Friday, August 9, 2019

GEMBALA YANG SESAT - Bab 7





GEMBALA YANG SESAT
BAGAIMANA PAUS FRANCIS SEDANG MENYESATKAN KAWANANNYA


BAB TUJUH

Sekutu Dan Musuh

Pada 2016, ketika perdebatan tentang Amoris Laetitia semakin intensif, garis-garis perpecahan yang jelas telah terlihat di dalam Gereja Katolik. Para kritikus Paus lebih banyak bicara blak-blakan, dan pembela-pembelanya lebih ketus dalam menanggapi.

Pada bulan Oktober, Insider Vatikan menerbitkan sebuah artikel yang meresahkan oleh jurnalis Italia, Giacomo Galeazzi dan Andrea Tornielli, di bawah tajuk utama yang menghasut: “Katolik yang Anti-Francis tetapi Cinta Putin.” “Serangan terhadap Francis bersifat global,” mereka memperingatkan dengan terengah-engah. Memperlakukan kelompok dan individu dengan ide dan prioritas yang sangat berbeda seolah-olah mereka membentuk front persatuan oposisi terhadap kepausan, para penulis itu menggambarkan siapa pun yang mempertanyakan pernyataan-pernyataan publik oleh Francis bukan sebagai kritik yang loyal tetapi sebagai "musuh."

Galeazzi dan Tornielli adalah wartawan yang dihormati untuk La Stampa dengan sumber-sumber yang kuat dan terpercaya, Tornielli khususnya menikmati akses yang luas kepada orang-orang dalam di Vatikan milik Francis. Sementara mereka tidak biasa cenderung berbicara pada sensasionalisme, maka tuduhan bahwa para pengkritik paus lebih mendukung orang kuat Rusia daripada Vikaris Kristus, mungkin mencerminkan apa yang mereka dengar dari kontak mereka di dalam Vatikan. Jika demikian, maka beberapa orang di sekitar Francis menjadi percaya bahwa paus adalah target dari sebuah konspirasi pemula. Setelah mengadopsi gaya paranoid, mereka melihat musuh di mana pun berada melakukan perlawanan terhadap agenda mereka. Atau lebih buruk lagi, mereka hanya merasa berguna, untuk tujuan Machiavellian mereka sendiri, untuk menyiarkan teori konspirasi.

Francis, tentu saja, memiliki para pengkritiknya, seperti halnya tokoh masyarakat lainnya, tetapi artikel the Vatican Insider (Orang Dalam Vatikan) tidak bisa mengenali siapa saja mereka itu. Analisis semacam itu mengabaikan beberapa perbedaan tidak hanya dalam sikap mereka (beberapa ada yang bersikap keras dan bermusuhan, yang lain bersikap hati-hati dan tetap menghormati), tetapi juga dalam resep-resep mereka, yang seakan telah runtuh di bawah beratnya sendiri. Setelah menyampaikan adanya sebuah konspirasi, Galeazzi dan Tornielli mengutip sosiolog Massimo Introvigne yang mengatakan bahwa upaya melawan Francis "tidak berhasil karena mereka tidak disatukan." Memang, tidak. Seseorang yang khawatir tentang konsekuensi pastoral Amoris Laetitia tidak akan mungkin menolak sikap atau keputusan KV II tentang kebebasan beragama. Seseorang yang memiliki keraguan tentang kebijakan perbatasan negara yang terbuka, tidak perlu terlalu lama untuk merindukan kembalinya Benediktus XVI. Konspirasi ada di benak Galeazzi dan Tornielli — dan mungkin juga berasal dari sumber-sumber mereka di dalam Vatikan.

Entri yang paling aneh dalam daftar "musuh" kepausan yang diidentifikasi oleh Orang Dalam Vatikan mungkin adalah umat Katolik Cina yang khawatir tentang keadaan negosiasi antara Vatikan dan Beijing. Negosiasi itu (antara Vatikan dan Cina) dirancang, dari sudut pandang Vatikan, untuk mengakhiri perpecahan Gereja di Cina, antara Gereja "resmi" yang diakui oleh pemerintah dan Gereja "bawah tanah" yang tidak menikmati perlindungan hukum dan tunduk pada pembatasan dan ancaman oleh pemerintah. (Dalam prakteknya garis antara kedua kelompok itu sering kabur, tetapi pembagian itu memang nyata.) Sulit untuk melihat bagaimana umat Katolik Cina ini dapat dianggap sebagai "musuh" Bapa Suci, karena Francis hanya membuat beberapa komentar yang sangat hati-hati tentang negosiasi yang dilakukannya dengan pemerintah Cina. Namun demikian, ada seseorang di dalam Vatikan tampaknya tidak merasa senang.

Negosiasi Vatikan dengan Cina dirahasiakan, dan tidak ada sikap resmi yang diumumkan kecuali dalam istilah-istilah yang paling umum. Mengapa upaya mendesak para negosiator untuk memperhatikan keprihatinan umat Katolik Cina yang telah sangat menderita karena iman mereka, dipandang sebagai tanda penentangan, kecuali jika para negosiator itu siap untuk menjual kepentingan Gereja bawah tanah? Dan mengapa kehati-hatian seperti itu dipandang sebagai penentangan terhadap paus, yang belum berbicara mengenai masalah ini dan agaknya tidak diberikan perjanjian untuk menyetujui atau menolak, kecuali para negosiator membungkus diri mereka sendiri dalam jubah otoritas kepausan?

Pastor Bernardo Cervellera, direktur pelayanan the Church's AsiaNews, yang telah bekerja melayani di Cina sebelum dinyatakan sebagai persona non grata di sana, muncul dalam daftar musuh Orang Dalam Vatikan. Menanggapi dengan esainya sendiri, “The ‘Enemies’ of Pope Francis,” dia membela perhatian bahwa agensinya telah membayar kepada umat Katolik yang bertindak di luar hukum di Tiongkok:

Jika saya adalah paus Francis, saya akan menghargai para Kardinal saya yang memberi tahu saya tentang masalah yang dialami orang-orang Kristiani di Cina. . . yang sangat banyak dipinggirkan, sebagai wajah Kristus yang menderita, yang merupakan bagian dari kawanan domba saya dimana bagi mereka saya harus memberikan hidup saya. . . . Namun sayangnya, paus Francis hanya memiliki sedikit sekali teman sekaliber ini.

Paus, kata Pastor Cervellera, “tidak membutuhkan para pembela yang terbuka.” Dia juga sangat tidak membutuhkan para pendukung yang akan menolak semua kritikus yang bersikap bermusuhan dan menganggap semua keberatan tentang pernyataan dan inisiatif kepausan dimotivasi oleh permusuhan. Pastor Cervellera menulis sebagai kesimpulan keras untuk membela dirinya, “Anda juga dapat mengkhianati seseorang yang terlalu banyak bertepuk tangan bagi Anda.”


Mafia St. Gallen

Setiap pemimpin yang kuat di lembaga mana pun, memiliki risiko atau bahaya bahwa dirinya akan menjadi tawanan dari Praetorian Guard-nya sendiri (pengawal kepercayaan), asisten terpercaya yang hanya memberi tahu apa yang ingin dia dengar (atau apa yang mereka ingin dia dengar) dan menyingkirkan semua suara sumbang. Bagi Francis, resiko atau bahaya itu tampaknya muncul bahkan sebelum pemilihannya.

Akhir tahun 2015, dalam biografi resmi tentang kardinal Godfried Danneels, dari Belgia, Jürgen Mettepenningen dan Karim Schelkens mengungkapkan dalam karya mereka bahwa komplotan kardinal "progresif" telah mulai bermanuver untuk pemilihan Jorge Bergoglio jauh sebelum konklaf 2013. Kelompok ini telah terbentuk beberapa tahun sebelumnya, selama masa kepausan Yohanes Paulus II, untuk membahas bagaimana melawan apa yang mereka lihat sebagai pengaruh yang tidak sehat dari Kardinal Joseph Ratzinger. Bersama kardinal Danneels, kelompok itu termasuk almarhum Carlo Martini dari Milan, bekas orang dalam Vatikan, Achille Silvestrini, Cormac Murphy-O'Connor Inggris, dan dua orang Jerman Karl Lehmann dan Walter Kasper.

Setelah mempublikasikan biografinya, Danneels menyebut kelompok ini sebagai sebuah "klub mafia," sebuah pilihan kata-kata yang tidak bijaksana yang mengesankan klub itu sebagai konspirasi jahat, bukannya pertemuan sederhana para uskup yang berpikiran sama. Tetapi para penulis biografi itu melangkah lebih jauh dan melaporkan bahwa anggota kelompok – yang dijuluki sebagai "mafia St. Gallen”ini, nama yang merujuk pada sebuah kota di Swiss tempat mereka secara rutin bertemu — telah bekerja melawan Kardinal Ratzinger selama konklaf 2005 dan, setelah kegagalan mereka menghentikan pemilihan Ratzinger, mereka mulai merencanakan kampanye untuk memilih Bergoglio pada konklaf berikutnya.

Jika laporan itu akurat, itu akan menjadi skandal besar. Aturan konklaf kepausan termasuk perintah moral yang tegas menolak adanya lobi-lobi, dan Yohanes Paulus II telah menetapkan hukuman ekskomunikasi bagi setiap uskup yang berusaha mempengaruhi pemilihan kardinal lainnya. Ketika implikasi dari laporan itu ditunjukkan, Mettepenningen dan Schelkens mundur, mengatakan bahwa niat mereka telah disalahpahami. Mafia St. Gallen tidak membentuk blok lobi selama konklaf 2005, kata mereka sekarang, dan tak lama setelah pemilihan Benediktus XVI, kelompok itu telah menghentikan pertemuan mereka.

Tetapi jika versi cerita ini akurat, itu benar-benar bukanlah cerita sama sekali. Pertemuan beberapa orang kardinal untuk membahas keprihatinan mereka tentang urusan Vatikan akan menjadi peristiwa sehari-hari. Mengapa kedua penulis itu mau repot-repot menyebutkannya? Mengapa Danneels membuat referensi aneh, dengan ringan hati, kepada "klub mafia"? Para penulis biografi itu telah bekerja sama dengan Danneels, yang kehadirannya di pesta peluncuran bukunya telah menandakan persetujuannya atas karya tersebut. Jadi, sepertinya tidak mungkin bahwa penulis sepenuhnya keliru tentang sifat dan tujuan dari kelompok St. Gallen.

Kemudian lebih banyak bahan bakar ditambahkan kepada api. Dalam biografi Francis, Austen Ivereigh menulis bahwa Kardinal Murphy-O'Connor, yang pernah menjadi penasihat dekat Ivereigh, telah diminta oleh para kardinal “progresif” untuk mendukung Bergoglio serta rencana untuk mempromosikan pencalonannya pada konklaf 2013. Murphy-O'Connor, yang saat itu berusia di atas delapan puluh dan dengan demikian tidak memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam pemilihan kepausan, mendekati kardinal Argentina itu sebelum konklaf dan menjanjikan persetujuannya untuk mendukung rencana tersebut. Seperti yang dilaporkan Ivereigh:

Jika dia mau, dia mengatakan bahwa dia percaya bahwa pada saat krisis di dalam Gereja ini, tidak ada kardinal yang bisa menolak jika diminta. Murphy-O'Connor dengan sadar memperingatkannya untuk "berhati-hati," dan sekarang gilirannya, dan diberi tahu "capisco" - "Saya mengerti."

Pernyataan "Capisco" itu mengacu kepada kemungkinan bahwa Bergoglio menyadari ada suatu langkah yang sedang dilakukan untuk mempromosikan pemilihan dirinya dan menyetujui kampanye itu — yang, sekali lagi, akan menjadi pelanggaran berat terhadap aturan hukum kanon yang mengatur pemilihan kepausan. Dan meskipun kampanye itu mungkin tidak diorganisir oleh mafia St. Gallen, para pemeran tokoh — para wali gereja Eropa yang “progresif” yang diwakili oleh Kardinal Murphy-O'Connor — tampak sangat mirip sikapnya. Dengan persetujuan satu kata, Kardinal Bergoglio tampaknya menempatkan dirinya di tangan para konspirator, dan menunjukkan bahwa dia siap untuk bertindak di bawah arahan mereka.

Seorang uskup senior lainnya berbicara secara terbuka tentang keterlibatannya dalam kampanye mafia St. Gallen. Kardinal Theodore McCarrick, pensiunan uskup agung Washington, D.C., yang juga terlalu tua untuk berpartisipasi dalam konklaf 2013, tetapi dia bertemu dengan para kardinal lainnya di “sidang umum” yang mendahului pemilihan paus. Dalam sebuah pidato yang cukup mengejutkan, dia berkata terus terang ​​kepada para siswa di Universitas Villanova pada Oktober 2013, dimana kardinal tua itu menceritakan segala persiapan untuk pemilihan paus.

“Sebelum konklaf, tidak ada orang yang mengira bahwa ada peluang bagi Bergoglio,” McCarrick memberi tahu kepada para mahasiswa yang hadir. Tetapi kemudian pada suatu malam dia menerima kunjungan dari ”seorang pria Italia yang sangat menarik dan berpengaruh,” yang meminta bantuannya. Tamu misterius itu sangat memuji Bergoglio, mengatakan bahwa kardinal Argentina itu akan membawa reformasi kedalam Gereja, dan mendesak McCarrick: “Bicaralah dengannya.” Ketika dia menceritakan kisah yang menarik ini kepada audiens Villanova, McCarrick mengatakan bahwa dia telah memberikan jawaban yang tidak mengikat. Namun, ketika gilirannya tiba untuk berbicara kepada sidang umum, dia mendesak pemilihan seorang kardinal dari Amerika Latin (untuk menjadi paus).

Mungkin tidak ada konspirasi aktif atau kampanye terlarang untuk pemilihan Bergoglio. Mungkin tiga kardinal yang berbeda — Danneels, Murphy-O'Connor, dan McCarrick — membesar-besarkan peran mereka sendiri dalam proses demi menciptakan cerita yang bagus. Tetapi bisa ada sedikit keraguan bahwa sekelompok uskup liberal melihat seorang kardinal Argentina sebagai harapan terbaik mereka untuk melakukan perubahan-perubahan di dalam Gereja. Mereka mendorong pencalonan Bergoglio, dan paus baru nanti, orang luar yang sekarang ditempatkan di posisi teratas di Vatikan, cukup dimengerti akan cenderung untuk mencari nasihat kepada orang-orang yang sama. Sebelum pemilihannya, Bergoglio, sosok yang tidak dikenal di Roma, belum diidentifikasi sebagai pemimpin blok progresif di Kolese para Kardinal. Sekarang, dia muncul dari konklaf sebagai paus Roma, dan seiring waktu berlalu semakin jelas bahwa dia bermaksud untuk melaksanakan program yang disukai oleh para uskup yang mempromosikan pemilihannya.


Intoleransi Terhadap Kritik

Jika paus yang baru terpilih melihat anggota mafia St. Gallen sebagai sekutu alaminya, maka dia juga dapat dengan mudah dibujuk untuk melihat saingan mafia St. Gallen di dalam Kuria Romawi sebagai saingannya juga. Dalam beberapa bulan setelah pemilihannya, Francis telah memindahkan Kardinal Mauro Piacenza dari jabatannya sebagai prefek Kongregasi Klerus, dan menjadikannya kepala Lembaga Apostolic Penitentiary, di mana dia akan memiliki pengaruh yang lebih kecil. Kardinal Raymond Burke, seorang pembela tradisi yang blak-blakan yang akan menjadi pemain kunci dalam presentasi dubia, telah dikeluarkan dari Kongregasi Para Uskup — badan yang merekomendasikan penugasan keuskupan di seluruh dunia — dan kemudian diberhentikan dari jabatannya sebagai prefek Signatura Apostolik. Kardinal Amerika itu diberi peran seremonial sebagai pastor untuk para Ksatria Malta — dan kemudian, berbulan-bulan kemudian, bahkan tugas itu dilucuti dari otoritas kecil yang dimiliki sebelumnya.

Piacenza dan Burke setidaknya mempertahankan peringkat mereka sebagai kardinal. Di luar Roma, para uskup lainnya telah digusur sama sekali. Dalam waktu delapan belas bulan sejak kedatangannya ke Tahta Petrus, Francis telah menerima pengunduran diri Uskup Rogelio Livieres Plano di Paraguay, Mario Oliveri di Italia, Franz-Peter Tebartz-van Elst di Jerman, dan Robert Finn di Amerika Serikat. Masing-masing uskup ini mengundurkan diri di bawah tekanan, setelah mereka dituduh melakukan kesalahan pribadi atau penyimpangan administratif. Tetapi apakah ini suatu kebetulan bahwa mereka semua dianggap sebagai kaum konservatif? John Allen dari Crux memperhatikan adanya ketidakseimbangan ideologis dalam daftar uskup yang digulingkan itu. Dalam sebuah kolom dengan judul provokatif "Apakah Paus Fransiskus memiliki daftar musuh?" dia berkomentar bahwa bahkan jika paus hanya menegakkan disiplin Gereja tanpa memperhatikan pandangan para uskup yang muncul dalam bidikannya, mungkin lebih bijak untuk memberikan sebuah penjelasan atas pemberhentian mereka. "Jika tidak, risikonya adalah bahwa sebagian besar Gereja dapat menyimpulkan bahwa jika paus melihat mereka sebagai musuh, tidak ada alasan kuat mengapa mereka pun tidak melihat paus dengan cara yang sama: sebagai musuh."

Anehnya, banyak rekan Bergoglio dalam ordo Jesuit juga memandangnya sebagai musuh. Dia tidak populer sebagai provinsial Yesuit di Argentina, dan dia dipandang bertindak sewenang-wenang dan otoriter terhadap kritik yang dia sendiri akui sah-sah saja. Setelah masa jabatannya sebagai provinsial, dia diberi tugas rutin — secara efektif dikirim ke pengasingan institusional — hingga 1992, ketika Kardinal Antonio Quarracino dari Buenos Aires mengatur agar dia diangkat menjadi uskup auksilier. Setelah dia menjadi kardinal dan melakukan perjalanan ke Roma secara teratur untuk menghadiri berbagai pertemuan, Bergoglio menghabiskan sedikit waktu di markas Jesuit. Keputusannya untuk memakai nama Francis pada pemilihannya sebagai paus, seolah dia  berbicara sebagai seorang Fransiskan, bukannya membela kepekaan ordo Jesuit.

Namun, dalam jabatan kepausan, Francis segera menyelimuti dirinya dengan para pembantu Jesuit, terutama Antonio Spadaro. Mungkin dia merasa perlu membangun aliansi strategis untuk melaksanakan program reformasi yang dia (dan pendukungnya St. Gallen) anggap sebagai tujuan dari kepausannya. Dia mulai sering bertemu Pastor Adolfo Nicolas, yang hingga 2017 adalah superior jenderal Jesuit, dan dia memulai sebuah program yang pasti akan menyenangkan mayoritas yang condong ke arah kiri dalam the Society of Jesus.

Untuk seorang paus yang tunduk kepada perubahan, maka para Jesuit akan menjadi benteng pertahanannya. Dan Francis sangat ingin perubahan. Pastor Nicolas mengenang bahwa dalam sebuah pembicaraan tentang kemungkinan pengunduran diri paus yang lain, Francis mengatakan kepadanya, “Saya meminta kepada Tuhan yang baik untuk memanggil saya begitu laju perubahan itu sudah tidak dapat dibalikkan.” Perlawanan terhadap agenda semacam itu tentu tidak bisa dihindari, tetapi Nicholas mencatat bahwa “bagi saya, jelas bahwa kritik-kritik itu tidak bisa mengganggunya."

Namun seiring berjalannya waktu, Francis menjadi semakin keras, bahkan menghina, dalam ucapan-ucapannya di depan umum. Dalam homilinya pada sebuah Misa harian, dia mencela “orang-orang Parisi,” “para doktor hukum,” dan semua yang bersikap “kaku” dalam penafsiran mereka tentang ajaran Gereja. Dalam bahasa yang tidak pernah diharapkan seorang pun dari seorang Paus Roma, dia mencela "uskup karier," "sourpuss," "imam yang menyemburkan berhala," "pengadu moralistik," dan "orang yang tanpa pengetahuan: penghancur nyata." Beberapa anggota kawanan, menjadi jelas, khususnya yang berada di bawah kulit kepausan — sebagai orang “Kristen yang dibintangi,” “gelembung Kristen,” “orang Kristen pemakaman yang berwajah panjang dan sedih,” dan “Kristen parrot.” Dalam sebuah teguran yang keras, dia menuduh para jurnalis yang melaporkan konflik dan skandal dalam Gereja sebagai "coprophilia" ("ketertarikan abnormal terhadap masalah kotoran"). Jarang sekali paus mengidentifikasi orang yang menjadi sasaran kemarahannya dengan menyebut namanya, tetapi dari frekuensi serangannya terhadap orang-orang Kristen yang “kaku”, tampak jelas bahwa dia berbicara tentang mereka yang tidak mau menerima ajakannya untuk melakukan perubahan di dalam Gereja.

Penggambaran Injil tentang konfrontasi Kristus yang sering terjadi dengan orang-orang Parisi dan ahli hukum Taurat membuat hal itu menjadi buah bibir di kalangan umat Kristiani untuk menyebut mereka sebagai legalisme yang munafik, tetapi mereka tetap merupakan tokoh penting dalam tradisi Yahudi. Kebiasaan Francis untuk menggunakan istilah yang meremehkan "orang Parisi" dan "ahli hukum Taurat" akhirnya mengundang protes keras dari seorang rabbi Italia, Giuseppe Laras, yang mengeluh bahwa istilah itu meremehkan iman Yahudi dan mencerminkan pengaruh Marcionisme, bidaah abad kedua yang menolak Perjanjian Lama dan menyangkal bahwa Allah yang keras dari orang-orang Ibrani adalah Tuhan yang sama dengan Allah yang penuh belas kasihan dari Perjanjian Baru. Mengamati bahwa sejak Vatikan II, berbagai pernyataan resmi Gereja telah mencerminkan apresiasi yang besar terhadap warisan Yudaisme, maka Laras berseru, “Sayang sekali bahwa mereka harus dikontradiksikan setiap hari oleh berbagai homili paus Francis!”

Tidak ada yang mengatakan bahwa Francis sebenarnya adalah anti-Semit, tetapi karena dia tidak pernah mengidentifikasi target tuduhannya, banyak orang mengira dia berbicara tentang anti-Semit dan dia melawan. Francis telah mengembangkan gaya yang aneh, hingga dia muncul sebagai bahan omelan orang banyak. Retorikanya sangat bertentangan dengan pernyataan publiknya tentang perlunya "mendampingi" orang berdosa, untuk mentolerir perbedaan pendapat, untuk menjangkau para pengikut baru. Dalam khotbahnya sendiri, dia berkata kasar terhadap para pendengarnya, lebih banyak mencela dari pada membesarkan hati.

Dalam sebuah homili yang berkesan, disampaikan pada Mei 2017, Francis berpendapat bahwa perhatian yang berlebihan terhadap doktrin adalah tanda dari ideologi, bukan iman. Dengan merenungkan bacaan Alkitab hari itu, dari Kisah Para Rasul, yang menceritakan perdebatan dalam menegakkan Hukum Musa tentang orang Kristen bukan Yahudi, paus mengatakan bahwa "kebebasan Roh" telah memimpin para murid untuk membuat kesepakatan. Namun perselisihan itu, katanya, disebabkan oleh “kecemburuan, perebutan kekuasaan, tipu daya tertentu, yang ingin mendapat untung dan membeli kekuasaan,” godaan yang harus selalu dijaga oleh Gereja.

Para murid Yesus yang bersikeras menegakkan Hukum Musa, kata paus, adalah "fanatik." Mereka "bukanlah orang yang beriman; mereka telah dijejali dengan ideologi.” Dengan demikian, tampaknya Francis berpendapat bahwa para pemimpin Gereja awali yang tidak setuju dengan St. Paul tentang penegakan Hukum Musa — termasuk St. Yakobus dan, di hadapan Konsili Yerusalem, yang menyelesaikan pertanyaan itu, nampak bahwa St. Petrus sendiri “bukanlah orang yang beriman.” Catatan Alkitab tentang konsili itu tidak memberi bukti bahwa mereka yang bertolak belakang dengan pertanyaan itu memberikan penilaian yang keras terhadap satu sama lain. Mereka bertemu, berdebat keras tentang suatu hal yang belum jelas, dan dengan bantuan Roh Kudus mereka mencapai keputusan yang menyelesaikan perbedaan mereka. Francis mengakui bahwa adalah “tugas Gereja untuk mengklarifikasi doktrin,” seperti yang dilakukan para rasul dalam Konsili Yerusalem. Tetapi dia tidak mengakui bahwa para pengkritiknya di dalam hierarki menyerukan klarifikasi yang sama sehubungan dengan pengajaran kepausan Amoris Laetitia tentang pernikahan dan Ekaristi. 


Kepribadian Yang Bermasalah?

Selama kunjungannya ke Amerika Serikat pada tahun 2015, dalam pidatonya di hadapan para uskup di negara itu, Paus Francis berkata:

Bahasa yang keras dan memecah belah tidak cocok dengan lidah seorang pastor, hal itu tidak memiliki tempat di hatinya; meskipun tampaknya untuk sesaat hal itu seolah menang, hanya kebaikan dan kasih yang abadi yang akan benar-benar meyakinkan.

Kalimat itu merangkum nasihat yang konsisten dari Francis kepada para pemimpin Gereja: permohonan belas kasih, toleransi, kesediaan untuk mendengarkan, dan keengganan untuk menghakimi. Dan persepsi yang populer adalah bahwa paus Francis hanyalah wali gereja semacam itu: baik hati, bersuara lembut, suka berbicara, menyatukan daripada memecah belah. Namun, bahkan pembacaan sepintas tentang homili harian Paus mengungkapkan retorika yang keras, teguran yang menyengat, dan pengaduan kemarahan seperti yang belum pernah kita dengar dari para Paus Roma selama beberapa generasi sebelumnya.

Apakah khotbah semacam ini, dengan penekanannya kepada hal-hal yang negatif dan sikap intoleransi terhadap oposisi, merupakan tanda dari kepribadian yang bermasalah atau setidaknya, melewati batas? Francis telah mengakui kepada beberapa orang yang melakukan wawancara dengannya bahwa pada dasarnya dia memang impulsif. Dan gaya manajemennya menegaskan penilaian itu. Dalam momen keterusterangan yang jarang terjadi, mantan juru bicara paus, Pastor Federico Lombardi, mengakui masalah itu pada Juli 2015. "Tidak ada orang yang bisa tahu semua apa yang dia lakukan," kata Lombardi. “Sekretaris pribadinya bahkan tidak tahu. Saya bisa mengatakan: Satu orang tahu satu bagian dari jadwalnya, dan orang yang lain tahu bagian lainnya.” Dengan kata lain, tidak ada pengaturan yang jelas dari jadwal kepausannya. Francis selalu menimbulkan kebingungan, jika bukan dikatakan sebagai kekacauan, kepada para stafnya. Bagaimana ini bisa dijelaskan? Apakah itu merupakan bukti dari gangguan kepribadian paus Francis? Atau apakah dia mendapati dirinya keluar dari kedalaman pribadinya? Hipotesa yang terakhir mungkin membantu menjelaskan mengapa paus Francis sangat bergantung pada lingkaran sekutu-sekutu tepercaya sambil menunjukkan toleransinya yang semakin berkurang terhadap kritik yang jelas, nyata dan terus terang.

Sejak awal masa kepausannya, Francis tidak menunjukkan kesabaran terhadap para pejabat Kuria Roma yang mempertanyakan kebijakannya. Ketika ketegangan meningkat, maka semangat kerja merosot di kantor Vatikan. Laporan-laporan yang beredar di media Italia — terlalu banyak untuk diabaikan — tentang anggota staf yang dipanggil di hadapan paus untuk ditegur karena komentar yang tidak dijaga dalam percakapan pribadi. Paus menuntut pemecatan langsung tiga orang klerus pada staf Kongregasi untuk Ajaran Iman, dan dengan marah dia menolak untuk memberikan penjelasan dan bersikeras bahwa dia memiliki wewenang untuk menegakkan kepatuhan. Para psikolog secara diam-diam mulai berspekulasi bahwa keributan yang sering ditunjukkan paus Francis menunjukkan adanya keresahan pribadi.

Bahkan ketika Francis mengecam para pengkritiknya, dia mengatakan kepada pewawancara bahwa dirinya sama sekali tidak terganggu oleh kritikan — dan dia menyambut adanya ketidaksepakatan yang jujur. Di sini juga, kontras antara tindakan paus dan pernyataan publiknya menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah dia menolak untuk mengakui kenyataan dari situasinya? Apakah dia masuk kedalam gaya otoriter yang telah menandai masa jabatannya dahulu sebagai provinsial Yesuit? Apakah dia hidup dengan membawa ketegangan khusus tentang perannya sebagai penerus St. Peter — atau mungkin dia terlibat dengan konflik yang berlangsung lebih lama sebelumnya?

Dalam sebuah wawancara panjang yang diterbitkan pada bulan September 2017, Francis mengungkapkan kepada sosiolog Prancis, Dominique Wolton, bahwa setiap minggu dia telah menemui seorang psikoanalis, selama enam bulan, ketika dia berusia empat puluh dua tahun. Sesi-sesi pertemuan itu telah "banyak membantu saya pada suatu saat dalam hidup saya," kata paus, dan menambahkan bahwa pada saat itu dia "perlu mengklarifikasi berbagai hal." Mungkin tidak mengherankan, sesi-sesi konsultasi dengan psikoanalis itu berlangsung menjelang akhir masa kesulitannya sebagai provinsial Jesuit di Argentina. Francis mengatakan kepada Wolton bahwa dia tidak lagi menderita kecemasan yang membuatnya mencari bantuan konsultasi, tetapi dia mengatakan bahwa dia menolak untuk tinggal di istana apostolik "karena alasan kejiwaan." Dia mengatakan kepada pewawancara: "Saya tidak bisa hidup sendiri, apakah kamu mengerti?"

Sebagai seorang imam muda, pastor Bergoglio sangat senang dengan umat Katolik yang saleh. Tetapi dua keponakannya bersaksi bahwa ketika mereka masih sangat muda, paman mereka, Jorge, telah mendorong mereka untuk menggunakan kata-kata kotor, untuk menyusahkan orang tua mereka. Saudara perempuannya ingat bahwa suatu ketika, ketika pastor Bergoglio sedang berkhotbah di dalam Misa, keponakan kecilnya mengucapkan “kata yang sangat buruk,” dan paus masa depan itu, Bergoglio, “tidak bisa berhenti tertawa.”

Mungkin insiden-insiden itu dapat dilupakan dengan alasan hal itu sebagai kenakalan anak muda, tetapi Bergoglio saat itu benar-benar telah dewasa — bahkan, dia adalah Vikaris Kristus — ketika dia melemahkan semangat seorang anak laki lain dalam perbuatan kesalehan. Matthew Schmitz menceritakan kejadian itu untuk media First Things:

Dia melakukan kunjungan ke gua-gua di Vatikan, di mana makam para pendahulunya, orang kudus maupun bidaah, Petrus dan Honorius, diletakkan. Dengan kamera terus merekam, dia berhenti untuk menyambut para pengunjung tempat itu yang sudah menunggu antre di pintu masuk. Di situ dia memperhatikan seorang putra altar yang tangannya dalam posisi mengatup di depan dada dengan sikap hormat. Francis mulai menggodanya, “Apakah tanganmu terikat? Sepertinya tanganmu terikat erat satu sama lain," katanya sambil memisahkan tangan itu. Ketika Francis turun ke makam, bocah itu mengembalikan tangannya kepada sikap mengatup dan hormat seperti semula.

Mungkinkah ada beberapa konflik internal yang bisa menjelaskan sikap intoleransi Francis terhadap kritik dan ketidaksabarannya terhadap kesalehan? Apakah rasa jijiknya kepada para "doktor hukum" (ahli taurat) bisa meredakan ketegangannya yang tidak pernah terselesaikan dengan hukum Gereja? Satu jawaban potensial untuk pertanyaan-pertanyaan itu, yang cukup menarik, terkait dengan dirinya sebagai paus Yesuit pertama.

Ketika seorang Jesuit melakukan sumpah profesinya yang khusyuk, dia berjanji bahwa dia tidak akan mencari atau menerima jabatan otoritas apa pun di dalam Gereja kecuali dia diperintahkan, di bawah kepatuhan, untuk melakukannya. Sumpah ini, dilembagakan untuk menghilangkan kekhawatiran bahwa Serikat Yesus (Jesuit) merencanakan untuk berkuasa dan mengendalikan, setidaknya sumpah itu merupakan hambatan teoretis bagi setiap Jesuit untuk menerima penunjukan sebagai uskup. Tetapi para Jesuit juga berjanji untuk taat kepada Paus Roma, sehingga ketika paus meminta seorang imam Yesuit untuk menjadi seorang uskup, maka imam itu dapat menerimanya begitu saja bahwa dia dipanggil kepada jabatan itu di bawah kepatuhan. Bagaimanapun, banyak Jesuit, seperti Pastor Bergoglio, telah menerima penunjukan sebagai uskup, mungkin atas dasar itu.

Begitu dia menjadi uskup, maka seorang Jesuit merasa dibebaskan dari sumpah ketaatannya, dan dia tidak lagi bertanggung jawab kepada atasan Jesuit-nya atas keputusannya sebagai uskup. Jadi kardinal Jesuit tidak berkewajiban untuk mengikuti keinginan provinsialnya ketika dia ikut memilih dalam konklaf kepausan. Tetapi posisi Bergoglio sebagai Jesuit yang terpilih pada konklaf sepenuhnya tidak pernah terjadi sebelumnya. Dia bersumpah, bertahun-tahun sebelumnya, bahwa dia tidak akan menerima kenaikan jabatan kecuali di bawah kepatuhan. Sekarang dia ditawari kenaikan jabatan, tetapi karena dia tidak bertanggung jawab lagi kepada atasan Jesuit mana pun dan tidak ada paus yang sedang berkuasa akan memerintahnya, maka dia tidak lagi berada di bawah kepatuhan. Begitulah Francis menyelesaikan teka-teki dengan menerima pemilihan, jelas - mungkin dengan alasan bahwa pemilihan konklaf merupakan indikasi kehendak Tuhan, yang harus dia patuhi. Tetapi mungkinkah ada pertanyaan yang tersisa di benaknya, atau di dalam hati nuraninya, tentang keputusan itu, yang ikut berkontribusi pada ketegangan yang telah dia perlihatkan selama ini?


“USKUP BANDARA” DAN “BAU DOMBA”

Apakah itu adalah gaya administrasi yang aneh atau kekhasan kepribadian yang membuat Francis begitu keras kepada para pengkritiknya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa dia setia kepada sekutu-sekutunya. Bahkan, menjadi jelas bahwa paus ini memilih rekan-rekannya sendiri lebih berdasarkan kesetiaan pribadi daripada ketajaman teologis atau kinerja pastoral mereka. Di antara para uskup yang telah dia pilih sebagai penasihat terdekatnya, beberapa telah memperlihatkan ciri-ciri yang sering dia kecam dalam pernyataan-pernyataan publiknya.

Ambil contoh misalnya, para pemimpin Dewan Kardinal, yang dia dirikan untuk menasihatinya tentang reformasi Vatikan. Orang yang ditunjuk sebagai koordinator kelompok berpengaruh ini adalah kardinal Honduras, Oscar Rodríguez Maradiaga, yang pernah menolak pengaduan terhadap klerus sehubungan dengan tindak pelecehan seksual dan menuduh aduan itu sebagai ciptaan media Amerika — yang menurutnya, dikendalikan secara tidak proporsional oleh kepentingan Yahudi. (Dia kemudian meminta maaf atas pernyataan itu.) Setelah kudeta di Honduras pada tahun 2009, Maradiaga menyulut perpecahan di dalam Gereja dengan secara vokal mendukung rezim baru — “lembaga-lembaga demokrasi telah tiba,” dan dia menyatakan — bahkan ketika Organisasi Negara-negara Amerika memberlakukan sanksi terhadap negara itu, dan para pemimpin ordo Dominikan dan Yesuit di Honduras setuju bahwa kudeta itu tidak konstitusional.

Kardinal Maradiaga belumlah menjadi pastor yang sukses di tempat asalnya. Ketika dia diangkat menjadi uskup agung Tegucigalpa pada tahun 1993, lebih dari 75 persen penduduk Honduras beragama Katolik. Saat ini umat Katolik disana kurang dari 50 persen dari populasi. Dengan tingkat kejahatan kekerasan kira-kira sepuluh kali lipat dari Chicago dan lima kali lipat dari Republik Demokratik Kongo dan Republik Afrika Tengah (dua negara yang selalu berada dalam cengkeraman perang saudara), Honduras adalah negara yang sangat membutuhkan kepemimpinan spiritual. Namun Maradiaga telah menjadi lambang "uskup bandara" yang dikecam Francis, karena dia sering terbang ke seluruh dunia untuk menyampaikan pidato daripada memelihara kawanannya.

Ditempatkan sebagai kepala pusat kekuasaan baru di Vatikan, Maradiaga dengan cepat menunjukkan kesetiaannya kepada Francis sambil dengan merendahkan orang-orang yang dianggap sebagai penentang agenda paus. Ditanya tentang empat kardinal yang mengajukan dubia, dia menjawab, "Saya pikir, pada awalnya, bahwa mereka belum membaca Amoris Laetitia, sayang sekali, sebab itu (Amoris Laetitia) adalah kebenaran." Dia mengejek keempat kardinal itu sebagai "sudah dalam masa pensiun," dan dia menuduh mereka terlibat dalam "sebuah Parisi-isme baru" dan menganggap "bahwa mereka bertanggung jawab atas doktrin Gereja." Dan dengan kesombongan serta keangkuhan, Maradiaga mengumumkan rencana besar bagi kepausan: "Paus ingin membawa pembaruan Gereja ini: "… ke titik di mana hal itu tidak bisa dirubah."

Uskup Honduras itu menyatakan penghinaannya terhadap para pengkritik paus dengan lebih berani lagi dalam wawancara panjang, yang diterbitkan pada 2017, yang menunjukkan serangan pribadi yang memukau terhadap Kardinal Raymond Burke. Dia menganggap orang Amerika itu sebagai "orang miskin" yang pemikirannya "tidak perlu dikomentari lebih lanjut," dan menunduh Burke telah mengobarkan perbedaan pendapat dengan cara mengajukan pertanyaan tentang Amoris Laetitia. "Apa maksudnya mempublikasikan tulisan-tulisan yang melawan paus?" Maradiaga bertanya, dan dia menghubungkan kekhawatiran Burke dengan ambisi yang tak kesampaian dan kecewa: "Kardinal yang mengusung (dubia) ini adalah orang yang kecewa, karena dia menginginkan kekuasaan dan dia kehilangan kekuasaan itu."

Anggota kunci lainnya dari Dewan Kardinal, Reinhard Marx dari Munich, presiden konferensi para uskup Jerman, seperti halnya Maradiaga, telah ikut memimpin keruntuhan Gereja di keuskupannya sendiri. Populasi Katolik yang dipimpin oleh Marx telah menurun hampir seratus ribu sejak pengangkatannya pada tahun 2007, dan keuskupan agungnya hanya memiliki satu calon imam baru untuk tahbisan imamat pada tahun 2017.

Namun, ada alasan lain yang lebih kuat untuk merasa khawatir akan perspektif Kardinal Marx. “Selalu ada bahaya kebusukan di dalam Gereja,” kata Francis memperingatkan ketika dia mengunjungi para uskup Jerman pada bulan November 2015. “Hal ini terjadi ketika Gereja, alih-alih mengabdikan diri untuk iman kepada Tuhan kita, di dalam Pangeran Damai, di dalam sukacita, di dalam keselamatan, justru Gereja di Jerman didominasi oleh uang dan kekuasaan.” Tidak ada tempat lain di mana Gereja Katolik memiliki begitu banyak uang, begitu banyak kekuatan (apakah ini mengejutkan?) — namun memiliki masa depan yang sangat berbahaya seperti di Jerman.

Francis merindukan "Gereja yang miskin, dan bagi orang yang miskin." Dia tidak akan bisa menemukan Gereja seperti itu di Jerman. Jika seorang warga negara Jerman terdaftar sebagai anggota sebuah kongregasi religius, pemerintah akan memungut “pajak gereja” darinya — sebagai biaya tambahan untuk pajak penghasilan regulernya, yang akan diteruskan ke gereja tempat dia terdaftar. Pajak telah membuat Gereja Katolik di Jerman sangat kaya, tetapi kekayaan itu datang langsung dari pemerintah dan hanya secara tidak langsung dari umat beriman. Maka potensi korupsi — yang membengkokkan kebijakan Gereja untuk memastikan kelancaran dalam berurusan dengan pemerintah — jelas.

Dan untuk mengatakan bahwa dana Gereja datang secara tidak langsung dari "umat beriman" adalah sama dengan menggunakan istilah itu secara longgar. Siapa pun yang terdaftar sebagai anggota gereja, apakah dia pernah muncul atau tidak di Gereja, harus membayar pajak gereja. Oleh karena itu pendapatan Gereja Katolik, tergantung pada jumlah orang Jerman yang terdaftar sebagai orang Katolik. Jika angka itu turun, begitu juga pendapatan Gereja. Karena itu, para uskup selalu memandang curiga pada umat Katolik yang tidak mendaftarkan diri mereka pada gereja setempat. Hirarki Gereja di Jerman bahkan telah bergerak untuk menolak memberikan Sakramen-sakramen kepada umat Katolik yang tidak terdaftar.

Aturan yang memaksa umat beriman di Jerman untuk mendaftar, dan dengan demikian membayar pajak gereja, pada ujungnya dapat bertentangan dengan keinginan para uskup Jerman untuk membentuk sebuah Gereja “yang ramah.” Pada 1960-an, sekitar 50 persen umat Katolik yang terdaftar di negara itu menghadiri Misa pada hari Minggu; namun hari ini angkanya menjadi 10 persen. Ini adalah hasil dari eksodus massal dari bangku-bangku gereja. Dengan pajak gereja yang merayap naik, umat Katolik yang tidak aktif menyadari bahwa mereka dapat menghemat uang dengan mengeluarkan diri mereka dari daftar umat Katolik. Setiap tahun sejak 2012, ada lebih dari seratus ribu umat Katolik Jerman telah mengambil langkah itu.

Meskipun demikian, kekayaan finansial Gereja di Jerman tetap sangat besar. Pajak gereja menghasilkan lebih dari lima miliar euro setiap tahun, dan tren pendapatan meningkat. Penghasilan besar itu memungkinkan hierarki Jerman mensponsori berbagai program medis, pendidikan, dan sosial. Faktanya Gereja Katolik adalah perusahaan terbesar kedua di negara itu, di belakang urutan pemerintah.

Hirarki Jerman sedang berjuang untuk mempertahankan sebuah ‘kerajaan pelayanan sosial’ sementara jajaran umat beriman terus berkurang. Maka, tidak mengherankan jika hierarki gereja Jerman telah memimpin dalam menyerukan pelonggaran dalam disiplin Gereja. Para uskup Jerman berargumen bahwa Gereja harus menunjukkan sikap berbelaskasih terhadap umat Katolik homoseksual, umat Katolik yang bercerai, dan umat Katolik feminis. Apakah niatan seperti ini dimotivasi oleh keinginan yang jujur ​​untuk membuat semua orang lebih dekat kepada Tuhan, atau dengan tujuan finansial untuk membuat orang tetap berada di dalam paroki? Di Gereja Jerman, mungkin sulit untuk membedakan antara tindakan berbelaskasih atau tindakan mata duitan.


Pemberhentian Kardinal Müller

Pada akhir Juni 2017, sebuah rumor mulai beredar di Roma bahwa paus berencana untuk memindahkan uskup Jerman lainnya, Kardinal Gerhard Müller, dari jabatannya sebagai prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman. Diangkat oleh Benediktus XVI, Müller secara umum dianggap sebagai kehadiran kaum konservatif di Vatikan, terutama ketika dia bersikeras bahwa "Amoris Laetitia harus ditafsirkan dengan jelas dalam terang seluruh doktrin Gereja." Hubungan pribadinya dengan Francis tidak akrab, pengaruhnya menurun drastis, dan masa jabatan lima tahunnya sebagai prefek, yang biasanya akan dilanjutkan lagi, akan berakhir pada 2 Juli.

Rumor itu terbukti benar. Pada hari terakhir masa jabatannya, tanpa ada indikasi sebelumnya bahwa penunjukannya tidak akan diperpanjang dan dalam sebuah situasi yang tampaknya dipermalukan untuknya, Müller dengan kasar diberitahu bahwa masa jabatannya sebagai prefek telah berakhir. Paus tidak memberikan penjelasan untuk pemberhentiannya ini dan paus menolak memberi tahu siapa penggantinya. (Penggantinya ternyata adalah Uskup Agung Luis Ladaria Ferrer, seorang Jesuit Spanyol yang telah bekerja sebagai bawahan langsung Müller.)

Sebagai kepala kongregasi di Vatikan yang ditugasi menjaga integritas doktrin Katolik, Kardinal Müller terperangkap di tengah-tengah perdebatan tentang Amoris Laetitia. Setelah menyatakan keraguannya tentang proposal Kasper – dimana keraguan ini diabaikan begitu saja oleh paus – paus bertindak sebagai prajurit yang setia, bersikeras bahwa dokumen Amoris Laetitia itu sepenuhnya ortodoks. Meskipun Müller telah menyuarakan kekecewaan atas perbedaan interpretasi dari nasihat desakan kerasulan Amoris Laetitia, dengan bersikeras bahwa pengajaran Gereja universal tidak boleh berbeda dari satu keuskupan kepada keuskupan yang lain, Müller dengan tegas menolak memberikan dukungan publiknya pada seruan untuk klarifikasi kepausan. Tampaknya tindakan penyeimbangannya ini tetap tidak memuaskan Francis.

Bahkan setelah pemecatannya yang kasar ini, Müller masih terus membela paus, bersikeras – menolak semua bukti yang sebaliknya - bahwa pemberhentiannya itu adalah masalah administrasi rutin, bukan karena ketidakcocokan ideologis. "Tidak ada perbedaan antara saya dengan paus Francis," katanya kepada the Allgemeine Zeitung dari Mainz. Paus telah memutuskan untuk mengakhiri praktik memperpanjang tugas di Vatikan secara rutin, katanya, dan, “Saya adalah orang pertama yang menjalani praktek kebijakan baru ini.” (Bandingkan: Tiga pejabat Vatikan terkemuka lainnya telah menyelesaikan tugas lima tahunan mereka dalam beberapa bulan terakhir ini, dan ketiganya tetap berada pada posnya semula.) Namun, beberapa hari kemudian, Müller masih menyatakan bahwa dirinya "selalu setia kepada paus dan akan selalu demikian," namun dia mengkritik cara buruk yang telah diberlakukan atas dirinya: "Saya tidak bisa menerima cara perlakuan seperti ini.” Mengingat pemecatan yang dilakukan Francis sebelumnya terhadap para klerus pada staf CDF, Müller mengatakan bahwa para pemimpin Gereja harus diikat oleh ajaran-ajaran sosial Katolik dalam memperlakukan karyawan mereka secara bermartabat.

Dalam pemberhentian Kardinal Müller, terjadi pembalikan peran yang mencolok. Francis tidak bertindak sebagai "jenderal inkuisitor" Jerman yang tegas, tetapi sebagai paus Argentina yang tersenyum (yang seharusnya senyuman itu merupakan perwujudan belas kasih) tapi menuntut persetujuan tanpa keraguan pada otoritasnya. Sekali lagi, disini tindakan paus berbeda dengan kata-katanya.


Memecah Kantong-Kantong Perlawanan

Langkah lain dalam hal penggantian personel, pada beberapa tingkat lebih rendah dalam bagan organisasi Vatikan, adalah penunjukan Uskup Agung Vincenzo Paglia sebagai presiden Akademi Kepausan untuk Kehidupan. Seperti ditunjukkan oleh namanya, akademi ini telah menjadi benteng gerakan pro-kehidupan dan pro-keluarga di dunia sejak didirikan oleh John Paul II pada tahun 1994. Dengan demikian, kantor tersebut merupakan pos terdepan dari perlawanan terhadap para pemimpin Katolik progresif yang berusaha untuk menghapus Gereja dari garis depan "perang budaya." Sekarang profil itu berubah.

Bagi siapa saja yang mengabdikan diri pada visi Katolik tentang pernikahan dan keluarga, maka catatan masa lalu Paglia sangatlah meresahkan. Dia bertanggung jawab dalam menciptakan panduan pendidikan seks yang mengejutkan yang menampilkan gambar-gambar erotik yang eksplisit, mengajar anak-anak muda dalam teknik-tehnik seksual, dan mendorong diskusi seksualitas tanpa merujuk pada ajaran moral Gereja. Paglia juga menjadi tuan rumah serangkaian seminar menjelang Sinode tentang Keluarga yang sangat condong mendukung proposal Kasper. Dia telah memuji-muji Marco Pannella, seorang politisi Italia yang memimpin perjuangan untuk membela hukum yang mendukung perceraian dan aborsi; Paglia menyebutnya sebagai “seorang lelaki yang memiliki kerohanian besar” dan “seorang inspirator kehidupan yang baik bagi dunia ini,” yang kematiannya “merupakan kerugian besar bagi negara ini."

Layanan Berita The LifeSite News di Kanada kemudian mengungkapkan bahwa ketika menjadi uskup Terni-Narni-Amelia, Italia, Paglia telah memerintahkan pemasangan mural homoerotik yang sangat besar di dalam katedralnya. Di antara tokoh-tokoh dalam lukisan aneh ini — satu di antaranya adalah berupa gambar orang telanjang yang sedang menggeliat — itu adalah gambar uskup Paglia sendiri, lengkap dengan zucchetto uskupnya.

Perintah paus kepada Paglia bagi jabatan barunya adalah untuk berfokus pada "tantangan baru mengenai nilai kehidupan." Paus menjelaskan:

Saya merujuk pada berbagai aspek mengenai pemeliharaan martabat pribadi manusia dalam berbagai zaman keberadaan, saling menghormati antar gender dan generasi, mempertahankan martabat setiap manusia, promosi kualitas hidup manusia yang menyatukan nilai-nilai material dan spiritual, dengan mengingat 'ekologi manusia' yang otentik, yang membantu memulihkan keseimbangan asli antara manusia dan seluruh alam semesta.

Yang jelas hilang dari daftar keprihatinan paus Francis adalah soal aborsi, eutanasia, perceraian, dan kontrasepsi, dimana keprihatinan itu telah menjadi prioritas selama kepausan Yohanes Paulus II. Tidak adanya keprihatian itu dalam daftar terutama terlihat oleh umat Katolik Amerika, karena arahan kepausan bertepatan dengan pengungkapan bahwa klinik-klinik aborsi menjual jaringan janin untuk mendapatkan keuntungan, sebuah ilustrasi mengerikan tentang "budaya kematian" yang diperingatkan oleh John Paul II. Jelaslah bahwa tujuan dari Akademi Kepausan untuk Kehidupan sedang direvisi.

Sebuah arah yang baru menuntut personel baru juga. Pada awal 2017, Vatikan mengumumkan bahwa Akademi Kepausan untuk Kehidupan telah menunda sidang tahunannya. Perlahan-lahan terungkap bahwa penundaan itu perlu karena akademi itu tidak lagi memiliki anggota selain presiden baru. Seluruh anggota akademi itu telah diberhentikan. Rencana awal untuk pertemuan tahunan adalah untuk berfokus pada Donum Vitae, Kongregasi Doktrin Iman 1987 tentang kehamilan artifisial. Topik itu dibuang, digantikan oleh semboyan "Pendampingan Kehidupan: Tanggung Jawab Baru di Era Teknologi."

Di luar batas-batas Vatikan, Francis melestarikan stempelnya pada konferensi para uskup Italia dengan mengangkat Nunzio Galantino sebagai sekretaris jenderal, memberinya suara yang berpengaruh dalam urusan publik Italia. Galantino segera menunjukkan warna aslinya dengan menyatakan bahwa dia tidak bisa "menyetujui orang-orang yang tanpa ekspresi berdiri di luar klinik aborsi sambil mendaraskan doa Rosario."  Bahkan sebelum Sinode untuk Keluarga melakukan pembahasan soal proposal Kasper, Galantino mengumumkan bahwa dalam pandangan, pasangan dalam "situasi perkawinan yang tidak teratur" tidak boleh dikecualikan dari Komuni, dengan alasan bahwa kebijakan abadi Gereja adalah "harga yang tidak adil untuk dibayar, selain hal itu juga merupakan bentuk diskriminasi."

Pernyataan publik Galantino ini serta pelemahan Akademi Kepausan untuk Kehidupan, membuat ribuan umat Katolik yang setia merasa dikhianati. Setelah bertahun-tahun berjuang dengan setia melawan budaya kematian, diilhami oleh dukungan yang menetap dari Vikaris Kristus, mereka tiba-tiba menerima teguran, bukannya dorongan dari Roma. Galantino mengatakan kepada dunia bahwa dia tidak dapat menyatukan dirinya dengan aktivis pro-kehidupan, dan para aktivis itu pada gilirannya tidak dapat menyatukan diri mereka dengan kebijakan baru Vatikan di bawah Francis.


Konservatisme Amerika dan "Ekumenisme Kebencian"

Di Amerika Serikat, umat Katolik konservatif telah lama menjadi pendukung alami dan paling antusias terhadap kepausan. Meskipun pandangan mereka berbeda dari pandangan para paus tentang pertanyaan sensitiv tertentu, mereka telah bersekutu pada sebagian besar masalah budaya dan moral yang menentukan selama lima puluh tahun terakhir. Kini mereka mulai mencurigai pada awal kepausan Francis bahwa niat baik yang mereka nikmati di bawah Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI semakin berkurang, tetapi pada bulan Juli 2017 menjadi jelas bahwa niat baik Roma telah berubah menjadi antipati ketika La Civiltà Cattolica mempublikasikan kecaman keras terhadap kaum konservatif Amerika.

Esai itu, yang ditulis oleh Antonio Spadaro, S.J. dan Marcelo Figueroa, seorang pastor Presbiterian yang menjadi teman dekat Bergoglio di Buenos Aires, telah mengkhianati dan membuat kekacauan yang serius dalam isinya, peranan Katolik konservatif dan evangelis dalam politik Amerika. Menurut Spadaro dan Figueroa, dua kekuatan jahat ini, dengan mengacu pada pandangan Manichean tentang dunia yang terbagi menjadi kebaikan mutlak dan kejahatan mutlak, telah bergabung dalam "ekumenisme kebencian," guna mengejar sebuah "kemenangan, kesombongan dan pendendam, yang sebenarnya kebalikan dari ajaran agama Kristen."

Sifat keangkuhan dan ketidakpedulian esai yang sangat berbisa ini adalah sangat merepotkan, karena kedekatan para penulisnya dengan Francis dan posisi yang setengah-resmi dari La Civiltà Cattolica memunculkan anggapan bahwa esai itu mencerminkan pemikiran paus sendiri.


Merangkul Agenda Sekuler

Pemecatan yang kasar terhadap Müller, kekuasaan Maradiaga dan Galantino yang besar, nada partisan pahit yang diadopsi oleh Spadaro dan Figueroa — semuanya menunjukkan arah baru dari kepausan ini: menjauh dari penekanan pada martabat kehidupan dan integritas keluarga, dan merangkul segala sesuatu yang lebih populer dari liberalisme sekuler. Vatikan mulai menyelenggarakan berbagai konferensi untuk mengusulkan pandangan baru soal pengungsi dan perubahan iklim. Dua kali Francis menjadi tuan rumah pertemuan "gerakan populer," dengan undangan ditujukan kepada para aktivis lingkungan, separatis etnis, feminis militan, dan para penggerak organisasi kemasyarakatan — tetapi bukan untuk para pemimpin pro-kehidupan atau pembela pernikahan tradisional.

Ketika dia ditanya mengapa konferensi Vatikan tentang perubahan iklim tidak mengundang para pembicara yang mempertanyakan konsensus populer, dan Uskup Marcelo Sánchez Sorondo, kanselir Akademi Ilmu Sosial Kepausan, dengan marah menegur reporter yang mengajukan pertanyaan itu. Tidak ada ilmuwan yang terpandang, kata Sorondo bersikeras, yang akan membantah keyakinan yang berlaku saat ini bahwa tindakan manusialah yang menyebabkan perubahan iklim. Membandingkan ajaran paus tentang pemanasan global dengan ajaran Gereja tentang aborsi, Sánchez Sorondo mengatakan, “penilaian dalam hal ini haruslah dianggap bersifat magisterial — itu bukanlah sebuah pendapat pribadi.” Pastor Joseph Fessio, SJ, pendiri Ignatius Press, menjawab, dalam sebuah wawancara dengan LifeSite News: “Baik paus maupun Uskup Sorondo tidak dapat berbicara tentang masalah sains dengan otoritas yang mengikat, hingga saat mereka menggunakan kata 'magisterium' dalam kedua kasus itu sama sekali tidak jelas maksudnya, dan mereka tidak peduli dalam hal apa pun.” Fessio menambahkan, “Menyamakan sikap kepausan tentang aborsi dengan sikapnya tentang pemanasan global, adalah lebih buruk daripada salah; hal itu amat memalukan bagi Gereja.”

Namun Sánchez Sorondo bahkan melangkah lebih jauh. Dalam perbincangan dengan Stefano Gennarini dari Pusat Keluarga dan Hak Asasi Manusia, dia mengklaim bahwa satu-satunya penentangan terhadap teori bahwa ‘pemanasan global disebabkan oleh manusia’ muncul dari gerakan Tea Party, dan dia menambahkan bahwa setiap ilmuwan yang meragukan teori itu, mereka telah dibayar oleh industri minyak. Sorondo kemudian menyangkal bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang telah banyak terlibat dalam konferensi perubahan iklim, telah berperan dalam mempromosikan aborsi dan kontrasepsi. Dalam sebuah wawancara beberapa bulan kemudian, dia menambahkan bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama dari krisis pengungsi dunia. Mengenai semua poin ini — yang merupakan masalah fakta, bukan opini — Sánchez Sorondo yang penuh kebobrokan itu ternyata terbukti salah. Tetapi gaya debatnya, yang menampilkan serangan terhadap integritas lawan-lawannya, memiliki cap (ciri khas) yang lazim dari kepausan saat ini.


Seorang Pembuat Aturan Yang Mengabaikan Hukum

Dan apakah cap (ciri khas) dari kepausan ini? Jelas bahwa Francis bertekad membawa perubahan kedalam Gereja dan dia tidak sabar terhadap segala penolakan terhadap perubahan itu. Tetapi dia terpaksa mengkhianati ketidaksabarannya dengan aturan-aturan yang menghalangi jalannya — bahkan, cukup aneh, padahal dia memiliki otoritas yang tidak diragukan untuk mengubah aturan-aturan itu.

Selama beberapa waktu, para ahli liturgi Katolik berdebat tentang upacara di dalam ritual untuk Kamis Putih di mana imam membasuh kaki beberapa anggota jemaat, meniru gerakan kerendahan hati dan kasih Yesus kepada para rasulnya saat Perjamuan Terakhir. Secara tradisional, hanya laki-laki yang dimasukkan dalam ritual ini, karena bertujuan untuk membangkitkan ingatan akan para rasul, yang semuanya adalah laki-laki, dan lembaga imamat, yang juga diperuntukkan bagi pria. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir beberapa umat Katolik berargumen bahwa manfaat untuk melibatkan wanita, melebihi pentingnya simbolisme itu. Pada saat Francis terpilih, arahan liturgi resmi Gereja memihak kepada tradisi; hanya laki-laki yang dilibatkan. Francis mengubah aturan itu. Sebagai gantinya, pada upacara Kamis Putih pertama setelah diangkat sebagai paus Roma, dia mengabaikan aba-aba dari arahan liturgi dan melibatkan wanita ke dalam ritual pencucian kaki oleh paus. Baru kemudian, setelah itu, dia mengeluarkan sebuah arahan liturgi, mengubah aturan hingga dia tidak dianggap melanggar.

Demikian pula, pada bulan November 2016 paus mengumumkan bahwa dia memberikan wewenang kepada semua imam Katolik untuk memberikan absolusi atas dosa aborsi. Sebelumnya, Kode Hukum Canon menetapkan bahwa siapa pun yang terlibat langsung dalam perbuatan aborsi dikenai hukuman ekskomunikasi. Di bawah dispensasi baru yang diberikan oleh Francis, dosa dapat diampuni oleh imam mana pun dalam pengakuan sakramental.(1) Pada konferensi pers yang memperkenalkan kebijakan baru itu, Uskup Agung Rino Fisichella menjelaskan bahwa paus telah mengubah bagian yang relevan dari hukum kanon. Namun, dia belum benar-benar mengubah hukum; kalimat itu masih ada di buku. Tetapi itu hanya masalah teknis, kata uskup agung: "Hukum kanon adalah bagian dari seperangkat hukum, dan setiap kali paus memperkenalkan sebuah tindakan yang mengubah perintah hukum, maka kalimat yang menyangkut tindakan tertentu, perlu diubah." Memang, ada sebuah kebutuhan untuk menyesuaikan hukum dengan arahan paus. Sebagai legislator tertinggi untuk Gereja, paus memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan itu, tetapi dia tidak melakukannya. Dia membiarkan hukum tetap ada pada buku-buku, dan menetapkan kebijakan yang bertentangan dengan itu. Ini bukan hanya sebuah kasus di mana perubahan dalam Kode Hukum Canon tertinggal sedikit di belakang arahan kepausan. Setahun sebelumnya, ketika Tahun Kerahiman Yubileum dimulai, Francis telah memberikan kepada sekelompok imam khusus, Missionaries of Mercy, wewenang untuk membebaskan dosa-dosa aborsi. Jadi kebijakan paus dan kalimat dalam hukum kanon telah bertentangan selama berbulan-bulan.

Di sisi yang lain, seorang Katolik yang diekskomunikasi dilarang menerima Sakramen-sakramen, termasuk Sakramen Tobat. Jadi, meskipun seorang imam dapat mengampuni dosa dalam sebuah pengakuan, tetapi seorang wanita yang melakukan aborsi dan dia tahu bahwa dia diekskomunikasi, tidak akan dapat membuat pengakuan dosa sakramental. Untungnya dalam banyak kasus, wanita Katolik yang menyesal karena melakukan aborsi tidak menyadari dan tidak tahu bahwa mereka telah diekskomunikasi, sehingga mereka tidak ragu untuk mendatangi Sakramen Tobat dan mencari pengampunan. Tetapi kemudian wanita-wanita lain, yang telah mencari dan menerima pengampunan sejak jauh hari sebelumnya, dan tidak menyadari adanya hukuman kanonik seperti itu, sekarang mungkin bertanya-tanya di mana mereka berdiri. Apakah mereka masih dikucilkan? Apakah pengampunan dosa yang diterimanya itu valid?

Singkatnya, kegagalan paus Francis untuk menyinkronkan hukum kanon dengan kebijakan barunya berisiko menimbulkan kebingungan dan kesusahan yang meluas. Seorang imam yang jengkel, mengomentari perubahan itu, "Selama beberapa bulan ke depan saya berharap kita akan menghabiskan banyak waktu di tempat pengakuan dosa dan menjelaskan ajaran Gereja kepada para wanita tua yang telah melakukan dosa aborsi dan telah diampuni bertahun-tahun yang lalu."

Kecenderungan Francis untuk mengabaikan peraturan, bukan mengubahnya, dilakukan justru dengan cara yang tidak terlalu serius, seperti halnya dia memberi izin kepada sekelompok aktivis untuk menanam tanaman di sebidang tanah di pinggiran Roma yang dimiliki oleh Vatikan. Francis memberikan restunya kepada sebuah proyek yang diprakarsai oleh Omero Lauri, seorang pendukung hak penghuni liar, dan menyatakan: "Kami percaya bahwa semua orang memiliki hak untuk memiliki sebidang tanah secara gratis." Lauri bertemu dengan paus dan mendapatkan izinnya hanya setelah dia menduduki tanah itu, tetapi dia melaporkan bahwa Francis mendukung gerakannya. Paus tetap tidak memberikan hak hukum kepada Lauri dan kelompoknya atas tanah itu. Polisi menuduh penghuni liar itu karena mendirikan sebuah kafe ilegal disitu, menyajikan makanan tanpa izin di atas properti yang bukan milik mereka. Dan para pemilik properti lain di lingkungan itu memandang curiga pada kejadian kecil itu, dan bertanya-tanya apakah para penghuni liar itu akan pindah ke tanah mereka juga. Sekali lagi paus dapat menghindari komplikasi dengan memberikan sertifikat hukum kepada kelompok itu, tetapi dia tampaknya cukup puas untuk melanggar peraturan dan hidup di dalam kebingungan – puas karena telah "membuat kekacauan," karena dia telah mendorong kaum muda itu seperti yang diinginkannya.


Mengemas Kolese Para Kardinal

Namun, pada satu titik, Francis telah bertindak dengan sengaja dan metodis. Secara berhati-hati dia telah menunjuk kardinal-kardinal yang mendukung pandangannya, meningkatkan kemungkinan bahwa ketika kepausannya berakhir, orang-orang yang mereka pilih akan melanjutkan kebijakannya. Ini mungkin merupakan aspek terpenting dari rencananya untuk membuat perubahan di dalam Gereja hingga menjadi “tidak dapat dirubah.”

Dalam sebuah tulisan pada awal 2017, sarjana Amerika George Weigel menulis tentang mitos, yang populer di kalangan kaum liberal, bahwa Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI telah memberlakukan kontrol ideologis atas Vatikan. Weigel menunjukkan, para paus itu secara teratur mempromosikan orang-orang dengan pandangan teologis yang berbeda secara dramatis kepada Kolese Kardinal, memberikan topi merah pada Kardinal Kasper, Marx, Daneels, McCarrick, dan ya, juga kepada Bergoglio. Hal yang sama tidak dapat dikatakan tentang Francis. Dia telah mengangkat sekutu-sekutu potensinya dengan mengabaikan uskup-uskup yang lebih senior yang pemikirannya tidak sesuai dengan dirinya. Dari uskup agung Amerika yang mungkin telah dipertimbangkan untuk menjadi anggota Kolese Kardinal pada tahun 2017, Francis memilih dua wali gereja yang sangat liberal: Blase Cupich dari Chicago dan Joseph Tobin dari Indianapolis (yang segera dipindahkan ke Newark, lebih dekat ke pusat media Amerika). Francis melompati beberapa pemimpin Katolik paling terkemuka di negara itu: Uskup Agung José Gómez dari Los Angeles, pemimpin keuskupan terbesar di negara itu, yang akan menjadi kardinal Hispanik pertama dalam sejarah AS; Charles Chaput dari Philadelphia, seorang pembela yang bijaksana dan pandai berbicara tentang hukum kodrat; dan William Lori dari Baltimore (keuskupan Amerika tertua), yang merupakan orang penting bagi hierarki Amerika dalam pertempuran untuk mempertahankan kebebasan beragama melawan perambahan peraturan pemerintah.

Paus — paus mana pun — memiliki hak untuk mengangkat anak buahnya sendiri kedalam Kolese Kardinal. Namun, cara Francis menjalankan hak itu telah mengungkapkan banyak hal tentang bagaimana dia memahami perannya sebagai pemimpin Gereja universal.

Agar memenuhi syarat untuk masuk dalam Kolese Kardinal, seorang uskup harus menunjukkan karakter yang tidak dapat disangkal, komitmen yang teguh pada doktrin Gereja yang mapan, dan kemauan — yang ditandai dengan pakaian merahnya — untuk menumpahkan darahnya, jika perlu, untuk membela Iman. Di luar syarat ini, terserah bagaimana paus menentukan pilihannya!

Kolese Kardinal memiliki dua fungsi utama: bertindak sebagai kelompok penasihat untuk paus dan, ketika saatnya tiba, untuk memilih penggantinya. Untuk masing-masing tujuan itu, seorang paus yang bijaksana memanfaatkan berbagai sumber daya Gereja universal, menunjuk para kardinal dengan latar belakang dan sudut pandang berbeda. Idealnya, ketika mereka bertemu di konklaf, para kardinal harus mewakili semua umat Katolik yang setia di dunia, dengan berbagai kepedulian dan keprihatinan mereka yang berbeda.

Selama abad yang lalu, paus Roma telah melakukan upaya yang disengaja untuk memberi Kolese Kardinal cita rasa yang lebih internasional, mengakui bahwa Roh Kudus mungkin memiliki sesuatu yang istimewa untuk dikatakan kepada Gereja universal melalui suara-suara para pemimpin Katolik dari Afrika atau Asia. Dengan memperluas keanggotaan Kolese di luar Eropa, paus menyediakan lebih banyak ruang bagi Roh untuk berbicara kepada Gereja-Nya. Pada saat yang sama, dengan membatasi keanggotaan, paus dapat membatasi pergerakan Roh. Francis telah mengikuti tren menuju internasionalisasi Kolese ini, tetapi dia telah membatasi pilihannya dengan cara lain, dengan menunjukkan pilihan yang kuat hanya bagi uskup-uskup yang mau menerima perspektifnya tentang prioritas pastoral Gereja.

Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI mengambil pendekatan yang jauh lebih konvensional. Mereka memilih kardinal baru terutama dari kalangan uskup agung dari keuskupan agung terpenting dunia, atau dari kepemimpinan Kuria Romawi. (Beberapa pilihan mereka yang tidak konvensional, pada umumnya, lebih dari usia delapan puluh tahun, bagi siapa topi merah merupakan pengakuan atas pelayanan masa lalu mereka kepada Gereja. Dan karena usia mereka, para kardinal ini tidak akan memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam pemilihan kepausan.) Kedua paus itu jelas tidak mengecualikan wali gereja yang memiliki perspektif teologis yang berbeda.

Dan bukankah itu pendekatan yang jauh lebih bijaksana? Jika paus meminta nasihat dari para kardinalnya, dia harus mendengarkan juga suara dari orang-orang yang akan menentang cara berpikirnya. Paus yang rendah hati akan menjaga diri dari godaan untuk berpikir bahwa perspektifnya adalah satu-satunya perspektif Katolik yang valid. Dia akan menyadari juga, bahwa bahkan jika kebijakannya tepat untuk Gereja saat ini, Gereja di masa depan mungkin memerlukan kebijakan yang berbeda.

Paus Roma adalah seharusnya menjadi fokus persatuan di Gereja. Yohanes XXIII pernah mengatakan bahwa sebagai pastor universal, dia bertanggung jawab atas semua umat Katolik, termasuk mereka yang memiliki kaki pada pedal gas dan mereka yang memiliki kaki pada pedal rem. Francis jelas memiliki kaki di atas pedal gas. Dan sejauh ini nampak dia mengabaikan dan mengecualikan uskup yang menginjak rem - dan orang yang mendesak Francis untuk melakukan hal yang sama dengan dirinya, dia berisiko terpental keluar.

Salah satu sekutu setia Francis, Jesuit liberal, Thomas Reese, yang menulis di National Catholic Reporter, mengakui bahwa pilihan paus untuk Kolese Kardinal adalah "tindakan paling revolusioner yang telah dilakukan Francis dalam hal tata kelola Gereja." Sebagai aktivis dalam Gereja selama bertahun-tahun, Reese mengakui bahwa tindakan kekuasaan sewenang-wenang oleh Francis saat ini dapat membenarkan tindakan yang sama sewenang-wenangnya oleh beberapa paus di masa depan yang mungkin memiliki ide yang berbeda. Jika Yohanes Paulus II atau Benediktus XVI mengambil pendekatan yang mirip dengan penunjukkan para kardinal baru, tulis Reese, "Terus terang, saya akan sangat marah."

_______________

1. Pengacara Hukum Canon berpendapat bahwa hukuman ekskomunikasi hanya berlaku bagi mereka yang melakukan aborsi dengan kesadaran dan pengetahuan penuh bahwa mereka akan diekskomunikasi karena melakukannya. Orang yang tidak mengetahui aturan kanonik itu, yang terlibat dalam perbuatan aborsi, dapat diampuni dalam pengakuan dosa yang biasa. Arahan baru paus tidak berlaku untuk mereka yang tidak mengetahui aturan kanonik ini.


No comments:

Post a Comment