Wednesday, November 1, 2017

MENGAPA KITA MEMPROMOSIKAN ‘KITAB KEBENARAN...

MENGAPA KITA MEMPROMOSIKAN ‘KITAB KEBENARAN’ PADAHAL IA BELUM DIAKUI OLEH GEREJA?
paulsimeon2014
October 24, 2017

Seperti halnya para pembaca dari blog ini tahu, kami percaya dan secara aktiv kami mempromosikan pesan-pesan Ilahi yang ada di dalam Kitab Kebenaran. Banyak orang, yang mungkin saja belum mengetahui semua kenyataan mengenai pesan-pesan Kitab Kebenaran ini, mereka bertanya kepada kami: Mengapa mempromosikan Pesan-pesan ini padahal ia belum diakui secara resmi oleh Gereja Katolik? Kami akan menjawab pertanyaan sulit itu di dalam artikel ini.

Latar Belakang Singkat

Pertama-tama, kita bicara soal latar belakang singkat mengenai "Kitab Kebenaran" bagi mereka yang belum mengenalnya. Dalam serangkaian pesan yang diberikan kepada seorang visiuner Irlandia yang memakai nama anonim "Maria Divine Mercy," Yesus mengatakan bahwa Kedatangan KeduaNya sudah dekat, dan itu akan terjadi pada angkatan ini. Pesan yang diberikan kepada MDM hampir setiap hari terjadi, mulai tanggal 8 November 2010, dimana pesan-pesan itu dapat dilihat di situs ini dan disusun dalam buku dengan volume 5 buku yang berjudul "Kitab Kebenaran". Pesan-pesan ini berisi nubuatan tentang peristiwa-peristiwa yang mengarah kepada Kedatangan Kedua Yesus.

Ada 1330 Pesan, 170 Doa Perjuangan dan 6 Litani telah didiktekan selama 4 tahun, dan disusun di dalam Kitab Kebenaran dalam lima volume. Sampai saat ini tidak ada visioner atau nabi lain dalam sejarah yang telah diberi banyak pesan dan doa seperti itu selain Maria Divine Mercy.

Pesan-pesannya telah tersebar ke seluruh dunia, diterbitkan dalam bentuk buku dalam berbagai bahasa, dan juga tersedia di berbagai situs web. Banyak "kelompok-kelompok doa perjuangan" telah dibentuk, dengan mengikuti panggilan dari Yesus untuk mempersiapkan KedatanganNya yang kedua melalui banyak doa.

Pesan-pesannya adalah unik karena Yesus mengatakan bahwa "Maria Divine Mercy" adalah nabi terakhir dalam sejarah yang perannya adalah untuk mengumumkan Kedatangan Kedua Yesus yang akan terjadi pada angkatan ini. Yesus juga mengatakan bahwa "Kitab Kebenaran" ini adalah buku tentang Akhir Zaman yang dinubuatkan kepada nabi Daniel:

Dan. 10:21 Namun demikian, aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran.
Dan. 12:4 Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu, dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah."

Penolakan oleh Uskup Agung Dublin


Pada tanggal 15 April 2014, Uskup Agung Dublin, Diarmuid Martin, mengeluarkan sebuah kutukan atas "Kitab Kebenaran" dalam sebuah pernyataan resmi yang dipublikasikan di situs resmi Keuskupan Agung:

Permintaan untuk klarifikasi telah datang kepada Keuskupan Agung Dublin mengenai keaslian dari dugaan penglihatan-penglihatan dan pesan-pesan  yang diterima oleh seseorang yang menyebut dirinya "Maria Divine Mercy" dan yang mungkin tinggal di wilayah Keuskupan Agung Dublin. Uskup Agung Diarmuid Martin menyatakan bahwa pesan-pesan dan dugaan penglihatan-penglihatan  ini tidak memiliki persetujuan gerejawi dan banyak teks yang bertentangan dengan teologi Katolik. Pesan-pesan ini tidak boleh dipromosikan atau dimanfaatkan dalam asosiasi Gereja Katolik.

Lalu, mengapa kita masih memperhatikan pesan-pesan Kitab Kebenaran jika memang hal itu telah dikutuk oleh Gereja?

Serigala berbulu domba

 


Tapi ternyata bahwa Uskup Agung Dublin, Diarmuid Martin, yang mengutuk "Kitab Kebenaran", adalah seorang penganjur dan pendukung aktif pernikahan sesama jenis di Irlandia.

Sebuah komponen kunci dari pesan-pesan Kitab Kebenaran adalah berupa sebuah wahyu oleh Yesus Kristus yang mengatakan bahwa Freemason telah menyusup ke dalam Gereja, dan saat ini ia menduduki kursi-kursi kekuasaan dan pengaruh yang besar. Menjelang Kedatangan Kedua dari Kristus, kelompok klerus Freemason ini, yang berpakaian seperti "serigala berbulu domba", akan menuntun Gereja kepada kesesatan dan menuju perpecahan yang terbesar dalam sejarahnya. Yesus memperingatkan kita, melalui Kitab Kebenaran, agar kita tetap setia kepada ajaran-ajaranNya, terutama dalam menghadapi ajaran-ajaran sesat yang secara aktif dipromosikan oleh para klerus tingkat tinggi. Yesus memperingatkan kita bahwa para klerus murtad ini akan berusaha untuk membenarkan dosa, termasuk dosa berat, seperti misalnya tindakan homoseksual dan pernikahan sesama jenis. Berikut ini adalah pesan yang diberikan kepada Maria Divine Mercy pada tanggal 15 Februari 2013:

Perkawinan tidaklah bisa diterima dihadapan altarKu jika ia terjadi antara dua orang yang sesama jenis. Namun mereka melakukan hal ini dan menghinakan Aku. Mereka meminta kepadaKu untuk menerima dosa dengan membenarkan penentangan terhadap Perintah-perintah BapaKu. Mereka berusaha meyakinkan dirinya bahwa hal ini bisa diterima, dihadapan Allah, ketika hal ini seharusnya tidak terjadi.
Semua Hukum-hukum Allah diciptakan di Surga. Dosa adalah dosa, di Mata Allah, dan tak pernah bisa dibenarkan oleh penafsiran manusia.


Uskup Agung Martin Adalah Seorang Penganjur Aktiv Dari Perkawinan Sejenis




Gambar yang digunakan dalam manual World Meeting of Families dapat ditemukan di Getty Images (lihat di atas), dan dijelaskan hal itu sebagai "pasangan lesbian".

Halaman 24 dari program untuk mempersiapkan keluarga-keluarga bagi Pertemuan Keluarga Sedunia berisi gambar dua wanita lesbian di atas jembatan yang saling menempel erat satu sama lain. Uskup-uskup Katolik di Irlandia, dengan dipimpin oleh Uskup Agung Martin, menggunakan ajaran Paus Fransiskus tentang pernikahan dan keluarga, untuk mempromosikan pasangan homoseksual sebagai bentuk baru "keluarga" dalam Pertemuan Keluarga Sedunia yang akan datang, yang akan diadakan di Dublin pada bulan Agustus 2018. (lihat lambang pelangi LGBT pada tangan kanan wanita yang di belakang).

Acara tersebut akan berfokus pada anjuran PF Amoris Laetitia tahun 2016 (Joy of Love), yang menyoroti tema "Injil Keluarga: Sukacita bagi Dunia."

Kita tahu bahwa pada bulan September 2017 yang lalu, ada puluhan klerus Katolik dan para ilmuwan awam dari seluruh dunia yang menyampaikan sebuah koreksi  (Filial Correction) kepada PF karena PF telah "menyebarkan ajaran sesat" di dalam  Amoris Laetitia.

Sebuah program untuk mempersiapkan keluarga untuk Pertemuan Keluarga Sedunia yang akan datang telah dirilis di bawah pengawasan uskup agung Dublin Diarmuid Martin. Pertemuan Keluarga Sedunia ini yang akan terselenggara melalui ‘kelalaian’ (kesengajaan?) dari uskup agung Dublin, Diarmuid Martin. 

Bagian ke enam dari program itu yang berjudul Amoris: Let’s talk Family! Let’s be Family! berisi promosi eksplisit tentang relasi homoseksual yang mereka anggap sebagai bentuk baru dari keluarga, dimana mereka mengatakan bahwa hubungan semacam itu (homosex) memberi "dukungan bersama” bagi pasangan homoseksual aktif.

Teks yang ada di atas foto tersebut berbunyi: "Sementara Gereja mempertahankan cita-cita pernikahan sebagai komitmen permanen antara seorang pria dan wanita, namun ada sebuah bentuk relasi lain yang memberikan dukungan timbal balik kepada pasangan (sejenis) tersebut. Paus Fransiskus mendorong kita untuk tidak mengabaikan mereka, tetapi agar kita mendampingi dan memfasilitasi pasangan itu juga, dengan penuh kasih, perhatian dan dukungan."

Promosi homosex nampak sekali disengaja pada Pertemuan Keluarga Sedunia yang diadakan oleh uskup-uskup Irlandia.

Pada tanggal 13 Oktober 2017, Uskup Brendan Leahy dari Limerick mengatakan bahwa pasangan homoseksual haruslah disambut hangat pada Pertemuan Keluarga Sedunia. Leahy, yang berbicara kepada wartawan setelah keuskupannya meluncurkan program persiapan pro-homoseksual, mengatakan bahwa kesempatan ini akan terlewatkan jika Gereja gagal untuk merangkul ‘keluarga’ dalam segala keragamannya (termasuk ‘keluarga’ homosex).

Sebelum ini, pada bulan Oktober tahun lalu, Uskup Agung Diarmuid Martin mengatakan bahwa uskup-uskup Katolik tidak boleh "membiarkan diri kita diliputi keraguan dalam usaha untuk membuat definisi tentang arti keluarga," karena nilai budaya yang berbeda berarti keluarga tidak dapat didefinisikan secara sederhana.

Siapakah saya hingga boleh mempercayainya?


Jika anda membaca kutukan resmi atas Kitab Kebenaran oleh Uskup Agung Diarmuid Martin dari Dublin, Irlandia, maka ada baiknya anda merenungkan hal ini dalam konteks berbagai kenyataan yang ada, yang telah kita tunjukkan dalam artikel ini:

1.      Yesus, di dalam Kitab Kebenaran, telah memperingatkan bahwa para klerus sesat pada Akhir Zaman nanti akan secara aktiv mempromosikan dosa, termasuk perkawinan sejenis.
2.      Uskup Agung Diarmuid Martin dari Dublin, Irlandia, adalah seorang liberal dalam Gereja Katolik, dimana saat ini dia secara aktiv mempromosikan perkawinan sejenis. Ini adalah fakta yang telah kita tunjukkan dengan jelas dalam artikel ini.
3.      Uskup yang sama ini, yang getol memperjuangkan perkawinan sejenis, telah mengutuk Kitab Kebenaran, yang secara explisit memperingatkan kita terhadap bahaya dari para klerus Freemason yang secara aktiv membenarkan perbuatan dosa, termasuk perkawinan sejenis.

Maka bertanyalah dalam diri anda sendiri: Siapakah yang harus saya percayai? Uskup Agung yang telah mengutuk Kitab Kebenaran, dan yang saat ini giat membela perkawinan sejenis (yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Gereja)? Atau saya musti percaya kepada Yesus, yang di dalam Kitab Kebenaran berusaha memperingatkan kita untuk mewaspadai para klerus Freemason yang secara aktiv mempromosikan dosa, perkawinan sejenis, serta ajaran-ajaran lain yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Gereja?

 

Banyak penampakan-penampakan yang telah diakui oleh Gereja, pada awalnya ia dikutuk oleh Gereja


Patut dicatat bahwa banyak dari penampakan-penampakan besar serta devosi-devosi yang saat ini telah diterima secara universal di dalam Gereja Katolik, pada awalnya ia menghadapi berbagai sikap skeptis serta kutukan langsung. Persetujuan resmi atas penampakan-penampakan itu datangnya bertahun-tahun (puluhan tahun) kemudian, bahkan setelah penampakan itu sendiri berhenti. Dan setelah melewati berbagai penganiayaan dan berbagai kutukan oleh unsur-unsur di dalam Gereja, barulah penampakan atau devosi itu disetujui dan diakui kebenarannya.

Oleh karena itu, kita seharusnya tidak mudah terpengaruh oleh serangan-serangan terhadap "Kitab Kebenaran" yang dibuat oleh unsur-unsur di dalam Gereja, karena hal yang sama juga terjadi sebelumnya dengan penampakan di Lourdes, Fatima, La Salette, dan banyak lagi lainnya. Bagaimanapun juga, klerus adalah manusia biasa – klerus yang juga bisa salah dalam menilai dan membedakan dari waktu ke waktu.

Pastor paroki Lourdes pada saat penampakan, pastor Peyramale, awalnya sangat skeptis terhadap penampakan-penampakan St. Bernadette, dan dia baru mengalami perubahan di dalam hatinya setelah menyaksikan banyak penyembuhan yang terjadi secara ajaib. Persetujuan resmi terhadap peristiwa Lourdes oleh uskup setempat diberikan empat tahun setelah berakhirnya penampakan tersebut.

Penampakan Fatima dinyatakan asli dan bersifat supranatural oleh Uskup Leiria-Fatima pada bulan Oktober 1930 - tiga belas tahun penuh setelah akhir penampakan tersebut. Meski begitu, meskipun telah mendapat pengakuan resmi, masih banyak klerus tingkat tinggi yang menyerang dan mencoba untuk menghalangi penyebaran pesan-pesan dan penampakan Fatima.

Seorang Jesuit Belgia, modernist, pastor Edouard Dhanis, pada tahun 1944 memulai serangan yang paling berbahaya terhadap Fatima, mempertanyakan keasliannya melalui dua artikel panjang yang diterbitkan mengenai masalah ini. Pastor Dhanis menolak untuk mempelajari arsip-arsip Fatima yang resmi atau mempelajari dokumen-dokumen lain yang disediakan baginya oleh Uskup Leiria. Dia juga menolak untuk pergi ke Carmel Coimbra, untuk melakukan wawancara dengan Suster Lucia sendiri.

Begitulah upaya pastor Dhanis ini kemudian menjadi referensi bagi para musuh Fatima, dan di kalangan kaum progresif dia muncul dan dianggap sebagai "pakar" terkemuka dalam masalah Fatima. Berberapa uskup, seperti Uskup Agung Meksiko Manuel Pio Lopez membela Pastor Fuentes, dengan alasan "bahwa dia tidak memberitakan hal yang bertentangan dengan pesan Fatima." Uskup Agung Guadalajara, Kardinal José Garibi y Rivera, juga membela pastor Fuentes.

Vatikan sendiri nampak berusaha membungkam pesan Fatima, melarang Sr. Lucia untuk menyampaikan Rahasia Ketiga Fatima, dan kemudian benar-benar membungkamnya. Terlepas dari permintaan khusus Bunda Maria bahwa Rahasia Ketiga akan disampaikan kepada dunia paling lambat tahun 1960, tetapi Vatikan mengumumkan bahwa Rahasia Ketiga tidak akan dibuka dan mungkin akan "tetap berada di bawah meterai mutlak" dari Vatikan.

Selain penolakan Vatikan untuk mengungkapkan Rahasia Ketiga seperti yang diminta oleh Bunda Maria, tahun1960 juga menandai pembungkaman terhadap visiuner terakhir Fatima yang masih hidup, Sr. Lucia. Keadaan yang ada menjadi semakin sulit untuk bisa melihat dan menemui Suster Lucia, dan hingga bertahun-tahun kemudian tidak ada lagi tulisannya yang diterbitkan. Dia dilarang tidak saja untuk mengungkapkan Rahasia Ketiga Fatima, tetapi juga sama sekali dilarang untuk berbicara tentang Rahasia Ketiga. Sejak tahun 1960 dan seterusnya, dia dilarang menerima tamu kecuali kerabat dekatnya.

Begitulah kisah penganiayaan Fatima tidak berbeda dengan penampakan-penampakan Bunda Maria La Salette yang disetujui oleh Gereja yang terjadi pada tahun 1846. Lima tahun setelah berakhirnya penampakan tahun 1851, uskup setempat, Mgr. Philibert de Bruillard, menyatakan bahwa penampakan itu otentik. Namun, Mgr. Bruillard akhirnya mengundurkan diri, dan pada tahun 1852, Mgr. Ginoulhiac, yang bersikap skeptis terhadap penampakan La Salette, diangkat sebagai uskup baru. Hal ini kemudian memunculkan serangan-serangan kekerasan terhadap realitas keajaiban La Salette oleh para musuh penampakan yang berasal dari dalam Gereja. Mereka bahkan menegaskan bahwa "wanita cantik" itu (yang dimaksud adalah Bunda Maria) adalah seorang wanita muda bernama Lamerliere, dimana cerita itu memunculkan tuntutan fitnah yang diiklankan secara luas disana.

St.Pater Pio semula juga dikutuk oleh Gereja

 


St. Padre Pio, yang menerima stigmata Kristus pada tahun 1918 dan dia menanggungnya selama lima puluh tahun sampai saat kematiannya. Dia adalah salah satu orang kudus yang paling dicintai saat ini. Begitu banyak buku telah ditulis tentang dia yang mendokumentasikan kehidupannya yang suci, berbagai mukjizatnya, serta kemampuan supernaturalnya yang diberikan Tuhan, seperti bilokasi, misalnya. Namun, janganlah kita lupa bahwa pada masanya, Padre Pio, sebenarnya banyak dikritik dan dikutuk oleh banyak unsur dalam hirarki Gereja. Karena kemampuan yang luar biasa, Padre Pio dikatakan mengalami kerasukan setan, Tahta Suci melakukan penyelidikan terhadap imam yang suci tersebut. Uskup setempat, P. Gagliardi, tidak mempercayai mukjizat-mukjizat Padre Pio, dan menuduh bahwa sesama Capuchin telah memanfaatkan rahib itu untuk mendapatkan keuntungan finansial. Ketika Pius XI menjadi paus pada tahun 1922, Vatikan semakin meragukan Padre Pio, dan memulai berbagai penyelidikan. 

Vatikan kemudian memberlakukan sanksi keras kepada Padre Pio untuk mengurangi publisitas tentang dia: Padre Pio dilarang untuk mengadakan Misa di depan umum, dilarang memberkati orang-orang, dilarang menjawab surat-surat, dilarang menunjukkan luka stigmatanya secara terbuka, dan dilarang berkomunikasi dengan Padre Benedetto, penasihat rohaninya. Kemudian Padre Pio dipindahkan ke biara lain di Italia utara.

Kutukan dan penganiayaan Gereja terhadap St. Faustina dan devosi Kerahiman Ilahi

 


Devosi Kerahiman Ilahi, sebagaimana diperkenalkan oleh St. Faustina, telah dikutuk oleh Vatikan selama hampir dua dekade.

St. Faustina, seorang biarawati dan mistikus Polandia, yang dikanonisasi oleh St. Yohanes Paulus II pada tanggal 30 April 2000, juga merupakan salah satu orang kudus modern yang paling banyak dicintai. Penampakan-penampakan Yesus Kristus kepada St. Faustina telah mengilhami devosi kepada Kerahiman Ilahi dan telah memberinya gelar "Rasul Kerahiman Ilahi". Devosi Kerahiman Ilahi telah menyebar ke seluruh dunia dan saat ini dirayakan oleh Gereja setiap "Hari Minggu Kerahiman Ilahi" - hari Minggu pertama setelah Paskah. Kita harus ingat bahwa St. Yohanes Paulus II meninggal dunia pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi.

Namun, yang mungkin tidak diketahui banyak orang adalah bahwa 21 tahun setelah kematian St. Faustina pada tahun 1938, Kardinal Alfredo Ottaviani, kepala “Holy Office” (sekarang dikenal sebagai Kongregasi untuk Ajaran Iman), mengeluarkan sebuah kutukan resmi kepada St.Faustina. Pada tanggal 6 Maret 1959, Kongregasi untuk Ajaran Iman mengeluarkan sebuah pemberitahuan yang melarang peredaran "gambar dan tulisan yang mempromosikan devosi kepada Kerahiman Ilahi dalam bentuk seperti yang diusulkan oleh Suster Faustina.”

Larangan itu tetap berlaku selama hampir dua dekade. Sementara itu, Uskup Agung Karol Wojtyła dari Kraków, pada tahun 1965, dengan persetujuan kepala Kongregasi untuk Ajaran Iman saat itu, memulai penelitian atas kehidupan dan kebajikan Faustina. Kemudian, pada tanggal 15 April 1978, Kongregasi untuk Ajaran Iman mengeluarkan sebuah notifikasi baru, yang ditandatangani oleh Prefek dan Sekretaris Kongregasi, yang membatalkan putusan sebelumnya, dan mengijinkan kembali peredaran karya-karya Faustina.

 

Penolakan Awal oleh Gereja Tidak Berarti Bahwa Penampakan atau Devosi Tidak Otentik

 

Seperti yang dapat dilihat pada semua kasus di atas - Fatima, Lourdes, La Salette, Padre Pio, St. Faustina dan banyak lainnya - tidak berarti bahwa penampakan atau pewahyuan pribadi tidak otentik meskipun Gereja institusional pada awalnya mengutuknya. Kenyataannya, yang sebaliknya adalah benar - banyak pewahyuan dan devosi pribadi yang besar, seperti yang dapat dilihat di atas, pada awalnya ditentang dan dikecam oleh gereja institusional. Baru setelah bertahun-tahun kemudian – bahkan beberapa dekade sesudahnya - pewahyuan dan devosi pribadi ini akhirnya diakui karena sifat-sifat supranaturalnya.

Faktanya adalah bahwa, sepanjang sejarah, Tuhan selalu berkomunikasi dengan umatNya melalui "pewahyuan pribadi". Musa, Yesaya, Yehezkiel, Nuh, Daniel, Pewahyuan yang diberikan kepada St. Yohanes - semua ini adalah pewahyuan pribadi yang tidak berbeda dengan apa yang terjadi pada hari-hari ini. Jika kita mengabaikan nubuatan-nubuatan modern ini tanpa mempelajarinya dan dengan tulus memohon karunia pembedaan kepada Tuhan, maka kita tidak akan berbeda dari orang-orang zaman Nuh. Mereka mencemooh Nuh dan mencemooh Air Bah yang dinubuatkan - dan akhirnya mereka harus membayar harganya (Luk. 17: 26-30).

Lalu bagaimana sikap kita terhadap pewahyuan pribadi yang tidak (belum) disetujui oleh Gereja saat ini, seperti apa yang ada di dalam "Kitab Kebenaran"? Dalam buku doa "Rahmat dan Kerahiman", Paus Urbanus VIII (1623-1644) mengatakan:

Dalam kasus-kasus yang menyangkut pewahyuan pribadi, adalah lebih baik percaya daripada tidak percaya, karena jika anda percaya, dan hal itu terbukti benar, maka anda akan bahagia karena anda percaya, karena Bunda Kudus kita telah meminta hal itu. Jika anda percaya, dan kemudian hal itu terbukti salah, maka anda akan menerima semua berkat seolah itu adalah benar, karena anda percaya hal itu benar.

by Paul Simeon, Veritas Vincit


Silakan melihat artikel lainnya disini : http://devosi-maria.blogspot.co.id/

No comments:

Post a Comment