Tuesday, August 27, 2019

Vortex - SEBUAH PENGERTIAN BARU TENTANG APA YANG DIANGGAP ‘NORMAL’




the Vortex:
sebuah pengertian baru tentang apa yang dianggap ‘normal’

Ia harus ditolak, dilawan dan dikalahkan


August 26, 2019  


Sekarang sudah satu tahun lamanya - tepatnya kemarin – dimana yang pertama dari serangkaian bom diledakkan oleh uskup agung Carlo Maria Viganò di tengah dunia Katolik.

Ingatlah akan konteksnya: Laporan dewan juri Pennsylvania telah dirilis kira-kira seminggu sebelumnya, dan ia menjadi topik utama dalam pers sekuler.

Para kardinal sesat dari ‘Kaum Mapan’ dalam Gereja bersikap agak defensif, mereka memainkan permainan gasing (yang berputar-putar) dan sepakat untuk berbohong tentang semua yang mereka tahu. Berita tentang McCarrick telah keluar dua bulan sebelumnya dan telah menjadi sebuah kenyataan yang gamblang.

Berbagai umat Katolik, yang sampai saat itu dalam keadaan mengantuk tentang semua kejahatan ini, mulai menjadi merah wajahnya ketika berita itu muncul, artinya: mata mereka terbuka.

Vatikan telah berhasil dengan cekatan menghindari komentar yang keras tentang apa yang sedang terjadi di Gereja Amerika Serikat. Dan kemudian, tepat ketika Paus naik pesawat dari perjalanan ke Irlandia, berita itu pecah seperti petir raksasa.

Mantan duta besar Vatikan untuk Amerika Serikat, nuncio kepausan, Carlo Maria Viganò, seorang pria yang sangat disegani, muncul di muka umum, mengungkapkan bahwa tidak hanya semua yang dilaporkan tentang McCarrick adalah benar, tetapi yang jauh lebih penting, Paus sendiri sudah tahu hal itu, sebuah rombongan besar uskup AS terlibat dalam upaya menutup-nutupi ala mafia, dan banyak dari mereka adalah pelaku homoseksual yang aktif dan Paus harus mengundurkan diri.

Untuk menambah keseriusan kesaksiannya, Viganò mengakui bahwa dia akan bersembunyi selama sisa hidupnya, karena takut akan pembalasan yang mematikan.

Kesaksian Viganò memaksa seluruh masalah kembali ke halaman depan dan menjadi topik utama di dunia media Katolik.

Berita Itu mengejutkan dan menarik perhatian semua orang, khususnya apa yang kemudian disebut oleh Viganò sebagai ‘mafia gay busuk’ yang sedang menjalankan Gereja, mereka benar-benar lengah.

Memang, hari-hari menjelang rilis kesaksiannya kita telah melihat pergeseran momentum kembali kepada Kaum Mapan dalam gereja Amrik; mereka telah mengabaikan para pendusta seperti Donald Wuerl dan Kevin Farrell, demi menyangkal bagian tersembunyi dari kisah seputar McCarrick.

Wuerl menjadi pusat perhatian, yang cukup berarti karena dia adalah orang yang telah menggantikan McCarrick di D.C. dan menutupi kejahatannya.

Dia melakukan berbagai wawancara di mana dia berkata bohong. Para kardinal lainnya bergegas mengangkat mikrofon untuk berbohong dan menyangkal juga.

McCarrick mungkin bersalah, kata mereka, tetapi karena ‘iklim’ yang memungkinkan monster jahat seperti itu bisa naik pangkat, mereka semua "terkejut"

Wuerl, berbicara kepada Pastor Thomas Rosica yang suka berbohong, curang, dan sekarang dipermalukan,  dan berkata bahwa umat Katolik tidak perlu khawatir, Gereja tengah berjalan dengan baik.

Kaum Mapan dalam gereja Amrik berusaha memegang kendali atas pengiriman pesan, yang agak mudah dilakukan ketika Anda benar-benar tidak bertanggung jawab dan tidak transparan.

Ini adalah latar belakang, pada suatu pagi di musim panas yang membuat ngantuk, ketika bom kebenaran Viganò meledak di atas Paus Francis dan mafia gay yang busuk.

Para homoseksual dalam hierarki gereja menjadi kebingungan, tidak ada yang tahu bagaimana merespons karena mereka tahu itu adalah kebenaran. Para pembohong dan penipu selalu lunglai dan loyo saat dihadapkan pada realita; itu adalah sebuah momen "keadaan tanpa daya."

Bahkan Paus Francis sendiri benar-benar kebingungan ketika para wartawan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya. Pada saat itulah dia memberikan jawaban yang paling layak diingat dari zaman kepausan ini: "Saya tidak akan mengatakan sepatah kata pun."

Ungkapan itu – yang bukan "who am I to judge?" - akan menjadi ungkapan yang merangkum sifat kepausan ini di tahun-tahun mendatang.

Pada tahun berikutnya, Viganò terus mengeluarkan kesaksian baru yang terus menyebabkan ledakan berikutnya. Dia menyebutkan nama-nama, berbicara tentang contoh kebusukan tertentu dan menyebut sesama uskup sebagai pembohong.

Akhirnya, dia menyebut sebuah nama bagi apa yang pertama kali disebutnya sebagai "arus homoseksual" dalam hierarki: "mafia gay yang busuk."

Kesaksiannya yang tanpa henti memaksakan sebuah agenda khusus bagi pertemuan para uskup A.S. dalam pertemuan November di Baltimore.

Dan hal itu juga telah memaksa tangan Paus bertindak ketika dia langsung turun tangan dan memerintahkan hierarki A.S. untuk segera meninggalkan topik pembicaraan masalah yang diajukan Viganò, karena dia akan mengadakan pertemuan yang khusus membahas masalah itu, pencabulan sexual, pada Februari mendatang di Roma.

Implikasinya adalah bahwa semuanya akan ditetapkan pada KTT di Roma nanti yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Tetapi bukan itu masalah yang sebenarnya. Itu adalah tipuan, yang dirancang untuk menutupi dan mengabaikan dorongan klaim Viganò, bahwa kejahatan itu disebabkan oleh mafia gay yang busuk.

Bersama-sama, Paus dan Cdl. Pembohong, Blase Cupich dan Donald Wuerl, yang akhirnya harus mundur dengan malu, karena mereka berdua mengarang alasan bahwa itu bukanlah "mafia gay korup," melainkan karena "klerikalisme" yang harus disalahkan atas kejahatan tersebut.

Cupich yang telah dikirim oleh Paus untuk memadamkan api, melarang penyebutan homoseksualitas pada saat KTT Februari, atau berbicara tentang klerus homopredator yang mencabuli orang dewasa, bukan mencabuli anak-anak di bawah umur.

Pembicaraan mengenai para seminaris yang dicabuli dan dianiaya secara sexual oleh staf seminari yang homoseks, benar-benar dilarang.

KTT Roma pada bulan Februari adalah tempat para mafia gay yang korup mendapatkan kembali kendali pembicaraan. Dalam benak umat Katolik yang peduli, pengertian ‘normal’ yang baru telah ditetapkan.

Homoseksualitas dalam jajaran klerus sekarang terbuka, dan Roma tidak peduli. Kurangnya akuntabilitas dalam kehidupan ini, dan konsentrasi kekuasaan, telah memungkinkan mafia gay yang korup untuk kembali kepada bisnis mereka seperti biasa.

Orang-orang seperti James Martin, imam homosex,  bahkan merasa lebih bebas sekarang.

Masalahnya sekarang sudah keluar dari kamar closet, sekarang umat bisa dibohongi dan diputar-putar tanpa henti, dan umat sekarang dapat direndahkan dan diejek oleh berbagai klerus melalui istilah-istilah politik yang tinggi seperti, misalnya, ‘fanatik’ dan ‘pembenci.’

Yang jelas sangat menyilaukan adalah ini: Kebusukan dan kekotoran mafia gay yang korup itu lebih dalam dan lebih luas daripada yang dibayangkan oleh siapa pun yang mencintai Gereja.

Kebusukan dan kekotoran ini telah ditutup-tutupi untuk kemudian dimaafkan dan sengaja diabaikan oleh seluruh ‘Kaum Mapan’ dalam gereja, yang mengandalkan koneksi dan hubungan mereka dengan orang-orang jahat ini untuk menjaga makanan mereka tetap tersedia.

Ini adalah pertempuran yang sangat panjang dan kita harus terlibat. Masalah itu tidak akan hilang selama bertahun-tahun. Bahkan, sampai semua wali gereja yang jahat ini membusuk dan membara di liang kubur mereka, hanya pada saat itulah akan ada harapan, dalam pengertian duniawi: ada perubahan – namun hal itu juga tidak bisa dijamin.

Keadaan di dalam ordo-ordo religius, di dalam hierarki, di keuskupan dan tempat-tempat ibadah di seluruh dunia Barat adalah merupakan iklim yang memeluk dunia, dan tidak berusaha merubahnya.

Bahkan di antara berbagai umat Katolik yang mungkin tidak harus setuju dengan mafia gay yang korup ini, masih ada sikap persetujuan dan kelembutan; ini adalah sebuah penghancuran, kurangnya keinginan untuk menghadapi kejahatan secara langsung dan menentang kejahatan di tempat-tempat tinggi di Gereja. Pada akhirnya, inilah sebabnya mengapa Viganò masih harus bersembunyi karena takut akan hidupnya.

Kontribusi utama yang dibuat uskup agung Viganò bukan untuk mengekspos kejahatan, tetapi untuk menunjukkan adanya garis pertempuran, untuk membawa umat ke pada kesadaran Katolik.

Sekarang, tergantung pada umat beriman untuk memutuskan mau berjuang demi jiwa Gereja. Hal itu akan membutuhkan pengorbanan pribadi yang tinggi di setiap tingkatan, terutama berupa pengorbanan dalam hal reputasi dan relasi.

Ada sebuah mafia gay yang korup dengan sebuah cengkeraman yang kokoh di dalam Gereja. Putra dan putri Gereja yang setia sekarang harus bertempur dalam cara apa pun sesuai keadaan pribadi mereka.

Pengertian baru tentang apa yang dianggap "Normal" seperti ini, harus dilawan dan dikalahkan.


No comments:

Post a Comment