Sunday, June 6, 2021

Bencana Muncul Jika Paus Francis Membatasi Misa Latin Tradisional

 


BENCANA MUNCUL JIKA PAUS FRANCIS MEMBATASI MISA LATIN TRADISIONAL 

https://www.lifesitenews.com/opinion/disaster-looms-if-pope-francis-restricts-the-traditional-mass

 

Pada saat umat Katolik meninggalkan Gereja dalam jumlah ribuan, dan kaum muda khususnya meninggalkan iman, paroki-paroki tradisionalis mengalami pertumbuhan yang eksplosif, yang secara khusus ditandai dengan masuknya keluarga-keluarga muda. Jadi, mengapa ada uskup Katolik (paus), yang berniat melakukan evangelisasi, dan ingin mengganggu pertumbuhan Katolik tradisional? 

 

Wed Jun 2, 2021 - 1:08 pm EST 

·      

By Phil Lawler

 

 

2 Juni 2021 (CatholicCulture.org) – Rumor itu ternyata benar. Sumber-sumber saya di Roma — terlalu banyak dan terlalu dapat diandalkan untuk diragukan — mengkonfirmasi bahwa sebuah dokumen beredar di Vatikan yang, jika diberikan persetujuan oleh pihak kepausan, akan secara signifikan membatasi penggunaan “bentuk luar biasa” dari liturgi, yaitu Misa Latin tradisional (TLM) .

 

Dokumen ini dalam bentuk draft. Itu memang bisa diubah. Itu mungkin tidak akan pernah dirilis. Tapi dokumen itu bahkan tidak akan dibuat atau dibahas jika tanpa setidaknya persetujuan diam-diam (jika bukan dukungan aktif) dari paus Francis. Dan jika dilepaskan kepada media dalam bentuk seperti sekarang ini, itu akan menjadi bencana pastoral dan doktrinal. Itu akan menggagalkan gerakan reformasi positif yang kuat di dalam Gereja, dan itu akan—secara paradoks—melemahkan otoritas Paus sendiri.

 

Mari saya jelaskan.

 

Dalam Summorum Pontificum, surat apostolik tahun 2007, Paus Benediktus XVI memberi umat Katolik akses yang lebih luas kepada TLM (Misa Latin Tradisional). Dengan dokumen baru ini, yang ditata sebagai “instruksi” untuk “implementasi” Summorum Pontificum, paus Francis pada dasarnya akan menolak upaya pendahulunya (Benedictus), dan pada saat yang sama dia memotong suplai darah ke bagian yang tumbuh paling cepat dari Gereja universal.

 

Paus Benediktus menulis Summorum Pontificum karena dia mengakui, di tengah permintaan yang meningkat akan liturgi tradisional, ada suatu gerakan otentik Roh Kudus di dalam Gereja. Keinginan untuk TLM tidak didorong oleh nostalgia; sebagian besar orang di bangku gereja saat ini belum cukup umur untuk mengingat liturgi yang bersifat universal sebelum Vatikan II. Pada saat ini ketika umat Katolik meninggalkan Gereja dalam jumlah ribuan, dan kaum muda khususnya meninggalkan iman, paroki-paroki tradisionalis menyaksikan pertumbuhan yang eksplosif, yang secara khusus ditandai dengan masuknya keluarga-keluarga muda.

 

Jadi mengapa ada uskup Katolik (paus), yang berniat melakukan evangelisasi, ingin mengganggu pertumbuhan Katolik tradisional? Mengapa dia (mereka) mengacaukan kesuksesan? Mungkinkah karena kesehatan pastoral yang jelas dari komunitas tradisionalis membuat kontras yang tidak menyenangkan dengan kegagalan paroki-paroki yang menyusut dengan cepat dan larut dalam arus utama Katolik? Seperti yang saya amati beberapa minggu yang lalu, ini mengungkapkan “bahwa satu-satunya pilihan liturgi yang tidak dapat dipatuhi oleh umat Katolik liberal adalah pilihan untuk liturgi kuno.” Itulah TLM.

 

Dalam Summorum Pontificum, Paus Benediktus menyatakan bahwa setiap imam memiliki hak untuk merayakan liturgi tradisional, tanpa memerlukan “indult” atau izin khusus dari uskupnya. Draf dokumen yang baru ini dilaporkan akan membatalkan izin itu. Sejujurnya, dalam praktiknya, perubahan ini tidak akan terlalu berdampak pada ketersediaan TLM, karena setiap imam diosesan yang bijaksana sudah tahu bahwa jika dia tidak menyenangkan uskup dengan menawarkan TLM tanpa persetujuannya, dia kemungkinan akan menderita pembalasan dari uskupnya. Dengan cara itu, bertentangan dengan semangat Summorum Pontificum, banyak uskup terus berusaha meredam tuntutan kepada liturgi tradisional.

 

Namun, persyaratan persetujuan uskup (yang hanya salah satu dari beberapa pembatasan baru yang diusulkan) akan memiliki efek yang sangat signifikan dengan cara lain. Dalam Summorum Pontificum Paus Benediktus juga menjelaskan bahwa – bertentangan dengan kesan yang tersebar luas – TLM tidak pernah dibatalkan. “Apa yang dianggap suci oleh generasi sebelumnya, tetap suci dan besar bagi kita juga, dan itu tidak bisa tiba-tiba sepenuhnya dilarang atau bahkan dianggap berbahaya,” jelas Paus Benediktus.

 

Jelas, jika paus Francis sekarang secara efektif dan getol melarang perayaan TLM, dan/atau mengatakan bahwa liturgi tradisional itu berbahaya — atau memberi uskup diosesan kekuasan untuk melarangnya. Maka paus Francis secara langsung telah bertentangan dengan pendahulunya. Dan jika paus Francis dapat menentang ajaran Paus Benediktus, pada gilirannya nanti apa yang mencegah seorang Paus di masa depan untuk menentang Paus Fransiskus? Siapa pun yang benar-benar tertarik untuk melestarikan otoritas kepausan (sebagai lawan untuk mendapatkan keuntungan sementara dalam debat intramural) harus mengenali kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh rancangan dokumen paus Francis ini.

 

Ironisnya, para pemimpin Katolik yang melobi untuk penggunaan kekuasaan kepausan yang kuat dalam hal ini telah menghabiskan beberapa generasi terakhir guna mencela permohonan otoritas kepausan dalam kasus lain - termasuk kasus Summorum Pontificum. Tetapi otoritas yang sah dari Paus Roma sangat terbatas. Dia hanya bisa mewartakan kebenaran yang diturunkan dalam Tradisi Katolik. Jika dia bertentangan dengan ajaran Paus sebelumnya — jika dia menyatakan bahwa apa yang dulunya suci tidak lagi suci — berarti dia menyerang pangkal atau pokok,  yang menjadi sandaran otoritasnya sendiri.

 

Draf dokumen ini, kemudian, tidak hanya mewakili masalah bagi kaum tradisionalis, tetapi juga bahaya besar bagi Gereja. Itu harus ditentang keras oleh siapa saja yang peduli dengan misi evangelisasi, integritas doktrin, dan pelestarian otoritas kepausan.

 

Published with permission from CatholicCulture.org

 

---------------------------------

 

Silakan membaca artikel lainnya di sini: 

Prospek Dari Sebuah Agama Baru

Waspadalah Ketika Para Pemimpin Gereja Memanipulasi Kata

Penelitian Menunjukkan Bahwa Komuni Di Lidah Adalah Cara Paling Aman Selama Krisis Covid

Hindari Pencemaran Terhadap Ekaristi Kudus

Enoch, 3 Juni 2021

Pencerahan Suara Hati Sudah Dekat

LDM, 5 Juni 2021