Friday, March 30, 2018

TIGA ORANG USKUP SECARA TERBUKA MENEGUR...


TIGA ORANG USKUP SECARA TERBUKA MENEGUR USKUP-USKUP JERMAN YANG MENGANJURKAN DAN MENDORONG PEMBERIAN BERKAT KEPADA PASANGAN SEJENIS


Dari kiri ke kanan: Uskup Agung Charles Chaput dari Amerika Serikat, Uskup Emeritus Andreas Laundr dari Austria, dan Cardinal Paul Josef Cordes dari Jerman, ketiganya mengecam uskup-uskup Jerman yang menganjurkan pemberian berkat kepada pasangan sejenis.

Tiga orang uskup telah tampil di hadapan publik untuk membela ajaran dan sikap Gereja mengenai hubungan homosex, dan menyebut anjuran dari beberapa uskup Jerman untuk memberkati ‘perkawinan’ dari pasangan sejenis sebagai perbuatan sakrilegi dan bertentangan dengan kehendak Allah.

Uskup Agung Charles Chaput dari Amerika Serikat, Uskup Emeritus Andreas Laundr dari Austria, dan Cardinal Paul Josef Cordes dari Jerman, ketiganya mengecam uskup-uskup Jerman yang menganjurkan pemberian berkat kepada ‘pernikahan’ pasangan sejenis.

Patut diingat bahwa dalam sebuah wawancara radio 3 Februari 2018 lalu, Kardinal Jerman Reinhard Marx meminta Gereja untuk memberikan suatu bentuk berkat liturgi yang baru bagi pasangan sesama jenis. Kardinal Marx adalah salah satu uskup paling berpengaruh di bawah Paus Francis. Dia mengetuai sebuah dewan yang terdiri atas sembilan orang kardinal yang bertugas memberikan nasihat kepada Paus (Francis) untuk melakukan reformasi terhadap Gereja. Dia adalah presiden dari konferensi waligereja Jerman, dan ketua Konferensi Komisi Para Uskup Masyarakat Eropa.

Card.Marx mengatakan bahwa Gereja harus memberikan “perawatan pastoral yang lebih dekat” kepada kaum homoseksual, dan “mendorong para imam dan pekerja pastoral untuk memberi nasihat dan pendampingan kepada orang-orang yang berada dalam situasi konkret (baca: terlibat relasi homosex). Saya tidak melihat adanya masalah yang salah di sana (dalam relasi homosex).”

"Bagaimana hal ini akan dilakukan secara terbuka, dalam bentuk liturgis, ini adalah pertanyaan yang lain," katanya. "Disitulah seseorang harus bersikap diam dan merenungkannya dengan cara yang baik."

Ketika pewawancara bertanya apakah ini dapat melibatkan ‘berkat yang formal,’ kardinal Marx  mengatakan ‘YA.’

Pada bulan yang sama, wakil presiden konferensi waligereja Jerman, Uskup Franz-Josef Bode, memulai diskusi publik tentang ‘berkat-berkat semacam ini,’ dimana dia menggambarkan relasi homosex itu sebagai hal yang ‘positif dan baik.’

Pernyataan-pernyataan yang ‘berani’ memang membutuhkan tanggapan
Uskup Agung Charles J. Chaput dari Philadelphia telah menulis surat kepada para imam dan diaken di Keuskupan Agung Philadelphia, yang membahas kemungkinan mengadakan ritus pemberkatan bagi pasangan sesama jenis. Suratnya tertanggal  7 Februari 2018 telah diterbitkan di the Catholic News Agency (Kantor Berita Katolik setempat) dan media massa lainnya.

“Saya ingin mengingatkan kita semua bahwa dalam keadaan apa pun seorang imam atau diaken di keuskupan agung tidak boleh ikut serta, menyaksikan atau memimpin upacara perkawinan sipil yang melibatkan orang-orang berjenis kelamin sama, atau upacara keagamaan apa pun yang berusaha memberkati peristiwa semacam itu,” kata Uskup Agung Chaput menulis.

"Ini sama sekali bukanlah penolakan terhadap orang-orang yang mencari relasi atau pernikahan semacam itu, melainkan penolakan untuk mengabaikan apa yang kita ketahui benar tentang sifat perkawinan, keluarga, dan martabat seksualitas manusia," lanjutnya.

“Selama beberapa minggu terakhir, sejumlah suara dari para senior dalam kepemimpinan Gereja di Jerman telah menyarankan (atau menyiratkan) dukungan untuk mengesahkan pemberian berkat Katolik bagi pasangan sesama jenis yang menikah secara sipil atau mencari pernikahan sipil,”demikian Uskup Agung itu menulis. “Ketidak-cermatan dari pernyataan publik semacam itu adalah: ia menjadi penyebab dari keprihatinan yang serius. Hal tu sangat membutuhkan tanggapan karena apa yang terjadi dalam satu realitas lokal Gereja global pastilah bergema ke tempat-tempat lainnya — termasuk di sini.”

Masalahnya, katanya, adalah bahwa ‘ritus pemberkatan’ semacam itu akan termasuk dalam tindakan yang dilarang secara moral, tidak peduli betapapun tulusnya orang-orang yang mencari berkat itu."

“Ritual semacam itu akan merusak ajaran Katolik tentang sifat perkawinan dan keluarga. Hal itu akan membingungkan dan menyesatkan orang-orang yang tetap setia kepada ajaran Kristus yang asli. Dan hal itu akan melukai kesatuan Gereja kita, karena itu, maka ia tidak dapat diabaikan atau dihadapi dengan sikap diam,” tambahnya.

Untuk melembagakan sebuah berkat seperti itu “secara efektif akan mendorong para pelakunya kedalam keadaan itu — dalam hal ini, hubungan sesama jenis.”

“Tidak ada kasih, tidak ada kemurahan hati — tanpa kebenaran, sama seperti tidak ada belas kasihan nyata yang terpisah dari kerangka keadilan yang diajarkan dan dibimbing oleh kebenaran,” tulisnya. "Menciptakan kebingungan di sekitar kebenaran-kebenaran penting dari iman kita, tidak peduli berapapun positif niatnya, hal itu hanya membuat tugas yang sulit itu  menjadi semakin sulit."

"Celakalah kamu yang menyebut kejahatan itu baik, dan kebaikan itu jahat."
Uskup emeritus Andreas Laun telah menulis komentar yang keras di situs berita Katholik di Austria Kath.net tentang prakarsa-prakarsa episkopal yang baru ini, yang muncul keluar dari Jerman. Mengenai kemungkinan melembagakan suatu bentuk “berkat liturgis” bagi pasangan sejenis, Uskup Laun sangat tegas dalam tanggapannya:

Kardinal Marx dan Uskup Bode yang terhormat, hanya ada satu jawaban Katolik: Tidak! Dan  penambahan anda dengan kata-kata "dalam kasus-kasus pribadi" benar-benar tidak ada artinya, ia tak memiliki kekuatan argumentatif. Apa yang akan dikatakan oleh St Yohanes Pembaptis jika Herodes, yang mengambil istri saudara laki-lakinya untuk dirinya sendiri, menyebut kasusnya sebagai "kasus pribadi"?!

Gagasan untuk memberkati perilaku berdosa (kawin sejenis dan homosex) adalah apa yang Yesaya gambarkan dengan jelas, sebagai berikut: "Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.” (Yesaya 5:20)

Bukankah persis seperti ini yang dimaksudkan oleh Cardinal Marx - dan orang-orang lain yang berpikir seperti dia? … Yesaya mengatakan bahwa orang-orang semacam itu mendatangkan hukuman Tuhan bagi mereka, dengan tali gantungan yang besar!

Perbuatan sakrilegi dan naif yang amat mengerikan
“Inisiatif Kardinal Marx itu telah mengabaikan pewahyuan Tuhan yang sangat jelas,” demikian tulis Cardinal Cordes dalam komentarnya di situs web Katolik Austria kath.net. Dia menjelaskan bahwa “Gereja dalam pelayanan pastoralnya terikat pada Kitab Suci dan interpretasinya melalui Magisterium Gereja.”

Kardinal Cordes juga menyebut ide untuk memberkati pasangan homoseksual sebagai perbuatan "naif yang menakutkan." Dia mengatakan:
Siapa pun yang mau merenungkan hal ini sejenak, akan bisa menemukan maksud yang sebenarnya dari mereka yang terlibat. […] Dalam hal ini, orang-orang itu tidak ingin menerima pertolongan Tuhan bagi diri mereka, sebaliknya, mereka berniat, dengan permintaan mereka itu, mereka menginginkan pengakuan dan penerimaan cara hidup homoseksual mereka dan mengharapkan dukungan dari gereja.

Uskup Jerman itu menambahkan komentarnya: “Suatu berkat eklesial sebagai konfirmasi hubungan yang bertentangan dengan Kehendak Tuhan? Itu benar-benar sakrilegi. ”

Menurut Kardinal Cordes, disini jelas bahwa Kardinal Marx “telah salah dalam memahami ide perawatan pastoral sebagai bentuk penerimaan sentimental.” Dia melihat "versi baru dari etika situasional seperti itu" dan berkomentar dengan kalimat "Hal itu adalah bertentangan dengan Tuhan.”
(“Intrinsice malum - secara intrinsik jahat”) adalah selalu merupakan dosa. ”Dengan kalimat yang keras, Kardinal Cordes menyimpulkan komentarnya sebagai berikut:

Atau bagaimana dengan "dalam kasus-kasus pribadi": lebih banyak dukungan bagi kegiatan mafiosi? Menerima perawatan pastoral bagi dokter yang sengaja melakukan aborsi? Klerus mana yang akhirnya dengan sombong mengharapkan lebih banyak keselamatan dari belas kasihnya’ yang membingungkan daripada mendengarkan kehendak Tuhan? Hamba manakah yang tahu lebih baik daripada Tuannya? Bagaimanapun juga, pernyataan St. Augustine menunjukkan kelemahan-kelemahan kardinal Marx: “Kasihilah orang-orang yang berdosa; tetapi perangilah dengan keras kesalahan mereka! Tanpa kesombongan diri, milikilah kebenaran; Berjuanglah dengan lemah lembut dan kebaikan! ”(St. Agustinus dalam Contra litteras Petiliani, 1,31)




Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment