Tuesday, December 8, 2020

Janji Kosong Sosialisme: Kekristenan Tanpa Kristus

 

JANJI KOSONG SOSIALISME: KEKRISTENAN TANPA KRISTUS 

https://www.churchmilitant.com/news/article/the-empty-promise-of-socialism-christianity-without-christ 

 

 

 

by Fr. George Rutler  •  ChurchMilitant.com  •  March 7, 2020   

 

Pelajaran dari para paus dan dari sejarah

 

Materialisme, fantasi, dan penyembahan palsu adalah godaan yang disodorkan setan kepada Kristus, dan ia juga menggoda bangsa kita (Amerika Serikat) dengan cara yang sama. Godaan ini adalah sebuah formula untuk menerima paham sosialisme, yang didefinisikan oleh Winston Churchill pada tahun 1948 sebagai "Filsafat kegagalan, kredo ketidaktahuan dan injil iri hati."

 

Stalin dan Ribbentrop setelah penandatanganan

perjanjian Molotov-Ribbentrop 

 

Pakta non-agresi pada 23 Agustus 1939. Pakta tersebut berakhir pada 22 Juni 1941, ketika Nazi Jerman menginvasi Uni Soviet. 

Sebuah generasi yang berpendidikan rendah menyerah kepada idealisme remaja, kehilangan sejarah, tidak menyadari bahwa sebuah kultus terhadap negara telah menjadi sebuah kegagalan yang konsisten, yang menelan jutaan nyawa di zaman modern ini.

 

Pemujaan kepada negara telah ditentang oleh orang-orang Kristen awali, yang menolak untuk mempersembahkan dupa kepada Kaisar. Paham sosialisme hanyalah sebuah bentuk komunisme yang belum berkuasa, dan wajahnya yang tersenyum ramah dalam topeng "sosialisme demokratis" dengan cepat merengut kusam begitu ia memegang kendali. Seperti yang ditunjukkan oleh ekonom Ludwig von Mises dengan berbagai cara, esensi dari sosialisme adalah pemaksaan dan manipulasi. Paus Yohanes XXIII, mengutip Paus Pius XI, mengatakan pada tahun 1961: "Tidak boleh ada seorang Katolik pun yang menganut paham sosialisme moderat sekalipun." 

Sosialisme dalam topeng kebajikan, mengeksploitasi hal-hal yang naif. Sebagai akibatnya, Yeats berkata: "Yang terbaik tidak memiliki semua keyakinan, sedangkan yang terburuk banjir dengan intensitas yang penuh gairah." Kurangnya keyakinan menggerakkan orang-orang yang ingin bertindak seenaknya, untuk menandatangani Perjanjian Munich, dan saat ini mereka, orang-orang yang berpaham sama itu, telah menyerahkan integritas Gereja kepada pemerintah Cina. Orang-orang naif tersinggung oleh Pakta Molotov-Ribbentrop, tetapi Stalin dan Hitler hanyalah orang sosialis dalam seragam yang berbeda. Sama seperti manifesto Sosialis Nasional tahun 1920 yang mencoba untuk menggantikan Gereja dengan bunga rampai "Kristen Positif," yaitu Kristen tanpa Kristus, begitu pula pemerintah Cina memerintahkan agar gambar-gambar Kristus diganti dengan gambar-gambar pemimpin Partai Xi Jinping. 

Pada tahun 1931, Paus Pius XI mencela pemujaan negara sebagai "penyembahan berhala." Dia menegaskan bahwa "Sosialisme religius, sosialisme Kristen, adalah istilah yang kontradiktif. Tidak ada orang, pada saat yang sama bisa menjadi Katolik yang baik dan sosialis sejati." Dari keyakinan yang lahir dari penderitaan di bawah sosialisme Nasional dan sosialisme Soviet, Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa "kesalahan mendasar sosialisme adalah bersifat antropologis ... [karena] sosialisme menganggap pribadi individu hanya sebagai elemen, sebuah molekul dalam organisme sosial. ... " 

 

Sosialisme dalam topeng kebajikan, mengeksploitasi orang yang

bertingkah laku polos. Tweet 

 

Karena Gereja Katolik adalah organisasi amal terbesar di dunia, maka umat Katolik harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh seorang calon presiden partainya (Biden), yang terus terang menyebut dirinya seorang sosialis Demokrat, dan mengatakan beberapa tahun yang lalu: "Saya tidak percaya pada amal kasih... Pemerintah, bukannya organisasi amal, yang harus mengambil alih tanggung jawab untuk program sosial." Tetapi Paus Benediktus VI mengatakan: "Kita tidak membutuhkan negara yang mengatur dan mengontrol segalanya, tetapi negara yang, sesuai dengan prinsip subsidiaritas, dengan murah hati mengakui dan mendukung inisiatif yang muncul dari kekuatan-kekuatan sosial yang berbeda...”

 

Nabi Samuel memperingatkan orang Israel yang menginginkan seorang raja yang bertanggung jawab atas segalanya: "Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya." (1 Samuel 8:17). Dan suara Samuel itu lebih keras dan jelas sekarang!

 

*****

 

LDM – 29 Nopember 2020

Giselle Cardia 17 Nopember 2020 - 1 Desember 2020

Presiden Xi Mengajak Para Pemimpin Dunia Untuk Meniru Sertifikat Kesehatan Digital Covid-19 Cina

Enoch, 2 Desember 2020

Ned Dougherty, 6 Nopember 2020

LDM, 5 Desember 2020

Pencerahan Yang Akan Datang