Tuesday, August 18, 2020

VISI PASCA-COVID DARI KAUM ELIT GLOBALIS BAGI UMAT MANUSIA ...

 

JEANNE SMITS, PARIS CORRESPONDENT

 

BLOGS

 

SERGEY NIVENS / SHUTTERSTOCK.COM

 

 

VISI PASCA-COVID DARI KAUM ELIT GLOBALIS BAGI UMAT MANUSIA ADALAH BERSIFAT SATANIS,

ANTI-MANUSIA

 

https://www.lifesitenews.com/blogs/globalist-elites-post-covid-vision-for-humanity-is-satanic-anti-human

 

 

The World Economic Forum sebenarnya tidak mempromosikan ide bahwa manusia ‘harus tidak ada lagi' melalui banyak kalimat, namun ide seperti itu justru sudah ada, yaitu agar ‘manusia tidak ada lagi,’ dan hal ini patut dipertimbangkan oleh semua orang.

 

Fri Aug 14, 2020 - 8:05 pm EST

 

 

14 Agustus 2020 (LifeSiteNews) - World Economic Forum (WEF) banyak bicara tentang era "pasca-COVID". Ia secara terbuka menggunakan sebuah ‘epidemi ketakutan’ seputar virus korona Wuhan untuk mendorong dunia ke arah tertentu -- khususnya melalui promosi Great Reset yang direncanakan untuk dimulai pada Januari 2021 mendatang bersama dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan pangeran Wales. Lalu, kemana tujuannya?

 

Pelacakan rutin situs web weforum.org memberikan gambaran awal tentang dunia masa depan seperti yang disukai oleh komunitas kaum globalis. Forum Ekonomi Dunia (WEF) baru-baru ini menerbitkan presentasi yang menyanjung tentang "untact" – yaitu sebuah dorongan menuju "jarak sosial" (social distancing) yang bertahan lama, seperti yang dipromosikan oleh Korea Selatan. Ia juga menyarankan lima pembaharuan yang bertemakan ekologi sebagai hal yang harus dibaca. Salah satunya menampilkan seorang pahlawan wanita yang melakukan bunuh diri di tengah sebuah konferensi untuk menunjukkan bahwa hanya dengan hilangnya manusia akan dapat menyelamatkan pohon dan planet kita.

 

Postingan terbaru lainnya termasuk yang berjudul: "Jika membuka kembali sekolah-sekolah terlalu dini, hal ini dapat menyebarkan COVID-19 lebih cepat lagi -- terutama di negara berkembang," "Laporan-laporan tentang flu musiman mencapai rekor terendah di tengah pemberlakuan ‘jarak sosial’ global," "Virus corona telah mengurangi ruang aman bagi remaja LGBTQ," "Sejarah singkat rasisme dalam perawatan kesehatan,” “Coronavirus: Green recovery 'bisa mencegah pemanasan bumi sebesar 0,3C' pada tahun 2050,” dan seterusnya. Krisis COVID-19 juga mendorong Forum Ekonomi Dunia sekali lagi untuk mempromosikan impian yang berbau sangat sosialis tentang pendapatan pribadi yang dibayar oleh negara untuk semua orang, dengan judul "Pendapatan dasar universal adalah jawaban atas ketidaksetaraan yang diekspos oleh COVID-19."

 

Meskipun situs web Forum Ekonomi Dunia (WEF) secara rutin memperingatkan bahwa pendapat yang diungkapkan dalam cerita ini bukanlah pendapat organisasi (WEF) itu sendiri, tetapi faktanya adalah tetap, bahwa artikel-artikel ini telah dipilih dan didistribusikan di bawah panji WEF. Semuanya menuju ke arah yang sama.

 

Forum Ekonomi Dunia (WEF) memang benar untuk dirinya sendiri. Ini adalah forum yang, di bawah dorongan pendirinya, Klaus Schwab, sejak 1971 menyelenggarakan pertemuan tahunan rahasia di Davos, tempat para pendukung globalisasi terkemuka dunia bertemu. Para pemimpin pemerintahan dan pebisnis tingkat tinggi dari seluruh dunia berkumpul di resor ski kecil di Swiss, di bawah perlindungan ketat dari pasukan bersenjata lengkap, dan mendiskusikan bentuk masyarakat dan dunia yang akan datang.

 

Karena pertemuan itu semakin menjadi kurang rahasia dan lebih banyak lagi yang dipublikasikan, maka WEF telah memperlihatkan tujuannya secara lebih dan lebih jelas lagi dalam hal perubahan sosial dan ekonomi yang diinginkannya. Situs webnya, weforum.org, secara jelas membingkai "impian masa depan" globalisme dengan mendistribusikan nilai baik atau buruk kepada negara-negara dan para pemimpinnya.

 

Mengenai virus corona dan "jarak sosial," Korea Selatan mendapat nilai bagus. Korea Selatan telah mencapai hasil yang luar biasa dalam memerangi penyebaran virus corona Wuhan, dengan kurang dari 15.000 infeksi dan hanya 305 kematian, meskipun populasinya lebih dari 50 juta, dan Korea Selatan memperoleh hasil ini tanpa penguncian wilayah (Lockdown). Namun dari kasus yang termasuk non-krisis ini, pemerintah Moon Jae-in ingin mempromosikan "jarak sosial" dengan cara apa pun, melalui institusi masyarakat "tanpa kontak" (untact) yang terus dikembangkan.

 

Sebuah kata ungkapan baru bahkan telah diciptakan untuk menggambarkan cita-cita Korea Selatan: "untact" sebagai lawan dari "contact," sebuah neologisme yang layak untuk Newspeak 1984. Sampai saat ini, kita semua mengira kontak, pertemuan, tidak adanya isolasi, pertemuan dan pertukaran dengan keluarga, teman, kenalan, kolega, tetangga, dan pemilik toko dari segala jenis adalah bagian dari kekayaan dan kepenuhan hidup manusia. Bahkan saat ini, terlepas dari propaganda COVID-19, para lansia sering mengatakan bahwa kesepian adalah penderitaan terparah di usia tua. Tetapi virus korona Wuhan tampaknya memiliki fungsi untuk menghapus banyak kebebasan dan kegembiraan hidup. Dan hal itu membutuhkan – bahkan menuntut - “untact.” (contact: berhubungan; untact: tidak berhubungan atau tanpa kontak).

 

Dalam kisahnya pada 11 Agustus di situs WEF, Rosamond Hutt menjelaskan: "Pemerintah Korea Selatan ingin orang-orang menggunakan layanan nirsentuh (tidak bersentuhan) di dalam perang untuk menghentikan penyebaran COVID-19 dan membantu pemulihan ekonomi." Bagaimana caranya? Dengan menggunakan lebih banyak robot dan otomatisasi dan beralih ke cara digital.

 

Artikel itu menggambarkan sebuah kafe di Daejeon yang semua pegawainya adalah robot yang menyiapkan, menyajikan, dan mengomentari tentang minuman, untuk mengurangi kontak antara karyawan dan pelanggan -- atau lebih tepatnya, satu-satunya karyawan, karena bar tersebut hanya mempekerjakan satu orang: seorang koki pastry yang juga melakukan perawatan, pembersihan dan penyetokan ulang. Musuh terburuk manusia adalah manusia, seperti yang mereka katakan.

 

Sebuah "Kesepakatan Baru Digital" - bagian dari paket stimulus komprehensif lima tahun senilai $ 62 miliar -- akan membantu Korea Selatan untuk memperluas layanan yang tidak manusiawi ini. Rencana tersebut hadir dengan agenda yang luas: pembangunan 18 rumah sakit "pintar" dalam rangka menyediakan perawatan kesehatan jarak jauh, terutama untuk orang tua dan rentan, pendanaan untuk membantu usaha kecil dan menengah untuk mengatur pertemuan virtual dan purna jual jarak jauh, dan investasi dalam teknologi untuk robotika dan, tentu saja: drone.

 

Di Korea Selatan, belanja online dengan bantuan chatbots dan janji pertemuan dengan dokter virtual sudah mendapatkan momentumnya.

 

Di luar penyederhanaan dan penghematan waktu yang dapat dilakukan oleh konferensi video (jarak jauh), tidak boleh dilupakan bahwa penghapusan lawan bicara manusia secara bertahap juga berarti penghapusan pekerjaan dan kehangatan manusiawi. Digitalisasi mengarah pada penggantian manusia dengan mesin.

 

Robotisasi, yang secara teratur disebut WEF sebagai elemen utama dari "revolusi industri keempat" yang harus disertai dengan pemberlakuan pendapatan dasar universal, telah menemukan "fasilitator": COVID-19. Pria dan wanita sedang diteror oleh virus yang hampir tidak membunuh siapa pun di Korea Selatan (dan hampir tidak membunuh lagi di Prancis). Mereka secara bertahap dikondisikan: tidak lagi bersentuhan dengan sesama manusia satu sama lain, tidak lagi melihat sesama manusia satu sama lain, menganggap manusia satu sama lain sebagai produk yang menular, dan masing-masing orang bersukacita dalam berinteraksi hanya dengan layar monitor. Itulah yang ideal dari apa yang disebut "normal baru".

 

Kita telah mengetahui hal ini sejak zaman Kitab Kejadian: "Tidak baik bagi manusia untuk sendirian." Dan adalah tugas manusia untuk bekerja dengan keringat di keningnya -- bahkan jika hal itu berarti berbagi roti, garam, dan anggur dengan teman-temannya, dan beberapa bakteri sebagai bonus tambahan!

 

Fondasi kehidupan manusia dan sosial kita secara bertahap dibongkar oleh para penjual kematian baru. Makna kasih manusia, keluarga, prokreasi, identitas laki-laki dan perempuan, semua yang diberikan kepada kita sejak awal zaman, kini sudah terurai dan makin tipis. Sekarang persahabatan, kebersamaan, kedekatan antar manusia, dan juga pekerjaan, yang juga merupakan anugerah dari Tuhan, juga sedang dalam perjalanan ke luar batas yang sudah kita kenal selama ini. Apakah kita tidak bisa melihat di sini adanya unsur kebencian dari si Jahat terhadap umat manusia? Ini adalah kebencian yang berasal dari fakta bahwa umat manusia dipanggil bukan untuk “mengadakan jarak sosial,” tetapi untuk hidup kekal bersama dengan Tuhan di Surga, dan kita juga dipanggil oleh Tuhan untuk mengisi dunia ini dengan karunia kehidupan dengan murah hati.

 

Jika hal ini tampak tidak masuk akal, maka pertimbangkan hal berikut ini. Pada tanggal 29 Juli 2020, juga di situs web WEF, nampak seorang pria bernama Ti-han Chang, seorang dosen studi Asia-Pasifik di University of Central Lancashire, menyarankan bahwa sudah waktunya untuk memanfaatkan kepedulian ekologi baru yang lebih luas yang telah muncul - menurut dia - berkat krisis virus corona dan penutupan (lockdown) atas seluruh planet yang sudah dekat, untuk membaca lima buah novel yang menurutnya mencerahkan untuk zaman kita sekarang.

 

“5 buku ini akan membantu Anda terhubung dengan lingkungan dan memahami pentingnya dan urgensi krisis cuaca dan iklim saat ini,” tulis Ti-han Chang. Dekolonialisme, ekologi, feminisme, penegasan hak-hak binatang, kecaman terhadap "patriarki," dan masalah "pusaran sampah" di Pasifik Utara, menempati urutan teratas dalam tema-tema utama buku-buku tersebut.

 

Novel kelima dan terakhir direkomendasikan tanpa syarat. The Overstory, oleh Richard Powers, yang menampilkan seorang peneliti fiktif, Dr. Patrica Westerford, yang telah menerbitkan penelitiannya dan menunjukkan bahwa pohon adalah makhluk sosial yang tahu bagaimana berkomunikasi satu sama lain dan saling memperingatkan tentang bahaya. "Idenya, meskipun disajikan sebagai kontroversial dalam novel itu, sebenarnya didukung dengan baik oleh studi ilmiah saat ini," kata artikel dari WEF.

 

Faktanya, ia menambahkan: "Meskipun pekerjaannya yang inovatif, Dr. Westerford akhirnya bunuh diri dengan meminum ekstrak pohon beracun di sebuah konferensi -- untuk memperjelas bahwa manusia hanya dapat menyelamatkan pohon dan planet dengan cara manusia tidak ada lagi."

 

Komentar dari Ti-han Chang yang mengikuti novel ini: "Ini hanyalah beberapa buku dengan fokus khusus pada masalah lingkungan – yang sangat cocok untuk daftar bacaan Anda saat ini." Dia juga berharap bahwa kita semua bisa belajar dari penguncian wilayah saat ini dan "penurunan secara tiba-tiba" dalam hal aktivitas manusia dan emisi karbon: "Mungkin jika kita bisa belajar dari pengalaman ini, kita bisa bergerak menuju ke masa depan yang lebih hijau."

 

Sementara WEF tidak benar-benar mempromosikan gagasan bahwa manusia harus "tidak ada lagi" dalam banyak kalimat, tetapi gagasan itu (meniadakan manusia demi alam lingkunga) sudah ada di benak mereka untuk dipertimbangkan oleh semua orang.

 

*****

 

Kaum Elit Global Berkumpul Di Davos

Bill Gates Menghabiskan Dana $ 1,6 Miliar Guna Memaksa...

Genosida Oleh Komunis Cina

Pedro Regis, 5001 – 5005

Cdl. Zen: Vatikan Menempuh Kebijakan ‘Tunduk’ Kepada Pemerintah

Komunis Cina

Enoch, 13 Agustus 2020

LDM, 14 Agustus 2020

LDM – Kutipan Nubuat Tentang Kebingungan Besar

Kuil Setan Menawarkan Aborsi Gratis

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment