Sunday, August 18, 2019

PAUS DIKTATOR - 1. MAFIA ST. GALLEN





Anda dapat membodohi semua orang dalam beberapa waktu,
atau membodohi beberapa orang sepanjang waktu,
tetapi Anda tidak dapat membodohi semua orang sepanjang waktu.

ABRAHAM LINCOLN







PAUS DIKTATOR

Marcantonio Colonna





 1. MAFIA ST. GALLEN

Danneels mengungkapkan semuanya dalam sebuah wawancara televisi

Setelah lebih dari empat tahun Paus Francis Bergoglio, banyak dikatakan orang-orang dengan frekuensi yang lebih sering dan lebih terbuka lagi, bahwa situasi aneh di Vatikan saat ini menyerupai tidak kurang dari sebuah novel picisan karya Dan Brown, lengkap dengan konspirasi para pejabat gerejawi terkemuka, skandal seksual dan keuangan, serta kepentingan perbankan internasional yang serba tertutup. Sementara ada sementara orang yang berharap agar Paus Francis mengendurkan doktrin dan praktik tradisional Gereja, secara mengejutkan hanya ada sedikit sekali perhatian umat diberikan kepada komentar dari salah satu wali gereja tertinggi dan terkuat di dunia barat, bahwa paus Francis dipilih oleh sebuah ‘mafia’ liberal, yang terdiri dari sekelompok uskup dan kardinal progresif yang telah bekerja selama bertahun-tahun untuk mewujudkan tujuan ini dengan tepat.

Jauh dari tuduhan para konservatif Gereja, istilah ini (Mafia St.Gallen) pertama kali digunakan dalam wawancara televisi pada September 2015 oleh Kardinal Godfried Danneels, pensiunan uskup agung, namun masih sangat berpengaruh di Brussels-Mechelen. Danneels mengatakan bahwa dia telah bertahun-tahun menjadi bagian dari kelompok ini yang telah menentang Paus Benediktus XVI sepanjang masa pemerintahannya. Kelompok itu, katanya, berusaha untuk mewujudkan Gereja Katolik yang "lebih modern", dan untuk mendorong terpilihnya uskup agung Buenos Aires, Jorge Mario Bergoglio, menjadi paus. Sebuah penelitian atas latar belakang dari ucapan-ucapan yang luar biasa ini, dapat memberikan wawasan tentang sifat politik gerejawi saat ini, khususnya di kalangan episkopal liberal Eropa.

Mafia St. Gallen? Apa itu, kapan itu dibentuk, oleh siapa dan mengapa?

"Grup St. Gallen adalah semacam nama yang mewah," kata Danneels, untuk mengundang tawa apresiatif dari audiensinya langsung. "Tapi pada kenyataannya kami menyebut diri kami dan kelompok ini sebagai 'mafia'." Kardinal Danneels mengucapkan kalimat ini pada program televisi Belgia. Dalam video singkat yang diunggah ke internet, yang berisi pernyataan Danneels, sebuah suara narator meringkaskan sifat dari kelompok yang “bertemu setiap tahun sejak 1996” di St. Gallen, Swiss, yang awalnya atas undangan uskup kota itu, Ivo Fürer, dan seorang imam Jesuit dan akademisi Italia yang terkenal, uskup agung Milan, Kardinal Carlo Maria Martini.

“Bersama-sama mereka mengatur 'perlawanan' rahasia terhadap Kardinal Ratzinger, yang pada waktu itu adalah tangan kanan Yohanes Paulus II,” dimana Ratzinger menjabat sebagai sebagai kepala Kongregasi untuk Doktrin Iman.

"Ketika Paus Yohanes Paulus II wafat pada tahun 2005, kelompok itu telah mendorong Paus [Francis] yang sekarang ini, untuk maju ke depan," meskipun upaya pertama ini gagal dalam menempatkan Jorge Mario Bergoglio di atas takhta kepausan. Ketika dihadapkan dengan pemilihan Ratzinger sebagai Paus Benediktus XVI, "Danneels hampir-hampir tak bisa menyembunyikan kekecewaannya," kata narator itu.

Danneels memberikan wawancara untuk mempromosikan biografinya yang resmi, dan menambahkan bahwa kelompok St. Gallen memiliki anggota uskup-uskup dan kardinal-kardinal, "terlalu banyak untuk disebutkan." Tetapi mereka semua memiliki tujuan umum yang sama: pelaksanaan agenda "liberal / progresif", oposisi terhadap Paus Benediktus dan menghadapkan kaum konservatist kepada doktrin-doktrin yang moderat. Meskipun kemudian mereka menolak bahwa kelompok itu bersifat rahasia, tetapi Danneels berkata, “Banyak hal dibahas dengan sangat bebas; tidak ada laporan yang dibuat (dalam pertemuan-pertemuan kelompok ini) sehingga semua orang bisa menyampaikan apa saja yang dipikirkannya."

Program TV ini mewawancarai penulis biografi Danneels, Jurgen Mettepenningen, dimana dia mengatakan bahwa pada 2013, dengan pengunduran diri Benediktus, “Anda dapat mengatakan bahwa melalui partisipasinya dalam kelompok itu, Kardinal Danneels telah menjadi salah satu dari mereka yang menjadi pelopor terpilihnya Paus Francis."

Para penulis biografi Danneels mendata berbagai keprihatinan dari kelompok itu: "situasi Gereja," "kekuasaan Paus," "kebersamaan," dan "suksesi Yohanes Paulus II." Seorang pemerhati Vatikan dari Inggris, Edward Pentin, menulis bahwa mereka "juga membahas sentralisme di dalam Gereja, fungsi konferensi para uskup, pengembangan imamat, moralitas seksual [dan] penunjukan para uskup.” Suatu skema yang kurang lebih identik dengan skema yang akan muncul di depan umum pada kedua Sinode tentang Keluarga, yang diselenggarakan oleh Paus Francis pada tahun 2014 dan 2015.

Biografi resmi kardinal ini ditulis bersama oleh Mettepenningen dan Karim Schelkens. Sebagai salah satu uskup Katolik paling kuat di Eropa, dan salah satu suara terkemuka di kubu liberal yang dominan di keuskupan Eropa, maka biografi Danneels sangat menarik perhatian publik. Supaya tidak dianggap bahwa kardinal itu sedang bercanda, maka keberadaan dan tujuan umum dari mafia "St. Gallen" dikonfirmasi keesokan harinya oleh Schelkens dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio di kota St. Gallen.

Pentin merangkum, menulis dalam the National Catholic Register (3): "Kepribadian dan ide-ide teologis dari para anggota (mafia St.Gallen) kadang berbeda, tetapi ada satu hal yang menyatukan mereka: ketidaksukaan mereka terhadap kepala Kongregasi untuk Ajaran Iman, Kardinal Joseph Ratzinger."

Pentin menulis, “Kelompok itu menginginkan reformasi Gereja yang drastis, jauh lebih modern dan terkini, dengan Jorge Bergoglio, Paus Francis, sebagai pemimpinnya. Dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan." Pentin menambahkan dalam artikelnya kemudian, bahwa meskipun kelompok St. Gallen secara resmi menghentikan pertemuan mereka pada tahun 2006, tetapi tidak diragukan lagi bahwa pengaruh mereka terus berlanjut hingga 2013 (saat konklaf). "Sungguh aman untuk mengatakan bahwa kelompok itu membantu membentuk jaringan yang melapangan jalan untuk setidaknya mendukung Kardinal Bergoglio pada Konklaf tujuh tahun kemudian."

Pada 2015, penulis Jerman dan pakar Vatikan, Paul Badde, mengkonfirmasi hal ini, dan mengatakan bahwa dirinya telah menerima "informasi yang dapat dipercaya," bahwa tiga hari setelah penguburan Paus Yohanes Paulus II, Kardinal Martini, Lehmann dan Kasper dari Jerman, Bački dari Lituania, van Luyn dari Belanda, Danneels dari Brussels, dan Murphy O'Connor dari London “bertemu di tempat yang disebut Villa Nazareth di Roma, rumah Kardinal Silvestrini, yang kemudian tidak lagi memenuhi syarat untuk memilih; mereka kemudian membahas secara rahasia taktik tentang cara menghindari terpilihnya Joseph Ratzinger."

Berkut ini pernyataan Danneels, berupa sebuah surat yang agak membingungkan muncul dari keuskupan St. Gallen yang sebagian menarik kembali klaim bahwa kelompok itu telah mempengaruhi pengunduran diri Paus Benediktus. Surat itu memang mengkonfirmasi bahwa pemilihan Jorge Bergoglio sebagai Paus Francis pada 2013 “sesuai dengan tujuan yang dikejar oleh mafia St. Gallen,” dan mencatat bahwa informasi ini berasal dari biografi Cardinal Danneels. "Hal ini juga telah dikonfirmasi oleh Uskup Ivo Fürer," lanjut surat itu, yang mengatakan bahwa "kegembiraannya atas pemilihan orang Argentina itu tidak pernah dirahasiakannya." Biografi Danneels mengatakan bahwa kelompok itu mulai terbentuk jauh sebelum tahun 1996. Pada tahun 1982 Danneels menghadiri pertemuan Dewan Konferensi Para Uskup Eropa (CCEE) untuk pertama kalinya dan bertemu dengan Martini dan Ivo Fürer, yang digambarkan sebagai "sekretaris CCEE yang bersemangat dan bijaksana.” Martini mengambil kendali CCEE pada tahun 1987; kepemimpinannya jelas mengarah ke aliran liberal, dan pada tahun 1993 paus telah memutuskan bahwa sekretaris kelompok itu akan menjadi seorang uskup yang ditunjuk oleh Roma, bahwa uskup agung harus menghadiri pertemuan dan akhirnya tempat itu harus dipindahkan ke Roma.

Pada tahun 1993, paus memindahkan presiden CCEE dari tangan Martini ke tangan Miroslav Vlk, uskup agung Praha. Mungkin hal ini didorong oleh jatuhnya Tembok Berlin dan runtuhnya Uni Soviet, dengan keinginan untuk melibatkan para uskup Eropa Timur. Vlk tidak tertarik pada jenis reformasi Gereja yang disukai oleh hati Martini dan Hume.

Perubahan-perubahan ini menghambat CCEE sebagai kendaraan untuk memberikan tekanan dari pihak liberal terhadap Gereja dan sejak periode inilah Danneels melepaskan diri darinya. Kelompok St. Gallen mulai bertemu pada tahun 1996 atas undangan Ivo Fürer - yang telah ditunjuk menjadi uskup St. Gallen pada tahun 1995 - tiga tahun setelah perubahan manajemen ini.

Kemudian, dua penulis biografi Danneels menarik kembali sebagian dari deskripsi mereka tentang kelompok St. Gallen sebagai kelompok "lobi" liberal. Namun demikian, ambiguitas yang sama dapat dideteksi seperti dalam surat dari Keuskupan St. Gallen yang mereka kutip dalam pernyataan mereka. Pentin melaporkan pada 26 September 2015 bahwa para penulis biografi itu mengulangi surat resmi dari keuskupan, dengan mengatakan “pemilihan Bergoglio telah sesuai dengan tujuan kelompok (mafia) St. Gallen; atas hal ini tidak ada keraguan lagi.

Dan garis besar programnya diatur oleh Danneels dan sesamanya yang telah mendiskusikannya selama sepuluh tahun. ”Mereka mengatakan bahwa kegagalan untuk memilih Bergoglio pada tahun 2005 menyebabkan pembubaran kelompok itu. Namun Pentin bisa menunjukkan, bagaimanapun, bahwa beberapa anggota St. Gallen atau rekan dekat mereka, yang kemudian dinamai oleh penulis biografi kepausan Inggris, Austen Ivereigh, sebagai bagian dari "Tim Bergoglio," kelompok kardinal yang akhirnya membawa rencana St. Gallen untuk membuahkan hasil di Konklaf 2013.

Siapa-Siapa Mereka? - Anggota Terkemuka Dan Kualifikasi Mereka

Terutama para uskup dalam kelompok St.Gallen prihatin dan mereka berusaha mencegah terpilihnya Ratzinger pada Konklaf tahun 2005. Tetapi secara umum tidak sulit untuk menentukan siapa mereka itu, dengan memeriksa karier mereka -- ke arah mana para anggota “mafia” St Gallen ini berharap untuk mengarahkan Gereja kepada masalah-masalah yang  krusial. Idenya sederhana: untuk mengumpulkan para uskup yang kuat dan berpikiran sama ini, untuk menggunakan jaringan kontak mereka yang luas untuk menghasilkan apa yang akan dikenal oleh para analis politik sebagai "perubahan rezim."

Program yang mereka ajukan itu ditulis dengan memakai semboyan “desentralisasi”, “kolegialitas” dan Gereja yang lebih “pastoral”. Dengan istilah yang terakhir ini mereka maksudkan bahwa mereka ingin melepaskan diri dari penegakan yang tegas atas ajaran moral Katolik yang telah menjadi ciri khas dari Paus Yohanes Paulus II dan bergerak menuju pendekatan yang sejak itu terlihat dalam Sinode tentang Keluarga. Slogan-slogan desentralisasi dan kolegialitas juga memperlihatkan kritik implisit terhadap Yohanes Paulus II dan cara dia memerintah Gereja. Yohanes Paulus II naik takhta setelah lima belas tahun masa pemerintahan Paulus VI, yang pada waktu itu konsekuensi radikal dari Konsili Vatikan II diselesaikan. Apakah penafsiran liberal paus Paulus VI tentang Konsili itu benar atau tidak, saat ini menjadi subyek kontroversi (telah ditentang oleh "Hermeneutic of Continuity" yang dikemukakan oleh Benediktus XVI); tetapi yang tidak dapat diperdebatkan adalah bahwa hasil pemerintahan paus Paulus VI di beberapa daerah tidaklah menguntungkan. Hampir 50.000 imam meninggalkan imamat selama tahun-tahun ini, panggilan hidup religius secara umum, di antara pria dan wanita, mengalami keruntuhan dalam skala yang sama, dan ada penolakan luas terhadap pengajaran Gereja -- paling tidak dari ensiklik Humanae Vitae milik Paulus VI sendiri.

Fenomena ini ditekankan oleh janji Paulus VI dalam penunjukkan jabatan uskup. Untuk mengambil satu contoh dari Amerika Serikat, hierarki di sana diubah oleh nominasi yang dibuat oleh Uskup Agung Jadot, yang dalam waktu tujuh tahun (1973-1980) berhasil menunjuk sendri sebanyak 103 uskup dan mempromosikan 15 uskup agung. Di antara yang terakhir ini, calon uskup yang terbukti perbuatannya sangat memalukan, termasuk Uskup Agung Seattle, yang manajemennya kemudian memprovokasi intervensi Vatikan yang berupa penugasan seorang wakil Vatikan disana, dan terutama Uskup Agung Weakland dari Milwaukee, yang akhirnya mengundurkan diri setelah dia membayar denda 450.000 dolar yang diambil dari dana keuskupan untuk diberikan kepada seorang kekasih prianya (homosex) yang mengancamnya akan melakukan tuntutan hukum. Konsekuensi dari pemilihan pastor-pastor "liberal" seperti itu sungguh terasa dalam, derajat yang lebih besar atau lebih kecil, pada banyak sektor Gereja di seluruh dunia.

Yohanes Paulus II naik ke tahta kepausan dengan tekad untuk menghentikan kebusukan ini, dan untuk sebagian besar dia berhasil, tetapi dia meninggalkan banyak ketidakpuasan di antara mereka yang berasal dari sekolah bentukan Paulus VI. Karena Yohanes Paulus II sering tidak dapat mengandalkan hierarki yang telah diwarisinya, dia mengikuti kebijakan kontrol  kepausan, dan dia memiliki sedikit pilihan dalam upayanya untuk memulihkan pengajaran ortodoks dan kehidupan religius Katolik.

Tidak diragukan lagi bahwa dia telah memperketat disiplin Gereja, tetapi apakah dia dapat dengan adil disebut sebagai orang yang melakukan sentralisasi, berlawanan dengan sebuah kelompok yang mengusahakan semangat "kolegialitas" di dalam Gereja, yang terbuka untuk dipertanyakan. Sentralisme John Paul II, yang ditentang oleh para uskup dari St. Gallen Group, adalah tanggapan terhadap keadaan kacau yang datang dengan cara yang sama-sama sentralistis. Adalah naif untuk tidak mengakui bahwa slogan desentralisasi dan kolegialitas yang digunakan oleh kelompok St.Gallen adalah merupakan kata-kata sandi bagi program liberal yang luas, yang perlu dijelaskan lebih jauh.

Mereka yang telah menyaksikan adegan drama dalam Gereja Katolik selama tiga puluh tahun terakhir akan dengan mudah mengenali nama-nama tokoh utama Grup St. Gallen. Di antara yang terdaftar oleh Pentin, yang paling terkenal adalah Danneels, bersama dengan sarjana Alkitab dan uskup agung dari Milan, Kardinal Carlo Maria Martini, dan teolog Jerman Kardinal Walter Kasper.

Martini

Nama yang paling terkenal dan pemimpinnya yang tak terbantahkan dalam kelompok St. Gallen adalah Carlo Maria Cardinal Martini, karena sebagian besar dari tahun-tahun pemerintahan, baik John Paul II mau pun Benediktus XVI, telah mengaggap Martini sebagai tokoh terkemuka dari faksi liberal Gereja. Hasil wawancara dan tulisan Martini memberi petunjuk tentang antusiasme Bergoglio untuk menjadikannya sebagai mentornya; banyak istilah dan frasa favorit kardinal muncul kembali dalam tulisan Paus Francis sendiri dan dalam pidato tanpa basa-basi.

Pada tahun 2008, Sandro Magister menggambarkan Kardinal Martini sebagai seorang yang berperilaku "halus dan buram," tetapi menambahkan: ada kalanya ia keluar ke tempat terbuka. “Tentang selibat imamat, misalnya, dia mengatakan dan tidak mengatakan. Hal yang sama juga tentang imam wanita. Dan tentang homoseksualitas. Dan kontrasepsi. Dan ketika dia mengkritik hierarki Gereja, dia tidak mau menyebut nama, orang atau keterangan lanjutan."

Tetapi pada tahun itu, Martini memberikan wawancara panjang di mana dia secara terbuka menentang pengajaran Paus Paulus VI tentang kontrasepsi di dalam Humanae Vitae. Pelarangan kontrasepsi pada ensiklik yang kontroversial itu, kata kardinal Martini, telah menyebabkan "kerusakan serius," dan dia menyalahkan hal itu sebagai penyebab dari banyaknya umat Katolik yang meninggalkan praktik iman mereka sejak 1968.

Kardinal Martini terutama memuji tanggapan terhadap ensiklik Humanae Vitae dari pihak konferensi para uskup nasional Austria, Jerman dan lain-lainnya, dengan mengatakan bahwa mereka “mengikuti jalan yang dapat kita teruskan hari ini.” “Budaya kelembutan baru” ini adalah “suatu pendekatan terhadap seksualitas yang lebih bebas dari prasangka."

Sebaliknya, Yohanes Paulus II telah "mengikuti jalan penerapan yang keras" atas Humanae Vitae. “Dia tidak ingin ada keraguan tentang hal ini. Tampaknya dia bahkan mempertimbangkan deklarasi yang akan mendukung keistimewaan infalibilitas kepausan.”

“Saya sangat yakin bahwa Gereja dapat menunjukkan cara yang lebih baik daripada yang dilakukan dengan Humanae Vitae. Mampu mengakui kesalahan seseorang dan keterbatasan sudut pandang seseorang sebelumnya adalah tanda kebesaran jiwa dan kepercayaan diri. Gereja akan mendapatkan kembali kredibilitas dan kompetensinya.”

Martini, yang meninggal pada 2012 hanya beberapa bulan sebelum Paus Benediktus mengumumkan pengunduran dirinya, adalah seorang Yesuit Italia, seorang sarjana Alkitab yang terkenal. Dia menjabat sebagai Uskup Agung Milan selama tahun-tahun paling produktif pada masa pemerintahan John Paul II, 1980 hingga 2002. Sebagai tokoh paling berpengaruh di Gereja Katolik Italia, dan sebagai kepala keuskupan agung Milan - secara tradisional “layak menjadi paus” - Martini sudah lama dianggap sebagai kandidat liberal yang ideal untuk kepausan. Namun, dia tidak bisa berjalan cepat setelah didiagnosis berpenyakit Parkinson yang langka. Dia mengundurkan diri dari jabatanya pada tahun 2002, tetapi tetap menjadi tokoh paling penting dari Gereja-kiri (Gereja sosialis/komunis) di Eropa.

Hanya beberapa jam setelah kematiannya pada bulan Agustus 2012, Corriere della Sera menerbitkan wawancara terakhir Martini. Hampir dengan napas sekaratnya, Martini menyatakan bahwa Gereja sebagai sebuah institusi adalah "200 tahun kedaluwarsa." Kardinal itu berkata, "Gereja harus mengakui kesalahannya dan harus mengambil jalan perubahan radikal, dimulai dari Paus dan para uskup." Ini terutama di bidang ajaran seksual, dimana dia menyiratkan, hal itu adalah penyebab dari krisis pelecehan seks klerus. Dalam wawancara tersebut, Martini memetakan kebijakan yang akan diajukan oleh kaum liberal dalam dua Sinode tentang Keluarga pada tahun 2014 dan 2015, dan yang kemudian dimasukkan, dengan cara yang lebih ambigu, ke dalam anjuran Paus Francis Amoris Laetitia: dia mendesak pendekatan yang lebih pribadi dan tidak terlalu doktrinal terhadap moralitas seksual, terutama pada kasus pasangan yang bercerai dan menikah lagi dengan orang lain, yang dia nyatakan “perlu perlindungan khusus,” dan dia menyatakan perbedaan pendapatnya dari sikap tradisional Gereja terhadap homoseksualitas.

Kasper

Sementara Martini terutama dikenal di Italia, Walter Kasper dari Jerman memiliki profil yang lebih terkenal di Amerika Utara, di mana dia secara teratur mengajar dan memberikan wawancara. Buku-buku Kasper telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di AS selama beberapa dekade, dan dia telah menjadi profesor tamu di Universitas Katolik Amerika sejak tahun 1983. Namun, sebagai orang yang meluncurkan kontroversi paling sengit tentang kepausan Paus Francis, namanya kemungkinan akan hidup terus setelah dia mati.

Paus Fransiskus mengundang Kasper untuk memberikan pidato utama di konsistori Februari 2014, dimana hal ini memicu serangkaian peristiwa dan badai debat yang baru saja tumbuh. Di konsistori inilah dia mempresentasikan “Proposal Kasper” - bahwa umat Katolik yang bercerai dan secara sipil menikah kembali dapat diizinkan untuk menerima absolusi dan Komuni setelah mengikuti “proses penyesalan”, tetapi tanpa perlu berjanji untuk tidak melakukan hubungan sex. Tetapi puncak karier Kasper ini melewati berbagai tekanan selama puluhan tahun di setiap keadaan dan peristiwa yang muncul saat itu, demi membela apa yang disebut sebagai Agenda Martini.

Kasper terus dan secara terbuka menentang arah Gereja Wojtyla / Ratzinger, bahkan ketika dia menjadi seorang pejabat Kuria. Untuk sebagian besar masa pemerintahan Yohanes Paulus II, dan sebelumnya sebagai mahasiswa dan asisten teolog radikal pastor Hans Küng di universitas Tübingen, nama Kasper identik dengan kamp progresif di Jerman dan di dalam Kuria. Dengan sikap menekan agar orang lain mau menerima usulannya bahwa umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali adalah menjadi inti dari pekerjaan umum Kasper dalam beberapa tahun terakhir, tetapi barulah pada saat terpilihnya Jorge Bergoglio sebagai paus, tujuan itu tampaknya dimungkinkan.

Dalam pidato Angelus pertamanya, pada hari Minggu, tanggal 17 Maret 2013, Paus yang baru memberikan apa yang mungkin merupakan sinyal paling jelas dari arah yang hendak diambilnya. Berbicara tentang buku baru Kasper: Belas Kasih. Berbicara soal esensi Injil dan Kunci Kehidupan Kristiani, demikian Francis berkata, “Dalam beberapa hari terakhir saya telah membaca sebuah buku dari seorang Kardinal - Kardinal Kasper, seorang teolog yang pandai, seorang teolog yang baik – mengenai belas kasih. Dan buku itu memberi saya banyak sekali manfaat, tetapi jangan berpikir saya mempromosikan buku-buku kardinal saya! Tidak sama sekali! Namun buku itu telah memberi saya banyak manfaat, sangat banyak manfaat ... Kardinal Kasper mengatakan bahwa rasa belas kasihan, bahwa kata ini saja, bisa mengubah segalanya.

Pada sebuah ceramah di Universitas Fordham, Kasper menceritakan kisah "seorang kardinal tua" yang setelah pidatonya ini, mencoba memperingatkan paus bahwa "ada ajaran sesat dalam buku ini." Dan Paus yang baru, paus Francis, kata Kasper, menceritakan kembali kisah itu kepadanya, dan dengan tersenyum Francis memberikan sebuah kepastian, "(usulan kardinal) Ini masuk di satu telinga dan keluar dari telinga yang lain."

Dalam sebuah wawancara dengan media Commonweal, Kasper menegaskan posisinya, dan  mengatakan bahwa dia menentang pendekatan "rigourist" (keras) dari teologi moral masa lalu. Dia mengambil logika selangkah lebih maju, dengan mengatakan bahwa seorang Katolik yang bercerai dan menikah kembali, secara moral berkewajiban untuk tidak melepaskan relasinya yang baru.
 
Pertobatan, dalam pengertian tradisional Katolik, terkadang tidak mungkin dilakukan, dan bahkan justru berpotensi menciptakan dosa baru. Orang-orang “harus melakukan yang terbaik dalam situasi tertentu”, dan jika ada anak-anak dari pernikahan yang kedua, maka pasangan yang mematuhi ajaran tradisional Katolik akan memiliki rasa bersalah aktif di dalam hatinya, dengan cara memutus ikatan keluarga dari perkawinan yang kedua.

Dengan adanya Sinode tentang Keluarga, maka Kasper menjadi lebih vokal suaranya pada peluncuran buku di Roma, dengan mengadopsi salah satu slogan lobi LGBT, bahwa homoseksualitas tidak boleh dijadikan subjek "fundamentalisme agama."

"Bagi saya, kecenderungan (menjadi gay) ini adalah tanda tanya: itu tidak mencerminkan rancangan asli dari Tuhan dan itu kenyataan, karena Anda dilahirkan sebagai gay."

Danneels

Tentu saja di antara tokoh-tokoh gereja yang paling terkenal ini adalah Godfried Danneels sendiri, selama lebih dari 30 tahun dia mengepalai tidak hanya di keuskupan agung Brussels yang kaya dan berpengaruh, tetapi juga atas jaringan kontak politik, sosial dan peradilan yang membuatnya sangat berpengaruh secara politik. Dalam masa jabatannya yang panjang, Danneels tidak pernah kesulitan untuk mempertahankan pendapatnya tentang sebagian besar masalah “panas” yang menjadi perhatian Gereja, terutama di bidang moralitas seksual: aborsi, kontrasepsi, homoseksualitas dan perkawinan homoseksual.

Danneels terkenal di seluruh Eropa karena menggunakan pengaruh politik untuk mendesak liberalisasi hukum Belgia tentang seks dan pernikahan. Pada tahun 1990, dia menyarankan kepada Raja Baudouin dari Belgia untuk menandatangani undang-undang yang mengesahkan aborsi dan kemudian menolak untuk menarik materi pendidikan seks eksplisit - yang dikecam sebagai pornografi oleh banyak orang tua - dari sekolah-sekolah Katolik Belgia. Dia pernah mengatakan bahwa legalisasi pernikahan sesama jenis di Belgia adalah sebuah "perkembangan positif." Pada Mei 2003, dia menulis surat kepada Perdana Menteri Guy Verhofstadt, yang mempersiapkan masa jabatan keduanya, memberi selamat kepada pemerintah Verhofstadt atas "persetujuan atas undang-undang bagi hubungan yang menetap antara pasangan sesama jenis."

Beberapa bulan setelah pensiun, pada bulan April 2010, Danneels secara khusus berada di bawah naungan skandal, dituduh telah melindungi seorang uskup yang mengaku telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak kecil keponakannya sendiri. Pada 2010 terungkap - dengan penerbitan rekaman audio - bahwa Danneels telah mengatakan kepada si korban agar tetap diam dan tidak menimbulkan masalah bagi Uskup Roger Vangheluwe yang akan segera pensiun dari Bruges, bahkan menyatakan bahwa korban harus “meminta maaf.” Sebelum rekaman dirilis, Danneels telah menolak semua informasi tentang pelecehan seksual oleh klerus atau menutup-nutupi kasus seksual. Namun pastor yang mengungkap rahasia itu, Rik Devillé, kemudian mengklaim bahwa dirinya telah memperingatkan Danneels tentang perbuatan Vangheluwe pada pertengahan 1990-an. Karena undang-undang pembatasan yang berlaku telah berakhir, Vangheluwe tidak pernah diselidiki pihak berwenang atas kejahatannya, meskipun dia telah mengeluarkan permintaan maaf secara terbuka kepada para korban.

Setelah ini, gelombang pengaduan ratusan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para klerus selama periode dua puluh tahun mendorong intervensi oleh polisi yang menggerebek rumah Danneels dan kantor keuskupan. Komputer dan file disita, termasuk semua dokumentasi yang dikumpulkan oleh komisi keuskupan tentang tuduhan pencabulan. Kardinal itu kemudian diperiksa oleh jaksa penuntut selama 10 jam tetapi tidak ada tuduhan yang ditetapkan atas dirinya.

Karena alasan yang masih belum jelas, bukti yang disita polisi dinyatakan tidak dapat diterima, dokumen-dokumen dikembalikan ke keuskupan agung dan penyelidikan ditutup dengan begitu saja. Ini terlepas dari kenyataan bahwa individu-individu yang berkaitan dengan para korban, telah mengajukan hampir lima ratus pengaduan terpisah, termasuk banyak orang yang menduga Danneels menggunakan kekuasaan dan relasinya yang erat dengan kekuasaan, untuk melindungi pelecehan seksual oleh klerus.

Peter Adriaenssens, ketua komisi pelecehan seks yang dibentuk oleh penerus Danneels, Uskup Agung André Leonard, mengeluh kepada jaksa tentang penggerebekan tersebut, dengan mengatakan bahwa hasilnya adalah timnya telah kehilangan semua 475 dokumen yang telah mereka kumpulkan atas tuduhan pencabulan. Kemudian komisi itu dibubarkan dan tidak ada penyelidikan lebih lanjut yang pernah dilakukan, meskipun Adriaenssens mengatakan bahwa sekitar 50 dari dokumen itu melibatkan sosok Danneels.

Pada bulan Desember tahun yang sama, Danneels menyatakan kepada komite parlemen tentang pelecehan seksual, bahwa tidak pernah ada kebijakan untuk menutupi para klerus pelaku pencabulan. Keuskupan agung Brussels-Mechelen kemudian mengeluarkan permintaan maaf secara publik karena ‘bersikap diam’ atas pelecehan seksual klerus terhadap anak-anak di bawah umur.

Adriaenssens menyatakan kekecewaannya kepada Danneels, dimana penggantinya, seorang konservatif pengikut Ratzinger yang terkenal, dia gambarkan sebagai "sama sekali tidak cocok untuk Brussels." Dengan terpilihnya Joseph Ratzinger sebagai Paus Benediktus pada 2005, bintang Danneels tampaknya telah memudar tanpa dapat ditawar lagi.

Tetapi Konklaf 2013 mengembalikan Danneels ke garis depan politik Gereja, dimana paus yang baru mengundangnya untuk bergabung dengannya di St. Peter's Loggia untuk penampilan pertamanya di hadapan publik. Dia diberi hak istimewa untuk mendaraskan doa resmi pada misa pelantikan. Kemudian kardinal, yang oleh banyak orang dianggap “amat memalukan,” diundang oleh paus Fransiskus dan diberi peran sebagai pembantu khusus kepausan untuk mengikuti kedua Sinode tentang Keluarga tempat dia mengambil peran penting. Danneels sendiri menggambarkan Konklaf terakhir itu sebagai "pengalaman kebangkitan pribadi."

"Team Bergoglio" melengkapi karya St. Gallen

Terlepas dari aturan kerahasiaan yang ketat, terungkap setelah Konklaf 2005 bahwa uskup agung Yesuit dari Buenos Aires, Jorge Mario Bergoglio, menjadi runner-up. Kelompok St. Gallen hampir semuanya hadir dan berusaha keras demi terpilihnya kandidat mereka. Dan dukungan mereka sangat signifikan. Pada pemungutan suara kedua, Bergoglio memperoleh 40 suara dan Ratzinger 72 suara. Paul Badde mengatakan bahwa itu adalah Kardinal Meisner dari Cologne yang telah "dengan penuh semangat bertarung" melawan kelompok St. Gallen demi Ratzinger, "dan terutama untuk menentang Kardinal Danneels". Seorang kardinal anonim, yang membuat catatan harian mengenai proses tersebut, mengatakan: “Jesuit Argentina itu selangkah lagi dari ambang angka 39 suara, yang secara teoritis, dapat memungkinkan minoritas terorganisir untuk memblokir pemilihan kandidat siapa pun.” Sejarah telah menunjukkan hasilnya, dan kelompok St. Gallen mundur setelah 2005.

Tapi kepausan Benedict kacau, terutama pada tahun terakhirnya, dan dengan kejutan dari pengunduran dirinya, apakah kelompok St.Gallen itu memiliki andil di dalamnya atau tidak,  bahwa mereka melihat peluang terakhir. Dengan matinya kardinal Martini, dan sebagian besar anggota kelompok St.Gallen telah hampir sampai pada umur yang dilarang untuk berpartisipasi dalam Konklaf (80 tahun), maka waktu milik mereka hampir habis – maka mereka sadar bahwa ini adalah kesempatan realistis terakhir mereka. Dengan periode "sede vacante" yang mendahului Konklaf resmi dimulai, hanya beberapa hari sebelum ulang tahun Walter Kasper yang ke-80, beberapa orang bertanya apakah layak untuk percaya bahwa pengunduran diri mendadak dari Benediktus hanyalah suatu kebetulan saja. Ulang tahun Danneels yang ke-80 akan datang hanya beberapa bulan kemudian, dan Lehmann hanya memiliki sisa tiga tahun lagi.

Pertanyaan soal dukung mendukung pada kampanye pemungutan suara di Konklaf sangat penting karena revisi oleh Paus Yohanes Paulus II secara khusus melarangnya, dan dengan sanski exkom otomatis. Dokumen hukum kepausan tahun 1996 yang mengatur Konklaf, Universi Dominici Gregis (UDG), secara khusus melarang kegiatan semacam ini dan memberi hukuman berat bagi mereka yang berkampanye dan bagi mereka yang memberikan persetujuannya kepada para juru kampanye. Dan seorang paus yang diexkom, maka dia bukanlah paus.

UDG no.81 mengatakan, “Para Kardinal pemilih, terutama, haruslah menjauhkan diri dari semua pakta, persepakatan, janji, dan kewajiban lainnya, dimana dengan hal itu mereka dilarang untuk memberikan atau menolak dukungan bagi siapa pun.” John Paul berpendapat bahwa Konklaf haruslah menjadi sebuah peristiwa religius, bukan peristiwa politik, dan bahwa para kardinal pemilih harus melakukan doa dan memohon bimbingan dari Roh Kudus, bukan pemihakan secara duniawi. Karena ada saja komplotan rahasia yang bermaksud menggunakan kesempatan Konklaf untuk mengarahkan Gereja dari belakang takhta.

Terlepas dari ambisi reformis ini, dalam bukunya tahun 2014 tentang Bergoglio, The Great Reformer, Ivereigh menulis adanya kampanye terbuka tentang pemungutan suara yang dilakukan oleh sekelompok yang terdiri dari empat orang kardinal pada 2013. Mereka adalah tiga alumni St. Gallen: Walter Kasper, Godfried Danneels, dan Kardinal Karl Lehman. Namun di antara kelompok mereka, sejak beberapa saat sebelumnya, telah ada seseorang yang bertugas khusus ‘menangani’ para perwakilan yang berbahasa Inggris, yaitu Kardinal Basil Hume, uskup agung Westminster. Hume meninggal pada tahun 1999, tetapi penggantinya, dengan ideologi dan episkopal yang sama, adalah Kardinal Cormac Murphy O'Connor. Ivereigh menulis bahwa meskipun usianya lebih dari 80, menjadi tugas Murphy O'Connor selama sidang umum pra-Konklaf dan keterlibatan sosialnya untuk merekrut para kardinal pemilih yang berbahasa Inggris bagi tujuan kelompok tersebut.

Meskipun Kardinal Bergoglio sendiri bukanlah anggota kelompok St. Gallen, Ivereigh mengatakan, namun secara verbal Bergoglio memberikan "persetujuan" kepada Murphy O'Connor untuk menjadi kandidat untuk "Tim Bergoglio,” ini merupakan sebuah tindakan yang juga dilarang oleh interpretasi ketat dari Universi Dominici Gregis. Meskipun keempat kardinal yang disebut oleh Ivereigh belakangan membantah perkataannya - dan Ivereigh berjanji untuk mengedit edisi buku yang akan datang – namun dalam kasus ini setidaknya Kardinal Murphy O'Connor, dari pernyataannya sendiri sebelumnya, telah bertentangan dengan penyangkalan empat kardinal itu. Pada akhir 2013, uskup agung Westminster memberikan wawancara kepada Catholic Herald di mana dia mengaku tidak hanya berkampanye di Konklaf, tetapi juga mendapatkan persetujuan Bergoglio untuk menjadi pendukung mereka.

Artikel oleh Miguel Cullen di dalam Herald edisi 12 September 2013 mengatakan, “Kardinal itu juga mengungkapkan bahwa dia telah berbicara kepada calon Paus itu, ketika mereka meninggalkan Missa pro Eligendo Romano Pontifice, Misa terakhir sebelum konklaf dimulai pada 12 Maret."

Murphy O'Connor berkata, “Kami berbicara sedikit. Saya berkata kepadanya (Bergoglio) bahwa saya berdoa bagi dia dan saya berkata dalam bahasa Italia: "Hati-hati." Saya memberi isyarat, dan dia mengerti dan berkata: "Si - capisco" – (ya, saya mengerti.) Dia nampak tenang. Dia sadar bahwa dia mungkin akan menjadi kandidat. Apakah saya tahu dia akan menjadi Paus? Tidak. Ada kandidat bagus lainnya. Tetapi saya tahu dia akan menjadi salah satu yang terkemuka.'' Peringatan kepada Bergoglio untuk 'berhati-hati' tentu tampaknya menyiratkan bahwa Murphy O'Connor dan Bergoglio tahu bahwa Bergoglio setidaknya menyimpang dari aturan.

Hal ini didukung lagi dalam artikel yang sama di media Herald di mana Murphy O'Connor dikutip mengatakan, “Semua kardinal mengadakan pertemuan dengan paus Francis di Hall of Benedictions, dua hari setelah pemilihannya. Kami semua naik satu per satu kesana. Dia menyapa saya dengan sangat hangat. Dia mengatakan sesuatu seperti: "Itu salahmu. Apa yang telah kau lakukan padaku?'"

Dalam sebuah wawancara dengan media the Independent setelah konklaf, Murphy O'Connor juga mengisyaratkan ada sebuah program khusus yang diberikan kepada orang Argentina berusia 76 tahun itu, yang diharapkan akan dia selesaikan dalam waktu sekitar empat tahun.

Kardinal Inggris mengatakan kepada jurnalis dan penulis Paul Vallely, "Empat tahun bagi Bergoglio akan cukup untuk mengubah banyak hal." Komentar ini adalah cukup wajar setelah adanya fakta, tetapi ini adalah frasa yang sama yang direkam oleh Andrea Tornielli di media La Stampa dalam sebuah artikel bertanggal 2 Maret  2013, sebelas hari sebelum pemilihan Bergoglio: "Empat tahun bagi Bergoglio akan cukup untuk mengubah keadaan," bisik seorang kardinal dan teman lama uskup agung Buenos Aires."

Situasi ini diringkas baru-baru ini oleh Matius Schmitz yang menulis di media First Things, yang mengatakan, "Meskipun Benediktus masih hidup, Francis berusaha menguburnya."

No comments:

Post a Comment