Monday, April 16, 2018

CARDINAL BURKE: TEGURLAH PAUS DEMI MEMATUHI KRISTUS


CARDINAL BURKE: TEGURLAH PAUS DEMI MEMATUHI KRISTUS
Sebuah wawancara dengan Cardinal Burke




Ada orang-orang yang menuduh mereka yang telah menyatakan keraguan, pertanyaan, dan kritik atas tindakan Paus sebagai bentuk perbuatan yang tidak taat, tetapi "koreksi atas kebingungan atau kesalahan, bukanlah sebuah tindakan ketidaktaatan, melainkan sebuah bentuk tindakan ketaatan kepada Kristus dan dengan demikian termasuk tindakan ketaatan kepada Wakil-Nya di dunia.” Demikian kata Kardinal Raymond Leo Burke dalam wawancara dengan La Nuova BQ, sebelum sebuah simposium penting yang akan diadakan di Roma pada Sabtu, 7 April 2018, dengan tema “ Where Is The Church Going?,” (Kemana Gereja sedang menuju?)” di mana Cardinal Burke akan menjadi salah satu pembicaranya. Simposium ini akan diadakan untuk mengenang Kardinal Carlo Caffarra, yang meninggal pada September lalu (2017), dimana dia adalah salah satu penandatangan Dubia. Dubia ini adalah berupa  lima buah pertanyaan yang ditujukan kepada Paus Fransiskus yang meminta pernyataan yang jelas dalam hal kesinambungannya dengan Magisterium sebelumnya, karena terjadinya kebingungan luas yang diakibatkan oleh interpretasi yang berbeda, dan kadang-kadang bertentangan secara langsung, yang berkaitan dengan Seruan Apostolik Pasca-Sinode Amoris Laetitia. Namun tidak pernah ada jawaban dari paus yang diberikan kepada Dubia ini, yang juga ditandatangani oleh Kardinal Burke; juga Paus Fransiskus tidak pernah mau menanggapi permintaan berulang-ulang untuk audiensi yang ditujukan kepadanya oleh para kardinal yang menandatanganinya.


T: Yang Mulia, anda akan menjadi salah satu pembicara utama di dalam simposium pada 7 April 2018 nanti, yang atas nama Cardinal Caffarra anda akan bertanya tentang kemana arah Gereja saat ini. Judul simposium itu telah menunjukkan sebuah keprihatinan terhadap arah yang sedang ditempuh oleh Gereja saat ini. Apa alasan dari kekhawatiran ini?
J: Kebingungan dan perpecahan di dalam Gereja atas masalah yang paling mendasar dan penting: pernikahan dan keluarga, Sakramen-sakramen serta sikap yang tepat untuk menerimanya (Sakramen-sakramen), perbuatan-perbuatan yang secara intrinsik adalah jahat, kehidupan kekal dan Hal-hal Yang Terakhir – dimana kebingungan dan perpecahan itu semakin meluas saat ini. Dan Paus tidak hanya menolak untuk mengklarifikasi semua ini dengan cara menyampaikan doktrin yang tegas dan menetap serta disiplin Gereja yang sehat – dimana semua ini adalah sebuah tanggung jawab yang melekat pada pelayanannya sebagai Penerus Santo Petrus, tetapi dia justru meningkatkan kebingungan yang ada.

T: Apakah anda juga mengacu pada semakin banyaknya pernyataan pribadi oleh Paus yang telah dilaporkan oleh orang-orang yang dia ajak bicara?
J: Apa yang terjadi dengan wawancara terakhir paus yang diberikan kepada Eugenio Scalfari (atheis) selama Pekan Suci dan diterbitkan pada Kamis Putih yang lalu, telah melampaui apa yang dapat ditolerir. Bahwa seorang atheis terkenal dapat berpura-pura mengumumkan revolusi dalam ajaran Gereja Katolik, yang mengklaim berbicara atas nama Paus, yang menyangkal keabadian jiwa manusia dan keberadaan Neraka, itu adalah sumber skandal yang sangat mendalam, tidak hanya bagi umat Katolik tetapi juga bagi banyak orang lain yang menghormati Gereja Katolik dan ajarannya, bahkan meski mereka tidak setuju dengan pernyataan-pernyataan itu. Selanjutnya, hari Kamis Putih adalah salah satu hari yang paling sakral, hari dimana Tuhan kita mengesahkan Sakramen Mahakudus dalam Ekaristi dan juga Sakramen Imamat, sehingga Dia dapat selalu memberi kita buah dari Sengsara dan Kematian Penebusan-Nya bagi kita demi keselamatan kekal kita. Tanggapan Takhta Suci terhadap reaksi-reaksi tersinggung yang datang dari seluruh dunia juga sangat tidak memadai. Alih-alih menyatakan dengan jelas kebenaran tentang keabadian jiwa manusia dan Neraka, pernyataan Takhta Suci hanya mengatakan bahwa beberapa kata yang dikutip oleh Scalfari bukanlah perkataan Paus. Pernyataan Vatikan itu tidak mengatakan bahwa ide-ide yang salah, bahkan sesat, yang diungkapkan oleh perkataan Scalfari ini tidak diucapkan oleh Paus dan bahwa Paus menolak ide-ide ini, yang bertentangan dengan iman Katolik. Permainan kata yang berkaitan dengan iman dan doktrin ini, pada tingkat tertinggi Gereja, telah membuat para pastor dan umat beriman merasa sangat tersinggung, dan memang demikian kenyataannya.

T: Jika pernyataan-pernyataan itu adalah kesalahan yang serius dan menimbulkan rasa malu bagi Gereja, sungguh mengherankan betapa banyaknya pastor-pastor yang tetap diam tentang hal itu.
J: Tentu saja, dan situasinya semakin diperparah oleh sikap diam dari banyak uskup dan kardinal yang bersama-sama dengan Paus Roma seharusnya menaruh perhatian kepada Gereja universal. Beberapa hanya mengatakan: no comment. Yang lainnya berpura-pura seolah tidak ada yang serius yang terjadi. Yang lain lagi justru menyebarkan fantasi tentang "Gereja baru", yaitu sebuah Gereja yang menempuh arah yang sama sekali berbeda dari masa lalu, berfantasi, misalnya, tentang sebuah "paradigma baru" bagi Gereja atau tentang perubahan radikal dari praktek pastoral Gereja, hingga membuat Gereja benar-benar baru sama sekali. Kemudian ada juga orang-orang yang menjadi pendukung antusias dari apa yang disebut sebagai revolusi Gereja Katolik. Bagi umat beriman yang setia yang memahami kegawatan situasi ini, kurangnya arahan doktrinal dan disipliner dari pastor-pastor mereka, membuat mereka merasa tersesat. Bagi umat beriman yang tidak memahami kegawatan situasi saat ini, kurangnya pengarahan ini telah membuat mereka kebingungan dan akhirnya menjadi korban kesalahan yang membahayakan jiwa mereka. Banyak orang yang dibaptis dalam gereja Protestan, dan kemudian masuk ke dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, karena komunitas gerejanya yang asli meninggalkan Iman Apostolik, mereka sangat menderita oleh situasi ini - mereka merasa bahwa Gereja Katolik mengalami hal yang sama: jalan menurun yang menjauhi iman sejati.

T: Apa yang anda gambarkan ini adalah situasi yang apokaliptik ...
J: Seluruh situasi ini, bagi saya, nampaknya merefleksikan lebih tepat lagi pesan dari Bunda Maria Fatima yang memperingatkan tentang kejahatan - bahkan lebih serius daripada kejahatan besar yang diderita akibat dari penyebaran komunisme atheis - yang merupakan kemurtadan dari iman di dalam Gereja. Paragraf 675 dari Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa “sebelum kedatangan Kristus yang kedua, Gereja harus melewati ujian terakhir yang akan mengguncang iman banyak orang,” dan bahwa “penganiayaan yang menyertai peziarahannya di bumi akan mengungkapkan "misteri kedurhakaan" dalam bentuk penipuan agama yang menawarkan kepada manusia sebuah solusi nyata atas masalah mereka dengan harga: kemurtadan dari kebenaran." Dalam situasi seperti itu, para uskup dan kardinal memiliki kewajiban untuk mewartakan doktrin Gereja yang sejati. Pada saat yang sama, mereka harus memimpin umat beriman untuk melakukan pertobatan dan perbaikan karena pelanggaran yang ditujukan kepada Kristus serta luka-luka yang ditimbulkan pada Tubuh Mistik-Nya, Gereja, ketika iman dan disiplin Gereja tidak dilindungi dengan benar dan dipromosikan oleh para pastornya. Seorang Kanonis besar abad ke-13, Enrico da Susa (atau dari Ostia), menjawab pertanyaan sulit tentang bagaimana mengoreksi seorang Paus Roma yang bertindak dengan cara yang bertentangan dengan jabatannya, dia menegaskan bahwa para kardinal merupakan sebuah kontrol de facto terhadap kesalahan kepausan.

T: Tanpa bisa diragukan lagi, saat ini sosok Paus Fransiskus sangat banyak didiskusikan orang. Hal itu berupa pemujaan yang keterlaluan atas setiap tindakan kecil yang dilakukannya terhadap kritikan tajam atas pernyataan dan sikapnya yang serba ambigu. Namun dalam beberapa hal, masalah bagaimana Gereja harus berhubungan dengan Paus masih berlaku bagi setiap kepausan. Beberapa hal masih perlu diklarifikasi. Apa yang digambarkan oleh Paus untuk Gereja?
J: Menurut ajaran Gereja yang menetap, Paus, dengan kehendak Kristus yang nyata, adalah "prinsip dan landasan persatuan yang abadi dan kasat mata dari para uskup dan umat beriman" (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Konsili Vatikan II, paragraf 23). Ini adalah pelayanan penting dari Paus untuk menjaga dan mempromosikan kekayaan iman, doktrin yang benar, dan disiplin yang sehat yang sejalan dengan kebenaran yang diyakini. Dalam wawancara yang sudah disebutkan dengan Eugenio Scalfari, Paus dipuji sebagai seorang yang "revolusioner". Tetapi Jabatan Petrus sama sekali tidak ada hubungannya dengan revolusi. Sebaliknya, ia ada secara eksklusif untuk mempertahankan dan menyebarkan iman Katolik yang tidak berubah, yang menuntun jiwa-jiwa menuju pertobatan hati dan yang membawa seluruh umat manusia menuju kesatuan berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh Allah di dalam ciptaan-Nya dan di atas segalanya, di dalam hati manusia, sebagai satu-satunya makhluk di bumi yang diciptakan seturut Gambaran Allah. Ini adalah aturan yang dipulihkan Kristus melalui Misteri Paskah yang kita rayakan di hari-hari Paskah ini. Rahmat Penebusan yang memancar dari Hati-Nya yang tertusuk ke dalam Gereja, ke dalam hati para anggota-Nya, memberi mereka kekuatan untuk hidup sesuai dengan aturan dan tatanan ini, yaitu, di dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama.

T: Tentunya Paus bukanlah penguasa absolut, namun saat ini peran itu secara luas nampak seperti itu. "Jika Paus sudah mengatakan demikian ..." ini adalah cara umum untuk memotong setiap pertanyaan atau keraguan atas penegasan apa pun yang dibuat oleh Paus. Ini semacam pemujaan terhadap paus. Bagaimana anda akan menanggapi ini?
J: Gagasan kepenuhan kekuasaan Paus Roma jelas ditetapkan oleh Paus St. Leo Agung (abad ke lima). Para ahli hukum canon abad pertengahan sangat berkontribusi pada pemahaman mendalam tentang kekuatan yang melekat di Jabatan Petrus. Kontribusi mereka itu tetap abadi dan penting. Gagasannya cukup sederhana. Paus, dengan kehendak ilahi, memiliki semua kekuasaan yang diperlukan untuk dapat menjaga dan mewartakan iman yang benar, ibadat ilahi yang benar, serta disiplin yang diperlukan. Kekuasaan ini tidak berhubungan dengan orangnya, tetapi dengan jabatannya sebagai Penerus Petrus. Di masa lalu, sebagian besar paus tidak pernah mengumumkan tindakan dan pendapat pribadi mereka, sehingga tidak ada risiko bahwa umat beriman bisa menjadi bingung dengan apa yang mereka (sebagai paus) lakukan secara pribadi dan berpikir sebagai Penerus Santo Petrus. Saat ini, terdapat kebingungan yang berbahaya dan membahayakan antara pribadi paus dan jabatan paus, yang mengakibatkan tidak jelasnya Jabatan Petrus dan dalam konsep duniawi dan politik dari pelayanan Paus Roma di dalam Gereja. Gereja ada untuk keselamatan jiwa. Setiap tindakan Paus yang merongrong dan melemahkan misi penyelamatan Kristus di dalam Gereja, apakah itu tindakan sesat atau tindakan yang dengan sendirinya memang berdosa, tidaklah ada artinya dari sudut pandang Jabatan Petrus. Demikian juga jika ada tindakan Paus yang menyebabkan kerusakan serius bagi jiwa-jiwa, hal itu tidak menuntut ketaatan para pastor dan umat beriman untuk melakukan hal serupa. Kita harus selalu membedakan tubuh manusia yang menjadi Paus Roma dari tubuh Paus Roma, yaitu, orang yang menjalankan jabatan Santo Petrus di dalam Gereja. Pembedaan ini dilakukan agar kita tidak bersikap mendewakan kepausan, yang menyebabkan hilangnya kepercayaan kepada Jabatan Petrus, yang secara ilahiah telah dilembagakan dan dipertahankan.

T: Apakah yang harus dipegang umat Katolik sebagai yang paling penting dalam hubungannya dengan Paus?
J: Seorang Katolik harus selalu menghormati, dengan cara yang mutlak, Jabatan Petrus, yang merupakan bagian penting dari lembaga Gereja yang didirikan oleh Kristus. Segera setelah seorang Katolik tidak lagi menghormati jabatan Paus, maka dia bisa dianggap sebagai memisahkan diri atau murtad dari iman. Pada saat yang sama, seorang Katolik harus menghormati orang yang ditugasi untuk menjabat sebagai Paus, yang berarti dia harus memperhatikan pengajaran dan arahan pastoralnya. Rasa hormat ini juga termasuk kewajiban untuk menyatakan kepada Paus penilaian hati nuraninya yang terbentuk dengan benar, ketika Paus menyimpang atau nampaknya menyimpang dari doktrin dan disiplin yang benar atau ketika Paus meninggalkan tanggung jawab yang melekat pada jabatannya. Berdasarkan hukum alam, oleh Injil, dan oleh tradisi disiplin Gereja yang menetap, umat beriman diharuskan untuk mengungkapkan kepada para pastor mereka keprihatinan mereka terhadap keadaan Gereja. Umat beriman memiliki tugas ini, dan di dalam tugas ini melekat hak untuk menerima tanggapan dari para pastor mereka.

T: Jadi, apakah mungkin mengkritik Paus? Dan dalam kondisi apa?
J: Jika Paus tidak memenuhi tugasnya demi kebaikan semua jiwa, maka tidak hanya mungkin, tetapi juga perlu, mengkritik Paus. Kritik ini harus mengikuti ajaran Kristus mengenai teguran persaudaraan seperti dalam Injil (Matius 18: 15-18). Pertama, umat beriman atau pastor hendaknya menyampaikan kritik atau tegurannya secara pribadi, yang akan memungkinkan Paus memperbaiki dirinya sendiri. Tetapi jika Paus menolak untuk memperbaiki caranya mengajar atau cara bertindaknya yang sangat buruk, maka kritikan atau teguran itu harus dipublikasikan, karena hal itu berkaitan dengan kebaikan bersama di dalam Gereja dan di dunia. (Hal ini telah dilakukan oleh para cardinal pengusul dubia). Beberapa orang telah menyalahkan mereka yang secara terbuka menyampaikan kritik terhadap Paus, seolah-olah itu adalah manifestasi dari pemberontakan atau ketidaktaatan. Tetapi sebenarnya itu adalah usaha untuk meminta - dengan rasa hormat karena jabatannya - untuk mengatasi kebingungan atau kesalahan, dan ini bukanlah sebuah tindakan ketidaktaatan, tetapi tindakan ketaatan kepada Kristus, dan dengan demikian ketaatan kepada Wakil-Nya di dunia.


++++++++++
Mat 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Mat 18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Mat 18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Mat 18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.


Originally published at La Nuova Bussola Quotidiana. Translated by Giuseppe Pellegrino  and reprinted with permission.

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

Friday, April 13, 2018

Professor Roberto de Mattei : PARA KARDINAL BISA MENYATAKAN BAHWA...


NEWSCATHOLIC CHURCHTue Apr 10, 2018 - 12:32 pm EST

Professor Roberto de Mattei, ahli sejarah Gereja :
PARA KARDINAL BISA MENYATAKAN BAHWA PAUS YANG SESAT TELAH ‘KEHILANGAN JABATANNYA.’

by Stephen Kokx 





DEERFIELD, IL, 10 April 2018 (LifeSiteNews) - Kesetiaan sejati kepada Tahta St. Peter sangatlah penting bagi kehidupan spiritual Kristiani. Tetapi saat ini ada sebuah "devosi palsu" kepada Paus yang mengklaim bahwa dia (paus) "harus selalu dipatuhi, tidak peduli apapun tindakannya,” demikian kata sejarawan Gereja terkenal, Roberto de Mattei, pada pertemuan umat Katolik di luar kota Chicago pekan lalu.



Professor Roberto de Mattei speaking at the 2018 Catholic Family News conference.


Berbicara pada konferensi yang diadakan oleh media Catholic Family News tahun 2018, Profesor de Mattei meminta umat awam dan klerus untuk menentang "kesalahan teologis" dari "papolatry" (pemujaan berlebihan terhadap paus) dan menjalani "pengabdian sejati" terhadap paus. “Pengabdian sejati kepada Tahta Petrus bukanlah penyembahan terhadap manusia yang menduduki jabatan itu, tetapi adalah rasa kasih dan penghormatan atas misi yang diberikan Yesus Kristus kepada Petrus dan para penggantinya.”

Pidato Profesor de Mattei ini disampaikan kepada sekitar 100 umat Katolik yang berasal dari berbagai benua – yang menyentuh berbagai topik, termasuk kolegialitas, pengunduran diri Paus Benediktus XVI, dan klaim bahwa Paus Fransiskus telah jatuh ke dalam ajaran sesat dan tidak lagi menjadi paus.

Ketaatan kepada Tuhan adalah yang pertama
Inti dari paparan de Mattei selama satu jam itu adalah permintaan mendesak kepada umat Katolik untuk mengekspos nama-nama pastor yang tindakannya bertentangan dengan ajaran Gereja yang kekal.

Menentang kesalahan saja tidaklah cukup, demikian kata Profesor de Mattei. “Kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan: 'Bapa Suci, anda adalah yang pertama bertanggung jawab atas kebingungan yang terjadi saat ini di dalam Gereja. Bapa Suci, anda adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas kesesatan yang sedang beredar di dalam Gereja saat ini.’ ”

Kaum papolatry (orang yang mendewa-dewakan paus) memandang Paus sebagai “Kristus baru.” Mereka berpendapat bahwa “tidak perlu khawatir tentang apapun juga atas semua tindakan paus” dan bahwa paus selalu “menyempurnakan doktrin pendahulunya, dan menyesuaikannya dengan perubahan zaman.”

Sebenarnya, kaum papolatry itu telah "menipu diri mereka sendiri" dan "menenteramkan" hati nurani mereka dengan berpikir bahwa paus adalah "selalu benar, bahkan ketika ia bertentangan dengan dirinya atau para pendahulunya."

Dalam kenyataannya, "Tradisi tetaplah menjadi kriteria untuk membedakan apa yang Katolik dan apa yang bukan." "Tradisi datang sebelum Paus, dan bukan Paus datang sebelum Tradisi." Jika tidak, maka magisterium kekal Gereja akan digantikan dengan magisterium "hidup" yang memiliki "aturan iman yang tunduk kepada otoritas saat itu, dan bukan tunduk pada objek kebenaran yang diwariskan."

Kepatuhan kepada Paus "memiliki batas-batas tertentu dalam Hukum Alam dan Ilahi, dan dalam Tradisi Gereja, di mana Paus adalah penjaga dan bukan pencipta Tradisi."

Umat Katolik tak boleh berdiam diri

Profesor de Mattei, yang akan berbicara pada acara Roman Life Forum yang diadakan oleh media LifeSiteNews pada Mei 2018, juga mengatakan bahwa umat Katolik tidak boleh tunduk pada mentalitas “katakombe” (mentalitas bersembunyi agar dirinya aman) dalam menanggapi krisis dalam Gereja saat ini.

Umat ​​Katolik tidak dapat "mundur dari medan perang" dan berpikir bahwa mereka dapat "bertahan hidup tanpa pertempuran." Tidaklah layak bagi seorang Kristiani untuk meninggalkan sikap militan mereka. "Menjadikan sikap diam sebagai aturan bagi perilakunya ... adalah sebuah kesalahan." Hal itu berarti dia berbuat dosa diam atau dosa pasiv atau dosa pembiaran.

Lalu siapa yang harus berbicara dan apa yang harus mereka lakukan? Profesor de Mattei mengatakan bahwa tanggung jawab ini tidak hanya ada pada umat Katolik biasa (umat awam) tetapi juga ada pada para Kardinal, yang melalui sikap diam mereka berarti mereka “tidak menjalankan kewajiban mereka.” Tugas ini juga ada pada pundak Paus Emeritus Benedictus XVI.

"Perilaku ‘bersikap diam’ ini telah menjadi penjara yang memenjarakan banyak kaum konservatif." "Saat ini adalah saat untuk berbicara." Telah terjadi sebuah "infiltrasi modernis di dalam Gereja" yang "mendatangkan malapetaka" di Roma. Umat ​​Katolik harus menentang infiltrasi ini dengan penolakan yang damai, bukan dengan sarkasme, ketidaksopanan, semangat yang merusak, atau dengan kecongkakan.

Apakah paus ini Katolik?

Profesor de Mattei kemudian menyampaikan pemikirannya tentang pengunduran diri Paus Benediktus yang bersejarah itu. Adalah "tidak benar" bagi Benediktus untuk menyebut dirinya sebagai Paus Emeritus. Mengutip Cardinal Brandmüller, de Mattei mengatakan "Hukum Kanon tidak mengenal adanya sosok Paus Emeritus." Bagi Benediktus untuk tetap mengenakan jubah kepausan putih dan masih tinggal di Vatikan berarti dia "menciptakan kebingungan," demikian de Mattei mengatakan kepada media LifeSiteNews. Benediktus “nampaknya diyakinkan masih menjadi Paus.”


Tetapi “tidaklah mungkin ada dua orang Paus pada saat yang sama. Kepausan tidak dapat diturunkan. Jadi hanya ada satu Vikaris Kristus.”

Profesor de Mattei juga membahas pertanyaan yang semakin relevan saat ini dan semakin penting, apakah Paus Francis masih tetap paus.

Setelah mengutip pendapat banyak ilmuwan Katolik yang telah menyatakan bahwa Francis telah jatuh ke dalam ajaran sesat, de Mattei mengatakan "kita harus mengakui bahwa Paus Fransiskus sendiri telah mempromosikan dan menyebarkan kesesatan dan bidaah di dalam Gereja." Tetapi, "seperti pohon yang masih dapat hidup dalam waktu tertentu setelah akarnya dipotong, demikian juga jurisdiksi Paus Fransiskus hanya dapat dipertahankan untuk sementara waktu saja ... meski dia telah jatuh ke dalam kesesatan. Yesus Kristus masih mempertahankan pribadi Paus yang sesat dalam yurisdiksinya untuk sementara waktu, sampai Gereja mengakui penurunannya dari jabatannya.”

Berbicara kepada LifeSiteNews, de Mattei mengatakan "tidak ada yang bisa melengserkan paus" tetapi para Kardinal bisa, pada prinsipnya, "menyatakan dan mengakui bahwa dia (paus) telah menjadi sesat, maka dia (paus) telah kehilangan jabatannya."

Sampai saat itu tiba, de Mattei menambahkan, umat Katolik harus "mengklarifikasi kepada orang-orang bahwa, sayang sekali, (Paus Fransiskus) telah menyebarkan ajaran sesat." Namun, Francis "tidak kehilangan jabatannya sampai ajaran sesatnya itu menjadi nyata" dan meluas. Dan ini masih "belum terjadi."

Memegang kekuasaan di Roma
Profesor de Mattei melanjutkan dengan menyampaikan apa yang tampak sebagai sebuah peringatan bagi umat Katolik yang sangat prihatin dengan tuntunan Francis dalam memimpin Gereja.

“Kita perlu berhati-hati untuk berbicara tentang 'gereja Bergoglian,' atau 'Gereja baru.' Gereja saat ini diduduki oleh orang-orang gereja yang mengkhianati atau mengubah pesan Kristus, dimana ia belum tergantikan oleh gereja yang lain. Hanya ada satu Gereja Katolik, di mana mereka hidup bersama dalam cara yang sangat membingungkan dan terpisah-pisah, dengan menerapkan teologi dan filosofi yang berbeda dan bertentangan. Adalah lebih tepat untuk mengatakannya sebagai 'teologi Bergoglian,' atau 'filsafat Bergoglian,' atau jika seseorang menginginkannya: 'agama Bergoglian' atau 'tidak beragama' sama sekali."

Tidak ada dua Gereja, tetapi hanya ada satu Gereja, demikian lanjut Profesor de Mattei. Tetapi yang sudah pasti, ia adalah sebuah Gereja di mana tendensi yang buruk telah diperkenalkan, tetapi itu adalah Gereja yang masih diperintah secara kasat mata oleh Wakil Paus Francis, yang pemilihannya masih belum diperebutkan oleh Kardinal manapun.

Profesor de Mattei mendesak umat Katolik untuk bersatu padu dengan "para imam yang baik" di dalam satu Gereja.

Membantu pembongkaran otomatis Gereja
Berdasarkan pengetahuannya yang luas tentang sejarah Gereja, Profesor de Mattei menjelaskan bagaimana dukungan Paus Francis untuk desentralisasi dan kolegialitas dalam gereja telah merusak dan melemahkan lembaga kepausan.

Mengingatkan para pendengarnya tentang bagaimana ultramontanis berhasil menang dalam  Konsili Vatikan I, Profesor de Mattei mencatat bahwa protagonis (pendukung) nyata dari Konsili Vatikan II adalah kaum Katolik Liberal, dan bahwa di antara banyak hal lainnya umat Katolik Liberal ini berusaha mengubah "konstitusi monarkis dan hierarkis Gereja menjadi demokratis dan berstruktur parlemen."

Profesor de Mattei menunjukkan bahwa inilah yang tepatnya sedang dilakukan oleh Francis. Dia ingin mengantar “gereja polisentrik atau multi-sisi” di mana kepausan “dianggap sebagai bentuk pelayanan,” untuk melayani gereja-gereja lain, dan mengabaikan Keunggulan yuridis Gereja Katolik atau pemerintahan Petrus.”

Profesor de Mattei melanjutkan, pandangan tentang kepausan seperti ini bertentangan dengan apa yang telah diwariskan selama berabad-abad. Paus tidaklah setara dengan Uskup-uskup lainnya. "Yesus Kristus mempercayakan misi untuk memerintah kepada Petrus, setelah Kebangkitan-Nya." Mendemokrasikan Gereja dan "membawanya kepada dimensi yang murni sakramental" adalah suatu "transisi dari Gereja yuridis kepada Gereja sakramental, Gereja persekutuan."

Selain itu, Profesor de Mattei menambahkan, menghancurkan Keunggulan Petrus berarti melaksanakan apa yang telah dicoba untuk dilakukan oleh musuh-musuh Kristus selama berabad-abad ini, karena “setan sungguh memahami bahwa Keunggulan Petrus itu meliputi landasan yang kelihatan dari Tubuh Mistik Kristus.”

Editor's note: Read the full text of Professor de Mattei’s talk here.


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

Thursday, April 12, 2018

KARDINAL-KARDINAL MENEGASKAN KEMBALI DOKTRIN...


KARDINAL-KARDINAL MENEGASKAN KEMBALI DOKTRIN MENGENAI PERKAWINAN DAN KOMUNI


posted Tuesday, 10 Apr 2018

Cardinal Walter Brandmüller (CNS)

Enam buah poin doktrinal ditegaskan kembali dalam sebuah konferensi di Roma, di mana para pembicaranya merefleksikan kembali peran kepausan saat ini.

Dua orang kardinal telah mendukung deklarasi doktrin tradisional, sebagai tanggapan terhadap apa yang mereka sebut sebagai "bahaya besar bagi iman dan kesatuan Gereja".

Kardinal Walter Brandmüller dan Raymond Burke, yang secara terbuka menandatangani dubia yang ditujukan kepada Paus Francis, ikut hadir ketika pernyataan yang menegaskan kembali enam poin doktrinal itu dirilis. Deklarasi itu dilakukan pada hari Sabtu, 7 April 2018, pada akhir konferensi untuk menghormati kardinal ketiga penanda-tangan dubia, Carlo Caffarra, yang meninggal dunia tahun lalu.

Pertanyaan dalam Dubia, yang tidak menerima balasan dari Paus Fransiskus, telah meminta paus untuk mengklarifikasi bahwa Amoris Laetitia haruslah sejalan dengan ajaran Katolik. Pernyataan yang baru ini (Sabtu, 7 April 2018) membahas poin yang sama namun dengan cara yang berbeda.

Setelah mengatakan bahwa ada “ketidakpuasan dan kebingungan yang terus berkembang” menyusul diterbitkannya Amoris Laetitia, ia mengutip kalimat dari hasil Konsili Vatikan II tentang pentingnya memberikan kesaksian akan iman. Pernyataan itu menegaskan bahwa “Pernikahan yang diratifikasi dan terwujud antara dua orang yang telah dibaptis dapat dihentikan hanya dengan kematian”, dan dalam keadaan seperti itu, dimana pernikahan masih sah, maka pernikahan kembali selalu merupakan perzinahan.

Deklarasi ini juga menegaskan kembali keberadaan "perintah moral absolut" yang melarang tindakan "jahat intrinsik" tertentu dalam setiap keadaan apapun.

Para penulis juga membenarkan pengajaran tradisional Gereja yang menyatakan bahwa umat yang bercerai dan menikah lagi (dengan pasangan yang baru), jika hidup dalam hubungan seksual, mereka tidak dapat menerima Komuni. Beberapa uskup telah menunjuk kepada Amoris Laetitia yang jelas-jelas melanggar ajaran ini.

“Kami yakin,” para kardinal dan yang lain-lainnya menegaskan, “bahwa penilaian tentang kemungkinan memberikan absolusi sakramental tidak didasarkan pada ketidak-mampuan mengenali dosa yang dilakukan, tetapi pada niat peniten untuk meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan perintah-perintah Ilahi."

Selama konferensi, Kardinal Burke menekankan batas-batas otoritas kepausan, dengan mengatakan: “Setiap pernyataan doktrin atau praktek kehidupan yang tidak sesuai dengan Wahyu Ilahi yang terkandung di dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja, tidak dapat menjadi acuan otentik bagi kerasulan dan perutusan Petrus dan karena itu ia harus ditolak oleh umat yang setia kepada Kristus. ”

Mengutip sejarawan John Watt, Kardinal Burke mengatakan: “Jika, menurut hati nurani yang terbentuk dengan baik, seorang anggota umat beriman terpaksa harus berpendapat bahwa tindakan tertentu dari kuasa kepausan adalah dosa, maka sebagai konsekuensinya, karena dia tidak dapat berdamai dengan hati nuraninya sendiri mengenai masalah yang dipertanyakan, 'maka Paus haruslah tidaklah perlu dipatuhi, dan konsekuensi dari ketidak-patuhan ini hendaklah diderita di dalam kesabaran Kristiani'. ”

Dalam ceramahnya, Cardinal Brandmüller berbicara tentang "peran penting dari kesaksian iman umat awam", termasuk selama krisis Arian dulu, ketika "para uskup gagal dalam tugas dan peranannya".

"Sensus fidei", kata Cardinal Brandmüller, “dapat membantu Gereja untuk memperdalam pemahamannya tentang kebenaran - dan dapat bertindak sebagai “sistem kekebalan spiritual, yang memungkinkan umat beriman secara naluriah untuk mengenali dan menolak kesalahan apa pun."

Kardinal merekomendasikan kriteria dari Blessed John Henry Newman untuk membedakan perkembangan doktrinal yang sejati dari yang palsu.

Sebagai contoh yang baru dari sensus fidei ini, Kardinal Brandmüller menunjuk pada petisi tahun 2015 untuk membela ajaran Gereja, yang dilaporkan ditandatangani oleh 790.000 umat Katolik. Pembicara lain, Uskup Athanasius Schneider, yang mengatakan tentang peran historis kepausan, dengan alasan bahwa peran kepausan itu adalah berupa mewariskan ajaran Katolik sebagai seorang "pelayan" kebenaran.

“Melalui izin yang tak dapat diselidiki dari Penyelenggaraan Ilahi,” Uskup Schneider mengemukakan, serangan Setan terhadap kepausan “dalam kasus yang jarang terjadi, memiliki efek pelemahan sementara dan terbatas terhadap Magisterium Kepausan, ketika beberapa Paus Roma telah membuat pernyataan doktrinal yang rancu, sehingga menyebabkan situasi kebingungan doktrinal yang bersifat sementara dalam kehidupan Gereja ”.

Teks lengkap deklarasi ini:

Karena interpretasi yang bertentangan terhadap seruan Apostolik "Amoris Laetitia," maka ketidakpuasan dan kebingungan menyebar luas di antara umat beriman di seluruh dunia.
Permintaan mendesak untuk klarifikasi yang disampaikan kepada Bapa Suci oleh sekitar satu juta umat beriman, lebih dari 250 ilmuwan dan beberapa kardinal, tidak mendapat tanggapan.
Di tengah bahaya besar bagi iman dan kesatuan Gereja yang telah muncul, maka kami, sebagai anggota umat Allah yang telah dibaptis dan menerima Sakramen Krisma, merasa terpanggil untuk menegaskan kembali iman Katolik kami.

Konsili Vatikan II memberi wewenang kepada kami dan mendorong kami untuk melakukan hal ini, yang dinyatakan dalam “Lumen Gentium,” n. 33: “Demikianlah setiap umat awam, berdasarkan karunia yang dianugerahkan kepadanya, pada saat yang sama bisa menjadi saksi dan sarana yang hidup dari misi Gereja itu sendiri 'yang sesuai dengan anugerah Kristus' (Efesus 4: 7). ). "

Beato John Henry Newman juga mendorong kami untuk melakukan  hal ini. Dalam esai profetiknya “On Consulting the Faithful in Matters of Doctrine” (1859), dia berbicara tentang pentingnya umat awam menjadi saksi iman.

Karena itu, sesuai dengan tradisi Gereja yang otentik, kami bersaksi dan mengakui bahwa:

1) Sebuah pernikahan yang sah dan sempurna antara dua orang yang telah dibaptis dapat dibubarkan hanya dengan melalui kematian.
2) Karena itu, umat Kristen yang telah dipersatukan oleh pernikahan yang sah, yang kemudian berhubungan dengan orang lain sementara pasangan mereka yang sah masih hidup, maka dia telah melakukan dosa berat, yaitu perzinahan.
3) Kami yakin bahwa ada perintah-perintah moral absolut yang selalu mewajibkan dan tanpa pengecualian.
4) Kami juga yakin bahwa tidak ada penilaian subyektif dari hati nurani yang dapat membuat perbuatan yang jahat secara intrinsik menjadi baik dan sah.
5) Kami yakin bahwa penilaian tentang kemungkinan memberikan absolusi sakramental tidak didasarkan kepada sulitnya mengenali dosa yang dilakukan, tetapi pada niat dari si peniten untuk meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan perintah ilahi.
6) Kami yakin bahwa orang-orang yang bercerai dan menikah lagi secara sipil, dan yang tidak mau hidup berpantang dalam hubungan sex, maka mereka hidup dalam situasi yang secara obyektif bertentangan dengan hukum Tuhan, dan karena itu mereka tidak dapat menerima Komuni Kudus.

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/