Monday, March 8, 2021

Kristus Disingkirkan Lebih Dulu

 

KRISTUS DISINGKIRKAN LEBIH DULU

 

By Elizabeth A. Mitchell

 

https://www.thecatholicthing.org/2021/03/07/christ-was-cancelled-first/?utm_source=the+catholic+thing+daily&utm_campaign=73f8a5cfbc-email_campaign_2018_12_07_01_02_copy_28&utm_medium=email&utm_term=0_769a14e16a-73f8a5cfbc-244061125

 

 

Penyangkalan Petrus

 *Image: The Denial of Saint Peter by Jusepe de Ribera, c. 1615-16 [Galleria Nazionale d’Arte Antica, Palazzo Corsini, Rome]. In content and in style, this Ribera masterpiece was modeled on Caravaggio’s painting of the same title, now in New York’s MET. (Peter is furthest to the right.)

 

SUNDAY, MARCH 7, 2021 

Di halaman istana Imam Agung, pada malam Kamis Putih, rasa takut yang nyata mencengkeram hati Petrus. Gurunya (Yesus) ditangkap. Kekuatan-kekuatan dunia merengkuh kejayaan mereka, dan Petrus  adalah target mereka selanjutnya, dalam pandangan mereka. 

Kristus sendiri meramalkan momen penghancuran ini melalui rasa takut, yang akan membanjiri temannya: “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22: 31-32) 

Dalam sebuah percakapan yang terkenal, Petrus memprotes, dia yakin bahwa dirinya akan dapat menghadapi massa dan amukan mereka ketika saatnya tiba, dan Petrus berkata: "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" Tetapi Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku." (Lukas 22: 33-34) 

Menyangkal bahwa kita mengenal Kristus – bukan mengaku mengasihi Dia, bukan mengaku aktif melakukan karya-Nya, bukan terlibat dalam misi-Nya – ya, tidak sampai sejauh itu! - hanya sekedar untuk mengakui bahwa kita mengenal Dia, ini pun akan menjadi tempat ujian di mana kita akan diayak, ditampi. Kita semua. 

Kekuatan yang ada dalam niat membatalkan kebaikan – rasa takut yang ditimbulkannya di dalam hati kita - sungguh luar biasa. 

Tetapi Kristus disingkirkan lebih dulu. Dia memilih untuk disingkirkan dari dunia ini, dari kekuatan-kekuatan yang ada, dari penerimaan oleh makhluk yang Dia cintai, yang Dia ciptakan dari debu. Dengan sukarela. Dengan penuh kasih. Sebagai jalan yang lebih disukai untuk memahami makna dan kekuatan sejati dalam rencana Yang Mahakuasa. 

Jadi, seperti Petrus, kita harus menghadapi paradoks Kristus ini. Segala sesuatu yang kita percayai adalah kegagalan dan kerugian dan pemborosan dalam hidup kita - perbuatan baik tanpa disadari, kebaikan yang ditolak, teladan yang dicemooh, cinta yang ditolak - justru itulah intinya. Inti dari pengorbanan. Dan di sana, kehidupan sejati dimulai, di dalam Kristus - dalam tubuh-Nya yang disingkirkan, berlumuran darah, hancur, dalam persembahan diri-Nya di kayu Salib, dan di dalam hati kita. 

Dan apa imbalannya? Apa yang dihasilkan dari menyerahkan hidup kita bersama dengan Kristus? Kekuatan, kuasa, dan Kehidupan Ilahi yang tercurah melalui kita dan melalui tindakan kita yang diam-diam, tersembunyi, dan tak terlihat. 

Semua karena pengasingan dan penyerahan diri, dan cinta yang tersembunyi, terjadi dalam kegelapan dan keheningan: di balik pintu blok sel penjara di Auschwitz; di belakang kisi-kisi Karmel Lisieux; di balik tembok Menara pada suatu hari di bulan Juli; dan di luar kota, bersama para penjahat, dekat Yerusalem. 

Dan dalam semuanya ini, Kristus tahu kita akan membutuhkan kekuatan-Nya. Tanpa doa-doa-Nya, “Aku telah berdoa untuk engkau” (Lukas 22:32), kita tidak akan mampu melakukannya. Karena seringkali kita lupa bahwa kesuksesan dan persetujuan duniawi bukanlah tujuan kita. Kita bekerja dan berusaha untuk menjadi ‘seseorang’ di dunia ini. Kita mencari validasi bahwa upaya kita adalah pantas. Dan kemudian, Kristus memilih cara lainnya bagi kita. Jalan-Nya sendiri. 

Dalam semuanya ini kita memikul Salib kita bersama Kristus, dan Dia bersama kita. Kita harus menyadari bahwa Salib selalu diletakkan di pundak kita di dalam kasih. Dia memilih kita untuk memikul Salib-Nya, Dia membagikan harta pilihan-Nya dengan kita. Dan kita sering mengelak dari undangan tersebut. Menurut kita, Salib itu memalukan, Salib adalah tanda kegagalan. Namun Salib adalah satu-satunya pintu di mana kehidupan sejati bisa masuk. 

Kita sering menurunkan Salib pilihan Kristus ini di gereja-gereja kita, di ruang kelas kita, di rumah kita, dan di sekitar leher kita. Mengapa demikian, dan kemudian kita lari dari panggilan memanggul Salib? 

Seperti yang diingatkan oleh St. Maximilian Kolbe kepada kita, “...memanggul Salib akan memurnikan kita. Kita harus memiliki kesabaran dengan diri kita sendiri dan bahkan dengan Tuhan kita yang amat baik, yang menguji kita karena kasih-Nya." Dia tidak akan pernah membiarkan Salib menghancurkan kita. Ketika kita menerima salib dengan kehendak bebas kita, maka balsem yang mengalir dari kayu salib itu sangatlah berharga. 

Namun, ketakutan itu luar biasa. Itu melekat pada kita, dan membanjiri kita, seperti yang terjadi pada Petrus di halaman istana. Karena tidak ada jalan untuk kembali dari mengakui Kristus. Massa di sekitar kita memang tanpa ampun. Kecaman mereka lengkap. Kita sering dapat merasakan adanya saat untuk bersaksi, dalam percakapan, di tempat kerja, dalam hubungan kita dengan sesama. Ini dia. Saya harus berkomitmen pada keyakinan saya dan terus maju, atau saya mengambil jalan keluar. Saya perlu memutuskan segera. Sekaranglah waktu untuk memilih. Seberapa sering saya membelok ke jalur aman dan keluar dari jalur yang seharusnya saya tempuh. 

Tetapi selalu - selalu - Kristus membawa kita kembali ke jalan yang benar. Dia memperkuat kita. Dia mendengar penyangkalan kita, dia melihat pergumulan kita, dan Dia melihat kita seperti pandangan-Nya ke arah Petrus, dalam kuasa dan kelembutan-Nya, Dia memahami celaan yang kita alami, dan Dia menyampaikan panggilan-Nya agar kita menjadi lebih kuat dengan pertolongan kasih-Nya. 

Dan kita diperkuat oleh tatapan mata-Nya. Kita tidak boleh putus asa seperti Yudas, karena kekuatan-Nya lebih besar dari kelemahan dan kegagalan kita. Kita perlu mengakui bahwa kita membutuhkan Dia, bahwa kita belum mendefinisikan jati diri kita secara permanen, untuk menjadi sukses atau gagal. Segala sesuatu hanya memiliki arti ketika kita menyerahkannya kepada Kristus, menyatukan upaya kita dengan kekuatan kuasa-Nya. 

Dan kemudian, saat kita mempersembahkannya kepada-Nya, Dia akan bertindak. Dan kita bisa berkata bersama St. Paulus, "kekuatanku menjadi sempurna dalam kelemahan." (lht. 2 Korintus 12: 9). Kristus selalu mendatangkan kebaikan dari kejahatan. Terlebih lagi, Dia membawa kebaikan yang lebih besar daripada jika kejahatan tidak pernah ada. Tidak ada satu situasi pun, satu gerakan hati, satu kegagalan yang nyata, yang tidak Dia izinkan. Dia tahu. Dan Dia menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan Kehendak-Nya. 

Dan pemulihan-Nya lebih besar dari sebelumnya. Hati-Nya yang tersalib telah berjalan di depan kita. Dia tidak ada lagi di kubur. “Satu kali tidur singkat, kita bangun selamanya, dan kematian tidak akan ada lagi; “Hai Kematian! kau akan mati." (John Donne, Holy Sonnet X) Tidak ada lagi pembatalan, Tuhan kita memulihkan kita dan menuntun kita kepada Kehidupan Kekal.

 

-----------------------------

 

Peringatan Bagi Amerika

Paus Melakukan Tindakan Bersejarah ...

LDM, 4 Maret  2021

Microsoft Tidak Hanya Mendanai ID2020...

Enoch, 3 Maret 2021

Risalah buku

Giselle Cardia, 27 Februari, 3 & 6 Maret 2021

 

 

Sunday, March 7, 2021

Risalah buku

 

MAIKE HICKSON 

Risalah buku:

 

SEBUAH BUKU BARU TELAH DITERBITKAN YANG BERISI RANGKUMAN BEBERAPA SURAT TERBUKA KEPADA PAUS FRANCIS YANG BERTUJUAN UNTUK MELURUSKAN BERBAGAI KESALAHANNYA 

https://www.lifesitenews.com/blogs/new-book-presents-multiple-open-letters-to-pope-francis-correcting-his-errors

 

Buku ini berisi pernyataan formal kritis tentang ajaran-ajaran paus Francis yang diterbitkan dari tahun 2016 hingga 2019.

 

Thu Mar 4, 2021 - 5:14 pm EST

 

 


 

·        

Paus Francis menerima patung berhala Pachamama di taman Vatikan dalam upacara adat,

Roma, 4 Oktober 2019 / video screen grab

 

 

4 Maret 2021 (LifeSiteNews) - Penerbit Kanada, Arouca Press, telah memberanikan diri untuk menerbitkan kumpulan pernyataan penting oleh para uskup, imam, dan umat awam yang dialamatkan selama beberapa tahun terakhir kepada paus Francis, yang memintanya untuk mengoreksi berbagai kesalahannya atau pun berbagai pernyataannya yang membingungkan, bahkan meminta paus Francis untuk membatalkannya dan agar dia bertobat atas semua itu. Karena buku ini juga berisi, di bagian tambahan, banyak pernyataan dan wawancara lain oleh banyak kritikus, maka buku ini akan menjadi alat yang sangat berguna baik bagi mereka yang ingin memahami krisis yang terjadi di dalam Gereja kita saat ini, maupun bagi mereka yang ingin memahami tujuan dari para pengkritik Paus.

 

Buku baru ini, berjudul Defending the Faith Against Present Heresies (Membela Iman untuk Melawan Kesesatan Saat Ini), telah mendapat dukungan dari banyak penulis dan teolog terkemuka, seperti Pastor Gerard Murray, Martin Mosebach, dan Henry Sire (penulis buku The Dictator Pope). Pastor Murray, misalnya, menyatakan bahwa "permintaan yang masuk akal untuk menjunjung tinggi rencana Gereja dan pengajaran yang menetap dalam menghadapi penyimpangan adalah sebuah tindakan kasih, bukan pembangkangan yang berdosa." 

"Buku ini," lanjut imam itu, "adalah kompilasi yang tak ternilai manfaatnya dari upaya semacam itu." 

Buku tersebut berisi banyak pernyataan formal dan kritis tentang ajaran-ajaran paus Francis yang telah diterbitkan dari 2016 hingga 2019, dimulai dengan dubia 2016 yang terkenal dari Kardinal Raymond Burke, Joachim Meisner, Walter Brandmüller, dan Carlo Caffarra mengenai seruan kepausan pasca-sinode Amoris Laetitia soal pernikahan dan keluarga. Dubia itu ditujukan kepada paus Francis dan kemudian diterbitkan oleh para pengusulnya (Kard. Raymond Burke dkk). Di bagian lain, ada teks pertama dari para ilmuwan dan para pastor tentang kesalahan doktrinal di dalam Amoris Laetitia, kemudian satu dokumen tentang ajaran paus Francis mengenai hukuman mati, dan akhirnya satu dokumen lagi yang isinya menentang pemujaan secara terbuka oleh paus Francis terhadap dewi berhala Pachamama selama Sinode Amazon di Roma di 2019. Seperti yang akan disaksikan oleh para pembaca buku ini, ada desakan yang tumbuh dalam nada pernyataan yang berbeda, dan semakin jelas bahwa paus Francis mengabaikan semua kritik yang berdasarkan atas kasih ini dan semakin kuat pula penyimpangannya dari doktrin dan praktik ajaran Gereja Katolik. Terakhir, buku tersebut berisi esai dan wawancara oleh masing-masing peserta dalam upaya ini atau oleh para kritikus.

 

Seperti yang dikatakan oleh penerbit buku, Alex Barbas, kepada LifeSite, “...tujuan dari penerbitan buku ini adalah untuk melanjutkan diskusi yang serius — sebuah diskusi yang, kadang-kadang, dapat memanas, dan hal ini dapat dimaklumi — tentang bagaimana kepausan Francis ini dianggap oleh banyak umat Katolik, yang mengalami kesulitan dalam memahami bagaimana berbagai pernyataan dan tindakannya dalam kaitannya dengan ajaran dan iman Katolik kita, di tengah dunia yang semakin memusuhi Gereja ini.” Mengingat kebutuhan umat untuk bertumbuh dalam pemahaman tentang krisis kita, Alex Barbas ingin mendukung upaya untuk membahas masalah tersebut.

 

“Kami pikir,” katanya, “debat seperti itu adalah sehat dan memang perlu, karena itu akan membantu umat Katolik melihat secara mendalam pertanyaan-pertanyaan ini apakah mereka pada akhirnya setuju dengan kesimpulan penulis atau tidak. Semua kontribusi ditulis dengan memikirkan kebaikan Gereja.”

 

Buku ini diperkenalkan oleh dua editornya, Dr. John Lamont dan Profesor Claudio Pierantoni. Uskup Agung Carlo Maria Viganò telah menyumbangkan kata pengantar untuk buku itu, di mana dia memuji upaya penulisan ini. Wali gereja Italia itu menulis:

 

Buku ini memiliki manfaat untuk mengumpulkan bukti adanya kemurtadan, seperti bara api yang dibicarakan Santo Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma (12: 19-20). Dan siapa pun, demi kasih kepada Takhta Apostolik dan untuk kehormatan Bunda Gereja Kudus, yang memiliki keberanian untuk mencela para gembala palsu, akan mendapat penghiburan dengan mendengar Guru Ilahi yang memanggilnya: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat 25:21)

 

Seperti disebutkan sebelumnya, buku ‘Membela Iman untuk Melawan Kesesatan Saat Ini’ menyajikan, di bagian terpisah, banyak artikel dan wawancara dari orang-orang yang terlibat dalam inisiatif kasih ini untuk meminta paus Francis agar kembali kepada ajaran dan praktik tradisional Gereja - seperti larangan Komuni bagi pezina dan ajaran tentang perbuatan jahat secara intrinsik - atau orang-orang yang mendukung hal itu. Buku ini bermaksud mengundang dan mendorong perdebatan, dengan asumsi bahwa orang-orang yang berkehendak baik dan memiliki kasih kepada Tuhan dan ajaran-Nya, pasti akan mau berkumpul, berdasarkan pengertian dan kesimpulan yang sama tentang paus ini.

 

Di antara penulis di dalam buku ini ada tokoh-tokoh terkenal seperti Pastor Thomas Weinandy, O.F.M., Profesor Roberto de Mattei, Profesor Peter Kwasniewski, Profesor Michael Sirilla, Profesor Anna Silvas, dan Pastor John Hunwicke.

 

Merupakan suatu kehormatan pribadi bahwa suami saya, Dr. Robert Hickson, muncul dalam buku tersebut, di antara para penandatangan beberapa surat yang diterbitkan dan ditujukan kepada paus Francis, serta beberapa kontribusi kecil saya sendiri untuk diskusi yang sedang berlangsung, terdapat di dalam buku ini. Merupakan salah satu berkat yang istimewa di masa yang sangat sulit di dalam Gereja saat ini untuk dapat mengenal beberapa pikiran dan hati umat Katolik terbaik di dunia. Dengan banyaknya penulis yang terlibat dalam buku ini, saya dan suami saya selalu menjaga kontak yang bersahabat dengan mereka, dan salah satu percakapan dengan salah satu penulis yang terdapat dalam buku ini menjadi sumber inspirasi, kekaguman, dan kasih kepada Iman Katolik kita. Kami sendiri dapat bersaksi tentang fakta bahwa para penulis pernyataan publik ini memiliki niat yang sangat murni, penuh dengan kasih.

 

Sejak saya sendiri mulai menulis lebih banyak artikel sehubungan dengan krisis Gereja yang terus meningkat di bawah kepemimpinan paus Francis - saya menerbitkan Surat Terbuka kepada Paus pada akhir tahun 2014 yang memintanya untuk tidak mengubah ajaran Gereja tentang pernikahan dan keluarga – dan proyek buku ini memberi saya kesempatan untuk meninjau karya tulis saya yang telah dilakukan dalam tujuh tahun terakhir ini. Saat itu, ada dua sinode uskup 2014/2015 tentang pernikahan dan keluarga yang membuat kami sangat prihatin dan khawatir. Gagasan bahwa beberapa hukum yang tidak dapat diubah - pernikahan yang tidak dapat diceraikan - entah bagaimana harus dilemahkan (oleh Francis) atas nama belas kasihan hingga menyebabkan kita banyak bersedih, terutama karena kasih kita kepada Yesus Kristus dan karena keinginan kita untuk tetap setia kepada-Nya.

 

Pada tahun-tahun pertama kepausan ini, tidak mudah untuk berbicara dan menolak beberapa ucapan yang keluar dari Roma. Banyak umat Katolik dimanfaatkan untuk membela apa pun yang keluar dari Roma, terutama di antara umat Katolik yang lebih konservatif dan setia. Dokumen-dokumen yang dimuat dalam buku ‘Membela Iman untuk Melawan Kesesatan Saat Ini’ menunjukkan keberanian para pastor dan cendekiawan Katolik, yang banyak di antaranya harus membayar harga mahal untuk kesaksian Katolik mereka. Banyak klerus dan cendekiawan Katolik penandatangan pernyataan ini yang kehilangan pekerjaan mereka, ditegur oleh atasan mereka, atau dikirim ke tempat-tempat terpencil di dunia.

 

Sebagai seorang jurnalis, saya mengetahui banyak penderitaan dari para penandatangan ini, banyak di antaranya memilih untuk tetap diam tentang ketidakadilan ini. Sebagai satu contoh, LifeSiteNews melaporkan kasus Profesor John Rist, salah satu sarjana filsafat Katolik Klasik terbesar yang berbahasa Inggris di dunia, yang dianiaya oleh Vatikan ketika dia tiba-tiba diberi tahu, pada bulan Mei 2019, bahwa dia dilarang masuk ke semua Universitas Kepausan di Roma karena dia telah menandatangani Surat Terbuka kepada para Uskup yang meminta para uskup di dunia untuk menyelidiki ajaran sesat paus Francis.

 

Jadi, buku baru yang diterbitkan oleh Arouca Press ini merupakan monumen sejarah yang dibangun dengan bantuan kesaksian dan keberanian serta penderitaan banyak pastor dan umat awam. Kami mengingat tahun-tahun ini disertai banyak rasa syukur dan kesedihan.

 

Semoga buku yang baru terbit ini menjadi berkat bagi banyak umat Katolik, baik sebagai konfirmasi atas perlawanan dan perhatian mereka sendiri, atau sebagai sumber informasi dan konsolidasi keraguan mereka tentang kepausan saat ini.

 

---------------------------

 

Pedro Regis 5086 - 5090

Great Reset Memberi Makan Kepada Sekularisasi

Peringatan Bagi Amerika

Paus Melakukan Tindakan Bersejarah ...

LDM, 4 Maret  2021

Microsoft Tidak Hanya Mendanai ID2020...

Enoch, 3 Maret 2021

 

 

Friday, March 5, 2021

Microsoft Tidak Hanya Mendanai ID2020...

 


 

These Last Days News - March 5, 2021

Microsoft Tidak Hanya Mendanai ID2020, Tetapi Mereka Juga Mengajukan Paten Untuk Perangkat Yang Terhubung Ke Tubuh Manusia Untuk Kegiatan Membeli Dan Menjual Melalui Cryptocurrency ...

 

https://www.tldm.org/news49/microsoft-not-only-funds-id2020-but-they-also-filed-a-patent-for-a-device-connected-to-the-human-body-for-buying-and-selling-cryptocurrency.htm

 

NowTheEndBegins.com reported on April 17, 2020:

by Geoffrey Grider

 

 

Bill Gates mungkin secara hukum memisahkan dirinya dari Microsoft, tetapi karena kedua entitas itu terlibat dalam misi yang persis sama, maka pemisahan tujuan mereka pasti tidak akan terjadi. Sementara Bill Gates telah ‘menggebrak meja,’ memberi tahu orang-orang bahwa vaksin global untuk semua orang di bumi akan dilakukan dalam waktu 18 bulan, perusahaan lamanya, Microsoft, telah menciptakan perangkat yang mampu berinteraksi dengan denyut nadi, suhu, dan gelombang otak tubuh manusia secara berurutan, untuk terlibat dalam membeli dan menjual melalui cryptocurrency. Sekarang mari kita lihat, di mana saya pernah melihat apa yang dibicarakan ini?

 

Oh ya, ini dia:

 

Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam. (Why. 13:16-18)

 

Apakah definisi Alkitab tentang Tanda dari Binatang itu? Menurut Wahyu 13, itu adalah alat yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia di punggung tangan kanan atau di dahi, untuk tujuan menjual dan membeli. Apa pun bentuk akhir dari Tanda itu, itulah yang akan dilakukannya dari perspektif fungsional dan literal. Bill Gates dan Microsoft menghabiskan miliaran dolar untuk 1). menyuntik setiap orang di seluruh bumi dengan semacam suntikan 'vaksinasi', 2). membuat perangkat mata uang untuk menjual dan membeli yang dijalankan pada tubuh manusia sebagai baterai, dan 3). melekatkan keduanya kepada identifikasi digital dari ID2020 yang juga mereka danai. Harap di perhatikan bahwa angka nol yang ditulis dalam paragraf ini (2020), dulunya adalah sebuah spekulasi dalam bentuk apa pun, dan klik tautannya, maka semua itu terjadi sekarang.

 

Jadi bagaimana dengan kita? Seorang penyair pernah berkata, 'ketika seseorang menunjukkan siapa diri mereka, percayalah.' Bill Gates telah menunjukkan kepada kita siapa dia, Microsoft telah menunjukkan kepada kita siapa mereka. Satu-satunya pertanyaan adalah, apakah Anda mempercayai mereka? Saya yakin Anda akan melakukannya. 

 

Sistem Cryptocurrency Microsoft Menggunakan Data Aktivitas Tubuh

 

Ini adalah informasi paten perangkat Microsoft untuk membeli dan menjual cryptocurrency dengan menggunakan tubuh manusia, selamat menikmati!

 

Abstrak Paten: Aktivitas tubuh manusia yang terkait dengan tugas yang diberikan kepada seorang pengguna, dapat digunakan dalam proses transaksi sistem mata uang kripto. Sebuah server dapat memberikan tugas ke perangkat pengguna yang secara komunikatif digabungkan ke server. Sebuah sensor yang secara komunikatif digabungkan, terdiri dari perangkat pengguna, dapat merasakan aktivitas tubuh pengguna. Data aktivitas tubuh itu dapat dibuat berdasarkan aktivitas tubuh yang dirasakan pengguna. Sistem cryptocurrency yang secara komunikatif digabungkan dengan perangkat pengguna dapat memverifikasi apakah data aktivitas tubuh memenuhi satu atau lebih kondisi yang ditetapkan oleh sistem cryptocurrency, dan memberikan cryptocurrency kepada pengguna yang data aktivitas tubuhnya diverifikasi. BACA SELENGKAPNYA

 

------------------------------

 

Tanda dari Binatang dan Tanda dari Kristus yang Hidup ...

"Kamu telah diminta untuk mengenakan benda-benda sakramental di lehermu. Sekarang aku akan menjelaskan alasannya, anak-anakku. Aku telah memperingatkan kamu tentang kekuatan-kekuatan jahat yang tidak terlihat di sekitarmu. Aku telah memperingatkan kamu bahwa mata manusia tidak dapat melihatnya. Tetapi hal itu ada di dunia mereka, senyata di duniamu. Ketahuilah hal ini, bahwa ada dua kubu saat ini di bumi: Lucifer di satu sisi, dan jalan menuju Surga dan para pengikutnya di sisi lain. Kamu semua telah ditandai. Ada dua tanda sekarang: tanda dari binatang dan tanda dari Kristus yang hidup.

"Kenalilah tanda-tanda zaman, anakku. Perang sedang berlangsung." - Our Lady, Bayside, 25 Maret 1972

 

--------------------------------

 

Seorang Penulis Katolik yang cukup dihormati berkata...

Enoch, 23 Februari 2021

Pedro Regis 5086 - 5090

Great Reset Memberi Makan Kepada Sekularisasi

Peringatan Bagi Amerika

Paus Melakukan Tindakan Bersejarah ...

LDM, 4 Maret  2021

 

 

Thursday, March 4, 2021

Paus Melakukan Tindakan Bersejarah ...

 

PAUS MELAKUKAN TINDAKAN BERSEJARAH DENGAN BERDOA BERSAMA PARA ‘PENYEMBAH IBLIS’ 

https://www.churchmilitant.com/news/article/pope-makes-history-praying-with-devil-devotees 

 

 

 

by Jules Gomes  •  ChurchMilitant.com  •  March 2, 2021  

 

Francis akan berdoa bersama dengan kaum Yezidis yang menyembah ‘malaikat burung merak’ di Iraq 

 

KOTA VATIKAN (ChurchMilitant.com) - Paus Francis akan menjadi paus pertama dalam sejarah yang berdoa bersama anggota sekte sinkretis yang menyembah "malaikat yang jatuh atau durhaka" yang digambarkan sebagai ‘burung merak’ yang diidentifikasikan dengan Iblis.


 

An Iraqi Catholic looks forward to welcoming Pope Francis 

 

Kaum Yezidi – dianiaya, hingga mencapai titik genosida, oleh ISIS dengan dituduh sebagai "penyembah Iblis" - akan berpartisipasi dalam ibadah antaragama yang dilakukan oleh paus hari Sabtu di Ur bersama-sama dengan umat Muslim, Mandaean-Sabean dan anggota komunitas agama Irak lainnya.

 

Sementara itu media arus utama dan beberapa ahli agama dengan keras menolak julukan sensasional "penyembah Iblis" terhadap kaum Yezidi dan menganggap hal itu sebagai "istilah yang digunakan oleh para tetangga yang tidak simpatik dan orang-orang Barat yang terpesona," sedangkan para ahli lainnya mengatakan baru-baru ini bahwa dewa Yezidi itu - Malaikat Merak - secara bersamaan ia mewujudkan "keduanya: dewa dan iblis."

 

Yezidisme memadukan unsur-unsur Zoroastrianisme, Manikheisme, Gnostisisme, Kristen, Sufisme, dan Islam, mengadopsi "trinitas suci" yang terdiri dari Malaikat Merak, Sheikh 'Adi (pendiri agama proto-Yezidi) dan Sultan Yezid atau Êzî (khalifah Umayyah Yazid ibn Mu'awiya).

 

Malaikat Merak (Malak-Tāwūs) adalah dewa utama dari trinitas suci Yezidi, sedangkan 'Adi dan Êzî adalah versi dewa dari tokoh sejarah mereka. Di satu sisi, burung merak melambangkan keagungan dan kemegahan, tetapi di sisi lain ia juga melambangkan kesombongan dan gairah. Ini membuatnya menjadi perwujudan yang cocok dari dewa dan iblis pada saat yang bersamaan.

 

Prof. Garnik S. Asatrian kelahiran Iran, dari Yerevan State University, dan Prof. Victoria A. Arakelova dari RAU Institute of Oriental Studies, Armenia, setuju bahwa Yezidi telah dianiaya dan dituduh "sebagai penyembah berhala, bidaah atau penyembah Iblis" karena "keanehan religius" mereka. 

Dalam Yezidisme, Setan sebagai kepala malaikat, hanya untuk sementara digulingkan sebagai hukuman, tetapi pada waktunya nanti, ia akan menjadi penerima belas kasihan. Tweet 

Namun, dalam monografnya The Religion of the Peacock Angel: The Yezidis and Their Spirit World, Prof. Asatrian dan Arakelova berpendapat bahwa Yezidisme adalah "monoteistik," meskipun "dewa-dewa kecil dari jajaran Yezidi" (termasuk roh-roh dan setan-setan) adalah" manifestasi yang jelas dari satu tuhan yang disembah oleh para penganutnya."

 

Para sarjana Armenia menjelaskan bagaimana Yezidi menganggap Malak-Tāwūs - semacam Malaikat Merak pencipta dunia - sebagai "malaikat yang jatuh dan diusir dari surga karena tidak menaati kehendak tuhan," seperti dalam tradisi alkitabiah dan Islam.

 

Dalam Yezidisme, bagaimanapun, Setan sebagai kepala malaikat hanya "untuk sementara digulingkan sebagai hukuman, tetapi, pada waktunya nanti, ia menjadi penerima belas kasihan," dan, dalam mistisisme Yezidi, Setan "pada akhirnya dibebaskan dan perbuatannya tidak dianggap sebagai dosa dalam hal apa pun juga," demikian mereka menekankan.

 

Kaum Yezidi esoteris, seperti para Sufi, "menerima kejahatan sebagai salah satu prinsip penting dalam penciptaan, yang 'tidak dapat dibenarkan' dan dikutuk oleh agama-agama dogmatis, yang tanpanya tidak mungkin memahami sumber energi itu sendiri," kata Prof. Asatrian dan Arakelova menjelaskan. 

 

Kaum Yezidi berdoa di kuil Malaikat Merak terbesar di dunia di Armenia

 

Berbicara dengan syarat anonim, seorang sarjana Katolik Timur yang berbasis di Roma, di bidang studi oriental, mengatakan kepada Church Militant bahwa dia menganggap "ibadah antaragama kepausan ini sebagai kekejian dan skandal bagi umat Katolik dan Kristen Ortodoks yang teraniaya di Irak."

 

Dia menyesalkan kenyataan bahwa "Pihak Barat tetap diam, sementara wanita Yezidi yang tak terhitung jumlahnya, diperkosa dan ditahan sebagai budak seks," demikian sarjana tersebut mengatakan dan dia setuju bahwa "kebenaran politik di sekolah dan genosida terhadap Yezidi telah mencegah kebenaran untuk dibuka, yaitu tentang unsur-unsur 'setan' dari Yezidisme." 

Para ahli sejarah Timur Dekat, mengakui bahwa komunitas dewa adalah sebuah komunitas yang lain dari setan. Tweet 

"Para ahli sejarah Timur Dekat mengakui bahwa komunitas dewa adalah komunitas lain dari setan," kata akademisi itu, sambil menunjukkan salinan Dictionary of Deities and Demons in the Bible (DDD).

(Kamus Dewa dan Iblis di dalam Injil)

 


Oriental studies scholar explaining the evolution of Satan 

 

"Pada tingkat akademis murni, sosok setan dalam Alkitab dianggap sebagai perkembangan dari seorang hakim, dalam kitab Ayub, menjadi entitas jahat yang dihadapi Yesus dalam Injil," kata cendekiawan itu.

 

"Tidak sampai masa pasca-pembuangan dalam literatur intertestamental, dengan munculnya dualisme dan konsep tentang Iblis, kata tersebut mulai menunjukkan arti 'iblis jahat bersekutu dengan setan’ dan mengambil konotasi yang sepenuhnya negatif," katanya mencatat, mengutip dari DDD.

 

Dia menambahkan bahwa kendala utama dalam mengartikan kepercayaan Yezidi adalah bahwa apa yang disebut kitab suci Yezidi - Kitēbā Jalwa (Kitab Wahyu) dan Mashafē Raš (Buku Hitam) - dianggap sebagai pemalsuan yang baru, "meskipun masih secara pasti mencerminkan agama asli dan tradisi rakyat."

 

Menurut Buku Hitam (Black Book), Malak-Tāwūs memiliki tujuh "avatar" sebagai malaikat yang membantu dan menemaninya: Azrail, Dardail, Israfil, Mikail, Jabrail, Shamnail dan Turail.

 

Sebuah legenda Yezidi menggambarkan jatuhnya Malak-Tāwūs ("partikel cahaya tak berujung") dengan cara yang menyerupai pelemparan Lucifer dari Surga. Sementara kebanyakan orang meludahi, mencemooh dan memukuli malaikat yang jatuh atau durhaka, para Yezidi menganggapnya sebagai - "orang yang baik hati, murni hatinya" - "mengenali dan menyambut" Malak-Tāwūs, tidak takut akan apa yang Tuhan atau orang lain akan katakan.

 

Salah satu versi legenda, diriwayatkan kepada perwira intelijen Inggris Edward Soane oleh Yezidis di Tiflis, mereka percaya bahwa Setan "kembali ke Surga" setelah "menangis dengan cukup air mata di tujuh bejana untuk memadamkan tujuh neraka dari 7.000 tahun pengasingannya."

 

"Bagaimanapun, konsep mitologis dewa yang diusir, malaikat yang jatuh atau durhaka, yang memiliki akar yang dalam pada tradisi Timur Dekat, secara khusus dimanifestasikan dengan jelas dalam mistisisme Islam," kata Prof. Asatrian dan Arakelova berpendapat, menjelaskan peran Malak-Tāwūs dalam Yezidisme. 

Saya teringat versi Septuaginta dari Mazmur 96: 5, yang mengatakan bahwa 'semua dewa bangsa-bangsa adalah setan.'Tweet

Bagi kaum Yezidi, bahkan mengucapkan kata "Setan" (šayṭān) adalah tabu. Kata-kata yang terdengar mirip dengan šayṭān seperti šatt (muara) dan qaytān diganti dengan sinonim seperti yang diperintahkan oleh Black Scripture: "Kami juga tidak diizinkan untuk mengucapkan nama Setan (karena itu adalah nama tuhan kami), atau nama apa pun yang menyerupai ini, seperti Kitan, Sharr, Shatt."

 

"Melihat literatur yang relevan, saya tidak memiliki masalah, sebagai akademisi, untuk menyimpulkan bahwa Yezidi adalah penyembah setan," kata sarjana studi oriental itu kepada Church Militant, menambahkan, "Sebagai seorang Katolik yang percaya pada Kitab Suci, saya teringat versi Septuaginta dari Mazmur 96: 5, yang mengatakan bahwa 'semua dewa bangsa-bangsa adalah setan' dan peringatan Santo Paulus kepada umat di Korintus: 'Pengorbanan orang kafir mereka persembahkan kepada setan dan bukan kepada Tuhan.' "

 

---------------------------

 

LDM, 22 Februari 2021

Kristus Dan Komunisme

Seorang Penulis Katolik yang cukup dihormati berkata...

Enoch, 23 Februari 2021

Pedro Regis 5086 - 5090

Great Reset Memberi Makan Kepada Sekularisasi

Peringatan Bagi Amerika