Thursday, May 6, 2021

Seorang Paus Yang Layak Menjadi Contoh

 

MAY 5, 2021 AT 11:10 PM

 

 


SEORANG PAUS YANG LAYAK MENJADI CONTOH 

https://www.patreon.com/posts/50898788?utm_source=ActiveCampaign&utm_medium=email&utm_content=A+Model+Pope&utm_campaign=A+Model+Pope

 

by Prof. Roberto de Mattei 

 

 

Kita telah memasuki era "pasca-Francis." Sinode pasca-Amazon telah gagal total, Seruan Querida Amazonia tanggal 2 Februari 2020 tidak didengar, dan Seruan Amoris Laetitia tanggal 8 April 2016 telah masuk ke dalam catatan sejarah lebih dikarenakan kritik yang diterimanya, bukannya jalan baru yang dirintisnya.

 

Inisiatif terbaru paus Francis telah ditandai dengan meningkatnya kontradiksi dan semakin meningkatnya kebingungan, dengan kawanan umat berayun-ayun di antara perasaan marah dan depresi. Magisterium paus Francis, dalam semuanya itu, kekurangan koherensi dan keseimbangan yang seharusnya menjadi kualitas utama dari orang yang memegang tanggung jawab tertinggi untuk mengatur Gereja.

 

Yang paling dibutuhkan oleh Gereja saat ini adalah keteraturan dalam bidang teologi, praksis pastoral, liturgi, dan disiplin. Ketertiban hanya muncul dari kejelasan intelektual, tetapi kejelasan intelektual ini hanya dapat mendasarkan dirinya pada Kebenaran Tuhan, secara utuh dan tanpa kompromi. Untuk alasan ini, para kardinal yang memilih paus berikutnya (lihat buku bagus oleh Edward Pentin, The Next Pope: The Leading Cardinal Candidates) membutuhkan model untuk bisa dilihat dan ditiru, dan untuk menemukan sosok seperti itu, perlu untuk melihat kepada arah yang lain — tidak dari paus Francis saja, tetapi dari semua paus baru belakangan ini, yang semuanya terlibat dalam bencana sejarah Konsili Vatikan II.

 

Contoh terbesar diberikan oleh hanya dua Paus yang telah dikanonisasi di era modern sebelum Konsili Vatikan II: Santo Pius X, dan di atas semua itu, Santo Pius V, seorang Paus yang membuat pembelaan Kebenaran dan Gereja sebagai poros kepausannya. Dia menyebut dirinya "penjaga Gereja," karena dia sadar bahwa tugas pertama Wakil Kristus adalah menjaga dan membela kawanan yang dipercayakan kepadanya dari serangan serigala.

 

Ketika konklaf untuk memilih penerus Pius IV dibuka di Istana Para Paus di Bukit Quirinal pada tanggal 20 Desember 1565, Kolese Suci pada dasarnya dibagi menjadi dua pihak yang telah saling bertentangan di tahun-tahun sebelumnya dan yang terkait dengan dua kelompok yang berbeda cara dalam menghadapi Reformasi Protestan. Pihak pertama menyatakan bahwa tidak mungkin ada kompromi dengan bidaah, sedangkan pihak kedua adalah penganjur untuk menawarkan "uluran tangan" kepada Protestantisme.

 

Dalam konklaf saat itu tidak ada yang lebih keras dari Kardinal Michele Ghislieri, yang pernah menjadi Penyelidik Tertinggi Kristianitas. Dialah yang, dengan dukungan tegas dari kardinal suci lainnya, Charles Borromeo, naik tahta kepausan pada tanggal 7 Januari 1566, dengan mengambil nama Pius V.

 

Michele Ghislieri lahir pada 1504 di Bosco Marengo, di Piedmont. Pada usia 14 tahun dia masuk Ordo Pengkhotbah. Dia dikirim ke Universitas Bologna untuk belajar teologi, yang kemudian dia ajarkan selama enam belas tahun. Karena kemurnian imannya, dia diangkat sebagai Penyelidik atau jaksa (1542), Komisioner Umum Tahta Suci (1551), dan Summus ac perpetuus inkuisitor (1558), Penyelidik Jenderal seumur hidup dari seluruh Kekristenan. Paus Paulus IV mengangkatnya menjadi Uskup di Nepi dan Sutri dan kemudian mengangkatnya menjadi Kardinal.

 

Penghargaan semacam itu, bagaimanapun, tidak mengubah dengan cara apa pun kesederhanaan hidupnya, bahkan setelah terpilih sebagai Paus Roma. Dia pertama kali menerapkan pada dirinya sendiri reformasi moral yang ingin dia sampaikan ke seluruh Gereja. Santo Pius V mencoba dengan segala cara untuk membendung penyebaran ajaran sesat di Eropa, dan untuk tujuan ini dia membuat aliansi dengan para penguasa Katolik saat itu, terutama dengan Philip II dari Spanyol, sementara dia bahkan melangkah lebih jauh dengan meng-exkom Ratu Inggris yang sesat, Elizabeth I, dengan sikap keberanian supernatural yang luar biasa.

 

Kepausannya ditandai oleh beberapa keputusan fundamental: penerbitan Katekismus pada tahun 1566, yang mengajarkan dengan sangat jelas seluruh karya doktrinal Konsili Trente; berlakunya Brevir Roma pada tahun 1568, buku liturgi yang berisi Divine Office Gereja Katolik; dan pada tahun 1570 institusi Misa yang ditakdirkan untuk memasuki sejarah sebagai "Misa Tridentin" atau "Misa Santo Pius V," yang tidak lain adalah pemulihan Misa tradisional, yang kemudian dihancurkan oleh Protestan.

 

Pilihan dari tiga tindakan ini bukanlah kebetulan: maksud dari Konsili Trente adalah untuk melaksanakan reformasi yang benar, dimulai dengan apa yang diajarkan, didoakan, dan dirayakan oleh para pastor. Untuk tindakan ini ditambahkan pula pengesahan Santo Thomas Aquinas sebagai Doktor Gereja dan publikasi definitif Summa Theologica sebagai karya referensi untuk mengajar.

 

Sementara ajaran sesat mengancam agama Kristen dari dalam, dan kelompok-kelompok lain mengancamnya dari luar. Pius V mempromosikan pembentukan Persekutuan Suci untuk melawan Turki melalui aliansi militer antara Kepausan, Spanyol, dan Republik Venesia. Kemenangan Lepanto pada tahun 1571, salah satu pertempuran laut terbesar dalam sejarah, adalah salah satu hasil paling terkenal dari pemerintahannya. Paus sedang mempersiapkan ekspedisi baru ketika dia meninggal pada tanggal 1 Mei 1572. Hari ini tubuhnya dihormati di Basilika Santo Maria Mayor di Roma.

 

Pius V bukanlah Paus "politik." Sebaliknya, dia menjalani misi luhurnya dengan cara supernatural, dengan pandangannya hanya tertuju hanya pada kemuliaan Tuhan dan kebaikan jiwa. Dom Guéranger, dalam karyanya The Liturgical Year, menyatakan bahwa "Seluruh kehidupan Pius V adalah pertempuran." Michele Ghislieri adalah seorang Paus yang tegas dan agresif, yang bahkan secara pribadi memperhatikan masalah militer, tetapi rahasia pertempuran dan kemenangannya terletak pada senjata spiritual yang dia gunakan, dimulai dengan Rosario Suci. Pengesahan Pesta Bunda Kemenangan, juga dikenal sebagai Bunda Rosario, dan memasukkan gelar Maria Auxilium Christianorum ke dalam Litani Loreto adalah tindakan relevan terakhir dari kepausannya.

 

Saat ini Saint Pius V terus membantu, dari Surga, sisa Gereja Militan, yang nasibnya dipercayakan ke tangannya selama enam tahun. Teladannya harus diketahui dan disebarluaskan.

 

 

Catatan Editor: Mulai hari ini, 5 Mei, pesta tradisional St. Pius V, dan berlanjut hingga 7 Oktober, Pesta Bunda Rosario — dan peringatan 450 tahun kemenangan bersejarah Paus Pius V di Lepanto — Sophia Institute Press akan berdoa rosario setiap hari untuk intensi khusus agar Amerika kembali kepada Kristus, memohon Bunda Maria untuk mengalahkan musuh yang dihadapi Gereja kita dan negara kita.

 

Source: https://www.crisismagazine.com/2021/a-model-pope?mc_cid=b09fb54beb&mc_eid=ec5ba4eed6 

 

-----------------------------------

 

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 1

Chrislam, Francis Dan Sebuah Agama Tunggal Dunia

Pertempuran Terakhir Setan – Bab 2

Lihatlah Mesias Baru Dari Vatikan...

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kritikan Terhadap Amoris Laetitia

Enoch, 1 Mei 2021

Pedro Regis 5116 - 5120