Tuesday, September 29, 2020

Mengapa Begitu Banyak Orang Pergi ke Neraka

 

Mengapa Begitu Banyak Orang Pergi ke Neraka

Lyle J. Arnold, Jr.

https://traditioninaction.org/religious/e026rp_Hell_Arnold.html

 

Dengan semua bukti yang dimanifestasikan oleh Tuhan yang mengkonfirmasikan kebenaran Katolik, mengapa paham bidaah Progressivisme, yang ditumbuhkan oleh KV II, menyebar seperti virus yang menjijikkan di seluruh Gereja? Mengapa tidak ada lebih banyak umat Katolik kontra-revolusioner di dalam barisan Bunda Maria?

 

St. Michael menimbang jiwa-jiwa

Ajaran St. Leonard dari Port Maurice menjelaskan tragedi ini. Dalam khotbahnya tentang sejumlah kecil umat Katolik yang diselamatkan, dia menyarankan sesuatu yang mendukung tesisnya - bahwa sebagian besar "orang dewasa Katolik" pergi ke Neraka - adalah referensi yang tak terhitung jumlahnya dari para Bapa Gereja, baik Yunani dan Latin serta para teolog dan sejarawan terpelajar.

Dalam mengembangkan topik ini, dia menyatakan, "Perhatikan baik-baik bahwa tidak ada pertanyaan di sini tentang umat manusia secara keseluruhan, atau tentang semua umat Katolik tanpa perbedaan, tetapi hanya berbicara tentang orang dewasa Katolik." (1)

Pemikiran St. Leonard bebas dari segala bentuk paham aliran Jansenisme, karena dia adalah orang suci abad ke-18 yang sangat dihormati. Alat utamanya dalam pertobatan adalah Jalan Salib, eksposisi Sakramen Mahakudus dan devosi kepada Hati Kudus. Dia juga melakukan upaya yang giat untuk membuat ‘Yang Dikandung Tanpa Noda’ disahkan sebagai dogma Iman. Terakhir, argumennya yang kuat bahwa hanya sedikit yang diselamatkan, hal ini telah membuat pernyataan itu mendapat persetujuan dari Gereja.

Campur tangan Ilahi dalam sejarah

Orang dapat bertanya-tanya mengapa begitu sedikit yang diselamatkan padahal Tuhan telah memberi manusia begitu banyak mukjizat dan manifestasi kebenaran Iman dalam Sejarah. Banyak fakta yang tak terhindarkan menunjukkan adanya belas kasihan Bunda Maria dan upayanya untuk menarik jiwa-jiwa  kepada Putranya dan Gereja Kudus.

Salah satu item tersebut baru-baru ini diterbitkan oleh Tradition in Action berjudul A Lady in Blue Instructs Indians in the U.S. Ceritanya adalah tentang Bunda Maria dari Agreda, yang melakukan bilokasi dari Spanyol ke barat daya Dunia Baru antara tahun 1620 dan 1631. Selama waktu ini dia mengajar penduduk asli Indian dalam hal Iman Katolik selama sekitar 500 kali kunjungan kesana. Tuhan kita mengatakan kepadanya bahwa Dia mengizinkan Maria dari Agreda untuk datang ke Dunia Baru untuk mendidik orang-orang Indian disana karena Dia ingin menyelamatkan jiwa mereka.

Selama 10 tahun Mary of Agreda melakukan bilokasi sebanyak lebih dari 500 kali ke AS,

untuk mengajar orang Indian

Apa yang membuat keajaiban ini sangat luar biasa adalah kenyataan bahwa bilokasi ini didokumentasikan bahkan dalam sejarah sekuler. Dalam sebah buku sejarah Lone Star State, Randolph Campbell mencatat episode "kejadian yang benar-benar aneh pada tahun 1629". Dia mengatakan:

“Pada bulan Juli tahun itu, sekelompok Jumanos dari daerah Trans-Pecos datang di Biara Fransiskan di dekat Albuquerque modern. Setelah datang, orang-orang itu mengatakan bahwa kedatangan mereka ke biara itu adalah atas nasihat seorang wanita muda cantik yang secara misterius menampakkan diri kepada mereka di Texas. Dari wanita itu, orang-orang Indian itu mengaku mendapat pengetahuan dasar tentang agama Kristen, khususnya Tanda Salib. Selain itu, 'Lady in Blue,' begitu wanita itu dikenal karena mengenakan jubah biru dengan seragam coklat dan putihnya, telah mendesak orang-orang Indian setempat untuk pergi ke New Mexico untuk mencari guru agama. Kedatangan para Jumanos, yang membuat para biarawan Fransiskan bersemangat dalam keadaan apa pun, sungguh menakjubkan, karena sepucuk surat yang baru saja mereka terima dari Uskup Agung Spanyol Baru, berkenaan dengan klaim seorang biarawati muda di Spanyol."(2)

Tetapi kisah kunjungan Mary of Agreda ke Amerika bukanlah kasus yang terpisah dari campur tangan Tuhan dalam Sejarah. Kasus lain dilaporkan dalam dokumentasi sejarah Perang Seratus Tahun (1396-1457) antara Prancis dan Inggris. Kemenangan Prancis dan penobatan Dauphin sebagai Charles VII diraih melalui kepemimpinan luar biasa dari seorang gadis petani yang lahir di Prancis timur, St. Joan of Arc. (3).

Contoh lain dari intervensi Ilahi yang dikonfirmasi oleh para sarjana, juga terjadi di Lourdes, di mana ada sekumpulan dokter yang tidak terkait dengan agama, yang berusaha memverifikasi keajaiban yang terjadi di sana. Beberapa keajaiban terjadi yang melibatkan penciptaan materi secara instan. Misalnya, satu kasus yang melibatkan seseorang yang kehilangan sebagian dari tulangnya yang patah: menjadi lebih pendek dan tidak pernah sembuh. Selama delapan tahun si korban menderita abses dan borok yang harus dirawat setiap hari. Dalam sekejap, celah selebar satu inci telah terisi oleh tulang baru dan kemudian tulangnya itu benar-benar sembuh. Organisasi ikatan dokter setempat mengakui dan memastikan kesembuhan yang ajaib itu. (4)

Kasus yang tidak biasa
juga terjadi pada seorang wanita yang buta, saraf matanya rusak total. Di Lourdes, wanita itu sembuh seketika, dan dokternya berkata, "Bagaimana Anda bisa melihat, Nyonya, jika Anda tidak memiliki papillae?" (sel syaraf mata) (5)

Lalu ada keajaiban yang kurang dikenal dari Our Lady of Prompt Succor di New Orleans. Seperti yang ditunjukkan Dr. Horvat dalam artikelnya, selama 195 tahun terakhir, Misa dirayakan setiap 8 Januari untuk menghormati perantaraan
Maria dalam kemenangan ajaib atas Inggris.

Seorang komposer bernama Christopher Hedge menggubah lagu biola "The Eighth of January," dan liriknya ditulis oleh Jimmie Driftwood. (klik di sini untuk mendengarkan).
Mendiang penyanyi country-western itu, Johnny Horton, menciptakan balada itu menjadi hit teratas – lagu itu menduduki urutan kedua di Hit Parade tahun 1959. Tidak ada, tentu saja, dalam liriknya yang berbicara tentang keajaiban Bunda Maria, tetapi siswa Sejarah Amerika yang memperhatikan pertempuran ini menyadari bagaimana Our Lady of Prompt Succor memberikan kemenangan kepada pasukan Amerika.

Dan janganlah kita melupakan Keajaiban Matahari di Fatima, yang disaksikan oleh 70.000 orang.

Mengapa orang pergi ke Neraka?

Jadi, bagaimana orang bisa menjelaskan bahwa kebanyakan orang dewasa Katolik pergi ke Neraka? Biasanya penjelasan atau strategi yang paling sederhana seringkali
adalah yang benar.

Pastor Garrigou-Lagrange mengajarkan bahwa Tuhan memberikan lebih banyak kasih karunia kepada beberapa orang karena Dia lebih mencintai mereka. Demikianlah Tuhan kita, ketika disalib,  memberikan anugerah keselamatan kepada pencuri di sebelah kanan-Nya karena Dia lebih mencintainya daripada bandit di sebelah kiri. Karunia rahmat ini benar-benar gratis. (6)

K
ita bisa melihat hal ini berperan dari awal Sejarah, dengan penciptaan para Malaikat, yang dalam sekejap mereka membuat keputusan untuk mengikuti Tuhan atau tidak. Pastor Garrigou-Lagrange menjabarkan kriteria ini tentang bagaimana mereka memilih:

"Pada awalnya mereka menerima kecerdasan yang lebih eksplisit tentang keberadaan Tuhan, yang satu dalam substansi, dan tiga dalam pribadi, dan mereka diperintahkan untuk memuji dan menghormati Dia sebagai Pencipta mereka dan Tuhan yang tertinggi, tak terhingga dalam esensi dan sifat-Nya.

Semuanya tunduk pada perintah ini dan mematuhinya, tetapi dengan sebuah perbedaan tertentu: Malaikat yang baik mematuhi melalui kasih, dan karena keadilan, mereka mempersembahkan kasih dan niat baik mereka, dan dengan bebas mereka mengakui dan percaya pada apa yang ada di atas kecerdasan mereka, dan mereka menurut dan patuh dengan sukacita. Tetapi Lucifer, sebaliknya, tunduk karena menurutnya hal yang sebaliknya tidaklah mungkin. Dia tidak melakukan sikap tunduknya dengan amal kasih yang sempurna, karena dia, dalam kehendaknya, terbagi antara dirinya dan kebenaran Tuhan yang sempurna." (7)

Hasilnya, kita semua sudah mengetahuinya.

Jadi, marilah kita merenungkan topik kebanyakan orang dewasa Katolik pergi ke Neraka. Seperti yang dikatakan St. Leonard dalam khotbahnya, subjeknya "sangat serius; bahkan telah menyebabkan pilar-pilar Gereja bergetar, memenuhi para Orang Kudus terhebat dengan teror, dan mengisi padang gurun dengan para pertapa." (8)

Namun, kebanyakan orang kurang memperhatikan peringatan dari Orang-orang Kudus atau mukjizat yang diberikan Tuhan kepada kita. Di antara orang-orang itu, termasuk umat Katolik, tentu saja, sebagaimana dibuktikan oleh bidaah Progressivisme di mana-mana. Apa yang harus kita lakukan untuk menghindari Neraka adalah meniru para Malaikat yang baik dalam pencobaan mereka. Artinya, kita harus mencintai Tuhan dengan sepenuhnya tertarik dan mempersembahkan semua yang kita miliki demi kemuliaan-Nya. Tidak ada yang lebih efektif untuk tujuan ini selain merekomendasikan diri kita sendiri kepada pemeliharaan Bunda Maria. Dia adalah Pintu Surga - Porta coeli.

Setelah melakukan hal ini, biarlah pikiran kita beralih kepada perbuatan. Marilah kita berjuang dengan gagah berani demi kemuliaan Tuhan dan Bunda Maria, dan berjuang tanpa henti untuk menyingkirkan Gereja Progressivisme yang memenuhi Gereja Katolik sejati.

*****

Dogma tentang Neraka – Bagian I

Dogma tentang Neraka – Bagian II

Dogma tentang Neraka – Bagian III

“Iblis dan Karl Marx”: sebuah ulasan

Dogma tentang Neraka – Bagian IV

Dogma tentang Neraka - Bagian V

LDM, 25 September 2020

 

 

 

 

 

 

Monday, September 28, 2020

Dogma tentang Neraka - Bagian V

 Dogma tentang Neraka - Bagian V

 https://traditioninaction.org/religious/e068_Hell_5.htm

 Neraka, Kemurnian & Rahmat Pengudusan

 

Dr. Remi Amelunxen

 

Selain beberapa dosa besar terhadap Sepuluh Perintah Allah yang harus dipertimbangkan dalam pemeriksaan hati nurani, yang kami tunjukkan di sini, ada juga Tujuh Dosa Besar yang terkait erat dengan Perintah-perintah Allah itu:

 


 

Tujuh Dosa Pokok:

1. Kesombongan, yang sebenarnya adalah penyebab dari segala dosa lainnya;

2. Keserakahan, cinta yang berlebihan akan kekayaan dan barang-barang duniawi;

3. Nafsu, keinginan yang berlebihan atau kesenangan dalam kenikmatan seksual;

4. Kemarahan, keinginan untuk membalas dendam, (berbeda dengan kemarahan yang benar, yang muncul karena melihat hukum Tuhan dilanggar);

5. Iri hati, dendam atau kesedihan atas keberhasilan atau milik orang lain, yang dapat menimbulkan kemarahan, kebencian, kecemburuan dan kedengkian dalam diri sendiri;

6. Kerakusan, terlalu memanjakan diri dengan makanan atau minuman;

7. Kemalasan, kurangnya upaya fisik atau spiritual yang patut disalahkan, yang membuat seseorang enggan melakukan apa yang diperlukan untuk mencapai keselamatan.

 

 

Untuk mencapai keselamatan, kita juga wajib menjaga Enam Ajaran Gereja:

 

1. Mengikuti Misa pada semua hari Minggu dan Hari-hari Raya yang diwajibkan;

2. Berpuasa dan berpantang pada hari-hari yang ditentukan;

3. Mengaku dosa setidaknya setahun sekali;

4. Menerima Komuni Kudus di masa Paskah;

5. Berkontribusi untuk mendukung Gereja;

6. Mematuhi hukum Gereja tentang Perkawinan.

 

Bergantung pada situasinya, pelanggaran terhadap ajaran-ajaran ini bisa merupakan dosa berat. Misalnya, melewatkan Misa Kudus pada hari Minggu dengan sengaja atau karena malas adalah dosa berat.


Pentingnya kemurnian


Tidak ada yang lebih penting dalam hidup kita selain kemurnian.


Banyak negara telah dihancurkan oleh ketidakmurnian lebih daripada invasi oleh negara lain. Kekaisaran Romawi yang berhala itu jatuh terutama karena kerusakan moral pribadi dan publik. Sodom dan Gomora lenyap dari muka bumi karena dosa-dosa yang tidak wajar melawan kesucian yang berseru ke pada Surga untuk melakukan pembalasan. Masyarakat yang tidak murni adalah masyarakat yang terkutuk.

 

Dekadensi moral Roma menyebabkan kejatuhannya

Dan apa yang kita miliki di dunia saat ini? Kenajisan atau ketidakmurnian hingga sampai pada fondasinya yang nampaknya hanya bisa diperbaiki dengan melalui Hukuman Ilahi seperti yang disampaikan oleh Bunda Maria di Fatima dan Quito.

Tubuh kita adalah milik Tuhan, dan kita tidak dapat menggunakannya
bagi segala bentuk kenajisan. Santo Paulus memberi tahu kita bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus. Perintah Keenam dan Kesembilan mengamanatkan kemurnian tubuh dan pikiran, karena dosa kenajisan meluas kepada pikiran serta tindakan.

Yang menjadi tempat lahir kenajisan atau ketidakmurnian adalah nafsu-nafsu dari indera kita. Untuk "membenarkan" kecenderungan dan kesalahan nafsu kita yang buruk, kita menemukan atau menciptakan berbagai alasan dalam pikiran kita. Juga, pikiran kita dengan sendirinya dapat menjadi sumber godaan ketika kita tidak bisa mengendalikan ingatan kita --- dengan cara mengingat dan berkutat pada dosa-dosa masa lalu --- dan imajinasi kita --- lamunan yang bersifat sensual. Pikiran buruk harus dihilangkan dengan doa dan diarahkan kepada hal-hal yang baik di mata Tuhan.

Untuk menghindari ketidakmurnian, kita dapat mempertimbangkan saran tradisional berikut:

• Bersikaplah rendah hati dalam penampilan, pakaian, kata-kata dan tindakan;

• Jangan mengasosiasikan diri kita dengan teman yang tidak sopan atau tidak murni;

• Dengan hati-hati hindarilah buku, film, dan situs internet yang buruk dan tidak murni, dan jangan mendengarkan bahasa yang buruk atau jorok dalam bentuk apa pun;

• Berdoalah dengan segera begitu godaan melawan kemurnian datang kepada kita;

• Mengaku dosa dan menerima Komuni Kudus sesering mungkin;

• Melakukan devosi yang tekun kepada Bunda Allah, Perawan Yang Paling Murni.

Ada lebih banyak jiwa pergi ke Neraka karena ketidakmurnian daripada dosa-dosa lainnya, Bunda Maria memberi tahu visiuner Jacinta dari Fatima. Seseorang hendaknya dapat menyadari pentingnya menghindari semua dosa terhadap kebajikan ini.

Rahmat Pengudusan

Untuk menghindari Neraka, seseorang harus tetap berada dalam keadaan rahmat pengudusan. Rahmat pengudusan adalah kehormatan, kemuliaan dan kegembiraan kita, untuk dihargai dengan segala cara. Nilainya dalam jiwa kita lebih besar daripada semua nilai alam semesta ini. Maka Setan menggunakan setiap tipu daya dengan tujuan untuk membuat kita kehilangan rahmat pengudusan itu.

 

Terlalu sedikit orang yang menyadari pentingnya berada

dalam keadaan rahmat pengudusan pada saat kematian

 

Sungguh, berapa banyakkah umat Katolik saat ini yang tahu apa itu rahmat pengudusan, dan yang paling penting: untuk menghindari Neraka dan mencapai keselamatan? Berikut garis besarnya:

.

1. Rahmat pengudusan adalah partisipasi dalam kehidupan ilahi yang menyucikan jiwa kita dan menjadikan kita sebagai sahabat Allah dan memberi kita klaim atas warisan Surga;

2. Rahmat pengudusan menjadikan kita sebagai Bait Roh Kudus.

3. Rahmat pengudusan hilang oleh setiap dosa berat.

4. Rahmat pengudusan dipulihkan melalui pertobatan, pengakuan dan absolusi oleh seorang imam.

 

Melalui rahmat kita mendapatkan Surga; jumlah rahmat pengudusan yang kita terima dan penerapannya di sini, di dunia ini, akan menjadi ukuran yang tepat dari pahala kita di Surga. Kasih karunia atau rahmat pengudusan adalah partisipasi kita dalam kehidupan ilahi, sebuah perpanjangan dari generasi kekal Putra Allah, Tuhan kita Yesus Kristus. Hanya di Surga kita akan menyadari nilai yang tak terhingga dari rahmat pengudusan ini.


Mengingat bahwa di masa kemurtadan umum
dan menyeluruh saat ini, doktrin tentang rahmat pengudusan tidak lagi dikhotbahkan dan diajarkan, kita bisa bertanya berapa banyak umat beriman yang memiliki gagasan dan pengertian tentang apa rahmat pengudusan itu dan apa pula pentingnya?

Berpalinglah kepada Bunda Maria

Jika seseorang merasa putus asa karena kesulitan untuk mencapai Surga, biarlah dia berpaling kepada Bunda Maria.

 


Bunda Maria adalah perlindungan dan harapan

semua orang berdosa

 

Perawan Tersuci adalah bahtera yang terberkati, kata St. Bernard, di mana siapa pun yang berlindung kepadanya akan lolos dari bangkai kapal kutukan kekal. Pada saat air bah, bahkan binatang buas pun diselamatkan di dalam bahtera Nuh. Jadi, di bawah perlindungan Maria, bahkan orang berdosa pun diselamatkan.

Suatu hari, dalam sebuah penglihatan, St. Gertrude melihat Bunda Maria dengan jubahnya terbuka lebar. Di bawah lipatan-lipatannya terdapat banyak sekali hewan liar: singa, beruang, harimau - semuanya berlindung di sana. Orang Kudus itu memperhatikan bahwa Perawan Maria tidak mengusir pergi binatang-binatang itu. Dia menyambut binatang-binatang itu dengan ramah dan membelai mereka. Dari sini, St. Gertrude menyimpulkan bahwa selain orang-orang berdosa yang paling ganas sekali pun tidak ditolak oleh Maria, tetapi mereka bahkan disambut dan diselamatkan oleh Bunda Maria, dari kematian kekal.

Marilah kita memasuki bahtera ini,
bahtera Bunda Maria; marilah kita berlindung di bawah jubah Bunda Maria dan dia tidak akan menolak kita, tetapi akan mengamankan keselamatan kekal kita.

Cara lain yang aman untuk
memperoleh keselamatan, menurut pendapat penulis ini, adalah meminta bantuan kepada St. Josef, pasangan yang suci dari Maria, dan memintanya juga untuk menjadi perantara bagi kita guna mencapai keteguhan akhir dan penyesalan yang sempurna atas dosa-dosa kita.

Kesimpulan

Telah diketahui dengan baik bahwa anak-anak kegelapan dikuasai oleh pengejaran kesenangan, harta benda dan kekuasaan. Apa yang kurang diakui adalah bahwa anak-anak terang, yang sibuk mengejar keselamatan, sering menyia-nyiakan banyak waktu mereka, yang seharusnya digunakan untuk memuliakan Tuhan. Hal ini menghalangi mereka untuk mengumpulkan harta yang lebih besar di Surga. Penyia-nyiaan seperti itu dapat mengarah ke Neraka atau tinggal lama sekali dalam Api Penyucian yang memurnikan mereka. Oleh karena itu, marilah kita berusaha dengan sekuat tenaga, selagi kita masih bisa, untuk menimbun harta di Surga.

Tampaknya sudah tepat untuk mengakhiri serial tentang Neraka ini dengan memohon berkat yang secara tradisional digunakan oleh klerus bagi umat mereka dan oleh umat awam bagi keluarga dan teman mereka:

 

Benedictio Dei omnipotentis, Patris et Filii et Spiritus Sancti

descendat super nobis et maneat sempre.

Dalam nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti. Amin. (1)

 

Semoga Berkat Tuhan Yang Mahakuasa, Bapa, Putra dan Roh Kudus,

turun atas kita semua dan tetap untuk selamanya.

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. (1)

 

 

*****

 

LDM - Penglihatan Dan Renungan LDM 13 September 2020

Bagaimana Pemerintah Cina Menggunakan Warganya Sebagai Tikus Percobaan

Dogma tentang Neraka – Bagian I

Dogma tentang Neraka – Bagian II

Dogma tentang Neraka – Bagian III

“Iblis dan Karl Marx”: sebuah ulasan

Dogma tentang Neraka – Bagian IV

 

 

 

 

Sunday, September 27, 2020

Dogma tentang Neraka – Bagian IV

 The Dogma of Hell – Part IV

  

Bagaimana Menghindari Neraka dalam Kehidupan Kita Sehari-hari

 

https://traditioninaction.org/religious/e067_Hell_4.htm

 

Dr. Remi Amelunxen

 

Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan jiwa kita? Ini adalah pertanyaan terakhir tentang hidup dan merupakan topik artikel ini dalam serial tentang Neraka. Untuk menjawabnya, kita harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tuhan kita, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat 16:26)

 

Kita harus menjalani hidup kita di jalan sempit untuk

menghindari hukuman kekal di Neraka

 

Kitab Suci penuh dengan kutipan kuat tentang bagaimana seseorang harus hidup untuk menghindari Neraka (misalnya Mat 26:24, 5:48). Masalah dalam melaksanakannya adalah bahwa nasihat-nasihat Kitab Suci itu sering kali dapat diartikan dengan cara yang berbeda sehingga sulit untuk memahaminya, untuk menghindari Neraka dan mencapai Surga. (1)


Mengetahui hal ini, Tuhan kita telah menyediakan instrumen penting untuk membuat pemahaman tentang kewajiban moral kita lebih mudah:
Tuhan mendirikan Gereja Katolik yang Kudus, sebuah institusi untuk bertahan sepanjang masa yang akan mengajar umat manusia dengan otoritas sehingga kita akan memiliki panduan untuk mencapai keselamatan. Magisterium abadi Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus, yang telah bertahan mengikuti jalan aman yang sama sampai abad ke-20, adalah jalan yang benar menuju keselamatan.


Modernisme & Progressivisme: sebuah tanda kurung di dalam Magisterium

Penyimpangan dari jalan yang sempurna itu sudah dimulai pada akhir abad ke-19 dengan
melalui paham Modernisme yang dipromosikan oleh orang-orang seperti pastor George Tyrrell (1861-1909). Tyrell diekskomunikasi oleh Paus St. Pius X, yang memerangi kesalahan kaum modernis dalam ensikliknya yang terkenal Pascendi Dominici Gregis (1907) dan Silabus Lamentabile sane (1907).

Tetapi salah satu siswa Tyrell,
pastor Teilhard Pierre de Chardin yang terkenal, melanjutkan pekerjaannya. Gagasan panteisnya tentang evolusi merupakan pendahuluan dari kemenangan kaum progresif di KV II dan kemurtadan umum yang diakibatkannya, yang berlanjut hingga hari ini. Ajaran sesat berlimpah di dalam Gereja Konsili yang menyebabkan Api Penyucian dan Neraka diabaikan, diminimalkan atau disangkal oleh pejabat gerejawi dan bahkan Paus. Konsep sesat tentang keselamatan universal mendapat penerimaan umum, didukung oleh para teolog progresif dan juga oleh para Paus.

Saran yang dibuat oleh Yohanes Paulus II dalam Ensikliknya di Ut Unum Sint bahwa mereka yang beragama palsu dapat diselamatkan (2)
sudah cukup bagi banyak umat Katolik yang dangkal imannya untuk mengabaikan gagasan tentang Neraka, dengan asumsi bahwa Tuhan yang maha penyayang akan menyelamatkan semua orang yang memiliki niat baik. Karenanya, umat Katolik saat ini harus meningkatkan kewaspadaan mereka dan menyadari semua yang dibutuhkan bagi keselamatan. Jika tidak, Api Penyucian yang panjang, atau lebih buruk lagi, Neraka abadi akan menjadi takdir mereka…


Dosa material dan formal

Ada banyak jenis dosa yang dimasukkan oleh para moralis Katolik di bawah
naungan ajaran Sepuluh Perintah. Berikut sinopsisnya.


Ketika berbicara tentang dosa berat dan juga dosa ringan, Gereja berhati-hati untuk tidak membuat pernyataan yang pasti
, karena keseriusan suatu dosa dapat bervariasi berdasarkan pada masalah obyektif dari tindakan buruk, keadaan sekitarnya atau kesadaran orang tersebut tentang tingkat keberdosaannya. Faktor-faktor ini menentukan apakah ada dosa berat atau ringan, atau bahkan dalam beberapa kasus, tidak ada dosa yang dilakukan oleh seseorang.

Para teolog moral membedakan antara dosa "material" dan "formal". Tindakan yang bertentangan dengan Hukum Ilahi tetapi tidak diketahui oleh orang tersebut
, merupakan dosa material. Sederhananya, jika seseorang melakukan perbuatan melawan Hukum Ilahi, tanpa menyadarinya, tindakan itu dianggap sebagai dosa “material”, yaitu ada masalah dosa, tetapi orang tersebut tidak menyadarinya. Dosa formal dilakukan ketika orang tersebut dengan sengaja melanggar salah satu Perintah Allah.

Jadi, dalam suatu dosa berat, tiga elemen harus ada: masalahnya serius, pengetahuan yang cukup dan persetujuan dari keinginannya. Jadi, seseorang yang secara keliru mengambil harta milik orang lain, sementara dia mempercayai bahwa hal itu sebagai miliknya, maka dia melakukan dosa material. Tetapi dosa itu menjadi formal jika dia mengambil harta itu dengan keyakinan bahwa itu adalah milik orang lain, apakah keyakinannya benar atau tidak.


Dosa berat

Cara paling penting untuk menghindari Neraka adalah dengan tidak melakukan dosa berat. Sayangnya, saat ini banyak remaja - bahkan mereka yang bersekolah di sekolah Katolik - belum pernah mendengar tentang dosa berat karena kekhawatiran umum (dari pemikiran liberal) yang mungkin "menakutkan mereka". Ini adalah akibat menyedihkan dari kateketik yang dihasilkan oleh KV II.

 

Malaikat memegang timbangan dalam

pengadilan pribadi suatu jiwa


Gereja mengajarkan bahwa beberapa dosa adalah selalu bersiat berat atau mematikan. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, ada tiga faktor penentu:

 

1.      Sebuah masalah serius, dinilai dari pengajaran Kitab Suci, definisi Konsili dan para Paus, dan juga dari alasan orang tersebut;

2.      Pengetahuan yang cukup, yaitu pemahaman tentang beratnya materi;

3.      Persetujuan penuh atas keinginan orang tersebut.

 

Efek pertama dari dosa berat adalah mencabut kasih karunia pengudusan dari suatu jiwa dan menjauhkan manusia tersebut dari tujuan akhir yang sejati. Jika seseorang meninggal dalam keadaan seperti ini tanpa pertobatan, maka dia akan masuk kedalam ke Neraka. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengakui setiap dosa berat dalam hidup kita untuk memastikan keselamatan kita.


Bagaimana kita harus berhenti melakukan dosa berat? Harus diingat bahwa sebagian besar dosa yang kita lakukan adalah
merupakan dosa kebiasaan, artinya kita cenderung melakukan jenis dosa yang sama berulang kali. Oleh karena itu, kita harus berfokus pada hal-hal salah yang mematikan yang biasa kita lakukan. Orang-orang yang peduli tentang keselamatan juga berusaha untuk menghapus semua dosa ringan yang disengaja, dengan menyadari bahwa dosa-dosa itu menyinggung Tuhan dan menuntun kepada dosa berat.

Dosa berat yang umum biasanya paling berbahaya bagi keselamatan kekal karena tidak membawa stigma sosial - yaitu, "semua orang melakukannya" - yang menghasilkan hilangnya rasa ngeri jika melakukan dosa itu. Saat ini, banyak dosa melawan Iman (Perintah Pertama) dan terhadap kemurnian (Perintah ke 6 dan 9) termasuk dalam kategori ini.


Sepuluh Perintah Allah

Rangkuman singkat pelanggaran terhadap masing-masing Perintah
Allah dengan penekanan pada kengerian dosa berat dapat bermanfaat bagi banyak umat Katolik. Demikianlah yang disajikan di sini. Dosa tertentu selalu merupakan dosa berat dan keadaan yang ada tidak pernah mengubah kasusnya.

Untuk Perintah Pertama, ini termasuk dosa langsung terhadap Tuhan, seperti penyembahan berhala, keputusasaan, penghujatan, menolak Iman Katolik, kemurtadan dari Iman (
yang begitu umum dilakukan di Gereja progresif saat ini), bidaah dan skisma, dan kegagalan untuk mempersembahkan ibadah atau pemujaan tertinggi yang hanya layak bagi Tuhan saja dan yang merupakan hak-Nya.

Perintah Kedua - Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan - melarang
sikap tidak hormat kepada nama Tuhan, melanggar sumpah atau janji kepada Tuhan dan simoni

(pembelian atau penjualan hak istimewa gerejawi, misalnya pengampunan atau manfaat tertentu yang diperjualbelikan.)

Perintah Ketiga - Ingatlah bahwa engkau harus menguduskan hari Sabat - perintah bahwa kita menyembah Tuhan pada Kurban Kudus
di dalam Misa, melarang pekerjaan budak yang tidak perlu yang membutuhkan kerja tubuh berlebihan, dan menasihati kita untuk tidak mengabaikan doa dan pekerjaan spirituil yang mengarah pada keselamatan.


Perintah Keempat - Hormatilah ayah dan ibumu – ini adalah panggilan bagi kita untuk menghormati dan mencintai orang tua kita, untuk mematuhi mereka dalam semua hal yang tidak berdosa, dan membantu mereka ketika mereka membutuhkan. Itu juga memerintahkan orang tua untuk menyediakan kesejahteraan rohani dan jasmani bagi anak-anak mereka.

 

Pakaian yang tidak sopan menyinggung Tuhan kita

dan Bunda Maria, terutama saat dipakai di gereja

  

Perintah Kelima - Jangan membunuh – perintah ini melarang pembunuhan, bunuh diri, pertengkaran dan kemarahan yang berdosa, kebencian, balas dendam, kerakusan, kemabukan, contoh yang buruk, risiko sembrono dalam hidup dan partisipasi dalam pertengkaran.

Dosa terhadap Perintah Keenam dan Kesembilan - Jangan berzinah dan
jangan mengingini istri sesamamu - termasuk perzinahan, percabulan, masturbasi, dengan sengaja menikmati pikiran, penampilan, dan tindakan yang tidak murni, baik sendiri maupun dengan orang lain. Seringkali ini adalah dosa berat. Mengenai kenajisan, kengerian khusus dikaitkan dengan tindakan homoseksual, karena itu juga merupakan dosa terhadap alam, yang menuntut keadilan.


Perintah Ketujuh dan Kesepuluh - Jangan mencuri dan Jangan mengingini barang
milik sesama - melarang secara sukarela menyimpan apa yang menjadi milik orang lain; mencuri secara diam-diam adalah tetap merupakan tindakan pencurian dan mencuri dengan kekerasan adalah merupakan perampokan. Perintah ini juga melarang kita melakukan kecurangan dan menerima suap. Lebih jauh lagi, hal itu menghambat keinginan untuk mengambil atau menyimpan secara tidak adil apa yang menjadi milik orang lain dan melarang kecemburuan pada kesuksesan orang lain.

Perintah Kedelapan - Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu - melarang kebohongan, penilaian yang terburu-buru, penghinaan, fitnah dan menyimpan rahasia-rahasia.

Banyak buku doa zaman dulu memasukkan bagian dengan pemeriksaan hati nurani sebelum melakukan Pengakuan Dosa. Pemeriksaan batin ini menanyakan pertanyaan-pertanyaan terkait untuk setiap Perintah, serta untuk Tujuh Dosa Utama dan Enam Perintah Gereja. Membaca pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu membuat seseorang waspada terhadap pelanggaran - baik serius maupun ringan - yang mungkin dilakukan. Untuk kenyamanan pembaca, pemeriksaan semacam itu dapat ditemukan di sini dan di sini.

 

*****

 

Terungkap: Organisasi Komunis China Membiayai Organisasi Black Lives Matter

LDM - Penglihatan Dan Renungan LDM 13 September 2020

Bagaimana Pemerintah Cina Menggunakan Warganya Sebagai Tikus Percobaan

Dogma tentang Neraka – Bagian I

Dogma tentang Neraka – Bagian II

Dogma tentang Neraka – Bagian III

“Iblis dan Karl Marx”: sebuah ulasan