Thursday, December 10, 2020

Kisah Menghantui Dari 5 Orang Kudus Dalam Melawan Setan

 

 

These Last Days News - June 10, 2016 

Kisah Menghantui Dari 5 Orang Kudus Dalam Melawan Setan ... 

https://www.tldm.org/news29/haunting-stories-of-5-saints-who-battled-demons.htm 

 

 

Stream.org reported on May 22, 2016:

 

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Ephesians 6.11-12) 

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. (1 Peter 5.8)

 

Dunia spiritual itu nyata, dan ada pertempuran yang sedang terjadi, terutama saat ini.

 

Meskipun setan dan semua iblisnya jarang menampakkan diri kepada orang-orang biasa, namun ketika berhubungan dengan orang-orang yang teguh di dalam Tuhan, seperti orang-orang kudus, maka iblis, kadang-kadang, juga membuat serangan terbuka terhadap mereka. Tentu saja, Yesus telah mengalahkan setan dan semua kekuatan iblis di dunia ini. Meskipun setan mengamuk, mencari jiwa-jiwa untuk ditarik ke dalam neraka bersamanya, tetapi siapa pun yang tinggal di dalam Yesus tidak dapat dipisahkan dari Tuhan.

 

Jadi jangan sampai kisah-kisah berikut ini membuat Anda takut. Sebaliknya, biarlah kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa setan dan segala godaannya untuk berbuat dosa, adalah nyata -- bahkan meski Anda tidak bisa melihatnya seperti orang-orang kudus ini. 

 

 


1) St. Antonius Agung: "Singa itu mengaum, ingin menyerang" 

Seorang rahib yang tinggal di padang gurun, abad ke-3 dan ke-4; kita tahu tentang St. Antonius dari sebuah biografi yang ditulis oleh St. Athanasius yang berjudul Life of St. Anthony. Dikatakan bahwa ketika orang mengunjungi St. Antonius di rumahnya di padang gurun, “mereka mendengar suara keributan, banyak sekali suara, dan, seolah-olah, ada bentrokan senjata disitu. Pada malam hari mereka melihat gunung itu menjadi penuh dengan binatang buas, dan dia juga bertarung seolah-olah melawan makhluk yang kelihatan, dan dia berdoa melawan mereka."

 

Dalam satu cerita, St Antonius Agung memutuskan untuk menghabiskan suatu malam sendirian di sebuah makam yang besar. Sekelompok besar iblis turun ke atasnya dan menyerang tubuhnya. Si iblis “menyayat dia dengan goresan-goresan sehingga dia berbaring di tanah tanpa dapat berkata apa pun karena rasa sakit yang berlebihan. Dia mengatakan bahwa penyiksaan itu sungguh berlebihan sehingga tidak ada pukulan yang dilakukan oleh manusia yang dapat membuatnya tersiksa seperti itu.”

 

Keesokan harinya, seorang teman yang membawakan berbagai persediaan dan kebutuhan baginya, menemukan dia dalam keadaan sangat lemah dan tidak sadar, dan teman itu membawanya kembali ke desa terdekat. Tetapi malam itu, dia sadar kembali dan meminta temannya untuk membawanya kembali ke kuburan. Setelah temannya mengurung dia kembali di kubur, St Antonius berseru, “Inilah aku, Antony. Aku tidak akan lari dari penyiksaanmu, karena meski jika kamu melakukan penyiksaan lebih banyak, tidak ada yang bisa memisahkan aku dari kasih Kristus." Setan-setan itu segera lari menjauh, dan beginilah cara Santo Athanasius menggambarkan apa yang terjadi selanjutnya:

 

Pada malam itu setan-setan membuat keributan sehingga seluruh tempat itu tampak seperti diguncang oleh gempa bumi, dan mereka seolah-olah menghancurkan keempat dinding tempat tinggal itu, dan sepertinya mereka masuk melalui dinding-dinding itu, dimana mereka datang dalam rupa binatang buas dan makhluk yang merayap.

 

Dan tempat itu tiba-tiba dipenuhi dengan berbagai makhluk yang berbentuk sebagai singa, beruang, macan tutul, banteng, ular, keledai, kalajengking, dan serigala, dan masing-masing bergerak sesuai dengan sifatnya. Singa itu mengaum, mau menyerang, banteng itu tampak mau menyerang dengan tanduknya, dan ular itu menggeliat tetapi tidak bisa mendekati orang suci itu, dan serigala yang melaju dengan kencang tiba-tiba tertahan; semua suara-suara penampakan itu, dengan gempuran amarah mereka, sangatlah mengerikan.

 

Meskipun dia sangat kesakitan, namun dia menjawab dengan berani kepada iblis:

 

“Jika ada kekuatan dalam dirimu, hal itu akan cukup jika salah satu saja dari kamu yang datang. Tetapi karena Tuhan telah membuatmu lemah, kamu mencoba untuk membuatku takut dengan kawananmu yang banyak itu. Dan bukti kelemahanmu adalah bahwa kamu mengambil bentuk yang kasar dari binatang-binatang buas. Jika kamu mampu, dan telah menerima kekuatan untuk melawan aku, janganlah menunda untuk menyerang; tetapi jika kamu tidak mampu, mengapa kamu merepotkan aku dengan sia-sia? Karena iman kepada Tuhan adalah meterai dan tembok pengaman bagiku.”

 

Tiba-tiba saja atap ruangan itu terbuka dan cahaya terang memenuhi makam itu. Setan-setan itu lenyap dan rasa sakitnya juga menghilang. Menyadari bahwa Tuhan telah menyelamatkannya, dia kemudian berdoa, “Dimanakah Engkau? Mengapa Engkau tidak datang sejak awal untuk membuat rasa sakitku berhenti?" Dan Tuhan menjawabnya: “Antony, Aku ada di sini, tapi Aku menunggu untuk melihat pertarunganmu. Kamu telah bertahan, dan tidak pernah dipukuli hingga kalah, Aku  selalu menjadi penolongmu, dan akan membuat namamu dikenal.”

 

St Athanasius menulis bahwa “.. setelah mendengar ini, Antony bangkit dan berdoa, dan menerima kekuatan sedemikian rupa sehingga dia merasa bahwa dia memiliki lebih banyak kekuatan dalam tubuhnya daripada sebelumnya. Dan dia saat itu berusia sekitar tiga puluh lima tahun."   

 

2) St. Padre Pio: "Setan-setan ini tidak berhenti menyerangku." 

Lahir pada akhir abad ke-19, St. Padre Pio tinggal dan meninggal di Italia -- tetapi dia dikenal dan dihormati di seluruh dunia ketika dia meninggal pada tahun 1968. Seorang pastor yang suci, pembuat mukjizat, dan stigmatis. St. Padre Pio juga sering diserang oleh iblis.

 

Menurut pastor Gabriele Amorth, seorang pengusir setan terkemuka di Vatikan, “Musuh sejati Padre Pio adalah setan-setan yang mengepungnya. … Perjuangan besar dan terus-menerus dalam hidup Padre Pio adalah melawan musuh Tuhan dan musuh jiwa: iblis, yang berusaha untuk menangkap jiwanya." Bahkan di masa mudanya, St. Padre Pio menikmati penglihatan surgawi yang luar biasa, tetapi dia juga menderita serangan dari setan. Pastor Amorth menjelaskan:

 

Iblis sering tampak kepadanya sebagai kucing hitam yang buruk, atau dalam bentuk hewan lain yang amat menjijikkan. Maksud setan-setan itu adalah untuk membuatnya ketakutan. Di lain waktu setan datang sebagai gadis muda, telanjang dan merayu, melakukan tarian cabul, untuk menguji kesucian pastor muda itu. Tetapi Padre Pio merasakan bahaya yang terbesar ketika iblis mencoba menipunya, dengan cara mengambil bentuk salah satu atasannya (atasan provinsial atau pembimbing spiritualnya) atau dalam bentuk sosok yang suci (Tuhan, Perawan Maria, atau Santo Fransiskus).

 

Taktik terakhir ini -- iblis yang muncul sebagai seseorang yang baik dan suci -- adalah masalah khusus. Berikut cara St. Padre Pio membedakan sebuah penglihatan:

 

Dia mengalami rasa takut tertentu ketika Sang Perawan atau Tuhan Yesus pertama kali muncul, dan kemudian segera diikuti oleh rasa damai ketika penglihatan itu berhenti. Di sisi lain, jika iblis dalam bentuk sosok yang suci muncul di hadapannya, akan langsung menimbulkan perasaan senang dan tertarik, dan kemudian segera digantikan oleh penyesalan dan kesedihan.

 

Setan bahkan terkadang menyerang St. Padre Pio secara fisik. Dia menggambarkan hal ini dalam satu surat yang dia tulis kepada seorang pastor yang dipercayainya:

 

Setan-setan ini tidak berhenti memukul saya, bahkan membuat saya jatuh dari tempat tidur. Mereka bahkan merobek baju saya untuk memukul saya! Tapi sekarang mereka tidak bisa membuat saya takut lagi. Yesus mengasihi saya, Dia sering mengangkat saya dan menempatkan saya kembali di tempat tidur.

 

Memang, jika kita selalu dekat dengan Tuhan, kita seharusnya tidak takut kepada setan.  

 

 


3) St. Gemma Galgani: "Cakarnya yang brutal" 

St. Gemma Galgani adalah seorang mistikus Italia akhir abad ke-19 yang memiliki pengalaman spiritual yang luar biasa. Dalam sebuah surat kepada seorang pastor, dia menulis:

 

Selama dua hari terakhir Yesus telah memberi tahu saya, setelah Komuni Kudus: “Putri-Ku, iblis akan segera mengobarkan perang besar melawan kamu.” Kata-kata ini saya dengar di dalam hati terus menerus. Tolong berdoalah untukku… Dia segera menyadari bahwa doa adalah pertahanan terbaik. Sebagai tanggapan, setan membuatnya merasakan sakit kepala yang hebat untuk membuat dia sulit tidur. Kelelahannya yang sangat kemudian membuatnya tidur lebih sulit -- tetapi dia tetap bertahan:

 

Betapa banyak usaha yang dilakukan oleh setan itu untuk membuat saya tidak mungkin berdoa! Kemarin malam dia mencoba membunuh saya, dan hal itu akan berhasil jika Yesus tidak segera datang menolong saya. Saya merasa ketakutan dan menyimpan gambar Yesus dalam pikiran saya…

 

Pada satu saat, ketika dia sedang menulis surat, iblis ...merebut pena dari tangannya dan merobek kertas itu lalu menyeretnya dari meja, mencengkeram rambutnya dengan keras sedemikian rupa sehingga rambutnya tercabut oleh cakar-cakarnya yang brutal. Kemudian dia juga menggambarkan serangan lain di dalam salah satu tulisannya:

 

Setan itu setan datang di hadapan saya sebagai raksasa yang sangat tinggi dan berkata kepada saya, “Bagimu tidak ada lagi harapan keselamatan. Kamu berada di dalam tanganku!” Kemudian saya menjawab bahwa Tuhan itu penuh belas kasih dan penyayang, dan karena itu saya tidak takut apa pun.

Kemudian dia memberi saya pukulan keras di kepala dan dengan marah dia berkata "Terkutuklah dirimu!" dan kemudian dia menghilang. Saya kemudian pergi ke kamar saya untuk beristirahat, dan di sana saya mendapati dia lagi. Dia mulai memukul saya lagi dengan tali yang bersimpul-simpul, dan dia ingin agar saya mematuhi dia, sementara dia menyarankan kejahatan kepada saya. Saya berkata tidak, dan dia memukuli saya lebih keras lagi, membenturkan kepala saya dengan keras ke tanah. Pada titik tertentu, terlintas di benak saya untuk berseru “Bapa yang Kekal, melalui darah Yesus yang amat berharga, bebaskanlah aku!"


Kemudian saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Binatang hina itu menyeret saya dari tempat tidur dan melemparkan saya, kepala saya membentur lantai dengan kekuatan sedemikian rupa hingga sangat menyakitkan. Saya menjadi pingsan dan tetap berbaring di sana sampai beberapa lama, dan kemudian saya sadar. Yesus aku bersyukur kepada-Mu!

 

Tapi St. Gemma Galgani tetap percaya kepada Yesus. Dia bahkan menggunakan rasa humor untuk melawan iblis. Dia menulis ini kepada seorang pastor: Jika Anda melihat setan, ketika dia melarikan diri dengan membentuk wujud beberapa wajah, Anda akan meledak dengan tawa... Rupanya sangat jelek!…. Dan Yesus mengatakan kepada saya untuk tidak takut kepadanya.  

 


4) St. John Vianney: “Hal itu karena aku memprtobatkan jiwa-jiwa kepada Tuhan yang maha baik.” 

St. John Vianney tinggal di Prancis pada awal abad ke-19. Dia sangat dihormati karena karya-karya sucinya sebagai seorang imam sehingga dia menjadi santo pelindung para imam. Dan tampaknya dia secara teratur bertempur melawan setan.

 

Suatu kali, saudara perempuannya bermalam di rumahnya di dekat gereja parokinya. Saudaranya ini terbangun oleh suara ketukan aneh di dinding dan mejanya. Dia pergi kepada St. John Vianney, yang mendengarkan pengakuannya pada larut malam, dan John Vianney menjelaskan:

 

Oh, anakku, kamu seharusnya tidak takut: Itu adalah Grappin ["garpu rumput"; nama panggilannya untuk Setan]. Dia tidak bisa menyakitimu. Adapun terhadap saya, dia menyiksa saya dengan berbagai cara. Kadang-kadang dia mencengkeram kakiku dan menyeretku berkeliling ruangan. Itu karena saya mempertobatkan jiwa-jiwa kepada Tuhan yang maha baik.

 

Dalam contoh lain, St. John Vianney sedang berada di gereja parokinya untuk mendengarkan pengakuan dosa ketika seseorang melaporkan kepadanya bahwa kamar tidurnya telah terbakar. Tanggapannya?

 

“Grappin (setan) sangat marah. Dia tidak bisa menangkap burung itu sehingga dia membakar kandangnya. Itu pertanda bagus. Kita akan memiliki banyak orang berdosa yang bertobat hari ini.” 

 

 


5) St Teresa dari Avila: "Tanduk mereka melingkar di sekitar tenggorokan imam saat dia merayakan Misa" 

St. Teresa dari Avila adalah seorang mistikus Spanyol abad ke-16 dan saat ini dia dihormati sebagai Doktor Gereja atas wawasannya yang luar biasa tentang kehidupan spiritual. Dan dalam doa dan meditasinya, dia secara teratur berhadapan dengan iblis.

 

“Suatu bentuk yang amat keji,” tulisnya, “mulutnya mengerikan. Dari tubuhnya nampak muncul nyala api yang besar, tetapi tidak menimbulkan bayangan." Dia pernah melihat dengan mata jiwanya dua setan berwujud mengerikan yang tampak memiliki tanduk di sekitar tenggorokan seorang pastor saat pastor itu merayakan Misa.

 

Bagi St. Teresa dari Avila, manifestasi visual dari setan ini jarang terjadi. “Saya jarang melihatnya dalam bentuk tubuh jasmani seperti itu,” tulisnya, “tetapi saya sering melihatnya tanpa bentuk apa pun, seperti dalam penglihatan yang telah saya gambarkan, di mana tidak ada bentuk yang terlihat, tetapi objek itu saya ketahui ada di sana.”

 

Senjatanya untuk melawan kekuatan jahat ini? Doa, kerendahan hati, dan -- yang cukup menarik -- air suci, yang dia klaim, dari pengalamannya, adalah senjata yang sangat efektif.

 

 

*****

 

“Ada kebutaan yang jauh lebih buruk daripada kehilangan penglihatan fisik, yaitu kebutaan hati. Begitu banyak orang yang menuju api neraka secara membabi buta. Manusia berusaha untuk menghancurkan bukti tentang neraka, tetapi orang-orang itu akan segera mengalami kebenaran: Neraka itu ada dan Surga itu ada. Dosa-dosa daging mengirim lebih banyak jiwa ke dalam neraka." - Yesus, Bayside, 2 Oktober 1970 

 

“Kamu hanya memiliki dua tujuan yang terakhir: Surga atau neraka. Ketahuilah bahwa setan akan berusaha untuk menghapus realitas keberadaan kerajaannya, neraka, dari pikiranmu. Jika dia membuat lelucon tentang keberadaannya di antara kamu, dia sedang menipu kamu agar kamu berbuat dosa dan menjauhkan Roh Terang dari dirimu. Dan ketika kamu melepaskan dirimu dari Roh Terang itu, berarti kamu melepaskan dirimu dari kehidupan kekal di dalam Kerajaan Bapamu, Allah yang Mahatinggi di Surga." - Our Lady of the Roses, Bayside, 1 Februari 1975 

 

***** 

Enoch, 2 Desember 2020

Ned Dougherty, 6 Nopember 2020

LDM, 5 Desember 2020

Pencerahan Yang Akan Datang

Janji Kosong Sosialisme: Kekristenan Tanpa Kristus

Pedro Regis 5051 - 5055

Giselle Cardia, 3, 5, 8 Desember 2020