Monday, December 14, 2020

Para Mitra Baru Paus Menjajakan Kejahatan Intrinsik

 

Para Mitra Baru Paus Menjajakan Kejahatan Intrinsik 

https://www.churchmilitant.com/news/article/popes-inclusive-partners-peddle-intrinsic-evils 

 

 

 

by Jules Gomes  •  ChurchMilitant.com  •  December 11, 2020   

Pembentukan Dewan untuk kapitalisme inklusif penuh (CICV) dengan agenda kaum globalis yang pro-aborsi dan LGBT + 

 

VATICAN CITY (ChurchMilitant.com) - Berusaha untuk mengatur ulang (reset) ekonomi di bawah slogan "kapitalisme inklusif," paus Francis telah menciptakan sebuah koalisi dari beberapa korporasi yang mendukung aborsi dan LGBTIQ +.


 

Mitra Francis, MasterCard, telah menciptakan nama jalan: the LGBTIQ+ 

 

Diluncurkan pada Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda, "Dewan untuk Kapitalisme Inklusif bersama Vatikan" (CICV) terdiri dari 27 pemimpin bisnis top dunia dan berniat untuk "menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan tepercaya."

 

CICV mencantumkan "perilaku etis" sebagai salah satu "prinsip-prinsip pemerintahannya" dan bertugas "menjawab tantangan paus Francis untuk menerapkan prinsip moralitas dalam praktik bisnis dan investasi."

 

 

Pendukung 'perbuatan Etis' justru Mendorong Amoralitas

 

Paus, bagaimanapun, masih belum merinci masalah moral fundamental dengan mitra utamanya di CICV, jenis perbuatan apa saja yang termasuk dalam kategori "perilaku etis," meskipun Gereja mengutuk tindakan aborsi dan homoseksualitas sebagai "kejahatan intrinsik" dan pornografi sebagai "pelanggaran berat." 

Mayoritas "pengawal" paus (sebutan bagi para anggota dewan CICV) termasuk Rockefeller Foundation, Ford Foundation, Kering group, Allianz, MasterCard, Estée Lauder, Guardian Life Insurance Company of America, bendahara negara bagian California Fiona Ma dan Johnson & Johnson -- yang tercatat suka mempromosikan aborsi, panseksualitas, Marxist Black Lives Matter (BLM), dan aliran pengungsi yang tidak terkendali.

 

Penulis biografi kepausan dan ahli teori politik, Paul Kengor, mengatakan kepada Church Militant bahwa "banyak dari 'para pengawal' ini sangat sesat dalam masalah sosial-moral penting yang sangat berharga bagi Gereja:

 

“Dalam masalah-masalah etika seperti ini (aborsi, LGBT) mereka berada jauh di luar dan, pada kenyataannya, mereka sangat melanggar ajaran-ajaran Gereja. Hal ini menjadikan mereka sangat mencurigakan di mata saya dan di mata banyak umat Katolik yang setia. Jika kita tidak dapat mempercayai mereka pada masalah sosial-moral paling vital saat ini, lalu bagaimana kita bisa mempercayai mereka sebagai 'pengawal' dari 'kapitalisme' yang bertanggung jawab?”

 

Sementara Kengor mempertanyakan bagaimana Francis berniat untuk "'mereformasi' 'kapitalisme' melalui para 'pengawal' kaum elit globalis ini," Alexander Tschugguel, direktur  St. Boniface Institute, memperingatkan umat Katolik untuk "sangat prihatin dengan apa yang saat ini dijual kepada kita semua di bawah slogan 'kapitalisme inklusif'."

 

Berbicara kepada Church Militant, Tschugguel menjelaskan:

Saya pikir bukan kebetulan bahwa dewan yang baru dibentuk ini, didirikan tidak lama setelah Forum Ekonomi Dunia (WEF) mulai mempromosikan gagasan 'Great Reset. Proposal yang diajukan oleh WEF dan dewan baru ini berusaha untuk merongrong inisiatif bebas dan kepemilikan pribadi. Mereka bertentangan dengan ajaran sosial Katolik, khususnya ajaran Paus Leo XIII.

 

"Apa yang ada di balik 'Great Reset' dan 'kapitalisme inklusif' hanyalah komunisme murni," kata Tschugguel memperingatkan, yang menjadi terkenal karena membuang patung pachamama ke sungai Tiber selama Sinode Amazon yang lalu.

 

Homoseksualitas, pergaulan bebas, dan pengabaian moralitas Kristiani lainnya, telah diidentifikasi dalam Catatan Kongres AS sebagai langkah mendasar dalam melemahkan negara-negara berdaulat hingga pengambilalihan oleh komunis, karena mereka melemahkan keluarga dan meningkatkan ketergantungan pada Negara.


Jika kita tidak dapat mempercayai mereka pada masalah sosial-moral paling vital saat ini, lalu bagaimana kita dapat mempercayai mereka sebagai 'pengawal' dari 'kapitalisme' yang bertanggung jawab? Tweet

 

Umat Katolik di media sosial banyak mengecam paus Francis karena "kemitraan yang tidak seimbang" dengan organisasi seperti Rockefeller Foundation yang mendukung pseudosains rasis egenetika di Jerman Nazi, tetapi "hari ini, mereka bertindak seolah-olah sisi buruk dari warisan mereka tidak pernah terjadi."

 

Rockefeller Foundation, sekarang ikut ambil bagian dalam CICV, juga mendanai dua gerakan sexual revolusioner yang paling merusak di Amerika: Dr. Alfred Kinsey dan "agenda kebebasan seksual berbasis pemerkosaan anak" serta Margaret Sanger, pendiri raksasa aborsi Planned Parenthood.

 


The initiative pushes "sustainable development," a U.N. push to eliminate private property

https://youtu.be/uySdMbZHjms

 

Yayasan filantropi saat ini mendanai Dana Tindakan Aborsi Aman (SAAF), dengan bangga menugaskan peneliti Riya Garg "untuk meningkatkan pelayanan aborsi seseorang" dan merupakan "mitra utama" dalam memungkinkan "layanan keluarga berencana pasca-aborsi ditingkatkan di seluruh dunia."

 

Presiden Rockefeller Foundation, Dr. Rajiv Shah, berpidato dan mensponsori "Unfinished Business: An LGBTQ + Summit," pada awal bulan Juni lalu. 

 

Apa yang ada di balik 'Great Reset' dan 'Inclusive Capitalism'

tidak lain adalah komunisme murni. Tweet

 

 

Ford Foundation didirikan dengan "tujuan utama" untuk menghindari pajak harta benda dengan menempatkan "95% saham perusahaan di bawah nama yayasan sosial," tulis David Horowitz dan Jacob Laksin dalam bukunya The New Leviathan: How the Left-Wing Money Machine Shapes American Politics and Threatens America's Future.

 

"Dalam beberapa tahun terakhir, kegemaran Ford Foundation untuk mendanai hal-hal radikal [termasuk kebencian anti-Israel] telah sedemikian ekstrim sehingga bahkan kaum liberal yang mendukung Ford dan filantropinya telah berbicara menolak sebagian pemberiannya," kata Horowitz dan Laskin, menggarisbawahi ironi dari "yayasan sayap kiri yang dibangun dengan uang sayap kanan."

 

Menurut database dalam urusan hibah, Ford memberi Jaringan Epidemiologi Lapangan Afrika (AFEN) $ 1 juta untuk "hak dan kesehatan seksual dan reproduksi" dan $ 800.000 kepada AIDS United, yang mengkampanyekan "keadilan reproduksi."

 

Paus Francis dari Dewan Kapitalisme Inklusif

 

 

AFEN berpendapat bahwa "konseling pra-aborsi wajib, merupakan penghalang untuk mengakses layanan aborsi yang aman" serta kampanye untuk mengakhiri praktik ini di Afrika.

 

Pada tahun 2019, Estée Lauder's Make-up Art Cosmetics, menjanjikan $ 500.000 kepada Planned Parenthood selama dua tahun untuk membantu memperluas program obrolannya yang menyediakan informasi tentang aborsi. Perusahaan kosmetik tersebut juga setuju untuk menyumbangkan 100% pendapatan dari lipstik VIVA GLAM kepada raksasa aborsi itu.

 

Pada tahun 2016, lembaga think tank Center of the American Experiment melaporkan bahwa "gerakan Black Lives Matter akan menerima pendanaan jutaan dolar dari Ford Foundation."

 

CICV menjanjikan "perdamaian dan keadilan" sebagai area "prioritas utama," terutama berkampanye untuk "hak LGBTQ +," aktivis BLM, perubahan iklim, dan kebijakan pintu terbuka bagi kaum imigran.

 

"Selama lebih dari 25 tahun, Johnson & Johnson telah menjadi pemimpin dalam mendukung komunitas LGBTQ + melalui kebijakan karyawan, praktik bisnis, dan advokasi publiknya," karena "perusahaan bertujuan untuk menjadi sekutu yang kuat selama Pride Month - dan seterusnya," situs web-nya menyatakan. 


Kekhawatiran yang mencolok adalah bahwa kemitraan ini berujung sebagai sumber keuntungan dalam hal hubungan masyarakat, bagi para eksekutif yang terlibat. Tweet 

 

Pada 2019, kampanye MasterCard menambahkan 10 rambu jalan baru di bawah Christopher Street dan Gay Street di New York City. Papan nama baru itu berbunyi: Jalan Lesbian, Jalan Biseksual, Jalan Transeksual, Jalan Queer, Jalan Interseks, Jalan Aseksual, Jalan Non-Biner, Jalan Panseksual, Jalan Two Spirit, Jalan +, dan Jalan #Acceptance. Semua nama ini berkonotasi dengan penyimpangan sexual. 

Kemudian pada diskusi panel dengan Komisi Hak Asasi Manusia Kota New York, MasterCard meluncurkan kartu True Name yang memungkinkan individu gay dan transgender atau non-biner, mendapatkan kartu debit, kredit atau prabayar dengan nama pilihan mereka tertera disitu. 

Grup mewah global, Kering, menyatakan komitmennya untuk "mempromosikan keberagaman dan inklusivitas LGBTQIA + dalam grup," dan mengatakan "sangat bangga merayakan dan mendukung Pride Month," yang biasanya diisi dengan berbagai kegiatan pawai LGBTQ.

 

Alexander Tschugguel memperingatkan tentang paham komunisme di dalam CICV 

 

Salesforce, sebuah perusahaan perangkat lunak berbasis cloud Amerika yang berkantor pusat di San Francisco, mendukung BLM dan mempromosikan "dosa asal sayap kiri baru" serta penyimpangan yang tidak disadari.

 

 

Para Elit Mendapat Manfaat Terbanyak Dari 'Inklusi'

 

Dalam studi akademisnya "Dari Toleransi menuju Kesetaraan: Bagaimana Elit Membawa Amerika kepada Pernikahan Sesama Jenis," Darel Paul menggambarkan "perusahaan Amerika" sebagai "sekutu paling kuat normalisasi" agenda gay. "Perusahaan terbesar di negara ini mulai menormalisasi (menganggap normal) keluarga LGBT dengan memberikan tunjangan kerja kepada pasangan sesama jenis," tulis Profesor Paul. "Mungkin kontribusi perusahaan yang paling luas jangkauannya terhadap normalisasi adalah peningkatan penggunaan iklan bertema LGBT kepada khalayak umum."

 

"Homoseksualitas telah menjadi sangat normal di antara perusahaan-perusahaan Fortune 500 sehingga mereka bahkan memasarkan produk yang umumnya terkait dengan anak-anak, dengan iklan yang inklusif gay," kata Paul.

 

"Dan sayangnya, mengapa Francis memilih orang-orang seperti itu ketika ada jutaan pebisnis Katolik yang setia kepada iman mereka, mendukung 'kapitalisme' yang bertanggung jawab dan setia pada ajaran sosial-moral Gereja?" tanya Kengor, dalam komentarnya kepada Church Militant.

 

Kengor menjelaskan:

Sayangnya, jawabannya adalah apa yang telah kita lihat selama masa kepausan Francis: Paus ini mengelilingi dirinya dan merasa paling nyaman dengan kaum kiri. Realitas dan kecenderungan itulah yang telah membentuk kepausannya dari awal hingga saat ini, menjadikannya sebagai kepausan politik dan ideologis yang sangat menyiksa dan mengobarkan lautan kebingungan bagi umat beriman di seluruh dunia. Inisiatif ini tampaknya merupakan cerminan lain dari keinginan dan perbuatan Francis.

 

Majalah Forbes menggarisbawahi ironi CICV: "Orang yang sama yang menyerukan diakhirinya ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan adalah luar biasa kaya. Tentu saja, para pemimpin terkenal menyukai kapitalisme, hal itu sangat baik bagi mereka," dan majalah ini juga mencatat bahwa para ‘pengawal‘ paus "berada di urutan 1% teratas dari orang terkaya di dunia dan mereka itu adalah ‘orang-orang yang dipilih oleh paus Francis ketika dia berbicara soal menyebut ketidaksetaraan kekayaan." 

 

Homoseksualitas telah menjadi sangat normal di antara perusahaan-perusahaan Fortune 500 sehingga mereka bahkan memasarkan produk yang umumnya terkait dengan anak-anak, dengan iklan yang inklusif gay. Tweet 

 

"Kekayaan mereka yang besar menimbulkan pertanyaan, karena mereka memiliki kemampuan finansial, mengapa mereka tidak secara pribadi memimpin dengan memberi contoh? Mengapa tidak menulis cek pribadi yang besar tanpa meminta penghapusan pajak?" tanya Forbes. "Para elit kaya bisa mempertimbangkan untuk menata rumah mereka sendiri sebelum mencoba mengubah dunia."

 

"Kekhawatiran yang mencolok adalah bahwa kemitraan Francis dengan para elit global ini berujung pada hubungan-masyarakat bagi para eksekutif yang terlibat. Mereka akan menikmati sanjungan dan perhatian media yang menguntungkan dan sinyal kebajikan ‘betapa hebat dan perhatian mereka semua,’ " kata Forbes menyimpulkan.

 

Bersama paus Francis, Cdl. Peter Turkson, kepala Dikasteri untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Seutuhnya, telah ditunjuk untuk memberikan "bimbingan moral" kepada dewan.

 

Cdl. Peter Turkson, yang sebelumnya mengutuk penggunaan istilah "hak reproduksi" untuk tindakan aborsi dan menolak ideologi gender dan homoseksualitas sebagai isu hak asasi manusia, namun kini dia tidak mengutuk perbuatan aborsi dan agenda panseksual dari "para pengawal kapitalisme inklusif."

 

*****

 

Rm 1:24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.

Rm 1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.

Rm 1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Rm 1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Im 20:13 Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.

 

*****

 

Teman-teman Baru Francis : Kaya Dan Busuk

Kardinal Pell: Perlahan, Vatikan Akan Bangkrut

(Lagi) Transhumanisme

LDM – Anggur Terberkati

Vatikan Memperkenalkan Kandang Natal Yang Mengerikan

 

Kardinal Burke: Kekuatan-Kekuatan Yang Memaksakan Great Reset...

Nabi Palsu Dari Apokalips