Monday, February 5, 2018

Ted Flynn : SAAT PENCOBAAN ITU ADALAH SEKARANG INI

SAAT PENCOBAAN ITU ADALAH SEKARANG INI
by TED FLYNN JANUARY 31, 2018





Jika seseorang bertanya kepada mbah Google tentang api penyucian, seperti apakah Surga, neraka, seperti apakah pengalaman seputar kematian? (NDE'S- near death experiences), kehidupan setelah kematian, dan berbagai masalah yang sama, maka anda akan menemukan ribuan tulisan-tulisan biru yang siap sedia untuk di-klik di internet. Beberapa topik seperti ‘pengalaman seputar kematian’ telah menjadi topik yang menarik selama lebih dari tiga puluh tahun belakangan. Namun, kita jarang mendengar tentang Surga, neraka, api penyucian atau Empat Hal Terakhir - Kematian, Penghakiman, Surga, atau neraka yang disampaikan dari atas mimbar kotbah. Adakah hubungannya untuk tidak mendengarkan kebenaran-kebenaran yang paling mendasar yang diajarkan Gereja selama hampir 2.000 tahun ini dengan dengan makanan spirituil yang hambar yang kita dengar begitu banyak hari-hari ini, karena kita sedang menyaksikan secara real time kehancuran budaya kita?

Data yang ada sangatlah jelas: orang-orang sangat tertarik dengan ‘spiritualitas zaman NOW' ini, hingga mereka meneliti sendiri dan membaca sendiri pokok bahasan ini, dengan segala resiko dan segala kesesatan penafsirannya. Banyak buku tentang masalah ini menjadi laris manis. Yesus telah berbicara tentang Surga dan neraka di dalam Injil, dan Dia tidak bersikap abu-abu atau ambigu mengenai realitas kedua tempat itu. Seseorang bisa saja pergi ke Gereja selama kehidupannya dan tidak juga mendengar khotbah tentang api penyucian atau neraka. Seorang imam akan dianggap terlalu ekstrim atau negatif kalau berbicara tentang hal itu, karena pembicaraan itu mungkin bisa menyinggung perasaan seseorang jika dia menangani masalah ini.

Dengan nada yang sama, orang saat ini tahu ada sesuatu yang salah dalam budaya kita. Masyarakat berbicara dan bertindak secara ekstrem. Pada yang ekstrem itulah terletak gangguan yang membusuk di cakrawala, yang sangat membahayakan masyarakat. Berdasarkan pada hampir semua percakapan, anda sering dapat mengetahui apakah seseorang yang anda jumpai itu memiliki ‘nada gelombang’ politik dan spiritual yang sama dengan anda atau tidak. Coba bicaralah soal Paus Francis, Hillary atau Trump, dan genangan air akan segera terpisah seperti oleh tangan Musa ketika dia melambaikan tongkatnya di atas air itu. Tidak perlu waktu lama untuk menemukan apakah seseorang memiliki pandangan yang sama atau bertentangan dengan anda – dalam masalah apapun.

Semakin kita menjauh dari Tuhan, semakin banyak hal yang gila terjadi di sekitar kita. Ketika manusia tidak percaya apa-apa, maka dia akan percaya pada apapun. Demikian juga, ketika manusia percaya pada apapun, maka dia tidak percaya apa-apa. Contoh yang kita lihat di sekitar kita terlalu banyak untuk disebutkan.

Begitulah muncul banyak pertanyaan: ke arah mana Gereja sedang berjalan? Kami memiliki buku-buku yang ditulis oleh orang-orang berkompeten, yang mengisahkan adanya sosok-sosok berkuasa yang bertindak menjauhi Magisterium Gereja serta ajarannya selama 2.000 tahun, dimana hal ini menggambarkan adanya perselisihan terbuka yang sekarang sedang terjadi di Roma. Buku-buku seperti The Dictator Paus yang baru dirilis, menceritakan sebuah kasus yang menarik tentang penghancuran otomatis atas Gereja dari dalam, dengan kecepatan yang luar biasa besarnya. Doktrin Alkitab yang telah berdiri tegak sejak lama kini sedang ditentang, dan terkadang dicampakkan ke luar jendela oleh kelompok-kelompok progresif. Sekarang ini terjadi kardinal melawan kardinal, dan uskup melawan uskup, seperti yang dinubuatkan di Akita, Jepang, pada awal tahun 1970an. Penggenapan nubuatan lama kini telah terjadi di tengah kita.

Beberapa kardinal, uskup dan klerus berada dalam perselisihan terbuka mengenai pandangan-pandangan Paus Fransiskus yang sering ambigu, sementara yang lain-lainnya secara diam-diam tidak setuju dengan pengarahan dari Gereja. Banyak imam yang hidup dalam ketakutan akan otoritas uskup mereka, karena bisa mendatangkan bahaya jika mereka memiliki pandangan yang berbeda dari atasannya. Banyak klerus merasa frustrasi dan hampir putus asa saat mereka melihat arah perjalanan Gereja dan mereka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Kita bisa melihat sekilas ke mana kita sedang menuju melalui sebuah kutipan yang keras dari Pastor Ratzinger (Paus Benediktus XVI) saat ia mengajar teologi dan filsafat pada tahun 1969 di Regensburg Jerman. Komentarnya berikut ini dikatakan empat tahun setelah sesi terakhir dari Konsili Vatikan II. Ini mungkin merupakan wawasan yang didasarkan pada pengetahuannya tentang sejarah, sebagai seorang filsuf, sebuah prediksi, atau ucapan kenabian. Meskipun demikian, inilah yang dikatakan teolog muda itu hampir lima puluh tahun yang lalu berdasarkan apa yang dia lihat bagi masa depan Gereja.

Gereja akan direstrukturisasi dengan anggota yang jauh lebih sedikit, yang terpaksa melepaskan banyak tempat ibadah yang telah diusahakan dengan kerja keras untuk membangunnya selama berabad-abad. Sebuah gereja Katolik minoritas dengan sedikit sekali pengaruh atas keputusan-keputusan politik, dan yang secara sosial tidak berarti, yang sengaja dibiarkan untuk dipermalukan dan dipaksa untuk memulai lagi dari nol ... tetapi inilah yang merupakan sebuah kekuatan besar akan muncul dari dalam Gereja yang bersifat lebih spiritual dan sederhana. Pastor Ratzinger mengatakan bahwa dia yakin bahwa Gereja sedang mengalami sebuah era yang serupa dengan zaman Pencerahan dan Revolusi Prancis dulu. Dia melanjutkan, kita berada pada titik balik yang sangat besar dalam evolusi umat manusia. Saat ini, yang  menandai perpindahan dari abad pertengahan kepada zaman modern, nampak seperti tidak signifikan. Kemudian Profesor Ratzinger membandingkan era sekarang dengan Paus Pius VI yang diculik oleh tentara Revolusi Prancis dan meninggal di penjara pada tahun 1799. Gereja berjuang melawan sebuah kekuatan yang berniat untuk menghancurkannya secara menetap, menyita harta kekayaannya, dan membubarkan ordo-ordo religius.

Gereja saat ini dihadapkan pada situasi yang sama, dirongrong oleh godaan untuk mengurangi imam-imam agar menjadi para pekerja sosial dan semua tugas imamatnya diturunkan menjadi sekadar tugas politik dan sosial. Dari krisis yang ada saat ini akan muncullah sebuah Gereja yang telah kehilangan sangat banyak (dari peranan yang dimaksudkan baginya sejak semula.)

Gereja sejati ini akan menjadi kecil dan harus memulai segalanya dari awal lagi. Ia tidak akan lagi menggunakan segala bangunan yang telah didirikannya pada tahun-tahun awali  kemakmurannya dulu. Semakin menurunnya jumlah umat beriman akan menyebabkan hilangnya bagian penting dari hak-hak istimewa sosialnya. Ia akan dimulai dengan kelompok-kelompok dan gerakan-gerakan kecil dan ia akan menjadi sebuah minoritas yang akan membuat iman sejati untuk dialami dan dijalankan sekali lagi. Ia akan menjadi Gereja yang lebih spiritual, dan ia tidak akan meminta mandat politik yang digoda dengan berbagai hak yang bersifat sementara dan cepat berlalu, dan ia akan menjadi sisa Gereja nanti. Gereja ini akan menjadi miskin dan akan menjadi Gereja dari orang-orang papa.

Kita tidak boleh mengabaikan perkataan dari tokoh ini, seorang filsuf, teolog, sejarawan, imam, uskup, kardinal, kepala Kongregasi untuk Ajaran Iman (CDF), dan kemudian menjadi Paus Benediktus XVI. Berbagai pernyataan yang pada hari-hari ini mengalir keluar dari Roma akan memiliki pengaruh besar pada generasi-generasi mendatang. Kita boleh merasa yakin bahwa perubahan-perubahan akan sangat mengejutkan di semua bidang dan lingkungan sosial, persis seperti apa yang terjadi dengan Konsili Vatikan II, apakah seseorang setuju atau tidak dengan hasil dari Konsili itu. Ya, Rhine masih mengalir ke Tiber. Beberapa pejabat tinggi Gereja bukannya menegakkan kebenaran magisterial, dengan tujuan untuk melindunginya, tetapi seringkali mereka memimpin melemparkan tunduhan terhadapnya, dari dalam Gereja sendiri. Memang sulit untuk melawan musuh yang kuat, terorganisir, dan berpengaruh yang berada di dalam gerbang-gerbang Gereja.

Tetapi satu hal yang pasti: kita sudah diberitahu bahwa Gereja tidak akan pernah binasa. Bunda Terberkati mengatakan bahwa kita akan tahu bahwa kita berada di zaman yang telah dikatakan sebelumnya, dengan melihat kejadian-kejadian itu sendiri.

Bunda Maria telah berbicara dari atas atap yang memperingatkan kita, dari tempat-tempat penampakannya di seluruh dunia, tentang keadaan hari ini dan bagaimana menghindari akibat-akibat yang mendatangkan kerusakan ini. Ada penampakan dan pesan-pesan yang benar, meski ada juga yang palsu. Maka kemampuan pembedaan diperlukan dalam hal ini. Adakah seorang ibu yang tidak memperingatkan anak-anaknya tentang bahaya yang akan datang kepada mereka? Kejadian-kejadian terus meningkat semakin cepat dalam beberapa tahun belakangan, dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya, dan telah terjadi banyak sekali akumulasi pembusukan rohani yang memungkinkan Gereja berevolusi kepada keadaan sekarang ini. Tetapi hal itu bukan terjadi dalam semalam saja, dan anda bisa melihat kepada seminari-seminari sebagai salah satu tempat lahirnya masalah ini.

Peristiwa-peristiwa yang disampaikan di tempat-tempat penampakan besar telah terjadi di sekitar kita saat ini, dan hal itu sering diabaikan dengan resiko bahaya yang akan diterima oleh orang-orang yang menolak untuk mendengarkannya. Bunda Terberkati telah berulang kali mengatakan kemana kita semua sedang menuju, dan sekarang hal itu menjadi jelas bagi mereka yang mau memperhatikannya - masa depan itu sudah ada di sini. Kita telah berada di saat pencobaan.

Santo Yohanes Bosco (1815-1888) melihat dalam penglihatan yang dialaminya mengenai masa depan Gereja, bagaimana bahtera Petrus akan diombang-ambingkan badai kesana kemari hingga ia hampir terbalik. Saat bahtera itu melewati dua Tiang Kembar, yaitu Ekaristi pada satu tiang yang tinggi, dan Bunda Terberkati pada tiang satunya yang lebih rendah – maka Gereja akan diselamatkan dan ketenangan dipulihkan. Sebagai Pengantara, Mitra Penebus, dan Pembela umat manusia, maka kita harus berusaha mengikuti petunjuk dan nasihat Bunda Maria guna menempuh perjalanan yang aman.

Jesus, I Trust In You



Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment