Thursday, June 29, 2017

PARA PENGAMAT VATIKAN MENGATAKAN: JANGAN BERHARAP BAHWA PF....

PARA PENGAMAT VATIKAN MENGATAKAN: JANGAN BERHARAP BAHWA PF AKAN MAU MENANGGAPI PERMINTAAN DARI EMPAT KARDINAL (PENGUSUNG DUBIA)


     EWTN’s Raymond Arroyo dan Pastor Gerald Murray

by Lisa Bourne

Apakah Yesus akan berkata kepada orang-orang: “Lihat, jangan bertanya, nanti paus marah !

WASHINGTON, DC, 27 Juni 2017 (LifeSiteNews) – Seorang ahli hukum Canon, Pastor Gerald Murray, menyuarakan adanya kebingungan yang diciptakan oleh anjuran Paus Fransiskus Amoris Laetitia. Minggu lalu di EWTN, dia mengatakan bahwa jika para imam tidak gigih mempertahankan iman, berarti mereka telah lalai di dalam tugas mereka.

Dia mencatat bahwa, karena kebingungan, maka pastor-pastor paroki sekarang dipaksa untuk mempertanyakan apakah mereka harus terus menjunjung ajaran Gereja yang mereka pelajari di seminari, seperti yang dilakukan oleh dua paus sebelumnya. Ini adalah hasil dari tindakan berbagai hirarki Gereja di seluruh dunia yang memberi kesempatan kepada umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali untuk menerima Komuni karena dokumen (Amoris Laetitia) tersebut.

Semua teologi moral secara keseluruhan, kata Pastor Murray kepada Raymond Arroyo dari media The World Over, dan umat Katolik, tidak dapat memisahkan satu aspek dengan aspek lainnya.

"Jadi jika kita bisa mengabaikan dosa berat perzinahan, maka dosa apa lagi sekarang yang akan diabaikan juga dari daftar dosa berat lainnya?" tanya dia. "Dan di sinilah anda punya banyak masalah."

"Ini bukanlah sebuah agama yang ‘bebas-untuk-berbuat-segalanya," kata Pastor Murray. "Ini adalah agama yang diturunkan oleh para rasul dari Kristus. Jika kita tidak rajin menjaganya, maka kita gagal dalam tugas kita sebagai imam."

Arroyo bertanya kepada Pastor Murray dan koresponden veteran Vatikan, Ed Pentin, atas pandangan mereka mengenai dubia dari empat orang kardinal baru-baru ini yang meminta klarifikasi atas Amoris Laetitia kepada PF.

Pastor Murray mengatakan kepada Arroyo bahwa isu seputar dokumen paus itu (Amoris Laetitia) harus segera ditangani, dan dia dengan sepenuh hati mendukung upaya para kardinal yang meminta PF untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Arroyo bertanya kepada Pentin mengapa ada keengganan di pihak Paus Fransiskus untuk mengklarifikasi sesuatu yang sangat mendasar, seperti ajaran Gereja tentang pernikahan ini.

Ambiguitas dan ironi
Pentin mengatakan bahwa ada sejumlah teori, "tapi saya pikir yang utama adalah paus memang sengaja menghendaki ambiguitas ini, karena dia mengatakan bahwa isu-isu ini tidak hitam dan tidak putih."

Pentin juga mencatat jika para kritikus mengatakan bahwa hal ini bertentangan dengan pengajaran para paus sebelumnya.

Arroyo bertanya kepada Pentin tentang mengapa paus enggan terlibat pada diskusi dengan para kardinal itu.

Jawaban Pentin menyoroti adanya kontradiksi antara seruan Paus yang konsisten untuk melakukan dialog dengan orang lain dengan tanggapannya terhadap para kardinal pengusung dubia.

"Nah, inilah ironisnya," katanya, "karena dia (PF) memang tidak ingin berdialog dengan orang-orang lain, tetapi bukan dengan para kardinal pendukungnya sendiri."

Para kardinal dihadapkan pada masalah yang nyata dalam upaya menegakkan ortodoksi iman, demikian Pentin menambahkan.

"Jadi itu adalah sangat memprihatinkan," katanya, "bagi banyak kardinal, saya mengerti, bukan hanya bagi empat kadinal pengusung dubia itu saja."

Ada tanda tanya bagi siapa saja: apakah paus akan menanggapi permintaan dari empat kardinal itu, kata Pentin kepada Arroyo, "tetapi sepertinya hal itu tidak mungkin."

Siapakah yang akan mengawasi kawanan domba?
Pastor Murray mengatakan bahwa umat awam patut memperhatikan permintaan yang disampaikan oleh empat orang kardinal kepada Paus Fransiskus baru-baru ini, karena hal itu sangat penting. Hal itu menunjukkan bahwa para kardinal tidak hanya bertindak berdasarkan pemikiran atau keprihatinan mereka sendiri.

Telah diketahui juga bahwa banyak keluhan dan keraguan muncul diantara umat awam, katanya, dan jelas para kardinal merasakan bahwa ini adalah tanggung jawab mereka sebagai penasihat paus, untuk membawa masalah itu kepada paus dengan semangat untuk melayani umat awam.

Arroyo bertanya kepada pastor Murray apakah Paus Fransiskus akan kembali mengabaikan permintaan para kardinal itu untuk melakukan audiensi, dimana PF hanya bersikap seperti orang Parisi yang kasar dan kaku, seperti yang sudah biasa dilakukannya selama ini.

Tidak diketahui apa yang akan dikatakan oleh PF, jawab Pastor Murray, namun sejauh ini dia memang  belum menjawab dubia itu.

"Kami tahu bahwa PF telah mengatakan kepada uskup-uskup Argentina di wilayah Buenos Aires bahwa interpretasi mereka terhadap Amoris Laetitia adalah benar," kata Pastor Murray, "dan sesungguhnya interpretasi mereka tidak sesuai dengan doktrin Katolik." (Catatan: uskup-uskup Argentina telah menafsirkan Amoris Laetitia sebagai hak untuk memberikan Komuni Kudus kepada para pezina, tanpa disertai syarat pertobatan, dan hal ini telah disetujui oleh PF. Hal yang sama juga terjadi di Malta).

Apa yang dikatakan Tuhan
"Ini adalah pertanyaan tentang, 'Apakah iman yang diwariskan oleh para rasul?'" kata Pastor Murray. "Dan ini cukup jelas - Tuhan kita berkata, seseorang yang menceraikan isterinya dan menikahi orang lain, telah melakukan perzinahan."

"Perzinahan adalah sebuah dosa berat," lanjut Pastor Murray. "Mereka yang hidup dalam keadaan dosa berat secara umum harus ditolak untuk menerima Komuni oleh para utusan Gereja, demi kebaikan mereka sendiri."

Menerima Komuni dalam situasi seperti itu tidak hanya membuat orang lain tersinggung, tetapi hal itu juga membahayakan keselamatan orang-orang yang melakukannya, kata imam tersebut lebih lanjut.

"Jadi, penerimaan Komuni Kudus yang tidak layak selalu akan menjadi masalah," katanya, "Kami mencoba untuk meminimalkannya, berusaha untuk menghilangkannya. Tapi penolakan publik terhadap ajaran Gereja mengenai pernikahan, dengan cara menikah secara sipil, tidak dapat dianggap sebagai masalah yang kecil. "

Arroyo meminta Pastor Murray untuk membandingkan tanggapan PF terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai anjuran apostoliknya (Amoris Laetitia) dengan bagaimana dia menangani perselisihan yang terjadi di dalam Ordo Malta.

"Jadi yang saya lihat di sini adalah bahwa beberapa masalah ada yang mendapatkan perhatian langsung dan segera oleh paus, dan tindakan segera diambil," kata Pastor Murray. "Tetapi para kardinal yang tidak mendapat jawaban dari paus (soal dubia), menurut saya itu bukanlah hal yang baik."

"Paus memang berdaulat, dia dapat melakukan apapun yang dia inginkan," lanjutnya, "tapi yang tidak masuk akal, dalam masalah lain di mana anda akan mengambil tindakan cepat saat masalah itu diajukan kepada anda, atau anda mengatakan bahwa anda ingin berdialog – dan sungguh PF telah berdialog dengan banyak orang – tetapi mengapa terhadap para kardinal ini dia tidak berkata:"Begini, saya tahu anda ada di sini karena anda mencintai Gereja, kita semua mencintai Gereja, maka mari kita bahas apa yang sedang dipermasalahkan."

"Ingat, bahwa paus adalah pelayan Kristus," kata Pastor Murray, "Anda dan saya, siapa pun di dalam lingkup Gereja dan semua orang yang telah dibaptis, kita semua berada di bawah pengawasan Kristus."

"Jadi kita semua harus mengatakan kepada diri kita sendiri, “Apa yang akan Kristus lakukan jika sebuah pertanyaan doktrinal yang sangat penting diajukan kepadaNya?" Apakah Yesus akan berkata kepada orang-orang itu: “Lihat, jangan tanya, nanti paus marah”

“Saya tidak berpikir Yesus akan berkata seperti itu."


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

Tuesday, June 27, 2017

Seorang bekas gay berbicara...

BERAPA BANYAK YANG AKAN MUSNAH DIKARENAKAN USKUP-USKUP DAN AKADEMISI KATOLIK YANG KEHILANGAN ARAH (DENGAN MENDUKUNG PERBUATAN SODOMI)?
by DOUG MAINWARING (bekas gay dan pelaku homosex)

Uskup John Dolan dari San Diego adalah seorang pendukung LGBT

Penyimpangan semacam itu adalah bagian dari agama tunggal dunia ciptaan manusia.

June 22, 2017 (LifeSiteNews) — Ketika seorang pria dan seorang wanita bermain cinta, maka keajaiban pembuahan dan kelahiran anak adalah dimungkinkan untuk terjadi. Namun bila dua orang pria mencoba melakukan hal yang sama, maka hasil yang paling besar dari mereka adalah berupa pelepasan air mani yang bercampur dengan kotoran manusia.

Selain adanya kontras yang sangat mencolok ini, orang-orang Katolik yang berkedudukan tinggi dan dalam posisi berkuasa dan berpengaruh di Amerika Utara tidak lagi dapat melihat perbedaan penting di antara kedua perbuatan tadi. Mereka bukan saja menerima 'gay' sebagai hal yang normal sepenuhnya, tetapi mereka juga mempromosikan 'pernikahan sesama jenis,' yang merupakan pernikahan ‘anti suami-istri’, ‘anti saling-melengkapi’, perkawinan tanpa perbedaan jenis kelamin, dimana orang-orang itu menyamakannya dengan pernikahan antara pria dan wanita.

Anda sudah tahu banyak nama-nama mereka: ada Perdana Menteri Kanada yang beragama Katolik Justin Trudeau, dimana menurut dia perkawinan 'gay' adalah merupakan 'prinsip utama’; kemudian ada Hakim Agung dari Mahkamah Agung AS Anthony Kennedy (U.S. Supreme Court Justice Anthony Kenned), yang mengusulkan hak asasi nasional bagi pernikahan tanpa memandang jenis kelamin; kemudian ada mantan wakil presiden A.S. Joe Biden, yang telah menikahankan dua orang pria (tanpa memandang gender); lalu ada pemimpin minoritas Rumah Katolik Nancy Pelosi, yang menegaskan bahwa "pernikahan" sesama jenis sangat "konsisten" dengan agama Katolik; kemudian Gubernur New York, Katolik, Andrew Cuomo, kemudian ada Senator Virginia dan capres Katolik tahun 2016 Hillary Clinton dan pasangannya Tim Kaine, dan banyak lagi lainnya yang dengan penuh semangat mendukung dan menganjurkan homosex dan menganggap bahwa hal itu adalah normal.

Pada saat yang sama, orang-orang Katolik yang juga merupakan orang-orang terkenal ini menjadi semakin tidak mampu membedakan antara pria dan wanita dan mereka tidak mengerti arti pentingnya tindakan ‘saling melengkapi’, yang hanya bisa diwujudkan oleh perkawinan pria-wanita. Mereka kini mempromosikan transnormativitas. (Hubungan sesama jenis yang dianggap normal).

Jelas sekali bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan pandangan mereka atas pernikahan dan martabat manusia, yang ada di antara kaum elit Katolik, ketika tindakan sodomi dianggap merupakan penyempurnaan dari pernikahan dan alat kelamin tidak lagi menunjukkan jenis kelamin seseorang.

Kenyataan bahwa mereka semakin menikmati persekutuan penuh dengan Gereja meskipun mereka menyiarkan kebohongan yang menentang hukum alam dan menyangkal Kitab Injil, tetapi persekutuan penuh mereka dengan Gereja itu hanya semakin membesarkan hati mereka dan mengundang orang lain untuk mengikuti jejak mereka.

Begitulah pikiran orang-orang Katolik yang terkemuka itu telah tenggelam dari kebodohan, kepada kegelapan, kepada kebobrokan, dan mereka berniat untuk menyeret kita semua untuk terjatuh bersama mereka - dengan melalui kekuatan hukum, jika perlu - dan jika bukan terhadap kita, maka terhadap anak-anak kita.

Gambaran yang lebih besar adalah lebih buruk. Jauh lebih buruk
Marilah kita menyisihkan gambaran dunia elite politik dan masyarakat Katolik Amerika Utara untuk sesaat. Ancaman yang jauh lebih serius ada di hadapan kita.

Apa yang akan terjadi ketika kelompok para uskup dan klerus Gereja sama-sama menjauhkan diri mereka dari kebenaran? Apa yang akan terjadi ketika mereka menganggap bahwa jalan-jalan dunia ini  lebih menarik daripada pesan Injil, dan kemudian mereka memperdagangkan magisterium Gereja dengan budaya populer?

Kita akan mencari tahu soal itu.

Menolak dan menjauhi kebenaran, akan meniadakan karya Roh Kudus
Beberapa imam dan uskup yang berkedudukan tinggi nampaknya tertarik untuk mempromosikan janji kosong dunia ini yang ditolak oleh umat Katolik pada saat pembaptisan mereka : pastor James Martin, SJ, editor majalah Yesuit America, baru-baru ini yang ditunjuk oleh Vatikan sebagai konsultan komunikasi; Joseph Kardinal Tobin, C.Ss.R., Uskup Agung Newark, New Jersey; Uskup John Stowe dari Keuskupan Lexington di Kentucky; Uskup Agung Vincenzo Paglia, yang sekarang memimpin Akademi Kepausan bagi Kehidupan dan Institut Kepausan Paus Yohanes Paulus II bagi Studi Perkawinan dan Keluarga (the Pontifical Academy for Life and the Pontifical Pope John Paul II Institute for Studies on Marriage and Family).

Sementara itu Vatikan nampaknya sedang mengumpulkan dan mempromosikan orang-orang yang pro-homoseksual dan pro-transgenderis, dan dorongan untuk menerima ideologi-ideologi aneh atas kemanusiaan ini sampai terasa di rumah kita, di Amerika Utara.

Baru-baru ini, Keuskupan San Diego mengumumkan bahwa pastor John Dolan, seorang imam dengan catatan positif sebagai pendukung LGBT, telah ditunjuk oleh Vatikan untuk menjadi uskup pembantu. Di Keuskupan Agung Baltimore, Paroki St. Matthew telah mempromosikan homoseksualitas dan kesamaannya dengan Katolisitas, selama bertahun-tahun ini.

Di Keuskupan Agung New York, Gereja Sakramen Mahakudus mengumumkan bahwa kelompok "Gay Fellowship"-nya yang bermitra dengan "Born This Way Foundation" Lady Gaga untuk mengadakan tarian penggalangan dana di aula paroki pada tanggal 17 Juni 2017.

Bahkan pastor Jesuit untuk Dewan Perwakilan AS, Patrick J. Conroy, mengemukakan bahwa ajaran Gereja tentang homoseksualitas "sudah usang," dan dia menyebutnya sebagai "jalan buntu." Perkataannya mengungkapkan bahwa "pernikahan" homoseksual adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan bagi relasi sesama jenis.

Jika Gereja sekarang mulai melemahkan kebenaran magisterial, mencampur-adukkan antara yang tidak senonoh dengan yang kudus, kemanakah pasangan sesama jenis akan menuju jika hati nurani berbicara kepada kita? Ruang pengakuan dosa akan berubah menjadi kios penegasan dan pembenaran diri yang tidak akan memuaskan siapapun, dan hanya menimbulkan tragedi saja.

Apa yang akan terjadi pada pria dan wanita atau anak laki-laki dan anak perempuan yang tertarik kepada sesama jenisnya, jika Gereja sendiri (melalui para klerusnya) mengabaikan kebenaran ajaran Kristus dan kemudian menggelar tikar selamat datang berwarna ‘pelangi’ (lambang LGBT)? Hal itu tidak akan berhasil, karena kebenaran-lah yang menarik orang-orang kepada Gereja dan kebenaran-lah yang mengarahkan hati mereka kepada Kristus. Adalah kebenaran yang bergema di dalam hati dan menarik akal-budi. Adalah pesan yang murni dari Injil yang mengilhami seseorang, bukan kebohongan dan janji-janji kosong dari dunia ini.

Ingat akan perkataan PF yang terkenal itu : Who am I to judge? Dan biarlah saya memberitahu anda:
Dulu saya adalah orang yang tertarik kepada sesama jenis, dan pernah saya menjauhi pernikahan dan Gereja saya, dan hidup sebagai pria gay.

Namun ada sesuatu yang bergejolak di dalam diri saya. Itu adalah suara hati saya. Setelah emosi dan perasaan saya terbebas, saya merasakan ada sesuatu yang tidak benar, betapapun saya mencoba untuk menekan pikiran seperti itu. Dan saat ini, hampir dengan suara bulat saya sepakat bahwa kegelisahan hati nurani saya ini berasal dari dorongan akan kesadaran bahwa perkawinan yang normal adalah antara pria dan wanita, dan itulah yang benar. Kita diberitahu bahwa tekanan budaya exterior menyebabkan daya tarik terhadap sesama jenis untuk merasa "berbeda," hingga mengakibatkan depresi, gangguan masalah perilaku, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Istilah yang sekarang sedang populer bagi keadaan ini adalah adalah 'stres minoritas'.

Kami juga diberitahu bahwa Gereja 'tidaklah menyenangkan' karena tidak menyetujui perilaku relasi sesama jenis, dan bahwa Gereja adalah 'pencari yang tidak ramah'.

Tetapi pengalaman saya menceritakan sebuah kisah yang berbeda. Ada sebuah pengakuan di dalam batin yang kuat dan bersifat bawaan bahwa ada sesuatu yang salah dengan tingkah laku saya ini. Bukan masyarakat yang mengatakan bahwa saya 'buruk' atau menuduh saya atau gagal menerima saya. Justru sebaliknya, saya merasa 100 persen diterima oleh semua orang yang saya kenal. Tetapi penerimaan mereka bukanlah masalah. Tidak. Hati nurani saya yang berfungsi sempurna yang berbicara kepada saya, dan membuat saya berusaha memahami diri saya sendiri.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menjalani kehidupan yang suci, untuk kembali kepada istri saya dan kepada Gereja Katolik. Mengapa? Karena di dalam Gereja Katolik kebenaran itu tidak ditemukan seperti di tempat lain di bumi: dikemas, digoncang bersama, penuh sampai tumpah ke luar (Lukas 6:38). Dan bukan hanya kebenaran; saya juga menemukan persekutuan yang otentik dan intim dengan saudara-saudara Katolik di dalam paroki saya, yang saya cintai dan yang mencintai saya. Salah satu aspek terbesar dari kasih persaudaraan dalam kehidupan paroki adalah: Kami saling membantu untuk tidak berbuat dosa, untuk menemukan persekutuan yang lebih besar dengan Allah, dan maju terus sebagai orang-orang yang berdiri tegak menolak pelanggaran.

Kini saya dapat dengan mudah menjawab pertanyaan PF yang terkenal itu, "Siapakah saya ini hingga berhak menghakimi (menilai)?" Saya adalah seorang Kristiani yang memeriksa hati nurani saya setiap hari. Saya harus menghakimi (menilai), karena kebenaran dan Roh mengarahkan saya untuk melakukannya. Adalah tugas saya untuk menghakimi (menilai), untuk mencari kebenaran, dan menyangkal kebohongan serta daya pikat daging dan dunia.

Jika bukan karena ajaran yang solid dari Gereja Katolik yang menantang hidup saya, dan menegaskan karya Roh Kudus dalam hidup saya, maka saya akan tersesat.

Orang-orang Katolik yang merasa tertarik kepada sesama jenisnya, dibuat bingung oleh meningkatnya pesan beragam yang timbul dari dalam Gereja, terutama dari para uskupnya. Dan sementara suara-suara dari dalam Gereja menyerukan agar ia (Gereja) menyerah kepada revolusi seksual yang semakin keras, maka suara dari Injil menjadi semakin redup. Pesan-pesan yang beraneka ragam itu merusak kehidupan umat, dengan memaafkan segala perilaku dan pola pikir yang begitu banyak dan berusaha melarikan diri dari aturan yang baku. Mereka telah mengabaikan karya Roh Kudus.

Menukar batu padas dengan pasir
Setan telah lama memakai ‘pakaian kerja’ agar ia bisa menggali fondasi Gereja, meledakkan fondasi ‘batu karang kebenaran’ yang kokoh, dan menggantinya dengan pasir ber-‘truk-truk’ banyaknya. ‘Penggalian dan pembuatan terowongan’ dilakukan untuk menimbulkan kesan di luar bahwa Gereja sebagai penguasa dunia ini telah terkubur di bawah. Tetapi sekarang palu-palu telah dipegang oleh para klerus di dalam Gereja yang mengambil alih pekerjaan setan yang dahulu dilakukan dari luar gereja.

Dengan fondasi magisterial Gereja yang dilemahkan, maka struktur bangunan yang di atas akan tetap utuh untuk sementara waktu, namun begitu gelombang serangan baru mulai menerjang,  struktur bangunan itu akan mulai runtuh: perlahan pada awalnya, dan kemudian terjadi dengan cepat. Sangat cepat. Dengan fondasi Gereja yang terus dirongrong, maka iman dari banyak orang akan goyah dan akhirnya runtuh dan institusi Katolik akan goyah juga dan jatuh.

Banyak orang yang akan terkejut, saat mereka berjalan diatas puing-puing, sambil bertanya-tanya : bagaimana hal ini bisa terjadi begitu cepat.

Tetapi yakinlah, Gereja adalah milik Kristus dan gerbang-gerbang neraka tidak akan bisa menang melawannya. Tetapi pertanyaan yang mengganggu tetap ada: Berapa banyak yang akan musnah dikarenakan uskup-uskup dan akademisi Katolik yang telah kehilangan arah?

Read the full article at Life Site News

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/


Monday, June 26, 2017

Salib bentuk baru


MDM, Selasa, 30 April 2013
Sebuah salib bentuk baru akan diperkenalkan

MDM, Selasa, 30 Juli 2013
Janganlah menerima sebuah salib, yang tidak menyerupai Salib dimana Aku disalibkan










Sunday, June 25, 2017

VATIKAN SEDANG BERUSAHA MEWUJUDKAN RITUS MISA EKUMENIS...

DILAPORKAN BAHWA VATIKAN SEDANG BERUSAHA MEWUJUDKAN ‘RITUS MISA EKUMENIS’ UNTUK MENYATUKAN IBADAT MISA DENGAN PROTESTAN


Pope Francis sedang berbincang dengan wakil dari Lutheran, Rev. Jens-Martin Kruse di
Rome’s Evangelical Lutheran Church pada Nov. 15 2016


Seorang jurnalis Italia dan ahli mengenai Vatikan, Marco Tosatti, melaporkan bahwa PF telah membentuk sebuah komisi sangat rahasia (top-secret commission) yang bertugas untuk menyusun sejenis ‘misa’ yang bisa diterima oleh umat Katolik, Lutheran dan Anglikan.

Komisi ini terdiri atas para wakil dari tiga agama itu, dan semuanya terikat kepada keharusan untuk menjaga kerahasiaan tugas mereka. Di Italia sendiri, jurnalis Marco Tosatti terkenal akan laporan-laporannya yang selalu akurat, tentang segala sesuatu yang terjadi di lingkungan Vatikan. Marco Tosatti mengatakan bahwa meskipun berita ini masih merupakan rumor, tetapi sumber-sumbernya bisa dipercaya. 

Menurut sumber-sumber yang dimaksud oleh Marco Tosatti, komisi itu menghadapi sebuah kesulitan kecil dalam menemukan landasan bersama bagi apa yang disebut sebagai ‘liturgi sabda’. Tosatti melaporkan ‘Setelah pengakuan atas dosa-dosa, meminta pengampunan, dan kemudian mendaraskan doa Gloria, kemudian dilanjutkan dengan bacaan-bacaan dan bacaan Kitab Injil.”

Dia juga mengatakan bahwa komisi itu mempelajari masalah yang ada di dalam doa Kredo. Wakil Gereja Protestan (dalam komisi itu) lebih memilih kredo Para Rasul, dan mereka tidak mengenal Kredo Nicene. Sedangkan wakil Gereja Katolik memilih diantara keduanya. Namun masalah ini tidak dianggap sebagai masalah yang besar. Demikian juga ‘persembahan’, tidak menjadi persoalan besar bagi tugas komisi itu.

Menurut Tosatti, isu sentralnya terletak pada Ekaristi, karena pemahaman Katolik pada Ekaristi sangat berbeda dengan pemahaman Gereja Lutheran dan Protestan. Gereja Katolik percaya akan Transubstansiasi dan Kehadiran Nyata dari Yesus di dalam Ekaristi, sedangkan Protestan percaya bahwa itu adalah sekedar sebuah peringatan saja. 

Tosatti melaporkan bahwa sebuah ‘solusi’ yang paling mungkin, sedang diusulkan dengan cara KALIMAT ATAU DOA KONSEKRASI TIDAK DIBACAKAN ATAU DIGANTI DENGAN SIKAP DIAM ATAU HENING.

Bagaimana bisa sebuah liturgi bersama dirayakan namun sangat berbeda di dalam kalimat-kalimat yang paling penting dalam peristiwa itu? (yaitu doa konsekrasi).

Salah satu usulan dari komisi itu berupa sikap hening tadi. Hal itu berarti bahwa setelah Sanctus (Kudus… kudus…kudus), pada saat dimana di dalam Misa Katolik imam akan berkata: “Bapa, sungguh kuduslah Engkau…” tetapi justru selebran yang lain (non Katolik) berdiam diri saja, dan setiap orang (umat yang ikut Misa itu) di dalam hatinya mengucapkan doa menurut formulanya sendiri-sendiri. 

Sikap hening ini berlangsung sampai waktunya doa Bapa Kami. Tetapi masih tidak jelas bagaimana kalimat-kalimat pada doa Komuni dirumuskan.

Maka dengan adanya rumor ini kita harus mengingat kembali perkataan Cardinal Francesco Coccopalmerio, orang dekat PF yang saat ini menjabat sebagai kepala dari the Vatican’s Pontifical Council for Legislative Texts, yang tugasnya antara lain menyusun text Misa Kudus. Cardinal ini mengatakan bahwa kita hendaknya berhenti berpikir tentang Sakramen-sakramen dengan sikap yang ketat, apakah itu sah ataupun tidak. Demi kepentingan ekumenis ini, dia berpendapat bahwa kita harus melihat kepada Sakramen-sakramen yang mungkin memiliki validitas yang tidak sempurna atau validitas yang bersifat sebagian.

Berikut ini adalah perkataannya dalam wawancara dengan Edward Pentin dari media the National Catholic Register:
Kita sering berkata bahwa semuanya adalah sah. Tetapi tidak ada yang sah. Mungkin kita harus merenungkan tentang konsep keabsahan atau ketidak-absahan ini. KV II mengatakan
bahwa ada sebuah persekutuan yang sejati (antara Katolik dengan Protestan) meski hal itu tidak definitiv atau sepenuhnya.  Anda melihat, mereka memang membuat sebuah konsep yang tidak begitu tegas, tidak bersifat ‘ya’ atau ‘tidak’. Ada sebuah persekutuan yang sudah baik, tetapi ada beberapa unsur yang tidak ada dalam persekutuan itu. Tetapi jika anda berkata bahwa jika ada sesuatu yang tidak ada dan karena itu persekutuan itu memang tidak ada, maka anda salah. Memang ada unsur-unsur (dari persekutuan) yang tidak ada, tetapi sudah ada persekutuan itu, hanya saja persekutuan itu tidak sepenuhnya. Maka hal yang sama bisa dikatakan tentang keabsahan atau ketidak-absahan dari sebuah tahbisan. Sudah saya katakan diatas, marilah kita merenungkan lagi masalah ini. Ini adalah sebuah hipotesa. Mungkin ada sesuatu, atau memang tidak ada sesuatu – suatu studi atau suatu perenungan.


by John Supplers, Veritas Vincit

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/