Thursday, August 17, 2017

Kiriman dari bu Lucy: USKUP YANG DITUNJUK OLEH PAUS FRANSISKUS....


LifeSiteNews:
USKUP YANG DITUNJUK OLEH PAUS FRANSISKUS, BERKATA : HOMOSEKSUALITAS BUKAN 'PILIHAN ... TAPI PEMBERIAN DARI TUHAN'

Oleh: Lianne Laurence 

CAICO, Brazil, 10 Agustus 2017 (LifeSiteNews) - Seorang uskup Brasil yang menyebut homoseksualitas sebagai "pemberian dari Tuhan" dalam sebuah homili, membela perkataannya dengan mengatakan bahwa niatnya adalah untuk "menyelamatkan kehidupan" dan membantu "mengatasi prasangka yang bisa membunuh."

Tapi Daniel Mattson, seorang Katolik yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis dan juga penulis buku terbitan Ignatius Press yang baru saja dirilis berjudul "Mengapa Saya Tidak Menyebut Diri Saya Sendiri Gay",  mengatakan bahwa kata-kata uskup tersebut akan mengakibatkan hal yang sebaliknya.

"Jika homoseksualitas adalah pemberian Tuhan, dan karenanya hal itu adalah baik, lalu mengapa tidak baik untuk berbuat demikian?" katanya kepada LifeSiteNews. 

"Ada ketidakkonsistenan logis di sana yang akan menyebabkan banyak kebingungan, terutama bagi kaum muda, yang sebenarnya malah akan menyebabkan lebih banyak kerusakan. Karena saat mereka menjalani hidup di luar rencana Tuhan atas seksualitas manusia, hal itu selalu menimbulkan ketidakbahagiaan dan keputusasaan."

Uskup Antônio Carlos Cruz Santos dari Caicó, Brazil, mengatakan pada misa 30 Juli lalu bahwa "ketika anda melihat homoseksualitas, anda tidak dapat mengatakan bahwa itu pilihan," demikian Crux melaporkan.

"Jika bukan pilihan, dan juga jika bukan penyakit, maka dalam perspektif iman, itu hanya bisa menjadi “karunia,"  demikian uskup itu menambahkan.

"Sebuah pemberian atau karunia dari Tuhan. Hal itu diberikan oleh Tuhan. Tapi mungkin prasangka kita yang tidak bisa menerima itu sebagai pemberian dari Tuhan." 

Uskup Cruz, yang ditunjuk oleh Paus Francis pada tahun 2014 setelah bertugas di beberapa daerah kumuh di Brazil yang lebih terkenal karena kejahatannya, mengatakan bahwa dulu, ketika perbudakan masih legal, "mereka mengatakan bahwa orang kulit hitam tidak memiliki jiwa."

"Sama seperti kita bisa melompat, dalam kebijaksanaan Injil, dan mengatasi perbudakan, bukankah sudah saatnya kini kita melompat, dari perspektif iman, dan mengatasi prasangka terhadap saudara kita yang mengalami ketertarikan terhadap sesama jenis?" tanya uskup.

Uskup Cruz mengatakan bahwa dia merasa terganggu setelah mendengar sebuah wawancara radio dengan seorang profesor yang mendokumentasikan tingkat bunuh diri yang tinggi di antara para transgender dan waria.

Dia mulai memikirkan "begitu banyak saudara dan saudari dengan orientasi homoseksual yang merasa disalahpahami dan tidak dicintai oleh kita, yaitu Gereja, keluarga mereka, juga oleh masyarakat mereka dan bahkan oleh mereka sendiri, seperti pada masa perbudakan," kata Cruz.

Uskup tersebut juga merujuk kepada kutipan Paus Fransiskus pada tahun 2013: "Jika seseorang adalah gay dan sedang mencari Tuhan dan memiliki kemauan yang baik, lalu siapakah saya ini hingga berhak untuk menghakimi dia?" 

Sebagaimana yang dilakukan oleh paus, Cruz merujuk kepada Katekismus Gereja Katolik, yang melarang diskriminasi yang tidak adil terhadap orang-orang homoseksual, demikian dilaporkan oleh Crux.

Cruz juga mengutip kata-kata paus dalam dokumen Amoris Laetitia, anjurannya yang kontroversial itu di tahun 2015 tentang keluarga, yaitu mengenai tindakan "mendampingi, membedakan dan menerima" umat Katolik yang berada dalam "ikatan perkawinan yang menyimpang".

Sementara hal ini ditujukan bagi orang-orang Katolik yang telah bercerai dan menikah lagi secara sipil, kata menurut Cruz, hal itu bisa juga diberlakukan bagi orang-orang homoseksual.

Diposting di YouTube, homili tersebut memicu sejumlah reaksi, dengan sejumlah kritik yang meledak terhadap kata-kata Cruz yang dianggap sebagai tindakan yang sesat, dan meminta Vatikan untuk campur tangan, demikian Crux melaporkan.

Cruz memposting sebuah pernyataan di situs keuskupan yang membela perkataannya.

Dia mengikuti Paus dan Gereja, kata Cruz. 

"Sebagaimana Paus telah katakan berkali-kali kepada kita, orang-orang sudah tahu persis doktrin Gereja tentang aborsi, perceraian dan perbuatan homoseksual," tulisnya. "Dia (Paus) meminta kita untuk tidak terobsesi dengan dosa, menambah luka orang-orang ini, dan menegaskan bahwa pintu gereja terbuka untuk menyambut, mengajari, membedakan, dan mencintai, untuk membawa keselamatan kepada semua orang tanpa pengecualian." 

Ucapannya (Paus) adalah pastoral dan dia melekat kepada ajaran Gereja Katolik, Cruz menambahkan, mengutip Katekismus Gereja Katolik no. 2358.

Dia (Paus) khawatir tentang "kelemahan dari kawanannya," dan "tanpa bermaksud mengecilkan aspek dimensi doktrinal dan moral yang terkait dengan pokok bahasan, maksud saya adalah untuk menyelamatkan kehidupan, membantu mengatasi prasangka yang bisa membunuh, dan masuk ke dalam dinamika kemurahan hati Allah yang menghargai, menolong dan menyelamatkan orang-orang."

Perhatian uskup adalah "suatu gerakan hati yang baik," kata Mattson kepada LifeSiteNews. "Saya mengagumi hatinya yang penuh kasih sayang."

Tapi "pertanyaan yang perlu ditanyakan adalah: Mengapa begitu banyak orang di komunitas LGBTQ yang berada dalam bahaya bunuh diri?" 

Seperti yang Mattson sampaikan dalam buku barunya dan film dokumentasi, "Desire of the Everlasting Hills," ajaran Gereja tentang "menerima identitas seksual sejati kita" adalah "satu-satunya hal yang dapat membawa kedamaian dan pemenuhan bagi pria dan wanita seperti saya." 

Cruz memberikan "pandangan yang tidak lengkap tentang kemungkinan" mengenai kecenderungan homoseksual, demikian Mattson mengatakan.

"Dia bilang kalau itu bukan pilihan, dan juga bukan penyakit, maka hal itu hanya bisa dianggap sebagai pemberian (karunia). Tapi tentu saja, ada pilihan lain," katanya. "Kecenderungan itu adalah akibat dari dosa asal, kita memiliki selera yang tidak teratur dalam diri kita dan kita tidak melihat semuanya dengan jelas sebagaimana adanya."

Sesungguhnya, nomor 2358 dari Katekismus itu menggemakan Surat Vatikan thn 1986 tentang Pastoral Care of Homoseksual Persons  yang menyatakan bahwa kecenderungan homoseksual adalah "gangguan obyektif".

Dokumen yang terakhir mencatat: "Meskipun kecenderungan tertentu dari orang dengan orientasi homoseksual bukanlah suatu dosa, namun hal ini sedikit banyak merupakan suatu kecenderungan kuat yang mengarah kepada kejahatan moral intrinsik, dan dengan demikian kecenderungan itu sendiri harus dilihat sebagai suatu gangguan obyektif."

"Jadi, ini sangat penting bagi ajaran Gereja mengenai masalah ini, bahwa kecenderungan ini sama sekali tidak baik," kata Mattson. "Ini adalah pandangan yang tidak teratur tentang pribadi manusia, dan adalah tidak benar bila rasa hormat atau belas kasihan dipakai untuk mendorong orang ke dalam pemahaman yang palsu tentang diri mereka sendiri."

"Kita tahu bahwa Tuhan bekerja dengan baik melalui segala hal," tambahnya. "Ini adalah luka di dalam diri saya dan Tuhan bisa bekerja melalui kehancuran kami dan membawa kebaikan darinya, tetapi itu tidak membuat luka itu sendiri menjadi baik."

Mengenai pandangan Uskup Cruz, "Saya hanya berharap bahwa ketika sentimentalitas semacam ini menyebar melalui beberapa uskup, maka uskup-uskup lainnya, oleh karena kasih persaudaraan dan belas kasih persaudaraan, akan berdialog dengan para uskup tersebut dan berkata, "Apakah ini yang sebenarnya anda maksudkan?"


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment