Monday, May 29, 2017

FRANCIS MENUNJUK SEORANG YANG MENDUKUNG TINDAKAN SODOMI DAN LGBT...

FRANCIS MENUNJUK SEORANG YANG MENDUKUNG TINDAKAN SODOMI DAN LGBT UNTUK MENJADI USKUP PEMBANTU DI SAN DIEGO


Segalanya terus semakin memburuk dibawah Nabi Palsu ini

SAN DIEGO, California, May 29, 2017 (LifeSiteNews) – Bulan lalu PF menunjuk seorang pastor dari sebuah paroki yang terkenal sebagai pendukung LGBT untuk menjadi uskup pembantu di San Diego, dan bekerja dibawah seorang uskup yang liberal pula, Robert McElroy.

Pastor John P. Dolan, 54thn, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada PF melalui media the Times of San Diego, dan dia bertekad untuk mendukung dan menyertai Uskup McElroy dalam perutusannya (yang mendukung LGBT) di wilayah itu.

Pada Nopember 2016 Uskup McElroy memuji paroki tempat pastor Dolan bertugas, St.Yohanes Pembaptis di Hillcrest, karena paroki itu mendukung dan menyambut baik para pengikut LGBT.

Menurut media the Times of San Diego, Dolan akan terus melayani sebagai imam di St.Yohanes Pembaptis. Dia juga akan terus bertugas sebagai wakil bagi para klerus dan sebagai pastor di paroki St. Vincent de Paul.

Pada edisi bulan Desember, LifeSiteNews melaporkan bahwa direktur pelayanan bagi kaum dewasa muda di St. John the Evangelist adalah seorang pria gay (yang telah mengakui hal itu secara terbuka) yang bekerja untuk kelompok pembangkang radikal Call to Action. Pada saat itu sosok Santo Yohanes dilukiskan dengan melalui sebuah salib yang diselimuti oleh bendera pelangi di halaman media sosialnya. Kelompok aktivis LGBT New Ways Ministry merayakan penunjukan pastor Dolan pada blognya, pada hari Rabu. Editor Associate, Robert Shine, mengutip ucapan uskup terpilih yang mengatakan, "Ada dua bentuk yang berbeda dalam melakukan kegiatan gereja ... Seseorang yang sangat dialogis, dari segi dialogis, dan yang lainnya berasal dari pengertian monologis. Dan kita sedang berurusan dengan bidang monologis itu: Karena segala sesuatu berasal dari yang di atas, dan mungkin saja mereka mendapatkan perlindungan dari para pastor, dan kemudian turunlah beberapa pemikiran yang lain, tapi pada akhir dari itu semua 'Kita akan memberitahu anda apa yang harus anda pikirkan.."

“Kaum dewasa muda telah bisa dan banyak menerima pengalaman LGBT. Karena hal itu telah menjadi bagian dari dunia mereka, dan mereka memandang kepada kami sambil berkata: Apa sih masalahnya?”

Uskup McElroy berkata kepada media the San Diego Herald Tribune bahwa penunjukkan pastor Dolan adalah sejalan dengan keinginan dari PF, yang menghendaki dan menunjuk pastor-pastor (untuk melayani LGBT) dan bukan para teolog.

"Para teolog itu kurang abstraksi, dan lebih banyak pengetahuan tentang seluk beluk kehidupan," kata McElroy.

Pastor Dolan memperoleh kepastian atas penunjukkannya ketika dia melihat HPnya di dalam kamar pengakuan dosa dan membaca ada miss call dari perwakilan paus di Washington D.C.

“Kemudian aku mendengar ‘Berkatilah aku, Bapa, karena aku orang berdosa,” demikian kata Dolan kepada the Herald Tribune. “Maka itu adalah suatu pengakuan dosa yang terpanjang yang pernah kualami.“

Seorang penduduk asli San Diego, yang kemudian menjadi uskup pembantu di wilayah itu, sempat sekolah di sekolah Katolik setempat sebelum dia kuliah di seminari St. Francis dan Universitas San Diego. Dia memperoleh gelar Master of Divinity dan Master of Theology di Seminari St. Patrick di Menlo Park. Dia ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1989 oleh Uskup Leo T. Maher.

Uskup Maher adalah seorang kritikus terhadap sikap yang pro-LGBT dan melarang para imamnya untuk merayakan Misa Kudus bagi kelompok tersebut. Meski demikian selama masa penugasannya, San Diego sering diguncang oleh berbagai skandal, termasuk tuduhan oleh mantan seminaris Mark Brooks tentang adanya pesta seks dari kaum homoseksual di Seminari St. Francis dan pemerkosaan yang dialaminya pada 1982 oleh Pastor Nicholas Reveles. Namun Reveles, yang kemudian meninggalkan imamatnya, selalu membantah cerita Mark Brooks itu.

Menurut organisasi New Ways Ministry, "Francis Effect" dapat dilihat dalam penunjukkan juru bicara episkopal baru-baru ini: Francis menunjuk Bishop John Stowe dari Lexington, Kentucky, yang berpartisipasi dalam simposium nasional organisasi tersebut, dan Francis juga menunjuk Kardinal Blase Cupich dari Chicago yang mengatakan bahwa orang-orang LGBT harus "mengikuti suara hati nurani mereka" dan bahwa Gereja harus terbuka terhadap "jalan dan kreativitas baru dalam hal pendampingan keluarga-keluarga non-tradisional (keluarga dari pasangan sejenis dan kumpul kebo)."

Dengan adanya kenyataan bahwa pengaruh Paus terhadap uskup-uskup di  A.S. terus berkembang, maka organisasi New Ways Ministry (yang mendukung gaya hidup LGBT) mengamati sambil penuh harap, karena "saat ini ada delapan keuskupan yang kosong, dan ada beberapa lusin uskup yang mendekati usia pensiun wajib mereka."


Read the full article at Life Site News


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

Sunday, May 28, 2017

SEBAGIAN BESAR UMAT KATOLIK DAN BANYAK SEKALI USKUP-USKUP....

SEBAGIAN BESAR UMAT KATOLIK DAN BANYAK SEKALI USKUP-USKUP YANG MERASA ‘SUNGKAN’ MENGUTAK-ATIK KETIDAK-TAATAN SEORANG PAUS KEPADA PAUS-PAUS SEBELUMNYA


Dr. Silvas, dari Australia, menggambarkan "efek burung unta" pada umat Katolik yang telah merasa puas.

ROME, May 23, 2017 (LifeSiteNews) — Terlalu banyak umat Katolik terjebak dalam “katolisisme nyaman" yang membuat mereka enggan, dan bahkan tidak mampu, untuk melihat "masalah-masalah serius" yang terjadi saat ini yang sedang  menimpa Gereja, demikian kata seorang teolog terkenal dan salah satu pakar Katolik terkemuka di dunia tentang para Bapa Gereja.

"Sebagian besar umat Katolik nampaknya menjalani kehidupan mereka di dalam sebuah zona nyaman, persis seperti banyak uskup yang lebih memilih tinggal di sebuah zona “lebih baik aman-aman sajalah” demikian kata ilmuwan Katolik patristik dan klasik dari Australia, Anna Silvas. "Adalah tindakan yang ‘terlalu berani’ bagi mereka yang telah tinggal di dalam zona seperti itu untuk ‘mencungkil lebih dalam,’ karena apa yang mungkin mereka temukan akan sangat menantang mereka,” tambahnya.

Silvas secara khusus mengacu pada masalah yang timbul dari Amoris Laetitia dari Paus Fransiskus yang sangat kontroversial itu. Konsep baru tentang pengertian "belas kasihan" Apostolik telah digunakan oleh beberapa Kardinal dan uskup untuk membenarkan pemberian Komuni Kudus kepada orang-orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali yang hidup dalam perzinahan dan bahkan kepada orang-orang yang hidup dalam hubungan homoseksual. Kritikus Katolik mengatakan bahwa tindakan semacam itu berarti memberikan persetujuan diam-diam terhadap perzinahan dan homoseksualitas, tindakan yang selalu dikutuk oleh Gereja sebagai dosa seksual yang sangat tidak bermoral.

Silvas, seorang peneliti senior di Universitas New England di Australia, mengatakan bahwa terlalu banyak umat di dalam Gereja telah diatur oleh apa yang dia sebut "kepausan afektif", di mana semua yang dikatakan oleh paus adalah "sebuah titah dari surga."

Orang-orang terlalu takut untuk mempertanyakan apa yang terjadi ketika seorang paus "tidak taat" terhadap ajaran para paus sebelumnya, kata Silvas. Pertanyaan seperti itu tidak terpikirkan oleh kebanyakan umat Katolik, dia menambahkan.

Silvas mengatakan bahwa umat Katolik yang setia yang melihat adanya perbedaan antara apa yang dikatakan oleh paus mengenai ajaran Gereja dengan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja, merasa takut kalau dikatakan atau disebut "tidak setia”, padahal tidak boleh ada yang menjauh dari kebenaran.

Dia mengatakan bahwa umat awam, imam, uskup, kardinal, dan paus, semuanya "berkewajiban" untuk taat kepada Yesus Kristus dan ajaran Gereja Katolik yang didirikanNya.

"Gereja adalah sebuah perjanjian ketaatan bersama ... dan semuanya wajib mematuhi Yesus Kristus, sampai ke posisi puncaknya. Jadi Paus sendiri, terutama, harus taat," katanya.

Silvas mengatakan bahwa Paus Benediktus mungkin benar juga saat dia berbicara tentang Gereja yang setia, yang taat kepada Yesus Kristus, akan berupa Gereja yang lebih kecil bentuknya. Gereja yang setia akan menyusut jumlahnya, katanya, tapi mereka akan memiliki karakter yang berbeda dari yang saat ini sedang populer.

"Hanya komitmen yang sangat kuat terhadap Kristus yang akan membuat kita bisa keluar dari krisis saat ini," katanya.

"Tidak ada jawaban yang mudah kecuali kita semua harus berpaling di dalam hati dan perbuatan, kepada Tuhan kita, yang adalah Tuhan yang sejati, Guru, dan Mempelai Pria dari Gereja-Nya, kemarin, hari ini, dan selamanya," tambahnya.

Profesor Silvas bergabung dengan jajaran Profesor Princeton, Robert P. George, dan penulis Katolik Msgr. Charles Pope, yang mengajak umat Katolik untuk bangkit dari "Katolik yang nyaman" dan menjalani kebenaran Injil tanpa kompromi.

"Hari-hari kekristenan yang diterima secara sosial sudah berakhir, hari-hari Katolisitas yang nyaman sudah lewat," kata Prof. George dalam pidatonya tahun 2014. "Tidak mudah lagi menjadi seorang Kristiani yang setia, seorang Katolik yang baik, untuk menjadi seorang saksi yang otentik akan kebenaran Injil. Sebuah harga memang dituntut dan harus dibayar, "katanya.

Msgr. Charles Pope menulis dalam sebuah artikel tahun 2016 bahwa umat Katolik harus menyingkirkan segala "penghiburan" dan menjalankan iman mereka seolah-olah mereka sedang berperang.

"Nampaknya saat ini masih belum ada kesadaran bahwa kita sedang berperang dan bahwa umat Katolik perlu dipanggil untuk berkepala dingin, meningkatkan pemisahan dari dari budaya duniawi yang lebih luas, menyampaikan kesaksian yang berani dan meningkatkan kemartiran, dalam berbagai bentuknya" katanya.

Read the full article at Life Site News

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/


SAPUAN EKOR IBLIS

the Vortex
sapuan ekor iblis



Tinggal sedikit waktu yang tersisa


May 26, 2017

Jika anda melakukan survei atas kurun waktu 130 tahun atau lebih dari sejarah Gereja hingga kini, anda akan menemukan tema berulang yang dilakukan oleh berbagai paus. Jika kita kembali kepada Paus Leo XIII pada tahun 1884, dan jika kita menggunakan dia sebagai semacam penanda sejarah, kita bisa mengetahui penglihatan yang dialaminya tentang percakapan antara Tuhan dengan setan dimana setan mengklaim bahwa dia dapat menghancurkan Gereja Katolik. Dia mengatakan bahwa yang dia butuhkan adalah lebih banyak kekuatan dan waktu seratus tahun. Tuhan menjawab bahwa dia akan diberi waktu dan kekuatan. Karena penglihatan inilah maka paus Leo XIII segera menyusun doa St. Michael dan memerintahkannya untuk didaraskan di setiap Misa.

Selanjutnya, kita bisa mendapati Paus St. Pius X yang pada tahun 1907 mengeluarkan ensiklik Pascendi Dominici Gregis, di mana dia memperingatkan para uskup di dunia agar berhati-hati terhadap paham modernisme serta efeknya yang merusak Iman, dimana dia menyebutnya sebagai "sintesis dari semua ajaran sesat." Pada tahun 1910, dia memerintahkan agar "Sumpah menentang Modernisme dilakukan oleh siapapun yang mengajarkan Iman.” Pada tahun 1946, dalam sebuah pidato radio dari Roma sehubungan dengan Kongres Katekese Nasional Kedelapan di Boston, dia mengatakan hal berikut dalam kalimat pembuka:

“Tubuh, dimana anda menjadi anggotanya, kini terancam. Tubuh Kristus yang adalah Gereja-Nya (Efesus 1:23) tidak hanya ditindas oleh kekuatan musuh dari luar, tetapi juga oleh kekuatan-kekuatan dari dalam Gereja yang melemahan dan menjerumuskan. Anda telah diberi tahu tentang bahaya itu. Kelemahan yang terus berkembang, proses penyimpangan yang telah terjadi dan terus meluas... yang terjadi pada sebagian besar dari Gereja, yang terutama disebabkan oleh unsur ketidaktahuan dan keteledoran....”

Pada tahun 1977, Paus Paulus VI, pada hari peringatan penampakan terakhir di Fatima dimana Keajaiban Matahari terjadi, mengatakan berikut ini: "Sapuan ekor iblis berperan serta di dalam disintegrasi dunia Katolik. Kegelapan setan telah masuk dan menyebar di seluruh Gereja Katolik sampai ke puncaknya. Kemurtadan, hilangnya Iman, telah menyebar ke seluruh dunia dan memasuki tingkatan tertinggi di dalam Gereja."

Paus St. Yohanes Paulus terkenal mengatakan, beberapa saat sebelum terpilih sebagai paus non-Italia pertama selama berabad-abad ini:

Saat ini kita sedang berdiri menghadapi konfrontasi terbesar dalam sejarah yang pernah dialami oleh manusia. Saya tidak berpikir bahwa lingkaran luas masyarakat Amerika atau kalangan luas komunitas Kristiani menyadari sepenuhnya hal ini. Kita sekarang menghadapi konfrontasi terakhir antara Gereja dan anti-Gereja, antara Injil versus anti-Injil. Kita harus siap untuk menjalani ujian-ujian besar di saat yang tidak terlalu lama ke depan; cobaan-cobaan yang akan mengharuskan kita untuk siap melepaskan bahkan nyawa kita, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus dan bagi Kristus. Melalui doa-doa anda dan doa-doa saya, adalah mungkin untuk meringankan kesengsaraan ini, tapi tidak mungkin lagi untuk mencegahnya. ... Telah beberapa kali terjadi pembaharuan Gereja ditengah genangan darah! Kali inipun tidak akan berbeda.

Dan tentu saja Paus Benediktus XVI, Pastor Ratzinger di tahun 1960an, telah mengamati bahwa Gereja akan kehilangan banyak: "Gereja akan menjadi kecil dan harus memulai dari awal lagi. Gereja tidak akan lagi bisa menempati banyak bangunan besar yang dibangunnya di tengah kemakmurannya dulu. Jumlah pengikutnya banyak berkurang, maka Gereja juga akan kehilangan banyak hak istimewa sosialnya. "

Semua paus ini telah memprediksi dan memperingatkan, sejak abad ke-19, tentang apa yang telah dan masih akan terjadi. Namun meski begitu, di tengah kesulitan dan lumpuh layu ini, masih banyak juga jumlah umat yang masih tertidur, dan mereka itu termasuk para klerusnya. Sebenarnya, banyak di antara klerus yang harus bertanggung jawab, sampai pada tingkat tertentu, atas sebagian besar dari kerusakan yang terjadi ini. Seperti yang telah kami katakan di dalam ulasan Vortex sebelumnya, nampak sangat menyolok bagi kita di dalam media Church Militant ketika Obama melangkah melintasi panggung di Notre Dame (sebuah Universitas Katolik) pada tahun 2009. Pengkhianatan yang menyeluruh terhadap Iman yang diwakili pada sebuah peristiwa pada satu hari itu dan di satu tempat itu sudah cukup bagi kita untuk benar-benar merubah orientasi yang kita lakukan di sini; dan Vortex menyuarakan kesadaran itu.

Inilah fokus pembahasan dari buku terbaru kami, The Vortex: Trapping and Exposing Lies and Falsehoods, Volume One, yang tersedia hanya dengan mengklik linknya.

Ada begitu banyak hal yang salah di dalam Gereja akhir-akhir ini - dan begitu banyak orang yang buta terhadapnya - beberapa orang memang bersikap bodoh, orang yang lainnya memang sengaja, bahwa orang-orang Katolik yang mengerti kenyataan yang ada haruslah berpengalaman dalam hal ini sehingga mereka dapat membunyikan alarm untuk siapa saja yang akan dan mau mendengarkan. Vortex mengumpulkan banyak contoh kehancuran lengkap yang sekarang kita alami sehingga anda bisa menjadi sangat akrab dengan semua kejadian itu dan membantu orang lain untuk mengerti.


Memang, Tuhan tidak akan meninggalkan GerejaNya. Tapi itu tidak berarti kita bisa berdiri dan diam saja dan tidak berbuat apa-apa. Kita harus melakukan semua yang kita bisa. Itulah sebabnya kami menetapkan upaya kerasulan ini. Dan itulah mengapa kami menulis buku ini. Untuk membantu orang menjadi sadar dan membantu anda, membantu mereka, menjadi lebih sadar akan keadaan yang sebenarnya terjadi.


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://rosa-devosi.blogspot.co.id/

SEORANG CARDINAL (CARDINAL JOSEPH TOBIN) DITUNJUK OLEH PF ....

SEORANG CARDINAL (CARDINAL JOSEPH TOBIN) DITUNJUK OLEH PF UNTUK MENYAMBUT ROMBONGAN LGBT YANG ‘BERZIARAH’ KE SEBUAH KATEDRAL

by Doug Mainwaring

Brosur dari kelompok LGBT yang berkunjung ke Cathedral Basilica of the Sacred Heart, Newark, New Jersey


May 26, 2017 (LifeSiteNews) — Minggu, 21 Mei 2017, Cardinal Joseph Tobin secara pribadi menyambut hangat kedatangan kaum homosex di Cathedral Basilica Hati Kudus di Newark sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “Peziarahan LGBT.”
Tidak jelas berapa orang LGBT yang datang ke tempat itu, namun foto menunjukkan bahwa tidak begitu banyak yang mengikuti acara itu di New York City.
Di dalam Facebooknya, Fr. James Martin, SJ, yang dipuji-puji oleh seorang pembangkang Katolik  Sister Jeannine Gramick, salah satu pendiri dari organisasi New Ways Ministry karena telah memperlihatkan betapa Rosario dan bendera pelangi (ciri khas kaum LGBT) bisa saling menyatu dengan damai, demikian pesan ucapan selamat kepada Cardinal, dengan berkata Bravo !


Bravo ! Selamat datang semuanya ! Cardinal Joseph Tobin, Uskup Agung wilayah Newark menyambut hangat tamunya dari kelompok LGBT yang ‘berziarah’ ke Katedral Basilika Hati Kudus di Newark, akhir pekan ini. Kelompok itu disponsori oleh dua wilayah keuskupan, untuk ‘berziarah ke gereja itu sebelum Misa Kudus berlangsung. Saya bersyukur dan berterima-kasih kepada Yang Mulia atas sambutannya ini, sambutan kepada kelompok orang-orang yang merasa dikucilkan dari gereja mereka.


Menurut komentar sebuah web LGBT Katolik (???) : silakan lihat disini
Yang cukup menarik, Cardinal Tobin adalah salah satu pejabat teras Vatikan dan gereja Amerika Serikat yang memuji-muji buku Fr. Martin yang akan segera terbit, buku yang berbicara mengenai dukungannya kepada kaum gay : Building A Bridge: How the Catholic Church and the LGBT Community Can Enter into a Relationship of Respect, Compassion, and Sensitivity.  



Selanjutnya Martin berkata: “Saya bersyukur dan berterima-kasih kepada Yang Mulia atas sambutannya ini, sambutan kepada kelompok orang-orang yang merasa dikucilkan dari gereja mereka.”



Martin adalah salah satu anggota kelompok kecil klerus yang berpengaruh besar, dan semakin besar saja anggotanya, yang berusaha untuk memutar-balikkan ajaran magisterium Gereja dan berusaha melanggar hukum alam dengan cara menerima relasi homosex dengan menganggap bahwa relasi itu adalah sama dengan relasi antara suami-istri, laki-laki dan perempuan.  

Begitulah peristiwa yang diorganisir oleh Keuskupan Agung Newark itu sejalan dengan gerakan kerja sama antar iman (the Interfatih Collaborative), yaitu sebuah kelompok yang ‘menganjurkan dan mendorong’ diadakannya dialog untuk mewujudkan model perutusan LGBT yang efektiv. Menurut web dari kelompok itu Cardinal Tobin telah bergabung dengan kelompok itu atas dukungan para klerus setempat. Fr. Francis Gargani, C.Ss.R., dengan didukung oleh seorang diakon dari Keuskupan Agung Newark, dan di hadapan Uskup Cruz, rektor dari katedral itu, beberapa orang imam dari berbagai ordo dan diosis ikut merayakan pertemuan para LGBT itu. Sebelum memberikan berkat terakhirnya, Uskup Cruz berbicara bahwa dia sangat bahagia dan antusias karena basilika itu telah membuka pintu-pintunya untuk menyambut semua orang yang mengasihi Allah.
Media LifeSiteNews berusaha menghubungi pejabat Keuskupan Agung Newark, pejabat yang mengurusi kerja sama antar keuskupan, serta para pemimpin dari New Ways Ministry untuk meminta komentar mereka atas peristiwa barusan, namun tidak satupun yang bersedia. 
Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

Thursday, May 25, 2017

CDL. SARAH: USKUP-USKUP BERSIKAP DIAM

CDL. SARAH: uskup-uskup bersikap diam mengenai krisis yang terjadi di dalam gereja
NEWS: WORLD NEWS

Card. Sarah


by Bradley Eli, M.Div., Ma.Th.  •  ChurchMilitant.com  •  April 27, 2017   

BANYAK YANG TIDAK BERANI MENGHADAPI KENYATAAN BAHWA GEREJA SEDANG MENGHANCURKAN DIRINYA SENDIRI

ROME (ChurchMilitant.com) - Para uskup tidak takut jika berbicara mengenai keadilan sosial, pengungsi, dan kemiskinan, namun mereka bungkam terhadap krisis yang sebenarnya yang kini sedang melanda Gereja. Pada wawancara 18 April 2017 dengan Aid to the Church in Need (ACN), sebuah lembaga amal internasional dari Gereja Katolik, Cdl. Robert Sarah memberikan pernyataan ini. “Gereja telah membuat kesalahan besar dalam krisis yang sangat nyata saat ini, jika ia mengira bahwa misinya yang sebenarnya adalah memberikan solusi atas segala persoalan politik, yang berhubungan dengan keadilan, perdamaian, kemiskinan, penerimaan kaum pengungsi, dsb, sementara ia melupakan evangelisasi,” demikian katanya.

Dalam ucapannya yang disampaikan awal bulan ini pada sebuah konperensi liturgi di Jerman, kepala dari the Congregation of Divine Worship ini berbicara masalah yang sama: “Banyak yang tidak berani menghadapi kenyataan bahwa Gereja sedang menghancurkan dirinya sendiri melalui penghancuran atas fondasi-fondasi dari doktrin, liturgi, moral dan pastoralnya.”

Banyak sekali uskup, demikian Cdl. Sarah berkata, terlibat dalam penghancuran Iman ini, yang merupakan inti dari krisis Gereja. "Lebih banyak lagi suara dari para uskup yang berkedudukan tinggi yang dengan tegas menolak adanya kesalahan doktrinal, moral dan liturgi yang telah dikutuk seratus kali, dan mereka berusaha menghancurkan sedikit iman yang masih tersisa di dalam hati umat Allah," katanya.

Cardinal Joseph Ratzinger, yang kini menjadi Paus Emeritus Benedict XVI, telah menunjukkan berbagai kesempatan dimana para klerus yang salah asuh yang kemudian menjadi uskup-uskup, mereka telah menjadi sumber dari berbagai masalah yang muncul di dalam Gereja. Dia mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena pendidikan yang salah yang mereka terima, bukan karena iman yang salah, hingga para klerus itu kemudian menjadi uskup-uskup yang bermasalah.

Para uskup dan klerus telah berdiam diri saja ketika pada tahun 1960an banyak pasangan memilih untuk menggunakan kontrasepsi, dengan alasan hal itu sudah melalui pertimbangan hati nurani mereka, dan mereka masih menerima Komuni Kudus. Saat inipun uskup-uskup bersikap diam atas isu yang sama, ketika ada pasangan yang bercerai dan menikah lagi secara sipil, dimana mereka masih aktiv secara sexual, dan dengan ‘hati nuraninya’ mereka memilih untuk menerima Komuni Kudus.  

Dalam wawancaranya dengan ACN minggu yang lalu, Cdl. Sarah berbicara mengenai kebingungan dan penyimpangan iman ini diantara uskup-uskup:  

Tanpa adanya iman yang sama, maka Gereja berada dalam ancaman kebingungan dan secara progresiv ia bisa terpeleset ke dalam penyimpangan dan perpecahan. Saat ini terjadi resiko yang gawat untuk terjadinya perpecahan di dalam Gereja, perpecahan di dalam Tubuh Misitk Kristus, dengan menekankan kepentingan identitas nasional di dalam Gereja-gereja, serta pada kapasitas mereka untuk membuat keputusan bagi diri mereka sendiri dalam masalah yang krusial seperti doktrin dan moral.

Watch the panel discuss the concerns our audience has concerning silent bishops in The Download—Church Militant Polls.

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/