Tuesday, June 16, 2015

Ceramah Pastor Linus Clovis

Ceramah Pastor Linus Clovis
mengenai Gereja dibawah PF



Fr. Linus Clovis memberikan ceramah mengenai situasi Gereja saat ini dibawah PF, dan apa bentuk dari bencana itu. Silakan menyaksikan rekaman videonya selama 32 menit pada link diatas ini.

One Peter Five menuliskan sebagian salinan dari ceramah itu disini.

Dalam ceramahnya yang disampaikan dengan kalimat-kalimat yang penuh dengan kehati-hatian, Fr. Clovis menguraikan apa yang dia anggap sebagai krisis yang telah dinubuatkan didalam Gereja, yaitu apa yang dia katakan sebagai berkaitan dengan Bapa Suci, Paus Fransiskus sendiri. Saya akan memposting videonya secara utuh dibawah, namun lebih dahulu, saya ingin berbagi dengan anda beberapa poin yang saya tuliskan dari ceramahnya. (Secara keseluruhan, kutipan-kutipan  ini berisi hampir seluruh bagian pertengahan dari ceramahnya,  namun beberapa poin tambahan tidak dituliskan disini, dan teks yang disampaikan disini dibagi-bagi menjadi beberapa poin untuk memperjelas argumen-argumen yang penting)

Anda akan bisa melihat bahwa sikap kritisnya terhadap Paus ini hampir semuanya berdasarkan kepada Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja. Tidak ada nada marah atau menyalahkan disini. Dia berbicara dengan penuh keyakinan dan rasa keprihatinan yang mendalam. Berikut ini beberapa point yang kami kutip dari ceramah itu.

  • "Ketika ada seorang uskup - uskup Katolik - bisa bertepuk tangan menyalami dan menyanjung dosa secara terbuka, hal itu sungguh membuat kita gemetar. Namun ini pada dasarnya adalah merupakan 'Francis Effect’. Hal ini seolah melucuti para uskup dan imam-imam, terutama setelah Bapa Suci berkata, "Siapakah aku ini hingga berhak untuk menilai?” (‘Who am I to judge?’). Maka saya, sebagai seorang imam, yang biasa mempersembahkan Misa Kudus, berkhotbah, dan jika saya membuat sebuah penilaian tentang suatu dosa, dimana saya melanggar Sepuluh Perintah Allah, maka saya akan dikutuk atas penilaian saya tadi. Saya akan dituduh 'lebih Katolik daripada Paus'. Dulu ada pepatah - retoris - 'Apakah paus itu Katolik?" Dan hal ini tidak lagi terdengar lucu (mengacu pada Mgr. Dolan yang berucap "Bravo" kepada seorang pemain sepak bola Michael Sam yang terus terang mengaku dirinya seorang gay).
·         "Ketaatan (kita) adalah tertuju kepada paus, namun paus juga harus taat kepada Firman dan Tradisi Apostolik. Kita harus mematuhi paus, tapi paus sendiri harus mematuhi Firman yang tertulis. Dia harus mematuhi Tradisi. Dia harus menanggapi inspirasi dari Roh Kudus. Ketaatan kita adalah tertuju kepada paus, tetapi adalah tugas dari paus untuk memberikan ‘sifat kemungkinan’ bagi ketaatan ini. Paus haruslah memfasilitasi kita dalam menaati dia, dengan cara dia sendiri juga taat kepada Firman Tuhan. Paus Felix III mengatakan kepada kita: 'Sebuah kesalahan yang tidak ditolak berarti disetujui. Sebuah kebenaran yang tidak dipertahankan berarti (kebenaran itu) ditindas.” Jadi kita memiliki kewajiban untuk menolak kesalahan, dan kita harus melakukan segala sesuatu yang kita bisa untuk menganjurkan kebenaran."

  • "Memang kita juga pernah merasa prihatin dengan beberapa paus lain sebelum ini, termasuk juga dengan Paus St. John Paul, sehubungan dengan beberapa hal yang dia lakukan dimana kita merasa tidak nyaman, namun saya tidak begitu menghiraukan hal itu karena... ternyata Paus Francis tidak melakukan yang lain kecuali selalu membingungkan kita. PF benar-benar telah mencelakakan kita. Dan karena itu, PF menyimpan banyak sekali alasan mengapa kita merasa sangat prihatin terhadap dia. Tuhan telah mengatakan dalam Injil Yohanes, pasal 15, 'Jika dunia membenci kamu, ketahuilah bahwa ia telah membenci Aku sebelum ia membenci kamu. Jika kamu berasal dari dunia, maka dunia akan mengasihi miliknya sendiri; namun karena kamu bukan berasal dari dunia, dan Aku telah memilih kamu dari dunia, maka dunia membenci kamu. Ingatlah akan apa yang Kukatakan kepadamu, "Seorang hamba tidak akan lebih besar dari tuannya." Jika mereka telah menganiaya Aku, mereka akan menganiaya kamu; jika mereka menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu.” Beberapa orang paus telah dibenci, dan saya tidak berpikir bahwa kita punya masalah dengan mereka secara pribadi. Tetapi keadaan kita tidaklah seperti itu saat ini. Saya pikir bahwa saya benar dengan mengatakan bahwa kita lebih suka paus-paus untuk dibenci oleh dunia daripada dicintai oleh dunia. Karena jika dia dicintai oleh dunia, hal ini menunjukkan bahwa dia berbicara dalam bahasa dunia ini. Dan kita tahu bahwa tidak ada hubungan, tidak ada persekutuan sama sekali, antara terang dan gelap. Demikian St Paulus mengatakan hal ini.

  • Para musuh bebuyutan Gereja – misalnya Majalah Time, Rolling Stone, The Advocate, dan yang lain-lainnya – telah menyetujui dan mendukung PF, hingga sampai-sampai PF muncul pada sampul depan majalah mereka berkali-kali selama dua tahun terakhir ini. Saya pernah berbincang dengan seseorang yang mengenal PF di Argentina. Orang itu mengatakan : ”Nampaknya, dia ingin dikasihi oleh semua orang dan ingin menyenangkan semua orang, hingga pada suatu hari dia bisa berpidato di TV menentang tindakan aborsi, dan pada hari berikutnya, di acara televisi yang sama, dia memberkati kaum feminis yang pro-aborsi di Plaza de Mayo; dia bisa menyampaikan pidato yang bagus menentang kelompok Mason, dan beberapa jam kemudian nampak dia makan dan minum bersama mereka di Rotary Club."

·         "Jadi, bagaimana bisa anda membuat keputusan tentang seorang pria seperti ini (PF), yang ingin menjadi sahabat semua orang? Tuhan kita mengatakan, 'Namun demikian,' pasal 12 Injil Yohanes, 'banyak penguasa yang percaya kepada-Nya, (yaitu kepada Tuhan kita), tetapi karena mereka takut orang-orang Parisi maka mereka tidak mengakuiNya supaya mereka tidak diusir keluar dari sinagoga, karena mereka lebih mencari pujian manusia lebih dari pada pujian dari Allah." Maka apakah saya telah membuat penilaian disini? Saya rasa tidak. Saya hanya mengutip Kitab Suci."*

·         "Bapa Suci kita (PF) telah melakukan banyak hal yang kontroversial, dan kita disini hanya memperhatikan berbagai kejadian yang besar saja, bukan yang kecil-kecil. Dan salah satu yang menurut saya amat penting adalah ucapannya : 'Siapakah aku ini hingga berhak untuk menilai.’ "Salah satu efek atau akibat yang ditimbulkan oleh perkataan PF itu adalah bahwa dia membuat prasangka secara umum terhadap umat Katolik, dan dia menggunakan prasangka itu juga terhadap kita. Jadi dengan kata lain, dia menerima apa saja yang dirasakan mengenai posisi kita, seolah-olah hal itu benar. Gereja tidak menghakimi orang. Gereja menghakimi perbuatan dan ajaran. Terutama tindakan bidaah. Luther tidak dikutuk karena kehidupan moral pribadinya. Dia dikutuk karena ajarannya. Doktrinnya. Dan demikian juga dengan semua bidaah lainnya. Arius misalnya. Kepada ajarannya saja Gereja menghakimi. Dan Gereja memiliki kewenangan untuk itu. Tapi ketika Paus (Francis) mengatakan, "Siapakah aku ini hingga berhak untuk menilai?”, maka dia memberi kesan bahwa Gereja menghakimi individu-individu karena keadaan diri mereka itu beserta apa yang mereka lakukan dalam kehidupan pribadi mereka. Padahal sebenarnya bagian terakhir ini adalah milik sakramen pengakuan."

·         "Alkitab mengatakan dengan sangat jelas dalam I Korintus bab 5, St. Paulus menulis kepada umat di Korintus karena mereka telah menerima seseorang yang bersalah amoralitas dalam kelompok mereka. Dan rasul itu menulis, "Tapi saya menulis kepadamu bukan untuk mengkaitkan dengan orang lain yang mengaku saudara jika dia bersalah karena amoralitas atau keserakahan, atau seorang penyembah berhala, pemaki, pemabuk, atau perampok - bahkan untuk makan dengan orang tersebut. Untuk apa gunanya saya menilai orang lain?" Ya! Apa gunanya saya menilai orang luar? Bukankah sebaiknya mereka yang ada dalam lingkungan gereja saja yang anda nilai? Allah juga menghakimi orang asing. Usirlah orang jahat itu dari antaramu." Jadi, bagaimana bisa pengganti Petrus berkata, 'Siapakah aku ini hingga berhak untuk menilai?' tanpa bertentangan Kitab Suci?"

·         "PF mengeluh karena kita berbicara terlalu banyak tentang aborsi dan kontrasepsi. Nah ... benarkah itu? Sekali lagi, seorang rasul Yesus mengatakan kepada kita 'yakinkanlah, tegurlah, dan nasihatilah, jangan berhenti bersabar dan mengajar.’ Jadi, kita memiliki kewajiban untuk berbicara tentang dosa-dosa yang hukumannya adalah berupa hukuman kekal didalam neraka. Kita berbicara tentang keselamatan jiwa-jiwa. Kitab Hukum Canon mengatakan di bagian akhirnya: 'Kebaikan yang tertinggi adalah berupa keselamatan jiwa-jiwa." Dan inilah mengapa Kristus mendirikan Gereja-Nya : Demi keselamatan jiwa-jiwa"

·         Kasus ‘rabbit-gate’ adalah penghinaan terhadap semua ibu-ibu Katolik. Mereka telah mempertaruhkan nyawa mereka, menawarkan nyawa mereka, dan menyerahkan hidup mereka bagi anak-anak mereka, dan lebih dari semuanya, bagi Kitab Injil. "

·         “Kekhawatiran kami adalah tentu saja tertuju kepada sinode yang akan datang serta upaya yang nampaknya mendukung pemberian Komunis Kudus kepada mereka bercerai dan menikah lagi. Ini akan menjadi pukulan serius bagi Gereja dan umat beriman. Karena hal itu telah menimbulkan banyak kebingungan dan kesalah-pahaman. Bahkan dalam pengalaman pastoral saya pernah menemui beberapa wanita yang mengatakan ... seorang ibu, anaknya bercerai, menikah lagi, dan berkata, "Ya Bapa Suci memberi ijin kepadanya untuk menerima Komuni, bukan? Saya tidak berpikir hal itu benar, Pastor, tetapi ini paus yang mengatakannya... " Begitulah masalah itu sudah menjadi milik kita saat ini. Dan kita melihat pola dari tindakan itu, yang dilakukan bagi Humane Vitae. Terserah yang di atas sana, dan tentu saja itu akan menjadi ... hukum. Anda bisa melakukannya. Jadi, kita benar-benar perlu memiliki mata yang terus tertuju ke langit, memohon kepada surga untuk membimbing para uskup kita. "

·         "Ada rumor mengenai relaksasi pastoral dari Humanae Vitae ... . ia bukan untuk ditentang, ia juga tidak untuk dihapus, tetapi ia akan diperpanjang. Yang jauh lebih mematikan. Karena kita telah menyajikan sesuatu yang jahat seolah-olah hal itu baik. Dan kita sedang membangun hal jahat ini diatas fondasi yang baik. "

·          "Kami mencintai paus! Dia adalah bapa kami. Dia adalah Kristus kita yang manis di dunia. Ada kekhawatiran di kalangan umat Katolik yang merasa bingung dan takut. Dan kami serta mereka tidak ingin mengkritik, atau lebih buruk lagi, untuk menghakimi paus. Tapi, sekali lagi, kita tidak menilai orangnya atau jabatannya, tetapi hasil perbuatannya. Dan kita tidak melakukan hal ini dengan kemarahan. Karena apa yang dia lakukan adalah menjadi penyebab dari kemarahan kita. Dan hal itu merupakan ancaman bagi iman kita. Dan itu juga merupakan ancaman bagi Gereja. Dan itu berbahaya bagi keselamatan jiwa-jiwa. "

·         "Jadi, bisakah kita menilai tindakan Paus? Ya, kita bisa. Kita memiliki tidak kurang dari seorang rasul bagi orang bukan Yahudi, yaitu St. Paulus, yang menulis kepada jemaat di Galatia. Dan dia berkata, "Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (Gal 2:11-14) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?" Dan keadaan inilah yang kita hadapi saat ini. Kita memiliki beberapa kardinal terkenal yang mengambil sikap anti-Katolik dalam hal isu-isu moral. Menurut kita, manakah yang benar?! Kita memiliki bapa suci sendiri yang nampaknya justru mendukung mereka. Memberikan restu kepada mereka. Dan apa kata Saint Paul? Barnabas! Tangan kanan St Paulus itu (PF) telah terbawa oleh ketidaktulusan mereka. Begitu banyak uskup - dan tolong, Tuhan, kita masih memiliki banyak uskup yang baik - ketika mereka melihat keadaan ini, mereka juga akan terbawa oleh arus sesat ini, dan itulah sebabnya saya pikir saran yang kami buat ini, dimana kita harus mengedarkannya kepada para uskup dan para imam - khususnya untuk para imam – adalah sangat, sangat penting ".

·         “Kita memiliki contoh sejarah, John XXII, yang mengajarkan bahwa orang-orang terberkati masih tidak bisa melihat Tuhan sampai saat setelah penghakiman umum nanti. Maka dia ditentang oleh para teolog dari Universitas Paris, oleh para kardinal dan para uskup dan bahkan oleh raja-raja. Jadi disini kita memiliki orang-orang terpelajar, para intelektual, para teolog, yang tahu apa yang sedang terjadi dan mereka mampu menentang paus. Dan tentu saja kita memiliki orang-orang yang berwenang, yaitu para uskup. Dan kita juga memiliki umat awam juga, raja-raja. "

·         Hukum Kanon mengatakan kepada kita bhe kita berhak menyampaikan pendapat kita, dalam Kanon 222.3 : Sesuai dengan pengetahuan, kompetensi dan keunggulannya, mereka mempunyai hak, bahkan kadang-kadang juga kewajiban, untuk menyampaikan kepada para Gembala suci pendapat mereka tentang hal-hal yang menyangkut kesejahteraan Gereja dan untuk memberitahukannya kepada kaum beriman kristiani lainnya... “ Maka ini adalah penting sekali. Dengan kata lain, kita musti menyebarkan hal ini.

  • "Sekarang dapat dikatakan ..."  demikian tulis... Melchior Cano, seorang teolog terkenal di abad ke-16 - 'Sekarang dapat dikatakan secara singkat, bahwa mereka yang membela secara membabi buta dan tanpa pandang bulu penilaian apapun dari Sri Paus tentang segala hal maka mereka melemahkan otoritas Takhta Apostolik; mereka justru tidak mendukung Tahta Apostolik itu; mereka menumbangkannya; mereka tidak membentenginya .... Petrus tidak membutuhkan kebohongan kita; dia tidak membutuhkan sanjungan kita." Dengan kata lain, kita harus selalu waspada. Kita harus bersikap obyektif dalam pendekatan kita terhadap krisis yang hadir dalam Gereja saat ini."







No comments:

Post a Comment