Friday, February 3, 2023

Keberadaan Neraka Itu Penting

 

KEBERADAAN neraka itu penting

 https://www.churchmilitant.com/news/article/hell-is-important 

 


   

by Paul Murano  •  ChurchMilitant.com  •  January 20, 2023  


Tapi tidak ada orang yang mau memberitakannya

 

Satu kebenaran nyata yang disampaikan oleh pastor Jesuit abad ke-19, F.X. Schuppe, telah menimbulkan, setidaknya sampai saat ini, ketakutan suci di hati umat Katolik: "Dogma tentang neraka adalah sebuah kebenaran yang paling mengerikan dari iman kita. Bahwa ada neraka. ... Sebenarnya tidak ada yang diungkapkan dengan lebih jelas dari itu" (pastor F.X. Schoope, S.J., The Dogma of Hell [Rockford, IL: TAN Books, 1989], 1). Neraka adalah kesengsaraan yang tidak pernah berakhir — dan dosa membawa Anda ke sana. Tapi tidak ada orang yang mau membicarakannya.

 

Selama bertahun-tahun, ada sikap diam dan keheningan yang tidak dapat dijelaskan dan terkutuk tentang realitas Neraka, di dalam homili dan di ruang-ruang kelas. Dan ini sungguh sangat membahayakan jiwa. Gereja telah mengurangi penekanan soal Neraka dalam beberapa dekade terakhir dalam upaya yang salah arah untuk "memberikan lebih banyak ruang" bagi belas kasihan Tuhan, dengan mengorbankan unsur keadilan-Nya. Ketiadaan neraka dari katekese dan liturgi telah berdampak buruk pada kehidupan spiritual umat beriman. Terlalu banyak orang yang menggantikan nasihat St. Paulus yang berbunyi "karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar," (Filipi 2:12) untuk digantikan dengan mentalitas semua orang yang tidak beragama saat ini bisa naik ke Surga.

 

Bagi umat Katolik yang saleh dari generasi sebelumnya, "empat hal terakhir"  yaitu kematian, penghakiman, Surga dan Neraka  adalah subjek meditasi setiap hari. Refleksi tentang eskatologi sangat masuk akal, karena kehidupan di dunia ini singkat dan kehidupan selanjutnya adalah tidak pernah berakhir. Namun karena sains, teknologi, dan materialisme telah merasuki budaya Barat, membutakan jiwa kolektif terhadap kebenaran spiritual, maka kepedulian terhadap kematian fisik telah menggantikan perhatian terhadap kematian spiritual (yaitu Neraka). Sejak saat itu, pembicaraan dan kebenaran tentang adanya Neraka telah dihindari seperti wabah penyakit, seperti halnya kebenaran tentang keberadaan dosa.

 

Ini semua adalah cukup bermasalah. Dogma tentang keberadaan Neraka sangat penting untuk Iman dan, ironisnya, untuk keselamatan jiwa; itu tidak dapat diabaikan tanpa menimbulkan kerusakan yang besar. Mengingat hal ini, marilah kita lihat berbagai alasan bahwa mendengar tentang keberadaan Neraka sangatlah penting untuk katekese dan liturgi, dan, pada akhirnya, untuk keselamatan kekal kita.

 

 

Penampakan Dari Neraka

 

Beberapa tulisan dan laporan yang dapat dipercaya menggarisbawahi realitas Neraka. Yang paling terkenal datang kepada kita dari Fatima, Portugal. Pada tanggal 13 Juli 1917, Perawan Terberkati menunjukkan penglihatan tentang Neraka kepada tiga anak gembala. Salah satunya, Lúcia, menceritakan pengalaman mengerikan itu dengan detail yang gamblang: 

 

Fallen angels in Hell (Photo: John Martin)

 

Kami melihat, seolah-olah, itu adalah lautan api. Dimasukkan ke dalam api ini adalah setan dan jiwa dalam bentuk manusia, seperti bara api transparan, semua berwarna seperti perunggu menghitam atau mengkilap, mengambang dalam kobaran api, sesekali terangkat ke udara oleh api ... seperti keadaan tanpa bobot atau keseimbangan, di tengah jeritan dan rintihan rasa sakit dan keputusasaan, yang membuat kami merasa sangat ngeri dan membuat kami gemetar ketakutan. ... Dalam keadaan ketakutan dan memohon pertolongan, kami menatap Bunda Maria, yang berkata kepada kami, dengan begitu lembut, ramah dan sedih: kamu telah melihat Neraka tempat jiwa-jiwa orang berdosa yang malang, menuju .

 

Pastor Schuppe menyusun beberapa kasus terdokumentasi tentang penampakan orang terkutuk yang diduga pergi ke Neraka. Seorang bajingan seperti itu, ketika masih hidup di Florence abad ke-15, telah dengan sengaja menyimpan dosa berat dalam pengakuan dosanya dan kemudian menerima banyak Ekaristi secara sakrilegi (Schouppe, The Dogma of Hell, 14–15).

 

Setelah pria itu meninggal, orang-orang mempersiapkan pemakamannya. Tepat sebelum upacara dimulai, seorang bruder dipanggil untuk membunyikan lonceng. Di sanalah dia melihat "almarhum, terbungkus rantai yang tampak menyala dengan api" (ibid., 15). Saat bruder itu berlutut, ketakutan, jiwa malang yang terkutuk itu berbicara kepadanya: "Jangan berdoa untuk saya. Saya berada di sini untuk selama-lamanya" (ibid.). Jiwa itu kemudian melanjutkan untuk menceritakan kepada bruder itu tentang dosa penistaan (sakrilegi) yang telah membuatnya kehilangan hidup yang kekal. "Setelah itu dia menghilang, meninggalkan bau yang menjijikkan di dalam gereja." Sebagai reaksinya, "…para senior membawa jauh-jauh jenazah itu, karena dianggap tidak layak untuk penguburan secara gerejawi" (ibid.).

 

 

Dalam Kitab Suci

 

Kitab Suci benar-benar penuh dengan rujukan tentang Neraka. Faktanya, Kitab Suci menyebutkan hukuman kekal itu (neraka) tidak kurang dari 167 kali.

 

Umat Israel dalam Perjanjian Lama percaya akan sebuah tempat tinggal bayangan orang mati yang disebut Sheol (dalam bahasa Yunani, "Hades"). Mereka juga membedakan antara jiwa orang benar dan jiwa orang yang tidak benar (Lukas 16:19–31). 

 

Siapakah yang akan masuk Neraka?

Kristus sendiri memperingatkan tentang api yang tak terpadamkan (Markus 9:43); siksaan kekal (Lukas 16:23); perapian yang menyala-nyala di mana ada tangisan dan kertakan gigi (Matius 13:42); tempat yang gelap gulita (Matius 25:30); tempat cacing tidak mati (Markus 9:48); dan "Gehenna", tempat pembuangan sampah dan tempat api abadi menyala, terletak tepat di luar Yerusalem (Matius 10:28).

 

Menurut Perumpamaan tentang Penghakiman Terakhir, "api abadi" Neraka awalnya “dipersiapkan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”, namun sekarang neraka juga dirasakan oleh manusia yang menolak untuk menunjukkan perbuatan belas kasihan (Matius 25:41). Dan orang tidak dapat melupakan kata-kata keras yang diucapkan Kristus sehubungan dengan salah satu dari 12 Rasul-Nya, Yudas Iskariot: "Akan lebih baik baginya jika ia tidak pernah dilahirkan" (Matius 26:24).

 

 

Katekismus

 

Banyak tinta telah dihabiskan selama berabad-abad tentang keburukan dan teror Neraka. Katekismus Gereja Katolik menyatakan, "Ajaran Gereja menegaskan keberadaan Neraka dan keabadiannya. Segera setelah kematian, jiwa orang yang meninggal dalam keadaan dosa berat turun ke Neraka, di mana mereka menderita hukuman Neraka" (CCC1035).

 

Paus Yohanes Paulus II, dalam audiensi hari Rabu di bulan Juli 1999, menegaskan kembali bahwa keadaan Neraka, yang pada dasarnya benar-benar keterasingan dari Allah dan kasih-Nya, adalah pilihan bebas dari manusia ciptaan, yang ditegaskan oleh Kristus pada Penghakiman Terakhir:

 

Pada kenyataannya, manusia itu sendiri yang menutup diri dari cinta Tuhan. Kutukan justru terdiri dari pemisahan definitif dari Tuhan, dipilih secara bebas oleh pribadi manusia dan dikonfirmasi dengan kematian yang menyegel pilihannya selamanya. Penghakiman Tuhan mengesahkan keadaan ini. ... Itulah keadaan orang-orang yang secara definitif menolak belas kasihan Bapa, bahkan di saat-saat terakhir hidup mereka.

 

 

Kebutuhan Logis

 

Ini semua adalah masuk akal. Kekristenan membutuhkan Neraka agar koheren secara teologis. Tidak masuk akal untuk berpikir bahwa Tuhan akan menciptakan makhluk berkehendak bebas, yang bisa menentukan nasib mereka sendiri, tanpa memberikan sebuah konsekuensi abadi yang sesuai dengan pilihan mereka. Memang benar bahwa St. Paulus berkata, "Tuhan menghendaki setiap orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (1 Timotius 2:4), dimana ini menekankan kehendak penyelamatan universal Tuhan. Tetapi kita tidak dapat mengecilkan fakta bahwa Kristus memperingatkan murid-murid-Nya tentang Neraka lebih sering daripada Dia berbicara tentang Surga.

 

Sebuah pertanyaan umum (mungkin salah satu yang paling menonjol di zaman kita sekarang ini) adalah, Bagaimana mungkin Tuhan yang maha pengasih dan maha kuasa mengirim seseorang ke dalam Neraka? Argumen mereka itu memiliki logika yang mudah -- Jika Tuhan adalah kasih, maka Neraka tampaknya tidak mungkin ada.


Neraka yang Tidak Anda Bicarakan
 

Namun apa yang diabaikan oleh argumen tersebut adalah bahwa orang pada akhirnya mengirim diri mereka sendiri ke Neraka dengan memilih dosa berat dan menolak untuk bertobat. Jadi pertanyaan yang lebih relevan adalah, Mengapa Allah yang pengasih menciptakan kita dengan kemampuan untuk berbuat dosa? Atau mungkin, Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan kita pergi ke Neraka terlepas dari pilihan kita? Tidakkah orang tua yang pengasih akan campur tangan demi anak-anak-Nya?

 

Memecahkan misteri ini memang membutuhkan pemahaman akan dua kebenaran mendasar: 1) Manusia adalah gambaran Allah, dan 2) manusia bukanlah Allah.

 

 

Manusia sebagai Gambaran Allah

 

Pertama, wahyu ilahi menunjukkan Allah Tiga-Pribadi menjadikan manusia menurut gambar-Nya sebagai pribadi-pribadi yang berakal dan berkehendak untuk memiliki hubungan pribadi dengan-Nya dalam kehidupan ini dan selamanya dalam kehidupan mendatang (Baltimore Catechism, 2nd rev. ed. [New York : Penerbitan Buku Katolik, 1969], 9). Seperti hubungan kasih lainnya, ini membutuhkan pilihan bebas atas nama orang yang dikasihi. Tidak ada pernikahan tanpa persetujuan bebas. Demikian pula, setiap anggota Gereja Kristus (mempelai wanita-Nya) harus dengan bebas berkata ’YA’ kepada Allah dan selanjutnya dia akan naik ke Surga.

 

Dengan memberi kita kehendak bebas, Tuhan, dalam arti tertentu, mengikat diri-Nya untuk menerima keputusan kita. Dia bisa saja menjadikan kita hewan yang tidak bisa berpikir atau robot mekanik. Tetapi sebaliknya Dia memberi kita martabat untuk dapat menanggapi kasih-Nya secara bebas.

 

Namun, martabat yang luar biasa dari citra Tuhan ini tetap menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kita seperti Tuhan (dan tidak seperti tumbuhan dan hewan) karena kita memiliki kehendak bebas untuk memilih yang baik. Di sisi lain, kita tidak seperti Tuhan karena kehendak bebas kita juga dapat memilih yang jahat.

 

St. Thomas Aquinas

 

Oleh karena itu, orang mungkin bertanya: Jika Allah memiliki kehendak bebas dan tidak dapat berbuat dosa, dan kita adalah gambaran-Nya, lalu mengapa kita dapat berbuat dosa?

 

Allah tidak dapat bertentangan dengan sifat-Nya sendiri. Dalam Kitab Suci, Allah dianalogikan dengan banyak hal, tetapi secara langsung diidentikkan dengan dua hal: Allah adalah makhluk (Keluaran 3:14), dan Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Seperti yang dicatat oleh Doktor Gereja yang suci, Thomas Aquinas, esensi Tuhan yang tak terbatas sebagai "Aku" identik dengan keberadaan-Nya (Summa Theologiae, p.1, q.3, a.4). Sederhananya, Dia adalah makhluk pribadi ("Aku") atau ("Am").

 

Jadi, sementara Tuhan tidak dapat bertentangan dengan sifat dari Keberadaan dan Wujud-Nya, yaitu kasih yang tak terhingga; tetapi kita yang terbatas ini, memiliki "ruang ontologis", jika Anda mau, untuk memilih kejahatan dan berbuat salah. Dengan kata lain, meskipun Tuhan adalah kasih, maka kita juga tetap harus memilih kasih. Perlu diingat, Tuhan bukanlah suatu makhluk yang seperti makhluk atau seperti yang dibayangkan oleh dewa-dewa kafir, yang memiliki definisi dan tiruan, tetapi Dia adalah wujud itu sendiri. Dia yang memiliki kasih tanpa batas tidak bisa menjadi tidak mengasihi dengan cara apa pun. Makhluk yang terbatas, bagaimana pun, dengan sifat yang terbatas, bisa tidak mengasihi secara tanpa batas. Jadi ketika Tuhan mengundang kita untuk bersatu dengan Dia, kita memiliki kemampuan untuk mengatakan ya atau tidak. Inilah mengapa orang tua pertama kita di Eden memiliki pilihan untuk makan dari pohon terlarang pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat - meski pun semua yang diberikan di surga adalah baik.

 

Perlu diingat, dalam bahasa Ibrani alkitabiah, "pengetahuan" menunjukkan sesuatu yang diketahui secara pengalaman, bukan hanya secara intelektual. Ketika kita memilih dosa, itu menjadi bagian dari diri kita, mengurangi kebaikan keberadaan kita dan menghalangi kemampuan kita untuk menerima kasih Allah. Jika kita berdosa secara fana dan menolak rahmat ilahi dengan sikap tidak menyesal, maka tidak ada alternatif lain yang logis bagi takdir abadi kita selain Neraka.

 

 

Kebutuhan Psikologis

 

Kondisi manusia membutuhkan definisi untuk kejelasan dan batasan untuk kebebasan. Perenang tidak bisa berenang dengan bebas kecuali dia tahu di mana air yang dipenuhi ikan hiu. Anak-anak tidak bisa bermain dengan bebas tanpa pagar yang memisahkan pekarangan mereka dari lalu lintas umum. Demikian pula, tidak seorang pun dapat hidup bebas kecuali dia mengetahui hukum moral — yaitu "pagar" yang memisahkan Surga dan Neraka.

 

Setiap orang yang pernah mengajarkan pendidikan agama kepada anak-anak dan remaja mengetahui pertanyaan paling umum mereka tentang moralitas dimulai dengan "Apakah saya akan masuk Neraka jika". Ketakutan akan hukuman adalah hal yang membuat mereka tidak dewasa secara spiritual, dan ini merupakan titik awal yang diperlukan untuk melakukan amal kasih.

 

 

Orang pada akhirnya akan mengirim dirinya sendiri ke Neraka dengan memilih dosa berat dan menolak untuk bertobat. GabTweet

 

 

Prinsip mendasar yang tampaknya telah hilang di zaman kita adalah bahwa ketakutan akan Neraka adalah langkah pertama yang diperlukan untuk merangkul kasih. Kitab Suci menyatakan, "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN" (Amsal 9:10) sebelum menyatakan "Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan" (1 Yohanes 4:18).

 

Saya berani mengatakan satu alasan penting mengapa ada begitu sedikit iman di antara umat Kristiani saat ini adalah bahwa dasar yang diperlukan untuk kasih kepada Tuhan, rasa takut yang suci, telah dihindari dalam banyak sekali katekese dan liturgi. Pemikiran-kelompok yang benar secara politis adalah bahwa Neraka dan ketakutan ada di bawah kita, dan bahwa kita harus mulai dengan kasih Tuhan. Ini adalah sebuah salah perhitungan yang sangat besar. Ketika para pastor mengganti khotbah tentang dosa dan Neraka dengan ‘bahan pemanis teologis seperti "bersikaplah sangat baik satu sama lain", maka mereka menghambat kedewasaan spiritual umat Katolik. Anda tidak dapat mencintai Tuhan dan sesama dengan benar kecuali Anda menanamkan rasa takut yang suci akan Neraka. Dengan kata lain, sementara takut akan Tuhan adalah awal dari hikmat, dan takut akan Neraka adalah awal dari keselamatan.

 

 

Teori tentang Neraka

 

Meskipun para cendekiawan Katolik secara luas setuju bahwa keterasingan dari Tuhan (dengan akibat hilangnya rahmat secara total) adalah hukuman utama di Neraka, ada beberapa teori tentang sifat hukuman sekunder. Beberapa ada yang percaya Neraka adalah tempat api yang tidak pernah padam atau berakhir. Yang lain percaya bahwa Neraka adalah tempat yang sangat dingin, gelap dan sepi. Kubu lain berpendapat bahwa Neraka adalah keadaan di mana seseorang yang tetap menentang Tuhan mengalami api cinta ilahi sebagai rasa sakit dan kesengsaraan yang membara, bukannya kepuasan yang menggembirakan.

Penulis kristiani C.S. Lewis berpikir melampaui rasa sakitnya Neraka, seperti yang digambarkan dalam seni abad pertengahan dan lebih berfokus pada kesepian yang menyiksa dan rasa penolakan yang dialami oleh orang-orang terkutuk di Neraka. Dia sangat terpengaruh oleh perkataan Kristus bahwa Neraka adalah tempat privasi, pengasingan dan pengucilan. Refleksi Lewis yang terkenal menunjukkan hal ini:

 

Kita diperingatkan bahwa mungkin terjadi pada salah satu dari kita untuk akhirnya muncul di hadapan wajah Tuhan dan hanya mendengar kata-kata yang mengerikan: "Aku tidak pernah mengenalmu. Enyahlah dari-Ku." Dalam arti tertentu, itu sama gelapnya bagi orang yang cerdik pandai, karena tidak dapat dipertahankan oleh perasaan, kita dapat diusir dari hadirat-Nya yang hadir di mana-mana dan terhapus dari pengetahuan tentang Dia yang mengetahui segalanya. Kita dapat ditinggalkan sama sekali dan benar-benar berada di luar — ditolak, diasingkan, dikucilkan, dan akhirnya diabaikan. (C.S. Lewis, The Weight of Glory [San Francisco: Harper, 1980], 41–42)

 

Dua teori heterodoks terkemuka tentang Neraka yang disebutkan adalah bahwa 1) orang-orang di Neraka akhirnya dimusnahkan, dan 2) semua orang di Neraka akhirnya pergi ke Surga. Yang terakhir ini, disebut sebagai "universalisme", mendapatkan popularitas yang signifikan akhir-akhir ini. Posisi yang jauh dari universalisme diperjuangkan oleh teolog Hans Urs von Balthasar dan Uskup Robert Baron, yang mengklaim bahwa kita dapat memiliki "harapan yang masuk akal" bahwa semua orang, meski berdosa berat dan tidak mau bertobat, akan diselamatkan dan masuk Surga.

 

 

Saya membenci semua dosa saya karena saya takut kehilangan Surga dan rasa sakitnya Neraka. GabTweet

 

 

Setan tahu bahwa orang-orang yang skeptis tentang Neraka adalah mangsa yang empuk. Jadi perlu diulangi: Sementara takut akan Tuhan adalah awal dari hikmat, takut akan Neraka adalah awal dari keselamatan. Ini karena dalam perjalanan menuju kedewasaan rohani, pengetahuan tentang kekuasaan dan keadilan Tuhan mendahului pengetahuan tentang belas kasihan-Nya yang tak terbatas. Perintah "janganlahadalah lebih dahulu daripada Sabda Bahagia yang berbunyi: "berbahagialah".

 

Sangatlah penting bagi Gereja untuk memfokuskan kembali pada empat hal terakhir, khususnya kenyataan tentang Neraka. Kristus tidak akan sering menyebut Neraka jika itu bukan konsekuensi nyata dari dosa dan ketidakpedulian manusia. Tindakan Penyesalan tradisional sangatlah berharga karena ia berbicara tentang ‘tindakan merendahkan diri sendiri’ sebelum penyesalan, dan ketakutan suci sebelum ‘kasih’: "Ya Tuhanku, aku benar-benar mohon ampun karena aku telah melawan Engkau; dan aku membenci semua dosaku karena aku takut kehilangan Surga dan takut akan rasa sakitnya Neraka; tetapi yang terpenting karena semua itu sangat menentang Engkau, ya Tuhan, yang maha baik dan pantas mendapatkan semua kasihku".

 

 

* * * * *

 

Paul Murano memegang gelar doktor dalam teologi, master dalam filsafat dan menonjol dalam studi agama, dan bersertifikat dalam etika perawatan kesehatan. Dia adalah seorang penulis dan produser di Church Militant. Paul juga mengajar di beberapa perguruan tinggi dan universitas, dan telah menjadi produser dan pembawa acara podcastnya, Beneath the Surface, sejak tahun 2003.

 

 

-------------------------------------

 

Silakan membaca artikel lainnya di sini:

 

Paus Benediktus: 'Klub Gay' ada di berbagai Seminari

Francis mengatakan bahwa homoseksualitas bukanlah kejahatan

Wartawan Vatikan: Memo Cdl. Pell

Uskup Jerman Kontroversial Ini Mungkin Segera Menjadi Kepala Bagian Doktrin Vatikan

Francis mengundang imam yang terkenal pro-LGBT, untuk memimpin retret Sinode

Pedro Regis 5391 - 5395

LDM, 27 Januari 2023