Saturday, August 3, 2019

GEMBALA YANG SESAT - Bab 6




GEMBALA YANG SESAT
BAGAIMANA PAUS FRANCIS SEDANG MENYESATKAN KAWANANNYA


BAB ENAM

Dokumen Dan Dubia

Pada April 2016, paus Francis mengeluarkan nasihat kerasulannya yang merangkum pesan Sinode (2014 & 2015). Terdiri dari 325 paragraf bernomor dan mengisi lebih dari 250 halaman, Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) adalah dokumen kepausan terpanjang dalam catatan. Mengaitkan hal ini dengan "buah yang berlimpah dari proses Sinode dua tahun" dan "berbagai macam pertanyaan" yang diajukan, paus menyarankan agar tidak melakukan "pembacaan teks yang terburu-buru" (7) 1 — tetapi ini adalah saran yang terpaksa diabaikan media dalam ketergesaan mereka untuk mengumumkan keputusan kepausan tentang hal-hal yang secara mencolok telah menyinggung para uskup dunia.

Terlepas dari isinya yang bertele-tele, Amoris Laetitia tidak memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan yang diajukan semua orang: apakah paus akan membuka pintu bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni. Beberapa komentator mengumumkan bahwa paus telah menegakkan pengajaran Gereja tradisional; yang lain menyatakan bahwa dia telah membuat inovasi dramatis. Tidak ada interpretasi dari dokumen membingungkan ini yang terbukti salah.

Bahkan, Francis sengaja menghindari jawaban kategoris atas pertanyaan itu, dengan bersikeras bahwa "tidak semua diskusi masalah doktrinal, moral, atau pastoral perlu diselesaikan dengan intervensi magisterium" (3). Dia berpendapat bahwa "apa yang merupakan bagian dari penegasan praktis dalam keadaan tertentu tidak dapat ditingkatkan menjadi sebuah aturan" (304), dan dia mendesak para pastor untuk membimbing pasangan-pasangan yang bermasalah, dengan melalui pengamatan atas situasi mereka, membantu mereka untuk "tumbuh dalam kehidupan rahmat karunia dan kemurahan hati, sambil menerima bantuan Gereja untuk tujuan ini.”(305).

Dalam perikop yang paling dekat dengan penerimaan usulan Kasper, paragraf 305, Francis mengajarkan bahwa “seorang pastor tidak dapat merasa bahwa cukup dengan menerapkan hukum moral kepada mereka yang hidup dalam situasi 'tidak teratur', seolah-olah mereka adalah batu untuk dilemparkan kepada kehidupan orang-orang." Dengan menekankan lebih lanjut, dia menulis bahwa "ada kemungkinan bahwa dalam situasi dosa yang obyektif - yang mungkin tidak dapat disalahkan secara subyektif, atau sepenuhnya seperti itu - seseorang dapat hidup di dalam rahmat Allah, dapat mencintai dan juga dapat bertumbuh dalam kehidupan rahmat dan kemurahan hati, sambil menerima bantuan Gereja untuk tujuan ini.” "Dalam catatan kaki yang menyertainya, nomor 351, dia menambahkan, "Dalam kasus-kasus tertentu, hal ini dapat mencakup bantuan sakramen-sakramen."

Perikop itu — dan terutama catatan kaki itu — dapat dibaca, dan memang dibaca oleh banyak penafsir, yang isinya seperti mengadopsi proposal Kasper. Apakah paus mengatakan bahwa beberapa orang Katolik yang hidup dalam serikat perkawinan yang tidak teratur, dapat menerima sakramen-sakramen? Apakah dia menyarankan bahwa persatuan dalam perkawinan kedua, yang oleh Gereja selalu dianggap sebagai perzinahan, dapat dibenarkan dalam keadaan khusus? Jika demikian, dia membuat perubahan radikal dalam ajaran Gereja. Namun bahasa aslinya membuat pertanyaan-pertanyaan penting ini tidak terjawab. Rupanya memang itulah niatnya.

“Dengan berpikir bahwa semuanya adalah hitam dan putih,” paragraf 305 melanjutkan, “kita terkadang menutup jalan bagi rahmat dan pertumbuhan, dan mencegah jalan pengudusan yang akan memuliakan Allah.” Kemudian Francis menambahkan, “Saya memahami mereka yang lebih suka perawatan pastoral yang lebih ketat yang tidak menyisakan ruang untuk mengalami kebingungan. Tetapi saya dengan tulus percaya bahwa Yesus menginginkan sebuah Gereja yang memperhatikan kebaikan yang ditabur oleh Roh Kudus di tengah-tengah kelemahan manusia. . . ”(308). Amoris Laetitia menawarkan sedikit panduan kepada para pastor yang harus memberikan "bantuan Gereja" kepada orang-orang dalam perkawinan yang tidak teratur. Dengan menekankan fleksibilitas, paus menyerahkan detailnya kepada yang lain: "Komunitas yang berbeda harus menyusun inisiatif yang lebih praktis dan efektif yang menghargai pengajaran Gereja serta masalah dan kebutuhan setempat" (199).

Francis hanya mencurahkan sebagian kecil dari nasihat kerasulannya untuk masalah Komuni bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi, yang tidak dia bahas sampai paragraf 291.
Tema terpenting dokumen itu, dia mengatakan, adalah keindahan kasih pernikahan, subjek dari "bab-bab yang penting" (empat dan lima dari sembilan). Dalam meditasi yang panjang dan mendalam tentang perintah Santo Paulus untuk mengasihi dalam 1 Korintus 13 ("Kasih itu sabar dan murah hati ..."), Paus menawarkan semacam kebijaksanaan spiritual dan nasihat praktis dimana dia mendorong para imam untuk menyediakannya bagi umat mereka, diikuti dengan penjelasan tentang bagaimana keluarga, berdasarkan pernikahan dan dipelihara oleh Sakramen-sakramen, harus memberikan dukungan material dan moral tidak hanya untuk anggota sendiri, tetapi untuk tetangga dan masyarakat pada umumnya.

Sebuah pemahaman yang tepat tentang pernikahan dan seksualitas manusia, tulis Francis, sangat penting untuk memulihkan kesehatan masyarakat kita yang bermasalah. Khususnya di dunia Barat, di mana masyarakat sekuler sering memusuhi idealisme pernikahan Kristiani, dan Gereja harus menjunjung tinggi idealisme itu bahkan terhadap tekanan publik.

Namun demikian, terlepas dari penegasan kuat atas ajaran Katolik tradisional ini, Amoris Laetitia diperkenalkan kepada dunia sebagai pertanda perubahan dalam pelayanan pastoral Gereja. Pada konferensi pers yang memperkenalkan nasihat apostolik itu, Kardinal Christoph Schönborn dari Wina mengatakan, "Sesuatu telah berubah dalam wacana gerejawi," dimana hal ini menekankan seruan Paus untuk melakukan fleksibilitas pastoral.

Fokus perhatian publik pada penanganan Gereja atas serikat perkawinan “tidak teratur” dengan sendirinya telah menjadi tanda perlunya pendekatan yang berbeda, kata Schönborn, dengan alasan bahwa pembagian status pasangan menjadi “pasangan biasa” dan “pasangan tidak teratur” mengabaikan kenyataan bahwa semua umat Kristiani harus berjuang untuk pertobatan setiap hari dan pertumbuhan dalam kesucian.

Meskipun Schönborn telah dianggap sebagai pendukung proposal Kasper dalam pertemuan-pertemuan Sinode, sia awalnya tidak menggambarkan Amoris Laetitia sebagai dukungan dari posisi itu. (Kemudian dia menyatakan bahwa dokumen kepausan itu menyerukan perubahan dalam praktik Gereja.) Dia mengatakan kepada Radio Vatikan bahwa dalam catatan kaki yang ‘kritis’ 351— “Dalam kasus-kasus tertentu, hal ini dapat mencakup bantuan untuk menerima sakramen-sakramen” – disini paus merujuk terutama kepada sakramen pengakuan dosa. “Saya pikir itu sangat jelas,” kardinal berkata, “ada keadaan di mana orang-orang dalam situasi perkawinan yang tidak wajar mungkin sangat membutuhkan pengampunan sakramental, meski jika situasi umum mereka tidak dapat diklarifikasi.”

Putusan akhir dari anjuran apostolik Amoris Laetitia tentang masalah yang paling banyak diperdebatkan ini tetap tidak tepat. Jelaslah bahwa paus menghendaki demikian, menjelaskan bahwa “apa yang merupakan bagian dari kebijaksanaan praktis dalam keadaan tertentu tidak dapat diangkat ke tingkat peraturan. Itu tidak hanya mengarah pada kasuistis yang tak tertahankan, tetapi juga akan membahayakan nilai-nilai yang harus dijaga dengan hati-hati.”

Amoris Laetitia bukanlah dokumen revolusioner. Ia adalah dokumen subversif. Francis belum menggulingkan ajaran tradisional Gereja, karena banyak umat Katolik berharap atau takut jika paus akan melakukannya. Sebagai gantinya, dia telah menciptakan banyak ruang untuk penafsiran pastoral yang fleksibel atas ajaran-ajaran itu, mendorong para pastor untuk membantu pasangan dalam menerapkan prinsip-prinsip moral umum bagi keadaan khusus mereka. Sayangnya, pendekatan ini telah mempercepat tren yang sudah kuat untuk menghancurkan ajaran kekal Gereja, mengikis rasa hormat terhadap pelayanan pastoral yang dia harapkan dapat didorong maju.

Dalam ensikliknya yang terkenal tahun 1993, Veritatis Splendor, yang ditulis untuk melawan pengaruh relativisme moral, St. Yohanes Paulus II menyesalkan adanya perbedaan pendapat yang tersebar luas dari ajaran-ajaran moral Gereja: “Itu bukan lagi masalah perbedaan pendapat yang terbatas dan sesekali saja terjadi, tetapi dari keseluruhan dan secara sistematis mempertanyakan doktrin moral tradisional, berdasarkan anggapan antropologis dan etis tertentu.” Katanya, umat Katolik yang resah, tidak hanya membuat pernyataan yang keliru tentang kebenaran; mereka berpendapat bahwa kebenaran objektif tidak dapat diketahui. Amoris Laetitia, yang berfokus pada pengejaran subyektif atas keinginan yang tidak terjangkau dan menyarankan suatu proses di mana pasangan-pasangan Katolik dapat mengesampingkan perintah Tuhan mengenai perzinahan, berkontribusi pada kekuatan sentrifugal yang menekan otoritas Gereja.


Dalam Dokumen 250 Halaman, Tetapi Fokusnya Ada Pada Catatan Kaki

Ada bimbingan spiritual yang kuat di dalam Amoris Laetitia. Khususnya dalam dua bab utama yang diidentifikasi paus sebagai intinya, dimana dia menunjukkan karakter aslinya sebagai seorang pastor  : mendorong, membimbing, mempertanyakan, membujuk, bersimpati, menginstruksikan, membantu pembaca untuk mendapatkan apresiasi yang lebih dalam atas pemahaman Gereja tentang pernikahan sakramental. Dia menjunjung tinggi gagasan pernikahan Kristiani, mengakui bahwa tidak ada manusia yang hidup sesuai dengan idealisme itu, dan menawarkan dukungan Gereja kepada semua orang yang bersedia terlibat dalam perjuangan seumur hidup untuk bertumbuh di dalam kasih.

Namun, patut dicatat bahwa Francis menekankan bahwa ajaran Kristiani tentang pernikahan adalah sebuah cita-cita yang tidak bisa dicapai oleh pasangan biasa. Ajaran Gereja adalah sebuah "idealisme," tentu saja, sejauh panggilan suami-istri untuk hidup dalam keharmonisan kasih yang sempurna, dalam meniru Kristus dan Gereja-Nya. Tetapi tuntutan kesetiaan dalam pernikahan bukanlah cita-cita yang tidak mungkin tercapai. Kebanyakan pasangan memenuhi tuntutan itu, dan mereka yang tidak — mereka yang menipu pasangan mereka — harus menyadari bahwa kegagalan mereka adalah sebuah pelanggaran serius, bukan sekadar pengingat bahwa mereka adalah manusia biasa. Memang benar bahwa Yesus menolak untuk mengutuk perempuan yang tertangkap dalam perzinaan, tetapi Dia juga memperingatkannya, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi” (Yoh. 8:11).

Di dalam Amoris Laetitia, paus mengakui, dan dengan jelas menyatakan, bahwa pemahaman Kristiani tentang pernikahan adalah satu-satunya penangkal yang dapat diandalkan bagi sejumlah penyakit yang mengganggu masyarakat kontemporer, khususnya di Barat. Dalam bab kedua, paus menegaskan bahwa dalam epidemi kehancuran perkawinan, umat Katolik tidak boleh dicegah untuk menyampaikan pesan yang perlu didengar masyarakat kita, meskipun pesan itu tidak populer, dan mereka yang menyatakannya menghadapi permusuhan yang besar. Bahkan ada beberapa gema dari "perang budaya" dalam nasihat kerasulan (AL) ini, ketika Francis dengan tegas menyatakan sikap Gereja soal aborsi, kontrasepsi, perceraian, homoseksualitas, dan pernikahan sesama jenis.

Sayangnya, bagian-bagian dari dokumen itu — yang paling kuat — bukannya diletakkan pada bagian yang mudah menarik perhatian publik. Liputan berita telah berfokus pada satu pertanyaan. Meskipun sangat disayangkan bahwa sebuah pesan yang kompleks justru direduksi menjadi satu masalah, dan karenanya peliputan yang mencolok tidak sepenuhnya merupakan kesalahan media massa. Francis sendiri yang harus disalahkan.

Pertama, Amoris Laetitia terlalu panjang. Dengan menerbitkan sebuah dokumen bertele-tele seperti itu, Francis meningkatkan kekuatan para perantara, yang kemudian membacakan hal itu bagi para pembacanya, dengan fokus hanya pada satu masalah tertentu.

Kedua, Francis sendiri mendorong diskusi tentang Komuni bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi, sebuah diskusi yang pasti akan meradang. Hingga hari ini kami tidak tahu persis apa yang dibutuhkan oleh proposal Kasper. Kardinal Jerman itu mengusulkan sebuah "jalan penyesalan" yang dengan hal itu umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi bisa dibimbing kembali kepada persekutuan penuh dengan Gereja, tetapi dia tidak merinci seperti apa jalan itu nantinya. Kita juga tidak tahu, bahkan setelah dirilisnya Amoris Laetitia, apa persisnya yang ada dalam pikiran paus bagi pasangan seperti ini, selain dari pendekatan pastoral yang fleksibel dan simpatik.

Paus menulis bahwa dalam memberikan perawatan spiritual bagi pasangan dalam ‘perkawinan’ yang tidak wajar, para pastor harus mengadaptasi prinsip-prinsip umum pengajaran Gereja dengan keadaan-keadaan tertentu: “Ini adalah masalah meraih semua orang, kebutuhan untuk membantu setiap orang untuk menemukan jalannya yang tepat guna berpartisipasi dalam komunitas gerejawi dan dengan demikian mengalami perasaan disentuh oleh 'rasa belas kasihan yang tanpa pamirh, tanpa syarat dan apa adanya” (297). Sejauh ini anjuran paus itu tidak dapat disangkal. Tetapi dalam kasus-kasus apa pastor dibenarkan untuk memberi tahu kepada pasangan bahwa mereka hendaknya tidak merasa terikat oleh hukum-hukum Gereja — hukum yang mencerminkan bukan hanya peraturan arbitrer tetapi juga perintah-perintah ilahi? Keadaan konkret seperti apa yang membenarkan penyimpangan dari ajaran Gereja — yang disampaikan oleh Yesus Kristus — bahwa seseorang yang meninggalkan satu pasangan untuk hidup bersama pasangan lain, terlibat dalam relasi perzinahan?

Tentu saja ada beberapa keadaan di mana Gereja memaafkan perkawinan kedua. Jika pernikahan pertama dibatalkan, maka para pihak bebas untuk menikah kembali; dan Francis telah merampingkan prosedur untuk pembatalan perkawinan ini, sehingga kecil kemungkinannya bahwa siapa pun yang seharusnya menerima pembatalan akan ditolak. Juga dimungkinkan, seperti yang diajarkan St. Yohanes Paulus II di dalam Familiaris Consortio, bagi pasangan yang bercerai dan menikah lagi untuk diijinkan menerima Komuni asalkan mereka setuju untuk hidup sebagai saudara dan saudari. Terungkap bahwa dalam teks nasihat apostoliknya yang panjang, Francis tidak pernah menyebutkan keharusan pasangan menunjukkan komitmen mereka kepada Iman dengan tidak melakukan hubungan seksual. (Kemungkinan untuk boleh menerima Komuni itu disebutkan dalam catatan kaki, tetapi pembaca dibiarkan memiliki kesan yang berbeda bahwa disiplin seperti itu harus dicegah.) Apakah "jalur penyesalan" yang khusus itu, yang secara tradisional ditawarkan kepada pasangan-pasangan Katolik dalam relasi yang tidak wajar, tidak lagi layak untuk dibahas?

Bukan rahasia lagi bahwa di beberapa bagian dunia Katolik, para pastor sudah mulai, secara diam-diam, untuk mendorong pasangan yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni. Di beberapa tempat, khususnya di dunia berbahasa Jerman, praktik pastoral yang lemah telah menjadi norma. Sejauh Amoris Laetitia mendukung praktik ini, ketidakjelasan pedoman paus telah mengurangi universalitas pengajaran dan disiplin Katolik. Setelah publikasi nasihat apostolik, para uskup Jerman dengan cepat mengumumkan bahwa mereka siap untuk menawarkan Komuni kepada pasangan yang sudah bercerai dan menikah lagi, sementara para uskup dari negara tetangga, Polandia, bersikukuh bahwa mereka tidak akan melakukannya. Robert Royal berkomentar:

Di satu sisi dari perbatasan antara dua negara, pemberian Komuni bagi orang yang bercerai dan menikah kembali, sekarang akan menjadi tanda pencurahan baru dari belas kasihan dan pengampunan Tuhan. Namun di sisi yang lain, memberikan Komuni kepada seseorang dalam relasi perkawinan yang "tidak teratur" tetap merupakan pelanggaran terhadap Sabda Kristus dan jika pasangan seperti itu menerima Komuni, hal itu adalah perbuatan sakrilegi. Secara konkret, di seluruh dunia, yang tampak di permukaan adalah kekacauan dan konflik, bukan Katolisitas.

Francis telah meremehkan gawatnya konflik semacam itu dalam nasihat kerasulannya (Amoris Laetitia)l — “tidak semua diskusi tentang masalah-masalah doktrinal, moral, atau pastoral perlu diselesaikan dengan intervensi magisterium.” Cukup benar, memang. Tetapi ketika Magisterium melakukan intervensi, sangat penting bahwa intervensi itu harus jelas. Paus adalah juga seorang pastor. Dia juga seorang guru - khususnya ketika dia mengeluarkan nasihat kerasulan - dan seorang guru harus berkata jelas dalam hal-hal yang prinsip.

Ketika, selama konferensi pers dalam penerbangan yang lain, Francis didesak untuk menjelaskan tentang arti catatan kaki 351, tentu saja itu adalah catatan kaki paling kontroversial dalam sejarah Gereja, dia menjawab bahwa dia tidak ingat hal itu. Jawaban itu telah menghancurkan kredibilitasnya. Apakah paus meminta kita untuk percaya bahwa dia tidak mengetahui kontroversi itu? Bahwa dia telah melupakan satu-satunya kata dalam nasihat apostoliknya yang secara langsung berbicara tentang pertanyaan paling panas yang diperdebatkan selama dua tahun terakhir? Apakah catatan kaki yang penting itu dimasukkan oleh seorang pembantunya ketika Francis tidak memperhatikan? Atau apakah paus berjuang untuk mempertahankan apa yang oleh politisi Amerika disebut "penyangkalan yang masuk akal," dan menyerahkannya kepada orang lain untuk menarik kesimpulan dari perbuatannya sebagai paus? Salah satu dari kemungkinan itu akan berdampak buruk pada paus sendiri.

Bahwa Francis tidak menyadari catatan kaki yang kontroversial adalah penjelasan yang paling masuk akal tentang keengganannya untuk membahasnya. Pilihannya pada pengelakan yang transparan menunjukkan bahwa dia tidak siap untuk membela argumen bahwa dia telah maju dalam dokumennya sendiri. Apakah dia berharap catatan kaki itu berlalu tanpa disadari? Atau apakah dia berharap bisa menghindari komentar tentang kontroversi dan membiarkan orang lain menerapkan interpretasi mereka sendiri pada pengajarannya yang ambigu?


Berbagai Interpretasi Tidak Resmi, Bacaan-bacaan Yang Kontradiktif

Pastor Antonio Spadaro, salah satu rekan terdekat paus, mengeluarkan pernyataannya sendiri tentang arti Amoris Laetitia pada bulan April 2016 di La Civiltà Cattolica. Paus, kata Spadaro, telah menghapus pembatasan umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Sakramen-sakramen. Penafsiran itu, yang secara langsung bertentangan dengan pernyataan bahwa paus tidak melakukan perubahan besar, patut dicatat karena sumbernya. La Civiltà Cattolica dianggap semi-otoritatif karena isinya disetujui terlebih dahulu oleh Sekretariat Negara Takhta Suci. Spadaro telah bekerja erat dengan Francis sebagai penasihat dan penerjemah dan dilaporkan membantu untuk menyusun nasihat kerasulan Amoris Laetitia.

Surat kabar Vatikan, L'Osservatore Romano, juga menimbang, memberi tempat pada halaman depan bagi sebuah esai tulisan Rocco Buttiglione (seorang filsuf, politisi, dan penasihat St. Yohanes Paulus II yang disegani secara luas) untuk mendukung argumen bahwa umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi mungkin, dalam beberapa keadaan khusus, bisa menerima Komuni. Dengan alasan bahwa Gereja Katolik selalu mengakui kemungkinan bahwa keadaan individu sangat menentukan apakah seseorang dalam keadaan berdosa atau tidak, Buttiglione menulis:

Jalan yang diusulkan paus bagi orang yang bercerai dan menikah kembali, adalah persis sama dengan yang diusulkan Gereja untuk semua orang berdosa: Pergi ke pengakuan dosa, dan menemui bapa pengakuan Anda, setelah mengevaluasi semua keadaan, dia akan memutuskan apakah akan mengampuni Anda dan mengijinkan Anda untuk menerima Ekaristi atau tidak.

Buttiglione mengajukan sebuah kasus di mana, katanya, seorang bapa pengakuan dapat secara tepat memerintahkan orang yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Ekaristi: Ada seorang wanita, ditinggalkan oleh suami pertamanya, kemudian dia menikah lagi, memiliki anak, dan kemudian kembali untuk menjalankan praktik Imannya. Wanita itu sendiri mungkin bersedia untuk tidak melakukan hubungan seksual, tetapi pasangan barunya, yang bersikeras dengan hak-hak perkawinannya, mengancam untuk meninggalkannya — dan anak-anak mereka — jika wanita dia tidak mau berhubungan sex dengannya. Risiko putusnya keluarga, yang akan sangat membahayakan anak-anak, tidak dapat diterima, demikian Buttiglione berpendapat, sehingga wanita itu tidak bersalah karena menyetujui untuk melakukan hubungan intim dengan suami barunya dan dia seharusnya boleh menerima Komuni. Tetapi ada tiga masalah mencolok dengan skenario ini.

Pertama, Kristus sendiri mengajarkan bahwa jika seorang wanita “menceraikan suaminya dan menikahi orang lain, dia melakukan perzinahan” (Markus 10:12). Jika bapa pengakuan mengijinkan wanita ini untuk menerima Komuni, bukankah ini berarti bahwa pastor itu mengatakan bahwa perzinahan dapat dibenarkan dalam beberapa keadaan? Ini adalah prinsip moral mendasar, bahwa tindakan tertentu (misalnya, perzinahan), dinilai oleh norma objektif moralitas, pada hakekatnya adalah jahat. Tindakan seperti itu tidak pernah dibenarkan oleh niat atau keadaan seseorang. Sebagaimana Katekismus Gereja Katolik (paragraf 1756) menjelaskan: CCC 1756. Dengan demikian, keliru sekali untuk menilai moralitas perbuatan manusia hanya dengan melihat maksud yang menjiwainya atau faktor situasional yang menyertainya (seperti lingkungan, tekanan masyarakat, paksaan, atau keharusan untuk melakukan sesuatu). Ada perbuatan yang di dalam dan dari dirinya sendiri, terlepas dari situasi dan maksud, selalu buruk karena obyek perbuatan itu sendiri; misalnya penghujatan terhadap Allah dan sumpah palsu, pembunuhan dan zina. Orang tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang buruk, supaya diperoleh sesuatu yang baik darinya.

Kedua, jika seorang bapa pengakuan menasihati wanita ini untuk tunduk pada tuntutan suami barunya (“…tidur dengan saya atau anak-anakmu menjadi lapar”) apakah bapa pengakuan itu mengijinkan terjadinya hubungan yang berdosa? Apakah tuntutan lainnya, baik fisik maupun emosional, yang mungkin diminta oleh suami kedua, tidak disadari oleh bapa pengakuan? Bayangkan adanya badai kritik (yang dibenarkan) jika diketahui, atau bahkan dicurigai, bahwa para pastor menginstruksikan wanita yang penurut itu untuk menanggung pelecehan dari pasangan barunya.

Ketiga, Buttiglione berasumsi bahwa suatu pasangan harus tetap bersama, bahkan dalam sebuah pernikahan yang terlarang, demi kepentingan anak-anak mereka. Tetapi asumsi itu bertentangan dengan pemahaman tentang pernikahan yang ditetapkan oleh paus sebelumnya. Dalam ensikliknya tahun 1930-an, Casti Connubii, Pius XI, mengutip St Agustinus, menulis bahwa ikatan pernikahan adalah sedemikian sakral sehingga “seorang suami atau istri, jika terpisah, tidak boleh disatukan dengan yang lain bahkan demi alasan keturunan mereka.”

Buttiglione setidaknya berusaha menemukan sebuah kasus di mana proposal Kasper dapat didamaikan dengan pengajaran Gereja. Satu aspek yang membuat frustrasi dari debat ini adalah penolakan Kasper dan banyak pendukungnya untuk menjelaskan dalam keadaan apa orang yang bercerai dan menikah kembali bisa diizinkan untuk menerima Komuni atau untuk meneliti proses dimana pasangan dapat mencapai keputusan itu. Mengakui bahwa keputusan itu tidak boleh dianggap remeh, mereka menetapkan bahwa pasangan yang menikah lagi harus melalui "proses rekonsiliasi" sebelum menerima Komuni Kudus. Tetapi proses apa itu, dan siapa yang harus menentukan, apakah akhirnya, mereka siap untuk menerima Komuni? Sayangnya pertanyaan-pertanyaan mendasar dan amat jelas ini tidak pernah dijawab.

Banyak pendukung Kasper mengisyaratkan sesuatu seperti skenario Buttiglione, dan membahas keadaan di mana persyaratan itu mungkin menjadi kesulitan bagi pasangan yang sudah menikah untuk tidak melakukan aktivitas seksual. Ya, itu tentu bisa menjadi kesulitan. Namun terkadang keputusan moral menuntut pilihan yang sulit. Banyak pasangan menikah dipaksa untuk tidak melakukan hubungan seksual karena alasan lain — kondisi medis, mungkin, atau harus melakukan perpisahan fisik. Ini adalah kesulitan, tetapi bukan tidak mungkin untuk terjadi.

Tidak adanya perincian tentang “proses rekonsiliasi” yang diusulkan membuka pintu lebar-lebar bagi tindakan penyalahgunaan kebijakan baru apa pun. Pendukung proposal Kasper selalu mengatakan bahwa aturan lama Gereja hendaknya diterapkan dalam banyak kasus, dan bahwa dispensasi baru akan ditawarkan hanya kepada beberapa orang saja. Tetapi ketergantungan proposal Kasper pada "forum pemeriksaan batin" membuat penentuan akhir dalam setiap kasus terserah pada masing-masing bapa pengakuan, yang praktis mengundang pasangan untuk ‘berbelanja di kedai pemeriksaan batin’, bagi seorang pastor dengan pandangan yang luas tentang penerapan kebijakan yang baru itu. Para pastor yang cenderung bersikap lebih keras akan segera menyadari bahwa mereka sedang berjuang dalam sebuah ‘perang kekalahan’ ketika para peniten yang kecewa berkendara melintasi kota menuju seorang pastor yang lebih patuh kepada proposal Kasper. Demikianlah kebijakan yang diperkenalkan sebagai ‘pengecualian’ ini dapat dengan cepat menjadi norma baru.

Prospek untuk memperkenalkan ajaran atau disiplin yang dapat merusak kesucian pernikahan tidak dapat diterima oleh para uskup Katolik di beberapa bagian dunia. Kardinal Afrika Selatan, Wilfrid Napier, menggunakan sarana komunikasi Dunia Pertama (Dunia Barat) yang sesungguhnya, untuk mempertanyakan logika dalam Amoris Laetitia, menulis dalam tweeternya, “Jika orang Barat dalam situasi perkawinan yang tidak teratur dapat menerima Komuni Kudus, apakah kita disini juga harus memberitahu para pendukung / pelaku poligami kita & 'kekeliruan’ lainnya bahwa mereka juga diijinkan?"


Sebuah Sikap Diam Yang Merusak Hukum

Namun, bagian-bagian lain dunia telah menyambut bacaan yang lebih terbuka tentang Amoris Laetitia. Para uskup di kota kelahiran paus, Buenos Aires, menyiapkan instruksi untuk para pastor mereka tentang implementasi Amoris Laetitia, dengan menganut proposal Kasper, dan mendorong "pendampingan pastoral" kepada pasangan dalam relasi yang tidak wajar, dengan pemahaman bahwa bahkan jika mereka bertahan dalam hubungan seperti itu "sebuah jalan kebijaksanaan" yang dapat menuntun mereka kepada Ekaristi "adalah mungkin."

Dalam sebuah surat pribadi yang dikirimkan kepada para uskup ini pada awal September 2016, Francis memberi selamat kepada orang-orang sebangsanya atas interpretasi mereka pada nasihat kerasulannya, dan paus menulis bahwa surat para uskup itu “sepenuhnya menangkap makna” dari karyanya. "Tidak ada lagi interpretasi yang lain," tambah paus.

Ketika surat ini dibocorkan kepada pers (dan dikonfirmasi sebagai otentik oleh Takhta Suci beberapa hari kemudian), umat Katolik sedunia menikmati tontonan yang tidak masuk akal. Setelah lebih dari dua tahun perdebatan yang sangat kontroversial - pertama tentang proposal Kasper dan kemudian tentang makna sebuah catatan kaki dalam dokumen kepausan terpanjang dalam sejarah - tanpa bimbingan yang jelas dari paus, interpretasi pertama yang tampaknya berwibawa akhirnya muncul, bukan di pernyataan publik formal, tetapi dalam wujud surat pribadi di mana paus mengomentari interpretasi orang lain.

Bukankah lebih masuk akal untuk menyelesaikan pertanyaan semacam itu dengan pernyataan resmi dari kantor pers Vatikan? Namun sekali lagi, Francis sengaja menghindari mencatat pernyataan semacam itu. Hanya beberapa bulan sebelumnya, menanggapi pertanyaan lama yang sama dari wartawan selama wawancara dalam penerbangan, dia juga menolak memberikan jawaban langsung. Andrea Tornielli dari La Stampa menulis soal itu:

Ketika paus ditanya apakah ada kemungkinan baru yang nyata untuk menerima sakramen-sakramen dimana kemungkinan ini tidak ada sebelum terbitnya ensiklik “Amoris Laetitia”. "Saya bisa mengatakan 'ya' dan membiarkannya begitu," jawab Francis. "Tapi itu akan menjadi jawaban yang terlalu singkat. Saya sarankan Anda semua membaca presentasi yang dibuat oleh Cardinal Schönborn, seorang teolog yang hebat."

Jika Francis menyatakan dengan jelas dan formal bahwa orang Katolik yang bercerai dan menikah lagi dapat menerima Komuni, maka dia harus mengabaikan perlawanan kuat yang dia hadapi di dalam Sinode, sambil melemahkan klaimnya sendiri dimana dia megaku berbicara atas nama para uskup dunia. Dia juga harus bertentangan dengan ajaran Yohanes Paulus II, yang menyatakan dalam Familiaris Consortio bahwa umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali harus hidup sebagai saudara dan saudari, jika mereka ingin menerima Ekaristi. “Jika orang yang bercerai dan menikah lagi diijinkan untuk menerima Komuni Kudus,” Yohanes Paulus II menulis, “maka umat beriman akan dituntun ke dalam kesesatan dan kebingungan mengenai ajaran Gereja tentang tidakterceraikannya pernikahan” (84). Logika pernyataan magisterial Yohanes Paulus II ini sangat jelas dan meyakinkan. Dan jika Francis membalikkan kebijakan yang ditetapkan oleh Yohanes Paulus II, akan tampak jelas bahwa paus di masa depan dapat membalikkan kebijakan yang ditetapkan oleh Francis juga, dan tidak ada pernyataan kepausan tentang pertanyaan ini yang dapat dianggap meyakinkan dan pasti.

Terlepas dari sikapnya yang sering ambigu, Francis tidak diragukan lagi telah membuka pintu bagi orang yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni. Secara praktis, hampir setiap umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi dapat berargumen bahwa kasusnya termasuk dalam kategori khusus itu — apa pun itu — dari mereka yang diizinkan untuk menerima Ekaristi. Jika pastornya tidak setuju, pasangan itu akan pindah ke paroki lain, sampai mereka menemukan seorang pastor yang mau menerima alasan mereka.

Apakah paus berniat: untuk membiarkan setiap pastor paroki bebas membuat interpretasinya sendiri tentang ajaran Gereja? Setelah sering berbicara tentang desentralisasi otoritas Gereja, apakah paus benar-benar bermaksud untuk bertindak sejauh itu? Dengan nada main-main, paus telah mendorong kaum muda Katolik untuk “membuat kekacauan”; apakah dia mencoba memberi contoh mereka dengan merusak kuasa pengajaran Gereja?

Hukum Kanon menempatkan para imam di bawah kewajiban serius untuk menghindari skandal dengan menolak pemberian Ekaristi kepada mereka yang bertahan dalam dosa besar yang nyata (kanon 915). Sebuah hubungan yang tidak senonoh adalah dosa besar yang nyata. Para uskup Argentina tampaknya mengatakan — dengan persetujuan paus — bahwa dalam beberapa keadaan para imam harus memberikan Komuni kepada orang-orang yang hidup dalam hubungan yang secara obyektif bersifat zina. Apakah hukum kanon 915 telah diamandemen atau dibatalkan? Paus adalah legislator tertinggi Gereja, dengan kekuatan yang tidak bisa dipertanyakan untuk memodifikasi hukum kanon. Tetapi dia sengaja tidak melakukan perubahan atas hukum kanon itu. Dan dia dengan sengaja menghindari pelaksanaan wewenangnya, dengan memberi kesan bahwa ajaran dan hukum Gereja formal tidak terlalu penting dan dengan aman dapat diabaikan.


Empat Kardinal Dan Dubia

Kebingungan yang ditimbulkan oleh Amoris Laetitia dan ancaman yang dihasilkan terhadap persatuan Katolik telah mendorong empat orang kardinal — Walter Brandmüller, Raymond Burke, Carlo Caffarra, dan Joachim Meisner — untuk menulis surat kepada paus pada bulan September 2016 memohon klarifikasi, dengan mengamati bahwa penasiran yang “berbeda” dan bahkan “penafsiran yang bertentangan” atas Bab 8 dari Amoris Laetitia telah memprovokasi "ketidakpastian, kebingungan dan disorientasi di antara banyak umat beriman"  mengenai ajaran Gereja tentang pernikahan. “Didorong oleh hati nurani dan oleh tanggung jawab pastoral mereka,” para kardinal itu menyerahkan kepada paus “sebagai guru iman yang tertinggi” lima pertanyaan berikut — dubia — tentang nasihat Amoris Laetitia, dan meminta paus “untuk menyelesaikan ketidakpastian dan membawa kejelasan.” :

1. Apakah sekarang “dimungkinkan untuk memberikan absolusi dalam sakramen tobat dan dengan demikian untuk memberikan Komuni Kudus kepada seseorang yang, walaupun terikat oleh ikatan perkawinan yang sah sebelumnya, tetapi dia kemudian hidup bersama dengan orang yang berbeda sebagai suami dan istri”? Dan “bisakah perkataan ‘dalam kasus-kasus tertentu' yang ada Catatan 351. . . diterapkan pada orang yang bercerai yang berada dalam ‘perkawinan’ baru mereka dan terus hidup sebagai suami-istri?"

2. “Apakah kita masih perlu menganggap valid ajaran dari ensiklik Veritatis splendor dari St Yohanes Paulus II, 79, yang berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Gereja, tentang keberadaan norma-norma moral absolut yang melarang perbuatan jahat intrinsik dan yang mengikat tanpa pengecualian?"

3. “Masih mungkinkah untuk menegaskan bahwa seseorang yang hidup bertentangan dengan perintah hukum Allah, seperti misalnya hukum yang melarang perzinaan (Matius 19: 3–9), menganggap dirinya berada dalam sebuah situasi objektif dari dosa berat . . ?”

4. “Apakah kita masih harus menganggap valid ajaran dari ensiklis Veritatis splendor  St. Yohanes Paulus II, 81,. . . dimana menurut ensiklis itu ‘keadaan atau niat tidak akan pernah bisa mengubah tindakan yang secara intrinsik jahat berdasarkan objeknya, menjadi tindakan yang "secara subyektif" adalah baik atau dapat dipertahankan sebagai pilihan' "?

5. “Apakah kita masih harus menganggap sah ajaran Ensiklik St. Yohanes Paulus II Veritatis Splendor, 56,. . . yang mengajarkan bahwa hati nurani tidak akan pernah diizinkan untuk memberikan pengecualian yang sah terhadap norma-norma moral absolut yang melarang tindakan jahat secara intrinsik berdasarkan objeknya?”

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa minggu tanpa jawaban, keempat kardinal itu menyampaikan pertanyaan mereka - yang masing-masing dapat dijawab hanya “ya” atau “tidak” - kepada Gereja universal untuk dilakukan diskusi, dan menjelaskan bahwa mereka menafsirkan sikap diam paus sebagai “undangan. untuk melanjutkan refleksi dan diskusi, dengan tenang dan penuh hormat."

Para pembela Francis yang paling setia menyatakan kaget atas pernyataan publik dubia, dan menyebutnya sebagai tindakan tidak hormat terhadap paus tertinggi. Tetapi Kardinal George Pell menolak tuduhan itu. Keempat kardinal itu, dia mengamati, hanya mengajukan pertanyaan, dan pertanyaan yang penting pada saat itu, dan mereka tidak menyulut perbedaan pendapat: "Bagaimana Anda bisa tidak setuju dengan suatu pertanyaan?"

Msgr. Pio Vito Pinto, dekan Rota Romawi, menempuh garis yang sangat berbeda. Marah dengan surat para kardinal dubia, dia mengatakan bahwa paus dapat mengeluarkan keempat orang itu dari Kolese para Kardinal sebagai hukuman atas tindakan mereka yang menghina. Cardinals Burke, Brandmüller, Caffarra, dan Meisner dapat dituduh telah menyebabkan "skandal besar," kata Pinto, karena pertanyaan mereka tentang interpretasi dari nasihat apostolik Amoris Laetitia yang mencerminkan karya dari Sinode Para Uskup — dimana empat kardinal dubia itu dituduh ‘mengemis’ dengan mempertanyakan apakah anjuran apostolik itu benar-benar mencerminkan karya Sinode para Uskup. “Tindakan dari Roh Kudus tidak dapat diragukan,” demikian kata Pinto bersikeras.

Dan paus masih juga diam membisu, tidak memberikan respons publik terhadap dubia. Pada November 2016 dia mengadakan sebuah konsistori untuk memberikan topi merah pada tujuh belas kardinal baru. Sebelum dua kali konsistori sebelumnya, Francis telah berdiskusi selama beberapa hari dengan para anggota Kolese. Namun kali ini, dia tidak mengajak para kardinal untuk berkumpul secara terpisah dari upacara formal, hingga hal ini mendorong wartawan spesialis Vatikan, Marco Tosatti, untuk berspekulasi bahwa paus takut akan beberapa "kardinal, yang menginginkan perkataan yang  tegas dari paus soal dubia," dan mereka akan bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya kepada paus mengenai hal itu.

Kardinal Gerhard Müller, prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman, mengatakan bahwa kantornya sebenarnya dapat menanggapi dubia itu jika paus mengizinkannya untuk melakukannya. Karena kongregasinya mengeluarkan penilaian "dengan otoritas Paus," katanya, maka tidak pantas bagi dia untuk campur tangan tanpa persetujuan paus.

Laporan-laporan tentang pertempuran di dalam Vatikan mengenai penafsiran Amoris Laetitia dibesar-besarkan, kata Kardinal Müller, dan hal itu mencerminkan kecenderungan wartawan untuk menafsirkan urusan Gereja dalam hal politik kekuasaan. Pada saat yang sama, katanya, penting bagi umat beriman untuk "tetap objektif dan tidak diseret ke dalam polarisasi." Untuk pertanyaan yang paling kontroversial tentang Amoris Laetitia — apakah umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali dapat menerima Komuni — Müller menolak memberikan jawaban langsung.

Sementara itu Müller menyatakan keyakinannya bahwa Amoris Laetitia sepenuhnya sejalan dengan ajaran Gereja sebelumnya, maka kardinal Italia (Carlo Caffarra) yang telah ikut menandatangani dubia tidak setuju. Carlo Caffarra mengatakan bahwa “hanya orang buta saja yang menyangkal bahwa ada kebingungan besar, ketidakpastian, dan rasa tidak aman di dalam Gereja.” Dalam sebuah wawancara dengan harian Italia Il Foglio, Caffarra mengatakan bahwa kebingungan itu melibatkan “… pertanyaan yang sangat serius bagi kehidupan Gereja dan keselamatan kekal umat beriman."

"Dalam beberapa bulan terakhir," kata Caffarra, "pada beberapa pertanyaan yang sangat mendasar mengenai sakramen-sakramen, seperti pernikahan, pengakuan dosa dan Ekaristi, dan kehidupan Kristiani secara umum, para uskup diosesan telah mengeluarkan interpretasi yang kontradiktif dengan perkataan paus dan mereka mengumumkan kebijakan-kebijakan yang berbeda secara radikal.” "Hanya ada satu cara untuk sampai ke dasar dari kebingungan ini,” dia berkata: "… bertanya kepada si penulis teks." Dia mengutuk tuduhan bahwa dubia telah menyebabkan perpecahan di dalam Gereja, sebagai tuduhan yang "palsu dan licik". “Perpecahan yang sudah ada di dalam Gereja adalah sebagai penyebab, bukan akibat, dari munculnya permintaan klarifikasi kepausan (dubia),” katanya.

“Tetapi keinginan untuk mendapat kejelasan itu sendiri adalah masalah,” kata Uskup Agung Mark Coleridge dari Brisbane, Australia. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di Amerika, dia memperingatkan bahwa para uskup yang meminta klarifikasi seakan sedang mengejar sebuah "kejelasan yang salah, yang sedang tiba, karena Anda tidak membahas tentang kenyataan." Dalam sesi Sinode, Coleridge "mendengar suara-suara yang terdengar sangat jelas dan pasti, tetapi hal itu karena mereka tidak pernah bergulat dengan pertanyaan yang nyata atau tidak pernah berurusan dengan fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.” “Sementara ada beberapa orang lebih suka melihat hal-hal seolah hanya ada hitam dan putih, katanya, “dan para pastor sangat sering berurusan dengan dunia abu-abu dan Anda harus mendampingi orang-orang, mendengarkan mereka, sebelum Anda berbicara dengan mereka, memberi mereka waktu dan memberi mereka ruang, dan kemudian menyampaikan perkataan Anda, mungkin." Uskup agung itu tidak menjelaskan bagaimana kejelasan (hukum) moral mungkin tidak sesuai dengan "kenyataan yang ada,” bahkan seringkali hukum moral itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Coleridge mengakui bahwa banyak umat Katolik telah "dikecewakan" oleh dokumen kepausan, seperti yang dikatakan oleh rekan senegaranya, Kardinal Pell. "Beberapa orang mengharapkan dari Paus kejelasan dan kepastian pada setiap pertanyaan dan setiap masalah," kata Coleridge, "tetapi seorang pastor mungkin tidak dapat menyediakan jawaban itu pada saat dibutuhkan."


Ambiguitas Itu Disengaja

Ketika berminggu-minggu berubah menjadi bulan dan dubia tetap juga tidak terjawab, maka menjadi semakin jelas bahwa sikap diam paus itu sebagai strategis. Kebingungan dalam Amoris Laetitia bukanlah sebuah ‘virus’; itu adalah sebuah ‘program yang sudah melekat’.

Para pembela nasihat kerasulan Amoris Laetitia bersikeras bahwa bab kedelapan yang terkenal itu, sudah cukup jelas, dan bahwa empat kardinal yang mengajukan pertanyaan (dubia) tentang maknanya, hanya suka berdebat. Tetapi jika itu masalahnya, paus bisa menghindari rasa malu di hadapan publik dengan menjawab pertanyaan para kardinal itu. Tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya.

Hanya ada tiga cara yang mungkin untuk menafsirkan sikap diam paus. Entah dia bersikap sangat kasar kepada para penasihat terdekatnya, dengan tegas menolak untuk menjawab pertanyaan jujur ​​mereka, atau dia tidak ingin memberikan jawaban langsung. Atau keduanya.

Satu kemungkinan yang dapat dengan cepat dikecualikan dari diskusi adalah bahwa paus percaya bahwa makna dari Amoris Laetitia sudah jelas bagi umat beriman. Bukan itu. Setelah dua tahun perdebatan sengit tentang pertanyaan paling kontroversial yang terlibat, umat Katolik yang cerdas dan berpengetahuan masih tidak yakin dengan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Francis.

Jika pengajaran kepausan itu sudah jelas, bagaimana hal itu bisa berarti ‘A’ di Polandia, dan berarti ‘B’ di Jerman, berarti ‘C’ di Philadelphia dan Portland, dan berarti ‘D’ di Chicago dan San Diego? Jika beberapa uskup menafsirkan dokumen kepausan yang satu dan sama itu secara berbeda, mengapa hal itu tidak diperbaiki?

Ketika keempat kardinal yang ‘waspada’ itu terus mendesak paus untuk memberikan klarifikasi, beberapa wartawan Katolik mencoba menentukan berapa lama biasanya seorang paus untuk menanggapi dubia semacam ini. Tidak ada jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan ini, karena tidak ada kejadian sebelumnya bagi pertanyaan ini. Biasanya, dokumen kepausan adalah jelas. Jika ada kebingungan muncul dari pernyataan kepausan, maka klarifikasi biasanya mengikuti dengan cepat — jauh sebelum dubium formal dapat diangkat — karena inti pengajaran kepausan adalah untuk memberikan kejelasan. Biasanya. Tapi ini kasus yang berbeda.

John Allen, yang menulis di media Crux, menawarkan sebuah alternatif yang masuk akal tentang niat paus: "Mungkin ini adalah versi paus tentang R&D Katolik, membiarkan segala sesuatunya bermain untuk sementara waktu di lapangan, sebelum dia mengatakan sesuatu yang tidak dapat diubah." Dengan kata lain, mungkin paus sengaja menciptakan ruang untuk eksperimen pastoral, untuk melihat apa itu berhasil. Uskup Agung Coleridge tampak puas dengan pendekatan itu. "Perawatan pastoral bergerak dalam ambiguitas," tulisnya di akun Twitter-nya, menambahkan satu penggalian pada empat kardinal (dubia) : "Kita sekarang membutuhkan kesabaran pastoral, bukan kegelisahan perbaikan cepat yang disuarakan di sini."

Jika Allen dan Coleridge percaya bahwa paus mendorong eksperimen dengan membiarkan berbagai masalah dalam keadaan tidak beres, pengamat lain — yang jauh lebih dekat dengan paus — akan bersikeras bahwa makna dari Amoris Laetitia telah diselesaikan. Pastor Antonio Spadaro bereaksi terhadap surat publik keempat kardinal itu dengan tweet-storm. "Paus telah ‘mengklarifikasi,’ kata pastor Yesuit itu. "Mereka yang tidak suka apa yang mereka dengar, pura-pura tidak mendengarnya!" Dia menyertakan sebuah link kepada surat Paus yang ditujukan kepada para uskup Argentina, seolah-olah sebuah surat pribadi yang bocor bisa memiliki otoritas. Dan tentu saja, kebijakan uskup-uskup Argentina itu tidak membahas dubia. Dengan nada mengejek keempat kardinal dubia, Spadaro kemudian men-tweet, “Amoris Laetitia adalah tindakan Magisterium (Kard. Schönborn) karena itu janganlah terus menanyakan pertanyaan yang sama sampai Anda mendapatkan jawaban yang Anda inginkan."

Diisukan memiliki peran utama dalam penyusunan Amoris Laetitia, Spadaro telah mengungkapkan lebih banyak hal di Twitter daripada sekadar sikap geramnya. Jika dia ingin para kardinal berhenti mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit itu, tidak masuk akal untuk mencurigai bahwa Paus sendiri ingin mengubur pertanyaan-pertanyaan itu. Dan sikap diam terus menerus dari paus memperkuat kecurigaan itu.


Membela Paus, Menghindari Masalah

"Yang saya tahu adalah bahwa keraguan yang ada di sana, yang diungkapkan, bukanlah keraguan saya, dan saya pikir itu bukan keraguan Gereja universal," Cardinal Blase Cupich meyakinkan Edward Pentin dari National Catholic Register sebagai jawaban atas pertanyaan tentang dubia. Tidak terganggu oleh ambiguitas apa pun, uskup agung Chicago melanjutkan:

Dokumen yang mereka ragukan adalah buah dari dua sinode, dan buah dari proposisi yang dipilih oleh dua pertiga dari para uskup yang ada di sana. Ini adalah nasihat apostolik post-sinodal, dan karena itu ia berdiri pada tingkat yang sama dengan semua nasihat apostolik post-sinodal lainnya sebagai dokumen magister. Saya pikir jika Anda mulai mempertanyakan keabsahan apa yang dikatakan dalam dokumen semacam itu, apakah Anda kemudian mempertanyakan semua dokumen lain yang telah dikeluarkan sebelumnya oleh paus lain?

Sebenarnya, sebagaimana Pentin mengamati, proposisi yang dimaksud tidak disetujui oleh semua Uskup peserta Sinode. Tapi itu hampir tidak penting, karena keempat kardinal itu tidak menyatakan keraguan tentang apa yang dikatakan Sinode. Mereka bahkan tidak secara langsung mempertanyakan ringkasan Paus tentang pertimbangan Sinode. Mereka hanya  mempertanyakan interpretasi beberapa orang tentang dokumen paus yang merangkum Sinode.

Untuk mengajukan pertanyaan tentang Amoris Laetitia, Cupich mengatakan, bahkan pertanyaan tentang bagaimana hal itu harus dipahami, hal itu berarti mempertanyakan semua pernyataan paus sebelumnya. Namun, pendekatan yang lebih bernuansa Magisterium mungkin diperlukan. Dalam mengangkat dubia mereka, keempat kardinal mengamati bahwa beberapa interpretasi Amoris Laetitia nampak bertentangan langsung dengan Veritatis Splendor, karya magisterial St. Yohanes Paulus II. Jika satu pernyataan kepausan bertentangan dengan yang lain, konflik tidak dapat diselesaikan dengan mengatakan bahwa semua umat Katolik yang baik harus menerima otoritas dokumen kepausan.

Kardinal-kardinal baru dari Amerika, pilihan Francis, misalnya Joseph Tobin dari Newark, juga berusaha untuk menghindari masalah yang diangkat di dalam dubia. “Yang mungkin bisa sangat membantu dalam hal ini, daripada setiap uskup atau kardinal menuntut agar paus menjelaskan pada setiap penerapan konkret dari magisterium, adalah agar kita, sebagai uskup, menerima saja hal itu dan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.” Mungkin masuk akal jika para uskup tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Tetapi dubia yang diajukan oleh 4 orang kardinal itu membahas poin dimana banyak uskup tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Dalam hal ini, beberapa uskup yang cukup percaya diri bahwa mereka tahu apa yang harus dilakukan, ternyata mereka juga saling bertentangan dengan uskup yang lain, yang juga merasa bahwa mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Kebingungan seputar dokumen kepausan (Amoris Laetitia) terlihat jelas. Ada dua cara untuk mengatasinya. Salah satunya adalah dengan menjawab pertanyaan para kardinal. Yang lain adalah dengan meniru Rex Mottram, seorang komikus bodoh dalam kisah Evelyn Waugh's Brideshead Revisited. Imam Yesuit yang tidak tulus itu, yang melakukan tugas mengajar Iman Katolik di Mottram, berbicara dengan nada putus asa,

Kemarin saya bertanya kepadanya apakah Tuhan kita memiliki lebih dari satu sifat. Dia berkata: "Sama seperti yang Anda katakan, Pastor." Kemudian saya bertanya lagi kepadanya: "Seandainya Paus melihat ke atas dan melihat awan dan berkata, ‘Akan turun hujan,’ "apakah itu pasti akan terjadi?" “Oh, ya, Pastor." "Tetapi seandainya tidak turun hujan?” Dia berpikir sejenak dan berkata, "Saya kira itu akan berupa hujan rohani, hanya saja kita terlalu berdosa untuk bisa melihatnya."

Kardinal Marx dari Munich memilih pendekatan Mottram, dan mengatakan kepada National Catholic Register bahwa konferensi para uskup Jerman tidak mengalami kesulitan dalam mencapai kesepakatan mengenai interpretasi yang tepat dari Amoris Laetitia. Mereka mengeluarkan pedoman, yang mencerminkan “posisi yang jelas,” untuk menerima orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali untuk menerima Komuni dalam beberapa kasus.

Pastor Spadaro dari La Civiltà Cattolica menggunakan nada yang sama, dengan bersikeras bahwa keempat pertanyaan kardinal itu telah dijawab. Dia mengakui bahwa dubia menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang menarik, dan dia mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu "sudah diangkat selama Sinode," di mana "semua tanggapan yang diperlukan telah diberikan, dan lebih dari sekali." Dalam ucapan lain yang cukup keras, yang diarahkan kepada para kardinal dubia, Spadaro yang agresif itu mengatakan bahwa “Hati nurani yang meragukan dapat dengan mudah menemukan semua jawaban yang dicari, jika mereka mau mencarinya dengan tulus.” Agar siapa pun tidak salah mengerti dengan maksudnya, Spadaro melanjutkan dengan mengatakan bahwa pembahasan Amoris Laetitia harus mengesampingkan “mereka yang menggunakan kritik untuk tujuan lain atau mengajukan pertanyaan untuk menciptakan kesulitan atau perpecahan."

Spadaro juga mengatakan pada Januari 2017, ketika dia memposting komentar samar di akun Twitter-nya yang mengolok-olok mereka yang mencari kepastian tentang pengajaran kepausan:

Teologi bukanlah Matematik. 2 + 2 di dalam Teologi dapat menghasilkan 5. Karena itu ada hubungannya dengan Allah dan kehidupan nyata dari manusia. . .

Apakah disini Spadaro menyarankan bahwa ketika kita berbicara tentang "kehidupan nyata," aturan logika tidak berlaku? Jika seseorang memberi tahu Anda, “Anda dapat membicarakan semua yang Anda inginkan tentang hukum gravitasi, tetapi dalam kehidupan nyata. . . , Anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi Anda tahu itu akan menjadi omong kosong. Hukum gravitasi adalah hukum kehidupan nyata, yang berlaku untuk manusia yang nyata.

Jadi bagaimana mungkin "2 + 2 di dalam Teologi bisa menghasilkan 5"? Spadaro memberi tahu kita bahwa teologi “ada hubungannya dengan Allah.” Apakah yang dia maksudkan adalah bahwa Allah mungkin melanggar hukum-hukum logika? Jika demikian, maka Spadaro telah jatuh ke dalam kesalahan yang dikritik oleh Benediktus XVI dalam pidatonya yang terkenal di Regensburg: gagasan bahwa iman tidak dapat dikenai analisis rasional. Benediktus memandang penghinaan terhadap nalar ini sebagai kelemahan pemikiran dari kelompok tertentu. Dia mungkin tidak pernah mengantisipasi bahwa masalah akan muncul di kantor editorial La Civiltà Cattolica.

Jika Spadaro dapat menangguhkan aturan logika yang biasa dengan referensi samar untuk "kehidupan nyata" dan "orang-orang," maka dia dapat menyelesaikan perdebatan tentang Amoris Laetitia dengan sangat rapi. Setiap kasus adalah berbeda — demikian argumennya — dan karenanya tidak ada hukum umum yang berlaku. Dengan logika seperti itu, karena setiap batu yang Anda lempar di udara berbeda, maka Anda tidak akan pernah yakin bahwa batu itu akan jatuh.

Interpretasi lain yang mungkin dari tweet Spadaro yang penasaran itu, tidak lagi meyakinkan. Dia mungkin telah mengasumsikan bahwa Anda dan saya dan jutaan umat Katolik biasa lainnya tidak dapat diharapkan untuk bisa mengikuti logika rumit para teolog — sama seperti kita bingung oleh perhitungan mekanika kuantum yang tidak masuk akal. Karena itu (menurut logika Spadaro) kita harus menyerahkan urusan penting ini kepada para profesional. Dengan kata lain, kita harus menerima apa pun yang dikatakan kepada kita. Kita tidak diharapkan untuk mengerti; kita hanya diharapkan untuk tekun mengantre. Pendekatan Spadaro terhadap iman seperti ini tidak didasarkan pada penalaran, namun didasarkan pada kekuasaan semata.

Sejauh yang bisa saya lihat, argumen Spadaro terhadap dubia berjalan seperti ini: Kita tidak bisa menetapkan aturan hitam-putih untuk perkawinan dan kasus perceraian karena keadaan setiap kasus berbeda. Itu sepenuhnya benar. Tetapi bukankah tujuan pengadilan perkawinan adalah untuk memeriksa keadaan masing-masing kasus dan untuk menerapkan aturan umum pada keadaan tersebut? Jika tidak ada aturan umum untuk diterapkan, maka pengadilan (atau para pastor, dalam dispensasi yang dianjurkan oleh Amoris Laetitia, akan beroperasi dalam ruang hampa, tanpa aturan atau pedoman umum yang bisa dipegang.

Jika kita menerapkan logika yang sama kepada bidang yang lain, yang kurang kontroversial, kita akan segera mengenali adanya absurditas:

Wasit tenis berpengalaman tahu bahwa ada banyak teriakan yang menyatakan dimana bola jatuh. Apakah bola disebut "di dalam" atau "keluar" hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berbeda: sudut tembakan, posisi hakim garis, kondisi lapangan. Tidak ada dua tembakan yang sama. Oleh karena itu, hanya ahli teori abstrak dari permainan yang ingin agar garis pembatas dibuat di lapangan tenis sebelum pertandingan dimulai.


“Poin-poin Pembicaraan” Yang Sama

Sudah jelas bahwa rekan-rekan dekat Francis, pembela Amoris Laetitia, dan keempat kardinal dubia, semuanya membaca dari naskah yang sama. Kesamaan dalam argumen yang disajikan - bahkan frasa yang digunakan – telah mengarah kepada seseorang di suatu tempat di Vatikan yang telah menyusun "poin-poin pembicaraan" yang harus dipegang oleh mereka yang ingin menangkal ‘serangan’ dari dubia. Paling tidak, ada tujuh hal yang bisa disampaikan disini yang harus dipegang oleh para pendukung Amoris Laetitia:

1. Jangan bicara tentang dubia. Tujuannya bukan untuk menjawab dubia tetapi untuk menyapu bersih dubia itu dari atas meja. Para sekutu paus tidak menyebutkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh keempat kardinal itu, karena pertanyaan mereka terdengar terlalu masuk akal. Maka para sekutu paus mencoba memberi kesan bahwa para kardinal dubia mengajukan pertanyaan jebakan atau menyelidiki suatu rahasia. Di atas semua itu, para sekutu paus tidak akan mau mengakui bahwa dubia akan memungkinkan jawaban sederhana ‘ya-atau-tidak.’

2. Bersikeras bahwa Amoris Laetitia sudah sangat jelas. Para pembela kepausan mengutip pernyataan satu sama lain tentang dugaan kejelasan dokumen tersebut, tetapi tidak mengakui bahwa komentator yang berwenang telah mengatakan sebaliknya. Sebagai alternatif, mereka mengatakan bahwa dokumen itu sengaja dibuat tidak jelas, karena ambiguitas memang diperlukan untuk memberi ruang kepada pastor memiliki keleluasaan dalam menangani kasus-kasus sulit.

3. Mengolok-olok pengajaran Gereja tradisional dan para pastor kuno yang menjunjung tinggi ajaran tradisionil. Dalam berbicara kepada media sekuler, para sekutu harus  bermain berdasarkan prasangka dan simpati umat.

4. Katakan bahwa dubia mencerminkan pendekatan yang terlalu sederhana. Dokumen itu sangat jelas, kata para penganjurnya, tetapi rekomendasinya membutuhkan pemahaman yang lebih bernuansa. Uskup Agung Dublin, Diarmuid Martin, telah menyesalkan bahwa beberapa orang "merasa gelisah dengan kemampuan paus untuk menempatkan dirinya di tengah-tengah ketidakpastian kehidupan orang-orang."

5. Tunduk sepenuhnya kepada otoritas kepausan. Biar saja keempat kardinal itu mengajukan pertanyaan. Tidak masalah bahwa Amoris Laetitia tampaknya secara langsung bertentangan dengan ajaran para paus sebelumnya, sehingga beberapa ajaran paus ini harus dipertanyakan. Tidak masalah bahwa Francis sendiri telah menyerukan debat bebas dan mendorong orang-orang untuk "membuat kekacauan." Katakan bahwa mereka yang mempertanyakan dokumen kepausan ini (Amoris Laetitia) telah merusak prinsip ‘tak bisa salah’  dari paus (padahal kenyataannya, pertanyaan dubia itu dimaksudkan untuk menjaga keteguhan pengajaran Gereja).

6. Jangan takut untuk merusak integritas orang-orang yang tidak setuju. Wartawan Inggris Austen Ivereigh menulis tentang "pemberontakan anti-Francis" yang mengambil "nada baru yang kejam" — sebelum melanjutkan dengan serangan ganasnya sendiri terhadap Amoris Laetitia.

7. Lukiskan gambaran indah tentang hubungan antara umat Katolik dan para pastor mereka. Usulan Kasper mengandaikan bahwa seorang Katolik yang bercerai dan menikah lagi telah menjalani pemeriksaan hati nurani yang mendalam dan panjang, dan dibantu oleh seorang pastor yang cerdas. Relasi antara penitent dan bapa pengakuan seperti ini dianggap sebagai norma, meskipun dalam kenyataannya hal itu pasti menjadi pengecualian yang langka.

“Poin-poin pembicaraan” ini tidak konsisten satu sama lain. Adalah tidak masuk akal misalnya, untuk mendesak otoritas kepausan untuk dengan saleh menerapkan prinsip "Roma telah berbicara," guna membela kegagalan Roma untuk berbicara (dengan cara bersikap diam). Namun strategi retoris ini dimaksudkan bukan untuk memenangkan argumen, tetapi untuk memadamkan argumen — untuk membungkam kritikan terhadap paus atau, jika gagal, untuk membujuk orang lain agar mengabaikan kritikan itu.

Maka tidaklah mengherankan jika kontradiksi-diri ini menjadi dasar dari semua pembelaan terhadap Amoris Laetitia — nasihat kerasulan tidak boleh mengubah doktrin, namun beberapa umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi sekarang dapat menerima Komuni — hingga sering menimbulkan kebingungan taktis. Pada bulan Februari 2017, pers Vatikan menerbitkan sebuah buku kecil tulisan Kardinal Francesco Coccopalmerio, Bab Kedelapan dari Anjuran Apostolik Pasca-Sinode Amoris Laetitia, yang empat puluh halamannya dikhususkan untuk kontradiksi-diri itu. Coccopalmerio menyatakan bahwa Amoris Laetitia mengekspresikan “dengan kejelasan mutlak semua elemen doktrin tentang pernikahan dalam konsistensi penuh dan kesetiaan pada ajaran tradisional Gereja.” Dia melanjutkan dengan mempertahankan bahwa bertahan melakukan pantang seksual dalam perkawinan kedua dapat mengancam perkawinan itu, dan karenanya, akan mengancam kesejahteraan anak-anak. Dalam kasus seperti itu, seseorang mungkin “berada dalam situasi konkret yang tidak mengizinkannya bertindak yang lain, dan memutuskan sebaliknya tanpa dosa lebih lanjut.” Umat Katolik dalam perkawinan seperti itu dapat menerima Ekaristi jika mereka “ingin mengubah situasi ini, tetapi tidak dapat mewujudkan keinginan mereka.” Penafsiran Amoris Laetitia ini bertentangan langsung dengan apa yang dikatakan oleh Kardinal Müller ketika dia menjadi kepala Kongregasi untuk Ajaran Iman.

Posisi Coccopalmerio sebagai pengacara kanonik tertinggi Vatikan dan penerbitan bukletnya oleh pers Vatikan memberi kesan bahwa karya itu merupakan respons setengah-resmi terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang interpretasi yang tepat dari Amoris Laetitia — yaitu, jawaban untuk dubia. Kesan itu diperkuat oleh pengumuman pada konferensi pers di Vatikan pada 14 Februari untuk memperkenalkan buklet itu. Maka yang mengejutkan semua orang, Coccopalmerio justru tidak tampil di konferensi pers itu, dan menyerahkan kepada seorang profesor teologi dan seorang jurnalis Italia untuk memperkenalkan karyanya itu. Dan meskipun buklet itu telah disebut-sebut sebelumnya sebagai jawaban terakhir untuk pertanyaan yang banyak dibahas tentang Amoris Laetitia, direktur pers Vatikan - penerbit Coccopalmerio - mengakui bahwa "debat masih terbuka."

Alasan yang kemudian diajukan atas ketidakhadiran Coccopalmerio, yaitu konflik penjadwalan acara, adalah tidak masuk akal — seolah-olah penerbit tidak berpikir untuk mengkonfirmasi ketersediaan penulis sebelum menjadwalkan konferensi pers. Jika buklet kardinal dan publisitas seputar peluncurannya dirancang untuk meredam desas-desus perselisihan dan intrik di dalam Vatikan tentang Amoris Laetitia, maka hal itu justru memiliki efek sebaliknya.

Rumor perselisihan dan intrik telah berkembang ketika Edward Pentin melaporkan dalam the National Catholic Register bahwa Kongregasi untuk Doktrin Iman telah merekomendasikan sejumlah perubahan pada Amoris Laetitia sejak tahap rancangan, tetapi “tidak satu pun koreksi itu diterima.” Laporan Pentin tampaknya menguatkan cerita sebelumnya oleh Jean-Marie Guénois dalam Le Figaro bahwa kantor doktrin Vatikan telah menyerahkan dua puluh halaman modifikasi yang disarankan sebelum nasihat apostolik dipublikasikan — tampaknya semuanya sia-sia.

Jenis lain dari intrik diungkapkan oleh Michael Pakaluk, seorang profesor etika di Universitas Katolik Amerika, yang menemukan bahwa satu bagian dari Amoris Laetitia disalin utuh dari sebuah esai yang ditulis lebih dari dua puluh tahun sebelumnya oleh teman dekat paus Francis. Menulis di media Crux, Pakaluk menunjukkan bahwa sebuah kalimat penting dalam Bab 8 yang kontroversial dan bagian-bagian lainnya diambil hampir secara kata demi kata dari sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 1995 oleh Uskup Agung Victor Manuel Fernández, sekarang rektor Universitas Katolik Argentina dan penasihat paus. Fernández diyakini telah menjadi ‘pengarang bayangan’ dari ensiklik Laudato Si dan telah memiliki peran utama dalam penyusunan Amoris Laetitia.

Penggunaan materi yang tidak diakui dari esai sebelumnya menimbulkan pertanyaan baru tentang dokumen kepausan. Pakaluk menulis, “… sebuah kutipan eksplisit [dalam dokumen kepausan] dari artikel jurnal teologis lain, akan diterima sebagai ‘memiliki kekuatan dan bobot tersendiri.’ Maka untuk mengatakan, dengan cara yang tidak memenuhi syarat, bahwa "ini adalah magisterium," akan menjadi semacam penindasan spiritual."

Selain itu, Pakaluk menunjukkan bahwa kalimat dalam Bab 8 Amoris Laetitia, yang menyinggung ajaran St. Thomas Aquinas tentang konsekuensi dari kesulitan dalam melaksanakan kebajikan-kebajikan tertentu, hal itu telah mendistorsi ajaran St. Thomas dan dimasukkan ke dalam penggunaan teologis yang keliru dari artikel Fernández tahun 1995. Apakah Fernández memanfaatkan posisinya sebagai penasihat kepausan (dan mungkin sebagai pengarang-bayangan) untuk memberikan gagasan kontroversialnya sendiri dengan cap persetujuan paus? Dan apakah dia mau mempermalukan paus dengan memasukkan kata-katanya sendiri tanpa ijin paus? Seperti yang diamati Pakaluk, “Dalam konteks sekuler, seorang pengarang-bayangan, yang menulis untuk orang lain, yang mengekspos penulis yang dia layani kepada tuduhan plagiarisme, akan dianggap sebagai orang yang ceroboh.” Tetapi dengan Amoris Laetitia, kebingungan semacam itu telah menjadi norma.


Batas-batas Otoritas Kepausan

Di dalam Gereja Katolik, otoritas Paus Roma sangat besar. Tetapi bahkan otoritas kepausan - dan khususnya infalibilitas kepausan - memiliki keterbatasan juga. Paus berbicara dengan otoritasnya ketika dia menetapkan Deposit Iman, menjelaskan, di dalam persekutuan dengan Kolese para Uskup, apa yang selalu dan di mana pun dipercayai oleh Gereja. Dalam kasus Amoris Laetitia, dua pertemuan Sinode para Uskup memperjelas bahwa paus tidak berada dalam persekutuan dengan semua uskup di dunia mengenai proposal Kasper. Tetapi diluar perselisihan itu, siapa pun yang memahami sifat dari kuasa kepausan Petrus harus mengakui bahwa, bahkan ketika paus berbicara tentang masalah iman dan moral, ada beberapa hal yang tidak bisa dikatakan oleh paus. Contohnya:

Paus tidak dapat mengatakan bahwa 2 + 2 = 5. Dia juga tidak bisa mencabut hukum logika. Jadi jika paus membuat dua pernyataan yang saling bertentangan, maka keduanya tidak mungkin benar. Dan karena setiap paus memiliki otoritas pengajaran yang sama, maka jika ada seorang paus yang bertentangan dengan paus lain, berarti ada sesuatu yang salah. Karena itu, jika Amoris Laetitia bertentangan dengan Veritatis Splendor dan Casti Connubii — ensiklik kepausan sebelumnya, yang membawa otoritas pengajaran tingkat tinggi — maka umat beriman tidak dapat diharuskan untuk menelan kontradiksi ini begitu saja.

Paus tidak dapat mendikte umat Katolik apa yang harus mereka pikirkan. Dia dapat, dalam batasan tertentu, memberi tahu umat apa yang musti mereka pikirkan. Tapi dia tidak bisa, hanya dengan kekuatan otoritasnya, merubah pikiran umat. Ppar pendukung Paus bersikeras bahwa Amoris Laetitia sudah sangat jelas. “Paus tidak boleh memberi ruang bagi keraguan tentang pengajaran Gereja,” tegas Pastor Spadaro. Bahkan jika pernyataan itu datang langsung dari paus sendiri (yang tidak jelas), itu tidak bisa bersifat otoritatif. Jika seseorang memiliki keraguan, maka jelas ada ruang bagi keraguan; bahkan paus tidak dapat mengingkari fakta itu. Idealnya paus dan mereka yang berbicara untuknya akan membantu umat Katolik untuk menyelesaikan keraguan itu, bukannya mengatakan bahwa keraguan berarti ketidaksetiaan.

Paus tidak bisa mengajar secara semena-mena dengan memberikan petunjuk. Pada masalah yang paling kontroversial yang dibahas pada dua pertemuan Sinode para Uskup yang ditujukan bagi pernikahan dan keluarga, Amoris Laetitia, sangatlah tidak jelas, hingga memungkinkan interpretasi yang sangat berbeda. Pastor Spadaro dan Kardinal Schönborn dan para uskup Argentina semuanya dapat membuat argumen yang meyakinkan bahwa mereka tahu apa yang ada dalam pikiran Francis - terutama karena paus Francis sendiri telah mendukung interpretasi mereka. Tetapi apa yang ada dalam pikiran paus tidak memiliki bobot yang sama dengan apa yang ditulis paus sebenarnya. Dan itu terutama terjadi ketika ada banyak bukti sehingga dia dengan sengaja membiarkan begitu saja pertanyaan yang belum terselesaikan:

   Paus menghindari menjawab pertanyaan secara langsung pada nasihat apostoliknya, meninggalkan bukti paling jelas tentang niatnya dalam sebuah catatan kaki yang juga tidak jelas maksudnya, dan kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa dia tidak ingat pada catatan kaki itu.
   Francis mendukung interpretasi uskup Argentina dalam surat pribadinya serta interpretasi Schönborn dalam sebuah wawancara dengan pers. Jelas disini tidak ada pernyataan formal dari Magisterium.
   Dia menolak untuk menjawab dubia yang diajukan oleh empat kardinal.
   Menurut Uskup Agung Bruno Forte — seorang teolog terkemuka, yang sangat bersimpati kepada paus Francis dan yang memainkan peran kunci dalam menyusun laporan pertama Sinode tentang Keluarga — Paus memberi tahu dia selama sesi Sinode, “Jika kita berbicara secara eksplisit tentang Komni bagi orang yang bercerai dan menikah lagi, Anda tidak tahu apa kekacauan yang akan kami buat. Jadi kami tidak akan berbicara dengan jelas, melakukannya dengan cara yang ada di situ, kemudian saya akan menarik kesimpulan."

Pada saat ini jelaslah bahwa di dalam Amoris Laetitia, Francis dengan hati-hati menghindari membuat semacam pernyataan otoritatif yang akan memerintahkan persetujuan umat beriman. Umat ​​Katolik tidak dapat diharapkan — apalagi diperintahkan — untuk menerima "ajaran" baru yang dipilih Paus, karena alasannya sendiri.


Sebuah Tes Ortodoksi — Atau Sesuatu Yang Lain?

Pada Juli 2017, Kardinal Christoph Schönborn — yang secara rutin diidentifikasi sebagai “penerjemah resmi” Amoris Laetitia — berbicara kepada audiens Irlandia tentang dokumen itu. Sebelumnya, dia mengatakan bahwa catatan kaki terkenal 351, yang menunjukkan bahwa penjangkauan pastoral untuk umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali “dapat mencakup bantuan pemberian sakramen-sakramen,” terutama merujuk pada Sakramen Tobat. Sekarang sang kardinal mengatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang penerimaan Komuni adalah sebuah "jebakan," karena penekanan yang sebenarnya adalah pada pemeriksaan hati nurani. Para pastor, katanya, harus membantu pasangan untuk mengevaluasi keadaan pribadi mereka dengan niatan untuk menjawab pertanyaan kritis, "Apa kebaikan yang mungkin dicapai seseorang atau pasangan dalam keadaan yang sulit?"

“Jika kita mempertimbangkan keragaman situasi yang sangat luas, dapat dipahami bahwa baik sinode maupun nasihat ini tidak dapat diharapkan untuk memberikan seperangkat aturan umum yang baru, bersifat kanonik, dan berlaku untuk semua kasus,” Schönborn beralasan. Tetapi sebelum Amoris Laetitia, ajaran Gereja yang jelas telah memberikan aturan yang berlaku untuk semua kasus: Umat Katolik yang terlibat dalam persatuan perkawinan kedua, sementara pasangan mereka sebelumnya masih hidup, tidak dapat menerima Komuni kecuali mereka berusaha untuk hidup sebagai saudara dan saudari. Jadi, bahkan ketika dia menyatakan bahwa pengajaran Gereja tidak berubah, dia mengindikasikan bahwa praktik pastoral harus berubah, dimna hal ini menunjukkan keinginan untuk berkompromi pada pengajaran itu.

Schönborn nampak mengabaikan pandangan rekan-rekan kardinalnya yang masih meminta klarifikasi. Dia mengakui bahwa para kardinal memiliki hak untuk berbicara dengan paus tentang masalah yang diperdebatkan, namun dia tetap mengkritik mereka yang telah membuat permintaan mereka bahan pembicaraan publik:

Para kardinal itu, yang seharusnya menjadi kolaborator terdekat paus, mencoba memaksanya, untuk menekannya agar memberikan respons publik terhadap surat pribadi mereka yang dipublikasikan, kepada paus — ini benar-benar perilaku yang merepotkan, saya minta maaf untuk mengatakan. Jika mereka ingin mengadakan audiensi dengan paus, mereka meminta audiensi; tetapi mereka tidak boleh mempublikasikan bahwa mereka meminta audiensi.

Ada yang hilang dalam terjemahan di sini. Ketika Schönborn mengatakan bahwa pertanyaan publik tentang paus adalah "tidak nyaman," dia tentu saja bermaksud bahwa itu "tidak patut." Dalam dirinya, kardinal percaya bahwa paus telah membuat perubahan signifikan dalam pengajaran Gereja. Namun dia juga menegaskan bahwa Amoris Laetitia sepenuhnya sejalan dengan ajaran Gereja sebelumnya. Menurut akun Austen Ivereigh dengan alamat di Irlandia, Schönborn mengungkapkan bahwa ketika dia bertemu Paus tak lama setelah presentasi Amoris, Francis berterima kasih kepadanya, dan bertanya kepadanya apakah dokumen itu ortodoks.

"Saya berkata, 'Bapa Suci, itu sepenuhnya ortodoks'," Schönborn mengatakan kepada kami bahwa dia memberi tahu paus, menambahkan bahwa beberapa hari kemudian dia menerima dari Francis sebuah catatan kecil yang mengatakan: "Terima kasih atas perkataanmu itu. Itu memberi saya kenyamanan."

Dengan asumsi keakuratannya (yang tidak perlu kita ragukan), anekdot Schönborn memberi kita gambaran yang menakjubkan: penerus St. Peter — pria yang tugas utamanya adalah menjaga Deposit Iman — bertanya kepada uskup lain apakah ajarannya itu ortodoks. Dan dia merasa terhibur mendengar jawaban yang meyakinkan.

Diharapkan bahwa Francis berkonsultasi dengan Schönborn, salah satu penasihat dekatnya dan seorang teolog yang disegani. Tetapi dia tampaknya mencari kepastian ortodoksi tulisannya setelah dokumen itu diterbitkan. Menerbitkan dokumen terlebih dahulu dan meminta pendapat tentang kelayakan doktrinalnya kemudian, menunjukkan pendekatan yang sangat berbahaya terhadap integritas Iman.

Apakah mungkin bahwa Francis tidak sepenuhnya yakin tentang ortodoksi Amoris Laetitia bahkan setelah dia merilisnya? Paling tidak, sikapnya yang "terhibur" oleh kepastian dari  Schönborn menunjukkan bahwa paus tahu bahwa beberapa wali gereja yang berpengaruh mendapati bahwa dokumen itu tidak sehat.

Tetapi apakah ada, mungkin, cara lain untuk melihat arti dari permintaan paus pada pendapat Schönborn? Mungkin Francis tidak terlalu ingin tahu tentang ortodoksi nasihat apostoliknya karena dia tertarik untuk mengukur kehandalan Kardinal Schönborn. Orang Austria itu dihormati oleh rekan-rekannya sebagai seorang teolog yang serius dan dikenal sebagai seorang mahasiswa dan orang kepercayaan dari Benediktus XVI yang sudah pensiun. Jika paus dapat mengandalkan dukungan Schönborn dalam kampanye untuk menerima Amoris Laetitia, maka paus tentu saja akan merasa terhibur. Schönborn akan menjadi sekutu penting, dan paus sadar bahwa dia menghadapi pertempuran besar.

_______________

1. Angka-angka dalam tanda kurung mengacu pada paragraf bernomor dalam dokumen yang dikutip.

2. Brandmüller, dari Jerman, seorang sejarawan Gereja, diangkat sebagai kardinal oleh Benediktus XVI pada usia 81 tahun dan karenanya dia tidak pernah memenuhi syarat untuk memilih dalam konklaf kepausan. Burke, seorang Amerika, adalah prefek Signatura Apostolik sampai Francis memindahkannya pada tahun 2014 dengan sikap tidak senangnya yang mencolok. Caffarra, pendiri Institut Kepausan John Paul II untuk Studi tentang Pernikahan dan Keluarga, pensiun sebagai uskup agung Bologna pada 2015 dan meninggal pada September 2017. Meisner, yang dekat dengan John Paul II dan Benediktus XVI, pensiun sebagai uskup agung Cologne di 2014 dan meninggal pada Juli 2017.





No comments:

Post a Comment