Friday, August 30, 2019

NEUMAYR DI BUENOS AIRES, MENYAMPAIKAN RASA MALU...


NEUMAYR DI BUENOS AIRES, MENYAMPAIKAN RASA MALU DAN PENYESALANNYA ATAS USKUP DARI ARGENTINA INI



"Kami merasa malu karena dia," kata mantan jaksa penuntut, tentang Jorge Bergoglio, selama kunjungan George Neumayr ke negara asal paus. " Bergoglio mewakili kualitas terburuk kita," kata pria itu menyimpulkan.

Neumayr, penulis buku The Political Pope dan salah satu antagonis yang paling mantap dari Theodore McCarrick dan para klerus busuk yang ikut serta atau membantu menutup-nutupi kejahatannya, kini sedang berada di Argentina untuk mencari jawaban.

Secara khusus, dia ingin tahu mengapa paus pertama dari Amerika Latin itu belum mau kembali ke negara asalnya sejak pemilihannya menjadi paus.

Berdasarkan reaksi dan jawaban dari beberapa orang yang diajak bicara oleh Neumayr, penyebabnya mulai semakin jelas dan lebih masuk akal.

Neumayr menggambarkan sosok Bergoglio sebagai seorang pria yang bersedia menutupi para klerus pelaku kejahatan sexual, karena hal itu akan bisa memberinya “peningkatan pengaruh”:

“Bergoglio akan memanggil mereka yang mau menyelidiki tentang seorang imam pederast (pelaku semburit) dan menyuruh mereka untuk berdiam diri,” kata orang dalam di Gereja Buenos Aires kepada saya. "Kemudian Bergoglio akan memberitahu imam yang sedang diselidiki dan mengatakan bahwa penyelidikan itu telah dihentikan olehnya. Kemudian Bergoglio memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan kepatuhan total darinya." Banyak imam seperti itu yang merasa ‘berhutang budi’ kepada Bergoglio.

Beberapa orang bertanya-tanya mengapa orang seperti Bergoglio itu bersedia dikelilingi oleh  banyak penjahat, para penjilat, orang-orang yang tak bermoral. Tetapi pertanyaan itu bukanlah misteri bagi umat Katolik di Argentina. “Dia telah melakukan hal yang sama ketika menjadi uskup agung,” kata seseorang. "Dia menggunakan rahasia orang-orang lain untuk mengendalikan mereka."

Dia telah melindungi terlalu banyak klerus yang ‘bermasalah’ - apakah itu adalah pelaku pelecehan sex atau dikenal karena keterlibatannya dalam suatu kejahatan – dimana hal ini bukan sekedar rumor semata. Daftarnya adalah panjang, dan saya sudah menulis hal itu sebelumnya, jadi saya tidak akan menyebutkan semuanya di sini. Beberapa telah menjadi akrab di telinga kita, namun terutama: Barros; Inzoli; Danneels; Ricca; Pineda; Peña Parra; dan ya, McCarrick, semuanya masuk kedalam pikiran kita. “Parade pertemanan yang memalukan” ini (sebagaimana Vaticanista Marco Tosatti menyebutnya) memberi tahu kita banyak hal tentang tipe pria (Bergoglio) yang sedang kita hadapi.

Kisah asal usul paus ini, yang menurut saya, belum pernah diteliti cukup detil, berdasarkan upaya Neumayr untuk menemukan jawabannya, namun diselimuti oleh banyak ketidaksukaan dan mitos yang sama. Banyak dari apa yang telah dia temukan dalam catatan pertama dan kedua dari serial tulisan yang sedang dikerjakannya, akan menjadi penegasan atas hal-hal yang sudah dibahas dalam buku-buku seperti The Dictator Pope karya Henry Sire (Marcantonio Colonna ). (Sire juga melakukan perjalanan ke Argentina untuk mencari jawaban saat melakukan penelitian bagi bukunya.)

Misalnya, paus adalah seorang Peronist yang diilhami oleh komunis. (Mentor politiknya adalah seorang komunis Paraguay yang bernama Esther Ballestrino.) Neumayr mengatakan:

Umat ​​Katolik Argentina menggambarkan Bergoglio sebagai ‘Peron gerejawi’ - bunglon yang bengis, sosialis, dan suka berbohong, dan melakukan taktik tercela apa pun untuk bisa mempertahankan kekuasaannya.

"Dulu Peron sering mengatakan bahwa dia adalah baling-baling cuaca, bahwa dia bergerak ke mana angin menuju," kata seorang wartawan kepada saya. “Bergoglio juga seperti itu. Pada hari Senin dia adalah seorang liberal. Pada hari Selasa dia adalah seorang konservatif. Pada hari Rabu dia menjadi liberal lagi. Dan begitu seterusnya."

Saya membahas masalah yang kritis tetapi sering terabaikan ini di sebuah postingan pendek yang sering saya sebut sebagai “Aturan Perón.” Saya sering memperingatkan orang-orang untuk tidak menerima perkataan paus begitu saja, karena dengan cepat dia akan mengubahnya atau bertindak dalam kontradiksi dengan perkataan sebelumnya. (Bagi mereka yang berada di luar lingkaran politik Argentina, fakta ini masih sering sulit dipahami.)

Orang yang mengatakan kepada Neumayr bahwa orang-orang Argentina merasa malu dengan Bergoglio, mengatakan bahwa Bergoglio adalah pemalsu: “Dia tidak tahu apa-apa – tidak tahu moral, tidak tahu teologi, tidak tahu sejarah. Tidak ada apa-apanya. Hanya kekuasaan saja yang menarik baginya. ”

Hal ini memang konsisten dengan apa yang telah kita lihat selama enam tahun terakhir ini. Selanjutnya Neumayr berkata: “Deskripsi paus Francis sebagai seorang ideolog gila kekuasaan sudah sangat luas, saya temukan sendiri hal ini. Saya berbicara panjang lebar dengan Antonio Caponnetto, yang merupakan penulis Argentina, yang telah menulis beberapa buku tentang Paus Francis. “Di seminari, teman-teman sekelasnya memanggilnya 'Machiavelli,'” kata Neumayr.

Mengenai pertanyaan mengapa dia menghindari berkunjung ke negara asalnya, Caponnetto memberi Neumayr dua alasan: “Satu, setidaknya separuh warga negara Argentina membencinya, dan dua, Francis tidak menyukai rezim Macri yang pro-kapitalis, yang konon 'konservatif'. Alasan terakhir ini tidak masuk akal: Macri tidaklah konservatif, karena seorang konservatif Argentina yang pertama mengatakan demikian."

Mengenai ketidakcocokan politik Paus dengan rezim Argentina saat ini, Santiago Estrada, mantan duta besar Argentina untuk Tahta Suci, mengatakan kepada Neumayr:

... jika kaum kiri yang keras kembali berkuasa, "Bergoglio akan mau kembali." Estrada berkata bahwa Bergoglio "pasti akan kembali tahun depan" jika Macri kalah, tetapi Bergoglio akan menyebutnya sebagai "kunjungan pastoral."

"Francis selalu bekerja di belakang layar" untuk membantu para lawan Macri; seorang agen politik Argentina berkata kepada saya. "Bergoglio ingin agar Macri kalah."

Pihak konservatif merasa takut akan prospek kemenangan Peronista. Seseorang yang memiliki sebuah blog yang khusus berbicara soal politik di Argentina, berkata kepada saya, “Saya akan meninggalkan negara itu. Negara itu tidak akan aman bagi kita."

Bergoglio sebagai kekuatan politik yang berbahaya adalah kisah yang juga telah kami dengar sebelumnya.

Satu aspek kehidupan Bergoglio, saya harap Neumayr dapat mencari tahu lebih banyak sebelum kembali ke rumahnya, adalah berkaitan dengan keluarga Bergoglio. Siapa mereka? Seperti apa hubungan Bergoglio dengan mereka? Bagaimana dia tumbuh dewasa? Seperti apa hubungannya dengan Tuhan? Mengapa dia berbohong kepada ibunya bahwa dirinya berada di seminari?

Dikatakan bahwa Bergoglio hanya memiliki satu saudara kandung yang selamat dari total lima anak-anak keluarga Bergoglio: seorang saudari bernama María Elena Bergoglio. Dimana dia? Apakah dia memiliki peran dalam kehidupan Bergoglio? Kenapa Bergoglio tidak pernah membicarakan dia? Apa yang dipikirkan Maria Elena tentang Bergoglio, kakaknya?

Saya tahu bahwa ada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, tetapi bahkan beberapa jawaban akan lebih baik daripada tidak sama sekali. Saya memuji upaya Neumayr untuk memahami hal-hal ini. Beberapa cerita dapat benar-benar dipahami tanpa mengetahui bab-bab  pembuka.

Dan silakan kunjungi halaman George di The American Spectator dan bacalah kedua postingan ini. Saya berharap lebih banyak fakta akan terungkap.


**********
Steve Skojec adalah Penerbit, Pendiri dan Direktur Eksekutif OnePeterFive.com. Dia menerima gelar BA dalam bidang Komunikasi dan Teologi dari Franciscan University of Steubenville pada tahun 2001. Komentar-komentarnya telah muncul di The New York Times, USA Today, The Washington Post, The Washington Times, Majalah Crisis, EWTN, Huffington Post Live, The Fox News Channel , Foreign Policy, dan BBC. Steve dan istrinya Jamie, memiliki tujuh anak.


No comments:

Post a Comment