Wednesday, April 12, 2017

BERHATI-HATILAH TERHADAP SI PEMECAH-BELAH

BERHATI-HATILAH TERHADAP SI PEMECAH-BELAH, KARENA DIA TELAH BERADA DITENGAH-TENGAH KITA
BY STEVE SKOJEC ON SEPTEMBER 26, 2016



Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. (Rm. 16:17-18)

Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka.
Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.
Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri. (Titus 3:9-11)

Setan sedang bekerja keras di dalam Gereja Katolik. Orang bisa beralasan bahwa hal itu telah lama terjadi dan selalu seperti itu, tetapi ada sesuatu yang berbeda saat ini. Seperti yang dikatakan oleh Cardinal Burke baru-baru ini yang mengulangi nubuatan Bunda Maria di Akita,

“Jika hal ini (usaha untuk membela dan mempertahankan perkawinan) berarti akan terjadilah kardinal-kardinal melawan kardinal-kardinal, maka kita bisa menerima kenyataan bahwa … bahwa di dalam keadaan itulah kita berada saat ini.”

Salah satu kaidah yang paling sering diulang-ulang dalam wacana ajaran Katolik dan mungkin juga yang paling jelas disampaikan adalah bahwa : Iblis selalu menyerang keluarga. Dia telah melakukannya sejak di Taman Eden dulu. Meskipun hal itu telah diramalkan, tetapi ia terjadi dengan alasan: karena keluarga adalah merupakan batu bata fundamental dari peradaban, bangsa, dan yang paling penting, Gereja. Setiap pernikahan, dengan caranya sendiri, adalah merupakan gambaran dari persekutuan dari pribadi-pribadi yang hadir di dalam Tritunggal Yang Mahakudus, sebuah lingkaran persatuan dan cinta yang menghidupkan yang bersifat mandiri. Ini adalah tempat di mana jiwa-jiwa yang dilahirkan ke dunia ini dan, jika orang tua melakukan tugasnya dengan baik, meninggikan anggotanya untuk mengenal kebenaran dan masuk ke dalam misteri-misteri iman Katolik, satu-satunya jalan menuju keselamatan kekal. Menghancurkan keluarga, melemahkan realitas pokok yang mendasari institusi paling kuno dari kemanusiaan, berarti mengobrak-abrik tatanan penciptaan dan mencemari ekonomi keselamatan.

Dalam skala yang lebih luas dan dalam tataran mistik, Gereja Allah adalah juga sebuah keluarga, Mempelai Mistik Kristus, yang berada satu daging dengan Mempelai Ilahi (Yesus), dimana persekutuan mereka melahirkan ‘jiwa-jiwa yang telah diperbaharui dan dibersihkan,’ yang dihiasi oleh tanda yang tak terhapuskan, yaitu tanda pembaptisan, yang berarti bahwa ia sudah dipersiapkan bagi Surga. Bersama-sama, Mempelai Mistik (Gereja) dan Kekasih Surgawinya (Yesus Kristus) membesarkan Anak-anak Iman, mengasuh mereka, mengajari mereka, menyuapi mereka, memberi mereka pakaian rahmat dan memberi makan dengan Roti Kehidupan, yaitu Tubuh dan Darah Kristus. 
Karena itu tidaklah mengherankan jika setan memusatkan serangannya yang keji terhadap institusi ini (Gereja).
Apa yang nampak sedang terjadi di dalam Gereja saat ini tidak lain adalah sebuah kemenangan bagi setan. Musuh telah bersekongkol, merancang, menunggu, menyerang, dan anak-anak Allah menjadi tercerai-berai. St.Paulus telah memperingatkan uskup-uskup di Efesus:
“Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka (Kis.20:28-30).
Serangan ini berasal dari dua jurusan: dari luar, yaitu dari kuasa-kuasa neraka, yang berusaha melemahkan dan membusukkan keluarga Gereja, terutama pada para gembalanya; dan serangan dari dalam, menggunakan orang-orang dalam Gereja yang telah dibusukkan oleh setan, yang bertindak sebagai serigala yang menerkam siapa saja yang masuk diantara kawanan domba, menyerang setiap ajaran Kristus mengenai sexualitas manusia serta perkawinan, dengan tidak membiarkan satupun anggota kawanan yang terluput.
Ada sementara orang dalam keluarga Katolik yang mau mematuhi peringatan dari St.Paulus diatas. Dan mereka juga mau mendengarkan nasihat dari St.Petrus :”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Pet. 5:8-9). Dan mereka yang telah memutuskan untuk menolak serangan-serangan musuh, mereka yang memilih untuk tetap tabah dan teguh dalam ajaran Allah, mereka adalah tetap terhormat, tak terusik dan tidak berubah; dan tidak ada satupun uskup ataupun hirarki Gereja, betapapun tingginya kedudukan mereka, yang bisa mempengaruhi apa yang bersifat kudus.

Seperti yang dikatakan oleh uskup Athanasius Schneider bulan Nopember 2016 lalu:

Kenyataannya, suatu Perintah Ilahi, dalam kasus kita saat ini adalah Perintah ke enam, tak terceraikannya Sakramen Perkawinan, sebuah aturan yang telah disahkan secara Ilahiah, memiliki makna bahwa mereka yang berada dalam keadaan dosa berat tidak boleh menerima Komuni Kudus. Hal ini telah diajarkan oleh St.Paulus dalam suratnya yang diilhami oleh Roh Kudus yang tertuang dalam 1 Kor.11:27-30, dimana hal ini tak bisa dibatalkan, sama seperti Keilahian Kristus yang tak dapat dibatalkan oleh siapapun. (1Kor 11:27-30 : Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.) Seseorang yang masih terikat pada Sakramen Perkawinan yang tak bisa diputuskan itu, namun dia hidup dalam hubungan kumpul kebo dengan orang lain, maka Hukum Ilahi tidak mengijinkan dia untuk menerima Komuni Kudus. Jika Gereja saat ini secara terbuka mengijinkan hal itu, seperti yang banyak terjadi saat ini di berbagai negara, berarti Gereja melakukan penyangkalan terhadap kaidah ‘tak terceraikannya’ perkawinan Kristiani dan pada saat yang sama ia menolak Perintah ke enam dari Allah “Jangan berzina’. Tak ada institusi manusia, bahkan paus sendiri, ataupun sebuah Konsili Ekumenis, yang memiliki kewenangan dan kompetensi untuk membatalkan bagian yang paling kecil sekalipun, meski dengan cara tidak langsung, Sepuluh Perintah Allah ataupun Sabda Kristus yang berbunyi: ‘Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.(Mat 19:6)
[…]
Justru di dalam jantung Gereja itulah saat ini ada sejumlah orang yang berusaha menggerogoti dan melemahkan ajaran Tuhan kita, dimana hal itu telah menjadi sebuah kenyataan yang bisa disaksikan oleh seluruh dunia berkat jasa dari internet serta usaha keras dari beberapa jurnalis Katolik yang sangat peduli terhadap apa yang sedang terjadi terhadap Iman dan Gereja Katolik, karena mereka sangat menghargai harta warisan dari Yesus Kristus. Saya merasa sangat bersyukur demi melihat adanya beberapa orang jurnalis Katolik serta para blogger internet yang telah bertindak sebagai para pejuang Kristus yang menyoroti agenda-agenda para klerus yang sedang melemahkan ajaran abadi dari Tuhan kita. Para kardinal, uskup-uskup, imam-imam dan keluarga-keluarga Katolik, kaum muda Katolik, seharusnya berkata dalam hati mereka : Saya tidak mau berkompromi dengan semangat ‘berhala-baru’ dari dunia ini, meskipun semangat itu telah disebar-luaskan oleh beberapa orang uskup dan kardinal. Saya tidak mau menerima kesesatan dan penyalah-gunaan mereka terhadap Kerahiman Ilahi yang kudus serta paham ‘Pentekosta baru’ mereka; Saya tidak mau menaburkan serbuk kemenyan di hadapan patung idola mereka yang berupa ‘ideologi gender’, di hadapan ‘perkawinan kedua’, di hadapan perzinahan, meskipun uskup saya melakukan hal itu, tetapi saya tetap tidak mau. Dengan pertolongan Rahmat Allah saya akan memilih untuk menderita daripada mengkhianati seluruh kebenaran dan ajaran Kristus dalam masalah sexualitas manusia dan perkawinan.
Terutama saat ini, kekuatan-kekuatan yang telah menyatu untuk melawan lonjakan kesesatan dalam Gereja, yang kini  bergerak menderu-deru seperti luncuran gunung es, ternyata mereka juga dimanipulasi. Dalam beberapa minggu belakangan ini saya melihat tumbuhnya semangat perpecahan diantara mereka yang seharusnya bersatu di bawah panji-panji Kristus. Seperti sulur-sulur asap, musuh menabur benih keraguan dan perpecahan yang sangat halus sekali sehingga kita tidak bisa mengetahuinya. Kita menyibukkan diri dengan berbagai argumen yang tidak berhubungan dengan kenyataan bahwa setan sudah ada di hadapan kita. Kita melihat bahwa kesalahan orang-orang, dengan siapa kita bersekutu, telah mampu membuat kita menjadi gelisah. Beberapa dari sahabat kita, dengan siapa kita berjuang bersama untuk melawan tantangan mendatang, telah berbalik dan menempatkan dirinya berawanan dengan kita.
Saya yakin bahwa peristiwa-peristiwa ini, yang saya lihat semakin bertumbuh kejadiannya, adalah buah dari kampanye peperangan spirituil -- gangguan dan provokasi yang disengaja - yang dirancang untuk melemahkan efektivitas kita, untuk menghilangkan kesadaran kita, dan untuk menguras energi kita . Berhati-hatilah terhadap si pemecah-belah itu, yang sudah berada di tengah-tengah kita, yang menggodai kita untuk berpikir bahwa tujuan kita adalah lebih adil, penilaian kita adalah lebih tepat, dan metode-metode kita lebih patut dipuji. Carilah tanda-tanda penipuan dalam hidup anda sendiri selama saat-saat sulit sekarang ini. Waspadalah selalu terhadap konflik dan kepahitan serta gosip dan perdebatan yang sia-sia dan penilaian yang dilakukan pada orang-orang yang setuju dengan anda atas hal-hal yang penting - penilaian bahwa mereka tidak cukup layak, tidak cukup bersifat Katolik, tidak cukup berkomitmen untuk mengatasi penyebab dari semuanya ini. Buanglah semua itu. Berdoalah lebih banyak lagi. Mohonlah kebijaksanaan dan tuntunan dari Tuhan. Janganlah melakukan sesuatu tanpa lebih dahulu memohon agar Roh Kudus bekerja melalui anda, lakukanlah segala sesuatu demi Tuhan kita, melalui doa.

Kita telah bertempur melawan kerajaan-kerajaan dan penguasa-penguasa, yang lebih cerdik dan lebih mampu daripada kita. Mereka tahu bagaimana cara menipu, bagaimana menyulut dan memancing peristiwa-peristiwa, bagaimana memanipulasi orang dan keadaan sesuai dengan kelemahan sifat manusiawi kita. Apakah kita lebih baik daripada mereka yang telah tunduk kepada tipuan musuh? Bukankah kita telah melihat adanya pemimpin-pemimpin perjuangan yang kita hormati dan kita percayai, tetapi kemudian mereka berbalik karena kuasa-kuasa kegelapan dan menyingkir dari medan pertempuran? Kita tak akan bisa menang sedikitpun juga jika Allah tidak berpihak kepada kita. Kita harus ingat untuk selalu merendahkan diri, memohon untuk menjadi saranaNya hanya demi kemuliaanNya saja, bukannya memanfaatkan Tuhan di dalam pekerjaan yang kita percayai adalah demi Dia, sebagai sarana untuk membesarkan diri kita sendiri. Tindakan seperti ini bisa saja terjadi pada diri kita. Jika musuh sudah menemukan jalannya, maka dia bisa masuk ke dalam diri kita semua.

Berjuanglah seolah jiwa anda tergantung kepada perjuangan itu, dan memang seperti itulah keadaannya.
Hanya Tuhan yang bisa membendung gelombang yang datang kepada kita  saat ini. Hanya TanganNya saja yang dapat mengarahkan kita ke arah kemenangan. Namun, kita tidaklah dibebaskan dari tugas kita. Mereka yang tetap berada di dalam pertempuran ini untuk merebut jiwa Gereja dan perlindungan terhadap keluarga akan menjadi garis pertahanan terakhir. Tidak akan ada orang yang datang untuk menyelamatkan kita. Sedikit uskup yang telah berani berbicara mengenai kebenaran secara terbuka, sangat mungkin mereka adalah orang-orang yang akan menjadi pejuang sejati. Kita tidak bisa menempatkan harapan kita pada ‘mesin pembuat solusi’. Kita telah berada di ambang perpecahan besar, dan jika kita tidak berpegang teguh di dalam Iman akan Yesus Kristus, jika kita tidak memastikan bahwa kita melakukan kehendak Kristus dan bukan keinginan kita sendiri, maka kita akan gagal.

Waspadalah. Berusahalah selalu berada dalam keadaan rahmat. Berhati-hatilah jika anda mendengar bisikan orang-orang yang justru mengacaukan jiwa anda, yang mendorong anda untuk berselisih dengan mereka yang bersekutu dan bersahabat dengan anda. Musuh telah mengepung kita. Jumlah mereka lebih banyak dari pada kita. Mereka lebih kuat. Tetapi ingatlah akan semboyan peperangan Kristus sendiri: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin.”



Silakan melihat artikel lainnya disini : http://rosa-devosi.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment