Thursday, December 10, 2020

Viganò: Kristus Raja Telah Dilucuti Mahkota-Nya

 These Last Days News - December 8, 2020


 

 

USKUP AGUNG VIGANÒ:

DIBAWAH KEPEMIMPINAN FRANCIS, KRISTUS RAJA TELAH DILUCUTI 

MAHKOTA-NYA

 

https://www.tldm.org/news48/archbishop-vigano-under-francis-leadership-christ-the-king-has-been-uncrowned.htm

 

LifeSiteNews.com reported on Dcember 7, 2020:

 

by Archbishop Carlo Maria Viganò

 

VIRGO POTENS


Dalam Persiapan Untuk Menyambut Pesta Maria Yang Dikandung Tanpa Noda

 

Orang kaya yang berpesta pora dalam perumpamaan Injil (Luk 16: 19-31), setelah dikutuk masuk kedalam neraka karena dia tidak bersedia menolong Lazarus, pria malang itu, dan orang kaya itu meminta Abraham untuk memperingatkan lima saudara laki-lakinya tentang siksaan yang dialaminya, untuk mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Abraham menjawabnya: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:31).

 

Sepanjang sejarah, Bunda Maria telah campur tangan sebagai Bunda yang penuh kasih untuk memperingatkan kita tentang hukuman yang membebani dunia ini karena dosa-dosanya, untuk mengajak umat manusia agar segera bertobat dan memperbaiki diri, dan untuk melimpahi anak-anaknya dengan rahmat yang tak terhitung banyaknya. Di mana pun Firman Tuhan nampak dilupakan, maka di sana terdengar suara Maria Yang Terkudus, hingga saat ini, untuk menyampaikan sebuah devosi tertentu, untuk meminta tindakan kurban dan doa agar terhindar dari segala penyakit dan siksaan lainnya.

 

Di Quito, La Salette, Lourdes, Fatima, Roma, Akita, Civitavecchia, dan di banyak lagi tempat penampakan lainnya, Pengantara segala Rahmat ini telah menegur kita, memperingatkan umat manusia, yang terus disesatkan ke dalam pemberontakan melawan Hukum Ilahi, agar kembali kepada pertobatan yang sejati dan mendaraskan doa Rosario Kudus. Meskipun waktu dan keadaan dalam berbagai penampakannya berubah, tetapi Bunda Maria yang berkenan untuk menghadirkan dirinya kepada kita yang fana dan malang ini, adalah selalu sama, selalu sebagai Ibu yang Penyayang dan menjadi Pengantara kita.

 

Di Fatima, Bunda Maria yang menampakkan diri kepada anak-anak gembala meminta Paus, dalam persekutuan dengan semua Uskup, untuk mengkonsekrasikan Rusia ke dalam Hatinya yang Tak Bernoda. Namun seruan ini tidak diindahkan hingga hari ini, meski ada resiko bencana yang harus dihadapi dunia jika konsekrasi itu tidak dilaksanakan sesuai dengan permintaan Perawan Tersuci. Atheisme militan Komunisme telah menyebar ke mana-mana, dan Gereja dianiaya oleh musuh yang kejam dan keji, sementara gereja juga dipenuhi oleh para klerus yang busuk dan korup yang tunduk dan menyerah kepada kejahatan.

 

Namun, terlepas dari pengakuan terhadap sifat supernatural dari penampakan, dan bukti dari bencana-bencana yang menimpa umat manusia, hirarki gereja tetap menolak untuk mematuhi nasihat Bunda Yang Terberkati. “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati," kata Abraham kepada orang kaya dalam Kitab Suci.

 

Mungkinkah mereka tidak tahu bagaimana mendengarkan suara Bunda Allah, yang juga Bunda kita? Apa yang menutupi hati mereka, apa yang mengaburkan pikiran mereka sedemikian rupa hingga mereka menjadi tuli dan buta, sementara dunia makin tenggelam ke dalam jurang maut dengan begitu banyak jiwa terkutuk menderita di dalamnya?

 

Dalam kepatuhan kepada Ketuhanan Universal dari Kristus Raja, kita juga menerima adanya penghormatan kepada Maria Yang Terkudus sebagai Ratu kita. Dan ketika kita berbicara kepada Bapa kita dengan kata-kata, "Terjadilah Kehendak-Mu," kita tahu bahwa hal ini akan sangat sesuai dengan kehendak dari Bunda kita, sebagai model ketaatan dan kerendahan hati yang pantas dipilih sejak awal zaman untuk membuahkan Raja segala raja di dalam rahim perawannya.

 

Setiap keinginan Bunda Allah adalah bagaikan perintah bagi kita: bahkan tidak perlu dianggap sebagai perintah, karena seluruh tanggapan dan keinginan kita adalah -- dan sepatutnya -- untuk menyenangkan Ibu kita dan memberinya bukti dari kesetiaan kita. Dan hal ini benar sekali bagi para utusan kudus (imam-imam), yang dalam Sakramen Tahbisan Suci menerima atas diri mereka sendiri urapan imamat dari Imam Agung Yesus Kristus. Karena itulah di dalam diri setiap imam, Maria Yang Terkudus bisa melihat Putranya, yang secara mistik memperbarui pengorbanan-Nya sendiri di atas altar melalui tangan para imam.

 

Sungguh menimbulkan rasa pedih karena itu – sebuah kepedihan mendalam dan mengoyak – demi melihat ketidakpedulian dari begitu banyak jiwa yang dikuduskan (imam-imam) dan begitu banyak uskup – bahkan terlalu banyak -- terhadap Perawan Maria yang Terberkati. Sungguh menyakitkan dan menyayat hati mendengar Bergoglio sendiri berbicara dengan sangat tidak menghormati Bunda Maria, dan mengetahui bahwa setelah dia secara drastis mengurangi perayaan liturgi kepausan untuk Paskah yang lalu, dia sekarang berusaha untuk memanfaatkan pandemi Covid untuk membatalkan bagian penting dari perayaan liturgi untuk Natal dan dia juga membatalkan tradisi yang dilakukan secara rutin setiap tahun pada tanggal 8 Desember, dimana Paus pergi ke Piazza di Spagna di Roma untuk menghormati monumen Perawan Tak Bernoda yang didirikan di sana pada tahun 1857. Begitulah sepenggal tradisi Roma telah dicampakkan, satu pon daging lagi yang diklaim oleh pedagang sinis dari kehidupan orang Romawi telah diabaikan, sebagai bukti kesetiaan mereka pada kediktatoran medis.

 

Gereja Katolik, Gereja yang mencintai orang-orang yang menghormati diri mereka dengan nama-nama Kristen, adalah Gereja yang tidak mundur di hadapan otoritas sipil, dengan demikian menjadikan dirinya sebagai kaki tangan dan pelacurnya, melainkan Gereja yang menanggung penganiayaan dengan keberanian dan pandangan supernatural, karena mengetahui bahwa lebih baik mati di tengah siksaan yang paling mengerikan daripada menentang Perawan Terberkati dan Putra Ilahinya. Ia adalah Gereja yang tidak tinggal diam ketika tiran menentang Kemuliaan Tuhan, menyiksa umatnya, dan mengkhianati keadilan dan otoritas yang melegitimasinya. Ia adalah Gereja yang tidak mau menyerah dalam menghadapi pemerasan atau membiarkan dirinya dibujuk oleh kekuasaan atau uang. Ia adalah Gereja yang naik ke Kalvari, sebagai Tubuh Mistik Kristus, untuk melengkapi dalam anggotanya sendiri, penderitaan Sang Penebus dan untuk bangkit kembali dengan kemenangan bersama-Nya. Ia adalah Gereja yang membantu yang lemah dan tertindas dengan belas kasihan dan amal, sementara ia berdiri tanpa rasa takut dan ngeri di hadapan orang-orang yang sombong dan congkak. Jika Paus Gereja berbicara, maka kawanan Kristus akan mendengarkan suara Gembalanya yang menghibur, dalam rangkaian panjang para paus yang bersepakat dalam pengakuan akan satu Iman yang sejati.


Sebaliknya, apa yang disebut "gereja Bergoglio” tidak ragu-ragu untuk menutup gereja-gereja, menyombongkan haknya yang buruk untuk menghentikan ibadah terbuka kepada Tuhan dan untuk menghalangi dan memutus hubungan umat beriman dari rahmat Sakramen-sakramen melalui koneksi jahat dengan kekuatan-kekuatan sipil. "Gereja Bergoglio" ini merendahkan Tritunggal Mahakudus, menurunkannya ke tingkat berhala dan setan dengan melalui berbagai ritual penistaan ​​agama neo-pagan. Ia merebut mahkota dan tongkat kerajaan dari Kristus Raja demi Globalisme Masonik; Gereja Bergoglio ini menentang Mitra Penebus dan Pengantara agar tidak mengganggu para bidaah, musuh-musuh Tuhan. Gereja Bergoglio ini juga mengkhianati tugas memberitakan Injil demi membela dialog dan toleransi terhadap kelompok-kelompok lain. Ia membungkam dan memalsukan Kitab Suci dan Perintah-perintah Tuhan demi menyenangkan roh dunia. Ia merusak kata-kata dan kalimat dari Doa (Bapa Kami) yang luhur dan tak dapat diganggu gugat, yang diajarkan oleh Tuhan Sendiri kepada kita.

Ia juga menodai kekudusan Imamat, melemahkan semangat penebusan dosa dan mati raga dalam lingkungan klerus dan kaum religius serta menyerahkan mereka kepada rayuan iblis. Ia menyangkal dua ribu tahun sejarah Gereja, meremehkan kemuliaan agama Kristen serta campur tangan yang bijaksana dari Penyelenggaraan Ilahi dalam urusan-urusan duniawi.

 

Gereja Bergoglio ini dengan bersemangat mengikuti mode dan idelogi, daripada membentuk jiwa-jiwa  untuk mengikuti Kristus. Hal itu menjadikan dirinya sebagai budak dari pangeran dunia ini untuk mempertahankan prestise dan kekuasaannya. Ia mewartakan kultus manusia yang menghujat dan menolak hak kedaulatan Tuhan. Dan ketika Bergoglio berbicara, umat beriman hampir selalu merasa tersinggung dan menjadi bingung, karena kata-katanya sangat berlawanan dengan apa yang mereka harapkan dari seorang Wakil Kristus. Dia meminta ketaatan orang-orang pada otoritasnya sendiri bahkan ketika dia menggunakannya untuk menghancurkan lembaga Kepausan dan Gereja, dimana semua ini bertentangan dengan semua pendahulunya, tidak ada yang dikecualikan.

 

Kita memiliki janji dari Maria Yang Terkudus: "Pada akhirnya, Hatiku Yang Tak Bernoda akan menang." Maka marilah kita bersujud di hadapan Hati itu, yang berdenyut dengan Kasih yang paling murni, sehingga kobaran dari kasih yang suci itu dapat memancar kepada kita masing-masing, sehingga nyala api yang membara di dalamnya dapat menerangi pikiran kita dan membuat kita mampu menangkap tanda-tanda zaman. Dan jika para gembala kita bersikap diam karena ketakutan atau keterlibatannya dalam kebusukan, maka banyak umat awam dan jiwa-jiwa yang baik memiliki kesempatan untuk mengkompensasi pengkhianatan mereka dan menebus dosa-dosa mereka, memohon Rahmat Tuhan yang “telah datang untuk menolong hamba-Nya, Israel, karena Ia mengingat rahmat-Nya.” (Luk 1:54).

 

Hari ini para imam besar dari ‘Sanhedrin modern’ ini telah membuat marah Tuhan kita dan Bunda-Nya yang Terkudus, karena para imam-Nya telah menjadi hamba-hamba dari kaum elit globalis yang ingin mendirikan kerajaan Setan. Besok mereka akan tersungkur di hadapan kemenangan Virgo Potens (Bunda Maria), yang akan memulihkan Gereja Kudus dan akan memberikan kedamaian dan keharmonisan kepada masyarakat, berkat doa dan pengorbanan dari begitu banyak anak-anaknya yang rendah hati dan tidak dikenal.

 

Semoga hal ini menjadi janji kita untuk menyambut Pesta Maria Yang Dikandung Tanpa Noda mendatang, untuk menghormati Bunda dan Ratu kita.

 

+ Carlo Maria Viganò, Archbishop

1 December 2020

Feria III infra Hebdomadam I Adventus
Sancti Edmundi Campion, presbyteri et martyris

 

*****

 

Ned Dougherty, 6 Nopember 2020

LDM, 5 Desember 2020

Pencerahan Yang Akan Datang

Janji Kosong Sosialisme: Kekristenan Tanpa Kristus

Pedro Regis 5051 - 5055

Giselle Cardia, 3, 5, 8 Desember 2020

Kisah Menghantui Dari 5 Orang Kudus Dalam Melawan Setan