Tuesday, September 29, 2015

Socci: Atas mandat dari paus, ‘perceraian Katolik’ sedang....

Socci: Atas mandat dari paus, ‘perceraian Katolik’ sedang menghancurkan sebuah sakramen (Perkawinan)
Perpecahan telah menghadang di horizon Katolik
Setelah perjalanan 2000 tahun, kini perceraian dianjurkan didalam Gereja Katolik --- sebuah perpecahan menghadang, lebih besar dari pada yang pernah ada.

Antonio Socci
Libero

September 12, 2015

"Newsweek" baru-baru ini memajang foto PF pada cover-nya dengan headline : “Apakah Paus seorang Katolik?. Dengan sub judul “Tentu saja ya. Anda tak bisa mengetahuinya hanya dari kutipan-kutipan berita tentang dia.”

Sungguh, sebuah pertanyaan yang sangat wajar diajukan jika melihat ada seorang Paus dari Argentina berdoa dalam sebuah masjid, dan berkata dalam sebuah wawancara dengan seorang atheis, Scafari : “Tak ada Allah Katolik itu.”

Kekhawatiran dan kecemasan didalam Gereja Katolik kini menjadi semakin dahsyat setelah tanggal 8 September. Kenyataannya dengan dua buah Motu Proprios mengenai pembatalan perkawinan, kita memiliki sebuah tindakan resmi dari Bergoglio dimana kita akan berjalan keluar dari rel Gereja – menurut beberapa pendapat dari yang layak dipercaya – yang dilakukan oleh institusi semacam ‘perceraian Katolik’.

Hal ini berarti penolakan dan pelanggaran terhadap Perintah Kristus sendiri mengenai tidak terceraikannya perkawinan serta pembatalan terhadap ajaran Gereja yang telah berlaku selama hampir 2000 tahun ini. Maka untuk bisa memahami besarnya arti dari isu ini sudah cukulah dengan menyadari betapa Gereja telah menderita dengan sangat oleh Skisma Anglikan dulu, pada abad XVI, hingga kehilangan Inggris dari pelukannya, karena Paus saat itu tidak mengakui perceraian raja Henry VIII berdasarkan alasan kecil bagi pembatalan perkawinan pertama raja itu.

Apakah Motu Proprio yang dikeluarkan oleh PF akan menciptakan sebuah skisma baru? Mungkin saja.

Namun jika bekas pejabat pada Holy Office, Cardinal Muller, yang baru-baru ini berbicara tentang adanya kemungkinan perpecahan  dalam sinode mendatang, maka terdapat rasa khawatir yang lebih besar lagi setelah tanggal 8 September yang lalu. Telah terlihat adanya tanda-tanda pertentangan yang sengit antara beberapa orang kardinal di Santa Marta pada beberapa hari yang lalu. Maka sinode mendatang menjanjikan sebuah letusan yang besar.

Bergoglio, meski dia beberapa kali mengatakan adanya ‘sifat kolegialitas’ dalam pemerintahannya, namun dia telah memutuskan segala sesuatunya sebelum sinode, mengena isu penting ini, tanpa memperhatikan apa yang diminta oleh para uskup pada sinode Oktober 2014 lalu, karena Komisi yang menghasilkan Motu Proprio itu dibentuk oleh PF sendiri dan dengan mandat itu pula, sejak dua bulan sebelumnya, pada 27 Agustus 2014.

Maka secara praktisnya, mengapa Motu Proprio masih diperdebatkan dari sudut pandang Katolik?

AKAN ADA JUTAAN PEMBATALAN PERKAWINAN

Pertama-tama, seperti dikatakan oleh Prof. De Mattei, totalitas dari reformasi itu (yang nampak sekali bersifat mempercepat dan memberi kemudahan terhadap proses perceraian) adalah bertentangan dengan apa yang selalu dilakukan oleh Gereja selama ini. Langkah itu merupakan sudut pandang yang bertolak belakang : mempertahankan Sakramen bukan lagi menjadi prioritas (bagi keselamatan jiwa-jiwa), tetapi ia memberi kemudahan dan mempercepat proses untuk memperoleh sebuah pembatalan perkawinan.

Selanjutkan dipersilakan membaca selengkapnya di link ini : http://rorate-caeli.blogspot.com/2015/09/socci-with-papally-mandated-catholic.html

No comments:

Post a Comment