Volume
2 : Misteri Kerahiman Allah
Bab 13
Keringanan bagi
jiwa-jiwa
Misa Kudus
St.Elizabeth dan Ratu
Constance
St.Nicholas dari
Tolentino dan Pellegrino d’Osimo.
Kita bisa membaca didalam biografi St.Elizabeth dari Portugal bahwa setelah
kematian dari anak perempuannya, dia mengetahui akan keadaan anak itu yang amat
menyedihkan didalam Api Penyucian serta besarnya pelunasan yang diminta oleh
Pengadilan Allah bagi anak itu. Puteri bangsawan yang muda itu telah menikah
beberapa saat sebelum Raja Castile, ketika tiba-tiba dia direnggutkan oleh
kematian mendadak hingga terlepas dari perhatian keluarganya dan warga
kerajaannya. Elizabeth telah menerima berita ini ketika dia berkuasa dan
memerintah bersama sang raja, suaminya, di kota Santarem. Suatu hari ada
seorang pertapa yang muncul dari keheningannya untuk mengejar para pengawal
kerajaan sambil menangis dan berharap untuk bisa berbicara dengan sang ratu.
Para pengawal menolaknya. Namun ratu yang baik itu demi melihat bahwa pria
pertapa itu berteguh didalam niatnya, memerintahkan agar hamba Allah itu dibawa
kepadanya.
Segera setelah dia hadir dihadapan sang ratu, dia menceritakan bahwa lebih
dari sekali, ketika dia sedang berdoa di pertapaannya, ratu Constance nampak
kepadanya dan memintanya untuk menemui ibunya dan mengatakan bahwa dia sedang
menderita dikedalaman Api Penyucian. Bahwa dia dihukum untuk menderita rasa
sakit yang amat keras dan lama, namun dia akan dibebaskan jika dalam waktu
setahun dipersembahkan Misa Kudus baginya setiap hari. Para pengawal kerajaan
yang mendengar pembicaraan ini mempersalahkan pertapa itu dengan kejamnya, dan
mereka memperolokkan pertama itu sebagai seorang pemimpi, seorang pembohong,
atau seorang bodoh.
Bagi Elizabeth sendiri, dia berpaling kepada sang raja dan bertanya apa
yang sedang dipikirkannya tentang hal itu. “Aku percaya”, demikian jawab
pangeran itu, “adalah bijaksana untuk melakukan apa yang telah diminta darimu
dengan cara yang sangat luar biasa itu. Lebih dari itu, mengadakan Misa Kudus
bagi saudara-saudara yang kita cintai adalah merupakan kewajiban umat
Kristiani”. Seorang imam yang suci, Ferdinand Mendez ditunjuk untuk
menyelenggarakan Misa Kudus itu.
Pada akhir tahun itu, Constance menampakkan diri kepada St.Elizabeth dengan
berpakaian jubah putih yang berkilauan. Constance berkata :”Hari ini, ibuku
yang terkasih, aku dibebaskan dari rasa sakitnya Api Penyucian dan aku segera
memasuki Surga”. Dipenuhi dengan rasa bahagia, orang kudus itu segera pergi ke
Gereja untuk berterima kasih kepada Tuhan. Disana dia menjumpai Pastor Mendez
yang meyakinkan dia bahwa pada hari sebelumnya dia telah menyelesaikan perayaan
Misa Kudus sebanyak 365 kali seperti yang ditugaskan kepadanya. Ratu itu sadar
bahwa Tuhan telah memenuhi janjiNya kepada pertapa yang suci itu, dan sang ratu
berterima kasih dengan cara membagikan banyak sedekah kepada orang-orang
miskin.
Engkau telah
menyelamatkan kami dari musuh yang menodai kami, dan engkau telah mempermalukan
musuh yang membenci kami (Mzm. 43). Begitulah
kalimat yang disampaikan kepada St.Nicholas dari Tolentino yang terkenal itu,
oleh jiwa-jiwa yang berhasil dia bebaskan melalui Misa Kudus yang
dipersembahkannya bagi mereka. Salah satu keutamaan yang terbesar dari hamba
Allah yang terpuji itu, demikian kata Pastor Rossignoli, adalah kemurahan
hatinya, devosinya kepada Gereja Yang Menderita itu. Bagi jiwa-jiwa itu dia
sering berpuasa atas roti dan air, memperlakukan dirinya secara kejam, dan pada
pinggangnya dia mengenakan rantai besi yang berduri. Ketika tempat kudus dibuka
baginya, dan imam-imam seniornya ingin meluluskan dia untuk menjadi imam, dia
berpikir-pikir hingga cukup lama dihadapan kemuliaan Ilahi itu, dan tak ada
yang bisa membuatnya memutuskan untuk menerima perintah-perintah suci itu
kecuali pikirannya sendiri, yang merayakan Misa Kudus setiap hari, hingga dia
bisa dengan baik sekali menolong jiwa-jiwa suci di Api Penyucian. Dan jiwa-jiwa
itu, jiwa-jiwa yang dia bebaskan dengan melalui sekian banyak permohonan,
nampak kepadanya hingga berkali-kali untuk berterima kasih kepadanya atau
menyerahkan diri mereka kepada kemurahan hatinya.
Dia tinggal didekat Pisa dan dia selalu sibuk dengan laku rohaninya, ketika
pada suatu hari Sabtu, pada malam hari dia melihat didalam mimpinya, suatu jiwa
yang kesakitan, yang memintanya untuk mempersembahkan Misa Kudus pada pagi hari
berikutnya bagi dia dan bagi beberapa jiwa lainnya yang sangat menderita
didalam Api Penyucian. Nicholas mengenali suara itu, namun dia tak bisa
mengingat siapa orang yang berbicara itu. Penampakan itu berkata kepadanya
:”Aku adalah sahabatmu yang telah meninggal, Pellegrino d’Osimo. Oleh karena
Kerahiman Ilahi aku telah diloloskan dari pemurnian kekal melalui pertobatanku.
Tetapi tidak begitu bagi hukuman sementara ini karena dosa-dosaku. Aku datang
mewakili banyak jiwa-jiwa yang malang seperti diriku ini, untuk meminta
kepadamu agar mempersembahkan Misa Kudus bagi kami besok. Dari situ kami
berharap akan pembebasan kami atau paling tidak, kami mendapatkan keringanan
yang besar”. Orang kudus itu menjawab dengan lemah lembut :”Semoga Tuhan kita
berkenan meringankan kamu oleh karena jasa-jasa dari DarahNya yang amat
berharga itu !. Namun Misa Kudus bagi orang yang meninggal ini tak bisa
kulakukan besok, karena aku harus mengikuti koor didalam ibadat biara”. “Ah ! paling
tidak datanaglah bersamaku”, teriak jiwa itu, ditengah air mata dan keluhannya.
“Aku memohon kepadamu, demi kasih kepada Allah, datanglah dan lihatlah
penderitaan kami ini, maka kamu tak akan menolak kami. Kamu terlalu baik untuk
mau meninggalkan kami didalam penderitaan yang amat menyakitkan ini”.
Maka dia merasa dirinya dibawa menuju kedalam Api Penyucian. Dia melihat
suatu daratan yang luas dimana terdapat banyak sekali jiwa-jiwa dari segala
usia dan segala keadaan, dan mereka menjadi mangsa dari siksaan-siksaan yang
amat mengerikan untuk dilihat. Dengan melalui gerakan tangan dan teriakan,
mereka meminta belas kasihannya. “Lihatlah”, kata Pellegrino, “keadaan dari
mereka yang menyuruh aku datang kepadamu. Karena engkau adalah layak di mata
Allah, maka kami percaya bahwa Dia tak akan menolak apapun terhadap semua
Kurban Kudus yang kau persembahkan, dan bahwa KerahimanNya yang Ilahi itu akan
membebaskan kami”.
Atas penglihatan yang sangat menimbulkan rasa iba ini, orang kudus itu tak
mampu membendung air matanya. Segera dia berdoa untuk menghibur penderitaan
mereka. Dan pada pagi berikutnya, dia pergi menemui imam kepala untuk
menceritakan penglihatan yang dialaminya, serta permintaan Pellegrino untuk
diadakannya Misa Kudus hari itu. Imam Kepala bisa merasakan suasana emosi yang
ada saat itu, dan dia memutuskan untuk menghentikan ibadat bagi biara hari itu
sampai akhir pekan, dan menggantikannya dengan Kurban Kudus bagi orang-orang
yang meninggal dan mempersembahkan dirinya sepenuhnya demi keringanan penderitaan
jiwa-jiwa. Merasa senang dengan ijin ini, lalu Nicholas pergi ke Gereja dan
merayakan Misa Kudus dengan semangat yang besar. Selama seminggu dia terus
merayakan Misa Kudus dengan intensi yang sama, selain mempersembahkan doa-doa
siang dan malam, berbagai tindakan keutamaan dan segala macam perbuatan baik
juga dilakukannya.
Pada akhir pekan, Pellegrino datang kembali, namun tidak lagi dia
menderita. Dia berpakaian putih dengan diselimuti oleh cahaya Surgawi sambil
dia menunjuk kepada banyak sekali jiwa-jiwa yang bersukacita. Mereka semua
berterima kasih kepadanya dan menyebutnya sebagai ‘pembebas’ mereka. Sambil
naik kearah Surga, mereka menyanyikan lagu dari Mazmur : Salvasti nos de affligentibus nos, et odientes nos confudisti –
Engkau telah menyelamatkan kami dari musuh yang menodai kami, dan engkau telah
mempermalukan musuh yang membenci kami” (Mzm. 43). Yang dimaksud musuh mereka
disini adalah dosa, beserta setan yang menjadi penyulutnya.
No comments:
Post a Comment