Monday, December 26, 2016

Vol 2 - Bab 43 : Motiv dari keadilan

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 43

Motiv dari keadilan
Doa bagi orang tua yang telah meninggal
St.Catherine dari Siena dan ayahnya, Jacomo

St.Catherine dari Siena telah memberi kita contoh yang sama. Hal ini diceritakan oleh penulis biografinya, Raymond dari Capua Terberkati. Dia menulis :”Hamba Allah itu sangat bersemangat didalam menolong jiwa-jiwa. Pertama-tama aku akan mengatakan apa yang dilakukannya bagi ayahnya, Jacomo. Pria yang baik ini bisa merasakan kesucian dari puterinya, dan dia dipenuhi dengan rasa hormat kepadanya. Dia menasihati setiap orang di rumahnya untuk tidak menentang puterinya itu dalam segala hal, dan membiarkan kebebasannya yang sempurna didalam menjalankan perbuatan-perbuatan baik. Begitulah perhatian yang menyatukan ayah dan anak itu semakin meningkat setiap hari. Catherine selalu berdoa demi keselamatan ayahnya. Jacomo merasa berbahagia atas keutamaan-keutamaan dari puterinya itu dan berharap agar dengan melalui jasa-jasa dari puterinya itu dia bisa mendapatkan karunia dari Allah”.

“Kehidupan Jacomo akhirnya sampai pada batasnya, dan dia terbaring di tempat tidur oleh karena penyakit yang berat. Demi melihat kondisi Jacomo, puterinya itu, seperti biasanya, terus berdoa memohon kepada Mempelai Surgawinya untuk menyembuhkan ayahnya yang sangat dia kasihi itu. Tuhan menjawab bahwa Jacomo akan meninggal dan untuk hidup lebih lama tidaklah menguntungkan baginya. Catherine lalu menemui ayahnya dan mendapati dia dalam keadaan sudah siap meninggalkan dunia ini, dan tanpa menyesal, Catherine berterima-kasih kepada Tuhan dengan segenap hatinya”.

“Namun kasihnya tidaklah berhenti sampai disitu. Dia kembali berdoa untuk memperoleh dari Tuhan, Sumber segala rahmat, agar memberkati ayahnya bukan saja dengan mengampuni dia atas segala kesalahannya, tetapi juga agar pada saat kematiannya dia diijinkan memasuki Surga, tanpa terlalu lama melewati nyala api dari Api Penyucian. Dia dijawab bahwa Pengadilan tak bisa mengurbankan hak-haknya untuk menghukum seseorang. Bahwa jiwa itu harus benar-benar sempurna dan murni untuk bisa memasuki kemuliaan Surga. “Ayahmu”, demikian Tuhan bersabda, “telah menjalani kehidupan yang baik didalam perkawinannya dan telah berbuat banyak yang amat berkenan bagiKu. Lebih dari itu, sikapnya terhadap dirimu amatlah menyukakan Aku. Namun PengadilanKu meminta agar jiwanya harus melewati api, untuk memurnikannya dari noda-noda yang dia dapatkan di dunia”. “Oh, Juru Selamatku yang amat mengasihi”, jawab Catherine, “bagaimana aku bisa menanggung pikiranku yang melihat dia yang telah membesarkan aku, yang telah mengasuhku dengan amat baik, yang telah bersikap amat sayang kepadaku selama hidupnya, disiksa didalam nyala api yang kejam itu ? Aku memohon kepada KebaikanMu yang tak terbatas itu, jangan biarkan jiwanya meninggalkan tubuhnya hingga dengan berbagai cara ia bisa dibersihkan secara sempurna, sehingga ia tidak perlu melewati api dari Api Penyucian”.

Sebuah sifat kedermawanan yang sangat terpuji ! Tuhan mengabulkan doa-doa dan keinginan makhlukNya itu. Kekuatan Jacomo telah habis namun jiwanya tak bisa berpisah dari tubuhnya sepanjang tawar menawar masih berlangsung antara Tuhan, yang melaksanakan PengadilanNya, dengan Catherine yang memohonkan KerahimanNya. Akhirnya, Catherine mengatakan :”Jika aku tak bisa mendapatkan rahmat ini tanpa memuaskan PengadilanMu, maka biarlah Pengadilan itu dikenakan atas diriku saja. Aku siap untuk menderita bagi ayahku, segala macam penderitaan yang dikehendaki oleh KabikanMu”. Tuhan lalu bersabda :”Aku menerima usulmu itu karena kasihmu kepadaKu. Aku membebaskan jiwa ayahmu dari segala penebusan dosa, namun kamu akan menderita rasa sakit sepanjang hidupmu yang seharusnya dialami oleh ayahmu”. Dengan penuh sukacita Cataherine berteriak :”Terima kasih atas SabdaMu, oh Tuhan, dan semoga KehendakMu terjadi”.

Orang kudus itu segera kembali menemui ayahnya yang telah memasuki penderitaannya yang terakhir. Catherine memberinya keberanian dan sukacita. Catherine memberinya keyakinan dari Tuhan akan keselamatannya yang kekal, dan Catherine tidak pernah meninggalkan dia hingga dia menghembuskan napasnya yang terakhir.

Pada saat yang sama dimana jiwa ayahnya meninggalkan tubuhnya, maka Catherine diserang oleh rasa sakit yang hebat yang terus dirasakan hingga saat kematiannya tanpa membiarkan dia beristirahat sejenak. “Catherine sendiri”, kata Raymond Terberkati, “sering meyakinkan aku akan hal ini, dan tentu saja hal itu nyata sekali bagi semua orang yang melihatnya. Namun kesabarannya adalah lebih besar dari pada penyakitnya. Semua yang telah kuceritakan ini kudapatkan dari Catherine sendiri. Ketika aku tersentuh oleh pemandangan akan penderitaannya, maka aku bertanya kepadanya penyebab dari sakitnya itu. Aku tak akan melupakan untuk berkata bahwa pada saat ayahnya meninggal terdengar dia beteriak, wajahnya diliputi oleh sukacita dan senyuman di bibirnya. “Semoga Tuhan dimuliakan ! Ayahku yang terkasih, betapa aku ingin seperti engkau”. Selama penguburannya, ketika semua orang menangis, tetapi Catherine nampak bahagia. Dia menghibur hati ibunya dan semua orang seolah dia tak terpengaruh oleh kematian ayahnya itu. Hal itu adalah karena Catherine telah melihat bahwa jiwa yang dikasihinya itu keluar dengan kemenangan dari penjara tubuhnya dan tanpa hambatan sedikitpun juga memasuki kebahagiaan kekal. Pemandangan ini telah merasuki dirinya dengan kebahagiaan, karena beberapa waktu sebelumnya dia sendiri telah merasakan sukacita terang yang kekal.

“Marilah kita disini menghargai kebijaksanaan dari Yang Maha Kuasa. Jiwa dari Jacomo tentu saja bisa dimurnikan dengan cara lain, dan segera saja bisa memasuki Surga, seperti pencuri yang baik hati yang mengakui Juru Selamat kita di salib dulu. Namun Tuhan berkehendak agar pemurnian jiwa Jacomo itu lebih diperkaya lagi melalui penderitaan dari Catherine, seperti yang dimintanya sendiri, dan hal ini bukanlah untuk mencobai Catherine, tetapi untuk memperbesar jasa-jasanya dan mahkotanya”.

“Memang layak bahwa wanita suci ini, yang sangat mengasihi jiwa ayahnya, akan menerima balasan setimpal atas perhatiannya yang besar terhadap ayahnya. Dan karena dia lebih menyukai keselamatan jiwa ayahnya dari pada dirinya sendiri, maka penderitaan tubuhnya itu berperanan didalam kebahagiaan jiwanya. Begitulah Catherine selalu berbicara tentang manisnya penderitaan yang dia senangi. Dan dia memang benar karena penderitaan itu telah meningkatkan manisnya rahmat didalam kehidupan ini dan sukacita kemuliaan di dunia sana. Catherine mengatakan kepadaku bahwa lama sesudah kematian ayahnya, Jacomo sering nampak kepadanya untuk berterima-kasih atas kebahagiaan yang diberikan Catherine kepadanya. Jacomo mengungkapkan banyak hal yang tersembunyi kepada Catherine, memperingatkan Catherine akan adanya jerat-jerat setan, dan dia mempertahankan Catherine dari segala bahaya”.



No comments:

Post a Comment