Friday, February 28, 2020

KESEPIAN DALAM KEKATOLIKAN




KESEPIAN DALAM KEKATOLIKAN



OnePeterFive 

25 Februari 2020

Catatan Editor: Artikel ini datang kepada kami dari seorang Katolik anonim dengan pegangan Twitter @FergusFSU.

Agama Tuhan, Iman Kristiani, bukanlah bagi para pengecut.  Seperti yang dikatakan oleh Kristus sendiri, “… jalan menuju keselamatan itu sempit (Mat. 7:14), dan hanya dia yang bertahan sampai akhir yang akan selamat. (Mat. 24:13).

Kita harus (bukan sebaiknya) memikul salib kita setiap hari (bukan hanya sekali) jika kita ingin diselamatkan (Luk. 9:23).  Pengingat ini berfungsi sebagai pengantar dari sifat kesepian Katolik yang banyak ditemukan orang saat ini.

Ulangan 31: 6: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu;  janganlah takut atau gemetar terhadap mereka, karena TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu;  Dia tidak akan membiarkan kamu atau meninggalkan kamu."

Apa yang dimaksud dengan Kesepian dalam Kekatolikan?  Adalah kesadaran yang datang kepada banyak orang, bahwa begitu mereka menerima semua ajaran Gereja Katolik, dan berharap untuk memeluk iman Kristen sepenuhnya, mereka akan menemukan diri mereka dalam kesendirian, bahkan ketika dikelilingi oleh keluarga dan teman-teman mereka. Meskipun ada cinta dan kasih sayang keluarga, namun ada keterputusan yang mendasar dan asasi dalam cara bagaimana masing-masing memandang dunia dan kehidupan.

Lukas 12: 52–53: Mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga;  mereka akan saling bertentangan: ayah melawan putranya dan putra melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

Untuk memberikan contoh pribadi yang anekdotal, dalam hidup saya sebagai anggota baru Gereja, pada tahun 2010, saya tidak memiliki satu orang pun di antara keluarga, teman, atau bahkan kenalan dekat saya yang menerima, percaya, dan menjalani semua ajaran Gereja. Istri saya membenci Gereja, jadi kehidupan di rumah sangat sulit, dan potensi untuk meledak selalu ada. Beberapa keluarga saya adalah pemeluk Protestan yang setia, sehingga mereka bahkan tidak memiliki iman Kristen yang sejati, dan saya dipandang sebagai jiwa yang hilang oleh mereka. Anggota keluarga lainnya adalah atheis, anggota New Age, atau kafir. Ada beberapa teman yang secara teratur menghadiri Misa dan menerima sebagian besar ajaran Gereja, tetapi mereka semua menolak satu atau beberapa ajaran yang tidak mereka sukai. Jadi bagi saya pribadi, tidak ada seorang pun di sekitar saya yang dapat saya percaya dan berbicara secara terbuka, terus terang dan penuh semangat tentang iman, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam Gereja, atau tentang kehidupan secara umum. Itu adalah jurang yang meninggalkan kehampaan bagi saya maupun orang lain dalam situasi yang sama.

Mazmur 27:10: "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku."

Ini sulit untuk dijalani, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, yang diciptakan oleh Allah untuk hidup dalam persekutuan (secara harfiah dan kiasan) satu sama lain dan dengan Dia. Ketika persekutuan kepercayaan ini melemah, hal itu menciptakan kesepian bagi umat Katolik yang setia.

Jadi ketika ada perasaan frustrasi terhadap barisan awam yang membagikan Komuni, atau kemarahan orang benar tentang penistaan ​​atau bid'ah terbaru yang diucapkan oleh seorang klerus, tak ada jiwa yang sepadan yang bisa diajak berbicara untuk mendapatkan penghiburan, sambil berjuang di garis depan sebagai bagian dari Gereja yang Militan. Semua prajurit membutuhkan "esprit de corps," ikatan kesetiakawanan yang dibuat bersama dalam pertempuran, dan orang Kristen membutuhkan ikatan itu dengan sesama orang Kristen yang bertempur melawan kekuatan jahat. Tetapi apa yang terjadi ketika hanya ada begitu sedikit prajurit sejati yang berjuang bagi Kristus sehingga orang Kristen tidak bisa memiliki satu orang Kristen sejati pun dalam kehidupan pribadi mereka untuk diikat?

Mazmur 22:11: "Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong."

Hal pertama dan terpenting yang harus dilakukan adalah doa. Ini adalah jawaban yang diharapkan, dan memang demikianlah seharusnya. Beban yang Anda alami ini sama sekali tidak dapat ditanggung tanpa berbalik kepada Allah dan tetap tinggal di dalam Dia. Jika Anda tidak memiliki kehidupan doa yang teratur, Anda akan goyah dan menjauh dari Iman. Keluarga, teman, dan masyarakat Anda akan menarik Anda ke bawah dan menjauh dari Tuhan. Jadi doa itu wajib. Berdoalah rosario setiap hari, dan cobalah untuk menghabiskan waktu ekstra bersama Tuhan dengan cara lain seperti Adorasi.

Kedua, cari Misa Latin di dekat Anda jika memungkinkan. Ini bukan diskusi tentang apakah Novus Ordo adalah Misa yang sah, tetapi sebaliknya hanya untuk menunjukkan kepada Anda bahwa Anda bisa menemukan jiwa-jiwa yang sepadan di TLM yang percaya, menerima, dan menjalani seluruh iman Kristen. Kesempatan Anda untuk menemukan seorang teman yang dengannya Anda dapat memiliki kesamaan pandangan dan kesetiakawanan dalam pertempuran harian Anda, jauh lebih besar daripada di Misa Novus Ordo. Ini benar secara obyektif. (Sebagai tambahan, selama sepuluh tahun saya menghadiri dua paroki Novus Ordo, saya hanya menemukan segelintir orang yang sepenuhnya menerima, percaya, dan menghayati iman Kristen di kedua paroki tsb.)

Dalam kehidupan pribadi saya, menghadiri Misa Latin belum dimungkinkan karena berbagai alasan, tetapi mudah-mudahan ini akan segera berubah, dan saya akan bisa menemukan beberapa jiwa yang sepadan dalam Iman yang dengannya saya bisa berteman.

Matius 26:40: "Setelah itu Ia mendatangi para murid-Nya dan mendapati mereka sedang tidur.  Dan Ia berkata kepada Petrus, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"

Hal ketiga yang bisa dilakukan adalah mempersembahkan penderitaan Anda dan mempersatukannya dengan Kristus. Kemampuan manusia untuk menanggung penderitaan secara langsung berhubungan dengan apakah ada tujuan yang lebih tinggi dari penderitaan itu.  Orang tua dapat menanggung semua kekacauan, sakit hati, dan kurang tidur, jika mereka tetap fokus pada kesejahteraan anak-anak mereka. Memikul salib Anda setiap hari tidak bisa dipahami oleh mereka yang berada di luar agama Kristen, tetapi hanya bagi mereka yang memiliki rahmat pengudusan Allah yang mengalir melalui jiwa mereka. Ingatlah bahwa Kristus hanya seorang diri di ruangan bawah tanah pada malam suci sebelum pengadilan-Nya di hadapan Mahkamah Agung dan Pilatus, namun Dia tidak sendirian, karena Bapa dan Roh Kudus ada bersama-sama dengan-Nya.

Rekomendasi keempat dan terakhir yang bisa saya berikan adalah menemukan komunitas online yang baik di antara berbagai media sosial. Orang-orang dari seluruh penjuru negeri dan dunia yang juga merupakan bagian dari Gereja Militan dan berada dalam perang melawan kejahatan, ada bersama Anda. Perasaan saling percaya dan persahabatan mereka dapat menghidupkan semangat Anda dan mendorong Anda untuk menjadi kudus dan bertumbuh di dalam Tuhan.

Janganlah kehilangan harapan. Janganlah kehilangan iman. Janganlah kehilangan kasih.  Teruslah berjuang, teruslah berdoa, dan jagalah jiwa Anda dalam keadaan rahmat pengudusan dengan mengunjungi Sakramen sesering mungkin.

1 Korintus 10:13:  "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melebihi kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu bisa menanggungnya."


*****






FATIMA DAN ‘TANDA-TANDA ZAMAN’ PERLU DICERMATI LEBIH DEKAT ...




Paus Leo XIII, Bunda Maria Fatima & Suster Lucia


These Last Days News - August 7, 2017

FATIMA DAN ‘TANDA-TANDA ZAMAN’ PERLU DICERMATI LEBIH DEKAT ...


HPRWeb.com reported on January 20, 2017:

by Pastor Regis Scanlon, OFMCap


Prolog: Mencari Titik Tolak Dan Dialog Bersama

Sementara kita hendaknya tidak dengan sembarangan mencari tanda-tanda dari Allah, Alkitab dan Konsili Vatikan II keduanya menyatakan bahwa adalah bijaksana untuk membaca ‘tanda-tanda zaman’ (Mat 16: 3). Bagaimanapun juga, jika Allah menawarkan tanda zaman itu kepada kita, akan ada konsekuensi serius jika kita tidak mengenali dan mengindahkannya.

Jadi, apakah ‘tanda zaman’ bagi kita pada dekade kedua dari milenium ketiga ini, pada awal 2017?

Saya percaya bahwa tanda-tanda zaman bagi kita di abad ke-21 ini adalah tanda-tanda yang diungkapkan kepada Paus Leo XIII pada tahun 1884, dan kepada anak-anak di Fatima pada tahun 1916 dan 1917. Saya menganggap bahwa adalah sebuah kesalahan bagi dunia - terutama bagi Gereja – jika mengabaikan pengalaman mistis Paus Leo XIII serta penampakan Bunda Maria di Fatima. Namun, justru itulah yang terjadi. Khususnya berkaitan dengan Fatima, banyak, jika tidak sebagian besar, dalam hierarki Vatikan tampaknya telah mengabaikan rincian peringatan Bunda Maria (termasuk yang disebut sebagai Rahasia Ketiga) atas hal-hal yang terjadi saat ini.

Saya percaya tidak ada yang bisa bergerak semakin jauh dari kebenaran. Mengabaikan pesan Fatima hari ini adalah seperti kita mengabaikan suara alarm kebakaran dan detektor asap yang berbunyi pada saat yang bersamaan di rumah seseorang. Pada tahap yang mengerikan, sebenarnya dunia telah melakukan pelanggaran terhadap kemurnian dan pernikahan yang diperingatkan oleh Bunda Maria di Fatima. Saat ini, seabad kemudian, kita melihat dampaknya yang terjadi sekitar kita: penghinaan terhadap makna pernikahan yang sebenarnya, dukungan yang semakin meluas terhadap kebobrokan seksual, dan ketidakpedulian serta pengabaian terhadap penerimaan Komuni Kudus secara layak.

Kecuali Gereja mau kembali kepada pengakuan akan pentingnya peristiwa dan pesan Fatima, dan pewartaan yang antusias akan pesan Fatima (dan terutama penentangan sengit terhadap semua kegiatan setan, seperti yang dikatakan oleh Paus Leo XIII), maka iman saya mengatakan kepada saya bahwa kita akan ditakdirkan untuk menderita segala akibatnya. Namun, Tuhan tidak ingin kita menderita hal ini! Saya percaya hal ini dan itulah sebabnya Dia memberi kita tanda-tanda penting di abad ke-19 dan awal abad ke-20, agar kita dapat bertobat dan memperbaiki diri kita di abad ke-21. Karena itu, saya memohon kepada hierarki Gereja, kepada setiap imam dan otoritas mengajar di dalam Gereja, untuk mempertimbangkan kembali ketidakpedulian mereka terhadap tanda-tanda yang diberikan di Fatima bagi saat ini, serta pengalaman dari Paus Leo XIII. Setiap umat awam Katolik harus mempertimbangkan hal ini juga.

Tanda-tanda penting ini telah disahkan oleh Gereja, dan ia memiliki relevansi besar bagi kita dewasa ini. Paus Leo XIII menerima tanda dari Tuhan pada tahun 1884, dan 33 tahun kemudian, tiga anak gembala di Fatima, Lucia, Jacinta, dan Francisco, menerima tanda-tanda melalui penampakan dari Malaikat, dan dari Bunda Maria, yang berlangsung dari tahun 1915 hingga 1917.

Secara keseluruhan, pesan kepada Paus Leo XIII, dan penampakan Malaikat dan Bunda Maria di Fatima, mengungkapkan rencana setan: bahwa setan akan berusaha menghancurkan Gereja selama periode 100 tahun.


Tiga Peristiwa Penting

Saya ingin membahas, secara terperinci, peristiwa-peristiwa di balik tanda-tanda ini, karena saya percaya kita belum melihat kesimpulan dari pesan-pesan itu. Inilah sebabnya mengapa sangat mendesak bagi Gereja untuk mencermati kembali peristiwa-peristiwa ini. Kecuali jika Gereja mau memimpin umatnya untuk mengakui peringatan-peringatan ini, dan menuntun umat di jalan yang menuju pertobatan besar, maka kita masih akan menghadapi berbagai konsekuensinya.
Peristiwa pertama adalah visi (atau lokusi) dari Paus Leo XIII pada 13 Oktober 1884. Yang kedua adalah penampakan Malaikat kepada ketiga anak di Fatima pada tahun 1916; dan tanda ketiga dan terakhir adalah penampakan Bunda Maria kepada anak-anak Fatima pada 13 Oktober 1917. Peristiwa dan tanda terakhir ini menyajikan pesan yang sangat mendesak dan dramatis karena termasuk keajaiban berputarnya matahari, yang terjadi di hadapan ribuan orang (termasuk banyak orang atheis), dimana matahari itu meluncur ke arah bumi, seolah-olah akan menghancurkan umat manusia.

Peristiwa pertama: Dalam visi atau lokusi setelah komuni, Paus Leo XIII pada 13 Oktober 1884, dia mendengar percakapan antara Tuhan dan setan di mana setan menantang Tuhan dengan mengatakan bahwa dia dapat menghancurkan Gereja jika dia diberi waktu dan kekuatan. Dia meminta kepada Tuhan waktu 100 tahun untuk mencobai Gereja, dan Tuhan mengijinkannya — kemungkinan besar adalah demi kehormatan dan kemuliaan-Nya.

Pesan Ilahi kepada Leo XIII ini menunjukkan bahwa, pada akhirnya, St. Michael, Malaikat Agung, akan mengalahkan setan, dan kuasa Tuhan akan bersinar di dunia. Pesan ini menggemakan kisah-kisah dalam Alkitab di mana St. Michael mengalahkan setan (Why. 12: 7-12), dan menguncinya selama seribu tahun (Why 20: 1-3). Karena inilah, tidak diragukan lagi, mengapa Leo XIII menulis sebuah doa kepada St. Michael, yang diberikan kepada Gereja setelah dia merenungkan lokusinya pada 13 Oktober 1884 — doa yang hendaknya didaraskan setiap akhir Misa hingga saat KV II. (setidaknya, di AS), dan kemudian kebiasaan mendaraskan doa itu menghilang secara misterius — meskipun doa itu tetap hidup di dalam hati banyak sekali umat Katolik yang setia di seluruh dunia, yang selalu mendaraskannya secara teratur, bahkan setiap hari. Jelaslah bahwa doa ini harus dihidupkan lagi pada akhir setiap Misa di seluruh dunia saat ini.


St.Michael, Malaikat Agung, belalah kami pada hari pertempuran ini. Jadilah pelindung kami melawan kejahatan dan jebakan dari si jahat. Dengan rendah hati kami mohon, kiranya Allah menghardiknya, dan semoga engkau, hai panglima pasukan Surgawi, dengan kuasa Allah, mencampakkan kedalam neraka setan dan semua roh jahat lainnya, yang berkeliaran di dunia, yang hendak membinasakan jiwa-jiwa. Amin.


Peristiwa Kedua: Tiga puluh satu tahun kemudian, pada tahun 1915, dan lagi pada tahun 1916, sementara Lucia, Jacinta, dan Francisco menggembalakan domba-domba mereka di Fatima, mereka menerima penampakan dari Malaikat, setiap tahun. Selama penampakan kedua, malaikat muncul dengan sebuah Piala yang di atasnya tergantung Hosti Kudus, dari mana beberapa tetes Darah jatuh dari Hosti itu ke dalam piala di bawahnya. Sementara piala dan Hosti Kudus itu menggantung diam di udara, malaikat itu bersujud menyembah dan memuji di hadapan Hosti dan piala itu, dan meminta kepada anak-anak Fatima itu untuk melakukan hal yang sama. Dia kemudian meminta anak-anak itu untuk mengulangi bersamanya tiga kali:

Tritunggal Yang Mahakudus — Bapa, Putra, dan Roh Kudus — aku memuji Engkau. Aku mempersembahkan Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Yesus Kristus yang amat berharga, yang hadir di semua tabernakel di dunia, sebagai silih atas segala penghinaan, pencemaran, dan ketidakpedulian yang menentang Dia. Dan melalui jasa yang tak terhingga dari Hati-Nya Yang Mahakudus, dan Hati Maria Yang Tak Bernoda, aku mohon kepada-Mu demi pertobatan orang-orang berdosa.


Malaikat itu kemudian mengambil Hosti Kudus, dan memberikan-Nya kepada Lucia, dan memberikan piala kepada Jacinta dan Francisco, dan berkata:

Terimalah Tubuh dan Darah Yesus Kristus, yang sangat dihinakan oleh orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. Lakukanlah silih bagi dosa-dosa mereka, dan hiburlah Allahmu.

Karena itu, Allah sangat tersinggung oleh mereka yang menerima Komuni Kudus secara tidak layak, dan mereka harus bertobat atas semua sakrilegi yang mereka lakukan. Pesan yang jelas di sini adalah bahwa penghujatan terhadap Ekaristi tidak akan dibiarkan begitu saja. Seseorang harus melakukan penebusan dosa atas pelanggaran-pelanggaran ini.

Peristiwa Ketiga: Tahun berikutnya, pada 13 Oktober 1917, hanya 33 tahun setelah lokusi Leo XIII, Bunda Terberkati menampakkan diri kepada tiga anak gembala Fatima. Pesan Bunda Maria di Fatima cukup sederhana. Dunia harus bertobat atas dosa-dosanya, atau Tuhan akan menghukum dunia. Bunda Maria meminta anak-anak itu untuk ‘berdoa Rosario dan melakukan penebusan dosa untuk perdamaian dunia.’ Kemudian ketika Jacinta terbaring sekarat di rumah sakit di Lisbon, Bunda Maria mengatakan kepadanya, bahwa dosa yang paling menyinggung Allah adalah ‘dosa daging,’ Dan bahwa banyak pernikahan yang tidak baik. Jadi, bagaimana Jacinta yang berusia pra-remaja yang sedang sekarat saat itu, yang berusia 10 tahun, bisa mengetahui tentang hal-hal ini pada tahun 1920?

Dia sering bertanya kepada saya tentang masalah ini, dan saya pikir, sekarang, bahwa ketika di Lisbon dulu, mungkin terpikir olehnya untuk mengajukan pertanyaan itu kepada Bunda Maria sendiri, dan bahwa inilah jawaban yang diterimanya.

Ini tidak berarti bahwa ‘dosa daging’ atau ‘perkawinan yang bermasalah’ adalah dosa yang terburuk, tetapi bahwa itu adalah dosa yang paling banyak dan paling sering dilakukan orang, dengan akibat yang mengerikan di dalam hukuman kekal.

Bunda Maria memberi anak-anak Fatima itu sebuah tanda — yang telah dia umumkan sebelumnya — sehingga banyak orang datang untuk melihat dan mempercayai pesannya. Selama penampakan itu, Lucia menunjuk ke arah langit, dan pada saat itu awan-awan nampak bergulung kembali, dan matahari tampak berputar-putar, dan bergerak mendekati bumi seakan mau menabraknya.
Antara lima puluh dan tujuh puluh lima ribu orang, yang berkumpul pada hari itu, kemudian menjadi percaya. Lautan lumpur tempat mereka berdiri segera mengering, begitu pula pakaian mereka, yang basah kuyup karena hujan selama tiga hari, menjadi kering. Orang-orang atheis yang mencetak laporan dari acara tersebut di surat kabar sekuler mereka, adalah termasuk di antara para saksi. Seseorang bahkan dapat menemukan foto-foto dari cerita surat kabar di buku-buku tentang mukjizat Fatima.

Makna dari ‘hujan turun’ dan ‘ancaman bumi ditabrak oleh matahari,’ dalam konteks peringatan Bunda Maria tentang menghindari dosa, dapat dipahami oleh mereka yang akrab dengan Kitab Suci. Karena orang-orang pada zaman Nuh yang dihukum oleh banjir karena mengambil nyawa manusia, dan Sodom dan Gomora yang dihukum oleh api dari langit karena ‘dosa-dosa kedagingan,’ terutama tindakan sodomi yang merupakan nama yang diberikan untuk tindakan homoseksual (Kej 6-9; 18-19). Ancaman itu merupakan gaung dari ajaran St. Paulus dalam Perjanjian Baru bahwa "murka Allah" akan menimpa semua orang yang melakukan "amoralitas seksual, kenajisan, dan nafsu" dan terutama "nafsu yang tidak wajar" atau aktivitas homoseksualitas (Kol 3: 5 -5; Rm 18-28). Jadi, “murka Allah” turun ke dunia ketika pembunuhan dan kenajisan seksual — terutama tindakan homoseksual — menjadi merajalela. Mengapa? Mungkin karena pelanggaran kepada kehidupan dan kasih ini akan mengakhiri dunia, jika hal itu dibiarkan berlanjut. Karena itu, Bunda Maria memperingatkan Gereja bahwa setan akan berusaha menghancurkan Gereja, terutama melalui "dosa kedagingan," seperti perkawinan yang tidak wajar – yang diperparah dengan banyaknya tindakan Komuni sakrilegi. Pesannya adalah bahwa Tuhan sangat tersinggung oleh kejahatan ini, dan jika hal itu tidak diperbaiki, Dia akan menghukum dunia seperti pada zaman Nuh, serta zaman Sodom dan Gomora.


Tiga Tanda Itu Adalah Peringatan Dari Tuhan

Dengan mengumpulkan semua informasi ini bersama, kita dapat mengasumsikan bahwa serangan setan ini akan terjadi pada zaman sejarah kita sendiri, sekarang ini. Bahwa waktunya adalah sekarang ini, itu sulit disangkal, ketika kita menganggap bahwa tanda-tanda itu mengungkapkan bahwa senjata ‘ganda’ dari setan itu akan berupa "dosa-dosa kedagingan" dan "Komuni sakrilegi."

Kenyataannya, dua kejahatan besar ini ada di sekitar kita, hari ini. Pada saat yang sama, hanya ada sedikit sekali perbaikan atas kejahatan ini dalam beberapa waktu terakhir, terutama dari para pemimpin Gereja. Tidak ada yang dapat meragukan bahwa kita masih jauh dari dipersatukan, dalam doktrin kita. Hal ini sangat meresahkan karena, menurut tiga tanda yang membentang dari tahun 1884 hingga 1917, kecuali Gereja dan otoritas dunia mau bertindak untuk menentang dan memperbaiki kejahatan-kejahatan ini, maka Bunda Maria tidak akan dapat “tetap memegangi tangan Putranya yang Terkasih agar tidak menimpa dunia ini" melalui pengadilan-Nya. Kemudian bumi akan dimurnikan, dan Tuhan akan sekali lagi dihormati dan disembah sebagaimana Dia seharusnya.

Jika tangan Tuhan jatuh ke atas dunia, itu pasti akan dianggap sebagai hukuman, tetapi itu adalah benar-benar tindakan belas kasihan Tuhan. Mengapa? Karena, jika umat manusia diizinkan untuk melanjutkan jalan hidupnya yang anti-kehidupan seperti saat ini lebih lama lagi, maka hasil akhirnya pasti akan berupa kematian pada skala dunia. Baik akal maupun iman memberi tahu kita bahwa jika manusia menggunakan kehendak bebasnya untuk mempromosikan kematian, maka kematian adalah apa yang akan kita bawa ke atas diri kita sendiri.

Ingatlah bahwa Paus Paulus VI meramalkan hampir 50 tahun yang lalu, dalam Humanae Vitae no.17, bahwa kontrasepsi akan menyebabkan keruntuhan pernikahan dan keluarga, dan bahwa perempuan akan mengalami kekerasan, dan diperlakukan seperti benda. Sekarang, lihatlah bahwa kita hidup dengan keadaan yang menyedihkan ini setiap hari. Sekarang, ditambah lagi dengan segala bentuk kejahatan lain yang telah diterima secara universal di dunia kita sejak tahun 1968. Kita telah berjalan jauh melampaui kejahatan kontrasepsi, penerimaan sterilisasi, aborsi, genosida, euthanasia, bunuh diri dengan bantuan, pernikahan homoseksual, dan yang terbaru, “disfungsi gender."

Hari ini kita berada di tengah-tengah apa yang dilihat oleh Yohanes Paulus II pada tahun 1995, dan memperingatkan tentang Evangelium Vitae No.28 — pertumbuhan yang terus berkembang dari “budaya kematian.” Hal ini telah menjadi badai kejahatan yang sempurna di seluruh dunia, dan sama sekali tidak mengada-ada bagi orang beriman untuk percaya bahwa penerimaan kejahatan yang merajalela ini menuntun kita ke arah semacam bunuh diri dunia, mungkin saling bunuh diri dengan senjata nuklir. Jelas, umat manusia tidak akan selamat dari kontaminasi nuklir — meski mereka tidak akan mau. Ini adalah bagian dari peringatan yang diberikan Bunda Maria kepada Sr. Lucia setelah dia masuk ke dalam biara. Kasusnya telah terjadi saat ini, dimana kita memiliki pilihan antara "Fatima atau Bunuh Diri Dunia."

Maka dari itu, kejahatan harus ditentang. Jika manusia tidak akan melakukannya, Tuhan yang akan melakukannya. Jika Tuhan melakukannya, bentuknya mungkin akan berupa penderitaan besar di seluruh dunia. Tetapi apa pun yang terjadi, Hati Bunda Maria yang Tak Bernoda akan menang, dan "zaman damai akan diberikan kepada dunia."


Peringatan Itu Dimaksudkan Untuk Kita Hari Ini

Hari ini, kita melihat peringatan-peringatan Bunda Maria sedang berlaku di sekitar kita. Statistik menunjukkan penghinaan terhadap pernikahan, dan perceraian yang meluas. Perzinaan dan percabulan adalah hal biasa. Sementara itu meski "sodomi" telah ada sejak jaman dahulu, namun pada tahun 1917 (zaman Fatima) gagasan tentang "perkawinan homoseksual" yang legal - terutama pada skala dunia – masih belum bisa dibayangkan akan terjadi. Demikian pula, sementara aborsi telah memainkan peran yang menyedihkan sepanjang sejarah manusia, kecuali untuk beberapa budaya pagan yang brutal, aborsi jelas tidak didukung penuh oleh masyarakat, dan aborsi masih dilarang oleh pemerintah, sebagai "hak hukum" pada tahun 1917 (zaman Fatima). Namun saat ini, aborsi dilindungi, bahkan di negara-negara Katolik tradisional, yang telah menyebabkan jumlah mengerikan: 1,5 miliar bayi dibunuh di seluruh dunia sejak 1980. Dan setelah Air Bah, Tuhan berkata kepada Nuh: "Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.”(Kej. 9: 5).

Dan renungkan pula banyaknya penghujatan terhadap Tuhan kita dalam Komuni Kudus. Pada tahun 1917, saya ragu Anda bisa menemukan seorang Katolik yang taat, pada masa itu, yang tidak akan ngeri mendengar bahwa seorang Katolik secara teratur menerima Komuni tanpa ada yang menegur, meskipun dia bercerai dan menikah lagi, atau mempraktikkan percabulan, perzinahan, atau tindakan homoseksualitas.

Namun saat ini, semua tindakan keji ini diabaikan, diremehkan, atau ditutup-tutupi, dan tidak hanya oleh umat Katolik biasa yang duduk di bangku-bangku gereja, tetapi juga oleh banyak sekali pastor dan pemimpin Gereja! Seolah-olah Gereja berada di arah yang berlawanan dari apa yang dianjurkan oleh Malaikat di Fatima.

Siapakah yang dapat menyangkal, hari ini, bahwa Gereja nampak jelas mendorong terjadinya Komuni sakrilegi? Mayoritas Uskup Jerman menginginkan agar orang yang bercerai dan menikah lagi secara tidak sah, dapat menerima Komuni, bahkan tanpa pembatalan atas perkawinannya yang bermasalah, dan tanpa melakukan pantang sex secara lengkap. Ide-ide yang serupa juga muncul di negara-negara lain, seperti di Amerika Serikat misalnya. Beberapa uskup di negara-negara ini mempromosikan perbuatan sakrilegi (mungkin tanpa sepengetahuan orang banyak) dengan menafsirkan dan mengikuti dokumen kepausan, Amoris Laetitia, seakan dokumen itu memberi izin kepada pasangan yang menikah secara tidak sah, hidup dalam perzinaan yang obyektif, untuk menerima Komuni melalui apa yang disebut "bentuk solusi internal" di dalam pengakuan dosa. Yang lain lagi bahkan bertindak lebih jauh dengan memperdebatkan komuni terbuka, dengan menentang hukum Kanon 915, yang isinya meminta para pastor untuk menolak orang menerima Komuni jika orang tersebut bersikap keras kepala, dan di depan umum, hidup dalam dosa obyektif. Bahkan kepala Departemen Pernikahan dan Kehidupan Keluarga Vatikan sekalipun, tampaknya mengatakan bahwa, dalam beberapa kasus, orang yang hidup dalam perkawinan yang tidak sah dapat menerima Komuni tanpa persyaratan untuk hidup sebagai kakak dan adik.

Nampak jelas bahwa ada sejumlah uskup yang berpikir bahwa, jika orang tidak percaya, atau tidak tahu, bahwa mereka hidup dalam perzinaan, maka mereka bebas untuk menerima Komuni Kudus, karena tidak ada tindakan jahat dari pihak orang tersebut, dan oleh karena itu, tidak ada tindakan sakrilegi yang dilakukan. Yang benar adalah, bahwa sementara seseorang bisa bebas dari dosa karena ketidaktahuan mereka, tetapi tindakan itu sendiri masih tetap merupakan tindakan yang secara intrinsik adalah jahat. Perbuatan itu sendiri masih sangat menentang Tuhan! Padahal Gereja dengan jelas mengajarkan bahwa: Karena itu, merupakan kesalahan untuk menilai moralitas tindakan manusia dengan hanya mempertimbangkan niat yang mengilhami mereka, atau keadaan (lingkungan, tekanan sosial, paksaan atau darurat, dll) yang mendasari konteks pemikiran mereka.

Selanjutnya, Gereja mengajarkan bahwa:
... ada tindakan-tindakan, yang dalam dirinya sendiri, terlepas dari keadaan dan niat mereka, selalu terlarang dengan alasan dari objek mereka; seperti penistaan, pembunuhan dan perzinahan. Karena itu sebaiknya seseorang tidak pernah melakukan kejahatan agar kebaikan dapat dihasilkan darinya.

Dan ketika tindakan-tindakan jahat yang obyektif dikombinasikan dengan penerimaan Tubuh dan Darah Yesus Kristus dalam Komuni Kudus, maka itu selalu merupakan penistaan. Hal itu membawa kerugian besar bagi Gereja, dan mengundang hukuman yang adil dari Allah.

Adalah sebuah misteri dan tanda dari masa-masa sulit kita sekarang, bahwa ajaran yang berbahaya ini belum diperbaiki. Ini merupakan pukulan terhadap ajaran Gereja yang otentik, dan mengabaikan kebenaran bahwa Kitab Suci, dan St. Paulus, tidak mungkin salah. Menyatunya dosa perzinaan dengan Komuni Kudus seakan mengipasi api ‘murka’ Tuhan atas Gereja, dan dunia. Tentunya, inilah sebabnya mengapa ada begitu banyak kebingungan dan ketidakharmonisan di antara para pemimpin Gereja, dan mengapa dunia menderita dengan meningkatnya perbuatan amoralitas, perselisihan, kekerasan, pertumpahan darah, dan perang saat ini.


Tanggal 13 Oktober 1917 Mungkin Adalah Pilihan Setan

Oleh karena itu, mengingat merebaknya kejahatan dan penistaan di dunia sejak tahun 1917, hal itu tidaklah berada di luar kemungkinan — dan pada kenyataannya, sepertinya benar — bahwa setan memilih untuk memulai perang 100 tahunnya di dalam Gereja pada 13 Oktober 1917.
Mungkin, tanggal itu memiliki makna setan karena menandai tahun ke 33 sejak Leo XIII menerima  lokusi. Mungkin, setan ingin mengejek 33 tahun Tuhan kita berada di bumi? Bukanlah hak kita untuk mengetahui hal ini, tetapi kita bisa berspekulasi. Apakah Bunda Maria ikut campur tangan dalam melawan rencana setan ini dengan meminta dan menerima izin dari Allah Bapa, untuk memperingatkan dunia? Dan apakah dia melakukannya melalui berbagai penampakan dan pesannya kepada anak-anak Fatima pada 13 Oktober 1917? Saya percaya bahwa jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini adalah "ya."

Jika demikian, itu berarti bahwa 13 Oktober 2017 akan menandai berakhirnya 100 tahun pemerintahan setan. Karena itu, hari itu, yang juga akan menandai peringatan 100 tahun keajaiban matahari di Fatima, akan menjadi penting sebagai peringatan Maria yang besar, dan  sebagai hari peringatan bagi dunia juga. Sekali lagi, ada begitu banyak hal yang tidak boleh kita ketahui, kecuali bahwa kita dapat mengamati keadaan dunia kita, dan kita tahu bahwa sampai sekarang, manusia belum juga bertobat dari dosa-dosa daging, atau dari Komuni sakrilegi. Sebaliknya, semua dosa itu semakin tumbuh lebih buruk, dan dengan kecepatan yang semakin besar.


Jadi, Apa Yang Harus Dilakukan?

Gereja harus meninjau kembali pesan-pesan mendesak dari Paus Leo XIII ini, dan pesan dari Fatima, dan menindaklanjuti peringatan tersebut. Dengarkan ucapan John Paul II, yang saat itu masih sebagai Kardinal Karol Wojtyla, yang berbicara pada tahun 1976 di Kongres Ekaristi di Philadelphia:

Kita sekarang berdiri di hadapan sebuah konfrontasi historis terbesar yang pernah dialami oleh manusia. Saya tidak berpikir bahwa lingkaran luas Masyarakat Amerika, atau seluruh lingkaran luas Komunitas Kristiani, menyadari hal ini sepenuhnya. Kita sekarang menghadapi konfrontasi terakhir antara Gereja melawan anti-gereja, antara Injil melawan anti-Injil, antara Kristus melawan Antikristus. Konfrontasi ini berada dalam rencana Kuasa Penyelenggaraan Ilahi. Karena itu, dalam Rencana Tuhan, hal itu tentunya berupa pencobaan yang harus dialami oleh Gereja, dan harus dihadapi dengan berani.

Di manakah keberanian di Gereja dewasa ini? Tentu saja, ada banyak, banyak orang pemberani, para pastor, kaum religius, dan umat awam yang hidup selaras dengan hukum-hukum Allah. Tetapi gambaran umum Gereja di dunia adalah bahwa ia menganggap "perubahan iklim" sebagai masalah yang lebih serius daripada masalah agama, perpecahan keluarga atau pernikahan yang tidak suci! Orang-orang menjadi kebingungan, dan memang kenyataan, dimana banyak dari mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah harus bertanggung jawab kepada Allah atas tindakan mereka.

Namun, hierarki Gereja tampaknya tidak berdaya sama sekali dalam menghadapi keruntuhan moral dunia. Mereka bahkan tampaknya telah kehilangan minat untuk melakukan lebih banyak dalam melaksanakan pesan Fatima.

Pada 13 Mei 2000, sebuah dokumen Vatikan menyatakan:

Karena kita tidak mengindahkan seruan Pesan Fatima ini, kita melihat bahwa pesan itu telah digenapi, Rusia telah menginvasi dunia dengan kesesatannya. Dan jika kita belum melihat penggenapan sepenuhnya dari bagian akhir dari nubuat ini, maka kita sedang menuju ke sana, sedikit demi sedikit, dengan langkah-langkah besar.

Ini adalah sebuah kalimat yang sangat ambigu. Penting untuk dicatat bahwa Vatikan sendiri merasa tidak pasti bahwa dunia telah melihat ‘penggenapan penuh’ dari nubuat Fatima. Sekali lagi, tampaknya ada fokus fatalistik pada kesimpulan negatif yang tersisa dari ramalan itu, bukannya berfokus pada solusi seperti yang diminta Bunda Maria.

Fokus perhatian Vatikan ini adalah salah. Karena kenyataannya, pesan Fatima telah mencapai klimaksnya. Demikian pula, hanya sedikit orang yang menyadari bahwa janji "masa damai" oleh Bunda Maria Fatima ini bisa saja merujuk pada pertempuran terakhir antara kebaikan melawan kejahatan, yang dimulai dengan "masa damai," yang berupa "inklusi penuh" orang-orang Yahudi dan “jumlah penuh orang-orang non-Yahudi” akan dibawa kepada Gereja.“Masa damai” ini tidak diketahui durasinya. Itu bisa berlangsung berbulan-bulan, puluhan tahun, bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad.


Satu-Satunya Solusi

Apakah ini berarti bahwa pada 13 Oktober 2017 hukuman akan terjadi? Kita tidak bisa tahu, tetapi kita bisa membaca tanda-tanda zaman. Jika Gereja bersatu, dan dengan berani mulai mengajarkan kebenaran, maka 13 Oktober 2017 dapat menandai dimulainya sebuah era baru, ketika kerajaan setan akan mulai hancur melalui karya-karya Gereja yang berani.

Namun, jika para pemimpin Gereja, dan dunia gagal menghentikan kejahatan-kejahatan ini, maka Tuhan sendiri akan melakukannya dengan “menyerahkan” umat manusia kepada tindakan yang lebih “memalukan” dan “sesat,” yaitu mengalami “kemerosotan dan kehancuran bersama tubuh mereka” dan “merendahkan” tubuh mereka melalui hawa nafsu — yang bahkan melampaui tindakan homoseksual yang disebutkan oleh St. Paul (1 Rm. 1: 24-32). Tuhan akan "menyerahkan" manusia kepada setan, untuk mendorong dunia kembali kepada Allah, melalui berbagai malapetaka, bencana, dan penyakit di seluruh dunia.

Bunda Maria memperingatkan dunia agar dunia dapat menghindari hukuman ini. Solusi yang diminta oleh Bunda Maria dan St. Michael sudah jelas. Ini adalah solusi yang sama yang telah mereka minta dari kita — dan tidak dilaksanakan oleh kita — sejak 1917: menerima Komuni secara layak dan setiap hari, adorasi harian kepada Sakramen Mahakudus sebagai silih atas semua kebiadaban dan sakrilegi yang dilakukan terhadap Sakramen Mahakudus; dan doa Rosario setiap hari. Hanya kali ini, lebih baik kita melakukannya karena hukumannya pasti akan lebih besar daripada yang terakhir, yaitu penyebaran komunisme, perang, dan penghancuran atas banyak negara.

Beberapa orang pasti akan mengatakan bahwa melakukan tindakan rohani ini ‘setiap hari’ adalah terlalu banyak atau terlalu berat untuk bisa diharapkan. Kenapa musti ‘harian’? Jawabannya adalah: sekarang ini kita sudah terlambat untuk bertindak setengah langkah. Kita harus melakukan permintaan Bunda Maria ini sedekat mungkin dengan ‘harian.’ Masih ada waktu tersisa. Ingatlah akan rahmat Tuhan. Kita tidak boleh putus asa. Ketika tugas-tugas ini kita terima dan kita praktikkan dengan penuh sukacita, bersama dengan penebusan dosa bagi segala kesalahan dalam kehidupan kita, maka Tuhan akan berkenan. Ketika ada cukup orang dari seluruh Gereja, yang dipimpin oleh Paus, uskup, imam, dan diakon, dan melakukan upaya ini di seluruh dunia, pastilah kuasa setan akan berakhir. Kita pasti bisa menghindari hukuman yang dituntut oleh keadilan, dan perdamaian akan datang ke dunia.

Namun jika para pemimpin Gereja kita masih menolak untuk melakukan apa yang diminta oleh Bunda kita sejak 1917, maka saya percaya, bahwa kita harus bersiap untuk menerima penebusan dosa — banyak dari itu — dan segera.



*****


FATIMA
"Anakku, berapa banyak peringatan yang telah kuberikan kepada dunia, namun hal itu tidak diindahkan.
"Aku berharap agar kamu mengumumkan, atau menyegarkan ingatan anak-anakku atas kunjunganku ke Fatima."  - Our Lady of the Roses, Bayside, April 13, 1974

AKU MEMPERINGATAN KAMU
"Seperti yang kuperingatkan di masa lalu namun kamu tidak mendengarkan, bahwa jika kamu tidak mau berdoa lebih banyak lagi, dan melakukan lebih banyak penebusan dosa dan kurban, maka komunisme akan menyebar ke seluruh duniamu, merayu negara-negara, menghancurkan Imanmu, memasuki tempat-tempat tertinggi di Rumah Putraku. Bisakah kamu menyangkal apa yang terjadi sekarang di duniamu? Singkirkanlah kebutaan dari matamu dan lihatlah! Keluarlah dari kegelapan sebelum terlambat, karena sebuah Rumah yang berada dalam kegelapan akan memakai pita kematian atas dirinya! Aku mengulangi: sebuah gereja yang berada dalam kegelapan akan menutup pintu-pintunya."  - Our Lady of the Roses, Bayside, March 18, 1977



*****






Thursday, February 27, 2020

MENGAPA BANYAK ORANG PERGI KE NERAKA


MENGAPA BANYAK ORANG PERGI KE NERAKA



Dengan semua bukti yang dinyatakan oleh Tuhan yang menegaskan kebenaran ajaran Katolik, mengapa bidaah dari paham progresifisme, yang dilahirkan oleh Konsili Vatikan II, menyebar seperti virus menjijikkan ke seluruh Gereja? Mengapa tidak ada lagi umat Katolik kontra-revolusioner di jajaran sisa pasukan Bunda Maria?



St. Michael sedang menimbang jiwa-jiwa


Ajaran St. Leonard dari Port Maurice menjelaskan tentang tragedi ini. Dalam kotbahnya tentang sejumlah kecil umat Katolik yang diselamatkan, dia mengatakan sesuatu yang mendukung tesisnya - bahwa kebanyakan "orang dewasa Katolik" pergi ke Neraka – melalui referensi yang tak terhitung banyaknya dari para Bapa Gereja, baik para teolog dan sejarawan Yunani maupun para teolog dan sejarawan dunia.

Dalam mengembangkan topik ini, St. Leonard dari Port Maurice mengatakan, "Perhatikan baik-baik bahwa di sini saya tidak berbicara tentang ras manusia secara keseluruhan, atau umat Katolik yang diambil sebagai contoh tanpa membeda-bedakan mereka, tetapi hanya orang dewasa Katolik." (1)

Pemikiran St. Leonard ini bebas dari segala bentuk paham Jansenisme, karena dia adalah orang suci abad ke-18 yang sangat dihormati. Alat utamanya dalam pertobatan adalah Jalan Salib, penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan devosi kepada Hati Kudus. Dia juga melakukan upaya yang keras untuk menjadikan Yang Dikandung Tanpa Noda sebagai dogma Iman. Terakhir, argumennya yang kuat bahwa hanya sedikit saja orang yang bisa diselamatkan, telah membuat pernyataannya itu memperoleh persetujuan dari Gereja.


Campur Tangan Ilahi Dalam Sejarah

Orang dapat bertanya-tanya mengapa begitu sedikit yang diselamatkan padahal Allah telah menyediakan bagi manusia dengan begitu banyak mukjizat dan manifestasi kebenaran Iman dalam sejarah. Banyak fakta tak terhindarkan menunjukkan adanya belas kasihan Bunda Maria dan upayanya untuk menarik jiwa-jiwa kepada Putranya dan kepada Gereja Kudus.

Salah satu item seperti itu baru-baru ini diterbitkan oleh Tradition in Action berjudul A Lady in Blue Instructs Indians in the U.S.. (Seorang Wanita berpakaian biru mengajari orang-orang Indian di Amerika Serikat) Ceritanya adalah tentang Maria dari Agreda, yang mengalami bilokasi dari Spanyol ke barat daya Dunia Baru, Amerika, antara tahun 1620 dan 1631. Selama masa ini dia mengajari penduduk asli dalam Iman Katolik selama sekitar 500 kali kunjungannya secara bilokasi. Tuhan memberi tahu dia bahwa Dia mengizinkannya datang ke Dunia Baru untuk mewartakan Injil kepada orang-orang Indian karena Tuhan ingin menyelamatkan jiwa mereka.



Dalam 10 tahun Maria dari Agreda mengalami
bilokasi lebih dari 500 kali dan dia pergi
ke Amerika untuk mengajar orang-orang Indian


Apa yang membuat mukjizat ini sangat luar biasa adalah fakta bahwa bilokasi ini didokumentasikan bahkan dalam sejarah sekuler. Dalam buku sejarah the Lone Star State, Randolph Campbell mencatat episode "kejadian yang benar-benar aneh pada 1629." Dia menulis:

“Pada bulan Juli tahun itu, sekelompok penduduk asli Jumanos dari daerah Trans-Pecos tiba di Biara Franciscan dekat Albuquerque modern. Setelah datang, mereka mengatakan atas saran seorang wanita muda cantik yang secara misterius muncul di Texas. Dari wanita itu mereka mengklaim telah memperoleh pengetahuan dasar tentang agama Kristen, terutama Tanda Salib. Selain itu, 'Wanita Berpakaian Biru,' begitu dia disebut banyak orang, karena dia mengenakan jubah biru dengan seragam cokelat dan putih di bagian dalam, dan wanita itu mengajak orang-orang Indian untuk pergi ke New Mexico untuk menemukan guru-guru agama disana. Kedatangan para Jumanos, yang membuat para Fransiskan bersemangat dalam keadaan apa pun, sangatlah menakjubkan, karena sebuah surat yang baru saja mereka terima dari Uskup Agung Spanyol Baru tentang pengakuan seorang biarawati muda di Spanyol." (2)

Tetapi kisah kunjungan Maria dari Agreda ke Amerika bukanlah kasus yang berdiri sendiri dari campur tangan Allah dalam sejarah. Kasus lain dilaporkan dalam dokumentasi sejarah dari Perang Seratus Tahun (1396-1457) antara Perancis dan Inggris. Kemenangan Perancis dan penobatan Dauphin berikutnya sebagai Charles VII diraih oleh kepemimpinan luar biasa dari seorang gadis petani yang lahir di Perancis timur, St. Joan of Arc. (3)

Contoh lain dari campur tangan ilahi yang dikonfirmasi oleh para sarjana terjadi di Lourdes, di mana ada beberapa dokter yang tidak ada hubungannya dengan agama, yang memverifikasi mukjizat yang terjadi di sana. Beberapa mukjizat melibatkan penciptaan materi dalam sesaat.

Misalnya, satu kasus seperti itu melibatkan seseorang yang kehilangan sebagian tulangnya yang patah: tulang itu menjadi lebih pendek dan tidak pernah sembuh. Selama delapan tahun korban menderita abses dan luka yang harus dirawat setiap hari. Dalam satu saat, celah satu inci pada tulang itu telah terisi kembali dan tulangnya benar-benar sembuh. Para dokter mengkonfirmasi kesembuhan yang ajaib itu. (4)

Kasus yang tidak biasa terjadi pada seorang wanita yang buta, saraf matanya rusak total. Di Lourdes, wanita itu sembuh secara instan, dan dokternya berkata, "Bagaimana Anda bisa melihat, nyonya, padahal Anda tidak memiliki syaraf mata?" (5)

Lalu ada lagi mukjizat yang kurang dikenal dari Our Lady of Prompt Succor di New Orleans. Seperti ditunjukkan oleh Dr. Horvat dalam artikelnya, selama 195 tahun terakhir, sebuah Misa dirayakan setiap tanggal 8 Januari untuk menghormati pengantaraan Bunda Maria dari Prompt Succor (Our Lady of Prompt Succor) dalam kekalahan Inggris secara ajaib.

Seorang komposer bernama Christopher Hedge mengarang lagu biola "The Eighth of January," dan liriknya ditulis oleh Jimmie Driftwood. (klik disini untuk mendengarkan). Penyanyi country-western Johnny Horton membuat balada itu menjadi top hit – ia menjadi nomor dua pada Hit Parade tahun 1959.

Tentu saja, tidak ada dalam lirik lagu itu yang berbicara tentang mukjizat Bunda Maria, tetapi setiap siswa Sejarah Amerika yang merenungkan pertempuran ini bisa belajar bagaimana Bunda Maria dari Prompt Succor memberikan kemenangan kepada pasukan Amerika.

Dan janganlah kita melupakan Keajaiban Matahari di Fatima, yang disaksikan oleh sekitar 70.000 orang.


Mengapa Banyak Orang Berjalan Menuju Neraka?

Jadi, bagaimana seseorang dapat menjelaskan bahwa kebanyakan orang dewasa Katolik masuk neraka? Biasanya penjelasan atau strategi yang paling sederhana, sering kali adalah yang benar.

Pastor Garrigou-Lagrange mengajarkan bahwa Tuhan memberi lebih banyak rahmat kepada beberapa orang karena Dia lebih mencintai mereka. Demikianlah Tuhan kita memberikan rahmat keselamatan kepada si pencuri di sebelah kanan-Nya karena pencuri itu lebih mencintai-Nya daripada bandit di sebelah kiri-Nya. Karunia rahmat ini benar-benar gratis. (6)

Kita melihat hal ini berperan sejak permulaan sejarah dengan penciptaan Malaikat, yang dalam sekejap membuat keputusan apakah akan mengikuti Tuhan atau tidak. Pator Garrigou-Lagrange menjabarkan kriteria ini tentang bagaimana mereka memilih:

"Pada awalnya mereka menerima kecerdasan yang lebih eksplisit tentang keberadaan Allah, satu dalam substansi, tiga secara pribadi, dan mereka diperintahkan untuk memuja dan menghormati Dia sebagai Pencipta dan Tuhan mereka yang tertinggi, tak terbatas dalam esensi dan sifat-sifatnya. Semua malaikat menundukkan diri mereka kepada perintah ini dan menaatinya, tetapi dengan perbedaan tertentu: Malaikat yang baik mematuhi perintah ini melalui kasih mereka dan karena rasa keadilan mereka menyerahkan kasih dan niat baik mereka, dengan bebas mengakui dan percaya apa yang ada di atas kecerdasan mereka, dan mematuhi dengan sukacita. Namun bagi Lucifer, di sisi lain, dia mau tunduk karena jika berbuat yang sebaliknya, nampak mustahil baginya. Jadi, Lucifer melakukan sikap menyerah dan tunduk itu tidak dengan rasa amal kasih yang sempurna, karena dia, seolah-olah, terbagi dalam keinginannya, antara dirinya dan kebenaran Tuhan yang sempurna."


Hasil Yang Kita Tahu

Jadi, mari kita renungkan topik mengapa sebagian besar orang dewasa Katolik masuk ke dalam Neraka. Seperti yang dikatakan St. Leonard dalam khotbahnya, pokok bahasannya adalah hal yang sangat serius; hal itu telah menyebabkan bahkan pilar-pilar Gereja gemetar, memenuhi para orang kudus terhebat dengan teror dan memenuhi padang gurun dengan para pastor. (8)

Namun, kebanyakan orang tidak terlalu memperhatikan peringatan orang kudus ini (St. Leonard dari Port Maurice) atau memperhatikan berbagai mukjizat yang diberikan Tuhan kepada kita. Di antara orang-orang yang banyak itu, umat Katolik termasuk di antaranya, tentu saja, sebagaimana disampaikan oleh ajaran sesat dari Progressivisme di mana-mana. Apa yang harus kita lakukan untuk menghindari Neraka adalah dengan cara meniru para Malaikat yang baik dalam segala pencobaan mereka. Artinya, kita harus mencintai Tuhan dengan sepenuhnya dan menyerahkan segala yang kita miliki demi kemuliaan-Nya. Tidak ada yang lebih manjur untuk tujuan ini selain menyerahkan diri kita sendiri kepada pemeliharaan Bunda Maria. Dia adalah Pintu Surga - Porta coeli.

Setelah melakukan ini, biarlah pikiran kita berubah menjadi tindakan. Marilah kita berjuang dengan gagah berani demi kemuliaan Tuhan dan Bunda Maria dan berjuang tanpa henti untuk menyingkirkan paham progresifisme yang kini sedang menyerang Gereja.



*****