Friday, November 11, 2022

Warna Bergoglio dan Great Reset

  

Warna Bergoglio dan Great Reset

https://traditioninaction.org/bev/262bev11_29_2021.htm 

 

By Atila Sinke Guimarães

  

Dari tanggal 11 hingga 13 November 2021, Forum IV untuk Perdamaian berlangsung di Paris, di mana ratusan kepala negara, pemerintahan, dan organisasi internasional dari seluruh dunia diwakili. Francis memanfaatkan kesempatan itu untuk dengan berani menunjukkan apa yang dia harapkan sebagai solusi yang berupa manipulasi massal universal yang kita saksikan dengan dalih pandemi Covid.

The Paris Peace Forum

  

Dalam pesan tertulis yang dikirim paus Francis kepada para peserta Forum Paris, paragraf yang mengungkapkan bagaimana dia membayangkan masa depan adalah ini:

"Menghadapi konsekuensi badai besar yang tengah mengguncang dunia saat ini, hati nurani kita memanggil kita untuk memiliki harapan yang bertanggung jawab: yaitu, secara konkret, agar tidak mengikuti jalan mudah untuk kembali kepada ’keadaan normal' sebelumnya yang ditandai dengan ketidakadilan, tetapi untuk menerima tantangan baru dengan menganggap krisis ini sebagai kesempatan nyata untuk pertobatan dan perubahan, untuk memikirkan kembali cara hidup kita dan sistem ekonomi dan sosial kita. Sebuah harapan yang bertanggung jawab memungkinkan kita untuk menolak godaan untuk menerima solusi mudah dan memberi kita keberanian untuk maju di jalan kebaikan bersama, kepedulian terhadap orang miskin dan rumah kita bersama." (L'Osservatore Romano, edisi harian, 11 November 2021, hlm. 7, 7)

Maka disini nampak jelas bahwa Francis memberi tahu para pemimpin pertemuan di Paris bahwa dia, mewakili 1,3 miliar umat Katolik dunia, ingin memperingatkan bahwa kita tidak boleh "kembali ke normalitas lama", yaitu, situasi sosial-ekonomi yang ada di Barat sebelum Covid-19 muncul.

Dia ingin seluruh dunia "menanggapi krisis ini’, bagi pemerintah, untuk melanjutkan penyalahgunaan kekuasaan mereka. Mereka harus terus melanggar hak individu setiap warga negara dengan memberlakukan keharusan untuk tinggal di rumah, penguncian gereja, bisnis, layanan publik dan tempat hiburan, pemaksaan "vaksin" eksperimental, dll. 

 


 Paus Francis terus mendorong Great Reset


Untuk "menanggapi krisis" ini juga berarti memperpanjang "keadaan darurat" tanpa batas, yang menurut definisinya hanya dapat ada untuk jangka waktu yang singkat dan terbatas di daerah terlarang.

Oleh karena itu, paus menginginkan kediktatoran yang telah didirikan di mana-mana dengan dalih Covid dan program "vaksin" yang tidak ada habisnya untuk terus berlanjut selama diperlukan untuk mencapai tujuan yang tidak ada hubungannya dengan kesehatan masyarakat.

Tujuan-tujuan ini juga ditetapkan oleh paus: untuk mengubah, memikirkan kembali cara hidup kita dan sistem ekonomi dan sosial kita.

Apakah cara hidup yang dibenci oleh Bergoglio? Itulah yang kita warisi dari Peradaban Kristen berdasarkan, pertama, hak atas kepemilikan pribadi yang menjamin masyarakat yang adil, dan, kedua, hak setiap individu untuk mengembangkan kepribadian dan bakatnya sendiri sehingga ia dapat menjadi gambar dan rupa Allah sebagaimana yang dikehedaki Allah. Dua hak dasar ini – kepemilikan pribadi dan inisiatif bebas – merupakan konsekuensi langsung dari dua Perintah: Ketujuh: Jangan mencuri, dan Kesepuluh: Jangan mengingini milik sesamamu.

Sepanjang sejarah kedua prinsip moral dan sosial ini telah menghasilkan berbagai sistem ekonomi yang sah. Yang terakhir adalah Kapitalisme, yang pada gilirannya memiliki banyak varian dalam tiga abad terakhir, hingga Kapitalisme saat ini.

Sejak Leo XIII, Gereja Katolik telah berjuang untuk memperbaiki adanya pelanggaran dalam sistem yang sah ini dan untuk mencapai keselarasan dan keadilan ekonomi dan sosial antara majikan dan karyawan. Upaya ini sebagian besar dimahkotai dengan keberhasilan, dan, dalam kalimat yang sangat umum, kita dapat mengatakan bahwa nasihat Rerum novarum dari Leo XIII dan Quadragesimo anno dari Pius XI diterapkan.

Kemudian, paham baru, Progresivisme, mengambil alih Gereja, dan Paus hasil Konsili, bukannya melanjutkan semangat kebangkitan Paus sebelumnya, menyatakan perang terhadap Kapitalisme dan menyejajarkan diri dengan pihak yang berlawanan: Komunisme. Octageima adveniens dari Paulus VI dan Centesimus annus serta Laborens exercens dan Sollicitudo rei socialis dari Yohanes Paulus II bukanlah dokumen untuk mengoreksi cacat Kapitalisme. Mereka justru menyerukan penghancuran sistem ini yang – mereka tuduh – dihasilkan oleh "struktur dosa."

 

Francis the Communist

 

Selama masa kepausannya, Francis telah mendorong kebijakan ini dengan sangat kuat sehingga dia sering dicap sebagai seorang komunis. Dalam dua tahun terakhir ini, sejak dimulainya apa yang disebut pandemi, dia telah melampaui dirinya sendiri dengan menganjurkan kediktatoran universal untuk menghancurkan Kapitalisme dan menghancurkan cara hidupnya yang sesuai: kebiasaan terakhir Peradaban Kristen yang masih dipraktikkan oleh orang Barat.

Dalam pesannya kepada para pemimpin dunia, Bergoglio juga memanifestasikan kebenciannya terhadap Kapitalisme dalam paragraf lain:

"Kembali ke normalitas juga akan menandakan kembalinya struktur sosial lama yang diilhami oleh kemandirian, nasionalisme, proteksionisme, individualisme, dan isolasi, dengan mengecualikan saudara dan saudari kita yang paling miskin." (Ibid. § 2)

Dengan kata lain, Francis ingin mengakhiri kemungkinan seseorang untuk menghemat uang, memenuhi syarat sebagai swasembada; akhir dari negara-negara dengan perbatasan dan ekonomi individu – tidak ada lagi nasionalisme dan proteksionisme. Tidak seorang pun boleh memiliki propertinya sendiri – dihina sebagai individualisme – atau berhak atas privasi kehidupan keluarganya – dicap sebagai isolasionisme.

Apa cita-cita yang coba diterapkan oleh paus Francis di mana tidak ada lagi properti, tabungan, negara dan kehidupan keluarga, jika bukan Komunisme?

Sesungguhnya, di akhir pesannya, dia menjelaskannya:

“Janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memperbaiki dunia kita, untuk mengadopsi cara-cara yang jelas lebih adil untuk mendorong kemajuan dan membangun perdamaian. Didorong oleh keyakinan ini, adalah mungkin untuk menghasilkan model ekonomi yang memenuhi kebutuhan semua orang, melestarikan karunia alam, serta menghasilkan kebijakan luas yang mempromosikan pengembangan integral dari keluarga manusia." (Ibid. § 8)

Manakah model ekonomi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan semua penduduk dunia jika bukan Komunisme? Manakah kebijakan berjangkauan luas yang mendorong perkembangan integral keluarga manusia jika bukan pembentukan sebuah Tata Dunia Baru tanpa negara atau perbatasan negara?

Ini adalah bagaimana dalam pesannya kepada Forum Perdamaian Paris, paus Francis sekali lagi mengakui dirinya bukan hanya sebagai partisan dari Great Reset, tetapi juga sebagai salah satu promotornya yang paling dinamis. 

 

Contoh Agama Tunggal Dunia dalam 'new normal'

 

Janganlah kita lupa bahwa Great Reset mengandaikan akhir dari agama-agama konfesional, yaitu, Gereja Katolik juga harus "diatur ulang." Ia harus diganti – bersama dengan semua agama lain – oleh Pan-Agama tanpa dogma, berdasarkan toleransi moral dan kerja sosial kolektif, tanpa menyebutkan peranan dan pentingnya Tuhan.


Memang, paus Francis mempraktekkan apa yang dia khotbahkan saat dia terus melakukan upaya terbesarnya untuk mengakhiri Gereja Katolik seperti yang selalu dilaporkan kolom ini, misalnya disini, disini, disini dan disini. Dia juga berusaha keras untuk mendirikan Pan-Religion dengan perjalanan ekumenis yang akan dia lakukan segera ke Siprus dan Yunani.

 

----------------------------------

 

 


 

Paus Francis menerima cindera mata dari presiden Bolivia, Evo Morales, berupa patung palu-arit (lambang komunis) yang ditempeli dengan Yesus yang disalib. Kemudian patung penghinaan terhadap Yesus ini dibawa pulang ke Vatikan.  

 

----------------------------------

Silakan membaca artikel lainnya di sini:

LDM, 29 Oktober 2022

Peristiwa kepunahan massal untuk mengantar masuknya Great Reset

LDM, 3 Nopember 2022

LDM, 6 Nopember 2022

Pedro Regis, 5356 - 5360

Magda De Ley: Pengunduran diri Benedict adalah invalid

Great Reset: Badai Yang Sempurna