Friday, August 16, 2019

KARDINAL BURKE : DOKUMEN KERJA SINODE AMAZON ADALAH 'KEMURTADAN'




Cardinal Burke at the Rome Life Forum in Rome, May 18, 2018.
Steve Jalsevac / LifeSiteNews

by Martin M. Barillas

NEWSCATHOLIC CHURCH

 

KARDINAL BURKE : DOKUMEN KERJA SINODE AMAZON ADALAH 'KEMURTADAN,’ IA TAK BISA MENJADI AJARAN  GEREJA

 

https://www.lifesitenews.com/news/cardinal-burke-amazon-synod-working-doc-is-apostasy-cannot-become-church-teaching


13 Agustus 2019 (LifeSiteNews) - Cardinal Raymond Burke mengatakan  bahwa dokumen kerja yang digunakan untuk sinode Pan-Amazon mendatang, yang diselenggarakan oleh Vatikan atas permintaan Paus Francis, adalah menjurus kepada “kemurtadan.”

Kardinal Burke menyampaikan komentar ini ketika ditanya dalam wawancara didalam Youtube 13 Agustus lalu apakah dokumen kerja yang dikenal sebagai Instrumentum Laboris (IL) untuk Sinode 6-27 Oktober dapat menjadi keputusan definitif untuk Gereja Katolik. Kardinal Burke menjawab, “Tidak mungkin. Dokumen itu adalah kemurtadan. Ini tidak bisa menjadi ajaran Gereja, dan dianggap sebagai kehendak Allah, maka seluruh masalah itu harus dihentikan.”

Kardinal Burke menyampaikan komentar ini dalam wawancara luas dengan pembawa acara Katolik, Patrick Coffin. Penyelenggara utama Sinode Amazon telah banyak dikritik karena menggunakan acara tersebut untuk mendorong adanya diakon perempuan dan imam yang menikah.

Kardinal Burke, dalam sebuah diskusi dengan Coffin mengenai politisi dan orang-orang yang secara terbuka menyimpang dari kepercayaan dasar yang dianut oleh Gereja, mendefinisikan bidaah dan kemurtadan.

“Bidaah adalah penyangkalan, penyangkalan secara sadar dan sukarela terhadap kebenaran iman. Misalnya, imam Arius zaman dulu, yang menyangkal dua sifat dan satu pribadi dari Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi, bidaah diarahkan pada kebenaran tertentu yang disangkal oleh seseorang, sedangkan kemurtadan adalah penyimpangan secara menyeluruh dari iman, penyimpangan dari Kristus secara umum dan banyak kebenaran iman,” katanya.

Burke, dalam wawancara yang berbeda, mengomentari pernyataan yang dibuat oleh para penyelenggara sinode yang menyarankan adanya pelonggaran terhadap aturan selibat dalam imamat untuk wilayah Amazon, dengan mengatakan bahwa hal itu akan mempengaruhi seluruh Gereja di seluruh dunia. "Sungguh tidak jujur" kata Burke, jika pertemuan sinode Oktober nanti adalah untuk  "mengobati masalah selibat klerus untuk wilayah itu saja," katanya pada bulan Juni.

Paus Francis mengumumkan tahun lalu bahwa Sinode para Uskup bulan Oktober untuk wilayah Pan-Amazon, akan bertemu di Roma dengan tujuan mengidentifikasi "jalan baru untuk evangelisasi umat Allah di wilayah itu," terutama masyarakat adat yang sering dilupakan dan tanpa prospek masa depan yang tenang."

Kardinal Walter Brandmüller dan Gerhard Muller juga mengkritik dan mengutuk  dokumen kerja Sinode Amazon. Kardinal Walter Brandmüller menyebut dokumen kerja tersebut sebagai “sesat” dan “murtad” dari Wahyu Ilahi. Dia meminta hierarki untuk "menolak" dengan "segala ketegasan."

Kardinal Gerhard Mueller mengecam apa yang dia sebut terminologi yang ambigu dan “pengajaran yang salah” dari dokumen itu. Dia juga mempertanyakan apa yang disebutnya sebagai "hermeneutika terbalik." "Gereja digunakan sebagai sarana bagi tujuan-tujuan yang bersifat sekuler." Mueller mengatakan bahwa dokumen kerja itu menyajikan perubahan total dan radikal dari hermeneutika teologi Katolik. Bukannya menggarisbawahi ajaran Gereja atau mengutip Kitab Suci, Muller juga menulis bahwa Instrumentum Laboris berbicara di seputar  dokumen-dokumen magisterium terbaru dari Paus Francis, ditambah dengan beberapa referensi pada dokumen dari Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI.

Leonardo Boff, seorang teolog Brasil dan imam yang dianugerahi pujian yang secara luas dianggap sebagai “theolog acuan untuk sinode dan eksponen penting dari teologi Pembebasan, menyatakan bahwa dia melihat pemilihan Paus Francis sebagai sebuah ‘musim semi’ bagi Gereja Katolik. Dalam bukunya Francis of Rome and Francis of Assisi, Boff menegaskan keyakinannya bahwa Paus Francis tengah melaksanakan teologi Pembebasan karena pengabdiannya kepada kaum miskin. Boff juga menyatakan bahwa penahbisan pria yang menikah akan merupakan hasil dari sinode mendatang. Dalam sebuah wawancara dengan Deutsche Welt, Boff memuji-muji Paus karena telah memulai "revolusi" di dalam Gereja. Teologi pembebasan secara khusus dikutuk oleh St Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1985 karena berusaha untuk menggabungkan ajaran Marxis dengan ajaran-ajaran Katolik dengan alasan untuk membantu kaum miskin, terutama di Amerika Latin.

Kardinal Burke mengatakan dalam wawancaranya dengan Coffin bahwa media sekuler dan beberapa media Katolik telah “memuliakan” paus Francis dengan menyebutnya sebagai seorang “revolusioner.” Burke mengatakan bahwa lembaga kepausan tidaklah bersifat revolusioner, karena fungsi utamanya adalah untuk “melindungi doktrin Iman dan disiplin Gereja agar bisa menjadi prinsip dan landasan persatuan di dalam Gereja.”

Burke menambahkan: "Jika Anda memberi tahu saya bahwa Paus adalah seorang revolusioner, saya akan sangat khawatir karena hal itu tidak ada hubungannya dengan kepausan."

No comments:

Post a Comment