Friday, August 14, 2020

GENOSIDA OLEH KOMUNIS CINA

 

GENOSIDA OLEH KOMUNIS CINA:

PAUS DIAM SAJA. PARA WALI GEREJA BICARA KERAS

https://www.churchmilitant.com/news/article/uighur-holocaust-pope-silent-cardinals-speak

 

 

 

by Jules Gomes  •  ChurchMilitant.com  •  August 11, 2020

 

Para kardinal mengutuk pembantaian rezim komunis Cina atas Muslim Uighur

 

 

ROMA (ChurchMilitant.com) – Paus Francis dikecam keras karena berdiam diri atas tindakan genosida terhadap umat Muslim Uighur, setelah 76 orang pemimpin agama mengutuk pemerintah komunis Cina karena melakukan pembantaian terhadap pemeluk agama dan etnis minoritasnya.

 

Dua orang kardinal Asia, seorang uskup Katolik Inggris dan beberapa pastor Katolik terkenal, telah bergabung dengan para pemimpin Ortodoks, Anglikan, Yahudi dan Muslim dalam mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Jumat, yang mengecam penganiayaan pemerintah Cina terhadap etnis Uighur sebagai "salah satu tragedi kemanusiaan paling mengerikan sejak Holocaust."

 

Chinese soldiers rounding up Uighur women

 Kardinal Charles Maung Bo, Uskup Agung Yangon, Myanmar dan Presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) dan Cdl. Ignatius Suharyo, uskup agung Jakarta, menyoroti ‘potensi genosida’ terhadap ‘satu juta orang Uighur dan Muslim lainnya di Cina.’

 

Etnis minoritas yang teraniaya itu “ditahan di dalam kamp-kamp penjara dan menghadapi kelaparan, penyiksaan, pembunuhan, kekerasan seksual, kerja paksa dan pengambilan organ secara paksa," dan ‘setidaknya 80% wanita Uighur usia subur’ menjadi sasaran “sterilisasi paksa dan pencegahan kelahiran," kata pernyataan itu.

 

Para aktivis media dan hak asasi manusia global mencatat sikap bungkam yang mencolok dari paus Francis, Uskup Agung Canterbury, Justin Welby - teman dekat Paus - serta beberapa pemimpin Muslim terkemuka.

 

"Paus Francis, khususnya, berbicara hampir setiap minggu pada acara Angelus Minggu, dan pada banyak kesempatan lainnya, tentang berbagai masalah ketidakadilan di dunia. Dia sering berbicara tentang penganiayaan terhadap Muslim Rohingya," Rahima Mahmut, direktur the World Uighur Congress, berkata kepada Church Militant.

 

"Namun ada satu negara dimana catatan hak asasi manusianya tidak dia soroti, yaitu Cina, dan satu kelompok orang yang penderitaannya belum dia bicarakan, yaitu orang Uighur," keluh aktivis hak asasi manusia itu.

 

"Paus adalah salah satu pemimpin spiritual paling berpengaruh dan dihormati di dunia, dengan memiliki otoritas moral yang dapat menjangkau setiap sudut dunia," kata Mahmut.

  

Ada satu negara yang catatan hak asasi manusianya belum dia (paus) soroti - Cina –

dan satu kelompok orang yang penderitaannya belum dia (paus) bicarakan - orang Uighur. Tweet

 

"Kami berharap Paus Francis segera mengambil sikap, berbicara dan mengucapkan doa dan solidaritasnya bagi Uighur, yang sedang menghadapi kejahatan paling kejam sejak Holocaust," desak Mahmut.

 

"Setelah peristiwa Holocaust, dunia berkata, 'Jangan ada lagi.' Dan hari ini, kami mengulangi kata-kata itu 'Jangan ada lagi’ kata pernyataan itu menekankan. "Kami mendukung Uighur. Kami juga mendukung umat Buddha Tibet, praktisi Falun Gong dan Kristen di seluruh Cina yang menghadapi tindakan keras terburuk terhadap kebebasan beragama atau berkeyakinan sejak Revolusi Kebudayaan."

 

Dalam komentarnya kepada Church Militant, Dr. Niall McCrae, seorang penulis tentang Cina, menunjukkan bahwa paus Francis "dengan cepat mendukung protes Black Lives Matter setelah satu contoh kebrutalan polisi di Amerika Serikat, tetapi jelas kehidupan Muslim Uighur tidak penting bagi paus ini."

 

"Bagi paus Francis, beberapa masalah keadilan sosial lainnya lebih layak dibicarakan daripada Uighur. Pada dasarnya, paus ini adalah seorang globalis progresif yang lebih suka mengkritik peradaban Barat daripada menyarankan sesuatu yang salah pada paham Marxis Cina," kata McCrae, dosen di Kings 'College, London.

 

"Kami sangat curiga bahwa orang Uighur digunakan sebagai target pengambilan organ secara paksa. Tindakan mengerikan ini dimulai dengan para praktisi Falun Gong, sebagaimana dibuktikan oleh pengadilan rakyat independen di London tahun lalu," kata McCrae, salah satu penulis Year of the Bat: Globalization, China and the Coronavirus.

 

"Orang Uighur yang teraniaya ‘menyediakan pasokan organ tubuh manusia yang halal’ yang menguntungkan, guna melayani permintaan global yang terus meningkat. Ini sebagian menjelaskan mengapa negara-negara seperti Arab Saudi bersikap ‘lunak’ terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Cina barat. Paus Francis tidak boleh mengklaim bahwa dirinya tidak tahu tentang masalah serius ini," katanya.

 

Orang Uighur yang teraniaya ‘menyediakan pasokan organ tubuh manusia yang halal’ yang menggiurkan, guna melayani permintaan global yang terus meningkat. Ini, sebagian, menjelaskan mengapa negara-negara seperti Arab Saudi bersikap ‘lunak’ terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Cina barat. Tweet

 

Media India World Is One News (WION) menyebut "paus aktivis, yang memiliki rekam jejak vokal tentang hak asasi manusia," dan sebagai "paus paling vokal yang pernah ada," yang mendukung "lingkungan hidup, kemiskinan, dan kampanye LGBT" dan sebagai paus yang mendukung "dialog antaragama," namun bersikap diam dalam hal penderitaan orang Uighur.

 

"Dia adalah satu-satunya paus yang mengunjungi Asia Barat yang sebagian besar umat Islam," WION melaporkan. "Pada 2017, saat menyampaikan pidato di Myanmar, paus juga menuntut penghormatan terhadap Rohingya."

 

"Paus ini memang tunduk kepada Cina," kata WION. "Dia tidak mau berbicara tentang orang Uighur atau pun mendukung protes menuntut kebebasan di Taiwan dan Hong Kong."

 

Seorang ahli tentang Islam, Robert Spencer, mengatakan kepada Church Militant bahwa "tuduhan bahwa Vatikan dibayar dalam jumlah besar oleh pemerintah Cina dapat menjadi kunci mengapa paus Francis bersikap diam tentang penganiayaan terhadap Muslim Uighur."

 

"Jika orang Uighur mau membayar paus, maka paus mungkin berbicara atas nama mereka. Tetapi orang Uighur tidak melakukannya, dan Komunis Cina yang melakukannya. Mata paus, dalam kasus ini, tampaknya tepat tertuju pada intinya, bukan pada masalah kemanusiaan yang sering dia bicarakan dimana dia sangat antusias dalam konteks yang lain," keluh sejarawan itu.

 

Pada bulan Juni, sebuah laporan Associated Press mengkonfirmasi bahwa kaum wanita Uighur dipaksa untuk menjalani pemeriksaan kehamilan dan dipasangi alat kontrasepsi atau disterilkan, dimana tindakan ini mengarah kepada bentuk "genosida demografis."

 

 Tuduhan bahwa Vatikan dibayar dalam jumlah besar oleh pemerintah Cina dapat menjadi kunci mengapa paus Francis bersikap diam atas penganiayaan terhadap Muslim Uighur. tweet

 

Pemerintah Cina melakukan aborsi paksa terhadap ratusan ribu wanita, dan banyak orang tua dimasukkan dalam kamp penahanan karena memiliki terlalu banyak anak, kecuali mereka mau membayar denda yang besar.

 

Kejahatan terhadap kemanusiaan semacam itu di empat propinsi berpenduduk Uighur dapat meningkatkan tindakan ini kepada tingkat genosida, menurut Konvensi Genosida 1948, demikian pernyataan para pemimpin agama dunia menegaskan.

 

Uskup Declan Lang dari Clifton; kapelan di universitas Fr. Nicholas King dan Fr. Stephen Wang; mantan kepala dari Dominikan Fr. Timothy Radcliffe; 20 orang rabbi dan 19 orang imam; perwakilan Dalai Lama di Eropa; Uskup Agung Koptik-Ortodoks London, Abp. Anggaelos; dan mantan uskup agung Canterbury, Rowan Williams, menandatangani pernyataan tersebut.

 

Ribuan perempuan Uighur dipaksa melakukan aborsi

  

"Lebih dari 75 pemimpin agama, termasuk klerus senior Katolik, telah menandatangani pernyataan yang menyerukan tindakan internasional untuk menangani kejahatan kekejaman terhadap Uighur," kata Benedict Rogers, pemimpin tim Christian Solidarity Worldwide Asia Timur kepada Church Militant.

 

"Sekarang, dunia sedang mencari para pemimpin spiritual dunia lainnya untuk mendapatkan tanggapan mereka. Mengingat otoritas moral paus di seluruh dunia, dan mengingat bahwa paus Francis secara khusus sering berbicara tentang ketidakadilan di seluruh dunia, kami berharap agar dia mau menambahkan suaranya," katanya.

 

"Tanggapan dari paus tidaklah harus rumit. Tidak harus politis. Ekspresi sederhana dari doa dan solidaritas sudah cukup," pinta Rogers.

"Sebagai seorang Katolik selama 7 tahun, saya tidak mudah mengkritik @Pontifex. Sebagai mantan Anglikan, saya tidak senang menanyakan @JustinWelby. Tetapi sikap diam mereka membuat saya tidak punya pilihan. Saya berdoa agar mereka akan angkat bicara - SEKARANG," katanya.

 

*****

 

Suster Lucia (Fatima): Tanpa Konsekrasi Rusia

Demam Komunisme Di Amerika

Kematian Komunisme: Hanya Tipu Muslihat

Kebangkitan Kaum Kiri --- Sebuah Agama Baru

LDM – Kutipan Nubuat Tentang Para Rasul Akhir Zaman

LDM, 10 Agustus 2020

LDM – Kutipan Nubuat Tentang Manipulasi Genetik

 

 

 

No comments:

Post a Comment