Sunday, May 30, 2021

Prospek Dari Sebuah Agama Baru

  

 

Prospek Dari Sebuah Agama Baru

https://www.thecatholicthing.org/2021/05/28/prospects-of-a-new-religion/?utm_source=the+catholic+thing+daily&utm_campaign=2f6f37e530-email_campaign_2018_12_07_01_02_copy_26&utm_medium=email&utm_term=0_769a14e16a-2f6f37e530-244061125 

 

David Carlin

 

FRIDAY, MAY 28, 2021

 

 

Para atheis yang de facto cenderung mendominasi budaya Amerika saat ini, membayangkan bahwa lenyapnya agama Kristen akan menjadi berkat yang hampir murni bagi mereka.

 

Lenyaplah sekian banyak hal buruk yang mereka anggap sebagai kekristenan yang kuat: pikiran yang sempit, puritanisme seksual, intoleransi, rasisme, xenofobia, anti-Semitisme, anti-Islamisme. anti-Darwinisme, ketidakpercayaan pada sains secara umum, konservatisme politik, anti-progresivisme, dan kecenderungan ke arah fasisme.

 

Orang Amerika yang baru dan ‘lebih baik’ ini yang akan menggantikan orang-orang Kristen kuno, adalah individu yang berpikir mandiri, toleran, berpikiran terbuka, pro-sains, bebas melakukn tindakan seksual dan bahagia; dan yang memiliki perhatian yang tulus dengan ‘keadilan sosial’ - yaitu, kesejahteraan sesama manusia. Dengan kata lain, di Amerika Serikat dan di dunia, Kekristenan akan digantikan oleh atheisme yang secara moral seolah jinak.

 

Saya rasa ini adalah ekspektasi yang salah – sebab justru kebalikan dari apa yang kemungkinan besar akan terjadi. Lihat saja sejarahnya yang panjang dan kelam.

 

Ketika agama nasional memudar, itu tidak digantikan oleh asosiasi ramah altruis rasional. Tidak, itu digantikan oleh agama baru atau agama palsu yang ternyata lebih buruk daripada agama Kristen yang paling buruk. Saya mengutip dua contoh.

 

Pertama, selama abad ke-19 di Jerman, atheisme tumbuh subur di antara banyak filsuf, dan hal ini berpengaruh besar pada banyak pemikir Protestan. Protestantisme, yang masih sangat populer di luar wilayah Katolik Jerman, semakin dipermudah. Konten dogmatisnya semakin menipis ketika para teolog mencoba memadukan yang terbaik dari Kekristenan dengan yang terbaik dari paham anti-Kristen. Itu diubah menjadi jenis Protestantisme "modern" atau "liberal," sebuah sintesis dari elemen-elemen kontradiktif yang memiliki sedikit daya tarik bagi hati dan pikiran orang Jerman yang merindukan agama yang bersifat murni.

 

Sebuah kekosongan agama muncul di hati dan pikiran banyak orang Jerman. Kelas atas berusaha mengisi kekosongan dengan “budaya” - musik halus, sastra halus, lukisan halus, dll. Kelas menengah berusaha mengisi kekosongn dengan nasionalisme, kelas bawah dengan sosialisme. Trauma Perang Dunia I memperburuk semua ini. Pasca perang, kelas yang lebih berbudaya beralih ke paham ekspresionisme budaya: bubur encer untuk hati yang merindukan agama. Kelas pekerja beralih ke Komunisme. Dan kelas menengah beralih ke Nazisme.

 

Kedua, di Rusia abad ke-19, Kristen Ortodoks, tidak diragukan lagi karena hubungannya yang terlalu dekat dengan otokrasi Tsar, telah gagal memuaskan kaum intelektual. Justru sebaliknya. Pada umumnya, Kristen Ortodoks membuat jijik para intelektual, yang dengan beberapa pengecualian penting (misalnya, Dostoyevsky) beralih ke arah agnostisisme dan atheisme. Mereka menganut gagasan bahwa Rusia harus mengalami revolusi sosial yang hebat. Pada akhir 1917, revolusi besar itu tiba dalam bentuk Komunisme, sebuah agama palsu. Pendiri agama baru ini (dianalogikan dengan Yesus sebagai pendiri agama Kristen) adalah Lenin. "Paus" pertama dan terbesar dari agama ini adalah Stalin, Wakil Lenin yang sempurna.

 

Kedua agama baru ini menjanjikan ‘keadilan sosial,’ meskipun mereka memiliki gagasan yang agak berbeda tentang apa yang dianggap sebagai keadilan sosial. Dan mereka berdua ‘menemukan’ - mungkin secara independen satu sama lain atau, lebih mungkin, dipengaruhi oleh satu sama lain – ‘kebenaran’ moral baru yang hebat. Mereka menemukan bahwa banyak sekali kebohongan, pemenjaraan, penyiksaan, dan pembunuhan, yang diijinkan secara moral - tentu saja asalkan hal-hal ini dilakukan demi membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Mereka menemukan bahwa perjalanan sejarah mengarah kepada pembunuhan massal.

 

Tapi ini, propagandis pasca-Kristen, meyakinkan kita, bahwa ini tidak akan terjadi di Amerika. Kami orang Amerika memiliki akal sehat yang terlalu banyak untuk hal ini terjadi. Mungkin sejumlah kecil orang Amerika “yang berada di pinggiran penyakit gila” akan jatuh pada gerakan gila yang menyerupai Komunisme atau Nazisme. Tetapi orang Amerika rata-rata peduli dengan proses konkret dalam menghasilkan dan membelanjakan uang; mereka tidak peduli dengan pandangan dunia abstrak atau filosofi sejarah.

 

Ya, saya tidak begitu yakin. Saya ngeri setiap kali saya mendengar seseorang mengatakan bahwa X atau Y atau Z adalah "di sisi kanan sejarah." Presiden Obama mengatakan ini ketika memuji putusan Mahkamah Agung 2015 bahwa Konstitusi AS menjamin hak untuk pernikahan sesama jenis. Siapa pun yang berbicara seperti ini, apakah presiden AS atau mahasiswa tahun kedua yang berpikiran maju, membawa filosofi abstrak sejarah di kepalanya.

 

Saya mengakui bahwa pasca-Kristen Amerika belum menetapkan satu pun agama palsu – masih belum. Mereka masih dalam tahap eksplorasi, mencoba ini dan mencoba itu dan mencoba sesuatu yang lain. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun bagi mereka untuk menetap pada satu agama palsu yang dapat menyatukan semua pasca-Kristen - sama seperti butuh waktu lama bagi orang Jerman pasca-Kristen untuk menetap di paham Nazisme dan Rusia pasca-Kristen menetap di paham Komunisme. Kemungkinan besar, agama palsu tunggal masa depan ini akan menjadi sintesis besar dari banyak agama palsu tertentu yang sedang dilakukan orang-orang saat ini.

 

Siapa tepatnya mereka itu? Siapa yang ‘bereksperimen’ dengan agama palsu tertentu saat ini?

Mereka adalah berikut ini:

(a) orang-orang dengan pengabdian pada lingkungan;

(b) orang yang mengabdikan diri pada gagasan hak kaum gay / lesbian;

(c) mereka yang setia pada gagasan (yang benar-benar aneh) bahwa orang dari satu jenis kelamin dapat, karena memiliki perasaan tertentu, menjadi lawan jenis; artinya mereka dapat kawin dengan sesama jenisnya.

(d) mereka yang percaya bahwa pembunuhan massal terhadap bayi yang belum lahir adalah aktivitas yang bijaksana, layak mendapatkan dukungan dari para wajib pajak;

(e) orang-orang yang berpendapat bahwa kita harus membuat fasilitas eutanasia tersedia bagi semua yang menginginkannya, dan bahwa kita harus memaksakannya pada mereka yang kebetulan tidak menginginkannya tetapi yang, jika mereka rasional, menginginkannya;

(f) orang yang yakin bahwa orang kulit putih, pada dasarnya, adalah rasis;

(g) orang yang percaya bahwa masyarakat, yang bertindak melalui lembaga publik dan swasta, harus membungkam opini jahat dari mereka yang terus terang tidak mau berada di sisi kanan sejarah.

 

Karena orang-orang di atas, semuanya fanatik garis keras, dikelilingi dan didorong oleh awan mendung yang sangat besar dari orang-orang percaya yang bersikap lunak dan mau berkompromi, saya khawatir kita tidak akan jauh dari hari atau saat ketika pandangan dunia pasca-Kristen yang komprehensif ini yang akan berjaya di tanah yang bebas dan pemberani, Amerika Serikat.

 

*Image: The Worship of the Egyptian Bull God, Apis by a follower of Filippino Lippi, c. 1500 [National Gallery, London]

 

---------------------------------------

 

Silakan membaca artikel lainnya di sini:

 

Misa Dan Turunnya Tujuh Karunia Roh Kudus

Pedro Regis 5126 - 5130

LDM, 27 Mei 2021

Enoch, 26 Mei 2021

Kardinal Pell: Kita Tidak Harus Setuju Dengan Semua Yang Dilakukan Francis.

Persatuan Palsu

Francis Mempromosikan Lagi Seorang Wali Gereja Yang Anti-Katolik