Monday, April 16, 2018

CARDINAL BURKE: TEGURLAH PAUS DEMI MEMATUHI KRISTUS


CARDINAL BURKE: TEGURLAH PAUS DEMI MEMATUHI KRISTUS
Sebuah wawancara dengan Cardinal Burke




Ada orang-orang yang menuduh mereka yang telah menyatakan keraguan, pertanyaan, dan kritik atas tindakan Paus sebagai bentuk perbuatan yang tidak taat, tetapi "koreksi atas kebingungan atau kesalahan, bukanlah sebuah tindakan ketidaktaatan, melainkan sebuah bentuk tindakan ketaatan kepada Kristus dan dengan demikian termasuk tindakan ketaatan kepada Wakil-Nya di dunia.” Demikian kata Kardinal Raymond Leo Burke dalam wawancara dengan La Nuova BQ, sebelum sebuah simposium penting yang akan diadakan di Roma pada Sabtu, 7 April 2018, dengan tema “ Where Is The Church Going?,” (Kemana Gereja sedang menuju?)” di mana Cardinal Burke akan menjadi salah satu pembicaranya. Simposium ini akan diadakan untuk mengenang Kardinal Carlo Caffarra, yang meninggal pada September lalu (2017), dimana dia adalah salah satu penandatangan Dubia. Dubia ini adalah berupa  lima buah pertanyaan yang ditujukan kepada Paus Fransiskus yang meminta pernyataan yang jelas dalam hal kesinambungannya dengan Magisterium sebelumnya, karena terjadinya kebingungan luas yang diakibatkan oleh interpretasi yang berbeda, dan kadang-kadang bertentangan secara langsung, yang berkaitan dengan Seruan Apostolik Pasca-Sinode Amoris Laetitia. Namun tidak pernah ada jawaban dari paus yang diberikan kepada Dubia ini, yang juga ditandatangani oleh Kardinal Burke; juga Paus Fransiskus tidak pernah mau menanggapi permintaan berulang-ulang untuk audiensi yang ditujukan kepadanya oleh para kardinal yang menandatanganinya.


T: Yang Mulia, anda akan menjadi salah satu pembicara utama di dalam simposium pada 7 April 2018 nanti, yang atas nama Cardinal Caffarra anda akan bertanya tentang kemana arah Gereja saat ini. Judul simposium itu telah menunjukkan sebuah keprihatinan terhadap arah yang sedang ditempuh oleh Gereja saat ini. Apa alasan dari kekhawatiran ini?
J: Kebingungan dan perpecahan di dalam Gereja atas masalah yang paling mendasar dan penting: pernikahan dan keluarga, Sakramen-sakramen serta sikap yang tepat untuk menerimanya (Sakramen-sakramen), perbuatan-perbuatan yang secara intrinsik adalah jahat, kehidupan kekal dan Hal-hal Yang Terakhir – dimana kebingungan dan perpecahan itu semakin meluas saat ini. Dan Paus tidak hanya menolak untuk mengklarifikasi semua ini dengan cara menyampaikan doktrin yang tegas dan menetap serta disiplin Gereja yang sehat – dimana semua ini adalah sebuah tanggung jawab yang melekat pada pelayanannya sebagai Penerus Santo Petrus, tetapi dia justru meningkatkan kebingungan yang ada.

T: Apakah anda juga mengacu pada semakin banyaknya pernyataan pribadi oleh Paus yang telah dilaporkan oleh orang-orang yang dia ajak bicara?
J: Apa yang terjadi dengan wawancara terakhir paus yang diberikan kepada Eugenio Scalfari (atheis) selama Pekan Suci dan diterbitkan pada Kamis Putih yang lalu, telah melampaui apa yang dapat ditolerir. Bahwa seorang atheis terkenal dapat berpura-pura mengumumkan revolusi dalam ajaran Gereja Katolik, yang mengklaim berbicara atas nama Paus, yang menyangkal keabadian jiwa manusia dan keberadaan Neraka, itu adalah sumber skandal yang sangat mendalam, tidak hanya bagi umat Katolik tetapi juga bagi banyak orang lain yang menghormati Gereja Katolik dan ajarannya, bahkan meski mereka tidak setuju dengan pernyataan-pernyataan itu. Selanjutnya, hari Kamis Putih adalah salah satu hari yang paling sakral, hari dimana Tuhan kita mengesahkan Sakramen Mahakudus dalam Ekaristi dan juga Sakramen Imamat, sehingga Dia dapat selalu memberi kita buah dari Sengsara dan Kematian Penebusan-Nya bagi kita demi keselamatan kekal kita. Tanggapan Takhta Suci terhadap reaksi-reaksi tersinggung yang datang dari seluruh dunia juga sangat tidak memadai. Alih-alih menyatakan dengan jelas kebenaran tentang keabadian jiwa manusia dan Neraka, pernyataan Takhta Suci hanya mengatakan bahwa beberapa kata yang dikutip oleh Scalfari bukanlah perkataan Paus. Pernyataan Vatikan itu tidak mengatakan bahwa ide-ide yang salah, bahkan sesat, yang diungkapkan oleh perkataan Scalfari ini tidak diucapkan oleh Paus dan bahwa Paus menolak ide-ide ini, yang bertentangan dengan iman Katolik. Permainan kata yang berkaitan dengan iman dan doktrin ini, pada tingkat tertinggi Gereja, telah membuat para pastor dan umat beriman merasa sangat tersinggung, dan memang demikian kenyataannya.

T: Jika pernyataan-pernyataan itu adalah kesalahan yang serius dan menimbulkan rasa malu bagi Gereja, sungguh mengherankan betapa banyaknya pastor-pastor yang tetap diam tentang hal itu.
J: Tentu saja, dan situasinya semakin diperparah oleh sikap diam dari banyak uskup dan kardinal yang bersama-sama dengan Paus Roma seharusnya menaruh perhatian kepada Gereja universal. Beberapa hanya mengatakan: no comment. Yang lainnya berpura-pura seolah tidak ada yang serius yang terjadi. Yang lain lagi justru menyebarkan fantasi tentang "Gereja baru", yaitu sebuah Gereja yang menempuh arah yang sama sekali berbeda dari masa lalu, berfantasi, misalnya, tentang sebuah "paradigma baru" bagi Gereja atau tentang perubahan radikal dari praktek pastoral Gereja, hingga membuat Gereja benar-benar baru sama sekali. Kemudian ada juga orang-orang yang menjadi pendukung antusias dari apa yang disebut sebagai revolusi Gereja Katolik. Bagi umat beriman yang setia yang memahami kegawatan situasi ini, kurangnya arahan doktrinal dan disipliner dari pastor-pastor mereka, membuat mereka merasa tersesat. Bagi umat beriman yang tidak memahami kegawatan situasi saat ini, kurangnya pengarahan ini telah membuat mereka kebingungan dan akhirnya menjadi korban kesalahan yang membahayakan jiwa mereka. Banyak orang yang dibaptis dalam gereja Protestan, dan kemudian masuk ke dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, karena komunitas gerejanya yang asli meninggalkan Iman Apostolik, mereka sangat menderita oleh situasi ini - mereka merasa bahwa Gereja Katolik mengalami hal yang sama: jalan menurun yang menjauhi iman sejati.

T: Apa yang anda gambarkan ini adalah situasi yang apokaliptik ...
J: Seluruh situasi ini, bagi saya, nampaknya merefleksikan lebih tepat lagi pesan dari Bunda Maria Fatima yang memperingatkan tentang kejahatan - bahkan lebih serius daripada kejahatan besar yang diderita akibat dari penyebaran komunisme atheis - yang merupakan kemurtadan dari iman di dalam Gereja. Paragraf 675 dari Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa “sebelum kedatangan Kristus yang kedua, Gereja harus melewati ujian terakhir yang akan mengguncang iman banyak orang,” dan bahwa “penganiayaan yang menyertai peziarahannya di bumi akan mengungkapkan "misteri kedurhakaan" dalam bentuk penipuan agama yang menawarkan kepada manusia sebuah solusi nyata atas masalah mereka dengan harga: kemurtadan dari kebenaran." Dalam situasi seperti itu, para uskup dan kardinal memiliki kewajiban untuk mewartakan doktrin Gereja yang sejati. Pada saat yang sama, mereka harus memimpin umat beriman untuk melakukan pertobatan dan perbaikan karena pelanggaran yang ditujukan kepada Kristus serta luka-luka yang ditimbulkan pada Tubuh Mistik-Nya, Gereja, ketika iman dan disiplin Gereja tidak dilindungi dengan benar dan dipromosikan oleh para pastornya. Seorang Kanonis besar abad ke-13, Enrico da Susa (atau dari Ostia), menjawab pertanyaan sulit tentang bagaimana mengoreksi seorang Paus Roma yang bertindak dengan cara yang bertentangan dengan jabatannya, dia menegaskan bahwa para kardinal merupakan sebuah kontrol de facto terhadap kesalahan kepausan.

T: Tanpa bisa diragukan lagi, saat ini sosok Paus Fransiskus sangat banyak didiskusikan orang. Hal itu berupa pemujaan yang keterlaluan atas setiap tindakan kecil yang dilakukannya terhadap kritikan tajam atas pernyataan dan sikapnya yang serba ambigu. Namun dalam beberapa hal, masalah bagaimana Gereja harus berhubungan dengan Paus masih berlaku bagi setiap kepausan. Beberapa hal masih perlu diklarifikasi. Apa yang digambarkan oleh Paus untuk Gereja?
J: Menurut ajaran Gereja yang menetap, Paus, dengan kehendak Kristus yang nyata, adalah "prinsip dan landasan persatuan yang abadi dan kasat mata dari para uskup dan umat beriman" (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Konsili Vatikan II, paragraf 23). Ini adalah pelayanan penting dari Paus untuk menjaga dan mempromosikan kekayaan iman, doktrin yang benar, dan disiplin yang sehat yang sejalan dengan kebenaran yang diyakini. Dalam wawancara yang sudah disebutkan dengan Eugenio Scalfari, Paus dipuji sebagai seorang yang "revolusioner". Tetapi Jabatan Petrus sama sekali tidak ada hubungannya dengan revolusi. Sebaliknya, ia ada secara eksklusif untuk mempertahankan dan menyebarkan iman Katolik yang tidak berubah, yang menuntun jiwa-jiwa menuju pertobatan hati dan yang membawa seluruh umat manusia menuju kesatuan berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh Allah di dalam ciptaan-Nya dan di atas segalanya, di dalam hati manusia, sebagai satu-satunya makhluk di bumi yang diciptakan seturut Gambaran Allah. Ini adalah aturan yang dipulihkan Kristus melalui Misteri Paskah yang kita rayakan di hari-hari Paskah ini. Rahmat Penebusan yang memancar dari Hati-Nya yang tertusuk ke dalam Gereja, ke dalam hati para anggota-Nya, memberi mereka kekuatan untuk hidup sesuai dengan aturan dan tatanan ini, yaitu, di dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama.

T: Tentunya Paus bukanlah penguasa absolut, namun saat ini peran itu secara luas nampak seperti itu. "Jika Paus sudah mengatakan demikian ..." ini adalah cara umum untuk memotong setiap pertanyaan atau keraguan atas penegasan apa pun yang dibuat oleh Paus. Ini semacam pemujaan terhadap paus. Bagaimana anda akan menanggapi ini?
J: Gagasan kepenuhan kekuasaan Paus Roma jelas ditetapkan oleh Paus St. Leo Agung (abad ke lima). Para ahli hukum canon abad pertengahan sangat berkontribusi pada pemahaman mendalam tentang kekuatan yang melekat di Jabatan Petrus. Kontribusi mereka itu tetap abadi dan penting. Gagasannya cukup sederhana. Paus, dengan kehendak ilahi, memiliki semua kekuasaan yang diperlukan untuk dapat menjaga dan mewartakan iman yang benar, ibadat ilahi yang benar, serta disiplin yang diperlukan. Kekuasaan ini tidak berhubungan dengan orangnya, tetapi dengan jabatannya sebagai Penerus Petrus. Di masa lalu, sebagian besar paus tidak pernah mengumumkan tindakan dan pendapat pribadi mereka, sehingga tidak ada risiko bahwa umat beriman bisa menjadi bingung dengan apa yang mereka (sebagai paus) lakukan secara pribadi dan berpikir sebagai Penerus Santo Petrus. Saat ini, terdapat kebingungan yang berbahaya dan membahayakan antara pribadi paus dan jabatan paus, yang mengakibatkan tidak jelasnya Jabatan Petrus dan dalam konsep duniawi dan politik dari pelayanan Paus Roma di dalam Gereja. Gereja ada untuk keselamatan jiwa. Setiap tindakan Paus yang merongrong dan melemahkan misi penyelamatan Kristus di dalam Gereja, apakah itu tindakan sesat atau tindakan yang dengan sendirinya memang berdosa, tidaklah ada artinya dari sudut pandang Jabatan Petrus. Demikian juga jika ada tindakan Paus yang menyebabkan kerusakan serius bagi jiwa-jiwa, hal itu tidak menuntut ketaatan para pastor dan umat beriman untuk melakukan hal serupa. Kita harus selalu membedakan tubuh manusia yang menjadi Paus Roma dari tubuh Paus Roma, yaitu, orang yang menjalankan jabatan Santo Petrus di dalam Gereja. Pembedaan ini dilakukan agar kita tidak bersikap mendewakan kepausan, yang menyebabkan hilangnya kepercayaan kepada Jabatan Petrus, yang secara ilahiah telah dilembagakan dan dipertahankan.

T: Apakah yang harus dipegang umat Katolik sebagai yang paling penting dalam hubungannya dengan Paus?
J: Seorang Katolik harus selalu menghormati, dengan cara yang mutlak, Jabatan Petrus, yang merupakan bagian penting dari lembaga Gereja yang didirikan oleh Kristus. Segera setelah seorang Katolik tidak lagi menghormati jabatan Paus, maka dia bisa dianggap sebagai memisahkan diri atau murtad dari iman. Pada saat yang sama, seorang Katolik harus menghormati orang yang ditugasi untuk menjabat sebagai Paus, yang berarti dia harus memperhatikan pengajaran dan arahan pastoralnya. Rasa hormat ini juga termasuk kewajiban untuk menyatakan kepada Paus penilaian hati nuraninya yang terbentuk dengan benar, ketika Paus menyimpang atau nampaknya menyimpang dari doktrin dan disiplin yang benar atau ketika Paus meninggalkan tanggung jawab yang melekat pada jabatannya. Berdasarkan hukum alam, oleh Injil, dan oleh tradisi disiplin Gereja yang menetap, umat beriman diharuskan untuk mengungkapkan kepada para pastor mereka keprihatinan mereka terhadap keadaan Gereja. Umat beriman memiliki tugas ini, dan di dalam tugas ini melekat hak untuk menerima tanggapan dari para pastor mereka.

T: Jadi, apakah mungkin mengkritik Paus? Dan dalam kondisi apa?
J: Jika Paus tidak memenuhi tugasnya demi kebaikan semua jiwa, maka tidak hanya mungkin, tetapi juga perlu, mengkritik Paus. Kritik ini harus mengikuti ajaran Kristus mengenai teguran persaudaraan seperti dalam Injil (Matius 18: 15-18). Pertama, umat beriman atau pastor hendaknya menyampaikan kritik atau tegurannya secara pribadi, yang akan memungkinkan Paus memperbaiki dirinya sendiri. Tetapi jika Paus menolak untuk memperbaiki caranya mengajar atau cara bertindaknya yang sangat buruk, maka kritikan atau teguran itu harus dipublikasikan, karena hal itu berkaitan dengan kebaikan bersama di dalam Gereja dan di dunia. (Hal ini telah dilakukan oleh para cardinal pengusul dubia). Beberapa orang telah menyalahkan mereka yang secara terbuka menyampaikan kritik terhadap Paus, seolah-olah itu adalah manifestasi dari pemberontakan atau ketidaktaatan. Tetapi sebenarnya itu adalah usaha untuk meminta - dengan rasa hormat karena jabatannya - untuk mengatasi kebingungan atau kesalahan, dan ini bukanlah sebuah tindakan ketidaktaatan, tetapi tindakan ketaatan kepada Kristus, dan dengan demikian ketaatan kepada Wakil-Nya di dunia.


++++++++++
Mat 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Mat 18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Mat 18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Mat 18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.


Originally published at La Nuova Bussola Quotidiana. Translated by Giuseppe Pellegrino  and reprinted with permission.

Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment