Tuesday, November 29, 2016

Vol 2 - Bab 36 : Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 36

Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci
Ikatan yang erat yang menyatukan kita dengan mereka
Kesucian kanak-kanak
Cimon dari Athena dan bapanya di penjara
St.John dari Tuhan menyelamatkan orang yang sakit dari kebakaran

Jika kita diwajibkan untuk menolong jiwa-jiwa suci karena kebutuhan yang sangat mendesak dari mereka, betapa lebih besar lagi motiv ini jika kita ingat bahwa jiwa-jiwa itu disatukan dengan kita dengan ikatan yang amat suci, ikatan darah, dengan melalui Darah Yesus Kristus, dan dengan ikatan daging dan darah manusiawi, dimana kita telah dilahirkan menurut daging.

Ya, didalam Api Penyucian terdapat jiwa-jiwa yang disatukan dengan kita melalui ikatan keluarga dekat. Dia mungkin adalah ayah atau ibu kita, yang merana ditengah siksaan-siksaan yang mengerikan itu, yang mengulurkan tangan-tangan mereka meminta bantuan kita. Apa yang tidak akan kita lakukan bagi ayah atau ibu kita, jika kita tahu mereka sedang merana didalam lembah yang memuakkan itu ? Seorang Athena kuno, Cimon yang terkenal itu, sangat bersedih demi melihat ayahnya dipenjara oleh para kreditornya yang kejam, karena dia tak mampu membayar hutang-hutangnya. Apa yang lebih menyedihkan lagi, dia tak bisa mengumpulkan sejumlah uang yang cukup untuk melunasi hutang ayahnya itu, dan orang tua itu kemudian meninggal didalam penjara. Cimon segera pergi ke penjara dan meminta agar orang-orang itu mau menyerahkan mayat ayahnya agar dia bisa menguburkannya. Tetapi permintaan ini ditolak, dengan alasan bahwa dia belum bisa membayar hutang ayahnya. “Ijinkanlah aku menguburkan ayahku lebih dahulu”, kata Cimon, “nanti aku akan kembali kesini dan menggantikan dia didalam penjara”.

Kita menghargai rasa kasih kekeluargaan ini dan bukankah kita patut meniru hal itu ? Bukankah, mungkin, ayah atau ibu kita berada didalam penjara Api Penyucian ? Bukankah kita juga wajib membebaskan mereka dengan ongkos kurban yang besar sekalipun ? Lebih beruntung dari pada Cimon, didalam kehidupan ini kita bisa membayar hutang-hutang keluarga kita yang ada didalam Api Penyucian. Kita tak perlu menggantikan mereka dengan jalan tinggal didalam penjara Api Penyucian. Sebaliknya, untuk membebaskan mereka, berarti mambayar hutang itu dengan tebusan kita sendiri.

Kita juga menghormati kemurahan hati St.John dari Allah yang berani menghadapi ganasnya nyala api untuk menyelamatkan orang yang sakit selama terjadinya kebakaran. Hamba Allah yang mulia ini meninggal di Granada pada tahun 1550, sambil berlutut dihadapan patung Yesus yang disalib, yang dia peluk dan terus dia pegang erat di tangannya, hingga dia menyerahkan jiwanya kepada Tuhan. Lahir dari orang tua yang miskin dan dia berkewajiban menolong dirinya sendiri dengan cara menggembalakan ternak. Dia kaya didalam iman dan kepercayaan kepada Allah. Dia senang sekali berdoa dan mendengarkan Sabda Allah. Hal ini merupakan fondasi dari kesuciannya yang besar yang dia miliki. Suatu kotbah oleh Pastor John d’Avila Venerabilis, murid dari Andalusia, memberikan kesan yang cukup dalam pada dirinya sehingga dia bertekad untuk mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang sakit. Tanpa dorongan yang lain kecuali dari kemurahan hatinya dan kepercayaannya kepada Allah, dia berhasil membeli sebuah rumah tinggal untuk mengumpulkan orang-orang yang sakit dan terlantar, agar dia bisa memberi mereka makanan bagi tubuh dan jiwa mereka. Tempat perawatan ini kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit ‘Royal Hospital’ di Granada, sebuah bangunan yang besar yang dipenuhi dengan banyak orang-orang jompo dan cacad. Suatu hari Rumah Sakit itu terbakar dan banyak orang sakit disitu berada dalam bahaya. Mereka semua sudah dikelilingi oleh nyala api dari segala jurusan, sehingga tidak mungkinlah untuk bisa menyelamatkan mereka. Mereka meneriakkan seruan-seruan yang amat menyayat hati, memanggil-manggil Surga dan bumi untuk meminta tolong. John menyaksikan semuanya ini dan kemurahan hatinya mendorongnya untuk bertindak. Dia segera berlari menembus api itu dan berjuang ditengah kobaran api dan asap tebal hingga dia mencapai tempat tidur orang-orang yang sakit itu. Lalu dia menggendong mereka di punggungnya menuju ke tempat yang aman. Dia merasa harus menembus api yang ganas itu dan berjuang ditengah panasnya api selama sekitar ½ jam sehingga orang kudus itu tidak lagi mampu menanggung panasnya api itu. Nyala api membakar tubuhnya, pakaiannya, bahkan rambut di kepalanya, dan Tuhan ingin menunjukkan dengan sebuah keajaiban betapa amat menyenangkan Dia kemurahan hati hambaNya itu. Dan mereka yang menyelamatkan, bukan tubuh, melainkan jiwa-jiwa dari nyala api di Api Penyucian, apakah perjuangan mereka kurang penting di mata Allah ? Apakah segala keperluan, tangisan dan erangan-erangan jiwa-jiwa di Api Penyucian itu kurang menyentuh hati orang-orang yang memiliki iman ? Apakah lebih sulit untuk menolong mereka ? Perlukah kita menceburkan diri kita sendiri kedalam nyala api itu untuk bisa menyelamatkan jiwa-jiwa di Api Penyucian ?

Yakinlah bahwa kita memiliki semua sarana di tangan kita untuk mengurangi penderitaan mereka, dan Tuhan tidak menuntut usaha yang terlalu berat dari kita. Dan kemurahan hati dari jiwa-jiwa yang bersemangat mengilhami mereka untuk melakukan kurban-kurban yang heroik, bahkan dengan ikut merasakan siksaan-siksaan saudara mereka didalam Api Penyucian.


Saturday, November 26, 2016

Vol 2 - Bab 35 : Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 35

Motiv didalam menolong jiwa-jiwa suci
Kemuliaan dari karya pertolongan ini
Pertentangan antara Br.Benediktus dan Br.Bertrand

Ketika kita begitu gencarnya memuji dan menganjurkan doa-doa bagi orang yang meninggal, kita tidak menarik kesimpulan bahwa perbuatan-perbuatan baik yang lain haruslah juga dilakukan sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan yang ada. Satu-satunya ujub yang kita perhatikan adalah memberikan pengertian yang benar tentang kemurahan hati Tuhan terhadap orang yang meninggal serta memberikan inspirasi kepada orang yang hidup dengan keinginan untuk menjalankan hal itu.

Lebih lagi karya-karya kemurahan hati dimana sasarannya adalah keselamatan jiwa-jiwa, semuanya bersifat mulia, dan biasanya kita menempatkan pertolongan kepada orang yang meninggal lebih tinggi dari pada pertolongan kita bagi pertobatan para pendosa.

Diceritakan didalam the Chronicles of the Friars Preachers, bahwa sebuah kontroversi telah timbul antara dua orang religius dari ordo itu, Br.Benediktus dengan Br. Bertrand, tentang masalah permohonan bagi orang yang meninggal. Kejadiannya adalah sebagai berikut : Br.Bertrand sering merayakan Misa Kudus bagi para pendosa dan selalu berdoa demi pertobatan mereka dan dia melakukan tindakan silih yang keras terhadap dirinya sendiri demi mereka. Namun dia jarang dijumpai ikut Misa Kudus dengan jubah hitam bagi orang yang meninggal, sedangkan Br.Benediktus memiliki devosi yang besar kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian. Setelah ditanya mengapa dia melakukan hal itu, Br.Bertrand menjawab :

“Karena jiwa-jiwa di Api Penyucian sudah pasti akan menerima keselamatan mereka, sementara para pendosa itu terus menerus dihadapkan kepada bahaya kejatuhan mereka kedalam neraka. Keadaan manakah yang lebih patut disayangkan dari pada suatu jiwa yang berada dalam keadaan dosa berat ? Dia bermusuhan dengan Allah dan diikat oleh rantai setan, tertahan didalam lembah neraka oleh rantai kehidupan yang lemah, yang bisa putus setiap saat. Para pendosa berjalan di jalan kemusnahan. Jika dia terus maju, dia akan jatuh kedalam lembah yang kekal. Karena itu kita harus menolong dan mempertahankan mereka dari kemalangan yang terbesar, dengan cara berusaha memperoleh pertobatannya. Selain itu bukankah Putera Allah datang ke dunia ini dan mati disalib demi menyelamatkan para pendosa. St.Denis juga meyakinkan kita bahwa hal yang paling ilahiah adalah bekerja bersama Allah demi keselamatan jiwa-jiwa. Mengenai jiwa-jiwa di Api Penyucian ? Mereka itu sudah pasti selamat, keselamatannya yang kekal sudah diyakinkan. Mereka menderita, menjadi mangsa dari siksaan yang mengerikan, namun mereka tidak takut akan bahaya neraka, dan penderitaan mereka pastilah berakhir. Hutang mereka semakin berkurang setiap harinya dan segera mereka akan menikmati kebahagiaan kekal. Sementara itu para pendosa terus menerus berhadapan dengan kutukan, kemalangan yang paling mengerikan yang bisa mengenai makhluk Allah”.

Br.Benediktus menjawab :”Semua yang kau katakan itu memang benar, namun terdapat pertimbangan lain yang harus dipikirkan. Para pendosa itu adalah budak-budak setan atas kemauannya sendiri yang bebas itu. Kuk mereka sudah mereka pilih sendiri. Mereka bisa memutuskan rantai yang mengikat dirinya jika mereka mau. Sedangkan jiwa-jiwa malang didalam Api Penyucian hanya bisa mengeluh dan memohon pertolongan dari orang-orang yang hidup. Tidaklah mungkin bagi mereka untuk memutuskan belenggu kaki yang membuatnya menjadi tawanan dari nyala api itu. Andaikan saja aku berjumpa dengan dua orang pengemis, yang satu dalam keadaan sakit, lumpuh, dan tanpa daya, betul-betul tak mampu mencari penghasilan bagi hidupnya. Pengemis yang lain, meskipun dia sangat bersedih, tetapi masih muda dan kuat. Manakah diantara keduanya yang lebih layak menerima sedekahmu itu ?”.

“Tentu saja pengemis yang tak mampu bekerja itu”, jawab Br.Bertrand.

“Baiklah saudaraku yang terkasih”, lanjut Br.Benediktus, “begitu juga halnya dengan para pendosa dan jiwa-jiwa suci didalam Api Penyucian. Mereka tidak mampu menolong dirinya sendiri. Saat untuk berdoa, mengaku dosa, dan melakukan perbuatan baik demi kepentingannya sendiri sudah lewat baginya. Hanya kita sajalah yang bisa meringankan penderitaan mereka. Sungguh benar bahwa mereka berhak menerima penderitaan itu sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Namun kini mereka merintih dan menyesali dosa-dosa itu. Mereka berada didalam rahmat dan persahabatan dengan Tuhan, sedangkan para pendosa itu menjadi musuhNya. Tentu saja kita harus berdoa demi pertobatan para pendosa itu, namun kita harus melaksanakan kewajiban kita terhadap jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian, yang begitu dikasihi oleh Yesus. Marilah kita menaruh belas kasihan kepada para pendosa, tetapi janganlah kita melupakan bahwa mereka memiliki semua sarana keselamatan di tangan mereka. Mereka seharusnya memutuskan ikatan dosa itu dan menjauhi bahaya kutukan yang mengancam mereka. Bukankah jelas sekali bahwa jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian itu lebih membutuhkan sebagian besar dari kemurahan hati kita ?”.

Begitu kuatnya pengaruh dari argumen-argumen ini dimana Br.Bertrand bertahan dengan pendapatnya semula. Namun pada malam berikutnya dia mengalami sebuah penampakan dari jiwa didalam Api Penyucian yang membuatnya mengalami rasa sakit yang ditanggung oleh jiwa itu. Penderitaan itu begitu kerasnya sehingga hampir-hampir tidak mungkin kita menanggungnya. Lalu seperti yang dikatakan oleh nabi Yesaya, siksaan mendatangkan pengertian baginya Vexatio intellectum debit (Yes. 28:19), dan dia diyakinkan bahwa dia akan melakukan lebih banyak lagi demi jiwa-jiwa yang menderita itu. Pagi berikutnya, dengan dipenuhi oleh rasa belas kasih, dia naik ke tangga altar dengan berpakaian hitam, dan mempersembahkan Kurban Kudus bagi orang yang meninggal.



Thursday, November 24, 2016

Kiriman dari bu Lucy : Dubia empat Kardinal kepada PF

“Dubia” Empat Kardinal Kepada Paus Francis – Apa dan Mengapa?



Pada tanggal 14 November yang lalu muncul berita mengejutkan di media-media dan blog-blog Katolik yang memuat dan mengulas berita tentang “dubia” empat Kardinal kepada Paus Francis. 

Dari banyak umat beriman yang mengikuti berita-berita tersebut, masing-masing memiliki pandangannya sendiri tentang dubia tersebut. Secara umum umat awam maupun hirarki terbelah dua dalam memaknai dubia itu, ada yang setuju dan mendukungnya tetapi ada pula yang tidak setuju dan mengecamnya. Garis perpecahan di dalam Gereja Katolik yang semula tipis dan samar kini semakin jelas dan tegas.

Sebenarnya, apakah dubia itu dan apa yang mendorong empat Kardinal menulis dubia mereka kepada Paus Francis dan mengapa mereka mempublikasikan dubia tersebut? 

Latar Belakang

Pada tanggal 19 September 2016, Empat kardinal telah mengirim kepada Paus Francis sebuah surat bersejarah yang ditandatangani bersama. Surat tersebut dikirim secara pribadi kepada Paus bersama dengan “dubia” yaitu, serangkaian pertanyaan formal dan serius – yang mengharapkan jawaban “Ya” atau “Tidak” dari Paus, guna mengklarifikasi makna dari dokumen Amoris Laetitia – terutama pasal VIII yang kontroversial itu. Mereka juga mengirim salinan surat dan dubia itu kepada Kardinal Gerhard Ludwig Müller, Kepala Kongregasi untuk Ajaran Iman – yang memiliki kompetensi khusus mengenai pertanyaan tersebut

Anjuran Apostolik Amoris Laetitia, sebagai rangkuman hasil sinode “keluarga” pada Oktober 2014 dan 2015, telah menimbulkan sejumlah pertanyaan dan keraguan di benak para Uskup, imam, teolog dan umat beriman, dimana mereka memberikan interpretasi yang saling bertentangan. Banyak hal telah disampaikan kepada Paus dan dibahas secara terbuka, namun belum pernah ada klarifikasi formal yang jelas dan tegas dari Paus. Maka dalam upaya memperoleh kejelasan itu, empat Kardinal telah mengajukan secara resmi 5 butir pertanyaan atau keraguan mendasar mereka kepada Bapa Suci, mengenai iman dan moral berdasarkan Amoris Laetitia.

Keempat kardinal tersebut adalah: Card. Walter Brandmüller, Card. Raymond L. Burke, Card. Carlo Caffarra dan Card. Joachim Meisner. Tiga di antara mereka adalah kardinal pensiunan, sehingga tidak dapat dipindahkan dari kedudukan mereka oleh Paus – yang sebelum ini menunjukkan kecenderungan untuk mencabut atau memindahkan orang-orang yang tidak sejalan dengan visinya. Sementara Kardinal Burke adalah satu-satunya yang belum pensiun. 

Substansi dari dokumen empat Kardinal itu disebut "Dubia", bentuk jamak dari kata latin “dubium”, yang artinya pertanyaan atau keraguan. Ketika di dalam Gereja muncul pertanyaan atau keraguan atas hal-hal penting yang berkaitan dengan iman atau praktek dari iman – yang mempengaruhi banyak umat beriman, maka sudah menjadi tradisi bagi Para Uskup atau imam atau umat beriman untuk merumuskan secara formal pertanyaan atau keraguan tersebut kepada Paus dan pejabatnya yang berkompeten untuk menangani hal tersebut. Gereja merespon pertanyaan-pertanyaan itu dengan "ya" atau "tidak", kadang dengan penjelasan. Mekanisme ini sesungguhnya praktek yang terhormat dan sudah menjadi tradisi dalam Gereja.

Tanggal surat “Dubia” itu adalah sepuluh hari setelah munculnya 'bocoran' surat Paus kepada para uskup dari Wilayah Buenos Aires Argentina, yang isinya menyebutkan bahwa Paus sangat setuju dengan penafsiran mereka terhadap pasal 8 dari Amoris Laetitia yang kontroversial itu, dan menyebutnya sebagai satu-satunya penafsiran yang valid. (Radio Vatican telah mengeluarkan konfirmasi bahwa surat Paus tersebut adalah asli)

Catatan: Para uskup Buenos Aires sebelumnya telah membuat Panduan untuk menafsirkan Amoris Laetitia dan mengirim salinannya kepada Paus. Dalam panduan itu mereka menulis salah satunya bahwa, Amoris Laetitia, dalam kasus-kasus tertentu, dapat mengizinkan pemberian Komuni Kudus kepada pasangan Katolik yang bercerai (tanpa surat pembatalan pernikahan) dan menikah lagi, meskipun ia tetap tinggal bersama pasangan barunya dan aktif secara seksual.

Dapat dimengerti bahwa isi surat Paus itu telah menuai kritikan dan pertanyaan. Namun di sisi lain ada pula yang mendukung penafsiran para uskup Argentina itu. Kebingungan dan keresahan semakin merebak, Paus tetap diam dan tidak memberikan komentar atau klarifikasi yang jelas mengenai hal itu, seakan membiarkannya mengambang dan menjadi bahan perdebatan dimana-mana.

Agaknya, masalah inilah salah satunya, yang mendorong keempat Kardinal menulis surat dan dubia mereka kepada Paus sepuluh hari kemudian – sebagai puncak kebingungan dan keresahan mereka – agar ada klarifikasi yang jelas dan tegas dari Paus sendiri. 

Mengapa perlu dipublikasikan?
Keempat Kardinal itu berharap bahwa Paus Francis berkenan menjawab dubia mereka agar semuanya menjadi jelas. Setelah hampir dua bulan menunggu, mereka akhirnya harus menerima bahwa Bapa Suci memutuskan untuk tidak menanggapi “dubia” mereka. Ini ditafsirkan oleh mereka sebagai undangan untuk melanjutkan refleksi dan diskusi dengan tenang dan penuh hormat. Maka kemudian mereka membuka isi surat dan dubia mereka kepada seluruh umat beriman dengan disertai sebuah penjelasan, dan memberi kesempatan kepada umat untuk mengetahui keprihatinan mereka yang mendalam, yang menyentuh langsung kepada integritas iman Katolik.

Mereka juga menyatakan harapan mereka bahwa hal itu tidak ditafsirkan sebagai "bentuk politik dalam Gereja" atau menyebabkan mereka secara tidak adil dituduh sebagai "musuh dari Bapa Suci” serta “orang-orang yang tidak memiliki belas kasihan". Sebaliknya mereka mengatakan bahwa, apa yang telah dan sedang mereka lakukan adalah bersumber dari kasih kolegial mendalam yang mempersatukan mereka dengan Paus, dan dari perhatian yang mendalam untuk kebaikan seluruh umat beriman.

Wawancara Catholic Action dengan Kardinal Burke

Pada 14 November 2016, Thomas J. McKenaa dari Catholic Action mewawancarai Kardinal Burke berkenaan dengan dirilisnya surat dan dubia tersebut. Berikut kutipan beberapa poin penting dari wawancara tersebut :

Catholic Action : Jadi, Anda mengatakan bahwa Anda mempublikasikan surat yang telah dikirim kepada Paus secara pribadi. Ini luar biasa. Bukankah tindakan ini, dari sudut pandang Kristiani, tidak bisa dibenarkan? Tuhan kita mengatakan dalam Injil Matius (18:15) bahwa jika kita memiliki masalah dengan saudara kita, seharusnya kita berbicara dengan dia secara pribadi, empat mata, tidak secara terbuka.

Cardinal Burke : Di bagian yang sama dari Kitab Suci yang Anda rujuk itu, Tuhan kita juga mengatakan bahwa, setelah menyampaikan masalah kepada saudara kita secara individu dan kemudian bersama-sama dengan orang lain, tetapi tidak ada penyelesaian, maka, demi kebaikan Gereja, masalah itu hendaknya disampaikan kepada seluruh Gereja. Inilah yang sedang kami lakukan.

Ada banyak laporan keprihatinan lainnya sehubungan dengan Amoris Laetitia, yang semuanya belum mendapatkan tanggapan resmi dari Paus atau wakilnya. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh kejelasan tentang hal-hal tersebut, saya bersama tiga Kardinal lainnya, secara formal mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar langsung kepada Bapa Suci dan Prefek Kongregasi Doktrin Iman. Tak ada tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan ini. Oleh karena itu, dengan membuka pertanyaan-pertanyaan atau dubia kami kepada publik, kami telah setia kepada amanat Kristus untuk pertama kali berbicara dengan orang itu secara pribadi, kemudian dalam kelompok kecil, dan akhirnya membawa masalah tersebut kepada Gereja secara keseluruhan.

CA : Beberapa umat Katolik mungkin prihatin bahwa publikasi Anda ini adalah sebuah tindakan ketidaksetiaan.

CB : Saya, bersama dengan tiga Kardinal lainnya, berusaha untuk setia kepada Bapa Suci dengan menjadi setia kepada Kristus di atas segalanya. Dengan membuka permohonan kami ini kepada publik guna memperoleh kejelasan atas doktrin dan praktek pastoral, kami berharap agar hal ini menjadi sebuah bahan diskusi bagi seluruh umat Katolik, terutama sesama uskup kami. Setiap orang yang telah dibaptis haruslah peduli terhadap doktrin dan praktek moral yang berkaitan dengan Ekaristi Kudus dan Pemberkatan Pernikahan, dan tentang bagaimana kita mengidentifikasi tindakan yang baik dan jahat. Hal ini mempengaruhi kita semua.

Alih-alih menjadi masalah ketidaksetiaan kepada Paus, tindakan kami menunjukan kesetiaan mendalam atas segala sesuatu yang Paus nyatakan serta kewajiban untuk membela dalam kapasitas resminya. Paus Francis telah beberapa kali menyerukan agar berbicara jujur dan terus terang di dalam Gereja, serta meminta keterbukaan dan akuntabilitas dari para anggota hirarki. Kami sedang berterus-terang, dengan hormat sepenuhnya terhadap kedudukan Bapa Suci, dan menjalankan, menurut terang hati nurani kami, keterbukaan dan akuntabilitas, yang mana Gereja berhak mengharapkannya dari kami.

Ini adalah tugas saya sebagai seorang Kardinal dari Gereja Katolik. Saya tidak diangkat menjadi Kardinal untuk menerima posisi kehormatan. Sebaliknya, Paus Benediktus XVI menjadikan saya Kardinal untuk membantu beliau dan penerusnya dalam mengatur Gereja dan mengajarkan Iman. Semua kardinal memiliki tugas untuk bekerjasama dengan Paus demi kebaikan jiwa-jiwa, dan inilah persis yang sedang saya lakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting mengenai iman dan moral. Saya akan tidak memenuhi kewajiban saya sebagai kardinal dan karenanya juga sebagai penasihat bagi Paus, jika saya tetap diam terhadap masalah-masalah yang sedemikian serius itu.

CA : Kalau boleh, saya ingin melanjutkan alur pemikiran ini. Tidaklah jelas bagaimana publikasi Anda sedang menuruti keinginan Paus atas sensitivitas pastoral yang lebih besar dan kreativitas di dalam Gereja. Bukankah Paus telah menunjukkan posisinya dalam surat yang ditujukan kepada Uskup Argentina? Kardinal-kardinal lainnya mengatakan bahwa cara yang tepat untuk menafsirkan Amoris Laetitia adalah bahwa AL memungkinkan pasangan bercerai yang menikah lagi untuk menerima komuni dalam keadaan tertentu. Dalam terang itu, orang dapat berargumentasi bahwa dokumen Anda menciptakan lebih banyak kebingungan.

CB : Pertama klarifikasi masalah. Masalah ini bukanlah tentang pasangan bercerai dan menikah lagi yang menerima Komuni Kudus. Ini adalah tentang pasangan yang aktif secara seksual namun dalam pernikahan yang tidak sah dan menerima Komuni Kudus. Ketika pasangan memperoleh perceraian sipil dan deklarasi kanonik bahwa mereka tidak pernah secara sah menikah, maka mereka bebas untuk menikah (lagi) di Gereja dan menerima Komuni Kudus, jika mereka dalam keadaan layak dan pantas untuk menerimanya. Proposal Kasper adalah untuk memungkinkan seseorang untuk menerima Komuni Kudus, ketika ia telah mengucapkan janji pernikahan secara sah tetapi tidak lagi hidup bersama pasangannya dan sekarang tinggal bersama orang lain dengan siapa dia aktif secara seksual. Pada kenyataannya, usulan ini membuka pintu bagi siapa saja yang melakukan dosa apapun untuk menerima Komuni Kudus tanpa bertobat dari dosa.

Saya juga ingin menunjukkan bahwa hanya pertanyaan pertama dari pertanyaan-pertanyaan kami kepada Bapa Suci yang berfokus pada Pernikahan Kudus dan Ekaristi Kudus. Pertanyaan kedua, ketiga dan keempat adalah tentang isu-isu mendasar sehubungan dengan kehidupan moral: apakah pada hakekatnya tindakan-tindakan jahat itu ada; apakah orang yang terbiasa melakukan kejahatan serius berada dalam keadaan "dosa berat"; dan apakah sebuah dosa berat sesungguhnya bisa menjadi pilihan yang baik oleh karena keadaan-keadaan atau tujuan-tujuan tertentu.

Memang benar bahwa Bapa Suci telah menulis surat kepada para uskup Argentina, dan bahwa beberapa Kardinal telah mengusulkan interpretasi Amoris Laetitia seperti yang telah Anda sebutkan. Namun, Bapa Suci sendiri belum mengklarifikasi beberapa masalah "membingungkan".  Adalah bertentangan dengan Iman jika ada orang Katolik, termasuk Paus, mengatakan bahwa seseorang dapat menerima Komuni Kudus tanpa bertobat dari dosa berat; atau, bahwa hidup dalam perkawinan dengan seseorang yang bukan pasangannya bukanlah suatu dosa berat; atau bahwa tidak ada hal seperti itu sebagai suatu tindakan yang sesungguhnya memang jahat dan dapat melemparkan seseorang kepada kebinasaan. Begitulah, maka saya bergabung dengan saudara-saudara saya para Kardinal dalam membuat permohonan untuk mendapatkan klarifikasi yang jelas dari Paus Francis sendiri. Suaranya, suara dari Penerus Santo Petrus, akan dapat menghalau berbagai keraguan mengenai masalah ini.

Interview selengkapnya beserta surat dan dubia empat Kardinal bisa dibaca di link: Catholic Action - Exclusive Interview with Cardinal Burke

Empat Kardinal senior telah menjalankan tugasnya dengan harapan dapat mengakhiri kebingungan dan keluhan-keluhan sehubungan dengan penafsiran Amoris Laetitia – khususnya Pasal Delapan yang kontroversial itu. Kita juga mengharapkan adanya jawaban dari Paus agar semua hal yang ambigu dalam Amoris Laetitia dapat menjadi jelas.

Sementara itu, umat awam pun kini bisa dan diharapkan ikut melakukan refleksi atau diskusi mengenai dubia empat Kardinal di atas. Dalam refleksi itu, hendaknya kita selalu kembali kepada dasar iman kita yaitu Sabda Allah dalam Injil Suci, dan setia kepada Ajaran-ajaran Kristus yang tak pernah berubah, yang adalah Kebenaran itu sendiri. Semoga Roh Kebenaran selalu menuntun kita di dalam Kebenaran-Nya yang sejati.

Tuhan Yesus memberkati..!


Referensi:


Petisi untuk mendukung surat dan dubia empat Kardinal

LifeSiteNews menggelar petisi sebagai bentuk dukungan kepada empat Kardinal dan dubia mereka kepada Paus Francis. Petisi ini telah melebihi target awal 10.000 tanda-tangan dan telah menembus 12.800-an tanda-tangan dan nampaknya terus bertambah dengan cepatnya. Mereka kini memasang target baru 25.000 tanda-tangan. Bagi yang ingin berpartisipasi silahkan menuju ke link: https://lifepetitions.com/petition/pope-francis-i-support-the-4-cardinals-letter-pleading-for-clarity-on-amoris-laetitia

Beberapa berita terkait lainnya

Update dari Fr. Z’s Blog :
Saya berani bertaruh bahwa “The Four” hanyalah ujung tombak. Saya berani bertaruh bahwa mereka mewakili sekelompok besar Kardinal yang bersikap diam, yang mengharapkan jawaban, tetapi karena mereka saat ini dalam posisi di kuria atau keuskupan, maka mereka ragu untuk mengangkat kepala mereka terlalu tinggi.


Kutipan dari Kitab Kebenaran (KK) tentang Ajaran Kristus dan Dosa di Mata Allah

KK - Sabtu, 5 Maret 2011 : 
Yesus : Berdoalah, berdoalah, berdoalah. Anak-anak-Ku, kamu harus berjaga. Kamu membutuhkan Aku untuk menuntunmu sekarang sementara nubuatan-nubuatan ini dibuka kepada umat manusia. Kuatlah kamu. Setialah kepada ajaran-ajaran-Ku

Ingatlah akan satu pelajaran. Ajaran-ajaran-Ku tak pernah berubah. Ajaran-Ku adalah sama seperti saat-saat sebelumnya. Seperti telah Kukatakan sebelumnya, jika kamu mendapati ajaran-ajaran-Ku dirusak, dicampakkan, atau seperti yang ada saat ini diselewengkan, dengan cara yang aneh atau bertentangan, maka berpalinglah darinya dan berdoalah kepada-Ku untuk memperoleh tuntunan.

KK – 8 Juli 2012 :
Yesus : Berhati-hatilah. Agama Dunia Baru itu dari luar akan nampak sebagai organisasi yang baik dan kudus, penuh dengan belas dan kasih. Ia akan memancarkan citra toleransi yang besar dan akan memuji-muji setiap dosa yang pasti diketahui oleh Allah. Tetapi ia akan memutar-balikkan setiap dosa sehingga nampaknya bisa diterima di Mata Allah

Tetapi kamu harus tahu bahwa kekejian semacam itu sangat menyakitkan Aku dan celakalah mereka yang mengikuti jalan yang berbahaya ini menuju kutukan kekal. Dosa adalah tetap dosa di Mata-Ku.

Waktu tak bisa mengubah ini. Aturan-aturan baru yang disesuaikan dengan keinginan manusia di dalam mengejar dosa, tak akan pernah diterima oleh-Ku. Bersiaplah sekarang guna menghadapi penipuan besar ini, karena ia akan segera terjadi.

KK - 30 Juli 2012 :
Yesus : Dengan menganjurkan sikap toleransi atas nama Allah, mereka menghadirkan doktrin palsu yang menutupi Kebenaran. 

KK – 14 November 2012
Yesus : Mereka akan membuatmu percaya bahwa Sabda Allah yang lama adalah menipu. Kemudian mereka akan mengatakan kepadamu untuk tidak mempercayainya. Mereka akan mengubah cara mereka menjalankan Ajaran-ajaran-Ku dan mengubah cara mereka menghormati Aku. Lalu mereka akan menyingkirkan Hukum-hukum-Ku ke pinggir, dan akan menyembah hukum-hukum buatan mereka sendiri.

Berita-berita seputar dubia:
Ada tulisan yang melaporkan bahwa publikasi dubia empat Kardinal ini membuat PF marah besar (boiling with rage). Juga dikatakan bahwa PF dalam posisi terjepit dan sulit untuk menjawab karena semua jawaban membuat dia serba salah. Maka dia tetap diam, tapi "orang-orang" dalamnya telah berkomentar dan semuanya mengecam empat kardinal tsb.
Fr. Antonius Spadaro Sj. yang dikenal sebagai "corong" PF, beberapa kali menulis di tweeternya mengecam empat kardinal itu, bahkan menghina Kardinal Burke dengan kata-kata yang jauh dari pantas untuk diucapkan oleh seorang imam apalagi yang dekat dengan paus, sampai-sampai tweeternya dikomentari negatif oleh beberapa blogger sebagai childish.
Menyedihkan ya pak membaca berita2 itu.. perpecahan semakin lebar dan terbuka.. uskup melawan uskup.. kardinal melawan kardinal.. persis seperti yang sudah dinubuatkan.
Kita hanya bisa berdoa dan berdoa ya pak..
Tuhan memberkati..


Wednesday, November 23, 2016

Vol 2 - Bab 34 : Motiv untuk menolong jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 34

Motiv untuk menolong jiwa-jiwa suci
Kebaikan dari tindakan ini
St.Francis de Sales
St.Thomas Aquino
St.Bridget

Kita telah membahas cara-cara dan sumber-sumber dimana Kerahiman Ilahi telah menaruh di tangan kita demi keringanan saudara-saudara kita didalam Api Penyucian. Cara-cara ini amatlah kuat sekali dan sumber-sumber itu adalah berlimpah banyaknya. Tetapi apakah kita telah memanfaatkan hal itu ? Kita berkuasa untuk menolong jiwa-jiwa malang itu, apakah kita cukup bersemangat untuk melakukan hal itu ? Apakah kita cukup bermurah hati seperti Tuhan yang sangat bermurah hati ? Celaka sekali ! betapa banyak umat Kristiani yang sedikit sekali atau sama sekali tidak berbuat apa-apa bagi orang-orang yang meninggal itu. Dan orang-orang yang tidak melupakan mereka, yang memiliki cukup kemurahan hati untuk menolong mereka dengan berbagai doa permohonan, betapa seringnya mereka kekurangan atau kehilangan semangat ! Bandingkanlah dengan perhatian yang kita curahkan kepada orang-orang yang sakit di dunia ini, dengan pertolongan yang kita berikan kepada jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian itu. Jika seorang ayah atau ibu bersedih karena suatu penyakit, jika seorang anak yang kita kasihi menjadi kurban dari suatu penderitaan, betapa besarnya perhatian, kecemasan, dan bakti kita kepadanya. Namun bagi jiwa-jiwa suci itu, yang kurang kita kasihi, mereka merana dibawah beratnya, bukan penyakit yang amat menyakitkan, tetapi karena siksaan-siksaan penebusan dosa yang 1000 kali lebih kejam dari pada siksaan di dunia ini. Apakah kita juga bersemangat, merasa cemas dan bersedia meringankan mereka ? “Tidak”, kata St.Francis de Sales, “kita belum cukup banyak didalam mengingat sahabat-sahabat terkasih yang meninggal itu. Ingatan akan mereka nampaknya ikut luntur bersama gemerincing lonceng pemakaman, dan kita lupa bahwa persahabatan yang menemui saat akhirnya itu, terutama didalam kematian, sebenarnya tak pernah menjadi persahabatan yang sejati”.

Dari manakah datangnya sifat lupa yang amat menyedihkan dan jahat ini ? Penyebab utamanya adalah tidak adanya keinginan untuk memikirkan mereka. ‘Quia nullus est qui recogitat corde’ – karena tak ada yang tertimbang didalam hati’. Kita kehilangan pandangan akan motiv-motiv yang agung yang mendorong kita untuk bersemangat, untuk selalu mengingat motiv-motiv ini dan meletakkannya didalam terang yang paling besar yang dimungkinkan.

 Kita mungkin berkata bahwa semua motiv-motiv itu berujung didalam Sabda dari Roh Kudus  ini :”Ini adalah sungguh suatu pikiran yang baik dan tepat untuk berdoa bagi orang yang mati, agar mereka dibebaskan dari dosa-dosa mereka, yaitu dari hukuman sementara karena dosa-dosa mereka (2 Mak. 12:46). Pertama-tama, ia adalah sebuah karya, suci dan baik didalam dirinya sendiri, dan bisa diterima dan mendatangkan jasa-jasa di mata Allah. Karena itu ia merupakan karya yang terpuji, amat bermanfaat bagi keselamatan kita, bagi kesejahteraan kita di dunia ini dan di dunia sana.

“Salah satu karya-karya yang paling suci, salah satu dari tindakan yang terbaik dalam hal kesucian yang bisa kita laksanakan di dunia ini”, demikian kata St.Agustinus, “adalah dengan mempersembahkan kurban, sedekah, dan doa-doa bagi orang yang meninggal”. “Keringanan yang kita serahkan bagi orang yang meninggal”, kata St.Jerome, “akan mendatangkan kemurahan hati yang sama bagi kita”.

Ingatlah bahwa doa bagi orang yang meninggal adalah sebuah tindakan iman, kemurahan hati dan terutama keadilan.

Pertama, siapakah orang yang menolong itu ? Siapakah jiwa-jiwa suci yang dimaksudkan itu ? yang begitu dikasihi Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus, yang juga sangat dikasihi oleh Ibu mereka, Gereja, yang tidak henti-hentinya memintakan bagi mereka atas kemurahan hati kita. Jiwa-jiwa yang dikasihi oleh kita, yang mungkin saja, sangat berhubungan erat dengan kita semasa di dunia dulu, dan yang memohon kepada kita dengan melalui kalimat yang menyentuh ini :”Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku” (Job. 19:21).

Kedua, untuk kepentingan apa mereka mengingnkan hal itu ? Celaka ! Kebutuhan mereka amatlah besar, jiwa-jiwa yang menderita memiliki hak atas pertolongan kita yang sesuai dengan ketidak-berdayaan mereka untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri.

Ketiga, kebaikan apa yang bisa kita serahkan bagi jiwa-jiwa itu ? Kebaikan yang terbesar adalah karena kita membuat mereka bisa memiliki kebahagiaan kekal.

“Untuk menolong jiwa-jiwa di Api Penyucian”, kata St.Francis de Sales, “adalah dengan melakukan karya-karya yang utama didalam kemurahan hati, atau melaksanakan dengan cara yang terbaik semua karya-karya kemurahan hati:  mengunjungi orang yang sakit, memberi minum orang yang kehausan melihat wajah Allah, memberi makan orang yang lapar dan orang tawanan, memberi pakaian orang yang telanjang, memberikan kepada orang-orang yang terbuang keramahan dari Yerusalem Surgawi, menghibur orang yang berduka, memberi nasihat orang yang sesat. Dengan kata lain, melaksanakan karya-karya kemurahan hati didalam satu tindakan. Doktrin ini amat selaras dengan ajaran St.Thomas, yang berkata didalam buku ‘Summa’ : Permohonan bagi orang yang meninggal bisa lebih diterima oleh Allah dari pada permohonan bagi orang yang hidup. Karena orang yang meninggal sangat membutuhkan pertolongan itu, karena mereka tak bisa menolong dirinya sendiri, seperti halnya pada orang yang masih hidup.

Tuhan kita menganggap setiap tindakan kemurahan hati kepada tetangga kita sebagai tindakan terhadap DiriNya sendiri. Dia bersabda :”Kamu melakukan hal itu kepadaKu” Mihi fecistis. Hal ini merupakan kemurahan hati yang sejati yang diterapkan kepada jiwa-jiwa malang. Telah dinyatakan kepada St.Bridget bahwa dia yang membebaskan suatu jiwa dari Api Penyucian, memiliki jasa yang sama seperti dia yang membebaskan Yesus Kristus  dari tawanan.