Wednesday, April 18, 2018

CARDINAL BURKE BERDISKUSI SOAL KEMUNGKINAN DIA DI-EXCOM


NEWSCATHOLIC CHURCHTue Apr 17, 2018 - 10:25 am EST

CARDINAL BURKE BERDISKUSI SOAL KEMUNGKINAN DIA DI-EXCOM (exkomunikasi) OLEH PF



By John-Henry Westen

ROMA, 17 April 2018 (LifeSiteNews) – Ada satu baris pada pidato Kardinal Raymond Burke pada acara konferensi baru-baru ini yang berjudul "Catholic Church: Where are you going?" yang  menyangkut konsekuensi dari ketidaktaatan kepada Paus Francis. Burke telah mengalami penurunan jabatan di tangan Paus Fransiskus, tetapi banyak orang yang bertanya-tanya: apa yang akan dia lakukan jika hukuman atas perlawanannya terhadap tindakan Paus yang menyimpang dari ajaran Gereja itu akan ditingkatkan menjadi excom.?

LifeSiteNews bertanya kepada Kardinal Burke kalau-kalau dia pernah membayangkan konsekuensi semacam itu bagi dirinya sendiri, karena dia telah bertekad untuk melakukan perlawanan terhadap arahan Paus tentang pemberian Komuni bagi umat Katolik yang bercerai dan "menikah kembali".

Dalam ceramahnya pada konferensi 7 April 2018 lalu, Kardinal Burke merujuk pada tulisan-tulisan Kardinal Henry dari Susa, yang disebut sebagai Hostiensis, seorang kanonis abad ke-13. "Terlepas dari peringatan terbuka serta doa memohon campur tangan Ilahi, (Hostiensis) tidak menawarkan solusi bagi penyalahgunaan (kepausan) di tengah kekuasaannya yang penuh," kata Kardinal Burke. “Jika, seorang anggota umat beriman percaya di dalam hati nuraninya bahwa tindakan tertentu dari seseorang yang berkuasa penuh (paus) adalah berdosa dan tidak dapat membawa hati nuraninya untuk berdamai dengan masalah ini, maka 'paus harus, sebagai kewajiban kita, tidak usah ditaati, dan konsekuensi dari ketidaktaatan ini akan ditanggung dalam kesabaran Kristiani.'”

Kardinal Burke mengatakan kepada LifeSiteNews: "Saya telah membayangkan konsekuensi seperti itu" jika saya menolak Paus, termasuk exkomunikasi. "Ya, konsekuensinya bisa sangat parah," katanya. “Seseorang perlu mengingat bagaimana St. Athanasius, misalnya, diasingkan karena membela kebenaran dari dua kodrat dalam satu Pribadi Ilahi Tuhan kita.”

St. Athanasius telah dibuang sebanyak lima kali lebih, oleh uskupnya, selama 45 tahun pemerintahannya sebagai uskup, karena St. Athanasius mempertahankan kebenaran dari Inkarnasi Tuhan untuk memerangi ajaran bidaah Arian. Di bawah tekanan, Paus Liberius mengucilkan St. Athanasius untuk sementara waktu.

“Menderita kesabaran Kristiani berarti bahwa seseorang tetap setia kepada Kristus di dalam Gereja Katolik-Nya yang kudus, bahkan jika seseorang menderita di tangan para pemimpin tertentu di dalam Gereja,” jelas Kardinal Burke. “Itulah yang dikatakan oleh para kudus, seperti misalnya St. Athanasius dan St. Yohanes Chrysostom, yang mengilhami kami.”

St. John Chrysostom, yang dikenal karena mengkritik penyalahgunaan wewenang para pemimpin agama dan politik, diasingkan selama bertahun-tahun. Dia meninggal dalam perjalanan menuju pembuangan. Bahkan selama di pengasingan, tulisan-tulisannya masih sangat berpengaruh.

“Menderita dengan kesabaran Kristiani berarti harus peduli pada satu penghakiman saja, yaitu  penghakiman dari Tuhan kita, ketika kita hadir di hadapan-Nya pada saat kematian kita dan pada Penghakiman Terakhir nanti,” kata Kardinal Burke dalam tanggapan emailnya kepada LifeSiteNews.

Pada 17-18 Mei 2018, para pemimpin pro-kehidupan, pro-keluarga, dan agama, akan berkumpul di Roma untuk menyusun strategi dalam mengatasi krisis saat ini yang terjadi di Vatikan yang diadakan oleh Rome Life Forum sebagai acara tahunan. Acara ini akan menampilkan dua pembicara utama tetap setia kepada ajaran Katolik, Kardinal Raymond Burke dan Uskup Athanasius Schneider. Ini akan menjadi kesempatan untuk mengumpulkan orang-orang yang setia kepada ajaran Kristus dari seluruh dunia untuk memohon terang Roh Kudus agar membimbing Gereja dalam masa krisis yang besar ini.



Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment