Tuesday, June 30, 2015

Kebohongan klasik mengenai Dialog – kali ini dalam hal Laudato Si

Kebohongan klasik mengenai Dialog – kali ini dalam hal Laudato Si


Apakah PF ingin berdebat?
Written by Elizabeth Yore

Gereja tahu bahwa perdebatan yang tulus haruslah didorong untuk terjadi diantara para ahli. “~Laudato Si” PF

Di seluruh text Laudato Si, PF menyatakan bahwa dirinya bersikap terbuka terhadap sebuah perdebatan dan sebuah dialog mengenai isu-isu lingkungan yang diangkat dalam ensiklis itu. Kenyataannya, hampir 21 kali dalam ensiklis itu, PF selalu mendorong dialog diantara para religius, para ideolog serta orang-orang lain. Paus juga mengundang sebuah perdebatan mengenai solusi lingkungan hingga 12 kali dalam ensiklis itu. Meskipun dia mengatakan bahwa dia ingin opini-opini yang berlawanan untuk diperdebatkan dan dihadirkan, apakah benar itu yang menjadi realita di Vatican dan masa kepausan sekarang ini?

 ‘Jiwa’ dari ensiklis itu sebenarnya mengatakan niatan yang sebenarnya dari Vatican. Pada kalimat pertama dari bagian 12 ensiklis, PF meminta sebuah ‘dialog baru’, sebuah ‘perbincangan’, mengenai tantangan-tantangan dalam lingkungan. Namun pada akhir dari alinea yang sama, Paus menegaskan posisinya yang benar-benar berlawanan:

Sikap untuk menghalangi, bahkan pada orang-orang yang beriman, dapat berkisar dari penolakan atas masalah ini hingga sikap ketidak-pedulian, bersikap acuh tak acuh atau keyakinan yang buta dalam memberikan solusi teknis atas masalah lingkungan. Kami membutuhkan sebuah solidaritas yang baru dan universal.

Lalu, apa artinya ini? PF menginginkan Dialog atau konsensus Solidaritas?

Ensiklis itu penuh dengan berbagai kontradiksi, baik besar maupun kecil, namun seruan untuk berdialog dan berdebat telah dikaburkan oleh kenyataan yang terjadi di Vatican City.

Seseorang hanya perlu melihat kepada tanggapan Vatican terhadap delegasi para ahli internasional yang terkenal, yang berusaha mencari data pendukung ilmiah yang bertentangan, untuk bisa menyanggah isu pemanasan global yang dikeluarkan oleh Pontifical Academy of Social Sciences (PASS) dan Curia Roma. Para ahli ini, beberapa ada yang dari kaum veteran NASA yang mempelajari cuaca dan atmosfir bumi untuk memastikan keamanan pendaratan di bulan bagi para astronaut dan kembali lagi ke bumi dengan aman. Namun para ahli dari program Apollo ini langsung ditolak dan diabaikan pendapatnya oleh Vatican. Vatican memperlihatkan sikap tidak tertarik adanya sebuah dialog ataupun perdebatan. Sebagai petinggi dari Pontifical Academy of Social Sciences (PASS), Uskup Sanchez Sorondo menyatakan dengan keras :”Ilmu pengetahuan telah diselesaikan”. Begitu juga pertukaran ide serta gagasan ilmiah yang bertentangan ‘telah diselesaikan pula’, hingga sejalan dengan ensiklis yang dikeluarkan.

Namun kemudian ada bukti yang cukup mengganggu bahwa Vatican tidak merasa tertarik dengan dialog dan perdebatan mengenai sejumlah besar data dan bukti yang membuktikan, setidaknya, bahwa perubahan iklim adalah disebabkan oleh manusia atau isu perubahan iklim itu hanya bohong semata.

Uskup yang sama, Sorondo, beserta Presiden PASS, Margaret Archer, menanggapi sikap para ahli dari the Heartland Institute dengan umpatan dan makian yang jarang sekali bisa keluar dari Tahta Suci. Sorondo menyebut tim ahli klimatologi dan para insinyur internasional dari the Heartland Institute sebagai ‘para peserta pesta minum teh’ dan ‘para penyangkal’, yang didanai oleh ‘uang dari minyak bumi’. Tidak satupun komentar-komentar politik dan merendahkan mereka itu adalah benar dan mereka (para ahli itu) telah menyampaikan agenda politik yang sebenarnya dan tidak ada dialog di Vatican. Dan ada lebih banyak lagi umpatan lainnya.

Margaret Archer, President PASS telah memposting kalimat-kalimat yang kasar di Vatican website yang isinya menentang mereka yang berani mempertanyakan para ahli Vatican serta para ahli pertumbuhan penduduk dari PBB, yang telah bekerja sama bahkan menjadi penasihat dan yang menulis dokumen-dokumen Vatican. Ini adalah politik, dalam permainan yang berbahaya yang bukan dilakukan melalui mesin-mesin politik melainkan didalam ruangan-ruangan Tahta Suci. Para pejabat Vatican secara sengaja menolak perdebatan, dialog, serta perbedan pendapat dengan meminjam sebuah kutipan dari buku Saul Alinsky’s Rule for Radicals. Rule #5, Ridicule your Opponent.

Di sepanjang ensiklis itu PF menyatakan bahwa pemanasan global buatan manusia adalah ilmu yang bisa diterima dan terdapat sebuah konsesus diantara komunitas para ahli. Hal ini adalah tidak benar. Berlawanan dengan pernyataan ensiklis kepausan, Vatican tidak tertarik pada dialog atau perdebatan. Para pejabat tinggi Vatican membekukan adanya penentangan, dan mereka terlibat dalam permainan politik untuk menghancurkan pribadi-pribadi tertentu.

Untuk membungkam kritikan terhadap dirinya, Margaret Archer dengan congkaknya mengingatkan para pengkritik itu bahwa dirinya ditunjuk oleh PF untuk menempatkan segala kritikan itu ‘di tempat dingin diluar sana’.


Ya, Margaret, itulah yang kita bicarakan disini. Tak ada pemanasan global itu. 

No comments:

Post a Comment