Friday, April 9, 2021

Paus Francis Menyerukan Pemerintahan Global Dan Vaksin Universal

 

Paus Francis Menyerukan 'Pemerintahan Global' Dan 'Vaksin Universal' Dalam Suratnya Kepada KTT Keuangan Para Globalis

https://www.lifesitenews.com/news/pope-francis-calls-for-global-governance-and-universal-vaccines-in-letter-to-globalist-financial-summit 

'Masih ada kebutuhan mendesak akan rencana global yang dapat menciptakan atau meregenerasi lembaga-lembaga yang ada, terutama lembaga-lembaga pemerintahan global, dan membantu membangun jaringan baru dalam hubungan internasional untuk memajukan pembangunan manusia seutuhnya bagi semua orang.' 

Thu Apr 8, 2021 - 9:46 am EST

·        

 

© MAZUR/CATHOLICNEWS.ORG.UK

 

By Michael Haynes 

 

 

VATICAN CITY, 8 April 2021 (LifeSiteNews) - Paus Francis telah berpidato di depan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional pada pertemuan musim semi mereka, dimana dia menyerukan segera dibentuknya “pemerintahan global” sehubungan dengan COVID-19, dan dengan kuat mengadvokasi pemakaian vaksin universal, dan mengeluhkan “hutang ekologis" kepada "alam itu sendiri."

 

Surat paus itu adalah yang terbaru dari serangkaian tindakan baru-baru ini di mana paus Francis menyelaraskan dirinya dengan perusahaan-perusahaan global yang berkomitmen pada agenda yang bersifat anti-Katolik.

 

Surat itu disampaikan melalui Peter Cardinal Turkson, Prefek Dikasteri Takhta Suci untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Seutuhnya, pada pertemuan musim semi 2021 antara Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), yang saat ini diadakan secara online dari tanggal 5 - 11 April. Tertanggal 4 April, dalam surat itu Francis menyebut kata ‘Tuhan’ hanya sekali saja, pada baris terakhir.

 

Sebaliknya, paus Francis memusatkan perhatian pada menyerukan sistem pemerintahan global yang akan menerapkan tatanan masyarakat baru di dunia, berdasarkan kebijakan perubahan iklim dan vaksinasi universal. 

'Tata kelola global' 

Merujuk pada "pandemi Covid-19," paus Francis menyatakan bahwa dunia telah dipaksa untuk "menghadapi serangkaian krisis sosial-ekonomi, ekologi, dan politik yang serius dan saling terkait."

 

Krisis yang saling terkait seperti itu, dia sodorkan di hadapan Bank Dunia dan IMF, dengan berharap agar pertemuan mereka akan memberikan dasar untuk menata ulang segala urusan dunia: “Harapan saya bahwa diskusi Anda akan berkontribusi pada model pemulihan yang mampu menghasilkan solusi baru, lebih inklusif, dan berkelanjutan, untuk mendukung ekonomi riil, membantu individu dan komunitas untuk mencapai aspirasi terdalam dan kebaikan bersama secara universal.”

 

Francis mengulangi klaim bahwa COVID telah menunjukkan bagaimana "tidak ada yang bisa diselamatkan sendirian," dan karenanya "bentuk partisipasi sosial, politik dan ekonomi yang baru dan kreatif" harus dibuat.

 

Mengutip dari ensikliknya baru-baru ini Fratelli Tutti, yang oleh Uskup Agung Carlo Maria Viganò telah digambarkan sebagai bentuk "penghujatan," paus Francis menyebut "kepercayaan" sebagai "landasan dari semua hubungan," sebuah poin yang dia yakini Bank Dunia dan IMF akan "tahu dengan baik.” Karena mereka "ahli di bidang keuangan dan ekonomi."

 

Dia mendesak agar kedua raksasa keuangan itu membina hubungan seperti itu, dan terlibat dalam "membangun jembatan, dan merencanakan proyek inklusif jangka panjang".

 

Paus Francis juga memperbarui seruannya, yang cukup sering, untuk melakukan perubahan paradigma dalam politik global, dengan mengatakan: “...masih ada kebutuhan mendesak akan rencana global yang dapat menciptakan atau meregenerasi institusi yang ada, terutama yang ada di pemerintahan global, dan membantu membangun jaringan baru hubungan internasional untuk memajukan perkembangan manusia seutuhnya dari semua orang."

 

Efek utama dari pemerintah global yang diinginkan, menurut Francis, adalah pengurangan hutang untuk memungkinkan akses mudah terutama kepada "vaksin," dan  diikuti oleh "kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan." 

Sebuah 'hutang ekologis' kepada 'alam itu sendiri' 

Namun, paus Francis tidak melewatkan kesempatan untuk menginstruksikan IMF dan Bank Dunia dalam masalah rutin lainnya yang menjadi perhatian, yaitu "perubahan iklim." Dia memperingatkan tentang mengabaikan "hutang ekologis," sebuah fenomena yang dia gambarkan bisa mempengaruhi seluruh dunia, dan mengadu domba "utara" dengan "selatan."

 

“Faktanya, kita berhutang kepada alam itu sendiri, serta orang-orang dan negara-negara yang terkena dampak degradasi ekologi yang disebabkan oleh manusia dan hilangnya keanekaragaman hayati,” tulis Francis.

 

“Dalam hal ini, saya percaya bahwa industri keuangan yang dikenal dengan kreativitasnya yang besar akan terbukti mampu mengembangkan mekanisme tangkas untuk menghitung hutang ekologis ini, agar negara-negara maju dapat membayarnya, tidak hanya dengan membatasi konsumsi energi tak terbarukan atau dengan membantu negara-negara miskin untuk memberlakukan kebijakan dan program pembangunan berkelanjutan, tetapi juga dengan menutupi biaya inovasi yang diperlukan untuk tujuan itu.”

 

Kalimat-kalimat ini tampaknya menggemakan sentimen yang diungkapkan oleh para globalis kunci dan pendiri Forum Ekonomi Dunia, Klaus Schwab, yang mengusulkan "Great Reset"yang bersifat anti-Katolik, didukung oleh fokus pada agenda keuangan hijau, saat ia menyebutkan "penarikan subsidi bahan bakar fosil, "dan sistem keuangan baru berdasarkan "investasi" yang memajukan "kesetaraan dan keberlanjutan," dan pembangunan infrastruktur kota "yang 'hijau.' "

 

Klaus Schwab (pendiri Forum Ekonomi Dunia, pencetus ide Great Reset), IMF, dan sejumlah bank paling berpengaruh di dunia (termasuk Bank Dunia), sebenarnya telah berkomitmen untuk menegakkan agenda hijau Great Reset, dan tampaknya akan menjadikan kepatuhan terhadap kebijakan hijau semacam itu sebagai kriteria akses untuk membiayai masa depan.

 

Francis telah mengisyaratkan kedekatannya dengan Schwab, dengan pidatomya yang mengacu kepada ke WEF sebanyak empat kali dalam delapan tahun masa kepausannya, dan mengizinkan rapat tahunan Vatikan di Davos, dan situs konferensi tahunan WEF di Swiss. 

Masyarakat sekuler yang menuju kepada 'kebaikan bersama' yang baru 

Francis juga menyebutkan kata "kebaikan bersama" beberapa kali dalam suratnya, yang dia kaitkan erat dengan keuangan dan bentuk persaudaraan sekuler dari jenis yang dijelaskan dalam Fratelli Tutti.

 

“Oleh karena itu, uang publik tidak boleh dipisahkan dari kepentingan publik, dan pasar keuangan harus didukung oleh undang-undang dan peraturan yang bertujuan untuk memastikan bahwa mereka benar-benar bekerja untuk kebaikan bersama. Oleh karena itu, komitmen terhadap solidaritas ekonomi, keuangan, dan sosial memerlukan lebih dari sekadar terlibat dalam tindakan kemurahan hati yang sporadis."

 

Sasaran-sasaran seperti itu, bagi Francis, termasuk "solidaritas vaksin yang dibiayai dengan adil," yang katanya, adalah bagian dari "hukum kasih dan kesehatan semua orang."

 

“Di sini, saya mengulangi seruan saya kepada para pemimpin pemerintah, bisnis, dan organisasi internasional untuk bekerja sama dalam menyediakan vaksin bagi semua orang, terutama bagi yang paling rentan dan membutuhkan.”

 

Menutup suratnya, Francis mengulangi keinginannya untuk mewujudkan sebuah dunia yang berfokus pada persaudaraan gaya baru, didukung oleh fokus pada kebijakan hijau, mendesak Bank Dunia dan IMF untuk mengembangkan solusi untuk "masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan."

 

Ini akan menjadi masa depan "di mana keuangan adalah untuk melayani kebaikan bersama, di mana yang rentan dan yang terpinggirkan ditempatkan di tengah, dan di mana bumi, rumah kita bersama, dirawat dengan baik." Tidak disebutkan sama sekali dalam surat itu tentang Kristus, Gereja Katolik atau ajaran Katolik tentang kebaikan bersama. 

Kepatuhan kepada agenda globalis 

Surat paus Francis yang bernada seperti ini bukanlah hal yang mengejutkan, karena pria Argentina berusia 84 tahun itu telah secara signifikan meningkatkan hubungan jangka panjangnya dengan kelompok dan organisasi globalis, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan WEF. 

Francis baru-baru ini menyerukan "tatanan dunia baru," mengatakan bahwa tindakan menyia-nyiakan krisis COVID-19 akan lebih buruk daripada gangguan yang disebabkan oleh COVID di seluruh dunia. 

Pada kesempatan itu juga, dia membahas topik keselamatan, dan sekali lagi Francis melihatnya dengan kacamata dan pemahaman duniawi murni, dan menghubungkan keselamatan dengan tatanan dunia baru dan fokus kebijakan hijau: “Jalan menuju keselamatan umat manusia melewati penciptaan sebuah perkembangan model baru, yang tidak diragukan lagi berfokus pada hidup berdampingan di antara orang-orang yang selaras dengan ciptaan.”

 

Untuk tujuan ini, paus Francis telah meluncurkan inisiatifnya sendiri dengan PBB dan dengan perusahaan-perusahaan globalis, untuk mempromosikan "sistem ekonomi" kapitalisme baru, dan memastikan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Di antara aspek lainnya, kemitraan mempromosikan "gaya hidup berkelanjutan", "kesetaraan gender", dan "kewarganegaraan global", sementara SDG sendiri mempromosikan "layanan kesehatan seksual dan reproduksi" (yang termasuk disini adalah aborsi dan kontrasepsi).

 

 

LifeSiteNews has produced an extensive COVID-19 vaccines resources page. View it here. 

 

 


 

RELATED

Pope Francis in TED talk: ‘We only have a few years’ to fix climate change

Pope joins with global companies to promote capitalism in line with UN’s pro-abortion goals

Pope Francis teams up with UN to educate world on sustainable lifestyles, gender equality, global citizenship

The ‘Great Reset’ is a radical attack on freedom and Christian values

Secretive international banking group may enforce Great Reset ‘green’ agenda on world

 

---------------------------------- 

 

Enoch, 4 April 2021

Bahkan Meski Gereja Kudus Dihancurkan Oleh Serigala...

LDM, 6 April 2021

Ned Dougherty - April 2, 2021

Dokumen SPARS 2025-2028 yang mengejutkan dunia

Satu Saja Masih Belum Cukup

Suara Nurani Gereja...