Friday, September 30, 2016

Vol 2 - Bab 18 : Keringanan bagi jiwa-jiwa

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 18

Keringanan bagi jiwa-jiwa
Misa Kudus
St.Malachy di Clairvaux
Sr.Zenaide
Joseph Anchieta dan Misa Requiem

Kita tak boleh lupa untuk memperhitungkan rahmat istimewa yang dimiliki oleh sifat kemurahan hati St.Malachy kepada jiwa-jiwa suci yang meminta bantuannya. Suatu hari ketika bersama–sama dengan beberapa orang suci lain, dan ketika mereka sedang membicarakan masalah-masalah rohani, tiba-tiba St.Malachy berbicara :”Jika pilihan diberikan kepada kalian, pada tempat dan jam berapa kalian mau meninggal ?”. Atas pertanyaan ini satu orang menjawab bahwa dia ingin meninggal pada hari pesta tertentu dari Gereja, yang lain menjawab pada jam tertentu, dan yang lainnya lagi menjawab ingin meninggal pada tempat tertentu. Ketika tiba giliran orang kudus itu, dia menjawab bahwa tak ada tempat lain dimana dia akan bersedia meninggal kecuali di biara Clairvaux, yang dipimpin oleh St.Bernard, agar dia bisa segera menikmati manfaat dari kurban-kurban para religius disitu yang sangat bersemangat berdoa. Dan mengenai waktunya dia mengatakan bahwa pada hari Pesta Seluruh Jiwa-jiwa agar dia bisa menjadi bagian didalam seluruh Misa Kudus dan seluruh doa-doa yang dipersembahkan diseluruh dunia Katolik bagi orang yang meninggal.

Keinginan yang suci ini ternyata dikabulkan oleh Tuhan. Ketika dia sedang dalam perjalanan ke Roma untuk mengunjungi Paus Eugenius III, ketika dia tiba di Clairvaux, beberapa hari sebelum hari pesta Seluruh Jiwa-jiwa, dia mengalami sakit berat, yang memaksanya untuk tetap tinggal di biara suci itu. Segera dia menyadari bahwa Tuhan telah mendengarkan doa-doanya yang berseru bersama-sama para nabi, :’Inilah istirahatku untuk selama-lamanya. Disini aku akan tinggal, karena aku telah memilihnya’ (Mzm. 131). Kenyataannya, hari sesudah pesta Seluruh Jiwa-jiwa, sementara seluruh Gereja berdoa bagi orang-orang yang meninggal, Malachy menyerahkan jiwanya di tangan Penciptanya.

“Kita telah tahu”, kata Pastor Kepala Postel, “seorang religius yang suci, Suster Zenaide, yang menderita penyakit yang amat mengerikan selama beberapa tahun, memohon rahmat kepada Tuhan kita agar dia bisa mati pada hari pesta Seluruh Jiwa-jiwa, kepada siapa dia telah berdevosi secara sungguh-sungguh. Keinginan Suster Zenaide dikabulkan oleh Tuhan. Pada tanggal 2 Nopember pagi, setelah dua tahun menderita dimana hal itu ditanggungnya dengan keberanian seorang Kristiani, dia mulai menyanyikan hymne syukur dan perlahan-lahan dia menghembuskan napasnya yang terakhir, beberapa saat sebelum perayaan Misa Kudus dimulai.

Kita tahu bahwa didalam liturgi Gereja Katolik, ada sebuah misa khusus bagi orang yang meninggal. Hal itu dirayakan dengan mengenakan pakaian hitam, dan disebut juga sebagai Misa Reguiem. Mungkin saja ada orang yang mempertanyakan apakah Misa Kudus ini lebih bermanfaat bagi jiwa-jiwa dari pada Misa Kudus yang lain ? Kurban Misa Kudus, dengan berbagai macam upacaranya adalah selalu sama dan tetap dengan melibatkan Kurban Tubuh dan Darah Yesus Kristus Yang Maha Kudus. Namun karena Misa Kudus bagi orang yang meninggal berisi doa-doa yang khusus bagi jiwa-jiwa suci itu, maka ia juga mendatangkan pertolongan yang khusus pula bagi jiwa-jiwa itu, paling tidak pada saat ketika hukum liturgi mengijinkan imam untuk merayakannya dengan jubah hitam. Pendapat ini berdasarkan kepada institusi dan tindakan Gereja, dan diteguhkan oleh sebuah fakta yang kita baca didalam biografi Pastor Joseph Anchieta Venerabilis.

Religius yang suci ini yang diberi julukan ‘the Wonder Worker dari Brasil’, seperti para kudus lainnya, memiliki kemurahan hati yang besar kepada jiwa-jiwa suci di Api Penyucian. Suatu hari selama perayaan oktav Natal, ketika Gereja melarang perayaan Misa Requiem, pada 27 Desember, pesta dari St.Yohanes Penginjil, hamba Allah ini secara mengejutkan semua orang, naik ke altar dengan jubah hitam dan mempersembahkan Misa Kudus bagi orang yang meninggal.

Atasannya, Pastor Nobrega, dia mengetahui kesucian Anchieta, tidak ragu lagi berpendapat bahwa Anchieta telah menerima sebuah ilham yang ilahiah. Namun untuk membersihkan tindakan itu dari sifat ‘menentang aturan’, dia menegur orang suci itu dihadapan semua religius lainnya. Pastor Nobrega bertanya :”Apakah Pastor tidak tahu bahwa Gereja melarang perayaan Misa Kudus dengan jubah hitam pada hari ini ? Lupakah anda akan aturan yang ditetapkan ?.

Pastor yang baik itu dengan amat patuh dan rendah hati menjawab dengan hormat dan sederhana bahwa Tuhan telah menyatakan kepadanya tentang kematian seorang Pastor dari komunitas itu. Pastor ini sahabat kuliahnya di University of Coimbra yang pada saat itu tinggal di Italia, di College dari the House of Loreto yang suci itu, dan dia meninggal pada malam yang sama itu. Dia meneruskan berkata :”Tuhan memberitahukan hal itu kepadaku dan membuatku mengerti bahwa aku harus mempersembahkan Kurban Kudus segera bagi dia, dan melakukan dengan segenap kekuatanku demi istirahat bagi jiwanya”. “Namun”, kata Pastor Kepala, “bagaimana anda tahu bahwa Misa Kudus yang telah anda lakukan itu akan bermanfaat baginya ?”. “Ya”, jawab Anchieta jujur dan sopan, “segera setelah doa memento bagi orang yang meninggal, ketika aku mengatakan kalimat ini : ‘KepadaMu, Allah Bapa Yang Maha Kuasa, didalam persekutuan dengan Roh Kudus segala hormat dan kemuliaan !’, maka Tuhan menunjukkan kepadaku jiwa dari sahabatku itu, dibebaskan dari segala penderitaannya dan dia naik ke Surga dimana mahkotanya telah menunggunya”.



Monday, September 26, 2016

Vol 2 - Bab 17 : Keringanan bagi jiwa-jiwa

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 17

Keringanan bagi jiwa-jiwa
Kurban Misa Kudus
Bruder John dari Alvernia di altar
St.Magdalen de Pazzi
St.Malachy dan Suster anggotanya.

Buletin dari ‘the Seraphic Order’ menceritakan kepada kita tentang seorang religius yang bernama John of  Alvernia. Kasihnya kepada Tuhan Yesus Kristus sangat bernyala-nyala dan dengan kasih yang sama pula dia memeluk jiwa-jiwa di Api Penyucian yang telah ditebus oleh DarahNya dan yang sangat dikasihi oleh HatiNya. Mereka yang menderita didalam penjara-penjara Api Penyucian bisa memanfaatkan secara berlimpah doa-doanya, silihnya, dan kurban-kurbannya. Pada suatu hari, Tuhan berkenan menyatakan kepadanya pengauh yang terpuji dan sangat menghibur dari Kurban Ilahi yang dipersembahkan pada hari pesta Seluruh Jiwa-jiwa disetiap altar. Hamba Allah itu merayakan Misa Kudus bagi orang yang meninggal ketika dia tiba-tiba mengalami ekstase. Dia melihat Api Penyucian terbuka dan jiwa-jiwa nampak keluar dari situ yang telah dibebaskan oleh karena jasa-jasa dari keutamaan Kurban Perdamaian Kristus. Jiwa-jiwa itu nampak seperti semburan kilatan-kilatan api yang memancar dari tungku api yang panas. Kita tidak heran atas pengaruh yang kuat dari Misa Kudus jika kita ingat bahwa itu adalah hal yang sama yang dipersembahkan oleh Putera Allah sendiri di salib. Hal itu dilakukan oleh Imam yang sama, demikian dikatakan didalam Konsili Trent, dan dengan Kurban yang sama pula. Satu-satunya perbedaan adalah cara penderitaanNya. Diatas salib, penderitaan itu penuh dengan darah. Tetapi diatas altar, hal itu terjadi tanpa darah.

Kini kurban salib itu memiliki nilai yang tak terkatakan besarnya. Kurban di altar, di mata Allah, nilainyapun adalah sama. Karena itu marilah kita menyimak bahwa manfaat dari Kurban Ilahi ini hanya sebagian saja yang diarahkan bagi orang-orang yang meninggal, dan didalam besaran ukuran yang hanya diketahui oleh Pengadilan Allah saja. Penderitaan Yesus Kristus dan DarahNya yang sangat berharga itu ditumpahkan demi keselamatan kita dan ia merupakan lautan yang tak terhingga luasnya yang berisi segala jasa-jasa dan kepuasan. Dengan melalui keutamaan dari Penderitaan itu kita bisa memperoleh segala karunia dan kerahiman dari Tuhan. Semakin besar perayaan yang kita lakukan bagi tujuan itu melalui doa-doa, jika kita mempersembahkan Darah dari Putera TunggalNya kepada Allah untuk memohon kerahimanNya, maka doa itu akan lebih diperkuat lagi oleh Penderitaan Yesus Kristus dan memiliki kuasa yang besar bersama Tuhan.

St.Magdalen de Pazzi telah mengetahui dari Tuhan sendiri agar dia mempersembahkan kepada Bapa Yang Kekal, Darah dari Putera IlahiNya. Ia merupakan perayaan peringatan yang sederhana dari Penderitaan Yesus Kristus. St.Magdalen melakukannya hingga 50 kali sehari dan didalam salah satu ekstase yang dialaminya, dia melihat banyak sekali jiwa-jiwa yang dipertobatkan serta banyak sekali jiwa-jiwa yang dilepaskan dari Api Penyucian melalui tindakannya itu. Dia menambahkan :”Setiap kali seorang makhluk mempersembahkan DarahNya kepada Bapaku, dengan apa dia telah ditebus, maka dia telah mempersembahkan kepadaNya sebuah hadiah yang nilainya tak terkatakan besarnya”. Jika demikian ini nilai dari persembahan Penderitaan Yesus Kristus, maka betapa besarnya nilai dan jasa dari Misa Kudus, yang merupakan pembaharuan yang sebenarnya dari Penderitaan yang sama itu !

Banyak umat Kristiani tidak mengetahui besarnya Misteri-misteri Ilahi yang dilaksanakan diatas altar kita. Kecilnya iman mereka, bersama dengan tidak adanya pengetahuan, telah menghalangi mereka untuk menghormati harta kekayaan yang mereka miliki didalam Kurban Ilahi itu. Dan hal ini membuat mereka memandang Kurban Utama itu dengan sikap yang acuh dan bahkan menghina. Celaka sekali ! Mereka akan menyadarinya nanti dengan penyesalan yang sangat pahit ! betapa mereka telah menipu dirinya sendiri. Seorang anggota Suster dari St.Malachy, Uskup Agung Armagh, Irlandia, memberi kita contoh cerita yang baik sekali.

Didalam bukunya yang indah ‘Life of St.Malachy’, St.Bernard sangat memuji utusan Tuhan ini karena devosinya yang besar kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian. Ketika dia masih menjadi diakon, dia senang sekali membantu proses pemakaman orang-orang yang miskin dan pada saat Misa Kudus yang diselenggarakan bagi mereka. Dia bahkan dengan penuh semangat mau menyertai orang-orang pergi ke kuburan karena dia sering melihat orang-orang miskin itu dilupakan begitu saja setelah kematian mereka. Dia memiliki seorang adik perempuan yang penuh dengan semangat duniawi ini. Adiknya ini menuduh bahwa dia telah merendahkan dirinya sendiri dan seluruh keluarganya karena dia melibatkan diri pada kegiatan kaum miskin. Adiknya itu mempersalahkan Malachy dan melalui kata-katanya menunjukkan bahwa adiknya itu sama sekalai tidak memahami ajaran kemurahan hati Kristiani maupun nilai istimewanya Misa Kudus. Malachy terus saja dengan tindakannya yang rendah hati itu, dan dia menjawab kemarahan adiknya dengan mengatakan bahwa adiknya itu telah melupakan ajaran Yesus Kristus, dan suatu hari nanti dia akan bertobat atas segala perbuatannya itu.

Sementara itu kekasaran perilaku adik wanitanya itu bukannya tidak menerima hukumannya. Dia meninggal ketika masih muda, dan dia harus bertanggung jawab kepada Hakim Utama atas segala kehidupan duniawi yang telah dijalaninya dulu.

Malachy memiliki alasan untuk mengeluh atas perbuatan adiknya itu, namun ketika adiknya itu meninggal, dia melupakan segala kesalahan yang dilakukan adiknya kepadanya, dan dia hanya berpikir bagi kebutuhan jiwa adiknya itu. Dia mempersembahkan Misa Kudus dan berdoa banyak bagi adiknya. Selang beberapa waktu kemudian, setelah mengajak orang-orang lain untuk berdoa bersamanya, Malachy melupakan adiknya yang malang itu. “Kita percaya”, demikian kata Pastor Rossignoli, “bahwa Tuhan mengijinkan agar adiknya itu dilupakan seperti itu, sebagai hukuman baginya karena dia tidak memiliki rasa belas kasih kepada orang yang meninggal”.

Begitulah pada suatu hari dia menampakkan diri kepada saudaranya, Malachy, didalam tidurnya. Malachy melihat adiknya berdiri ditengah suatu tempat didepan Gereja, dalam keadaan bersedih, berpakaian kain kabung, dan meminta belas kasihnya sambil mengeluh bahwa selama 30 hari ini Malachy telah melupakan dirinya. Segera saja Malachy bangun dan dia ingat bahwa sebenarnya saat itu sudah berlangsung 30 hari sejak dia mempersembahkan Misa Kudus bagi adiknya itu. Pada hari berikutnya, Malachy mempersembahkan Kurban Kudus baginya. Lalu orang yang meninggal itu menampakkan diri lagi kepadanya di pintu Gereja, sambil berlutut disitu, dan dia meratap-ratap karena dia tidak boleh masuk. Malachy meneruskan doa-doa permohonannya. Beberapa hari kemudian Malachy melihat adiknya itu memasuki Gereja itu dan maju hingga ditengah-tengah Gereja, namun dia tak mampu bergerak lebih dekat lagi ke altar, betapapun juga dia sudah berusaha. Malachy menyadari bahwa saat itu diperlukan lebih banyak keteguhan hati. Maka dia meneruskan persembahan Kurban Kudus demi istirahat jiwa adiknya itu. Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, Malachy melihat adiknya berada didekat altar dengan berpakaian berkilauan dan penuh sukacita dan dia bebas dari penderitaannya.

“Dengan hal ini kita tahu”, tambah St.Bernard, “betapa besarnya manfaat dari Misa Kudus untuk mengampuni dosa-dosa, untuk memerangi kuasa-kuasa kegelapan dan untuk membuka pintu-pintu Surga bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia”.



Saturday, September 24, 2016

Vol 2 - Bab 16 : Keringanan bagi jiwa-jiwa suci

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 16

Keringanan bagi jiwa-jiwa suci
Liturgi Gereja
Peringatan bagi orang yang meninggal
St.Odilo

Gereja kudus memiliki sebuah liturgi khusus bagi orang yang meninggal. Hal itu terdiri atas upacara Gereja pada waktu sore dan pagi hari, puji-pujian dan Misa Kudus yang biasa disebut Misa Arwah. Liturgi ini cukup menyentuh dan mulia sekali, dan melalui dukacita serta air mata telah membuka kepada mata dari umat beriman akan adanya terang penghiburan yang bersifat kekal. Liturgi ini diadakan pada saat pemakaman dari anak-anak Gereja, dan terutama pada hari yang mulia pada peringatan dari kematian. Misa Kudus disini sangat berperanan besar. Ia seperti sebuah pusat ilahiah dimana disekitarnya dikelilingi oleh doa-doa dan berbagai upacara. Pada hari sesudah pesta Semua Orang Kudus, perayaan yang besar bagi Seluruh Jiwa-jiwa, maka semua imam haruslah mempersembahkan Misa Kudus bagi orang yang meninggal. Dimana umat beriman menjadikan hari itu sebagai tugas mereka untuk menolong dan mempersembahkan Komuni Kudus, doa-doa, sedekah, demi keringanan saudara-saudara mereka di Api Penyucian. Pesta bagi orang yang meninggal ini tidaklah terlalu jauh asal usulnya. Dari sejak awal Gereja selalu berdoa bagi anak-anaknya yang meninggal. Gereja menyanyikan dari Mazmur, mendaraskan doa-doa, mempersembahkan Misa Kudus demi istirahat jiwa-jiwa itu. Namun kita tidak melihat bahwa ada pesta khusus untuk memohon kepada Allah bagi semua orang yang telah meninggal secara umum. Hingga abad ke 10, maka Gereja yang selalu dituntun oleh Roh Kudus, meneguhkan peringatan bagi umat yang telah meninggal, dimana hal ini berguna untuk mendorong umat beriman untuk memenuhi kewajiban suci mereka dengan mendaraskan doa-doa bagi orang yang meninggal seperti yang dianjurkan oleh kemurahan hati Kristiani.

Buaian dari kemeriahan ini adalah Uskup Cluny, St.Odilo, yang menjadi uskup disana pada penutupan abad ke 10 yang dikenal diseluruh Perancis karena kemurahan hatinya kepada sesamanya. Untuk meluaskan rasa kemurahan hatinya terutama kepada orang yang meninggal, dia tak pernah berhenti berdoa bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian. Kemurahan hati yang lembut inilah yang mengilhami dia untuk mendirikan biaranya itu, seperti juga didalam kepercayaannya, mengadakan pesta untuk memperingati dan mendoakan orang yang meninggal. Kita percaya, demikian kata ahli sejarah, Berault, bahwa dia telah menerima sebuah pencerahan atas manfaat dari kemurahan hati itu, karena Tuhan telah menyatakan dengan cara yang menakjubkan, betapa senangnya Dia dengan devosi dari hambaNya itu. Begitulah yang diceritakan oleh penulis biografinya. Ketika Uskup yang suci itu memimpin biaranya di Perancis, ada seorang pertapa yang suci yang hidup disebuah pulau di lepas pantai Sicilia. Seorang peziarah Perancis terdampar di pantai pulau itu oleh karena badai. Pertapa itu dikunjungi oleh peziarah itu. Dia bertanya kepada peziarah itu apakah dia mengenal Uskup Odilo. “Tentu saja”, jawab peziarah itu, “aku mengenal dia dan aku bangga menjadi kenalannya. Namun bagaimana anda bisa mengenal dia dan mengapa anda bertanya hal itu padaku ?”. “Aku sering mendengar”, jawab si pertapa itu, “karena roh-roh jahat selalu mengeluhkan orang-orang yang suci, yang melalui doa-doa dan sedekah mereka telah berhasil membebaskan jiwa-jiwa itu dari rasa sakit yang mereka tanggung di Api Penyucian, namun mereka terutama mengeluhkan akan Ordilo, Uskup Cluny, serta para anggota religiusnya. Karena itu jika anda nanti kembali ke negeri anda, aku memohon demi nama Tuhan, ajaklah bapa Uskup dan para rahibnya untuk meningkatkan perbuatan baik mereka demi jiwa-jiwa yang malang itu”.

Peziarah itu kemudian pergi ke biara Uskup Cluny dan menyampaikan apa yang diminta darinya. Akibatnya, St.Odilo memerintahkan kepada semua anggota biara itu, pada hari setelah pesta Seluruh Para Kudus, untuk merayakan peringatan bagi seluruh umat beriman yang telah meninggal, dengan mendaraskan doa-doa bagi orang yang meninggal itu pada malam sebelumnya, dan pada pagi hari berikutnya. Dengan membunyikan semua lonceng-lonceng dan merayakan Misa Kudus demi istirahat bagi jiwa-jiwa suci itu. Dekrit ini yang dikeluarkan di Cluny bagi biara itu dan bagi semua orang yang bergantung kepadanya, dan masih dipertahankan hingga kini. Tindakan yang begitu suci ini ditularkan kepada Gereja-gereja lainnya dan dalam perjalanan waktu hal itu menjadi kebiasaan yang universal diseluruh dunia Katolik.



Friday, September 23, 2016

SEORANG FILSUF TERKENAL BERKATA

NEWSCATHOLIC CHURCHWed Sep 21, 2016 - 12:41 pm EST
SEORANG FILSUF TERKENAL BERKATA : PAUS HARUS MENGHENTIKAN PERNYATAAN-PERNYATAANNYA YANG NYATA-NYATA SESAT UNTUK MENGHINDARI SKISMA
Dr. Josef Seifert
September 21, 2016 (LifeSiteNews) - Josef Seifert, filsuf Katolik dari Austria dan teman dekat mendiang Paus Yohanes Paulus II, mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa dia berharap agar Paus Francis mencabut pernyataan-pernyataannya yang nyata-nyata sesat di dalam Amoris Laetitia untuk menghindari “skisma” atau "perpecahan” yang total dalam Gereja.
Berbicara kepada Gloria.TV tentang surat yang dia tulis bagi Paus Francis serta sebuah esai-nya yang menguraikan beberapa kekhawatirannya terhadap anjuran (AL) itu, Seifert menjelaskan bahwa ada empat kesimpulan yang bisa ditarik dari Amoris Laetitia (AL).
Ke empat kesimpulan ini "secara radikal adalah berbeda dan karena itu saya pikir orang harus mencari kejelasan mana yang merupakan jawaban yang benar," demikian katanya.
Kesimpulan pertama adalah ahwa adalah tetap merupakan sebuah tindakan sakrilegi (pencemaran) bagi mereka yang berada dalam keadaan dosa berat dan tidak bertobat, untuk menerima Komuni Kudus, terutama karena catatan kaki 351 membuka pintu bagi tindakan ini.
Para pendukung argumen ini bisa beralasan bahwa teks (AL) itu bukan merupakan dokumen magisterial, seperti yang dikatakan oleh Kardinal Burke, sehingga dokumen itu (AL) bukanlah bentuk atau sarana yang tepat untuk mengubah doktrin agama Katolik (dan) tradisi selama 2.000 tahun ini mengenai disiplin sakramental dengan melalui beberapa goresan pena tanda tangan dari PF. ... Jadi tidak ada yang berubah, pada dasarnya, dan dokumen itu mungkin mencoba untuk mengubah sesuatu, tetapi tidak mengubah apa pun. "
Kesimpulan kedua adalah sebaliknya – berlawanan dan secara mutlak serta radikal bertentangan," kata Seifert. "Dan itu adalah berupa pernyataan bahwa setiap pasangan, semua homosek, semua lesbian, semua pezinah, semua orang yang menikah lagi, ataupun tidak menikah lagi – ya, semua orang diterima di Meja Perjamuan Tuhan" Dia berpendapat bahwa ini pada dasarnya adalah interpretasi yang dianut oleh para uskup Filipina, yang telah "membuat pernyataan penting dalam hal pengaruh dari dokumen ini."
"Penafsiran ini tidak bisa seperti apa yang dimaksudkan oleh paus - tidak harus sama seperti yang dikehendaki oleh paus, karena penafsiran paus itu bisa menyebabkan tindakan sakrilegi yang tak terhitung banyaknya, segala macam orang berdosa (berat) boleh datang untuk menerima Sakramen Perjamuan Kudus," kata Seifert. Membiarkan penafsiran seperti ini berarti "membuka pintu untuk mengubah Gereja, bait Allah, menjadi bait setan."
Seifert meminta Paus Francis untuk "benar-benar dan secara wajib menyatakan bahwa penafsiran ini adalah pemahaman yang salah terhadap ajaran Gereja."
Forum internal yang akan menjadi 'bencana pastoral'
Kemungkinan interpretasi ketiga dari Amoris Laetitia adalah bahwa suatu pasangan mungkin melakukan "pemeriksaan" dengan bantuan seorang imam, apakah mereka benar-benar bersalah atas tindakan mereka yang terus-menerus dilakukan, yang oleh Gereja disebut sebagai perbuatan dosa yang obyektif.
"Bagaimana hal itu diterapkan?" tanya Seifert. "Haruskah seorang imam berkata kepada seorang pezinah, 'Anda adalah pezina yang baik, anda berada di keadaan rahmat, anda adalah seorang yang sangat saleh, maka anda mendapatkan pengampunan tanpa harus mengubah kehidupan anda dan kemudian anda dapat menerima Komuni Kudus. ... Dan kemudian datanglah pezinah lainnya, dan imam yang sama itu mengatakan, 'Oh, anda adalah jelas seorang pezina. Anda harus terlebih dahulu mengaku dosa, anda harus merubah hidup anda, anda harus memperbaiki hidup anda, dan kemudian anda dapat menerima Komuni Kudus.” Nah, bisakah seorang imam yang sama melakukan nasihat seperti ini?
Hal ini benar-benar tidak pantas dilakukan, dan hal ini bisa menjadi "bencana pastoral," demikian Seifert memperingatkan. Dia juga mengatakan bahwa hal itu bisa membingungkan pasangan Katolik yang bercerai dan menikah lagi, dimana beberapa di antara mereka mungkin diberitahu oleh imam mereka untuk langsung menerima Komuni Kudus dan pasangan yang lain mungkin diberitahu oleh imam yang sama untuk hidup abstinently (tidak berhubungan suami istri) dan mengaku dosa agar bisa menerima Komuni Kudus. Seifert mencatat bahwa kesimpulan ketiga ini berisi masalah “kesalahan logis" yang mengasumsikan bahwa jika seseorang "tidak mengerti bahwa apa yang dia lakukan adalah salah, maka dia tidak bersalah dan berada dalam keadaan rahmat, tetapi kebutaan atas suatu tindakan yang salah itu adalah sebuah dosa berat."
"Adalah sebuah asumsi yang keliru jika banyak pasangan tidak merasa bersalah jika dia menikah lagi dan menganggap orang yang bercerai itu adalah sebagai “pendosa yang tidak bersalah” dan mereka tetap berada dalam keadaan rahmat, karena kebutaan mereka sendiri (terhadap kenyataan bahwa mereka melakukan perzinahan) dan kebutaan seperti itu adalah dosa, "kata Seifert.
Penyangkalan terhadap adanya neraka haruslah diluruskan, agar menjadi jelas.
Menurut Seifert, kemungkinan penafsiran ke empat dari Amoris Laetitia adalah orang dapat mengatakan di dalam hati nuraninya bahwa pernikahan pertama mereka adalah tidak sah, meskipun pengadilan gerejawi mengatakan sebaliknya, dan karena itu dia merasa boleh bercerai, dan "menikah" lagi, dan menerima Sakramen-sakramen sambil tetap melakukan hubungan seksual dengan pasangan kedua mereka.
Masalah ini tidak boleh diserahkan kepada suara hati nurani dari masing-masing individu untuk menilai apakah pernikahannya adalah sah atau tidak, dan tanpa melibatkan penilaian dari seorang imam, karena untuk menilai ... keberadaan suatu Sakramen (dalam hal ini adalah Sakramen Perkawinan) membutuhkan penyelidikan yang cermat dan itu adalah tugas pengadilan Gerejawi dan karena itu seseorang tidak bisa ... dalam hati nuraninya mengatakan, (dulu itu) saya tidak menikah dan sekarang saya menikah lagi," demikian Seifert menjelaskan. Dia juga mengatakan bahwa jika ada seseorang yang menyatakan bahwa pernikahannya tidak sah hal ini dikutuk oleh Konsili Trent, karena hal itu tidak sejalan dengan ajaran Gereja.
Maka adalah benar-benar sesat jika mengatakan, seperti yang dilakukan oleh Amoris Laetitia, bahwa seseorang mungkin tidak dapat hidup sesuai dengan tuntutan Injil, demikian kata Seifert. Amoris Laetitia menyarankan agar orang dapat "mengakui bahwa adalah kehendak Tuhan untuk hidup dalam hubungan perzinahan," tetapi "hal itu jelas bertentangan dengan beberapa dogma Konsili Trent dan hal itu jelas bertentangan dengan Veritatis Splendor dan beberapa ajaran mulia Gereja," katanya.
Seifert menekankan bahwa dia tidak menyebut Paus adalah sesat, tetapi dia hanya menunjukkan bahwa paus telah membuat berbagai pernyataan yang sesat yang harus diperbaiki.
"Paus mengatakan bahwa tidak ada orang yang dikutuk selamanya ... dimana hal ini dapat saja diartikan dengan pengertian yang lain, tetapi sulit sekali untuk menafsirkan kalimat itu dengan makna lain selain penolakan terhadap keberadaan neraka," katanya. Kristus "memperingatkan kita tentang adanya bahaya yang besar dan nyata dari hukuman kekal," seperti yang juga disampaikan oleh berbagai orang kudus dan Perawan Maria pada penampakan-penampakan yang telah diakui oleh Gereja, "dan karena itu, jika Paus mengajak orang yang berada dalam keadaan dosa berat untuk menerima Sakramen-sakramen maka pada saat yang sama dia berkata bahwa tidak ada orang yang akan dihukum selamanya, dan saya berkesimpilan bahwa paus telah menyangkal adanya hukuman kekal."
"Karena itu saya menyarankan kepada paus agar dia pertama-tama harus menjelaskan bahwa dia tidak ingin menyangkal keberadaan neraka dalam pernyataannya itu, karena hal itu akan bertentangan dengan Kitab Suci, dan bertentangan terhadap beberapa dogma," kata Seifert. Bahkan meskipun jika Paus Francis mengatakan bahwa pernyataan-pernyataannya itu bukanlah merupakan penolakan terhadap keberadaan neraka,  “tetapi saya pikir banyak orang menafsirkannya demikian (menolak keberadaan neraka) dan karena itu dia harus secara jelas mengatakan kebenaran Injil dan tidak memberi kesan seolah dia menolak keberadaan neraka," dia berkata. Hal ini harus dilakukan oleh paus "demi kejelasan dan demi pemeliharaan pastoral."
Seifert akan tetap berbicara 'bahkan jika saya dibunuh untuk itu'
Paus Francis akan menumbuhkan “rasa penghargaan dan rasa hormat di dunia" jika dia mau menarik pernyataan-pernyataannya di dalam Amoris Laetitia yang nampak bertentangan dengan doktrin Katolik, demikian kata Seifert. Namun jika dia "tetap bertahan dengan hal itu," maka ada "bahaya perpecahan di dalam Gereja."
"Untuk menghindari perpecahan dan untuk menghindari bid'ah serta menghindari perpecahan total di dalam Gereja, saya pikir perlu sekali agar paus ... diberitahu tentang masalah ini dan mencabut pernyataan-pernyataan itu,” kata Seifert
Seifert mengatakan bahwa dirinya bukanlah satu-satunya akademisi Katolik yang menyampaikan alarm tanda bahaya mengenai Amoris Laetitia. Profesor Robert Spaemann, seorang profesor filsafat terkemuka dari Jerman dan teman dekat Paus Emeritus Benediktus XVI, dan Dr. Jude P. Dougherty, mantan dekan School of Philosophy di Catholic University of America, mereka menyerukan keprihatinan yang serius atas anjuran AL itu. Professor Robert Spaemann menyebutnya sebagai "pelanggaran" terhadap tradisi Katolik dan Dr. Jude P. Dougherty menulis jika ambiguitas Paus Francis menunjukkan “bahwa apa yang sudah pasti pada saat sebelumnya, kini menjadi bermasalah."
"Bahkan jika saya harus dibunuh untuk itu, saya pikir saya harus tetap berbicara karena seseorang tidak bisa tinggal diam saja jika dia mengetahui bahwa kebenaran-kebenaran penting, yang juga sangat penting bagi keselamatan kekal dari umat beriman, dikaburkan ... di dalam dokumen (Amoris Laetitia)," demikian kata Seifert.
Watch Dr. Seifert's interview with Gloria.TV here:


Wednesday, September 21, 2016

DENGAN BERSEMANGAT, KAMI MENEGUR POPE FRANCIS

DENGAN BERSEMANGAT, KAMI MENEGUR POPE FRANCIS

Sebagai persiapan bagi peringatan Pemberontakan Protestan, yang direncanakan diadakan tahun ini, dimana PF berdoa bersama Rev Jens-Martin Kruse di sebuah Gereja Lutheran.

September 19, 2016
Pesta of Saint Januarius pada bulan ‘Bunda Maria Yang Berdukacita’

Yang Mulia;

Kalimat-kalimat berikut ini kami tulis dengan rasa sedih dan putus asa, karena kami sebagai anggota yang hina dari umat awam, dimana kami bisa menganggap tulisan ini sebagai teguran bagi kepausan anda, karena berbagai tindakan anda adalah merupakan sebuah bencana bagi Gereja yang memiliki berbagai kekuasaan di dunia ini. Berbagai peristiwa yang telah terkumpul belakangan ini dan yang mendorong kami untuk menempuh langkah ini, adalah merupakan akibat dari surat ‘rahasia’ anda kepada para uskup Buenos Aires, dimana anda telah memberi wewenang kepada mereka, dengan berdasarkan kepada pandangan anda pribadi yang kemudian diwujudkan didalam
Amoris Laetitia, untuk memberikan Sakramen Pengakuan Dosa dan Komuni Kudus kepada para pezinah melalui perkawinan kedua mereka, tanpa terlebih dahulu meminta kepada para pezinah itu untuk dengan teguh hati memperbaiki hidup mereka dengan cara menghentikan relasi sexual mereka yang merupakan perbuatan zina itu.

Dengan begitu anda telah menyangkal Sabda Tuhan kita, yang menyalahkan orang yang bercerai dan ‘menikah lagi’ sebagai perbuatan zina tanpa kecuali, anda menyangkal perkataan dari St.Paulus mengenai hukuman atas orang yang menerima Sakramen Terberkati secara tidak layak, dan anda juga menyangkal ajaran dari dua paus penduhulu anda yang sejalan dengan doktrin moral dan disiplin mengenai Ekaristi dari Gereja yang berakar kepada pewahyuan ilahi, Hukum Canon dan semua Tradisi.

Anda telah mendorong runtuhnya disiplin Gereja universal, meskipun masih ada beberapa orang uskup yang tetap berusaha mempertahankan disiplin itu ditengah munculnya Amoris Laetitia, sementara itu yang lain-lainnya, termasuk mereka (uskup-uskup) yang berada di Buenos Aires, telah mengumumkan sebuah perubahan yang hanya berdasarkan kepada kewenangan anda yang berupa ‘anjuran apostolik’ yang sangat memalukan itu. Belum pernah ada kejadian seperti ini di dalam sejarah Gereja. 

Namun pada saat yang bersamaan, hampir semua anggota hirarki konservativ Gereja bersikap diam, sementara kaum liberal (kelompok anda), berseru-seru secara terbuka tentang kemenangan mereka berkat jasa anda. Hampir tak ada anggota hirarki yang berani menentang sikap sembrono anda yang sangat menentang doktrin serta praktek ajaran Gereja, meski banyak juga gerutu pribadi yang menentang tindakan penghancuran yang terus anda lakukan saat ini. Seperti halnya di saat krisis Aria dulu, maka bergantunglah kepada umat awam untuk mempertahankan Iman yang benar di tengah penyimpangan universal dari tugas dan kewajiban hirarki Gereja.
Tentu saja kami ini bukanlah apa-apa di tengah ‘kancah permainan’ anda ini, namun sebagai anggota umat awam dari Tubuh Mistik, yang telah dibaptis, kami dikaruniai dengan hak pemberian Allah serta tugas yang berkaitan dengan hal itu, seperti yang telah dituliskan di dalam hukum Gereja (sesuai dengan Hukum Canon 212) untuk menyampaikan kepada anda dan kepada sesama umat Katolik mengenai krisis akut dari pemerintahan anda di dalam Gereja di tengah krisis gerejani kronis yang terjadi setelah KV II.

[Hukum Canon 212. §1. Yang dinyatakan oleh para Gembala suci yang mewakili Kristus sebagai guru iman, atau yang mereka tetapkan sebagai pemimpin Gereja, harus diikuti dengan ketaatan kristiani oleh kaum beriman kristiani dengan kesadaran akan tanggungjawab masing-masing.
§2. Adalah hak sepenuhnya kaum beriman kristiani untuk menyampaikan kepada para Gembala Gereja keperluan-keperluan mereka, terutama yang rohani, dan juga harapan-harapan mereka.
§3. Sesuai dengan pengetahuan, kompetensi dan keunggulannya, mereka mempunyai hak, bahkan kadang-kadang juga kewajiban, untuk menyampaikan kepada para Gembala suci pendapat mereka tentang hal-hal yang menyangkut kesejahteraan Gereja dan untuk memberitahukannya kepada kaum beriman kristiani lainnya, tanpa mengurangi keutuhan iman dan moral serta sikap hormat terhadap para Gembala, dan dengan memperhatikan manfaat umum serta martabat pribadi orang.]

Permohonan-permohonan kami secara pribadi telah terbukti sama sekali tidak berguna, seperti yang kami sampaikan di bawah ini, dimana kami telah menerbitkan dokumen permohonan kami ini untuk melepaskan beban hati nurani kami dalam menghadapi bahaya besar yang telah anda timbulkan, yang  mengancam jiwa-jiwa serta kesejahteraan bersama umat gerejani, dan permohonan kami ini mendorong kita semua, umat Katolik, untuk memegang teguh prinsip-prinsip yang bertentangan dengan penyalahgunaan yang terus menerus anda lakukan melalui jabatan kepausan anda, terutama yang menyangkut ajaran Gereja yang tak bisa salah (infallible) terhadap tindakan perzinahan dan pencemaran terhadap Ekaristi Kudus.
Di dalam tekad kami untuk menerbitkan dokumen ini, kami dituntun oleh ajaran para Doktor Gereja yang kudus dalam masalah keadilan alami di dalam Gereja:
Hendaklah diperhatikan bahwa jika Iman berada dalam bahaya, maka seorang umat hendaknya menegur imam/uskupnya, bahkan secara terbuka. Begitulah Paulus, yang merupakan bawahan dari Petrus, telah menegurnya secara terbuka karena adanya bahaya yang bisa mengancam Iman (lihat Gal. 2:11 -- Tetapi waktu Kefas (Petrus) datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah). Dan tentang Gal. 2:11 ini St.Agustinus berkata “Paulus memberi contoh kepada para atasannya, bahwa setiap saat jika mereka menyimpang dari jalan yang benar, maka mereka tak boleh kecewa jika ditegur oleh bawahannya.” [Summa Theologiae, II-II, Q. 33, Art 4]
Kita juga dituntun oleh ajaran St. Robert Bellarmine, Doctor Gereja, mengenai penolakan yang sah terhadap Uskup Roma seandainya dia tersesat:
Karena itu, seperti halnya sah untuk menolak seorang Paus yang menyerang tubuh, maka juga adalah sah untuk menolak Paus jika dia menyerang jiwa-jiwa atau mengganggu sebuah situasi yang benar, dan terlebih lagi jika dia berusaha untuk menghancurkan Gereja. Maka aku berkata, adalah sah untuk menolak dia, dengan cara tidak melakukan apa yang diperintahkannya, dan dengan menghalangi dia, jika dia sampai melaksanakan keinginannya yang menyimpang itu… [De Controversiis on the Roman Pontiff, Bk. 2, Ch. 29].
Karena itu umat Katolik di seluruh dunia, bukan hanya kaum tradisionalis saja, hendaknya mengerti situasi yang digambarkan oleh St. Robert Bellarmine saat itu, yang saat ini telah menjadi sebuah realita bagi kita semua. Keyakinan inilah yang menjadi pendorong bagi penulisan dokumen ini.
Semoga Allah menjadi Hakim atas kejujuran dan ketulusan niat kami ini.
Christopher A. Ferrara
Lead Columnist, The Remnant
Michael J. Matt
Editor, The Remnant
John Vennari
Editor, Catholic Family News




HAK UNTUK MENYAMPAIKAN TEGURAN

Oleh rahmat Allah dan hukum Gereja, sebuah keluhan disampaikan kepada Francis, Uskup Roma, mengenai adanya bahaya terhadap Iman serta gangguan yang besar terhadap jiwa-jiwa serta kebaikan bersama dari Gereja Katolik yang kudus.

Kerendahan hati macam apa ini?
Pada malam saat pemilihan anda, dari atas balkon basilika St.Petrus anda berkata ‘tugas dari konklav adalah memberi seorang uskup bagi Roma.’ Meski orang banyak yang ada di hadapan anda berasal dari seluruh dunia, para anggota dari Gereja universal, tetapi anda hanya menyatakan rasa terima kasih ‘atas sambutan dari komunitas wilayah Roma’ saja. Anda juga menyampaikan harapan anda bahwa ‘perjalanan Gereja yang kita mulai hari ini’ agar ‘menghasilkan buah bagi evangelisasi dari kota yang indah ini (Roma).’ Anda meminta kepada umat beriman yang hadir di lapangan St.Petrus saat itu untuk berdoa, bukan bagi Paus, tetapi ‘bagi uskup mereka’ dan anda berkata bahwa pada hari berikutnya anda akan ‘berdoa kepada Madonna (Bunda Maria) agar melindungi Roma.”

Perkataan anda yang aneh pada saat yang bersejarah itu dimulai dengan seruan yang dangkal sekali maknanya “Saudara-saudari, selamat malam’ dan diakhiri dengan intensi yang juga biasa-biasa saja: “Selamat malan dan selamat tidur.” Bukan sekali saja di dalam ucapan-ucapan pertama anda hanya mengacu kepada diri anda sendiri, sebagai paus, atau memberikan referensi kepada kemuliaan utama dari jabatan dimana anda terpilih untuk mendudukinya: sebagai wakil Kristus, yang tugas utamanya adalah mengajar, memerintah, dan menyucikan Gereja universal dan menuntun Gereja untuk menciptakan para murid dari segala bangsa.

Hampir sejak saat pemilihan anda, maka dimulai juga sebuah kampanye publik yang tak ada habisnya yang temanya hanya mengusung kehebatan kerendahan hati anda di antara para paus lainnya, menyebarkan kesan anda sebagai seorang uskup Roma yang sederhana, dimana hal itu bertentangan dengan ‘kesan warna monarki’ dari para pendahulu anda, beserta dengan segala perlengkapan pakaian seragam mereka dan sepatu-sepatu merah mereka, yang telah anda hentikan sejak saat itu. Anda memberi indikasi awal dari munculnya kekuasaan paus yang radikal dan desentralisasi guna mendukung sebuah ‘Gereja sinodal’ dengan mengambil contoh dari pandangan Ortodox tentang ‘makna kolegialitas episkopal serta pengalaman sinodalitas mereka.’ Begitulah media massa  segera saja menyambut gembira ‘revolusi Francis’ versi anda sendiri.

Namun pameran kerendahan hati yang penuh kepura-puraan ini disertai pula dengan sebuah penyalah-gunaan kekuasaan jabatan kepausan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Gereja. Selama tiga setengah tahun ini tak ada habisnya anda telah mempromosikan pandangan dan keinginan anda sendiri tanpa peduli sedikitpun juga dengan ajaran dari para pendahulu anda selama 2000 tahun tradisi Gereja, dimana anda telah mengalirkan limpahan skandal yang luar biasa mengerikan. Pada berbagai kesempatan anda telah mengejutkan dan membingungkan umat beriman sekaligus anda telah membahagiakan musuh-musuh Gereja melalui pernyataan dan perkataan anda yang heterodox dan tidak masuk akal, sambil anda melontarkan cemoohan demi cemoohan kepada umat Katolik yang taat, yang anda tuduh sebagai ‘orang Parisi dari akhir zaman’ dan sebagai kaum ‘keras kepala’. Tingkah laku anda sering berupa lawakan untuk menyenangkan hati orang banyak.

Secara konsisten anda telah mengabaikan berbagai peringatan dan teguran dari pendahulu langsung anda (Paus Benediktus XVI) yang mengundurkan dari dari jabatannya karena alasan-alasan yang misterius delapan tahun setelah dia meminta uskup-uskup yang saat itu berkumpul di hadapannya, pada awal jabatannya dulu, dengan ucapannya “Doakanlah saya, agar saya tidak melarikan diri karena takut kepada serigala-serigala”, demikian kutipan perkataan pendahulu anda pada saat homili pertamanya sebagai paus:

Paus bukanlah sebuah monarki absolut, yang pemikiran dan keinginannya bisa menjadi hukum. Sebaliknya, perutusan paus adalah jaminan ketaatan kepada Kristus dan kepada SabdaNya. Paus tak boleh menyampaikan pendapatnya sendiri, tetapi dia harus mengikatkan dirinya dan Gereja kepada Sabda Allah, di tengah segala upaya untuk melemahkannya dan segala bentuk oportunisme.

Sebuah campur tangan di bidang politik, adalah selalu benar secara politis.
Dalam sebagian besar dari pelaksanaan jabatan anda sebagai ‘Uskup Roma’ anda telah memperlihatkan perhatian yang kecil sekali terhadap kewenangan dan kompetensi paus, dimana anda telah melibatkan diri dalam peristiwa-peristiwa dan urusan politik, misalnya masalah imigrasi, masalah kriminal, lingkungan, memulihkan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dengan Cuba (sambil anda mengabaikan penderitaan umat Katolik dibawah kediktatoran Fidel Castro) dan bahkan anda menentang gerakan kebebasan di Skotlandia. Anda tidak menentang pemerintahan sekuler yang tidak menghormati hukum-hukum ilahi dan alami, misalnya pemerintahan yang mengesahkan ‘hubungan homosex’, dimana ini adalah menyangkut masalah hukum ilahi dan alami dan seorang paus haruslah ikut campur tangan disini. Kenyataannya ucapan-ucapan anda justru mendukung tindakan seperti itu.

Kenyataannya, anda melakukan banyak sekali tuduhan tentang adanya kejahatan sosial, dimana semua itu merupakan sasaran yang aman secara politis, namun semua itu telah diingkari oleh perbuatan anda sendiri, karena anda mengkompromikan ajaran Gereja dengan berbagai kesesatan modernisme:
Berlawanan dengan ajaran Gereja yang berlandaskan kepada Pewahyuan, anda menuntut penghapusan hukuman mati di seluruh dunia, betapapun besarnya kesalahan yang dilakukan, dan bahkan penghapusan terhadap hukuman seumur hidup, namun anda tak pernah meminta penghapusan terhadap undang-undang yang mengesahkaan aborsi, yang selama ini terus menerus dikutuk oleh gereja, karena hal itu merupakan pembunuhan massal terhadap anak-anak tak berdosa.   

Anda menyatakan bahwa umat beriman yang taat adalah berdosa berat karena mereka gagal untuk mendaur ulang sampah rumah tangga mereka dan mematikan lampu yang tidak perlu dinyalakan, sementara itu anda mengeluarkan jutaan dollar bagi tindakan-tindakan vulgar anda demi popularitas diri anda di berbagai negara, ke tempat mana anda bepergian bersama rombongan besar anda dengan menyewa pesawat jet yang melepaskan sejumlah besar emisi karbon ke atmosfer.

Anda menganjurkan dibukanya perbatasan-perbatasan negara bagi para pengungsi Muslim, yang kenyataannya didominasi oleh para tentara yang menyamar, sementara anda sendiri tinggal dibalik dinding-dinding Vatikan yang sangat kokoh membatasi masuknya warga asing, dinding-dinding yang dibangun oleh Leo IV untuk mencegah masuknya tentara Muslim ke Roma saat itu.

Anda berbicara tanpa henti tentang kaum miskin dan masyarakat pinggiran namun anda sendiri bersahabat erat dan bersekutu dengan orang-orang kaya (misalnya George Soros) serta hirarki Gereja Jerman (misalnya Kardinal Kasper) yang busuk serta pro-aborsi, pro-kontrasepsi, pro-homosexual dan kaum selebritis yang gaya hidupnya tidak karuan serta para penguasa global.

Anda mencemooh perusahaan-perusahaan yang serakah mencari keuntungan dan "sistem perekonomian yang membunuh" sementara itu anda menghormati mereka dengan mengadakan audiensi pribadi dengan mereka dan menerima sumbangan besar dari para teknokrat, pemimpin perusahaan dan orang-orang kaya dunia, bahkan mengijinkan perusahaan Porsche untuk menyewa Kapel Sistina untuk mengadakan "konser megah ... yang ditata sedemikian rupa bagi peserta dan undangan" yang bersedia membayar hingga $ 6.000 per orang untuk melakukan tour Vatikan, tour pertama kalinya yang diijinkan oleh seorang Paus hingga memungkinkan tempat yang suci itu digunakan bagi acara perusahaan komersiil.

Anda menghendaki diakhirinya "ketimpangan sosial" karena anda merangkul komunis dan para diktator sosialis yang hidup dalam kemewahan, sementara rakyat mereka menderita di bawah belenggu mereka.

Anda mengutuk seorang calon presiden Amerika (Trump) dengan menuduhnya sebagai "bukan Kristen" karena dia berusaha mencegah masuknya pengungsi ilegal, tetapi anda tidak berkata apa-apa terhadap diktator atheis yang anda rangkul, yang telah melakukan pembunuhan massal, menganiaya Gereja dan memenjarakan orang-orang Kristiani di negara-negara polisi.

Dalam mempromosikan pendapat pribadi anda di bidang politik dan kebijakan publik seolah-olah itu adalah merupakan doktrin Katolik, anda tidak ragu-ragu untuk menyalah-gunakan bahkan martabat dari ensiklik kepausan (ingat Laudato Si) dengan menggunakannya untuk mendukung klaim ilmiah yang masih bisa diperdebatkan dan bahkan terbukti palsu tentang "perubahan iklim," "siklus karbon", "polusi karbon dioksida" dan "pengasaman lautan." Dalam dokumen yang sama anda juga menuntut agar umat beriman menanggapi dugaan adanya "krisis ekologi" yang dimunculkan oleh para pendukung program lingkungan hidup yang sekuler, seperti misalnya Sustainable Development Goals dari PBB, yang anda puji-puji meskipun program itu menuntut "adanya akses universal terhadap kesehatan seksual dan reproduksi," yang berarti diterimanya kontrasepsi dan aborsi.

Sikap acuh yang merajalela
Sementara itu hampir tidak ada seorangpun pelopor yang menghormati pembaharuan pasca-konsili, yang bersifat merusak, yang berupa "ekumenisme" dan "dialog antar agama," anda telah mempromosikan sebuah sikap acuh religius tertentu, hingga kepada tingkat yang belum pernah terjadi terutama selama tahun-tahun terburuk dari krisis pasca-konsili, yang praktisnya adalah menyia-nyiakan misi dari Gereja sebagai bahtera keselamatan.

Dengan menghormati Protestan, anda menyatakan bahwa mereka semua adalah anggota "Gereja Kristus" yang sama seperti Katolik, terlepas dari apa yang mereka percaya, dan bahwa perbedaan doktrinal antara Katolik dan Protestan adalah hal-hal yang relatif sepele yang bisa diselesaikan melalui persetujuan dari para teolog.

Melalui pendapat itu, anda telah secara aktif menghalangi orang Protestan yang akan masuk ke dalam agama Katolik, termasuk salah satunya "Uskup" Tony Palmer, yang menjadi anggota dari sebuah sekte Anglikan yang memisahkan diri, yang berniat untuk menahbiskan perempuan menjadi imam mereka. Seperti yang dikatakan oleh Palmer, ketika dia menyebutkan "pulang kepada Gereja Katolik" anda memberi balasan yang mengerikan ini: "Tidak ada yang bisa disebut ‘pulang’ ke rumah. Kamu sedang dalam perjalanan menuju kepada kami dan kami melakukan perjalanan menuju kepada kamu, dan kita akan bertemu di tengah." BAGIAN TENGAH APA? Dan Palmer meninggal dalam kecelakaan sepeda motor besoknya. Dan atas desakan anda, pria yang pertobatannya kepada Gereja Katolik telah anda hambat dengan sengaja dimakamkan sebagai Uskup Katolik – ini adalah sebuah ejekan dan yang sangat bertentangan dengan ajaran tak bisa salah dari pendahulu anda yang mengatakan bahwa "pentahbisan yang dilakukan menurut ritus Anglican telah, dan tetap, tidak diakui dan dianggap tidak pernah terjadi. "[Leo XIII, Apostolicae curae (1896), DZ 3315]

Dan terhadap agama-agama lain pada umumnya, anda telah mengadopsi sebuah program virtual yang sangat sesat dan dikutuk oleh Paus Pius XI, 34 tahun sebelum Konsili Vatikan II: "…bahwa pendapat keliru yang menganggap semua agama adalah lebih atau kurang baik dan layak untuk dipuji, karena mereka semua dengan berbagai cara telah menyatakan dan menandakan bahwa rasa yang merupakan bawaan dalam diri kita semua, dan dengan apa kita dituntun menuju kepada Allah dan pengakuan dan ketaatan kepada aturan-Nya." Tetapi anda telah benar-benar melupakan peringatan Pius XI yang mengatakan bahwa "orang yang mendukung teori ini dan berusaha untuk melaksanakannya, maka dia benar-benar meninggalkan agama yang diwahyukan secara  ilahiah." Dalam hal ini, anda telah mengatakan bahwa bahkan orang atheis sekalipun bisa diselamatkan hanya dengan jalan melakukan perbuatan baik, sehingga hal ini memunculkan puji-pujian yang ramai dari media massa kepada anda.

Nampaknya dalam pandangan anda, tesis sesat dari Rahner tentang "umat Kristiani yang anonim," telah mampu merangkul seluruh umat manusia dan menyiratkan keselamatan universal, namun sebenarnya tesis itu secara definitif telah menggantikan ajaran Tuhan kita yang isinya bertentangan dengan hal itu : " Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (Mrk 16:16). "



MAKA MARILAH KITA BERDOA BAGI POPE FRANCIS.