Friday, March 4, 2016

API PENYUCIAN oleh Pastor F.X. Schouppe S.J.: Prakata dari Penerbit



Prakata dari Penerbit


Dari semua buku-buku rohani agama Katolik yang banyak dijumpai oleh pambaca, maka sulit sekali untuk menemukan sebuah buku yang mampu menggerakkan dan mempengaruhi pembacanya lebih dari pada buku Api Penyucian ini, yang ditulis oleh Pastor F.X. Schouppe S.J. Karena kenyataan inilah maka penerbit telah bekerja sama dengan pihak lain untuk menerbitkan buku ini dengan harga yang murah agar bisa dijangkau oleh semua orang, dengan harapan agar buku ini bisa mencapai sebanyak mungkin pembaca.

Karena doktrin mengenai Api Penyucian telah mencakup semua ajaran agama Katolik, maka melalui buku tulisan Pastor F.X. Schouppe S.J. ini maka ia telah menyentuh diri kita kepada isu sentral dari ajaran agama kita, yaitu keselamatan jiwa-jiwa kita serta cara-cara untuk memperolehnya.

Dengan membaca buku ini, diharapkan pembaca akan memperoleh tiga macam manfaat :
Pertama, mendorong kita untuk berusaha meringankan penderitaan jiwa-jiwa yang malang didalam Api Penyucian.

Kedua, mengilhami kita untuk melakukan penebusan dosa-dosa kita didalam kehidupan ini, agar kita nanti tidak perlu masuk kesana.

Ketiga, ia akan mendorong kita untuk menyebar-luaskan pengetahuan tentang kebenaran dari Api Penyucian kepada orang lain, agar merekapun termotivasi untuk berdoa bagi jiwa-jiwa yang malang itu serta sekaligus meneghindarkan dirinya agar tidak sampai masuk kedalam Api Penyucian.

Sebenarnya, satu kebaikan terbesar yang bisa kita lakukan bagi jiwa-jiwa yang malang itu adalah dengan cara menyebarkan buku ini, yang sangat efektiv mengajarkan doktrin yang suci ini.

Seperti yang dikatakan oleh penulis dibagian pendahuluan, buku ini disusun untuk menyalakan hati dari umat beriman dengan sebuah perhatian dan rasa belas kasihan yang terus menerus kepada jiwa-jiwa malang itu. Ini bukanlah karya yang mengajak kita untuk berpolemik ataupun bersikap membela terhadap kenyataan dari Api Penyucian, namun buku ini ingin memberikan inspirasi, meningkatkan pengetahuan, pengertian, dan kasih dari pembaca semuanya.

Saat ini sedikit sekali orang yang berbicara tentang Api Penyucian, terutama di lingkungan agama Katolik, dengan akibat bahwa orang-orang yang mengaku dirinya Katolik tidak lagi percaya akan doktrin mengenai Api Penyucian ini. Ini adalah merupakan akibat yang wajar dari sedikitnya literatur-literatur Katolik yang membicarakan masalah Api Penyucian. Jika orang-orang tidak pernah membaca tentang Api Penyucian, dan jarang mendengar Api Penyucian diceritakan orang, maka mereka akan semakin tidak menaruh perhatian terhadap Api Penyucian.

Adalah wajar bagi manusia untuk percaya akan adanya Api Penyucian, karena ia memang logis dan adil keberadaannya --- meskipun ia merupakan ajaran agama Katolik, yang sampai kepada kita dari para rasul dan diketemukan pula didalam Kitab Suci. Hal itu juga datang melalui pewahyuan kepada banyak umat Katolik saat ini, sehingga untuk menjadi seorang Katolik maka orang itu seharusnya percaya akan adanya Api Penyucian. Karena adanya Api Penyucian adalah merupakan dogma Gereja dan menjadi orang Katolik haruslah percaya akan segala ajaran yang diberikan kepada kita, yang dikatakan sebagai dogma.

Haruslah diingat bahwa apa yang dipikirkan atau dipercaya seseorang mengenai ajaran yang khusus dari agama tak ada hubungannya dengan kebenarannya. Kebenaran adalah kebenaran, tidak peduli apapun yang dipikirkan atau dipercaya orang mengenai hal itu. Karena itu jika saat ini banyak orang yang tidak berbicara atau tidak percaya akan Api Penyucian, hal itu tidak akan bisa menghapuskan kebenaran dan kenyataan adanya Api Penyucian. Api Penyucian memang ada, karena Gereja mengajarkan bahwa hal itu ada, dan Kristus sendiri yang mengajarkan hal itu kepada Gereja.

Kita tahu bahwa kaum reformis Protestan dari abad 16 menolak ajaran Gereja tentang Api Penyucian, meskipun seperti diakui oleh Calvin, hal itu masih menjadi kepercayaan luas saat itu. Dan meskipun Pastor Schouppe tidak menyebutkan (nampaknya Anne Catherine sendiri tidak terlalu memahami akan pewahyuan-pewahyuannya), tetapi Anne Catherine Emmerick Venerabilis banyak menderitakan tentang masalah Api Penyucian, diantaranya adalah pewahyuan yang amat menyedihkan dimana jiwa-jiwa orang Protestan merana paling lama dan menderita paling buruk didalam Api Penyucian karena secara umum mereka hanya memiliki sedikit sekali sahabat dan saudara yang mau mendoakan mereka. Orang-orang Protestan yang menyelamatkan jiwa-jiwa mereka tetapi tidak mendapatkan Surga secara langsung akan mendapati dirinya berada didalam Api Penyucian, seperti orang-orang lainnya. Kenyataan bahwa mereka tidak percaya akan Api Penyucian tak akan bisa menghibur mereka jika mereka masuk kesana. Kebenaran Allah adalah tetap kebenaran, tidak peduli apakah kita percaya ataupun tidak.

Pastor Schouppe membagi buku ini dalam dua bagian besar : Misteri Pengadilan Allah dan Misteri Kerahiman Allah. Para pembaca hendaknya memperhatikan kenyataan bahwa bagian pertama dari buku ini, hampir separuhnya, memusatkan pembicaraan kepada Pengadilan Allah dan memberikan kesan umum akan kerasnya pengadilan itu. Hal ini dilakukan dengan sebuah tujuan : penulis ingin menekankan kepada pembaca betapa seriusnya setiap tindakan yang kita lakukan serta tanggung jawab yang amat ketat yang melekat pada setiap tindakan kita yang terkecil sekalipun. Dengan pengadilanNya yang suci itu yang diceritakan didalam buku ini, maka tak ada orang yang bisa luput dari pengadilan Allah Yang Maha Kuasa.

Tetapi disamping itu, juga terdapat Kerahiman Allah yang harus kita perhitungkan pula dan ini adalah fokus utama dari bagian kedua buku ini. Disini penulis bukan saja memberitahukan banyaknya kesempatan untuk menerima kerahiman Allah, tetapi juga berbagai cara untuk mengurangi lamanya hukuman sementara karena dosa-dosa kita, baik bagi jiwa-jiwa yang malang didalam Api Penyucian maupun bagi diri kita sendiri. Penulis menekankan agar kita memiliki rasa takut yang suci dan menyeluruh terhadap pengadilan Allah, dimana hal itu juga harus kita imbangi dengan kepercayaan yang kuat terhadap kerahiman Allah serta terhadap banyak cara yang Dia berikan kepada kita untuk memperoleh pengurangan hukuman sementara karena dosa-dosa kita. Hukuman sementara karena dosa, haruslah diingat, adalah hutang rohani yang membuat kita tertahan didalam Api Penyucian hingga hal itu dihapuskan oleh penderitaan kita atau oleh jasa doa-doa orang lain serta perbuatan baik orang lain demi kepentingan kita.

Didalam buku ini, penulis menjelaskan segala aspek dari doktrin mengenai Api Penyucian. Pembaca akan bisa menemukan berbagai pencerahan yang menakjubkan yang belum pernah mereka sadari sebelumnya. Misalnya saja, penulis mengatakan bahwa penderitaan didalam Api Penyucian secara pokok adalah sama sifat dan intensitasnya (bergantung kepada beratnya hukuman) dengan didalam neraka. Namun jiwa-jiwa yang malang itu tidak mempunyai keinginan untuk kembali ke dunia ini karena mereka sadar bahwa mereka sudah pasti diselamatkan, karena mereka sudah berada didalam Api Penyucian. Juga lamanya waktu disana tak ada hubungannya dengan pengalaman kita akan waktu di dunia ini. Beberapa menit saja bagi jiwa-jiwa yang malang itu nampaknya seolah bertahun-tahun. Doa-doa permohonan kita ataupun persembahan kita bagi orang-orang yang telah meninggal lebih menyukakan hati Allah dari pada doa-doa dan perbuatan baik kita bagi orang-orang yang masih hidup, karena jiwa-jiwa yang malang itu sudah berada dekat dengan Allah, dan mereka sama sekali tidak berdaya dan sangat membutuhkan pertolongan kita, mereka tak bisa menolong dirinya sendiri. Kurban Kudus didalam Misa Kudus yang sering kita persembahkan bagi mereka adalah lebih bermanfaat dari pada perbuatan lain atau devosi-devosi kita bagi mereka. Juga tindakan kita memberi sedekah demi kepentingan mereka adalah lebih bermanfaat dari pada doa-doa dan puasa kita bagi mereka. Dan akhirnya, semuanya yang kita persembahkan, dengan rasa kemurahan hati bagi jiwa-jiwa yang malang itu, pada ujungnya nanti akan memberikan manfaat bagi kita juga. Disini penulis mengutip perkataan St.John of God, yang pernah melintasi jalan-jalan di Granada dengan berseru :”Berilah sedekah, saudara-saudaraku, berilah sedekah demi kasih kepada dirimu sendiri !”.

Pastor Schouppe mengatakan adanya jumlah yang tidak seimbang dari peristiwa-peristiwa dimana kaum religius, bukannya umat awam, yang kembali dari Api Penyucian, untuk memberikan pernyataan mengenai penderitaan mereka. Hal ini mungkin karena beberapa kenyataan : misalnya, jumlah yang lebih besar dari pernyataan itu berasal dari kaum religius karena hal itu dicatat dan disampaikan oleh anggota-anggota dari ordo yang bersangkutan. Dan rahmat yang lebih besar diperoleh kaum religius yang telah menghabiskan waktu mereka dekat dengan Tuhan dan dengan karya-karyaNya. Karena itu mereka telah berhasil memenangkan kemurahan hati yang lebih besar dari Tuhan selama penderitaan mereka didalam Api Penyucian. Namun penulis juga menunjukkan bahwa penampakan-penampakan dari jiwa-jiwa yang malang itu sering juga dialami oleh umat awam dan penampakan-penampakan itu terjadi sepanjang masa diberbagai tempat selama sejarah Gereja.   
Satu hal yang paling baik dikatakan oleh penulis adalah kenyataan bahwa kita yang masih berada diantara Gereja Militan ini, memiliki tugas yang suci untuk berdoa dan berkurban bagi jiwa-jiwa yang malang didalam Api Penyucian. Karena para kudus yang sudah berada di Surga, meskipun mereka bisa menolong jiwa-jiwa malang itu didalam penderitaan mereka, tetapi mereka tak bisa mendapatkan indulgensi bagi jiwa-jiwa malang itu, terutama indulgensi penuh, seperti yang bisa kita lakukan di dunia ini.

Karena sedikit sekali orang-orang saat ini yang mengerti sifat serta nilai dari indulgensi, dan bagaimana hal itu bisa diperoleh, terutama indulgensi penuh, maka kita menganggap cukup bijaksana untuk memasukkan masalah itu didalam appendix buku ini, sebagai penjelasan singkat dari ajaran Gereja mengenai indulgensi serta cara-cara untuk mendapatkannya.

Indulgensi sendiri merupakan sebuah kekayaan rohani yang bisa melunakkan pengadilan Allah karena kerahimanNya yang amat besar itu, dimana orang yang percaya didalam iman dan bertindak dengan hati-hati untuk mendapatkan indulgensi itu terutama indulgensi penuh, tak perlu merasa takut oleh pengadilan Allah jika dia mati, asalkan dia selalu berusaha melakukan silih disepanjang kehidupannya. Begitu murahnya Bunda Suci, Gereja, membagikan indulgensi itu sehingga Maria dari Quito Terberkati berkata :”Suatu hari, didalam keadaan ekstase, aku melihat ditengah-tengah ruangan besar, nampak sebuah meja yang amat besar yang tertutup oleh timbunan emas, perak, ruby, mutiara, intan, dan pada saat yang sama aku mendengar suara :”Kekayaan ini adalah milik umum. Masing-masing orang bisa datang dan mengambilnya sebanyak mungkin”. Tuhan memberitahukan kepadanya bahwa itu adalah lambang dari indulgensi. “Indulgensi adalah merupakan kekayaan rohani yang bebas untuk diminta, kekayaan yang oleh orang Katolik yang percaya, yang berada dalam keadaan rahmat, bisa menerimanya demi pertolongan kepada jiwa-jiwa yang malang didalam Api Penyucian atau demi pengurangan hukuman karena hutang-hutang rohaninya sendiri. Jika seseorang tidak mau memanfaatkan indulgensi ini, hal itu merupakan tindakan pemborosan dan penyia-nyiaan yang terbesar diseluruh dunia”.

Hal lain yang juga pentung untuk diingat adalah kenyataan bahwa doa-doa dan penderitaan yang dipersembahkan kepada Tuhan selama kehidupan kita akan mendatangkan manfaat bagi kita sendiri, yaitu berupa peningkatan rahmat penyucian, derajat kemurahan hati yang lebih tinggi, persatuan yang lebih erat dengan Tuhan, dan kemuliaan yang lebih besar di Surga untuk selamanya. Sedangkan penderitaan didalam Api Penyucian tak ada manfaatnya bagi kemajuan kesucian seseorang. Hal itu hanya berguna untuk membayar hutang-hutang rohani saja. Seorang Katolik yang mempersembahkan doa-doa dan penderitaannya kepada Tuhan selama hidupnya, yaitu saat dimana manusia masih bisa memperoleh manfaat dari tindakan itu, akan mendatangkan dua keuntungan dengan sekali jalan : dia akan mengurangi hutangnya sendiri, hutang hukuman karena dosanya, dan yang kedua, dia akan maju dalam hal kesucian dan meningkat derajat kemuliaannya nanti di Surga.

Untuk menggambarkan hal ini, Pastor Schouppe menceritakan kisah seorang rahib Spanyol yang meninggal dunia kemudian menampakkan diri 4 bulan setelah kematian raja Philip II (1589). Banyak Misa Kudus dan doa-doa dipersembahkan diseluruh Spanyol bagi jiwa raja itu. tetapi rahib itu mengatakan bahwa raja Philip II telah berada di Surga, dan bahwa tempat dari raja itu jauh lebih rendah dari pada tempat dari rahib itu, sementara di dunia dulu, tempat dari rahib itu jauh lebih rendah dari pada tempat raja itu.

Akhirnya, Pastor Schouppe mengutip kisah dari St.Catherine dari Genoa, dimana dia menilai karya dari Catherine yang berjudul ‘Treatise on Purgatory’ sebagai bentuk pencerahan yang terbaik yang kita miliki mengenai Api Penyucian. Melalui buku itu kita bisa menuliskan semangat dan jiwa dari buku ini :”Dia yang memurnikan dirinya atas segala kesalahannya didalam kehidupan ini akan hanya membayar sebesar satu penny untuk menggantikan hutang seribu ducat (300.000 dollar). Dan dia yang menunda-nunda hingga sampai kehidupan nanti untuk melunasi hutangnya, akan harus membayar seribu ducat bagi hutangnya sebesar satu penny”.

Pilihan ini ada di tangan kita. Apakah kita akan bertindak seperti burung unta, dengan kepala rohani kita terbenam didalam pasir sambil mengabaikan ajaran Kristus mengenai Api Penyucian ini, demi kepentingan orang-orang yang kita kasihi, yang sangat merana disana, dan sementara itu kita menumpuk bagi diri kita sendiri hutang-hutang yang menggunung banyaknya, yang harus kita bayar suatu saat nanti. Atau kita akan menyadarkan diri kita akan adanya penderitaan Api Penyucian dan bertekad untuk membebaskan dari rasa sakit yang mengerikan dari sebanyak mungkin jiwa malang yang tak berdaya itu, dan dengan begitu juga mendatangkan manfaat bagi diri kita, yang berupa harta kekayaan yang berlimpah ruah dari rahmat, serta melekatkan kepada diri kita terima kasih yang besar dari jiwa-jiwa yang berterima kasih itu yang mendoakan kita sebagai balasannya, baik di dunia ini atau selama kita tinggal didalam Api Penyucian. Sesungguhnya, pilihan itu ada pada kita ! Namun dengan membaca secara tekun buku ini, akan mendorong pembaca untuk mendapatkan kemurahan hati Tuhan bagi jiwa-jiwa yang malang itu yang dengan kemurahan hati yang tak terbatas dari Tuhan, akan bermanfaat pula bagi keuntungan spirituil pembaca sendiri.


Thomas A. Nelson
Penerbit
30 April 1986
Pesta St.Catherine dari Siena

No comments:

Post a Comment