahun 1911 para pejabat baru Portugal menyita properti Gereja, mencerai-beraikan, memenjarakan dan mengasingkan ratusan pastor dan suster, dan memberi waktu lima hari kepada Kardinal Patriark dari Lisbon untuk meninggalkan kota itu dan tidak pernah kembali. Para pastor pengungsi dan religius melarikan diri ke Prancis dan di tempat-tempat lain. Beberapa ada yang berlutut di Lourdes dan berdoa kepada Bunda Allah untuk membantu negara mereka yang tidak bahagia, yang dulu pernah merasa bangga menyebut dirinya "The Land of Holy Mary," namun sekarang menjadi pajangan dari ketidakpercayaan dan anarki, dengan sebuah revolusi baru yang muncul setiap bulannya. 

Arturo Santos, walikota wilayah Ourem, mendirikan sebuah pondok Masonik baru di Ourem, di mana dia telah memindahkan toko pandai besi miliknya ke tempat itu. Pada 1917 dia menjadi pemimpinnya. Melalui teman-teman di persaudaraan Masoniknya, dia mampu menjadi Walikota dari Ourem. Gelar ini membawa serta gelar dari Presiden Administrasi kota dan the Chamber, dan Wakil Hakim Perdagangan. Dengan semua kehormatan ini dan otoritas yang menyertainya, Senhor Santos menjadi orang yang paling ditakuti dan berpengaruh di bidangnya, di Portugal. 

Selama pemerintahannya, semakin sedikit orang yang pergi ke Misa dan Sakramen, lebih banyak perceraian, dan tidak ada keluarga yang memiliki banyak anak. Saat dia menangkap enam orang pastor dan menahan mereka selama delapan hari tanpa alasan, umat awam Katolik terkemuka di Dewan dan the Chamber terlalu sibuk membuat kompromi yang menguntungkan diri mereka sendiri sehingga mereka tidak punya waktu untuk melakukan protes atas penahanan para pastor itu. 

Bagi Tinsmith dan teman-temannya, memperjuangkan ‘kemajuan dan pencerahan,’ seperti yang mereka inginkan untuk menggambarkan konflik mereka dengan Gereja Katolik, semuanya dimenangkan olehnya. 

Pada Agustus 1917, seluruh Portugal mengetahui kisah Penampakan di Fatima, meskipun dalam berbagai variasi versi. Para jurnalis yang anti-agama senang menulis kisah penampakan itu dari sudut cerita yang lucu. Seperti yang ditulis oleh pastor de Marchi tentang sikap pers anti-agama, mereka menyatakan bahwa: “Anak-anak ini adalah boneka para Yesuit. Bukan Yesuit itu sendiri. Nah, kemudian, klerus pada umumnya, atau Paus, khususnya — memikat orang-orang yang bodoh dan yang tidak waspada menuju ke Cova da Iria, untuk menyedot uang mereka. Jika mereka tidak punya uang? Nah, kemudian, kesetiaan politik mereka, sehingga sisi manusiawi dari Republik Portugis yang tercerahkan, bisa disabotase demi keuntungan Roma dan reaksi yang mengikutinya. Disini pers menikmati tamasya yang menyenangkan. Freemason sangat senang sekali.” Semua pendukung setia yang memerintah Orde Baru di negara itu dan di dalam Gereja, menemukan situasi yang semakin lucu. 

Tetapi Arturo Santos, Walikota Ourem, tidak menganggapnya lucu karena praktek keagamaan terbuka sedang terjadi di daerahnya sendiri. Beberapa konstituennya sudah percaya bahwa Bunda Maria menampakkan diri di Fatima, dan dia tidak bisa memikirkan penjelasan apa yang bisa dia berikan kepada rekan-rekan politiknya jika manifestasi agama Kristen ini, yang bertentangan dengan harapan Walikota untuk membangun Republik yang tak bertuhan, terus berkembang di daerahnya sendiri. Jadi dia memutuskan untuk menjatuhkan "hukumam" kepada ketiga visiuner kecil itu. 

Pada 11 Agustus 1917, Walikota Ourem memerintahkan orang tua ketiga anak visiuner itu untuk menghadirkan mereka untuk diadili di Balai Kota. Ti Marto, ayah dari Jacinta dan Francisco, berkata, "Tidak masuk akal untuk membawa anak-anak kecil seperti itu ke pengadilan semacam itu. Selain itu, bagi tiga anak kecil itu, adalah terlalu jauh bagi mereka untuk berjalan. Dan mereka tidak tahu bagaimana cara menaiki binatang tunggangan. Saya tidak akan melakukannya. Dan saya akan pergi dan memberi tahu Administrator alasannya.” Istrinya Olimpia setuju. Ayah Lucia, Antonio, bagaimanapun cenderung setuju dengan istrinya Maria Rosa bahwa jika Lucia berbohong, maka itu akan menjadi alasan yang baik agar dia menerima pelajaran, sementara itu jika dia mengatakan yang sebenarnya (dan mereka ragu bahwa anak-anak itu berbohong), maka Bunda Maria yang akan menyelesaikan segalanya. Antonio meletakkan putrinya di punggung seekor keledai kecil (dia jatuh dari punggung keledai itu hingga tiga kali selama perjalanan) dan mereka berangkat untuk bertemu dengan Walikota. Sedangkan Ti Marto meninggalkan anak-anaknya di rumah dan pergi sendiri untuk berbicara atas nama mereka. Sebelum perjalanan, Jacinta berkata kepada Lucia, “Sudahlah, jika mereka membunuh kamu, kamu hanya perlu memberi tahu mereka bahwa saya juga akan berkata seperti kamu, dan Francisco lebih dari itu, dan bahwa kami ingin mati juga. Dan sekarang saya akan pergi bersama Francisco ke sumur untuk berdoa dengan khusyuk demi kamu." 

Walikota bertanya kepada Lucia apakah dia benar telah melihat seorang Wanita di Cova da Iria, dan menurut dia, Wanita itu siapa. Walikota menuntut agar Lucia menceritakan rahasia yang diberikan Bunda Maria untuk disampaikan kepadanya, dan agar Lucia berjanji untuk tidak pernah datang kembali ke Cova da Iria lagi. Lucia menolak untuk memberitahu dia rahasianya dan menolak untuk membuat janji seperti itu. (Bunda Maria meminta anak-anak itu untuk kembali ke Cova da Iria pada hari ke-13 setiap bulan, dan mereka telah berjanji untuk pergi ke sana pada waktu dan tanggal yang ditentukan untuk tiga kunjungan berikutnya.) Kemudian Walikota bertanya kepada Antonio apakah orang-orang di Fatima mempercayai cerita tersebut, dan Antonio menjawab, “Oh tidak, pak! Semua ini hanya dongeng dari para wanita." 

“Dan apa yang kau katakan?” tanya Walikota kepada Ti Marto. “Saya berada di sini atas perintah Anda,” jawabnya, “dan anak-anak saya mengatakan hal yang sama dengan saya." “Lalu menurutmu, itu benar?” “Ya, Tuan, saya percaya apa yang mereka katakan.” 

Orang-orang yang ada disitu tertawa. Walikota membuat isyarat untuk mengabaikan hal itu dan salah satu anak buahnya memberi tahu mereka untuk pergi. Walikota mengikuti mereka ke pintu dan berkata kepada Lucia, "Jika kamu tidak memberi tahu rahasia itu, hal itu akan membahayakan hidupmu! " Kemudian Lucia dan ayahnya serta Ti Marto kembali ke Aljustrel. 

Pada sore hari tanggal 12 Agustus, tiga polisi memanggil anak-anak visiuner ke rumah Ti Marto,

di mana Walikota menunggu mereka disana. Dia memberi tahu anak-anak kecil itu bahwa kematian mungkin merupakan hukuman bagi mereka jika tidak mau mengungkapkan Rahasia Besar yang telah mereka terima pada tanggal 13 Juli. Tetapi anak-anak itu menolak untuk menceritakannya, dengan alasan bahwa mereka tidak bisa tidak mematuhi Bunda Maria. “Tidak apa-apa,” bisik Jacinta kepada yang lain. "Jika mereka membunuh kita, itu jauh lebih baik, karena kemudian kita akan bertemu Yesus dan Bunda Maria.” 

Pada pagi hari tanggal 13 Agustus, Ti Marto sedang bekerja di ladang. Dia datang ke rumah untuk membersihkan tanah dari tangannya. Disana adalah kerumunan orang di sekitar rumahnya, yang datang untuk hadir pada penampakan yang akan berlangsung hari itu di Cova da Iria. 

Istrinya, Olimpia, merasa kesal dan dia menunjuk ke arah ruang tamu rumahnya. Ti Marto pergi ke ruang tamu, dan seperti yang kita baca dalam ceritanya sendiri tentang hal itu kepada Pastor de Marchi: “Siapa yang harus saya temui selain Walikota sendiri. Meski begitu, saya rasa, saya tidak terlalu sopan kepadanya, karena saya melihat ada seorang pastor ada di sana juga, dan saya bergerak untuk berjabat tangan dengan pastor itu lebih dulu. Lalu saya berkata kepada Walikota, 'Saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini, Pak.' ” 

Walikota berkata dia akan membawa anak-anak itu ke Cova da Iria dengan keretanya, guna memberi mereka waktu untuk berbicara dengan pastor paroki di Fatima, yang, katanya, ingin menanyai mereka. Anak-anak itu dan orang tuanya meragukan tentang sarannya untuk membawa mereka ke dalam kereta kuda, tetapi mereka masih mematuhinya. Walikota mengajak mereka untuk lebih dahulu menemui pastor paroki di Fatima, dan kemudian, bukannya membawa mereka ke Cova da Iria, karena orang-orang melihatnya melecutkan cambuk dan membuat kudanya melesat di jalan ke arah yang berlawanan dengan arah Cova da Iria. 

Walikota itu membawa mereka ke Ourem, dan menguncinya di sebuah kamar di rumahnya. 

Sekitar lima belas ribu orang yang telah berkumpul di Cova da Iria, semua bertanya-tanya di mana anak-anak visiuner itu berada. Pada saat Bunda Maria menampakkan diri, sejumlah perwujudan supernatural juga terjadi seperti yang disaksikan oleh orang banyak pada penampakan sebelumnya di Fatima, yang meyakinkan banyak orang, termasuk orang-orang yang tidak percaya, bahwa Bunda Maria telah datang ke tempat itu. Tetapi tiga anak itu tidak ada di sana untuk menerima pesan Bunda Maria. Kemudian beberapa orang datang dengan membawa berita bahwa Walikota Ourem telah menculik anak-anak visiuner tersebut dan pertama-tama membawa mereka kepada pastor paroki Fatima dan kemudian ke rumahnya sendiri di Ourem. Kerumunan orang banyak dengan cepat menyimpulkan bahwa keduanya (walikota dan pastor paroki) telah bersekongkol bersama dalam penculikan anak-anak visiuner, yang mereka rasa telah "merusak proses penampakan dan mengecewakan Bunda Allah." Suara-suara kecaman dilontarkan untuk menentang Walikota dan pastor paroki. Namun Ti Marto membujuk orang banyak untuk tidak melakukan balas dendam. “Saudara-saudara,  santai saja! Jangan menyakiti siapa pun! Siapa pun yang pantas dihukum akan menerimanya. Semua ini (diijinkan untuk terjadi) oleh kuasa Yang Esa di atas!” 

Keesokan paginya Walikota Ourem kembali menginterogasi anak-anak itu, yang sekali lagi mengatakan bahwa mereka telah melihat seorang Wanita cantik, dan sekali lagi mereka menolak untuk memberitahukan Rahasia itu kepadanya, meski ketika dia mengancam mereka penjara seumur hidup, penyiksaan dan kematian. Walikota bertekad untuk mendapatkan dari anak-anak itu pengakuan yang akan mengakhiri manifestasi religius yang terjadi di wilayahnya. Jadi dia kemudian menjebloskan anak-anak visiuner itu kedalam penjara kota, dengan sel-selnya yang gelap dan berbau busuk, dengan jeruji besi yang kokoh. Mereka dimasukkan ke dalam ruangan tempat sebagian besar tahanan digiring bersama. Anak-anak itu sangat ketakutan dan sedih, terutama Jacinta yang berusia tujuh tahun, yang mengira dia tidak akan bisa melihat orang tuanya lagi. Tetapi mereka meyakinkan satu sama lain, mengingatkan satu sama lain tentang apa yang dikatakan Bunda Maria kepada mereka tentang Surga, dan mereka mempersembahkan penderitaan mereka demi pertobatan para pendosa. Anak-anak kecil itu berdoa Rosario di dalam penjara, dan para narapidana yang lain bergabung bersama mereka di dalam doa. 

Beberapa saat kemudian, Walikota meminta anak-anak itu dibawa oleh seorang polisi, dan dia membuat permintaan terakhir untuk menerima Rahasia itu. Kemudian, karena anak-anak itu tetap menolak untuk mengatakannya, lalu dia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan direbus hidup-hidup di dalam minyak mendidih. Dia meneriakkan perintah, dan seorang penjaga membuka pintu. Dia bertanya kepada penjaga apakah minyak itu telah siap dan dalam keadaan panas, dan penjaga itu menjawab ya. Kemudian dia memerintahkan penjaga untuk melemparkan yang termuda, Jacinta, ke dalam minyak mendidih lebih dulu. Penjaga itu menangkap Jacinta dan membawanya pergi. Seorang penjaga melihat Francisco menggerakkan bibirnya dalam doa, diam-diam, dan dia menanyakan apa yang dia katakan. “Doa Ave Maria,” Francisco menjawab, “supaya adik perempuan saya tidak merasa takut.” Lucia dan Francisco yakin bahwa penjaga itu akan segera kembali untuk membunuh mereka juga. Francisco berkata kepada Lucia, “Apa pedulinya kita jika mereka membunuh kita? Kita akan langsung masuk ke Surga.” 

Kemudian penjaga kembali ke kamar tempat anak-anak tersebut diinterogasi oleh Walikota, dan memberi tahu Lucia dan Francisco bahwa Jacinta telah direbus dalam minyak karena dia tidak mau mengungkapkan Rahasia dari Bunda Maria. Walikota mencoba membujuk dua anak yang tersisa untuk mengungkapkan Rahasia itu atau hal yang sama akan terjadi pada mereka. Karena mereka tetap tidak bersedia mengungkapkan Rahasianya, Francisco dibawa ke tempat yang sama untuk menerima nasib yang sama. Setelah itu, penjaga itu mendatangi Lucia. Meskipun dia percaya bahwa Francisco dan Jacinta telah dibunuh karena tidak mau mengungkapkan Rahasia, dia juga bertekad lebih baik mati daripada mengungkapkan Rahasia dari Perawan Yang Terberkati, yang telah dipercayakan kepadanya. Jadi dia juga dibawa dengan pengawasan dari si penjaga dan Lucia percaya bahwa dia pasti akan mati juga. 

Ternyata Jacinta hanya dibawa ke ruangan lain, dan Francisco dan Lucia, saat itu giliran mereka untuk "direbus dalam minyak," dibawa ke ruangan yang sama, dan mereka semua berada bersama lagi. Itu

hanyalah tipuan untuk menakut-nakuti mereka agar mengungkapkan Rahasia. Lucia menulis di memoarnya, mengenang insiden tersebut, memberi tahu kita bahwa dia yakin, seperti juga kedua sepupunya, bahwa mereka akan segera menjadi martir di tangan Walikota. 

Keesokan paginya, dengan interogasi lagi, Walikota masih tidak bisa menerima rahasia yang diinginkannya. Maka dia mengaku bahwa itu tidak ada gunanya, dan kemudian memerintahkan mereka untuk dikirim kembali ke Fatima. Saat itu tanggal 15 Agustus Pesta Kenaikan Bunda Maria. 

Bahwa Walikota Masonik dari kota Ourem itu akan bertindak lebih jauh, dan mengancam tiga anak kecil itu dengan kematian yang mengerikan untuk mencegah orang menjadi percaya dan secara terbuka menunjukkan iman mereka Tuhan, Bunda Kudus-Nya dan Gereja Katolik, menunjukkan beberapa indikasi sejauh mana Freemason akan bertindak dalam keputusasaan mereka untuk menghancurkan Gereja sekali dan untuk selamanya, dan mendirikan Republik Tak Bertuhan mereka — tidak hanya di Portugal, tetapi di seluruh dunia. 

 

-------------------------------------------

 

Selanjutnya: Bab 3 - Rencana Perdamaian Surga Dalam Mikrokosmos 


Silakan melihat artikel lainnya disini: 

Pedro Regis 5111 - 5115

Gisella Cardia 17, 21, 24 April 2021

Para Gembala Bukanlah Orang Upahan

Enoch, 24 April 2021

LDM, 27 April 2021

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 1

Chrislam, Francis Dan Sebuah Agama Tunggal Dunia