Tuesday, February 9, 2021

Beradaptasi Dengan Dunia Baru Kita Yang Keras

 

 

BERADAPTASI DENGAN DUNIA BARU KITA YANG KERAS 

https://www.crisismagazine.com/2021/adapting-to-our-brave-new-world?mc_cid=9f9cfda6d5&mc_eid=652b06b36e&fbclid=IwAR19HLY6mdEfVYuSru7viDegJ7aJIIUa_AHsfyDhpewZ487GDbVQsOo26CE 

 

 

 

 


 

 

Ini adalah zaman yang gelap bagi umat Katolik yang setia di Amerika. Presiden yang menyatakan dirinya sebagai seorang Katolik yang ‘taat,’ tetapi kebijakannya secara terbuka menentang ajaran-ajaran moral Gereja Katolik. Wakil presidennya adalah seorang anti-Katolik yang penuh semangat, yang telah menunjukkan selera otoriterisme. Apa yang terjadi di ibu kota negara ini hanyalah cerminan yang mengkhawatirkan dari budaya kita yang lebih menyeluruh: kita tidak lagi sebagai masyarakat dan budaya "pasca-Kristiani" lagi; tetapi masyarakat kita sekarang sangat anti-Kristen. Big Tech, Big Pharma, Big Media, Big Education, dan hampir semua yang serba ‘Big’ lainnya, sangat memusuhi kita. Dan nampak jelas bahwa kita tidak memiliki dukungan dari tingkat tertinggi hirarki Gereja Katolik sendiri. Di saat-saat seperti ini, bagaimana tanggapan umat Katolik?

 

Dan berikut ini menunjukkan betapa kita tidak boleh berkompromi. Kita tidak boleh mengkompromikan keyakinan kita yang paling mendasar, seperti misalnya dalam hal kesucian hidup dan pernikahan, serta perbedaan mendasar yang diberikan Tuhan dalam hal sifat yang berbeda antara pria dan wanita. Kita juga tidak dapat berkompromi tentang esensi mutlak Sakramen-sakramen, tidak hanya untuk keselamatan kita, tetapi juga untuk menjalani kehidupan manusia yang otentik dan lengkap. Kita tidak dapat berkompromi dengan perintah Tuhan untuk memberitakan Injil ke setiap penjuru dunia, mulai dari lingkungan kita sendiri hingga pusat-pusat kekuasaan di Washington, DC.

 

Maka alternatifnya adalah: kita harus bertarung. Tapi apa yang kita lakukan dalam situasi di mana pertempuran secara langsung akan sia-sia belaka karena besarnya kekuatan dari musuh kita? Di Dunia Baru yang keras ini, kita mungkin mendapati bahwa kita tidak selalu bisa mengatasi kejahatan yang mengelilingi kita secara langsung. Kita bisa melihat Makabe sebagai contoh yang berhasil melawan rintangan yang luar biasa, tetapi kita harus ingat bahwa orang Yahudi memang berada di bawah para penguasa pagan selama berabad-abad dan tidak dapat berbuat apa-apa (dan akhirnya pemerintahan Makabe sendiri dikuasai oleh Roma yang kafir). Dalam banyak situasi yang kita hadapi, daripada bertengkar secara langsung, kita perlu beradaptasi.

 

Adaptasi bukanlah sesuatu yang unik bagi umat Katolik Amerika modern. Betapa setianya umat Kristen harus hidup di berbagai zaman dan tempat yang dikuasai oleh kejahatan yang luar biasa: kekaisaran Romawi, Inggris di abad ke-16, Uni Soviet, dan China modern. Ini hanyalah beberapa contoh. Umat Katolik biasa, pada masa itu, tidak dapat mengubah rezim yang sedang berkuasa, tetapi mereka beradaptasi sehingga mereka dapat terus menjalankan iman mereka. Dalam beberapa hari, bulan, dan tahun-tahun mendatang, umat Katolik kemungkinan besar harus semakin beradaptasi. Misalnya, setiap maskapai penerbangan mengharuskan Anda mendapatkan vaksin tertentu, yang menurut Anda tidak bermoral, karena berasal dari sel janin yang diaborsi, untuk bisa terbang. Anda bisa menuntut secara hukum, tapi jika Anda kalah, perlawanan tidak lagi menjadi pilihan yang logis. Anda bisa berkompromi dan mendapatkan vaksin. Tetapi pilihan lain adalah beradaptasi dengan mencari cara lain untuk bepergian, atau memutuskan untuk tidak bepergian sama sekali.

 

Atau katakanlah, bahwa pekerjaan Anda mengharuskan Anda untuk hadir, dan menandatangani dukungan untuk menjalani sebuah pelatihan ‘kepekaan’ terhadap orang-orang LGBTQABCDEFG — pelatihan yang secara langsung bertentangan dengan ajaran Katolik. Anda adalah karyawan tingkat rendah; Anda tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan pelatihan semacam itu. Anda bisa berkompromi dan menandatangani dokumen tersebut. Atau Anda dapat beradaptasi dan mencari pekerjaan lain, meskipun itu berarti penurunan pendapatan Anda atau Anda harus pindah ke kota lain. Cara-cara adaptasi ini memungkinkan Anda untuk menghindari kejahatan yang tidak dapat Anda lawan, tanpa mengorbankan prinsip Iman Anda.

 

Untuk lebih jelasnya: beradaptasi bukanlah kekalahan! Saat ada kesempatan untuk bertarung, kita harus terlibat. Dan kita tidak boleh berkompromi dalam hal KEBENARAN. Tapi kita harus memahami apa yang kita, sebagai individu dan bahkan komunitas, bisa dan tidak bisa kendalikan. Kita harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kita telah kalah jauh lebih banyak dalam pertempuran budaya dan politik dalam beberapa tahun terakhir, daripada yang kita menangkan. Mereka yang berkuasa menentang keyakinan dan nilai-nilai fundamental kita — itu sudah lama terjadi— dan mereka sekarang cukup nyaman menggunakan kekuatan mereka untuk menindas keyakinan dan nilai-nilai yang Anda miliki.

 

Hal ini tidak berarti kita harus melepaskan diri sepenuhnya dari proses politik, tetapi itu berarti kita harus lebih fokus pada tempat-tempat dimana kita dapat memiliki pengaruh yang lebih langsung, seperti di negara-negara bagian dan terutama di tingkat lokal. Melawan segala pembatasan terkait COVID-19 yang cukup mengganggu di daerah Anda, misalnya, Anda memiliki lebih banyak peluang untuk berhasil daripada apa pun yang dapat Anda lakukan untuk mempengaruhi Washington. Tetapi ke depan, semakin banyak kita akan menghadapi situasi di mana kita bahkan tidak diberi kesempatan untuk bertarung. Dalam kasus seperti ini, kita perlu beradaptasi. Bagaimana?

 

Pertama-tama kita harus menertibkan rumah spiritual kita. Dan yang saya maksud disini bukanlah rumah Gereja (meskipun itu akan menyenangkan), tetapi rumah Anda, rumah saya. Urutan pertama bisnis kita harus mengarah kepada Tuhan dalam doa. Kita perlu menghadiri Misa sesering mungkin (yang sekarang membuat setan senang karena semakin sedikit tersedia Misa Kudus dan Hosti Kudus yang dilaksanakan secara benar pada saat dimana kita semakin membutuhkannya). Kita perlu berdoa Rosario setiap hari. Dan kita perlu pergi mengaku dosa secara teratur (setidaknya sebulan sekali).

Hanya dengan menjadi siap secara rohani, kita dapat menjadi siap secara mental dan fisik untuk apa pun yang mungkin datang kepada kita. Dan persiapan spirituil ini akan memberi kita pemahaman untuk mengetahui kapan harus bertarung dan kapan harus beradaptasi.

 

Kita juga perlu mengambil langkah praktis untuk bersiap beradaptasi dengan tantangan yang menanti kita. Mulailah dengan komunitas Anda. Apakah Anda memiliki keluarga, teman, tetangga, sesama umat kristiani yang dapat Anda andalkan jika keadaan menjadi sulit? Jika, misalnya, Anda kehilangan pekerjaan karena Anda berpegang pada ‘pendapat yang salah’ (menurut penguasa), apakah Anda memiliki sarana pendukung untuk digunakan? Demikian juga, bisakah orang-orang mendukung Anda? Jika Misa Kudus tidak lagi diperbolehkan di daerah Anda, adakah seorang imam yang mau menolong Anda dengan memberikan Misa di rumah Anda? Ini adalah kebenaran Iman yang fundamental bahwa kita dibangun untuk komunitas. Maka mulailah membangunnya sekarang jika Anda belum melakukannya.

 

Langkah praktis lainnya adalah melihat tingkat ketergantungan Anda. Ini bukan masalah mencoba hidup mandiri sepenuhnya — lagipula, saya baru saja menulis bahwa kita diciptakan untuk membentuk komunitas — ini adalah entitas pada siapa Anda bergantung. Dapatkah Anda mengandalkan atasan Anda saat ini untuk mendukung Anda jika Anda secara terbuka menentang arus masyarakat kita saat ini? Atau, akankah perusahaan Anda segera mengorbankan Anda demi dewa-dewa kecerdasan? Artinya, atasan Anda rela memecat Anda untuk menggunakan sarana atau alat modern untuk menggantikan pekerjaan Anda. Bagaimana dengan paroki anda? Apakah pastor anda lebih bersemangat untuk melayani negara selama masa penguncian wilayah sekarang ini, dan melaksanakan mandat covid-19 baru-baru ini, daripada melayani kebutuhan spiritual umat di parokinya? Jika demikian, mungkin inilah waktunya untuk mencari paroki lain.

 

Proses adaptasi mungkin berarti perubahan besar dalam hidup Anda: pekerjaan baru, sekolah baru untuk anak-anak, paroki baru, bahkan mungkin tempat tinggal baru. Semua hal ini sulit untuk diubah, tetapi tidak ada yang sepenting tetap setia kepada iman. Jika pilihannya adalah antara mengkompromikan keyakinan dan iman seseorang, atau beradaptasi dengan membuat satu atau lebih perubahan ini, maka jalan ke depan harus jelas.

 

Dalam suatu pertarungan, terkadang melindungi sisi lemah seseorang sama pentingnya dengan melakukan langkah dan perubahan besar. Kita semua ingin percaya bahwa segalanya akan berbalik. Saya tahu saya telah berbuat. Tetapi kita harus melihat krisis kita saat ini dalam terang sejarah. Zaman kita sekarang ini memiliki banyak kesamaan dengan masa-masa krisis lainnya, seperti Revolusi Prancis atau Bolshevik. Umat ​​Kristen pada masa itu dikelilingi oleh kegelapan, jadi mereka tahu bahwa mereka harus beradaptasi untuk mempertahankan iman mereka. Kita juga seperti itu. Untungnya, kita memeluk iman yang tidak takut pada kegelapan, karena kita memiliki Tuhan yang mampu mengatasinya. Selama kita percaya kepada Tuhan, kita akan berhasil.

 

 

 

[Photo Credit: Shutterstock]

 

By Eric Sammons

Eric Sammons is the editor-in-chief of Crisis Magazine. He is the author, most recently, of The Old Evangelization: How to Spread the Faith Like Jesus Did (Catholic Answers, 2017).

 

*****

 

Menlu Antony Blinken Memerintahkan Bendera LGBT Dikibarkan Di Kantor-Kantor Kedubes AS

LDM, 1 Februari 2021

Pedro Regis 5076 – 5080

Giselle Cardia 19, 20, 21, 26, 30 Januari 2021

Enoch, 1 Februari 2021

Kardinal Müller Mencela Great Reset

Devosi Kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda Akan Menyelamatkan Dunia