Tuesday, January 31, 2017

Marie-Julie Jahenny : KTH

KTH

Marie-Julie Jahenny


Marie-Julie menyampaikan pesan tentang KTH dimana selama saat itu kuasa-kuasa neraka dilepaskan dan akan menganiaya semua musuh-musuh Allah. Krisis itu akan meledak secara tiba-tiba; hukuman-hukuman akan dirasakan oleh semua orang secara beruntun tanpa jeda…”
(January 4, 1884). 

“KTH itu akan terjadi pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu, yang merupakan hari-hari dari Sakramen Yang Mahakudus, Salib dan Bunda Maria… tiga hari kurang satu malam.”
“Bumi akan diselimuti oleh kegelapan,” demikian kata Bunda Maria pada 20 September 1882, “… dan isi neraka dilepaskan ke bumi. Petir dan halilintar sambar menyambar hingga menimbulkan rasa takut dan ngeri bagi mereka yang tak beriman atau yang tidak percaya akan kuasaku, dan mereka akan mati karena takut.”

Selama KTH itu, yang merupakan hari-hari kegelapan yang amat menakutkan, tak boleh ada jendela-jendela yang terbuka, karena barangsiapa yang menyaksikan bumi ini beserta warnanya yang amat mengerikan pada hari-hari penyiksaan itu akan mati secara mendadak…

Langit akan terbakar, bumi akan terbelah… selama KTH itu biarlah lilin-lilin terberkati dinyalakan dimana-mana, karena tak ada cahaya lainnya yang mampu menyala…
“Tak seorangpun yang berada diluar yang bisa hidup. Bumi akan berguncang pada saat penghakiman itu dan rasa ketakutan akan sangat dahsyat. Ya, Kami akan mendengarkan doa-doa dari para sahabatmu, karena tidak satupun yang akan musnah. Kami membutuhkan doa-doa itu untuk mewartakan kemuliaan Salib…” (pesan 8 Desember 1882).

Lilin-lilin lebah yang terberkati akan bisa memberikan terang selama saat kegelapan yang mengerikan itu… satu buah lilin saja sudah mencukupi selama saat kegelapan neraka itu…
Di rumah-rumah orang yang jahat dan para penghujat, lilin-lilin itu tak akan bisa menyala…

Bunda Maria mengatakan: “Segala sesuatu akan terguncang kecuali tempat dimana lilin terberkati dan menyala itu diletakkan. Tempat itu tidak akan terguncang. Kamu semua akan berkumpul bersama, dengan salib dan gambarku yang terberkati. Inilah yang akan bisa menghalau rasa takut dan ngeri itu.

“Selama saat kegelapan itu semua iblis dan orang-orang jahat akan berubah wujud menjadi sosok yang amat mengerikan… awan-awan berwarna merah seperti darah akan bergerak melintasi langit. Hunjaman petir akan mengguncangkan bumi dan petir yang menyeramkan akan menorehkan cahayanya di langit diluar musimnya. Bumi akan berguncang hingga kepada fondasi-fondasinya. Air laut akan meninggi dimana deru gelombangnya akan menyebar menyelimuti benua-benua… bumi akan berubah seperti sebuah tempat pemakaman
yang amat luas.”
“Tubuh-tubuh dari orang-orang jahat dan orang-orang benar akan menutupi tanah.”

Tiga perempat penduduk bumi akan musnah. Separuh dari penduduk Perancis akan dihancurkan.” (Nubuat Marie-Julie Jahenny ini dilaporkan oleh the Marquis de la Franquerie)

DOA UNTUK DIDARASKAN SELAMA KTH:
Pewahyuan kepada Marie-Julie Jahenny, 17 Januari 1922 A.D.
(Sumber: "Prophecies of La Fraudais of Marie-Julie Jahenny", pp. 243-44)

Aku berseru, memuji dan memeluk SalibMu yang mulia, ya Juru Selamatku.
Lindungilah kami, jagalah kami, selamatkanlah kami.
Yesus, aku sangat mengasihi Engkau.
Dengan meniru contohMu, aku sungguh mengasihi Engkau. 
Semoga gambar kudusMu meredakan rasa takutku.

Semoga aku tidak merasakan apapun kecuali rasa tenang dan percaya. 

Monday, January 30, 2017

Vol 2 - Bab 54 : Berbagai manfaat

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 54

Berbagai manfaat
Pikiran-pikiran yang terpuji
Mengumpulkan kepuasan pengadilan ilahi di dunia ini, bukan nanti
St.Agustine dan St.Louis Bertrand
Br. Lourenco
Pastor Michel de la Fontaine

Disamping manfaat-manfaat yang telah kita bicarakan ini, kemurahan hati terhadap orang-orang yang meninggal adalah sangat terpuji bagi mereka yang melaksanakannya. Karena tindakan itu mendorong mereka untuk bersemangat melayani Allah, dan mengilhami kita dengan pikiran-pikiran yang suci. Memikirkan jiwa-jiwa di Api Penyucian adalah dengan merenungkan penderitaan di dunia sana. Hendaknya kita selalu berpikir bahwa semua dosa menuntut penebusan, baik di dunia ini ataupun disebelah sana.
Kini siapa yang tidak mengerti bahwa adalah lebih baik melakukan kepuasan pengadilan ilahi itu disini, karena pemurnian yang disana itu amatlah mengerikan ? Sebuah suara yang berasal dari Api Penyucian mengulangi perkataan dari buku Imitation berikut ini :”Adalah lebih baik kita memurnikan dosa-dosa kita untuk menghilangkan hukuman kita sekarang, dari pada menyimpannya untuk dimurnikan nanti”.
Kita ingat juga akan kalimat lain, yang kita baca didalam bab yang sama dari buku Imitation itu :”Disana, satu jam hukuman adalah lebih menyedihkan dari pada 100 tahun penebusan dosa yang paling pahit disini”. Maka dengan diselimuti oleh rasa takut yang suci, kita akan bersedia menanggung penderitaan didalam kehidupan ini, dan kita bisa berkata kepada Allah bersama St.Agustinus dan St.Louis Bertrand, Domine, hic ure, hic seca, hic non parcas, ut in aeternum parcas—“Tuhan, berikanlah kepadaku sekarang besi dan api, jangan luputkan aku didalam kehidupan ini, agar Engkau meluputkan aku didalam kehidupan nanti”.
Disemangati oleh pemikiran ini, umat Kristiani memandang kesulitan-kesulitan didalam kehidupan ini dan terutama penderitaan karena penyakit yang berat, adalah sebagai Api Penyucian di dunia ini, yang akan meluputkan dia dari Api Penyucian nanti.
Pada tanggal 6 Januari 1676 telah meninggal di Lisbon, pada usia 39 tahun, hamba Allah yang bernama Gaspar Lourenco, dari the Society of Jesus dan sebagai penjaga dari tempat institusi itu. Dia bersifat sangat murah hati kepada orang-orang miskin dan kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian. Dia tidak tahu bagaimana caranya menyerahkan dirinya untuk melayani orang-orang yang malang itu, dan dia cerdik sekali mengajari mereka untuk memberkati Allah demi penghiburan atas kesedihan mereka yang kemudian bisa mendatangkan Surga bagi mereka. Dia sendiri sangat senang menderita demi Tuhan kita, sehingga dia sampai menyalibkan dagingnya hampir tanpa batas, serta menambahkan kekerasan lain pada saat-saat sebelum hari penerimaan Komuni Kudus. Pada usia 78 tahun dia tetap saja melakukan puasa dan pantang, dan tidak membiarkan ada hari yang berlalu tanpa menjalankan disiplinnya didalam biara itu. Bahkan pada saat sakitnya yang terakhir, Bruder sahabatnya disitu mengatakan bahwa datangnya kematian tidak mampu membuatnya melepaskan kain penutup rambutnya. Begitu besarnya keinginannya untuk mati disalib. Penderitaannya yang amat keras itu bisa menjadi tindakan penebusan dosa yang amat kejam baginya. Ketika ditanya apakah dirinya sangat menderita, dia menjawab :”Aku sedang menjalani Api Penyucian-ku sebelum aku pergi ke Surga”. Br.Lourenco lahir pada saat Epifani. Dan Tuhan telah menyatakan kepadanya bahwa hari yang indah itu akan juga menjadi hari kematiannya. Dia memberitahukan jam kematian itu pada malam sebelumnya. Dan ketika Bruder perawat itu mengunjunginya pada pagi hari, dia berkata dengan senyuman dan tanpa keraguan :”Bukankah sekarang, Bruder, bahwa anda bisa berharap untuk pergi dan menikmati penglihatan akan Allah”. “Ya”, jawabnya, “segera setelah aku menerima Tubuh Juru Selamatku untuk yang terakhir kalinya”. Kenyataannya, dia menerima Komuni Kudus dan kemudian meninggal tanpa rasa sakit ataupun penderitaan.
Terdapat banyak alasan untuk percaya bahwa dia berbicara didasari oleh pengetahuan adikodrati tentang kebenaran, ketika dia berkata :”Aku sedang menjalani Api Penyucian-ku sebelum pergi ke Surga”.
Hamba Allah yang lain telah menerima dari Perawan Terberkati janji yang sama bahwa penderitaannya di dunia akan menggantikan penderitaannya di Api Penyucian. Aku berbicara tentang Pastor Michael de la Fontaine, yang tidur dengan manisnya didalam Allah pada 11 Februari 1606 di Valencia, Spanyol. Dia adalah salah satu misionaris yang berupaya demi keselamatan orang-orang di Peru. Perhatiannya yang terbesar adalah ketika dia mengajar kepada orang-orang yang mau bertobat, untuk mengilhami mereka dengan rasa takut akan dosa, dan menuntun mereka untuk berdevosi kepada Bunda Allah, dengan menceritakan banyak keutamaan-keutamaan dari Sang Perawan yang terpuji itu, dan mengajari mereka untuk mendaraskan manik-manik rosario sebagai rasa hormat kepada Maria.
Bunda Maria sendiri tidaklah menolak karunia-karunia yang diminta darinya. Pada suatu hari ketika Pastor de la Fontaine mengalami kelelahan, dia bersujud diatas debu, dan tak kuat untuk bangkit, dan dia didatangi oleh Bunda Maria, yang disebut oleh Gereja sebagai ‘Penghibur Orang Berduka’. Bunda Maria mendorong keberaniannya :”Percayalah puteraku, kelelahanmu itu akan menggantikan Api Penyucian-mu. Panggullah penderitaanmu dengan sabar dan setelah meninggalkan kehidupan ini jiwamu akan diterima didalam tempat tinggal orang-orang terberkati”.
Penglihatan ini dialami oleh Pastor de la Fontaine selama kehidupannya, namun terutama pada saat kematiannya, dan hal itu menjadi sumber penghiburan yang berlimpah baginya. Sebagai rasa terima kasih atas karunia ini, maka setiap minggu dia menjalankan beberapa tindakan penebusan dosa tertentu. Pada saat dia meninggal, ada seorang religius yang saleh yang bisa melihat jiwanya terbang ke Surga dengan disertai oleh Perawan Terberkati, pemimpin dari para rasul, St.Yohanes Penginjil, dan oleh St.Ignatius, pendiri dari the Company of Jesus.




Saturday, January 28, 2017

TIGA PULUH ORANG KARDINAL TELAH MENYARANKAN AGAR PF ...

TIGA PULUH ORANG KARDINAL TELAH MENYARANKAN AGAR PF TIDAK MENERBITKAN AMORIS LAETITIA



Lebih dahulu melemahkan, kemudian menghancurkan perkawinan, itulah yang sedang dilakukan oleh PF dan Amoris Laetitia.

ROMA, 23 Januari 2017 (LifeSiteNews) - Umat Katolik yang setia mungkin terkejut demi mengetahui bahwa ada tiga puluh orang kardinal yang menyatakan keberatan mereka kepada Paus Francis tentang anjurannya di dalam Amoris Laetitia sebelum ia dirilis pada April 2016.

Tiga puluh orang kardinal itu menulis kepada Francis, baik secara individu atau dalam kelompok kecil, yang dilakukan pada tahun lalu untuk menghalangi paus merilis Amoris Laetitia. Mereka memperingatkan bahwa Amoris Laetitia itu tidak hanya akan melemahkan ajaran Gereja tentang pernikahan, tetapi juga melemahkan Ekaristi dan Pengakuan Dosa, demikian tulis media Perancis Le Figaro, Agustus lalu.

Para Kardinal itu menyampaikan kekhawatiran mereka setelah mempelajari teks anjuran Amoris Laetitia itu, sesuai dengan hak dan tanggung jawab jabatan mereka, demikian Le Figaro melaporkan.

Sebuah sumber Vatikan menegaskan kepada Ed Pentin dari the National Catholic Register tentang keberadaan surat dari tiga puluh orang Kardinal itu, dan menyatakan bahwa saat inilah paus mulai memperlihatkan sikapnya yang menolak untuk menanggapi keprihatinan terhadap anjurannya di dalam Amoris Laetitia.

Amoris Laetitia lahir dan merupakan kesimpulan dari dua sinode tentang keluarga yang telah dilaksanakan sebelumnya, dimana seharusnya dokumen itu bisa memperkuat keluarga Kristiani untuk menjalankan hidup panggilan mereka. Namun sebaliknya, Amoris Laetitia telah memberikan ajaran-ajaran yang sangat ambigu mengenai isu-isu moral krusial yang dihadapi oleh keluarga-keluarga dan seakan telah memberikan izin kepada uskup-uskup liberal untuk memungkinkan pasangan umat Katolik yang bercerai dan kemudian menikah lagi secara sipil, yang tetap dalam keadaan perzinahan, untuk menerima Komuni Kudus.

Berbagai pedoman pastoral yang muncul setelah dirilisnya Amoris Laetitia memungkinkan para pezina untuk menerima Komuni Kudus, termasuk yang saat ini sedang digalakkan oleh para uskup di Malta, para uskup di San Diego, dan para uskup Argentina.

Uskup Kazakhstan, Athanasius Schneider menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan LifeSiteNews Juli lalu bahwa klerus yang mengijinkan pezinah aktif untuk menerima Komuni Kudus telah menodai tiga buah Sakramen Katolik sekaligus.

"Sekali saja mereka memberi ijin kepada umat yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni Kudus, tanpa lebih dahulu meminta mereka untuk hidup tanpa berhubungan sex dan tidak melanggar kewajiban sakramental pernikahan mereka - tidak menuntut mereka untuk bertobat dan membuat niatan yang sungguh untuk tidak berbuat dosa di masa mendatang, maka pada saat yang sama kita telah menghancurkan dan mencemarkan tiga buah Sakramen yang diberikan Kristus kepada kita: Sakramen Tobat, Sakramen Ekaristi, dan Sakramen Pernikahan," katanya.

Schneider telah mengkritik pedoman pastoral yang memungkinkan umat Katolik yang telah bercerai dan menikah lagi secara sipil, dan yang tidak meminta pasangan itu untuk tidak berhubungan sex, namun memberi ijin mereka untuk menerima Komuni, berarti memberi mereka "izin untuk tidak melaksanakan Perintah Keenam."

Para klerus yang membuat pedoman seperti ini untuk menenangkan orang-orang yang berdosa, seakan berkata kepada mereka "teruslah berjalan di dalam sukacita perzinahan," kata Schneider.

Pekan lalu, Schneider, bersama dengan dua uskup lainnya, meluncurkan "perang salib spiritual" yang menyerukan kepada Paus Francis untuk "mencabut secara tegas" pedoman-pedoman pastoral yang melemahkan iman ini.

Para pastor yang menyetujui suatu hubungan perzinahan dan mengijinkan pasangan tersebut untuk menerima Komuni Kudus, maka mereka terlibat dalam "pelanggaran terus-menerus terhadap ikatan sakramental pernikahan, ikatan perkawinan antara Kristus dengan GerejaNya dan ikatan perkawinan antara Kristus dengan jiwa yang menerimaNya di dalam Ekaristi, "tulis para uskup itu.

Karena itu marilah kita semua berdoa bagi PF serta semua klerus yang mendukung kesesatan yang ada di dalam Amoris Laetitia agar mereka segera bertobat.

Read the full article at Life Site News



Friday, January 27, 2017

HUKUM CANON DAN PENGAKUAN DOSA

HUKUM CANON DAN PENGAKUAN DOSA: 
KONFLIK BERIKUTNYA DENGAN AMORIS LAETITIA


Seperti yang telah diduga, kasus pertama kini muncul di mana ada imam-imam dihukum karena tidak sejalan dengan ‘semangat baru’ Amoris Laetitia. Artinya, karena imam-imam itu tidak bersedia memberikan Sakramen-sakramen (terutama Sakramen Tobat dan Ekaristi) kepada umat yang bercerai dan menikah lagi dimana umat itu tidak berniat untuk mengubah cara hidupnya (yang berdosa itu), namun dia ingin menerima Sakramen-sakramen.

Sekarang kita memiliki sebuah kasus di Kolombia, kasus yang dialami oleh Pastor Luis Alberto Uribe Medina, yang "ditegur dan ditangguhkan tugas imamatnya oleh Uskupnya karena dia mengkritik secara terbuka ‘doktrin baru’ yang diciptakan [sic] oleh Paus Francis tentang Perkawinan dan penerimaan Sakramen Mahakudus, demikian menurut media Katolik Rorate Caeli.

Kasus ini telah disebarkan secara internasional, oleh Marco Tosatti dan Profesor Roberto de Mattei di Italia dan Giuseppe Nardi di Jerman, di antara sumber-sumber yang lain. Penulis Jerman, Mathias von Gersdorff, bulan April 2016, telah mengangkat isu kemungkinan terjadinya tekanan terhadap imam-imam agar mematuhi aturan-aturan baru yang bersumber dari Amoris Laetitia. Dalam pembicaraan pribadi, dia telah melaporkan kepada kami bahwa artikelnya yang terbit sebelumnya telah memperoleh banyak perhatian, dalam konteks kasus Don Uribe ini.

Judul dari postingan von Gersdorff sebelumnya adalah: "Akankah Wali Gereja [Jerman] akan memaksa imam-imam Jerman untuk melakukan sakrilegi." Disitu Von Gersdorff mengangkat isu ‘apakah orang-orang Katolik konservatif yang masih berpendapat bahwa Amoris Laetitia tidak merubah doktrin, mereka akhirnya akan menolak ketika mereka, sebagaimana imam-imam, secara pribadi diminta untuk melakukan suatu pelanggaran (sakrilegi), dengan cara mengijinkan mereka yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni Kudus dan Sakramen Tobat. Von Gersdorff menyimpulkan: "Dengan demikian mereka akan dihadapkan kepada alternatif: melakukan suatu penistaan (sakrilegi) atau secara terbuka menolak uskup mereka sendiri"

Von Gersdorff, dengan cara yang tajam, menunjukkan bahwa para imam-imam di Jerman ini yang secara potensial akan ditekan untuk memberikan Komuni Kudus kepada beberapa (atau bahkan banyak) orang yang bercerai dan menikah lagi, agar mereka bisa mendapatkan dukungan dari Roma:
Mereka (para imam yang setia kepada Kristus), tentu saja akan menoleh kepada Roma, tetapi tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa dari Roma mereka akan menerima bantuan. Karena Paus telah menyatakan setelah publikasi (Amoris Laetitia) bahwa dia tidak akan membuat pernyataan lebih lanjut tentang masalah ini. Dalam sebuah wawancara, dia (PF) mengatakan bahwa Kardinal (Christoph) Schönborn telah menafsirkan Amoris Laetitia dengan cara yang benar. Namun, kardinal dari Wina ini adalah anggota dari kelompok yang sama dengan PF yang mempromosikan pemberian Komuni Kudus kepada orang yang bercerai dan menikah lagi.

Imam-imam yang percaya bahwa adalah sebuah pelanggaran (sakrilegi) untuk memberikan Komuni Kudus kepada umat yang bercerai dan menikah lagi tidak akan didukung oleh kenyataan bahwa banyak teolog telah menulis dalam berbagai pernyataan pada minggu-minggu terakhir ini yang mengatakan seolah ada perubahan dalam ajaran Gereja. Dengan demikian mereka (imam-imam itu) seakan berdiri di depan alternatif untuk melakukan suatu pelanggaran sakrilegi (terhadap perintah Tuhan) atau menolak secara terbuka perintah dari uskup mereka sendiri.

Von Gersdorff juga menyampaikan pertanyaan apakah seorang imam yang memberikan pengampunan (secara sakrilegi) bagi pasangan yang bercerai dan menikah lagi dan hidup bersama sebagai suami-istri, dimana mereka tidak memiliki niat untuk mengubah (memperbaiki) hidup mereka yang penuh dosa itu, tidak menempatkan profesi imamat mereka dalam resiko?.

Memang, sebenarnya ada ayat dalam Hukum Canon yang melarang seorang imam mendorong, dengan cara apapun, seorang peniten di dalam ruang pengakuan dosa untuk melanggar Perintah Keenam. Imam seperti ini akan dihukum dengan pemberhentian tugas imamatnya atau bahkan yang lebih buruk lagi. Misalnya, Canon 1387 Hukum Canon Gereja Katolik mengatakan:

1387. Imam, yang dalam melayani atau dalam kesempatan melayani maupun dalam berpura-pura melayani sakramen pengakuan, mengajak peniten untuk berdosa melawan perintah keenam dari Dekalog, hendaknya dihukum menurut beratnya tindak pidana dengan suspensi, larangan, pencabutan, dan dalam kasus-kasus yang lebih berat hendaknya dikeluarkan dari status klerikal.

Dengan demikian, terlepas dari tekanan yang terjadi saat ini yang mungkin sekarang atau segera diterapkan kepada imam-imam di seluruh dunia (tidak hanya di Jerman saja) untuk bertindak sejalan dengan kelemahan baru ‘pastoral care’ (pendampingan atau nasihat pastoral)  yang dihasilkan oleh Amoris Laetitia, tetapi Hukum Canon sendiri masih tetap berlaku dengan ancaman hukuman berat kepada imam-imam yang mengumbar pengampunan dan memberi kelonggaran untuk ‘menikah lagi’ bagi umat yang ingin menerima Absolution – meski dia masih berada dalam keadaan berdosa berat – dan imam itu akan mendapatkan hukuman berat bahkan sampai pemecatan dari profesinya sebagai imam. Artinya: Tidak ada imam di bumi ini yang diperbolehkan untuk memberikan absolusi kepada orang yang terus-menerus dan terbiasa melanggar Perintah Keenam tanpa ada niatan yang tulus untuk mengubah dan memperbaiki hidupnya. Sebaliknya, seorang imam seperti ini akan menerima risiko kehilangan profesinya imamatnya. Demikian menurut Hukum Kanon.

Pengetahuan dan penerapan ayat ini (1387) dari Hukum Canon bisa sangat membantu para imam yang ‘tertindas’ yang kini bisa mengutipnya untuk bertahan menolak memberikan absolusi bagi para pelanggar Perintah Keenam dari Allah.

Dalam konteks ini, ada lagi fakta serius lainnya, yaitu bahwa jika seorang imam yang setia (kepada Kristus) saat ini  menolak memberikan absolusi di dalam Sakramen Tobat - karena keengganan si peniten untuk mengubah perilakunya yang berdosa, karena peniten itu bercerai dan menikah lagi – jika imam itu kemudian digugat oleh si peniten, atau bahkan sampai dibawa di hadapan pengadilan gerejawi! Selain itu, dalam kasus seperti itu seorang imam yang setia bahkan tidak bisa membela diri, lantaran dia masih terikat oleh Meterai Pengakuan Dosa (keharusan untuk merahasiakan dosa peniten). Dengan demikian, hal itu menunjukkan adanya bahaya intrinsik yang bisa mengancam keutuhan Meterai Pengakuan Dosa jika imam itu kemudian memilih untuk menggunakan alasan ‘pastoral care’ yang masih kacau penafsirannya itu di dalam Forum Internal.


Begitulah, banyak sekali yang dipertaruhkan disini, terutama dalam hal keselamatan jiwa-jiwa  dan kesucian profesi imam Katolik. Semoga kita semua berusaha bersama demi kebaikan yang lebih besar – termasuk upaya kita untuk membela dan mempertahankan kebijaksanaan dan keindahan dari ajaran Bunda Gereja Yang Kudus mengenai perkawinan.

Wednesday, January 25, 2017

Vol 2 - Bab 53 : Berbagai manfaat

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 53

Berbagai manfaat
Kemurahan hati kepada orang yang meninggal mendapatkan ganjaran
St.Thomas Aquino, adiknya dan Br. Romano
Imam Ponzoni dan Don Alphonso Sanchez
Margaret Mary Terberkati dan Bunda Greffier

Doktor Gereja yang suci ini, St.Thomas Aquino, sangat berdevosi kepada jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian, yang sering nampak kepadanya. Dan kita bisa mengetahui hal itu dari kesaksian doktor itu sendiri.
Dia mempersembahkan kurban dan doa kepada Tuhan, terutama bagi jiwa-jiwa yang meninggal yang telah dikenalnya atau yang dimintakan bantuan darinya. Ketika dia menjadi Profesor Teologi di University of Paris, dia kehilangan adiknya yang meninggal di Capua di biara St.Mary dimana adiknya itu menjadi Kepala biara disitu. Setelah Thomas mendengar adiknya meninggal, dia membawa adiknya itu didalam doanya kepada Tuhan dengan penuh semangat. Beberapa hari kemudian adiknya nampak kepadanya, meminta dia agar mengasihaninya dan meningkatkan lagi doa-doa permohonannya, karena dia sangat menderita sekali didalam nyala api dari Api Penyucian. Thomas segera menyerahkan kepada adiknya segala kepuasan dari pengadilan ilahi dengan sekuat tenaganya dan disertai dengan beberapa permohonan dari para sahabatnya. Begitulah Thomas mendapatkan pembebasan dari adiknya, yang datang kepadanya untuk menyampaikan berita gembira itu.
Beberapa waktu kemudian, setelah dia ditugaskan di Roma, jiwa dari adiknya itu nampak kepadanya didalam kemuliaan dan kemenangan serta sukacita. Adiknya itu mengatakan kepadanya bahwa doa-doa Thomas didengarkan dan dia dibebaskan dari penderitaan dan akan segera menikmati istirahat kekal di dada Allah. Sudah terbiasa dengan komunikasi adikodrati seperti ini, orang kudus itu tidak takut untuk bertanya-tanya kepadanya, dan Thomas menanyakan keadaan dari dua saudaranya yang lain, Arnold dan Landolph, yang telah meninggal beberapa waktu sebelumnya. “Arnold sudah berada di Surga”, jawab jiwa itu, “dan disana dia menikmati kemuliaan yang tinggi derajatnya karena dia telah membela Gereja dan Bapa Suci terhadap agresi dari Kaisar Frederic. Sedangkan Landolph, dia masih berada didalam Api Penyucian dimana dia harus banyak menderita dan sangat membutuhkan banyak pertolongan. Mengenai dirimu sendiri, saudaraku yang terkasih, sebuah tempat yang amat megah telah menunggumu di Surga, sebagai ganjaran atas segala hal yang telah kau lakukan bagi Gereja. Segeralah kamu menyelesaikan tugas yang sedang kau hadapi karena segera kamu akan bersatu dengan kami”. Sejarah mengatakan kepada kita bahwa kenyataannya, dia segera meninggal beberapa saat setelah peristiwa itu. Pada kesempatan yang lain, orang kudus yang sama itu, ketika berdoa di Gereja St.Dominikus di Naples, melihat jiwa dari Br.Romano yang bertugas di Paris menemui dirinya. Orang kudus itu semula mengira bahwa Bruder itu baru datang dari Paris, karena dia belum tahu berita kematiannya. Karena itu dia segera bangkit dan menyambutnya serta menanyakan keadaan kesehatannya dan tujuan dari perjalanannya itu. “Aku tidak lagi berada di dunia ini”, kata religius itu dengan tersenyum, “dan karena kerahiman Tuhan maka aku mendapatkan kebahagiaan kekal. Aku datang kesini atas perintah dari Tuhan kita untuk mendorongmu didalam segala usahamu itu”. “Aku berada dalam keadaan rahmat ?”, tanya Thomas. “Ya, saudaraku yang terkasih, dan karya-karyamu amat berkenan bagi Allah”. “Dan anda sendiri, apakah anda juga pernah menderita didalam Api Penyucian ?”. “Ya, selama 14 hari, karena ketidak-setiaanku, yang belum cukup kutebus di dunia dulu”.
Lalu Thomas yang pikirannya selalu dipenuhi oleh berbagai pertanyaaan teologis, memiliki kesempatan untuk menembus kedalam misteri dari penglihatan kebahagiaan. Namun dia dijawab dengan kutipan dari Injil Mazmur 47 –Sicut audivimus, sic vidimus in civitate Dei nostri --- “seperti yang kita pelajari dengan iman, kita melihat dengan mata kita kedalam kota dari Allah kita”. Dengan mengatakan kalimat ini, penampakan itu menghilang, meninggalkan Doktor Gereja yang suci itu dengan dipenuhi oleh kerinduan akan Kebaikan Kekal. 
Pada abad 16, sebuah karunia yang sama namun lebih menakjubkan lagi, diberikan kepada seorang yang berdevosi kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian, seorang sahabat karib dari St.Charles Borromeo, yang bernama Gratian Ponzoni Venerabilis, Pastor dari Arona, yang sangat tertarik menyelidiki jiwa-jiwa yang menderita itu disepanjang hidupnya. Selama terjadinya wabah sampar yang menelan cukup banyak kurban di wilayah Milan, Ponzoni tidak lupa membagikan Sakramen-sakramen kepada orang-orang yang terkena penyakit menular itu, dan dia tidak ragu-ragu menjadi koster Gereja serta menguburkan orang-orang yang meninggal karena penyakit itu. Karena rasa takut telah menguasai pikiran banyak orang, maka tak ada orang disitu yang mau melakukan tugas itu. Dengan penuh semangat dan kemurahan hati yang besar, dia telah menolong banyak orang yang menjadi kurban wabah itu di Arona disaat-saat terakhir mereka, serta menguburkan mereka di pekuburan dekat dengan Gerejanya, St.Mary. Pada suatu hari, setelah selesai suatu ibadah sore, ketika dia berjalan melewati kuburan bersama dengan Don Alphonso Sanchez yang saat itu menjadi gubernur Arona, tiba-tiba dia berhenti, karena tertegun mengalami sebuah penglihatan yang luar biasa. Dia takut kalau-kalau itu hanya tipuan saja, maka dia berpaling kearah Sanchez dan bertanya :”Tuan, apakah anda melihat kejadian yang kusaksikan ini ?”. “Ya”, jawab gubernur itu, “aku melihat sebuah prosesi yang terdiri dari orang-orang mati yang bergerak dari kuburan mereka dan menuju ke Gereja. Dan aku meyakinkan bahwa sebelum anda berbicara tadi, aku tidak mempercayai mataku sendiri”. Yakin akan kenyataan itu, imam itu menambahkan :”Mereka itu mungkin adalah kurban dari wabah sampar, yang mau menunjukkan dirinya bahwa mereka membutuhkan doa-doa kita”. Segera saja dia membunyikan lonceng-lonceng Gereja dan mengundang seluruh umat paroki untuk berkumpul pada pagi berikutnya untuk melakukan upacara yang meriah bagi orang-orang yang meninggal itu”.
Disini kita melihat ada dua orang yang cukup mampu membedakan antara kenyataan dan ilusi, dan yang keduanya pada saat yang sama terkejut oleh penampakan yang sama, menjadi ragu untuk memberikan kepercayaan kepada hal itu hingga mereka diyakinkan bahwa mata mereka telah menyaksikan fenomena yang sama. Tak ada halusinasi disini dan setiap orang yang bisa merasakan harus mengakui realitas dari sebuah kejadian adikodrati yang dibuktikan oleh kenyataan itu. Kita juga tidak boleh menyangsikan penampakan-penampakan seperti itu yang berdasarkan kepada kesaksian dari St.Thomas Aquino, seperti yang diceritakan diatas. Kita juga harus berhati-hati untuk terlalu mudah menolak kenyataan lain dengan sifat yang sama, dari saat hal itu dibuktikan oleh orang-orang yang diakui kesuciannya dan layak dipercaya. Kita haruslah berhati-hati, tidak ragu-ragu, kita harus memiliki kehati-hatian Kristiani yang bersih dari sifat mudah percaya dan dari kecongkakan, semangat kesombongan dengan mana Yesus menegur para muridNya ‘Noli esse incredulus, sed fidelis’ Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah (Yoh. 20:27).
Mgr. Languet, Uskup Soissons, menekankan hal yang sama dalam kaitannya dengan peristiwa yang dia ceritakan didalam biografi Margaret Alacoque Terberkati. Madame Billet, istri dari dokter rumah biara itu, biara Paray, dimana Suster terberkati itu tinggal, telah meninggal dunia. Jiwa dari orang yang meninggal itu nampak kepada hamba Allah itu dan meminta doa-doanya dan meminta tolong untuk memperingatkan suaminya tentang dua peristiwa rahasia yang menyangkut keselamatannya. Suster yang suci itu melaporkan apa yang terjadi kepada Kepala biara, Bunda Greffier. Sr.Kepala ini menertawakan penglihatan itu dan orang yang menceritakana hal itu kepadanya. Dia memaksa Margaret untuk tutup mulut dan melarang dia untuk berbicara atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa itu. “Religius yang rendah hati itu mematuhi dengan sikap rendah hati. Dan dengan kerendahan hati pula dia menceritakan kepada Bunda Greffier permintaan kedua yang dia terima dari orang yang meninggal itu beberapa hari kemudian, namun Sr.Kepala itu bersikap sama, yaitu menghinakan hal itu. Namun pada malam berikutnya Sr. Kepala sendiri tergugah oleh sebuah suara yang menakutkan di kamarnya yang dia kira dia akan mati karena ketakutan. Dia lalu mengumpulkan para Suster anggotanya, dan ketika bantuan itu tiba, dia hampir pingsan. Ketika dia sudah siuman, dia menyesali dirinya yang telah bersikaap tidak percaya seperti itu. Dan tidak ditunda-tunda lagi dia mengatakan kepada dokter itu apa yang telah dinyatakan kepada Sr.Margaret.
“Dokter itu mengenali peringatan itu sebagai berasal dari Allah, dan dia memanfaatkan hal itu. Dan bagi Bunda Greffier sendiri, dengan belajar dari pengalamannya, bahwa jika rasa curiga sudah menjadi kebijaksanaan, maka terkadang kita salah untuk bersikap terus seperti itu, terutama ketika kemuliaan Allah dan manfaat bagi tetangga kita diperhitungkan.



Sunday, January 22, 2017

PENGANIAYAAN LAGI :

PENGANIAYAAN LAGI :

USKUP DARI ROCKFORD, ILLINOIS, USA, MELARANG MISA TRIDENTIN
Seperti kita ketahui bahwa Summorum Pontificum dari Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa tidak perlu meminta ijin bagi seorang imam untuk merayakan Misa Tridentin (“Extraordinary Form Mass”). Namun setelah PF berkuasa, maka dokumen dari Paus Benediktus itu tidak lagi diberlakukan.
Begitulah, Uskup Malloy dari Rockford, Illinois, Amerika Serikat, mengirimkan surat kepada imam-imam di wilayahnya. Dan surat itu (tanggal 16 Januari 2017) disampaikan dibawah ini: 


Untuk melihat lebih jelas lagi surat ini silakan mengunjungi :

AMORIS LAETITIA EFFECT:




Seperti yang telah diduga, seorang imam yang tidak mau mendukung dan mempromosikan tindakan sakrilegi dan dosa yang termuat di dalam Amoris Laetitia akan disingkirkan dan dituduh sebagai orang yang memisahkan diri (schismatic).

Seorang imam, Pastor Luis Alberto Uribe Medina, dari diosis Pereira, Colombia, ditegur dan diberhentikan oleh uskupnya karena dia mengkritik secara terbuka doktrin baru yang diciptakan oleh PF mengenai Perkawinan dan penerimaan Ekaristi Kudus, yang tertuang di dalam Amoris Laetitia.

Pastor Luis Alberto Uribe Medina telah menjadi kurban dari tindakan mengejutkan ini oleh uskupnya, Rigoberto Corredor.


Silakan membaca lengkapnya dibawah ini:


Vol 2 - Bab 52 : Berbagai manfaat

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 52

Berbagai manfaat
Kemurahan hati kepada jiwa-jiwa suci yang dibalas oleh Yesus Kristus 
St.Catherine dari Siena dan Palmerine
St.Magdalen de Pazzi dan ibunya

Tuhan itu cenderung lebih banyak memberikan ganjaran dari pada hukuman. Dan jika Dia memberikan pemurnian kepada orang-orang yang melupakan jiwa-jiwa yang dikasihiNya, maka Dia juga menunjukkan rasa terima kasih yang besar kepada mereka yang menolongNya didalam diri para mempelaiNya yang sedang menderita itu. Sebagai balasannya, suatu hari Dia akan berkata kepada mereka  (Mat 25:34) Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab kamu telah menunjukkan kemurahan hati kepada saudaramu yang menderita dan membutuhkan. Amin. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat.25:40) Sering sekali didalam kehidupan ini Yesus memberikan ganjaran kepada jiwa-jiwa yang berbelas kasih dan bermurah hati dengan memberinya banyak karunia. St.Catherine dari Siena melalui kemurahan hatinya telah mempertobatkan seorang pendosa yang bernama Palmerine yang meninggal dan masuk kedalam Api Penyucian. Orang kudus itu tidak berhenti berdoa hingga dia bisa membebaskan jiwa orang itu. Sebagai balasannya, Tuhan mengijinkan jiwa itu menampakkan diri kepada St.Catherine atau lebih tepatnya, Juru Selamat sendiri menunjukkan dia kepada hambaNya sebagai bukti yang nyata dari kemurahan hatinya. Raymond Terberkati yang menceritakan hal itu : Di pertengahan abad ke 14 ketika St.Catherine mengharumkan nama kota kelahirannya dengan segala macam karya kemurahan hati, ada seorang wanita yang bernama Palmerine. Setelah dia menjadi sasaran dari kemurahan hati Catherine, dia memiliki rasa bosan secara diam-diam kepada penolongnya itu, yang kemudian menjadi rasa benci sekali. Tidak lagi dia mau melihat atau mendengarkan orang kudus itu, malahan Palmerine yang tidak tahu berterima-kasih itu bahkan menyakiti hamba Allah itu, menjatuhkan nama baik Catherine dengan berbagai fitnah. Catherine berusaha dengan sekuat tenaganya untuk berdamai dengan Palmerine, tetapi sia-sia saja. Kemudian demi menyadari bahwa segala kebaikannya, ketulusannya, dan ketekunannya didalam melayani Palmerine hanya menghasilkan kemarahan dari wanita yang malang itu, maka Catherine memohon kepada Tuhan untuk melunakkan kekerasan hati wanita itu.
Tuhan mendengar doa-doanya dengan memberikan sebuah penyakit yang parah kepada Palmerine. Namun pemurnian ini belum cukup untuk menyadarkan dia. Sebagai balasan atas semua pelayanan dari Catherine yang lembut itu kepadanya, wanita yang jahat itu justru menghinakan dan mengusir Catherine dari hadapannya. Sementara itu saat akhir dari hidup Palmerine mendekat, dan seorang imam dipanggil untuk memberikan Sakramen Perminyakan. Orang yang sakit itu belum siap untuk menerimanya karena kebencian yang dia miliki, dimana dia tidak mau menyerah. Demi mengetahui hal ini, dan menyadari bahwa wanita yang malang itu satu kakinya sudah berada didalam neraka, maka Cataherine menangis dan bersedih. Selama 3 hari 3 malam dia tidak berhenti memohon kepada Tuhan bagi wanita itu sambil berpuasa. “Akankah Engkau membiarkan wanita ini musnah karena aku ? Aku memohon kepadaMu, berikanlah kepadaku harga dari pelunasan bagi pertobatan dan keselamatannya. Hukumlah aku saja bagi dosa-dosanya, berikanlah pemurnian itu kepadaku saja, jangan dia. Yesus, janganlah menolak permohonanku ini. Aku tidak akan meninggalkan Engkau hingga aku telah memperoleh rahmat itu. Demi KebaikanMu, KerahimanMu, aku memohon kepadaMu, Juru Selamat yang amat murah hati, jangan ijinkan jiwa dari saudaraku itu meninggalkan tubuhnya hingga ia dipulihkan kedalam rahmatMu”.
Doa-doanya itu begitu kuatnya sehingga dia bisa mencegah orang yang sakit itu dari kematian. Penderitaan Palmerine berlangsung selama 3 hari 3 malam hingga mengherankan para perawatnya. Dan selama itu pula Catherine terus berperan serta dengan melalui permohonan-permohonannya hingga dia memperoleh kemenangan. Tuhan tidak lagi bisa menahan, dan Dia melakukan sebuah keajaiban kemurahan hati. Suatu sinar Surgawi menembusi hati dari wanita yang sekarat itu, yang mampu membuka segala kesalahannya, dan mendorongnya untuk menyesali semua perbuatannya. Orang kudus itu, kepada siapa Tuhan menyatakan hal ini, segera menuju ke samping orang yang sakit itu. Segera setelah dia melihat Cataherine, dia menunjukkan tanda-tanda rasa hormatnya dan persahabatannya, dan dia menyesali segala perbuatannya yang salah itu. Wanita ini menerima Sakramen Perminyakan dan meninggal didalam rahmat Allah.
Namun meskipun pertobatannya itu sangat tulus, dan meskipun dia bisa lolos dari api neraka, tetapi dia masih harus menjalani hukuman yang keras didalam Api Penyucian. Catherine yang murah hati itu meneruskan usahanya dengan sekuat tenaganya untuk mempercepat masuknya Palmerine ke Surga.
Kemurahan hati yang begitu besar ini tidak akan gagal mendapatkan ganjarannya. “Tuhan kita”, demikian tulis Raymond Terberkati, “menunjukkan kepada mempelaiNya itu, jiwa yang telah diselamatkan oleh doa-doanya itu. Ia sangat bercahaya sekali, dimana Catherine mengatakan kepadaku bahwa dia tak mampu menemukan kata yang tepat untuk melukiskan keindahannya. Jiwa itu masih belum sampai kepada kemuliaan Surgawi, tetapi sudah memiliki cahaya yang berkilauan seperti itu yang disampaikan kepada ciptaan melalui rahmat dari pembaptisan. Tuhan bersabda kepadanya :”Lihatlah puteriKu, jiwa yang tersesat ini yang telah kau temukan kembali !”. Dan Tuhan menambahkan :”Bukankah ia nampak cantik dan indah dan amat berharga bagimu ? Siapakah yang tidak akan mau menanggung semua penderitaan untuk bisa menyelamatkan suatu makhluk yang begitu sempurna dan mengantarnya memasuki kehidupan kekal ? Jika Aku, yang merupakan Keindahan Yang Utama, dari mana seluruh keindahan berasal, telah begitu tertawan oleh keindahan dari jiwa-jiwa hingga Aku mau turun ke dunia dan mencucurkan DarahKu untuk menebus mereka, maka dengan alasan yang lebih besar lagi hendaklah kamu berusaha dengan sekuat tenagamu untuk saling menolong satu sama lain, agar makhluk yang sangat terhormat itu tidak sampai musnah. Jika Aku telah menunjukkan jiwa ini kepadamu, maka kamu harus lebih bersemangat dalam segala hal yang berhubungan dengan keselamatan jiwa-jiwa”.
St.Magdalen de Pazzi sangat berdevosi kepada orang-orang yang meninggal. Dia telah menghabiskan hampir seluruh kemurahan hati Kristiani bagi ibunya, setelah ibunya meninggal. Empat belas hari setelah kematian ibunya, maka Yesus, untuk menghibur mempelaiNya itu, menunjukkan kepadanya jiwa dari ibunya. Magdalen melihat ibunya berada di Surga, penuh kemilau yang indah dan dikelilingi oleh para kudus yang nampak sangat tertarik kepada ibunya itu. Magdalen mendengar jiwa yang terberkati dari ibunya memberinya tiga buah perintah yang selalu diingatnya :”Puteriku”, katanya, “hendaknya kamu merendahkan dirimu serendah mungkin, selalu memperhatikan kepatuhan rohani, dan menjalankan Perintah-perintahNya dengan hati-hati”. Berkata demikian, Magdalen melihat ibunya menghilang dan dia terpaku dengan penuh rasa penghiburan yang paling manis.



Thursday, January 19, 2017

Vol 2 - Bab 51 : Berbagai manfaat

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 51

Berbagai manfaat
Rasa terima kasih Mempelai Ilahi dari jiwa-jiwa
Archangela Panigarola Venerabilis dan ayahnya, Gothard

Jika jiwa-jiwa suci itu berterima-kasih sekali kepada penolong mereka (yaitu kita-kita yang mendoakan mereka), maka Tuhan kita Yesus Kristus, yang sangat mengasihi jiwa-jiwa itu, yang menerima seluruh kebaikan yang kita lakukan demi jiwa-jiwa itu, akan juga melimpahkan ganjaran yang berlimpah, bahkan sering sekali ketika masih berada didalam kehidupan ini, dan hal itu terus dilakukanNya didalam kehidupan nanti. Tuhan menyukai mereka yang suka bermurah hati dan menghukum mereka yang lupa melakukan hal itu terhadap jiwa-jiwa di Api Penyucian.
Marilah kita melihat sebuah contoh dari pemurnian. Archangela Panigarola Venerabilis, seorang religius Dominikan, dan kepala biara St.Martha di Milan, sangat bersemangat untuk meringankan penderitaan jiwa-jiwa di Api Penyucian. Dia berdoa dan mencari bantuan doa bagi para sahabatnya yang meninggal dan bahkan bagi jiwa-jiwa orang-orang yang tak dikenalnya namun yang kematiannya diberitahukan kepadanya. Ayahnya, Gothard, yang sangat dia kasihi, adalah salah satu umat Kristiani yang jarang berdoa bagi orang yang meninggal. Dia sendiri meninggal, dan sangat menyedihkan, Archangela mengerti bahwa ayahnya itu sangat membutuhkan doa-doanya dari pada air matanya. Lalu dia bertindak untuk menyampaikan doa-doa permohonan kepada Tuhan bagi ayahnya. Namun sayang sekali karena permohonan ini nampaknya tidak bermanfaat. Gadis ini, yang begitu suci dan berbakti kepada ayahnya, hanya bisa berbuat sedikit saja bagi jiwa ayahnya. Tuhan Allah mengijinkan hal ini terjadi, meskipun ujub-ujubnya itu bersifat suci, hingga dia sampai melupakan ayahnya dan lebih tertarik untuk mendoakan orang lain. Akhirnya, suatu kejadian yang tak terduga menjelaskan alasan dari tindakan melalaikan ini, hingga membangkitkan kembali devosinya kepada ayahnya. Pada hari pesta bagi Seluruh Jiwa-jiwa, gadis itu tetap mengurung diri di kamarnya, sepenuhnya sibuk dengan tindakan kebajikan dan penebusan demi keringanan jiwa-jiwa yang malang di Api Penyucian. Tiba-tiba malaikatnya nampak kepadanya, memegang tangannya dan menuntunnya didalam roh menuju Api Penyucian. Diantara jiwa-jiwa pertama yang dia saksikan disana, dia mengenali jiwa ayahnya yang tercebur didalam kolam air es. Jiwa ayahnya itu mendatangi dia dan dengan sedih dia menyesal karena telah mengabaikan ayahnya ditengah penderitaan itu, sementara itu dia bersemangat menolong jiwa-jiwa orang lain, yang selalu dia ringankan dan dia bebaskan dari Api Penyucian, bahkan orang-orang yang tak dikenalnya.
Archangela berdiri terpaku beberapa lama dan merasa bingung karena dipersalahkan ayahnya seperti itu. Segera saja dia menjawab sambil berlinangan air mata :”Aku akan melakukannya, ayahku yang terkasih, semua permintaanmu kepadaku. Semoga hal itu berkenan dihadapan Allah dan Dia sudi mendengarkan permohonan-permohonanku dan segera membebaskan ayah”. Sementara itu dia masih belum pulih dari rasa terkejutnya ataupun memahami bagaimana bisa dia telah melupakan ayahnya itu. Setelah membawa kembali Archangela, malaikatnya mengatakan kepadanya bahwa kelalaian itu adalah kehendak dari Pengadilan Ilahi. Malaikat itu berkata :”Tuhan telah mengijinkan hal itu terjadi sebagai hukuman atas semangatnya yang kecil selama hidupnya, yang diperlihatkan ayahmu kepada Tuhan, terhadap jiwanya sendiri maupun jiwa tetangganya. Kamu melihat betapa dia disiksa dan ditenggelamkan didalam kolam es. Hal ini merupakan pemurniannya atas sikap kemalasannya didalam melayani Allah dan kelalaiannya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa lain. Memang ayahmu bukanlah orang yang jahat, hal itu memang benar, namun dia tidak memperlihatkan keinginan untuk mendapatkan keutamaan dan melaksanakan karya-karya kemurahan hati dan kesucian, kearah mana Gereja selalu mengarahkan seluruh umat beriman. Inilah alasannya, mengapa Tuhan mengijinkan dia untuk dilupakan, terutama oleh dirimu, yang akan bisa memberinya keringanan yang besar. Ini adalah pemurnian yang biasa diberikan oleh Pengadilan Ilahi kepada mereka yang tidak memiliki semangat dan kemurahan hati. Tuhan mengijinkan agar orang-orang mendapatkan perlakuan yang sama seperti halnya orang-orang itu memperlakukan Tuhan dan sesamanya. Terlebih lagi ini merupakan aturan dari Keadilan yang telah dikehendaki oleh Juru Selamat kita didalam Injil : Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Mat. 7:2).