Tuesday, July 14, 2015

Elizabeth Canori Mora Terberkati, mistikus Gereja, meramalkan terjadinya krisis kepausan

Elizabeth Canori Mora Terberkati, mistikus Gereja,
meramalkan terjadinya krisis kepausan :


Posted on August 10, 2013 by ‘twohearts

"Doakan saya, agar saya tidak melarikan diri karena takut kepada serigala". (Paus Benediktus XVI pada pidato pelantikannya)




                                                                    
 
Elizabeth Canori Mora Terberkati (meninggal pada tahun 1825), atas instruksi dari bapa pengakuannya, dia menuliskan wahyu yang dia terima dari Allah. Hari ini, naskah tulisannya disimpan dengan aman didalam arsip para Bapa Trinitarian di San Carlino, Roma. Berbagai pewahyuan ini yang praktis tidak dikenal luas, adalah berkaitan dengan situasi saat ini di Roma dan Gereja sekarang ini. Dia memperoleh beatifikasi pada tahun 1994

Krisis didalam Gereja
Pada malam Natal 1813, Elizabeth dalam keadaan ekstase, dia merasa  dibawa ke sebuah tempat yang penuh dengan cahaya. Di sana dia melihat orang-orang kudus yang tak terhitung banyaknya yang sedang melakukan adorasi di hadapan sebuah palungan Yesus yang sederhana. Bayi Yesus bersikap manis sekali hingga layak untuk didekati, tetapi setelah dekat dia melihat bahwa Bayi Yesus itu bersimbah dengan Darah-Nya sendiri.

"Hanya memikirkan penglihatan itu saja sudah membuat diriku dipenuhi dengan ketakutan" demikian dia menulis. "Tapi pada saat yang sama aku mengerti alasan dari penumpahan darah Yesus tadi, yaitu karena kebiasaan buruk dari banyak imam dan religius yang tidak berperilaku sesuai dengan hidup bakti mereka, serta pendidikan buruk yang diberikan kepada anak-anak oleh ayah dan ibu mereka serta orang-orang lain yang dipercayakan dengan tugas ini. Mereka, yang seharusnya meningkatkan roh Allah didalam hati orang lain dengan melalui teladan yang baik mereka, tetapi mereka justru menganiaya Dia dengan perilaku dan ajaran buruk mereka."

Elizabeth Terberkati menerima banyak sekali pewahyuan lainnya tentang kekacauan yang menghancurkan dan dekadensi moral dimana umat Katolik, baik awam maupun para klerus, akan jatuh kedalamnya.

Dia menceritakan pada tanggal 24 Februari 1814, "... aku melihat banyak utusan Allah yang merampok satu sama lain dan mati-matian merobek jubah suci mereka. Aku melihat altar suci dirusak oleh para utusan Allah sendiri."

Demikian juga, pada tanggal, 22 Februari 1814, ketika sedang berdoa bagi Bapa Suci, dia melihat Bapa Suci dikelilingi oleh serigala yang ditugaskan untuk mengkhianati dia “... saya melihat serigala-serigala yang terdiri atas kaum Sanhedrin yang mengelilingi Paus, dan nampak ada dua malaikat yang menangis ... ketika saya bertanya kepada mereka mengapa mereka sedih dan meratap, dengan memandang kearah Roma dan mata penuh dengan kasih mereka menjawab, 'Kota yang malang, hai orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, pengadilan Allah akan menghukum kalian."

Pada tanggal 16 Januari 1815, malaikat menunjukkan kepadanya "...banyak rohaniwan yang menganiaya Yesus Yang Disalib serta Injil-Nya yang kudus dengan kedok perbuatan baik... Seperti serigala yang marah mereka berencana untuk menarik pemimpin Gereja turun dari takhtanya." Kemudian Elizabeth Terberkati diizinkan untuk melihat kemarahan mengerikan dari serigala-serigala ini kepada Tuhan. "Dengan ngeri saya melihat kilatan petir dari Penghakiman Ilahi jatuh di sekitarku. Aku melihat bangunan-bangunan runtuh dan hancur berkeping-keping. Kota-kota, wilayah-wilayah dan seluruh dunia jatuh kedalam kekacauan. Orang tak bisa mendengar apa-apa kecuali suara lemah dan merintih memohon pengampunan. Tak terhitung banyaknya orang-orang yang terbunuh."

Apa yang paling menakutkan baginya adalah murka Allah. Dia melihat Allah "yang sangat marah kepada orang-orang yang menganiaya Dia. TanganNya yang mahakuasa memegang kilatan petir. Wajahnya berkilauan dengan marah dan tatapan mataNya saja sudah cukup untuk membakar seluruh dunia ini." Penglihatan itu berlangsung hanya sekejap, dimana dia berkata, "Seandainya ia berlangsung lebih lama, maka pastilah saya akan mati.”

Mengenai penglihatannya tanggal 7 Juni 1815, dia menulis, "...serigala ganas berbulu domba, penganiaya tanpa henti terhadap Yesus Yang Tersalib dan mempelaiNya, Gereja Kudus ... aku melihat seluruh dunia mengejang, terutama kota Roma. Bagaimana aku bisa menceritakan apa yang aku lihat atas Gereja Kudus? Karena adanya doktrin-doktrin yang bertentangan, bersama-sama dengan kaum klerus yang sekuler, mereka tercerai-berai, dianiaya dan dibunuh oleh kaum fasik ... Para klerus yang biasa tidak mengalami keadaan tercerai-berai secara total, namun mereka juga hancur. Ada banyak sekali orang-orang dengan berbagai keadaan tewas dalam pembantaian itu, tetapi tidak semuanya dikutuk, karena diantara mereka ada orang-orang yang bertingkah laku secara layak dan yang lain-lainnya lagi menjalani kehidupan yang suci. "

Kerahiman berhenti bagi dunia

Pada hari Natal 1816 Elizabeth Terberkati melihat Bunda Maria, yang nampak sangat sedih. Setelah bertanya mengapa, Bunda Maria menjawab, "Lihatlah, putriku, adanya kefasikan yang begitu besar." Elizabeth Terberkati kemudian melihat "kemurtadan yang berusaha merenggut Putranya yang terkudus dari lengannya." Dihadapkan kepada kebiadaban semacam ini, Bunda Allah berhenti meminta kerahiman bagi dunia, dan sebagai gantinya dia memohon pengadilan dari Bapa yang Kekal. Dengan berpakaian Keadilan-Nya yang tak terhindarkan dan penuh kemarahan, Dia berpaling kepada dunia.

"Pada saat itu seluruh alam mengalami kekacauan, dunia kehilangan tatanan yang normal dan dipenuhi dengan bencana yang paling mengerikan yang bisa dibayangkan. Ini akan menjadi sesuatu yang begitu menyedihkan dan mengerikan hingga hal itu mendorong dunia kepada kedalaman jurang dan akhir dari kehancuran."

Pada hari raya Santo Petrus dan Paulus, 29 Juni 1820, dia melihat St.Peter turun dari langit, berpakaian jubah kepausan dan dikelilingi oleh legiun para malaikat. Dengan tongkat uskup dia menggambar sebuah salib besar pada muka bumi, memisahkannya menjadi empat kuadran. Dalam setiap kuadran ini, dia kemudian menumbuhkan sebuah pohon, yang menumbuhkan sebuah kehidupan baru. Setiap pohon berbentuk salib dan diselimuti cahaya yang megah. Seluruh umat awam dan religius yang baik melarikan diri dan berlindung di bawah pohon-pohon ini dan mereka terhindar dari pemurnian yang luar biasa.

"Celakalah! Celakalah mereka, kaum religius yang tidak berhati-hati dan yang menghinakan Tatanan Suci mereka. Mereka semua akan binasa dalam hukuman mengerikan bersama-sama dengan semua orang yang menyerahkan dirinya untuk berpesta pora dan mengikuti prinsip-prinsip yang palsu didalam filsafat kontemporer mereka yang menyedihkan!”

Langit berwarna biru kelam yang menakutkan semua orang yang melihatnya. Angin bertiup kencang di mana-mana. Sebuah jeritan yang berapi-api dan sedih memenuhi udara, seperti gemuruh yang mengerikan dari auman harimau, dan bergema di seluruh bumi dalam gumpalan darah yang mengental.

Semua manusia dan binatang merapat ke tepi dengan rasa ngeri. Seluruh dunia mengejang dan semua orang saling membantai satu sama lain tanpa ampun  ...

Ketika pertarungan berdarah ini tiba, maka tangan pembalasan dari Allah akan mengenai orang-orang yang ditakdirkan seperti itu dan dengan kemahakuasaan-Nya, Dia akan menghukum orang-orang yang congkak atas tindakan kesembronoan mereka dan penghinaan tidak tahu malu. Tuhan akan menggunakan kuasa kegelapan untuk memusnahkan kaum sektarian ini, orang-orang yang bengis dan jahat, yang merencanakan untuk membasmi Gereja Katolik, Bunda Suci kita, dengan mencabutnya sampai ke akar-akarnya yang paling dalam, dan mencampakkannya di tanah.

Allah akan menertawakan mereka

"Tuhan akan menertawakan kejahatan mereka, dan dengan sebuah ayunan Tangan kananNya yang maha dahsyat, Dia akan menghukum orang fasik. Kuasa kegelapan akan diizinkan untuk meninggalkan neraka dan sejumlah besar iblis akan menyerang seluruh dunia. Mereka akan mendatangkan kehancuran besar dan dengan demikian melaksanakan perintah Keadilan Ilahi, dimana mereka juga akan tunduk. Mereka akan menghancurkan harta benda manusia, keluarga, kota, kota-kota yang malang, istana, rumah-rumah dan segala sesuatu yang ada di muka bumi kepada tingkatan seperti yang dititahkan oleh Allah...”

"Tuhan akan membiarkan orang-orang jahat untuk dihukum dengan kejam oleh setan yang bengis, karena mereka secara sukarela tunduk kepada setan dan ikut serta menyerang Gereja Katolik yang kudus ... “

“Aku melihat penjara yang mengerikan, Neraka. Disana aku melihat setan yang akan dilepaskan ke dunia untuk membawa kehancuran dimana-mana. Mereka akan memusnahkan setiap tempat yang melakukan penyembahan berhala sedemikian rupa, hingga tidak ada lagi jejak mereka yang tersisa."

Pemulihan besar dimulai

Namun, semuanya tidak akan berakhir dengan kematian dan kehancuran ini. Setelah hukuman yang memurnikan ini, dia melihat St. Petrus kembali pada tahta kepausan yang megah bersama dengan St. Paulus, yang pergi ke seluruh dunia untuk membelenggu setan dan membawa mereka ke hadapan St. Petrus, yang akan melemparkan mereka kembali ke gua-gua gelap dari mana mereka datang. "Kemudian datanglah kemilau yang sangat indah keatas bumi, untuk mengumumkan rekonsiliasi Allah dengan umat manusia.”

Kawanan kecil umat Katolik yang setia yang berlindung di bawah pepohonan akan dibawa ke hadapan St. Petrus, yang akan memilih paus baru. Seluruh Gereja akan ditata ulang sesuai dengan perintah yang benar dari Injil suci. Ordo-ordo religius akan dibangun kembali dan rumah-rumah umat kristiani akan menjadi rumah yang disemangati dengan aroma religius.

Begitu besarnya semangat dan upaya bagi kemuliaan Allah hingga segala sesuatu akan mempromosikan kasih kepada Tuhan dan sesama. Kemenangan, kemuliaan dan kehormatan dari Gereja Katolik akan ditegakkan kembali dalam sekejap. Ia akan diakui, dihormati dan dihargai oleh semua orang. Semua orang akan memutuskan untuk mengikutinya, mengakui wakil Kristus sebagai Sri Paus.

Pada awal tahun 1821 Tuhan berkata kepadanya, "Aku akan merombak umat-Ku dan GerejaKu. Aku akan mengirimkan imam-imam yang penuh semangat untuk memberitakan imanKu. Aku akan membentuk sebuah kerasulan baru dan mengutus Roh Kudus untuk membaharui dunia. Aku akan merombak ordo-ordo religius dengan melalui para pembaharu yang suci dan kudus. Mereka semua akan memiliki semangat seperti anakKu, Ignatius dari Loyola. Aku akan memberikan kepada GerejaKu dengan seorang imam yang baru, yang terpelajar, suci dan penuh dengan Roh-Ku. Dengan semangat yang suci dia akan membaharui kawananKu.

"Dia mengatakan kepadaku banyak hal lainnya tentang perombakan ini. Banyak penguasa akan mendukung Gereja Katolik dan menjadi umat Katolik yang benar, menempatkan tongkat kekuasaan dan mahkota mereka di kaki Bapa Suci dan wakil Yesus Kristus. Banyak kerajaan akan meninggalkan kesesatan mereka dan kembali ke pangkuan Iman Katolik. Seluruh masyarakat akan bertobat, mengakui iman akan Yesus Kristus sebagai agama yang benar."(Kutipan dari edisi Mei 2002 majalah Brasil Catolicismo mengenai wahyu pribadi yang diterima oleh Elizabeth Canori Mora terberkati)


No comments:

Post a Comment