Friday, April 13, 2018

Professor Roberto de Mattei : PARA KARDINAL BISA MENYATAKAN BAHWA...


NEWSCATHOLIC CHURCHTue Apr 10, 2018 - 12:32 pm EST

Professor Roberto de Mattei, ahli sejarah Gereja :
PARA KARDINAL BISA MENYATAKAN BAHWA PAUS YANG SESAT TELAH ‘KEHILANGAN JABATANNYA.’

by Stephen Kokx 





DEERFIELD, IL, 10 April 2018 (LifeSiteNews) - Kesetiaan sejati kepada Tahta St. Peter sangatlah penting bagi kehidupan spiritual Kristiani. Tetapi saat ini ada sebuah "devosi palsu" kepada Paus yang mengklaim bahwa dia (paus) "harus selalu dipatuhi, tidak peduli apapun tindakannya,” demikian kata sejarawan Gereja terkenal, Roberto de Mattei, pada pertemuan umat Katolik di luar kota Chicago pekan lalu.



Professor Roberto de Mattei speaking at the 2018 Catholic Family News conference.


Berbicara pada konferensi yang diadakan oleh media Catholic Family News tahun 2018, Profesor de Mattei meminta umat awam dan klerus untuk menentang "kesalahan teologis" dari "papolatry" (pemujaan berlebihan terhadap paus) dan menjalani "pengabdian sejati" terhadap paus. “Pengabdian sejati kepada Tahta Petrus bukanlah penyembahan terhadap manusia yang menduduki jabatan itu, tetapi adalah rasa kasih dan penghormatan atas misi yang diberikan Yesus Kristus kepada Petrus dan para penggantinya.”

Pidato Profesor de Mattei ini disampaikan kepada sekitar 100 umat Katolik yang berasal dari berbagai benua – yang menyentuh berbagai topik, termasuk kolegialitas, pengunduran diri Paus Benediktus XVI, dan klaim bahwa Paus Fransiskus telah jatuh ke dalam ajaran sesat dan tidak lagi menjadi paus.

Ketaatan kepada Tuhan adalah yang pertama
Inti dari paparan de Mattei selama satu jam itu adalah permintaan mendesak kepada umat Katolik untuk mengekspos nama-nama pastor yang tindakannya bertentangan dengan ajaran Gereja yang kekal.

Menentang kesalahan saja tidaklah cukup, demikian kata Profesor de Mattei. “Kita perlu memiliki keberanian untuk mengatakan: 'Bapa Suci, anda adalah yang pertama bertanggung jawab atas kebingungan yang terjadi saat ini di dalam Gereja. Bapa Suci, anda adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas kesesatan yang sedang beredar di dalam Gereja saat ini.’ ”

Kaum papolatry (orang yang mendewa-dewakan paus) memandang Paus sebagai “Kristus baru.” Mereka berpendapat bahwa “tidak perlu khawatir tentang apapun juga atas semua tindakan paus” dan bahwa paus selalu “menyempurnakan doktrin pendahulunya, dan menyesuaikannya dengan perubahan zaman.”

Sebenarnya, kaum papolatry itu telah "menipu diri mereka sendiri" dan "menenteramkan" hati nurani mereka dengan berpikir bahwa paus adalah "selalu benar, bahkan ketika ia bertentangan dengan dirinya atau para pendahulunya."

Dalam kenyataannya, "Tradisi tetaplah menjadi kriteria untuk membedakan apa yang Katolik dan apa yang bukan." "Tradisi datang sebelum Paus, dan bukan Paus datang sebelum Tradisi." Jika tidak, maka magisterium kekal Gereja akan digantikan dengan magisterium "hidup" yang memiliki "aturan iman yang tunduk kepada otoritas saat itu, dan bukan tunduk pada objek kebenaran yang diwariskan."

Kepatuhan kepada Paus "memiliki batas-batas tertentu dalam Hukum Alam dan Ilahi, dan dalam Tradisi Gereja, di mana Paus adalah penjaga dan bukan pencipta Tradisi."

Umat Katolik tak boleh berdiam diri

Profesor de Mattei, yang akan berbicara pada acara Roman Life Forum yang diadakan oleh media LifeSiteNews pada Mei 2018, juga mengatakan bahwa umat Katolik tidak boleh tunduk pada mentalitas “katakombe” (mentalitas bersembunyi agar dirinya aman) dalam menanggapi krisis dalam Gereja saat ini.

Umat ​​Katolik tidak dapat "mundur dari medan perang" dan berpikir bahwa mereka dapat "bertahan hidup tanpa pertempuran." Tidaklah layak bagi seorang Kristiani untuk meninggalkan sikap militan mereka. "Menjadikan sikap diam sebagai aturan bagi perilakunya ... adalah sebuah kesalahan." Hal itu berarti dia berbuat dosa diam atau dosa pasiv atau dosa pembiaran.

Lalu siapa yang harus berbicara dan apa yang harus mereka lakukan? Profesor de Mattei mengatakan bahwa tanggung jawab ini tidak hanya ada pada umat Katolik biasa (umat awam) tetapi juga ada pada para Kardinal, yang melalui sikap diam mereka berarti mereka “tidak menjalankan kewajiban mereka.” Tugas ini juga ada pada pundak Paus Emeritus Benedictus XVI.

"Perilaku ‘bersikap diam’ ini telah menjadi penjara yang memenjarakan banyak kaum konservatif." "Saat ini adalah saat untuk berbicara." Telah terjadi sebuah "infiltrasi modernis di dalam Gereja" yang "mendatangkan malapetaka" di Roma. Umat ​​Katolik harus menentang infiltrasi ini dengan penolakan yang damai, bukan dengan sarkasme, ketidaksopanan, semangat yang merusak, atau dengan kecongkakan.

Apakah paus ini Katolik?

Profesor de Mattei kemudian menyampaikan pemikirannya tentang pengunduran diri Paus Benediktus yang bersejarah itu. Adalah "tidak benar" bagi Benediktus untuk menyebut dirinya sebagai Paus Emeritus. Mengutip Cardinal Brandmüller, de Mattei mengatakan "Hukum Kanon tidak mengenal adanya sosok Paus Emeritus." Bagi Benediktus untuk tetap mengenakan jubah kepausan putih dan masih tinggal di Vatikan berarti dia "menciptakan kebingungan," demikian de Mattei mengatakan kepada media LifeSiteNews. Benediktus “nampaknya diyakinkan masih menjadi Paus.


Tetapi “tidaklah mungkin ada dua orang Paus pada saat yang sama. Kepausan tidak dapat diturunkan. Jadi hanya ada satu Vikaris Kristus.”

Profesor de Mattei juga membahas pertanyaan yang semakin relevan saat ini dan semakin penting, apakah Paus Francis masih tetap paus.

Setelah mengutip pendapat banyak ilmuwan Katolik yang telah menyatakan bahwa Francis telah jatuh ke dalam ajaran sesat, de Mattei mengatakan "kita harus mengakui bahwa Paus Fransiskus sendiri telah mempromosikan dan menyebarkan kesesatan dan bidaah di dalam Gereja." Tetapi, "seperti pohon yang masih dapat hidup dalam waktu tertentu setelah akarnya dipotong, demikian juga jurisdiksi Paus Fransiskus hanya dapat dipertahankan untuk sementara waktu saja ... meski dia telah jatuh ke dalam kesesatan. Yesus Kristus masih mempertahankan pribadi Paus yang sesat dalam yurisdiksinya untuk sementara waktu, sampai Gereja mengakui penurunannya dari jabatannya.”

Berbicara kepada LifeSiteNews, de Mattei mengatakan "tidak ada yang bisa melengserkan paus" tetapi para Kardinal bisa, pada prinsipnya, "menyatakan dan mengakui bahwa dia (paus) telah menjadi sesat, maka dia (paus) telah kehilangan jabatannya."

Sampai saat itu tiba, de Mattei menambahkan, umat Katolik harus "mengklarifikasi kepada orang-orang bahwa, sayang sekali, (Paus Fransiskus) telah menyebarkan ajaran sesat." Namun, Francis "tidak kehilangan jabatannya sampai ajaran sesatnya itu menjadi nyata" dan meluas. Dan ini masih "belum terjadi."

Memegang kekuasaan di Roma
Profesor de Mattei melanjutkan dengan menyampaikan apa yang tampak sebagai sebuah peringatan bagi umat Katolik yang sangat prihatin dengan tuntunan Francis dalam memimpin Gereja.

“Kita perlu berhati-hati untuk berbicara tentang 'gereja Bergoglian,' atau 'Gereja baru.' Gereja saat ini diduduki oleh orang-orang gereja yang mengkhianati atau mengubah pesan Kristus, dimana ia belum tergantikan oleh gereja yang lain. Hanya ada satu Gereja Katolik, di mana mereka hidup bersama dalam cara yang sangat membingungkan dan terpisah-pisah, dengan menerapkan teologi dan filosofi yang berbeda dan bertentangan. Adalah lebih tepat untuk mengatakannya sebagai 'teologi Bergoglian,' atau 'filsafat Bergoglian,' atau jika seseorang menginginkannya: 'agama Bergoglian' atau 'tidak beragama' sama sekali."

Tidak ada dua Gereja, tetapi hanya ada satu Gereja, demikian lanjut Profesor de Mattei. Tetapi yang sudah pasti, ia adalah sebuah Gereja di mana tendensi yang buruk telah diperkenalkan, tetapi itu adalah Gereja yang masih diperintah secara kasat mata oleh Wakil Paus Francis, yang pemilihannya masih belum diperebutkan oleh Kardinal manapun.

Profesor de Mattei mendesak umat Katolik untuk bersatu padu dengan "para imam yang baik" di dalam satu Gereja.

Membantu pembongkaran otomatis Gereja
Berdasarkan pengetahuannya yang luas tentang sejarah Gereja, Profesor de Mattei menjelaskan bagaimana dukungan Paus Francis untuk desentralisasi dan kolegialitas dalam gereja telah merusak dan melemahkan lembaga kepausan.

Mengingatkan para pendengarnya tentang bagaimana ultramontanis berhasil menang dalam  Konsili Vatikan I, Profesor de Mattei mencatat bahwa protagonis (pendukung) nyata dari Konsili Vatikan II adalah kaum Katolik Liberal, dan bahwa di antara banyak hal lainnya umat Katolik Liberal ini berusaha mengubah "konstitusi monarkis dan hierarkis Gereja menjadi demokratis dan berstruktur parlemen."

Profesor de Mattei menunjukkan bahwa inilah yang tepatnya sedang dilakukan oleh Francis. Dia ingin mengantar “gereja polisentrik atau multi-sisi” di mana kepausan “dianggap sebagai bentuk pelayanan,” untuk melayani gereja-gereja lain, dan mengabaikan Keunggulan yuridis Gereja Katolik atau pemerintahan Petrus.

Profesor de Mattei melanjutkan, pandangan tentang kepausan seperti ini bertentangan dengan apa yang telah diwariskan selama berabad-abad. Paus tidaklah setara dengan Uskup-uskup lainnya. "Yesus Kristus mempercayakan misi untuk memerintah kepada Petrus, setelah Kebangkitan-Nya." Mendemokrasikan Gereja dan "membawanya kepada dimensi yang murni sakramental" adalah suatu "transisi dari Gereja yuridis kepada Gereja sakramental, Gereja persekutuan."

Selain itu, Profesor de Mattei menambahkan, menghancurkan Keunggulan Petrus berarti melaksanakan apa yang telah dicoba untuk dilakukan oleh musuh-musuh Kristus selama berabad-abad ini, karena “setan sungguh memahami bahwa Keunggulan Petrus itu meliputi landasan yang kelihatan dari Tubuh Mistik Kristus.”

Editor's note: Read the full text of Professor de Mattei’s talk here.


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment