Thursday, May 12, 2022

Synode-nya Francis menjuluki pasangan homosex sebagai pahlawan 'PRO-LIFE'...

 Synode-nya Francis menjuluki pasangan homosex yang mengadopsi anak-anak,

sebagai pahlawan 'PRO-LIFE' (pro-kehidupan)

 https://www.churchmilitant.com/news/article/popes-synod-labels-gay-adoption-pro-life

 

 

 

by Jules Gomes  •  ChurchMilitant.com  •  May 9, 2022

Vatikan terus meluncurkan propaganda 'pakaian tanpa kelim’ yang pro-homoseksual

 

VATICAN CITY (ChurchMilitant.com) - Proses perjalanan sinode paus Francis secara rutin mempromosikan propaganda LGBTQ+  di situs resminya, bahkan memuji homoseksual yang mengadopsi bayi sebagai pahlawan "pro-kehidupan".

 


Lesbian Catholic activistDr. Janet Obeney-Williams

 

 

Pada hari Sabtu, Sekretariat Jenderal Sinode Para Uskup Vatikan menerbitkan tiga "kesaksian pasangan homoseksual," dan memuji mereka sebagai kisah "seksualitas yang memberi kehidupan."

 

 

Mengapa seseorang tidak boleh memberi kami bayi? GabTweet

 

Pastor James Martin menyuarakan penerimaannya atas homoseksual dalam film dokumenter Martin Scorsese.

 

"Pakaian Tanpa Kelim" Martin

Buletinnya hari Sabtu lalu mempromosikan pro-LGBTQ+ dari pastor James Martin dalam film dokumenter Building a Bridge yang diproduksi oleh Martin Scorsese — sebuah film yang juga menampilkan Michael Voris, pendiri dan produser eksekutif senior Church Militant.

 

 

Tidak ada homofobia di dunia yang bisa bersaing dengan tindakan dehumanisasi anak-anak yang diterima secara sosial seperti ini. Gab Tweet

 

 

Film dokumenter itu "menunjukkan iman yang besar" dari umat LGBTQ+  "saat mereka bertekun di Gereja, meskipun telah bertahun-tahun ditolak," demikian kata pastor Martin, dengan alasan bahwa "mungkin tidak ada kelompok lain di pinggiran Gereja kita selain orang-orang LGBT."

 

"Kehidupan remaja LGBT dalam keluarga yang menolak mereka sangat berharga, sama seperti kehidupan seorang anak dalam kandungan yang berharga," tulis Martin dalam artikel berjudul "Mengapa Saya Pro-Kehidupan." (Maksudnya disini, pro-kehidupan adalah orang LGBT itu. Karena menurut pastor Martin, orang LGBT adalah pro-kehidupan. Dan hal ini dibenarkan oleh sinode-nya Francis)

 

Pastor Yesuit pro-sodomi yang bernama James Martin ini mengatakan bahwa dia menggunakan pendekatan "pakaian tanpa kelim" untuk menghargai semua kehidupan — sebuah pendekatan, kata para kritikus, yang sekarang diadopsi oleh ‘Sinode tentang Sinode’ dari Francis untuk mendorong agenda LGBTQ+.

 

Buletin sinode juga memuji "Yayasan Emansipasi Gay" Belanda, yang didirikan oleh pastor Jan Veldt, yang bertujuan untuk mempromosikan "pemberdayaan gay di Gereja" dengan "membicarakannya sebanyak mungkin, di media dan terutama di Gereja itu sendiri."

 

“Berjalan bersama waktu: Hapuskan selibat, buka imamat untuk wanita, dan beri ruang bagi pastor gay.” Manifesto pastor Veldt ini mengumumkan, secara eksplisit, yang menyatakan bahwa dia melihat "pertemuan konsultasi persiapan ini sebagai kesempatan yang baik untuk lebih menyesuaikan posisi Gereja Katolik Roma tentang homoseksualitas."

 


Ex-gay writer Robert Oscar Lopez

 

 

Manifesto tersebut menekankan langkah-langkah positif yang diambil oleh Francis, yang mengulangi hingga dua kali dalam pembicaraannya dan dalam film dokumenter "Francesco" perlunya mengakui relasi pasangan sesama jenis. Manifesto itu menambahkan, "Pada pertengahan 2021, Francis mendorong Yesuit Amerika, James Martin, untuk melanjutkan komitmen pastoralnya kepada orang-orang LGBT."

 

Sebuah kesaksian video yang termasuk dalam komunike Vatikan menampilkan konsultan psikiater Dr. Obeney-Williams (wanita), yang dengan tanpa malu-malu atau menyesal menyatakan bahwa dia adalah seorang umat di Gereja Farm Street yang dipimpin oleh Jesuit di London dan telah hidup bersama "pasangan wanitanya selama 34 tahun."

 

“Berjalan bersama waktu: Hapuskan selibat, buka imamat untuk wanita, dan beri ruang bagi pastor gay.” GabTweet

 

 

"Saya benar-benar tahu Roh Kudus ada dalam proses sinode ini," kata lesbian itu, yang biasa menyanyi di "paduan suara LGBT" gerejanya, dia mengungkapkan kegembiraannya karena ditunjuk sebagai koordinator sinode paroki oleh pastor pro-sodomi, Dominikus Robinson.

 

Psikiater itu juga menyebut mantan pastor, Martin Pendergast, sebagai pemimpin kelompok LGBT. Pendergast telah menjalin relasi homoseksual dengan Julian Filochowski, mantan kepala Catholic International Development Charity (CAFOD), sejak 2006, Church Militant sebelumnya telah melaporkan kasus ini.

 

“Paus Francis telah mengubah Gereja Katolik. Saya menjadi Katolik karena dia,” Obeney-Williams bersaksi, dan mencatat bahwa dia bergabung dengan Gereja hanya setelah paus Francis  “menjangkau” orang-orang LGBT.

 

 

Pengorbanan Anak

 

Pada tahun 2016, peneliti Robert Oscar Lopez dan Brittany Klein menerbitkan sebuah studi otoritatif yang diambil dari kesaksian anak-anak yang diadopsi oleh pasangan homoseksual. Berjudul Jephthah's Children: The Innocent Casualties of Same-Sex Parenting, buku tersebut memperingatkan adopsi gay sebagai "pelecehan anak yang sistematis."

 


Massimiliano Soldani's sculpture:

"Jephthah's Sacrifice"

 

 

Jephthah adalah seorang hakim dalam Perjanjian Lama yang mengorbankan putri satu-satunya sebagai konsekuensi dari membuat sumpah terburu-buru kepada Tuhan.

 

Lopez (pria), seorang mantan homoseksual yang sekarang menikah dengan seorang wanita, menceritakan bagaimana dia diasuh oleh dua orang lesbian, dan dia menjelaskan bagaimana anak-anak yang diadopsi oleh gay dibesarkan dalam budaya "sangat spesifik dan penuh dengan masalah."

 

Dalam hubungan sesama jenis, "orang dewasa memiliki tingkat depresi, kecemasan, gangguan makan yang lebih tinggi, penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS, kekerasan dalam rumah tangga, serangan seksual dan ide bunuh diri," katanya menjelaskan.

 

Klein, yang juga dibesarkan oleh pasangan lesbian, menyesali kasus pengasuhan anak oleh para homosex: "Ini bukan tentang apa yang terjadi di antara dua orang dewasa. Ini adalah seluruh negara yang terlibat dalam membuat ‘peternak wanita’ untuk memenuhi keinginan sekelompok laki-laki, dan kemudian mengingkari anak-anak yang diciptakan, dan memperlakukan mereka sebagai barang-barang yang dapat dijual, termasuk menjual hak mendasar dari seorang ibu dan ayah.”

 

"Seorang anak layak mendapatkan seorang ibu (perempuan) dan seorang ayah (laki-laki). Ini adalah hak asasi manusia yang mendasar. Menjadi orang tua bukanlah hak. ... Tidak ada homofobia di dunia yang bahkan bersaing dengan dehumanisasi anak-anak yang diterima secara sosial ini," dia menyimpulkan.

 

Dalam nasihat apostoliknya Christifideles Laici (1988), Paus Yohanes Paulus II mengecam kesalahan "pakaian tanpa kelim", dan mencatat bahwa "hak atas kesehatan, rumah, pekerjaan, keluarga, budaya — adalah salah dan ilusi jika hak untuk hidup, hak yang paling dasar dan paling mendasar dan kondisi untuk semua hak pribadi lainnya, tidak dipertahankan dengan tekad yang maksimal."

 

Kardinal Gerhard Müller, yang saat itu menjabat sebagai prefek untuk Kongregasi Ajaran Iman, memperingatkan pada tahun 2013 bahwa metafora "pakaian tanpa kelim" digunakan "dengan cara yang tidak jujur ​​secara intelektual, untuk mengizinkan atau setidaknya membenarkan orang menutup mata terhadap kasus aborsi, kontrasepsi atau pendanaan publik untuk penelitian sel induk embrionik."

 

----------------------------

Silakan membaca artkel lainnya di sini:

Gisella Cardia, 23, 26, 30 April 2022, 3 & 6 Mei 2022

Forum Ekonomi Dunia (WEF) Menggunakan 'Bahasa Orwellian’ Untuk Berperang Melawan Musuhnya

Pedro Regis 5276 - 5280

LDM, 7 Mei 2022

Kaum Globalis Telah Merencanakan Untuk Membuat Dunia Kelaparan...

Kaum Globalis berencana menggunakan konflik Ukraina guna memaksakan Pemerintahan Tunggal Dunia

Situs Web Resmi Vatikan Tentang Sinode Menyambut Baik Homosex ...