Thursday, October 31, 2019

SEORANG USKUP BRAZIL MENGUTUK RITUAL PACHAMAMA DI TAMAN VATIKAN


These Last Days News - October 29, 2019




PENISTAAN IBLIS: SEORANG USKUP BRAZIL MENGUTUK RITUAL PACHAMAMA DI TAMAN VATIKAN 


LifeSiteNews.com reported on October 28, 2019:
by Martin M. Barillas


Seorang uskup Brasil mengatakan bahwa upacara 4 Oktober 2019 lalu oleh paus Francis di taman Vatikan sebelum pembukaan Sinode Amazon, di mana ada orang-orang bersujud di hadapan patung kayu, seorang wanita hamil telanjang (Pachamama), adalah merupakan ‘penistaan ​​iblis yang sungguh memalukan.’

“Ibu Pertiwi seharusnya tidak disembah, karena semuanya, termasuk bumi ini, berada di bawah kekuasaan Yesus Kristus. Tidak mungkin ada roh dengan kekuatan yang sama atau lebih tinggi dari Tuhan kita atau Perawan Maria,” kata Uskup Emeritus José Luis Azcona Hermoso dari kota Brasil, Marajo, dalam homil 20 Oktober di katedral, di negara bagian Pará.

Atas sambutan tepuk tangan dari jemaat, uskup itu menambahkan dengan nada hampir berteriak: “Pachamama tidak dan tidak akan pernah menjadi Perawan Maria. Mengatakan bahwa patung ini mewakili Sang Perawan adalah bohong besar! Patung itu bukanlah Bunda Maria Amazon, karena satu-satunya Bunda Amazon adalah Maria dari Nazaret. Janganlah menciptakan campuran sinkretisme yang ngawur. Semua itu adalah tidak mungkin: Bunda Allah, Bunda Maria, adalah Ratu Surga dan bumi."

“Doa-doa yang berseru kepada patung-patung itu, bahkan beberapa uskup di Vatikan menunduk hormat kepada patung itu (dan saya tidak akan menyebut dari kongregasi mana mereka itu) dan itu adalah doa bagi kekuatan mitos, Ibu Pertiwi, dari mana mereka meminta berkah atau memberi tanda terima kasih. Ini adalah tindakan penistaan dari iblis yang amat memalukan, terutama di hadapan anak-anak kecil yang tidak dapat mengerti mana yang benar atau salah,” kata uskup José Luis Azcona dalam homilinya.

Uskup kelahiran Spanyol itu mengatakan bahwa pencerahan yang sejati dari Roh Kudus, yang sering disebut-sebut oleh ‘paus Francis kita yang terkasih,’ diperlukan untuk memahami sinode yang banyak diperdebatkan ini. “Kita harus membedakan antara apa yang berasal dari Setan atau dari pikiran manusia, dari apa yang berasal dari Roh Kudus. Penegasan ini sangat mendasar untuk menjadi bagian dari Gereja dan terlebih lagi untuk karya pewartaan Injil."

Uskup Azcona menyebut bahwa REPAM [Pan Amazon Church Network], sebuah jaringan Katolik yang mempersiapkan sebagian besar agenda Sinode Amazon dan yang dipimpin oleh Kardinal Cláudio Hummes, telah mengadakan pertemuan di Brasilia, beberapa bulan sebelum sinode, di mana diadakan ‘ritual adat dengan doa-doa yang berseru kepada dewa-dewa berhala’ dimana beberapa uskup ikut berpartisipasi disitu.’

"Ini adalah masalah mendasar, dan di sini, di Amazon, kita tahu arti dari macumba atau condomblè, yang cukup lazim di sini." Tersebar luas di timur laut Brasil, macumba dan condomblè adalah kultus afro-Brasil yang melibatkan penyertaan dari berbagai dewa dan dewi, tarian, mantra dan kurban.

Pada hari Jumat, paus Francis membenarkan bahwa patung kontroversial seorang wanita hamil, telanjang, di dalam upacara di Vatikan, dan kemudian dibawa dalam prosesi menuju Basilika Santo Petrus dan disimpan di altar samping, di Gereja Santa Maria di Traspontina, itu adalah melambangkan ‘Pachamama.’ Hal ini berbeda dari penegasan sebelumnya oleh juru bicara Vatikan, yang mengatakan bahwa patung-patung itu mewakili nilai kehidupan manusia. Merujuk pada pengambilan patung-patung itu dari gereja Traspontina, paus meminta maaf kepada mereka yang merasa tersinggung. Dia memberi tahu kepada para peserta sinode bahwa polisi Italia telah menemukan patung-patung itu yang telah dibuang ke Sungai Tiber.

Selama homilinya, Uskup Azcona juga berbicara tentang bahaya spiritual dari penggabungan ritual dan kosmologi pribumi dengan liturgi dan praktik Katolik. Dia menyesalkan karena tidak ada tempat di dalam Instrumentum Laboris (dokumen kerja) sinode bagi pembicaraan tentang kehadiran iblis atau pengaruh-pengaruhnya, efek buruknya pada orang-orang dan pada budaya, serta pembicaraan atas kemenangan Kristus, pembebasan-Nya dan penghancuran-Nya atas kuasa-kuasa jahat." Dia memperingatkan bahwa Gereja tengah berada di ambang perpecahan.

Para pengamat telah mencatat bahwa para klerus berpangkat tinggi telah kedapatan ikut berpartisipasi dalam ritual pagan jauh sebelum sinode Amazon yang baru saja selesai. Pada tahun 2015, Kardinal Gianfranco Ravassi - yang memimpin Dewan Kepausan untuk Kebudayaan – ikut berpartisipasi dalam tarian keliling untuk menghormati Pachamama, yang diselenggarakan oleh Forum Sosial Ekumenis di San Marcos Sierras, sebuah desa di provinsi Argentina, Cordoba. Yang juga berpartisipasi saat itu adalah Suster Maria Teresa Varela, wakil ketua Forum.

Yang juga mengecam seperti Uskup Azcona adalah Uskup Athanasius Schneider dari Kazakhstan. Dalam sebuah surat terbuka, Uskup Schneider mengecam patung Pachamama di Sinode Amazon. Pada hari Sabtu, dia meminta semua umat Katolik untuk memprotes kehadiran berhala itu di Vatikan dan untuk menawarkan tindakan penebusan dan pepulih atas pelanggaran yang disebabkan oleh apa yang disebutnya sebagai ‘anak lembu emas baru.’ Dalam Perjanjian Lama, umat Israel yang menunggu kembalinya Musa dan Sepuluh Perintah Allah dari Gunung Sion, ternyata mereka justru menyembah berhala untuk menggantikan Allah yang benar.

Schneider menulis: "Sinkretisme dan paganisme adalah seperti racun yang memasuki pembuluh darah Tubuh Mistik Kristus, Gereja."

*****

"Berhala! Berhala, anakku, para penyembah berhala telah berkeliaran di dalam Rumah Putraku! Tidak adakah orang yang pergi kesana dan mengusir mereka? Aku telah meminta kepadamu, demi Bapa di Surga, untuk mengembalikan St.Michael kedalam Rumah Putraku. Dia adalah penjaga Iman. St.Michael harus dimasukkan kembali kedalam Rumah Putraku.
"Para pastor, para gembala dari kawanan domba, mengapa kamu mencerai-beraikan domba-domba Kami? Tidak tahukah kamu, bahwa tanggung jawabmu ada pada Bapa, Penciptamu, yang telah memilih kamu untuk mengarahkan domba-domba-Nya? Mengapa kamu memilih untuk mencerai-beraikan mereka? Kumpulkanlah domba-domba ini, atau, selamanya kamu akan masuk ke dalam jurang. Tidak ada tempat di Surga bagi orang yang telah mengabaikan tugas yang begitu penting, yang begitu mulia, orang yang menjadi wakil dari Putraku di dalam  Rumah-Nya, yang dipilih dari antara ribuan dan jutaan orang di dunia. Betapa menyedihkan karena begitu sedikit yang mengenali panggilan sejati mereka!"- Our Lady of the Roses, Bayside, June 15, 1974

"Anak-anak-Ku, di masa lalu Gereja-Ku, umat-Ku, telah berjalan melewati cawan penderitaan, tetapi Aku berkata kepadamu: Rumah-Ku, Gereja-Ku di bumi sedang melewati pencobaan yang jauh lebih besar daripada yang pernah terjadi dalam sejarah. Lucifer dan para pengikutnya saat ini sedang bekerja dengan tekun dan paling berhasil pada saat ini dalam upaya mereka untuk menggulingkan tahta Peter dan menempatkan di Roma seorang paus yang merupakan antipaus dari sejarah." - Yesus, Bayside, 18 Juni 1978

"Tanpa sejumlah besar doa yang dibutuhan untuk menyeimbangkan neraca serta tindakan pemulihan dari anak-anak di dunia, maka akan ditempatkanlah di Tahta Petrus seseorang yang akan menaruh jiwa-jiwa dan Rumah Allah ke dalam kegelapan yang sangat dalam.” - Our Lady, Bayside, March 18, 1974



PROFESOR JOSEF SEIFERT...



PROFESOR JOSEF SEIFERT:
PACHAMAMA YANG DITEMPATKAN DI GEREJA ST. PETER, MERUPAKAN PELAKSANAAN DARI KESEPAKATAN ABU DHABI



PROFESSOR JOSEF SEIFERT, teolog




Upacara penghormatan berhala Pachamama oleh Francis di Vatikan


Basilika utama St. Peter bukanlah sebuah museum untuk menaruh patung-patung berhala, dan akan sangat salah jika Francis menggunakannya untuk tujuan ini.

Selain itu, menempatkan patung-patung tersebut di dalam Gereja Katolik selama Misa Agung Kepausan (7 Oktober 2019), sementara anggota-anggota suku yang percaya kepada dewi palsu ini hadir di Roma, mereka tidak menganggap patung-patung ini sebagai benda museum, tetapi sebagai dewi sembahan mereka.

Tindakan seperti itu secara obyektif mengekspresikan, jika tidak
disebut sebagai ‘menyembah, setidaknya hal itu merupakan solidaritas dengan dewa-dewi palsu, menempatkan agama palsu yang merupakan horor di mata Allah, seperti yang kita tahu dari banyak bagian Perjanjian Lama, berdampingan dengan agama Katolik.

Bahkan
meski tidak ada niat penyembahan berhala yang subyektif di balik ini, seperti yang ditegaskan oleh paus Francis, tetapi fakta obyektif menempatkan berhala di dalam Gereja, apalagi di Gereja Santo Petrus, adalah suatu pelanggaran terhadap Allah dan suatu tindakan yang secara obyektif bersifat sakrilegis.

Kardinal Müller mengungkapkan hal ini dengan baik: bukannya pengambilan patung-patung pagan itu dari dalam gereja (dan dibuang ke sungai Tiber) adalah tindakan yang tidak adil, dimana karena tindakan itu Francis sampai meminta maaf. Tindakan pengambilan patung ini hanyalah melanggar hukum manusia, tetapi tindakan menempatkan patung-patung itu di dalam gereja adalah pelanggaran terhadap Hukum Ilahi, yang merupakan dosa terhadap Perintah Pertama.

Tindakan
meletakkan patung berhala di dalam gereja, meski dengan alasan bahwa itu tidak dimaksudkan sebagai penghujatan dan kemurtadan dari Tuhan Yang Esa, tetapi secara objektif perbuatan itu adalah sebuah penghujatan.

Bagaimanapun,
tindakan Francis itu memanifestasikan paham yang dianutnya: relativisme religius, dimana Francis menunjukkan bahwa Allah memang menghendaki semua agama, terlepas dari kontradiksi batin mereka dan kontradiksi dengan kebenaran.

Permintaan maaf Francis karena patung-patung berhala itu dikeluarkan dari gereja oleh dua orang yang dipenuhi dengan semangat yang suci, seperti yang dikatakan oleh Alkitab tentang Kristus ketika Dia membersihkan Bait Allah, permintaan maaf Francis itu juga merupakan bentuk konfirmasi dari deklarasi Abu Dhabi yang sangat disayangkan oleh umat Katolik yang setia, dimana Francis mengatakan bahwa Tuhan menghendaki keberagaman agama. Pernyataan Francis ini bukan hanya sesat tetapi juga merupakan kemurtadan.

Tidak ada orang Kristiani, apa pun pengakuan imannya, yang akan mau menerima pernyataan Francis bahwa Allah menghendaki bahwa ada beberapa agama yang memuja Yesus Kristus sebagai Allah yang benar dan Manusia Sejati dan percaya bahwa keselamatan kekal mereka bergantung kepada iman ini, dan sekaligus Allah juga menghendaki agama-agama lain yang menolak Kristus atau bahkan percaya kepada banyak dewa.

Bagaimana mungkin Tuhan menginginkan agar agama-agama lain
yang tidak percaya kepada Kristus untuk dihormati seakan mereka adalah penghuni surga?

Kemudian upaya
Francis untuk menyajikan kehendak Allah ini (bahwa keberadaan berbagai agama adalah merupakan kehendak Allah) adalah sebagai kehendak yang memungkinkan kejahatan untuk terjadi, dan hal ini tidak dapat diterima oleh akal sehat, dan bertentangan dengan seluruh isi deklarasi itu.

Deklarasi ini secara eksplisit menyebut pluralisme agama sebagai sesuatu yang baik. Namun, kehendak ilahi yang mengizinkan kejahatan, seperti Auschwitz, tidak berasal dari ciptaan, juga bukan kehendak positif
dari Tuhan, tetapi hal itu merupakan tanggapan dari Tuhan terhadap dosa para malaikat dan manusia. Hal itu juga tidak bisa menjadi fondasi deklarasi yang baik.

Siapa
kah yang akan menyatakan dengan sungguh bahwa jutaan pembunuhan di Auschwitz adalah "kehendak Tuhan"?

Untuk mengkonfirmasi kembali deklarasi Abu Dhabi dengan menempatkan berhala Pachamama ke dalam St. Peter, adalah aspek yang sangat menyedihkan dari tindakan ini. Ini juga bertentangan dengan kewajiban moral yang paling mendasar untuk mematuhi kebenaran.

Menempatkan
berhala Pachamama di dekat altar di St. Peter tidak sesuai dengan semua kebenaran ini. Akan tetapi, ini sesuai dengan penolakan Francis bahwa Kristus adalah Allah yang sejati dan manusia sejati sejak saat pembuahan, yang merupakan pernyataan murtad yang oleh jurnalis atheis terkenal Scalfari, diakui bahwa Francis memang mengatakan hal itu kepadanya.

Jika Kristus bukan
sungguh Allah dan sungguh manusia, dan jika tidak ada agama yang benar yang bisa dipegang teguh oleh semua manusia, jika Kristus atau Pachamama hanyalah simbol untuk Tuhan yang sama dan yang tidak diketahui dengan jelas Siapa itu (paham relativisme religius ala Francis) maka tidak ada alasan untuk tidak menempatkan dewi berhala berikutnya di samping Kristus, di dalam Gereja Katolik.

Namun, jika Kristus
sungguh Allah dan sungguh manusia sejak saat pembuahan, maka tindakan-tindakan ini sudah layak untuk dianggap sebagai penistaan, penghujatan dan kemurtadan.

Semoga Tuhan mempertobatkan dan mengampuni mereka yang melakukan tindakan seperti itu, dan yang menabur kebingungan yang besar di antara umat beriman, merusak panggilan Kristus untuk ‘pergi dan mewartakan Injil’ kepada semua orang dan membaptis mereka, sebuah mandat yang benar-benar bertentangan dengan Pachamama yang ‘memberkati’ sebuah Sinode dan menempatkannya di samping hadirat Allah-manusia sejati, Yesus Kristus.



Wednesday, October 30, 2019

USKUP-USKUP ITALIA BERDOA KEPADA PACHAMAMA




MAMMA MIA: USKUP-USKUP ITALIA BERDOA KEPADA PACHAMAMA



Lembaran doa kepada pachamama


Missio, dalam bahasa Italia, organisasi pendukung kepausan untuk misi luar negeri, sudah diterbitkan pada bulan April 2019, dalam sebuah majalah yang ditujukan untuk Sinode Amazon yang akan datang. Di dalamnya ada sebuah ‘doa’ untuk Pachamama pada Halaman 17.

Organisasi ini dikendalikan oleh para uskup Italia. Teks tersebut disajikan sebagai "Doa orang-orang Inca kepada Ibu Pertiwi." demikian bunyi pengantarnya,

Berikut ini adalah bahasa Inggrisnya:

Pachamama of these places,
drink and eat this offering at will,
that this earth may be fruitful.
Pachamama, good Mother,
Be favorable! Be favorable!
Let the oxen walk well,
and that they don't get tired,
Let the seed grow well,
that nothing bad happens to it.
that the frost does not destroy it,
that it may produce good food.
We ask you: give us everything.
Be favorable! Be favorable!




“Kita, kita semua, menyukai ibu pertiwi, karena dia memberi kita kehidupan
dan menjaga kita”
Ucapan paus Francis kepada Jainist, 1 Juni 2016