Saturday, April 10, 2021

Akhir Zaman Dan Great Reset

 

AKHIR ZAMAN DAN GREAT RESET

https://www.lifesitenews.com/opinion/the-end-times-and-the-great-reset

 

Penegakan drastis dari undang-undang darurat yang sama sekali tidak proporsional dan permanen, telah berisi semua tanda dari kediktatoran kesehatan.

 

Thu Apr 8, 2021 - 2:42 pm EST

 

·        


 


Oleh Pastor Frank Unterhalt

 

 

8 April 2021 (LifeSiteNews)Saat-saat  bersejarah saat ini menandai makin dekatnya akhir zaman.

Segala sesuatu yang diramalkan dalam Kitab Suci sedang terjadi. Para Bapa Gereja telah mengklasifikasikan gejala ini dengan sangat jelas dalam eksegesis mereka. Di sini, St. Irenaeus dari Lyon layak disebutkan secara khusus. Dalam karyanya Adversus haereses, dia menjelaskan bahwa perjalanan sejarah dunia adalah sejalan dengan hari-hari Penciptaan yang alkitabiah. Tujuh hari ini sesuai dengan tujuh zaman dalam sejarah.

 

Irenaeus “menulis bahwa sebelum kedatangan Kristus dalam kemuliaan, yaitu pada akhir hari keenam, datanglah rekapitulasi kejahatan terbesar (Mysterium iniquitatis), atau penggabungan dari seluruh pelanggaran hukum dalam sejarah dunia.”

 

Bapa Gereja itu mengacu pada 2 Tes 2: 3-12 dan menafsirkan pasal ketujuh dari Kitab Daniel. Di sana kita membaca dalam nubuat terkenal dari apa yang disebut kerajaan keempat: “Lalu aku ingin tahu lebih banyak tentang binatang keempat, binatang yang berbeda dari yang lain, cukup mengerikan untuk dilihat, dengan gigi dari besi dan cakar perunggu, yang memakan segalanya dan menghancurkannya, dan yang tersisa itu diinjak-injak dengan kakinya. Juga (saya ingin mengetahui lebih detail) tentang sepuluh tanduk di kepalanya dan tentang tanduk lain yang telah tumbuh dan sebelumnya tiga tanduk telah jatuh, tanduk yang memiliki mata dan mulut yang berbicara dengan kasar, dan yang akhirnya sepertinya lebih besar dari yang lain. [...] (Malaikat) menjawabku: Binatang keempat berarti: Kerajaan keempat akan muncul di bumi, sama sekali berbeda dari semua kerajaan lainnya. Itu akan melahap seluruh bumi, menginjak-injak dan menghancurkannya. Sepuluh tanduk berarti: Sepuluh raja akan memerintah di kerajaan itu; tetapi setelah mereka akan datang yang lain. Yang ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Dia menggulingkan tiga raja, dia menghujat Yang Mahatinggi dan menindas orang-orang kudus dari Yang Mahatinggi. [...] Baginya orang-orang kudus akan dibebaskan untuk satu waktu dua setengah waktu. Tapi kemudian pengadilan akan diberikan. Raja itu akan dilucuti dari kekuasaannya; ia akhirnya akan disingkirkan dan dihancurkan ”(Dan 7: 19-26).

 

Tanduk terakhir dari binatang keempat adalah antikristus, yang di dalamnya terdapat Mysterium iniquitatis. Manifestasi akhir dan personifikasi dari musuh ini membawa penyatuan seluruh kemurtadan terhadap Tuhan, globalisasi kejahatan. Pemerintahan antikristus diperkirakan berlangsung selama tiga setengah tahun.

 

Perlu dicatat bahwa Kitab Daniel sangat paralel dengan Wahyu Yohanes. Di sana berbicara tentang binatang yang keluar dari laut, menyerupai macan kumbang, dengan cakar beruang dan mulut singa (lih. Wahyu 13: 1-2).

 

“Hasilnya adalah bahwa menurut gambaran yang dibuatnya, si peramal itu telah menyatukan menjadi satu dari empat binatang yang diperlihatkan kepada Daniel dalam sebuah penglihatan (Dan 7: 2-7) [...] Jika Yohanes menggunakan angka-angka simbolis ini [...] dalam Daniel untuk uraiannya dan memadatkannya menjadi satu sosok hewan tunggal, ini tentu berarti pertama-tama dia melihat antikristus sebagai penguasa politik yang menggunakan semua kekuatannya untuk tujuan melenyapkan sisa-sisa terakhir pemerintahan Tuhan di bumi dan membantu dia yang menentang Tuhan untuk mendapat kekuasaan absolut atas dunia dan umat manusia." Binatang itu berhasil menyatukan politik bangsa-bangsa di bumi dan membangun kekuasaan di seluruh dunia. Kediktatorannya dengan demikian mencakup segala-galanya.

 

"Dengan bantuan kekuatan universal seperti itu, maka sekarang juga adalah mungkin bagi binatang itu untuk menegakkan dirinya dan tuannya dalam penyembahan umum di mana-mana," yang akan diklaim oleh antikristus untuk dirinya sendiri. Nomornya adalah 666 (lih. Wahyu 13:18), karena ia ingin menempatkan dirinya di atas Tuhan, karena angka 333 menunjukkan satu Tuhan yang benar, yaitu Tritunggal Mahakudus. Dengan munculnya antikristus “sebelum akhir zaman, permusuhan terhadap Tuhan dan Kristus dalam sejarah dunia mencapai klimaksnya dan pada saat yang sama ia berakhir. Berdasarkan kemampuan dan kemungkinan manusia supernya, antikristus mampu merebut dominasi dunia universal sebelum Tuhan akhirnya menjerumuskannya ke dalam kehancuran selamanya.”

 

Saat ini, sentralisasi teknis, media, politik dan ekonomi telah memungkinkan secara global, dikombinasikan dengan pengawasan total. Kondisi dasar telah disiapkan oleh tangan-tangan panjang untuk memunculkan kediktatoran universal.

 

“Antikristus [...] dengan demikian akan mewakili kekuatan politik terbesar dalam sejarah dunia! Dia akan mendirikan sebuah kerajaan dunia yang tidak bertuhan, dan di dalamnya dia juga akan merebut seluruh kekuatan ekonomi dunia (lih. Wahyu 13:17) [...] Oleh karena itu, kekuatan kelompok anti-kristen di akhir zaman ini juga terhubung dengan sebuah pandangan dunia yang anti-kristen, dengan semacam agama negara [...] Gereja di akhir zaman ini akan menjadi gereja martir dan semua kejayaan sebelumnya akan lenyap darinya. Singkatnya: antikristus atau kekuatan anti-kristen di akhir zaman akan menjadi kekuatan politik dan ekonomi terkuat yang pernah ada di dunia. Kerajaannya akan mencakup seluruh dunia dan pada saat yang sama ia melambangkan kekuatan spiritual yang akan mewartakan iman yang baru untuk menggantikan iman yang lama. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan antikristus dan kuasanya.” (Wahyu 17:14; 19: 20-21).

 

Pelopor penting dan instrumen utama yang amat menentukan bagi kelompok anti-Kristen untuk merebut dominasi dunia adalah Freemasonry dan Komunisme, yang bekerja sama untuk tujuan ini. Strategi yang sesuai mendalilkan apa yang disebut "synarchy [...], yaitu, sebuah negara dunia yang bersatu dengan sebuah pemerintah bersatu, yang direncanakan sebagai gereja tandingan. [...] Secara politis, synarchy berjuang untuk mengintegrasikan semua kekuatan sosial dan keuangan, yang secara alami harus dijalankan dan dipromosikan oleh pemerintahan dunia di bawah kepemimpinan sosialis ini. Akibatnya, Katolik dan semua agama lainnya akan diserap oleh sebuah sinkretisme universal.”

 

Di balik konsep pengkhianatan dari persaudaraan universal ini ada tersembunyi perbudakan manusia di dalam sistem kediktatoran. Negara dunia anti-kristen ciptaan Freemason terhubung dengan pembentukan sebuah "super-agama" yang diciptakan oleh mereka sendiri: "Sebagai ideologi persatuan, yang berlaku adalah gagasan: 'apa yang manusiawi di dalam dirinya, juga berlaku bagi semua orang,' ini adalah 'agama di mana semua orang setuju' dan inilah yang menurut mereka seharusnya menjadi elemen yang membebaskan dan menebus untuk membentuk dunia yang lebih baik, yang dengan sendirinya dapat dibangun oleh para ahli 'Seni Kerajaan' [Freemason].” Rencana jahat dari apa yang disebut Tata Dunia Baru akan mempengenalkan antikristus sebagai kepala dan pemimpin dari seluruh umat manusia.

 

Dengan latar belakang seperti ini, maka tanda-tanda akhir zaman semakin jelas.

 

Majalah Time menghadirkan sebuah edisi “The Great Reset,” yang dimensinya jelas mengarah kepada sosialisme dunia. Yang sangat mengungkap fakta adalah subjudul yang sesuai, yang secara harfiah mengakui hal berikut: "Pandemi Covid-19 telah memberikan kesempatan unik untuk memikirkan masa depan seperti apa yang kita inginkan." Niat ini sekarang tampaknya sedang diterapkan dengan tujuan membentuk sebuah tatanan dunia baru. Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan Global, Gordon Brown, menyerukan pembentukan pemerintahan global untuk menangani virus corona, dengan semangat yang hampir sama. Dan Henry Kissinger menegaskan bahwa jika tatanan dunia baru tidak dibentuk setelah Covid-19, hal itu dapat membuat dunia terbakar. George Soros, oligarki dan ideolog yang secara finansial sangat kuat untuk proyek-proyek yang mendukung pengungsi, aborsi, homoseks dan perubahan iklim, ikut menentukan arah perjalanan media dan politik dunia. Bill Gates, anggota kelompok Bilderberg, penyandang dana utama WHO, aktivis aborsi dan pendukung pengurangan populasi secara drastis, telah mendorong rencananya dalam bentuk vaksinasi global.

 

Para kepala negara terkemuka menampilkan diri mereka sebagai kekuatan pelindung yang sebenarnya. Penegakan drastis dari undang-undang darurat yang sama sekali tidak proporsional dan permanen, telah memiliki semua tanda kediktatoran kesehatan. Pelanggaran atas peraturan yang membatasi doktrin otoriter ini, dihukum dengan hukuman berat. Perampasan besar-besaran atas hak-hak dasar dan pengawasan total telah menandai perbudakan manusia dengan alasan “perlindungan yang membebaskan." Para pemimpin pemerintah, yang bertanggung jawab atas pembunuhan jutaan anak di dalam rahim dengan menegakkan hukum aborsi yang kejam, sekarang mengklaim bahwa tindakan drastis historis mereka adalah bertujuan untuk menyelamatkan nyawa manusia. Pementasan ini disertai dengan promosi media arus utama, yang tampaknya sebagian besar tersinkronisasi dan, dalam sebuah sensasi raksasa, berputar-putar hampir secara eksklusif di sekitar apa yang disebut pandemi -- dengan gambaran dan laporan yang dipentaskan secara dramatis. Segala argumen yang terbukti menyimpang dari banyak ilmuwan terkenal dicap sebagai "teori konspirasi."

 

Kerusakan ekonomi yang parah melalui penguncian wilayah yang menjangkau jauh, telah menimbulkan krisis keuangan yang sangat besar dan tujuan untuk mengalahkan kedaulatan nasional membuatnya sangat jelas adanya agenda sentralistik mana yang akan diberlakukan di seluruh dunia. Hal yang sangat menarik dalam konteks ini adalah ucapan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres: “Kita tidak dapat kembali kepada keadaan semula […] Kita membutuhkan sebuah multilateralisme jaringan, yang menyatukan sistem PBB, organisasi regional, lembaga keuangan internasional, dan lain-lain. […] Di abad ke-21, Pemerintah-pemerintah bukan lagi satu-satunya realitas politik dan kekuasaan. Dan kami membutuhkan multilateralisme yang efektif yang dapat berfungsi sebagai instrumen pemerintahan global yang diperlukan.” PBB dan Forum Ekonomi Dunia (WEF) menyetujui sebuah kemitraan yang luas pada Juni 2019.

 

Kaum globalis terus maju dengan "Great Reset" yang telah mereka rencanakan dan terapkan pada umat manusia, didorong oleh ideologi Tata Dunia Baru. Berbicara terus terang tentang hal ini, Klaus Schwab, pendiri dan ketua Forum Ekonomi Dunia, berkata: “Banyak dari kita yang memikirkan kapan segala sesuatunya akan kembali normal. Jawaban singkatnya adalah: tidak pernah. Tidak ada yang bisa kembali kepada keadaan normal seperti sebelum krisis, karena pandemi virus corona menandai titik perubahan mendasar dalam lintasan global kita. […] Dunia seperti yang kita ketahui pada bulan-bulan awal tahun 2020 sudah tidak ada lagi, dibubarkan dengan alasan konteks pandemi.” Pada awal Mei 2016, sebelum pandemi, Schwab mengatakan bahwa Revolusi Industri Keempat akan mengarah pada “penyatuan antara identitas fisik, digital, dan biologis kita." "Great Reset" ingin memaksa seluruh ekonomi global ke dalam kolektivisme (paham sosialis). Propagandanya menyebutkan tiga tujuan: “memperbaiki kerusakan ekonomi global, […] menghentikan bencana perubahan iklim yang akan datang dan menggunakan dua 'krisis' yang disebutkan sebelumnya sebagai kesempatan untuk memajukan cita-cita sosialis, termasuk penghancuran […] hak-hak individu.”

 

Dalam konteks ini, peran PBB terlihat jelas: “Pada 2015 […] PBB mengambil langkah besar menuju pemerintahan global […]. Mereka mengeluarkan dokumen berjudul 'Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.' ”

 

Pada KTT WEF di Davos tahun 2017, Schwab berkata: "Di dunia yang ditandai dengan 'ketidakpastian', semuanya memandang China dengan 'optimis." Pada saat yang sama, Forum Ekonomi Dunia dan "Pembangunan Nasional China dan Komisi Reformasi ”menandatangani sebuah memorandum dengan maksud untuk memperdalam kerjasama lebih lanjut. Kolaborasi dengan kediktatoran komunis ini bertujuan, antara lain, untuk menghapus kepemilikan pribadi. Para pengamat juga menyebutkan penguasaan atas pemikiran, ucapan, dan tindakan, serta penguasaan massa melalui pengarusutamaan media, disertai ideologi LGBT dan agenda aborsi.

 

Perlu juga dicatat bahwa pengaruh China di PBB meningkat pesat. "Minatnya dalam posisi kepemimpinan di PBB sangat besar, karena para pejabat ini memiliki kekuasaan khusus."

 

Perlu dicatat dalam konteks ini bahwa pemerintahan Biden AS juga mendorong aliansi terbuka dengan slogan “Build Back Better” (Bangun Kembali Lebih Baik) yang digunakan oleh WEF.

 

Yang mendasari "Great Reset" adalah istilah filosofis dari transhumanisme. Konsepnya berpendapat "bahwa spesies manusia harus mengendalikan evolusinya sendiri melalui teknologi peningkatan kemampuan manusia." Pemikiran seperti ini juga diberikan pada "implan otak dan teknologi nano yang membalikkan proses penuaan." Ini harus mengarah pada mengatasi batasan fisik dan mental umat manusia.

 

Pendiri WEF “secara khusus mempertimbangkan teknologi yang akan mengubah apa artinya menjadi manusia, karena mereka akan berintegrasi ke dalam tubuh dan pikiran manusia untuk mengatasi ('melampaui') keterbatasan mereka. […] Seperti yang diakui Schwab sendiri, teknologi baru ini juga dapat 'menyusup ke dalam ruang-ruang pikiran kita, yang sampai sekarang bersifat pribadi, membaca pikiran kita dan kemudian mempengaruhi perilaku kita' ".

 

Seperti yang dikatakan oleh Uskup Agung Carlo Maria Viganò dalam wawancaranya dengan Deutsche Wirtschaftsnachrichten, “rencana pembentukan Tatanan Dunia Baru pastilah akan menerapkan sebuah agama universal dengan inspirasi Masonik, yang di atasnya harus ada seorang pemimpin agama yang bersifat ekumenis, tegas, ekologis dan dianggap progresif.”

 

Forum Ekonomi Dunia telah secara resmi mempresentasikan yang satu ini, karena penekanan yang sangat sering "atas dukungannya terhadap 'Penyetelan Ulang Besar'" (Great Reset) diberikan kepada Bergoglio, sebagaimana ia menyebut dirinya dalam Buku Tahunan Vatikan. Seruan terbuka yang terakhir untuk Tatanan Dunia Baru sebagai akibat dari pandemi yang ditunjuk sangat sesuai dengan tujuan kaum globalis.

 

Kerangka terkait disediakan oleh dokumen Fratelli tutti (FT), yang memuji persaudaraan universal, yang tidak lain adalah prinsip terkenal Freemason. Dengan seruan "Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan" (FT 103-105), dokumen Fratelli tutti telah memasukkan expressis verbis slogan Revolusi Prancis, pendahulu dari sosialisme anti-Kristen. Selain itu, ada skandal besar karena paus Francis mengkhianati Gereja Bawah Tanah China demi kepentingan rezim komunis. Fratelli tutti mengarah pada ketidakpedulian agama (FT 281) dan menarik tautan kembali kepada dokumen Abu Dhabi (FT 5 dan 285), yang mengakui semua bidaah melalui pernyataannya yang mengatakan bahwa keragaman agama yang majemuk adalah dikehendaki oleh Tuhan. Dalam kegilaan neopagan dari penyembahan Pachamama yang menghujat dan menistakan Tuhan, rujukan kepada "Ibu Pertiwi" telah dimanifestasikan. Panggilan penulis Fratelli tutti (paus Francis) agar kita mematuhi PBB, telah berbicara sendiri.

 

Pada tahun 2014, mantan presiden Israel Shimon Peres telah mendukung paus Francis di Vatikan untuk "mendirikan 'Persatuan Agama-agama'" - yang dikembangkan lebih lanjut dari kesepakatan PBB. Bergoglio mendirikan apa yang disebut "Komite Tinggi untuk Persaudaraan Manusia," yang telah meluncurkan proyek pembangunan rumah antaragama "Rumah Keluarga Abrahamik" di Abu Dhabi. Langkah selanjutnya menuju persatuan agama dunia sudah tidak jauh lagi.

 

‘Malam kemurtadan apokaliptik’ ini akan mencapai puncaknya dengan munculnya antikristus. Selama masa tirani sedunia, Gereja Sejati dari Tuhan akan mengalami misteri Paskah Kristus secara intens dan mengikuti Dia dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

 

Setelah itu, fajar hari baru yang mulia akan muncul, yaitu yang ketujuh dari sejarah dunia, seperti yang dijelaskan oleh St. Irenaeus dari Lyons. Bapa Gereja itu berkata: “Tetapi ketika antikristus ini akan menghancurkan segala sesuatu di dunia ini, memerintah selama tiga tahun enam bulan, dan bertahta di Bait Suci Yerusalem, maka Tuhan akan datang dari surga di awan-awan dalam kemuliaan Bapa. Dia akan melemparkan antikris kedalam lautan api bersama dengan para pengikutnya, tetapi bagi orang benar Dia akan mendatangkan zaman kerajaan, yaitu saat istirahat, hari ketujuh yang kudus.”

 

---------------------------------

 

Bahkan Meski Gereja Kudus Dihancurkan Oleh Serigala...

LDM, 6 April 2021

Ned Dougherty - April 2, 2021

Dokumen SPARS 2025-2028 yang mengejutkan dunia

Satu Saja Masih Belum Cukup

Suara Nurani Gereja...

Paus Francis Menyerukan Pemerintahan Global Dan Vaksin Universal