Tuesday, April 24, 2018

DAFTAR KEPRIHATINAN ATAS TINGKAH LAKU PF

BLOGSCATHOLIC CHURCH 

 

DAFTAR KEPRIHATINAN ATAS TINGKAH LAKU PF

By John-Henry Westen

 

 



 11 Juli 2017 (LifeSiteNews) - Kebingungan yang ditimbulkan oleh Paus Francis di dalam Gereja Katolik telah berada di luar kendali. Ada begitu banyak insiden selama empat tahun terakhir ini,  dimana kerusakan besar dan kecil itu sering dilupakan. Dalam upaya mendorong dilakukannya doa untuk mengakhiri kebingungan dan disorientasi dalam Gereja ini, LifeSite menyajikan daftar keprihatinan atas tingkah laku Paus Francis berikut ini:

Amoris Laetitia
Dokumen yang begitu lama ditunggu-tunggu untuk membawa klarifikasi yang dibutuhkan dari Paus, ternyata lebih berfungsi untuk meningkatkan kebingungan di seluruh dunia karena Paus sendiri menyetujui penafsiran para uskup di Malta dan Jerman, yang mengijinkan Komuni Kudus diberikan kepada umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi.

Pelengseran Card. Burke
Kardinal Raymond Burke dipindahkan dari salah satu jabatan tertinggi dalam Gereja, mahkamah agung pengadilan tertinggi Gereja. Sebaliknya, dia, salah satu Kardinal yang paling setia, diberi posisi seremonial saja dalam Ordo Malta dan bahkan di sana peranannya juga dilucuti.

Kumpul kebo
Paus Francis mengatakan bahwa "kumpul kebo" yang dilakukan dengan penuh kesetiaan adalah "perkawinan yang sebenarnya" dan ia "memiliki anugerah perkawinan yang nyata." Pada kesempatan lain ketika Paus membuat pernyataan yang sama, orang kepercayaan paus, pastor Antonio Spadaro, mentweet sebuah foto Paus yang menyapa dengan penuh kehangatan suatu pasangan yang "lebih suka hidup bersama tanpa menikah."


Sambutan hangat dari paus kepada pasangan muda yang lebih memilih untuk hidup bersama tanpa menikah (kumpul kebo) http://www.cyberteologia.it/2017/02/the-welcoming-of-those-young-people-who-prefer-to-live-together-without-getting-married/ 

Card. Danneels
Kardinal Godfried Danneels, uskup agung emeritus Brussels, ditunjuk secara pribadi oleh Paus Fransiskus untuk mengikuti Sinode Para Uskup tentang keluarga. Selain mengenakan jubah liturgi pelangi (LGBT), dia tertangkap dalam rekaman dimana dia menyembunyikan kasus pelecehan seksual. Danneels mengatakan pada tahun 2013 tentang "perkawinan" gay: "Saya pikir itu (perkawinan gay) adalah perkembangan positif yang menunjukkan kebebasan untuk membuka perkawinan sipil bagi kaum gay jika mereka menginginkannya."

Cardinal Danneels dengan seragam pelangi (LGBT)

Emma Bonino
Paus menyebut pendukung aborsi terkemuka di Italia ini sebagai salah satu "orang besar yang  terlupakan". Dalam sebuah wawancara dengan Corriere Della Sera Pope Francis memuji penganjur dan pendukung aborsi terkenal di Italia, Emma Bonino, sebagai salah satu "orang besar yang terlupakan", dan PF membandingkannya dengan tokoh sejarah besar seperti Konrad Adenauer dan Robert Schuman.

Dokumen interim sinode pertama
Mid-term relatio (laporan sementara pertengahan sinode) yang penuh dengan skandal dari Sinode pertama tentang Keluarga, telah dibaca dan disetujui-untuk disebarkan oleh Paus, menurut Kardinal Lorenzo Baldisseri, sekretaris jenderal Sinode Para Uskup. "Semua dokumen itu telah dibaca dan disetujui oleh Paus," demikian kata Baldisseri. Dalam bagian yang berjudul 'Menyambut orang-orang homosex, dokumen itu menyatakan: “Kaum homosex memiliki karunia dan kualitas untuk ditawarkan kepada komunitas Kristiani.” Kemudian dalam dokumen itu ditanyakan: “Apakah komunitas kita (orang yang bukan homosex) mampu menyediakan sambutan yang hangat bagi mereka (orang homosex), untuk menerima dan menghargai orientasi seksual mereka, tanpa mengorbankan doktrin Katolik tentang keluarga dan pernikahan? ”

Pasangan dengan jenis kelamin yang membingungkan di Roma

Pope Francis meeting with woman who underwent sex-change surgery (to right of pope) and her 'wife' (to left of pope.)


Pada 2 Oktober 2016, Paus Fransiskus menyebut seorang wanita yang menjalani operasi ganti kelamin sebagai “pria.” PF menyebut “pria” itu telah “menikahi” wanita lain, mengundang dan menerima mereka di Vatikan pada tahun 2015, dimana PF saat itu menggambarkan pasangan itu sebagai pasangan yang "bahagia". Untuk menjelaskan penggunaan kata-katanya, paus berkata, "Dia adalah orang yang sebelumnya perempuan, namun dia kini adalah laki."

Pengendalian jumlah penduduk menurut Tahta Suci
Tidak lama setelah pemilihan Paus Fransiskus, muncullah aliran yang deras dari para pengendali populasi yang berpidato di Vatikan. Mereka itu termasuk: Paul Ehrlich, bapak dari gerakan pengendalian populasi; John Bongaarts, wakil presiden dari Dewan Penduduk pro-aborsi; kemudian Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon, yang pro-aborsi; dan pengendali populasi Jeffrey Sachs dan John Schellnhuber. Kepala Dewan Kepausan Vatikan untuk Ilmu Pengetahuan, Uskup Marcelo Sorondo, orang yang mengatur sebagian besar jalannya konferensi itu, adalah seorang pendukung pengendalian penduduk yang mengatakan di depan kamera pada salah satu konferensi di Vatikan: bahwa membatasi kelahiran adalah menjadi kewajiban Gereja. 

Memiliki 8 anak, tidak bertanggung jawab?
Pada tanggal 19 Januari 2015 ketika berbicara tentang orang tua yang "bertanggung jawab", paus memperingatkan agar umat Katolik menjadi "seperti kelinci." Paus berbicara tentang seorang wanita yang ia kenal yang ia katakan hamil dengan anak kedelapannya setelah tujuh tahun pertama melalui operasi sesar . Dia "menegurnya" dengan berkata, "Tetapi apakah anda ingin meninggalkan tujuh anak yatim? Itu adalah perbuatan mencobai Tuhan! ”“Itu (memiliki 8 anak) adalah tidak bertanggung jawab.”

“Beberapa orang berpikir, maafkan saya jika saya menggunakan kalimat ini, bahwa untuk menjadi umat Katolik yang baik kita harus menjadi seperti kelinci.” Dia menambahkan, “Tidak. Kita harus menjadi orangtua yang bertanggung jawab! "

Tindakan menghakimi - Siapa saya ...
Meskipun ada banyak bukti yang membahayakan bagi Gereja dari komentar pertamanya "Siapa saya ini hingga boleh menilai" Paus pada wawancara pertamanya di pesawat pada tahun 2013, ia mengulangi lagi kalimat itu pada Juni 2016 sementara itu dia telah salah mengutip Katekismus tentang homoseksualitas.

Kasper
Beberapa hari sebelum kepausannya, Paus Fransiskus memuji salah satu buku Kardinal Kasper dan kemudian memilih Kasper untuk menyampaikan pidato utama yang kontroversial untuk membuka sinode tentang keluarga. Kasper terpilih sebagai seorang yang diangkat secara pribadi oleh paus untuk mengikuti sinode itu dan secara teratur dia bisa bertemu dengan Paus Fransiskus. Kasper membela pemungutan suara di Irlandia yang mendukung "perkawinan" homoseksual, dengan mengatakan: "Sebuah negara demokratis memiliki kewajiban untuk menghormati kehendak rakyatnya; maka jelaslah bahwa jika mayoritas warganya menginginkan hubungan homosex semacam itu, maka negara memiliki kewajiban untuk mengakui hak-hak tersebut.”

Dosa berat jika mempertobatkan golongan lain

Pope Francis berdiri disamping patung Martin Luther

Paus berbicara kepada hadirin di depan patung Martin Luther di Vatikan sesaat sebelum dia pergi ke Swedia untuk mengikuti perayaan ulang tahun ke-500 Lutheranisme. Bahkan Vatikan mengeluarkan perangko yang menampilkan gambar Luther dan mengeluarkan dokumen yang mengatakan bahwa umat Katolik saat ini mengakui Martin Luther sebagai 'saksi Injil'.

Pada kesempatan lain dia mengatakan bahwa adalah "dosa yang sangat berat" jika mencoba mengubah seorang umat Ortodoks menjadi Katolik: "Itu adalah dosa besar melawan ekumenisme: proselitisme."

Penggandaan roti
Selama Angelus tanggal 2 Juni 2013, dia berbicara tentang mukjizat Kristus yang menggandakan roti dan ikan dimana hal itu terjadi dengan cara "berbagi." "Ini adalah keajaiban: bukannya melipat-gandakan, tetapi itu adalah berbagi, yang diilhami oleh iman dan doa," katanya. Dia bahkan berbicara lebih jelas lagi tentang hal itu pada bulan Juli 2015 dalam sebuah kotbah yang disampaikan di lapangan Penebus Kristus di Bolivia. Paus Francis berkata, "Beginilah keajaiban itu terjadi. Ini bukan sihir atau sulap ... Yesus berusaha untuk menciptakan sebuah aliran di antara para pengikut-Nya: mereka semua berbagi apa saja yang mereka miliki, mengubahnya menjadi hadiah bagi sesamanya, dan begitulah cara mereka semua makan hingga kenyang. Hebatnya, ternyata makanan masih tersisa: mereka mengumpulkannya dalam tujuh buah keranjang."

Sebutan yang menyinggung umat yang setia
Paus Francis sering menyebut penganut iman Katolik yang setia sebagai "terobsesi", "doktor hukum," "neo-pelagian," "egois," "restorasionis," "fundamentalis," "kaku," "ideologis,"  "Munafik,"dan banyak lagi lainnya. Dalam menghadapi para Kardinal yang tetap setia kepada ajaran Kristus yang ikut dalam Sinode Keluarga, melalui wawancara majalah, buku, radio, dokumen-dokumen resmi gereja, dan dalam homili-homili sesudahnya, dia sering menggunakan bahasa yang bernada mengutuk yang menunjukkan bahwa mereka adalah “para penyembah berhala dan pemberontak yang tidak akan pernah sampai kepada kepenuhan kebenaran, " serta "bidaah dan bukan Katolik. "

Perombakan dikasteri Cardinal Sarah
Kardinal Sarah, kepala dikasteri liturgis Vatikan, menyerukan kepada umat beriman untuk berlutut ketika menerima Komuni Kudus dan para imam agar menghadap ad orientem untuk merayakan Misa (menghadap ke arah Tabernakel dan membelakangi umat). Paus Francis segera bereaksi dengan menentang saran tersebut, dan memerintahkan kantor pers Vatikan untuk  mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa tidak ada perubahan dan menekankan bentuk Misa biasa seperti saat ini adalah lebih disukai. Tak lama kemudian, Paus mengganti sebagian besar para pendukung Kardinal Sarah dalam dikasterinya dan menggantikannya dengan orang-orang yang liberal.

Skandal di Akademi Pontifikal bagi Kehidupan

Archbishop Paglia | Depiction of Paglia in Cathedral mural clutching semi-nude man.

Paus Fransiskus menunjuk Uskup Agung Vincenzo Paglia yang kontroversial itu untuk memimpin Akademi Kepausan bagi Kehidupan ditengah adanya skandal seperti program seks Vatikan dan mural homoerotik yang dia pajang di bekas katedralnya. Setelah itu semua anggota Akademinya dilengserkan, orang-orang yang pro-kehidupan diberhentikan, dan daftar anggota baru diumumkan, dan termasuk disini adalah para pendukung anti-kehidupan.

Pemilihan Card. Cupich yang aneh
Pada tahun 2014, Paus Fransiskus menunjuk Uskup Blase Cupich sebagai Uskup Agung Chicago ditengah reputasinya yang buruk karena dia memerintahkan kepada para imam untuk tidak bergabung dengan gerakan 40 Days for Life (gerakan yang membela kehidupan). Setelah dia menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap ajaran Katolik tentang homosex, dia berkata bahwa pasangan homosex hendaknya juga diberi Komuni Kudus, namun Cupich tetap diangkat oleh paus untuk menjadi Kardinal.

Paus menolak menjawab dubia

Para kardinal pengusung dubia:

Setelah kebingungan besar terjadi di seluruh dunia atas boleh tidaknya memberikan Komuni kepada para pezina, empat orang Kardinal terkemuka mengirimkan surat kepada Paus Francis pada 19 September 2016 yang meminta klarifikasi melalui lima pertanyaan kunci dari mereka. Hingga dua bulan kemudian tanpa jawaban dari paus, kemudian mereka menyebarkan pertanyaan-pertanyaan mereka kepada publik dan dengan rendah hati memohon kepada Paus untuk mendapatkan jawaban demi kebaikan Gereja. Selain itu juga ada permohonan dari para teolog dan para sarjana di seluruh dunia, dan puluhan ribu umat awam dan rohaniwan yang tetap setia kepada ajaran Kristus, tetapi Bapa Suci dengan tegas menolak untuk menjawab. Pada tanggal 25 April 2017, ke empat orang Kardinal itu secara resmi meminta Paus untuk mengadakan pertemuan pribadi untuk membahas masalah ini, tetapi setelah tidak juga menerima balasan dari paus, mereka merilis surat mereka pada 19 Juni 2017.

Wawancara dengan Scalfari: 'Pemusnahan' jiwa, bukan neraka?
Pada Maret 2015 dalam sebuah wawancara dengan pendiri La Repubblica, Eugenio Scalfari, seorang wartawan atheis, Paus mengatakan bahwa tidak ada orang yang masuk neraka, dan dia mengatakan adanya pemusnahan bagi jiwa mereka yang sepenuhnya menolak Tuhan. Artikel itu mengatakan: “Apa yang terjadi pada jiwa yang sesat itu? Apakah ia akan dihukum? Dan bagaimana? Tanggapan Francis sangat jelas: tidak ada hukuman atas jiwa, tetapi pemusnahan jiwa itu."

Ada beberapa kontroversi atas wawancara Scalfari dari media Repubblica ini. Namun Vatikan tidak mau membenarkan ataupun menolak isinya, khususnya pada di bagian-bagian yang spesifik, justru pihak-pihak di Vatikan tetap mempublikasikannya di dalam surat kabar Vatikan, dan di dalam situs resmi Vatikan. Beberapa waktu kemudian mereka menghapusnya dari situs web, hanya untuk menerbitkannya kembali, lalu menghapusnya lagi. Para pengamat Vatikan membandingkan bagian yang paling kontroversial mengenai ketidakmungkinan orang untuk masuk ke dalam neraka selama-lamanya, dengan pernyataan dari peringatan terbaru Paus Francis di dalam Amoris Laetitia, di mana dia berkata, “Tidak seorang pun dapat dihukum selamanya, karena itu bukanlah logika Injil!" (Dengan kata lain: neraka itu tidak ada !!!).

Pukulan terhadap kaum muda tradisional
"Saya selalu mencoba memahami apa yang ada di balik pikiran orang-orang yang terlalu muda untuk mengalami liturgi pra-konsili (pra-KV II), namun mereka masih menginginkannya," kata Paus dalam wawancara bulan November 2016. "Kadang-kadang saya menemukan diri saya dihadapkan dengan orang yang sangat kolot, dengan sikap kaku. Saya bertanya pada diri sendiri: Mengapa mereka begitu kolot? Galilah, galilah lebih dalam, kekolotan ini selalu menyembunyikan sesuatu, rasa ketidakamanan atau bahkan sesuatu yang lain. Kekolotan adalah sebuah sikap defensif. Kasih yang sejati tidaklah kaku seperti itu."

Dia juga berbicara hal yang sama pada bulan Mei 2017 ketika dalam sebuah homili dia berkata “… ada banyak orang muda di dalam Gereja saat ini yang telah jatuh ke dalam sikap kekolotan.” Berbicara tentang mereka yang 'kolot dan tidak tulus, dia berkata, “Mereka adalah orang-orang kolot yang menjalani kehidupan ganda: Mereka membuat diri mereka terlihat baik, tulus, tetapi ketika tidak ada yang melihat mereka, mereka melakukan hal-hal buruk.”

Kerusakan menyeluruh
Dalam bukunya, Exhortation Evangeli Gaudium tahun 2013, Paus Fransiskus menyerukan dilakukannya “perubahan kepausan” dan menyatakan perlunya memberikan konferensi-konferensi episkopal mengenai “otoritas doktrinal yang sejati.”

Desentralisasi adalah tuntutan utama para rohaniwan heterodoks (liberal) di dalam Gereja. Selama Sinode tentang Keluarga 2015, Paus Fransiskus mengatakan dia “merasa perlu untuk melanjutkan “desentralisasi kekuasaan yang sehat” kepada “Konferensi Episkopal.” Dia mendiskusikan rencana untuk desentralisasi dengan College of Cardinals-nya pada bulan Desember 2015 dan lagi pada bulan Juni 2017. Pada tahun 2016, Paus Francis menyarankan desentralisasi sebagai cara untuk maju dalam perdebatan tentang pemberian Komuni bagi para pezina.

Pemecatan kepala urusan doktrin Vatikan
Kardinal Gerhard Muller, kepala Kongregasi untuk Ajaran Iman, usia 69 tahun, diberhentikan dari jabatannya meskipun semua pendahulunya masih menjabat di kantor yang sama sampai mereka pensiun. Beberapa Kardinal telah menyarankan kepada Paus Francis untuk menyingkirkan Muller, yang gigih mempertahankan ortodoksi doktrinal karena dia menentang agenda Paus untuk melakukan perubahan. Muller mengungkapkan bahwa Paus memecatnya melalui percakapan selama satu menit. Langkah ini secara luas dianggap sebagai hukuman karena dia menentang agenda Paus.

Hari Pemuda se dunia yang penuh muatan sex
Pada Hari Pemuda Sedunia tahun 2016, Vatikan mengeluarkan program sex bagi remaja dengan mengabaikan peran utama orang tua dalam hal-hal seperti itu, bahkan Vatikan sama sekali tidak menyebutkan dosa berat, dimana disitu dipamerkan juga foto-foto dan film-film yang berbau seksual melulu.

Pidato yang tergolong X-rated
Martabat kepausan terpukul ketika Paus Fransiskus menggunakan istilah-istilah kontroversial coprophilia (suka akan kotoran) dan coprophagia (suka makan kotoran) untuk menuduh media-media yang melaporkan berbagai skandal di dalam Gereja.


Yayo Grassi bersama pasangan homosexnya berpelukan dengan Paus

Ketika dubes Vatikan untuk Amerika Serikat mengundang pahlawan pro-keluarga, Kim Davis, untuk bertemu dengan Paus Francis selama kunjungan paus Amerika Serikat, Davis tidak diijinkan untuk mengambil foto dari pertemuan tersebut. Ketika media bertanya kepada Vatikan tentang pertemuan itu, pertama-tama Vatikan menolak untuk mengkonfirmasi, dan setelah beberapa waktu kemudian Vatikan mengatakan bahwa "satu-satunya tamu yang diijinkan oleh Paus di kedutaan Vatikan adalah seorang mantan muridnya dan keluarganya." Mantan murid Paus, Yayo Grassi, berada di sana bersama saudara perempuan dan ibunya serta pasangan homoseksualnya. Mereka tidak hanya mengambil foto tetapi juga video di mana Paus Fransiskus terlihat memeluk Grassi dan pasangan homoseksualnya.

Virus Zika dan kontrasepsi

Paus Francis ditanya tentang bagaimana "menghindari kehamilan" di daerah yang berisiko penularan virus Zika. Dia menjawab: "Paul VI, pria hebat, dalam situasi sulit di Afrika, dia  mengizinkan para biarawati menggunakan kontrasepsi dalam kasus-kasus perkosaan," katanya. "Di sisi lain, menghindari kehamilan bukanlah sebuah kejahatan mutlak," tambahnya. "Dalam kasus-kasus tertentu, seperti dalam kasus ini, seperti yang saya sebutkan tentang Beato Paulus VI, sudah jelas." Diminta klarifikasi mengenai perkataan paus ini pihak Vatikan menegaskan bahwa Paus Francis menyetujui penggunaan kontrasepsi dan kondom dalam kasus-kasus yang berat. (Ini adalah sebuah kontradiksi dengan ajaran Gereja.)




Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment